✈ Pesawat Bonanza G-36 Penerbal [TNI AL]
Ada pesawat jatuh di Selat Madura, Jawa Timur (Jatim). Pesawat jatuh tersebut diketahui merupakan pesawat latih TNI AL.
"Telah terjadi musibah kecelakaan jatuhnya Pesawat Udara (pesud) jenis G-36 Bonanza T-2503 milik TNI Angkatan Laut yang jatuh di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS)," kata Kadispenal Laksma Julius Widjojono dalam keterangannya, Rabu 7/9/2022).
Insiden itu terjadi pada hari ini. Belum ada informasi mengenai penyebab kecelakaan ini.
Belum diketahui juga kondisi awak pesawat tersebut.
"Penyebab jatuhnya pesawat T-2503 masih belum diketahui," katanya.
Saat ini TNI AL mengerahkan 13 KRI, 1 kapal AL (KAL), 1 tim Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan 1 tim penyelam.
Polres Bangkalan melaporkan pesawat itu jatuh di antara wilayah Bangkalan dan Gresik.
✈️ Pitch Black ’22
✈️ F-16 TNI AU [Dispenau]
Memasuki minggu kedua latihan multinasional Pitch Black 2022 menggelar Latihan Large Force Employment (LFE) dengan mengerahkan 79 pesawat tempur dimana Kontingen TNI AU dipercaya memimpin elemen pengawalan atau Escort untuk misi Offensive Counter Air (OCA), Senin (5/9/2022).
Pada misi OCA, peserta latihan dibagi menjadi dua tim yaitu Blue Force atau Tim Biru dan Red Force atau Tim Merah. Tim Biru bertugas melakukan serangan secara masif guna merebut wilayah lawan dan menghancurkan kekuatan udara musuh yang berupa pesawat terbang ataupun infrastuktur yang mendukung kekuatan udara musuh. Sedangkan Tim Merah melakukan pertahanan pada sisi timur dan sisi barat.
Tim Biru dipimpin Japan Air Self-Defense Force (JASDF) sebagai Mission Commander mengerahkan 51 pesawat. Di dalamnya melibatkan empat pesawat F-16 TNI AU yang bertugas memimpin elemen escort yang terdiri dari empat F-35A dari Australia (RAAF), empat F-15 dari Singapura (RSAF), dan empat dari Inggris (RAF).
Tim Merah dipimpin Mission Commander dari RAAF dengan kekuatan 28 pesawat dan melibatkan satu pesawat F-16 TNI AU bertugas mempertahankan wilayahnya dari serangan Tim Biru.
✈ Pesawat Buatan Indonesia
✈ N219 [PTDI]
Sejumlah negara kepincut pesawat buatan Indonesia. Mulai dari Uni Emirat Arab (UEA) hingga Korea Selatan.
Menurut situs resmi Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto, terdapat sejumlah pesawat yang dilirik negara asing buatan Dirgantara Indonesia (PTDI).
Beberapa di antaranya pesawat CN295, CN235-220 MPA, NC212 Family, N219 Nurtanio, AS550, AS565 MBe, Superpuma Family, dan BELL 412EP.
NC212 memiliki sejumlah tipe seperti NC212-200, NC212i, dan NC212i MSC. Pesawat ini disebut sederhana dan performa yang tangguh banyak digunakan untuk melakukan penerbangan misi khusus dalam berbagai jenis lingkungan.
Sementara itu, N219 menggunakan teknologi canggih dalam sistem avionik. Pesawat ini punya konfigurasi desain pesawat yang multifungsi.
Pesawat ini bisa digunakan untuk berbagai misi seperti Transportasi Pasukan, konfigurasi Evakuasi Medis, Transportasi Kargo, Pengawasan dan Search and Rescue (SAR).
N219 menjadi pesawat yang berfungsi untuk membuka, meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan memelihara pertahanan dan keamanan di daerah-daerah terpencil.
Berikut deret negara asing yang kepincut pesawat buatan Indonesia.
1. Turki
Pada September 2021 lalu, PTDI menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Turkish Aerospace, Turki, untuk kolaborasi di industri pesawat yang melibatkan pesawat terban CN-235.
Dalam kesepakatan itu tertuang soal pembelian pesawat N219.
Kesepakatan tersebut sebagai bentuk meningkatkan kerja sama antara kedua industri pesawat itu.
Turki pernah memesan enam unit CN235 MPA dan tiga unit CN235 jenis maritime surveillance aircraft.
2. Korea Selatan
Selain Turki, Korsel juga menjadi konsumen PTDI. Seoul pernah membeli 12 unit CN235 untuk beragam keperluan.
Selain itu, Korsel juga membeli tujuh unit di antaranya satu unit angkutan VVIP, sebagai transportasi militer, dan empat unit untuk MSA.
3. Uni Emirat Arab
Pada 2016 lalu, Uni Emirat Arab pernah membeli enam unit CN235 untuk keperluan angkut militer dan satu unit pesawat berjenis sama sebagai alat transportasi very very important person (VVIP).
Pada Juli lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto berkunjung ke Uni Emirat Arab dan meneken sejumlah kesepakatan.
Salah satu kesepakatan kerja sama antara PTDI dan Laidus LLC. Kerja sama ini mencakup kerja sama perdagangan untuk pesawat CN235 dan N219.
Selain itu, MoU juga mencakup kerja sama pengembangan pesawat N219 dan UAV MALE Elang Hitam.
"MoU ini diharapkan dapat mendorong peningkatan dan pengembangan bisnis kedua perusahaan, termasuk akselerasi strategi pemasaran produk PTDI di Kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara," ujar Direktur utama PTDI Gita Amperiawan dari situs resmi Kemhan RI.
4. Vietnam
Vietnam juga memesan pesawat buatan Indonesia untuk kepentingan komersial.
Negara itu memasan tiga pesawat tipe C212-400 MPA.
5. Thailand
Thailand disebut keranjingan membeli pesawat buatan PTDI karena dianggap sesuai dengan medan dan kebutuhan pertahanannya.
Pada Juli lalu, PTDI sepakat mengekspor satu unit pesawat NC212i ke Department of royal Rainmaking and Agricultural Aviation (DRRAA) Thailand.
Pesawat itu diterbangkan pada 3 Agustus dari Hanggar Delivery Center PTDI Bandung ke Nakhon Sawan Air Base, Nakhon Sawan.
Secara geografis Thailand dekat dengan Indonesia sehingga mempermudah servis pendukung pada pembelian pesawat.
Pada 2015 lalu, Thailand membeli pesawat C212-400 untuk melakukan hujan buatan (rain making).
Menurut data PDTI, Thailand pernah membeli lima unit pesawat NC212 dan dua unit NC235 untuk kebutuhan angkutan sipil. (isa/bac)
Ilustrasi Oerlikon Skyshield Mk II [Paskhas] ★
SAAT berbicara tentang sistem dan strategi dalam membangun sebuah sistem pertahanan udara (sishanud) ibu kota negara, sebenarnya hal yang harus diketahui adalah bahwa sishanud ibu kota negara merupakan salah satu sub sistem dari sishanud nasional. Sishanud nasional pada hakikatnya adalah sebuah sistem yang dibangun dalam menghadapi ancaman yang datang dari udara dengan tujuan menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah negara di udara.
Dalam hal itu pertama kali harus dilihat bersama tentang apa itu kedaulatan negara di udara. Dalam konteks hukum udara internasional, kedaulatan negara di udara selalu akan merujuk kepada Konvensi Chicago 1944 yang merupakan kelanjutan dari Konvensi Paris 1919.
Kedaulatan negara di udara seperti yang tercantum dalam konvensi Chicago 1944 sangat jelas yaitu bahwa kedaulatan negara di udara adalah komplit dan ekslusif. Inilah yang memperlihatkan secara gamblang perbedaannya dengan hukum laut internasional.
Wilayah udara bersifat tertutup
Rudal Nasams TNI AU ★
Wilayah udara sebuah negara bersifat tertutup bagi semua penerbangan tanpa izin. Sementara hukum laut mengenal jalur lintas damai (innocent passage) di kawasan perairan wilayah kedaulatan sebuah negara.
Ada jalur lintas di perairan sebuah negara yang dapat digunakan tanpa izin. Wilayah udara kedaulatan sebuah negara tidak mengenal jalur lintas penerbangan tanpa izin.
Berikutnya, dalam hal sistem pertahanan udara nasional harus dipahami sebagai sebuah sub sistem atau merupakan bagian integral dari konsep pertahanan keamanan nasional. Artinya, sistem pertahanan udara nasional merupakan bagian dari sistem pertahanan nasional.
Dalam konteks inilah wilayah kedaulatan negara menjadi sangat penting untuk dicermati dalam hubungannya dengan sistem pertahanan nasional. Wilayah kedaulatan negara akan menentukan sejauh mana wilayah kedaulatan negara di udara.
Wilayah udara kedaulatan sebuah negara logikanya adalah kawasan udara di seluruh wilayah teritori negara. Dalam perspektif hukum, Indonesia masih belum menyatakan wilayah udara di atas teritorinya sebagai wilayah kedaulatan dalam kontitusinya.
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 hanya menyatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.
Wilayah udara tidak disebut di situ. Hal ini menjadi salah satu catatan penting dalam konteks pengelolaan sistem pertahanan negara, dalam hal ini pertahanan udara nasional.
Pada sisi lainnya, konsep pertahanan negara yang berkembang pasca Perang Dunia ke 2 telah membuat semua negara membangun sistem pertahanan negara yang total sifatnya atau total defence system. Hal ini tentu saja terutama sekali sebagai akibat dari kemajuan teknologi di bidang penerbangan, khususnya teknologi persenjataan.
Azas pertahanan semesta
Yonarhanud 16 Kostrad ★
Semua negara di dunia dalam membangun kekuatan perangnya akan senantiasa bergantung kepada kemajuan teknologi dan azas pertahanan semesta atau total defence.
Pertahanan nasional yang total sifatnya merupakan kebutuhan mutlak setelah rangkaian perang yang terjadi sepanjang sejarah. Setidaknya pelajaran mahal telah diberikan dari serangan Jepang ke Pearl Harbor di tahun 1941, pengeboman oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki yang menghentikan perang dunia ke dua, serta serangan 11 September 2001 yang dikenal dengan tragedi 9/11.
Tiga peristiwa tersebut memperlihatkan betapa kerawanan yang dihadapi dalam perspektif ancaman yang datang dari dan melalui wilayah udara kedaulatan sebuah negara. Peristiwa tragis serangan 11 September telah menjadikan penerbangan sipil komersial sebagai potensi ancaman serangan udara oleh teroris.
Pasca 9/11 Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya telah merestrukturisasi sistem pengendalian lalu lintas udara nasional. Mereka membangun ulang civil military air traffic flow management system demi keamanan nasional.
Sistem pertahanan udara nasional sangat terpengaruh oleh kemajuan teknologi penerbangan dan terutama teknologi persenjataan. Terlihat munculnya dunia siber yang ditandai dengan perkembangan penggunaan drone, sistem autonomous dan artificial inteligent sangat memengaruhi disain sistem pertahanan sebuah negara.
Cyber world dikenal sekarang sebagai sudah menjadi domain ke 5 setelah daratan, perairan, udara, dan ruang angkasa. Hal ini tampak dari betapa beberapa negara maju telah membangun angkatan angkasa luar.
Amerika Serikat telah membentuk space force dalam jajaran angkatan perangnya pada tahun 2019. Angkatan Perang Amerika Serikat kini terdiri dari US Army, US Marine, US Navy, US Air Force, Coast Guard, dan US Space Force.
Cyber world juga telah mengembangkan sistem komando dan pengendalian berteknologi tinggi seperti pesawat AWACS (Airborne Warning and Control System) dan gelar sistem komando berbasis satelit.
Dengan demikian maka strategi dalam menyusun disain sistem pertahanan ibu kota negara harus dimulai dari sistem pertahanan udara nasional. Dalam konteks ini harus jelas terlebih dahulu ketika menentukan wilayah udara nasional yang harus di awasi sesuai dengan lokasi dari tingkat kerawanan masing masing.
Penentuan itu akan berpengaruh langsung kepada gelar sistem senjata (rudal, pesawat terbang dan radar hanud) pendukungnya. Kesemua itulah yang kiranya harus menjadi pertimbangan yang mendasar dalam menyusun strategi dari gelar sistem pertahanan udara ibu kota negara.
⚓ Saat ini TNI AL sedang membangun 5 kapal di galangan kapal lokal
Ilustrasi desain OPV 90 yang sedang dibangun PT DRU [DRU] ⚓
Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksmana TNI Yudo Margono menyatakan, target TNI AL terhadap Alat Utama Sistem Senjata Tentara Nasional Indonesia (Alutsista) akan dilakukan modernisasi hingga tahun 2024.
Yudo Margono mengatakan, setidaknya 80 persen Alutsista TNI AL yang ditargetkan untuk dimodernisasi termasuk kapal-kapal yang dimiliki TNI AL.
"Pembangunan mudah-mudahan nanti sampai tahun 2024 nanti bisa mencapai lebih dari 60 persen lah minimal 80 persen," kata Yudo Margono ditemui awak media di atas KRI Dewa Ruci saat melakukan pelayaran di perairan Kepulauan Seribu, Jumat (2/9/2022).
Target yang dipatok tersebut, didasari karena Yudo Margono mengaku tidak merasa yakin jika target modernisasi Alutsista bakal terlaksana 100 persen pada 2024.
Kendati begitu, dirinya menyatakan untuk tetap berupaya membangun beberapa unsur alutsista sehingga fungsinya bisa dimaksimalkan untuk menjaga kedaulatan laut Indonesia.
"Tetapi kita juga tetap berusaha setiap tahun untuk bisa membangun, memodernisasi dan juga untuk repotismen unsur-unsur kita," ucapnya.
Saat ini kata Yudo, ada beberapa unsur kapal yang sedang dibangun di setiap galangan atau perusahaan yang membangun kapal.
Beberapa di antaranya kata dia ada pembangunan 5 kapal di PAL, kemudian di Jawa Barat ada 3 kapal, kemudian di DRU ada pembangunan 2 kapal.
Serta, di Batam masih ada 5 kapal lagi yang sedang di bangun, kemudian di Banten ada 2 kapal yang sekarang masih dibangun.
"Sehingga nanti mudah-mudahan tahun 2024 bisa selesai semua sehingga minimal bisa mendekati 100 persen MEF walaupun saya yakin tidak akan bisa memenuhi itu," tukas dia.