Senin, 03 Juli 2023

Mengatur Dual Use Technology untuk Kepentingan Ekonomi

Opini Alman Helvas Ali Proses produksi pesawat KF21 Boramae (ROK Armed Forces) ☆

Penerapan dual use technology sesungguhnya bukan hal baru di Indonesia. Ini karena sejak industrialisasi dimulai pada pertengahan 1970-an, sejumlah firma Indonesia telah mengadopsi teknologi tersebut.

Secara definisi, dual use technology adalah perangkat keras, perangkat lunak dan teknologi yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil dan militer. Industri dirgantara negeri ini sejak awal telah mengadopsi dual use technology, baik berupa perangkat keras, perangkat lunak maupun teknologi.

Begitu pula industri elektronika pertahanan dan industri bahan peledak sudah menerapkan dual use technology. Namun sayangnya belum diikuti dengan industri lainnya di bidang pertahanan.

Di masa Orde Baru, 10 BUMN yang tergabung dalam BUMN Industri Strategis (BUMNIS) diarahkan untuk menghasilkan produk-produk dengan target 80% pasar komersial dan 20% pasar pertahanan. Dari sana tergambar bahwa BUMNIS diarahkan untuk menguasai dan mengembangkan dual use technology sehingga bisnis mereka berkembang tanpa harus sepenuhnya tergantung pada belanja pemerintah.

Namun hingga Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) selaku pengelola BUMNIS dibubarkan pada 2002, kinerja keuangan 10 BUMNIS tidak sehat karena berbagai kesalahan tata kelola.

Merupakan hal yang wajar bagi industri pertahanan untuk mengadopsi dual use technology. Sebab hal demikian telah lama diadopsi oleh industri pertahanan negara-negara lain.

Firma pertahanan yang juga memiliki portofolio produk komersial dalam jumlah besar seperti Boeing dan Airbus sebagian besar mengandalkan pendapatan dari pasar komersial lewat pemakaian dual use technology.

Di sisi lain, banyak pula perusahaan pertahanan yang sebagian besarnya pendapatannya berasal dari sektor pertahanan memanfaatkan dual use technology, seperti Lockheed Martin dan Dassault Aviation. Dual use technology seperti komposit menawarkan keuntungan bagi industri dirgantara sebab selain dapat diaplikasikan pada pesawat tempur, juga bisa diterapkan pada pesawat komersial.

Selain produk akhir seperti komponen pesawat, dual use technology mencakup pula permesinan dan perangkat lunak. Berbagai mesin Computerized Numerical Control (CNC) yang dipunyai oleh beberapa firma Indonesia, seperti buatan DMG Mori dan Cincinnati Milacron digolongkan sebagai dual use technology, di mana pengguna mesin CNC harus menandatangani sejumlah dokumen sebelum membeli mesin tersebut.

Begitu juga dengan perangkat lunak berteknologi maju yang berguna membantu para insinyur untuk mendesain berbagai produk. Industri-industri yang mengadopsi permesinan dan perangkat lunak yang dikategorikan sebagai dual use technology harus mempunyai end-user certificate yang diterbitkan oleh pemerintah negara produsen.

Dalam implementasi kebijakan pengadaan senjata dari luar negeri melalui program alih teknologi, saat ini tengah dilaksanakan beberapa kegiatan alih teknologi yang mengandung dual use technology. Sebagai contoh adalah alih teknologi tentang radar AESA (active electronically scan array) dalam program akuisisi jet tempur Rafale dari Prancis.

RBE2-AA AESA radar pesawat Rafale (ist) ☆

Teknologi radar AESA dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan navigasi penerbangan sipil, di mana saat ini pemakaian radar AESA untuk pengaturan lalu lintas udara hanya masalah waktu saja. Teknologi radar AESA juga salah satu teknologi yang Indonesia tidak memiliki akses, baik dari Amerika Serikat maupun Korea Selatan, dalam program KFX/IFX.

Program pengadaan kapal selam dengan alokasi Pinjaman Luar Negeri (PLN) sebesar US$ 2,1 miliar bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mendapatkan dual use technology. Dengan komitmen Naval Group untuk membangun dua kapal selam di Indonesia apabila mendapatkan kontrak dari Kementerian Pertahanan, Indonesia mempunyai peluang untuk mendapatkan teknologi konstruksi kapal selam yang bersifat dual use.

Teknologi demikian di masa depan dapat diaplikasikan untuk membangun submersible tanpa awak yang dapat digunakan bagi kegiatan survei bawah air dan juga penyelamatan bawah air (submersible rescue system).

Pemanfaatan dual use technology menjanjikan keuntungan finansial bagi industri pertahanan apabila dapat melihat peluang di pasar pertahanan dan komersial. Sejauh ini, pemanfaatan dual use technology pada sektor industri pertahanan, baik spin on maupun spin off, baru terbatas pada sektor industri dirgantara, elektronika pertahanan dan industri bahan peledak.

Namun pemanfaatan demikian belum optimal dari sisi ekonomi karena kinerja keuangan industri pertahanan BUMN masih tidak sesuai dengan harapan. Terkait dengan dual use technology di Indonesia, terdapat beberapa isu kunci yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun pelaku industri pertahanan.

Pertama, aturan hukum. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang lemah dalam aturan hukum mengenai teknologi maju. Begitu pula mengenai dual use technology, negara ini tidak mempunyai aturan hukum tentang hal tersebut.

Sebagai akibatnya, secara langsung atau tidak langsung Indonesia agak sulit untuk mendapatkan akses terhadap dual use technology yang tergolong maju atau minimal dual use technology yang diberikan kepada Indonesia hanya boleh digunakan untuk kepentingan komersial saja.

Dalam praktek selama ini, Indonesia hanya mengandalkan pada end-user certificate yang diterbitkan oleh negara pemilik teknologi untuk mengakses dual use technology. Walaupun end-user certificate penting bagi negara pemilik teknologi, akan tetapi Indonesia sebagai negara penerima teknologi tidak memiliki aturan hukum tentang dual use technology, termasuk menjamin bahwa teknologi tersebut tidak akan ditransfer atau bocor ke pihak ketiga tanpa seizin negara pemilik teknologi.

Semestinya kebijakan pemerintah yang memaksakan transfer teknologi pada senjata yang diimpor dari luar negeri diikuti pula dengan eksistensi aturan hukum tentang dual use technology. Adapun bentuk aturan hukum minimal adalah Peraturan Pemerintah berdasarkan pertimbangan bahwa isu dual use technology tidak cukup hanya dengan Peraturan Menteri Pertahanan.

Kedua, peta jalan penguasaan dual use technology. Selama ini penguasaan dual use technology berjalan tanpa arah yang jelas dan hanya mengacu pada program akuisisi senjata yang ditetapkan oleh Kementerian Pertahanan.

Pemerintah tidak mempunyai peta jalan penguasaan dual use technology yang dapat menjadi panduan bagi industri pertahanan. Begitu pula dengan rencana pemanfaatan dual use technology oleh industri pertahanan dalam jangka panjang, seperti pengembangan produk baru yang dibutuhkan oleh pasar pertahanan maupun komersial.

Dalam rangka memajukan industri pertahanan sekaligus mendorong nilai ekonomi penggunaan dual use technology, pemerintah perlu menyusun peta jalan penguasaan dual use technology untuk jangka waktu hingga 25 tahun ke depan. Langkah tersebut akan membantu industri pertahanan menentukan prioritas penguasaan teknologi ke depan sekaligus menyusun rencana bisnis jangka panjang yang lebih berorientasi pasar daripada sekedar membuat produk yang tidak laku di pasar.

Belum terlambat bagi Indonesia untuk memiliki peta jalan penguasaan dual use technology sebagai upaya mengejar ketertinggalan dari industri pertahanan negara-negara lain di kawasan Indo Pasifik. (miq/miq)

  ★
CNBC  

Spare Parts Jet Tempur F-5E/F Tiger II TNI AU Dihibahkan ke Tunisia

Salah satu jet tempur F-5E/F Tiger II TNI AU yang dijadikan monumen Kogabwilhan I di Dompak, Tanjungpinang, Kepri. (Foto:Adly Hanani/Ulasan.co)

Indonesia resmi menghibahkan suku cadang atau spare parts jet tempur F-5E/F Tiger II yang sudah dipensiunkan TNI Angkatan Udara (TNI AU) kepada Republik Tunisia.

Penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) hibah suku cadang jet pencegat F-5E/F Tiger II kepada Departemen Pertahanan Tunisia berlangsung di Gudang Persediaan Pusat (GPP) IV Lanud Adi Soemarmo Solo, Jumat (23/06).

Kepala Dinas Operasi (Kadis Ops) Lanud Adi Soemarmo, Kolonel Nav Sudaryanto S.M mewakili Komandan Lanud Adi Soemarmo Marsma TNI Ridha Hermawan hadir di acara tersebut sekaligus serah terima spare part pesawat F-5E/F tersebut.

TNI AU sebelumnya resmi memensiunkan armada F-5E/F Tiger II tahun 2016 silam. Bahkan setelah dipensiunkan, sejumlah pesawat F-5 bikinan Amerika Serikat (AS) telah dijadikan monumen di berbagai daerah.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI kemudian merencanakan pembelian Su-35 dari Rusia sebagai pengganti F-5E/F Tiger II yang telah mengabdi selama 35 tahun di TNI AU.

Namun proses pengadaan 11 unit jet tempur superioritas udara Sukhoi Su-35 dilaksanakan pada Februari 2018, terhambat masalah tekanan sanksi Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) oleh AS.

Akibat diadang sanksi CAATSA, akhirnya Kementerian Pertahanan RI membatalkan rencana pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 kepada Rusia.

Kini Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi yang sebelumnya rumah bagi F-15E/F Tiger II, telah mendapatkan pengganti yaitu pesawat F-16C/D Block-52ID Fighting Falcon dari AS.

Kegiatan serah terima suku cadang jet tempur F-5E/F Tiger II TNI AU yang sudah dipensiunkan kepada Tunisia. (Foto:Istimewa)
Jet tempur F-5 merupakan pesawat supersonik yang awalnya dirancang sebagai proyek yang didanai perusahaan swasta pada akhir 1950-an yakni Northrop Corporation.

Ada dua model utama, yakni varian asli F-5A dan F-5B asli dan varian F-5E dan F-5F Tiger II yang diperbarui secara ekstensif.

Didesain dengan model runcing dan aerodinamis dan bobotnya yang trgolong ringan sebagai jet pencegat, F-5 didorong dengan dua mesin General Electric J85.

Northrop membangun jet tersebut dengan fokus pada kinerjanya yang tinggi, namun biaya perawatan yang rendah. Bodi lebih kecil dan sederhana daripada pesawat di era seperti McDonnell Douglas F-4 Phantom II.

Meskipun terutama dirancang untuk peran superioritas udara sehari, pesawat ini juga merupakan platform serangan darat yang mumpuni. F-5A mulai beroperasi pada awal 1960-an.

Selama perang dingin berlangsung, lebih dari 800 unit F-5 diproduksi sampai tahun 1972 untuk sekutu AS.

Tahun 1970, Northrop memperkenalkan F-5E Tiger II generasi kedua pada tahun 1972. Peningkatan ini mencakup mesin yang lebih bertenaga, kapasitas bahan bakar yang lebih besar, dan kapasitas bahan bakar yang lebih besar.

Kemudian, Northrop merubah area sayap dan ekstensi tepi depan yang lebih baik untuk laju belokan yang lebih baik, pengisian bahan bakar udara-ke-udara opsional, dan peningkatan avionik termasuk radar udara-ke-udara.

  ✈️
Ulasan  

Minggu, 02 Juli 2023

KRI Frans Kaisiepo-368 Wakili MTF UNIFIL

Pimpin Latihan Gabungan Terpadu Bersama Perdana Di Laut Mediterania(Dispenal) ☆

Lompatan penting dalam implementasi mandat PBB pada pilar capacity building kembali diukir oleh Satgas MTF TNI Konga XVIII-N/ UNIFIL.

KRI Frans Kaisiepo-368 bersama HS Themistokles F-465 (Kapal Fregat Yunani) dipercaya mewakili Maritime Task Force (MTF) UNIFIL dalam latihan gabungan terpadu bersama yang baru pertama digelar di Laut Mediterania melibatkan kapal fregat Perancis FS Languedoc D-651, kapal patroli Lebanese Armed Forces (LAF) Navy LNS Tabarja, Heli Super Puma LAF Air Force, Quick Response Units, Coastal Radar Sites, dan beberapa stake holder Pemerintah Lebanon terkait.

Latihan dimulai dengan Search and Resque Exercise (SAREX) merespon distress dari kapal yang tenggelam di lepas pantai Beirut. Dengan kolaborasi yang baik, korban berhasil ditemukan untuk kemudian dievakuasi melalui jalur laut dan udara ke Saint George Hospital Beirut guna penanganan lanjutan.

Latihan berlanjut dengan maritime picture compilation, full spectrum Maritime Interdiction Operation, advanced maneuver, flashing exercise, winching exercise, cross deck landing exercise, air medical evacuation, dan photo exercise.

Latihan didesain untuk meningkatkan interoperabilitas dan kesiapsiagaan operasional dalam merespon dinamika keamanan maritim kawasan sekaligus membangun kapasitas militer Lebanon.

Pada latihan tersebut, Heli Direction Officer KRI Frans Kaisiepo-368 mendapatkan pengalaman unik untuk mengendalikan Heli NH90 Perancis, demikian juga dengan Heli Panther HS 1306 Indonesia berkesempatan landing di geladak heli kapal fregat kebanggaan Perancis.

"Kesuksesan latihan ini merupakan wujud keberhasilan diplomasi militer Indonesia di kancah global. Hal ini juga menjadi capaian penting implementasi mandat PBB berdasarkan UNSCR 1701 khususnya pada pilar capacity building untuk mempercepat transfer of responsibility kepada militer Lebanon dalam mengamankan wilayahnya secara mandiri, terang Dansatgas MTF TNI Konga XVIII-N/ UNIFIL, Letkol Laut (P) John David Nalasakti Sondakh.

MTF Commander, RADM Michael Busse (Jerman) memberikan apresiasi atas keberhasilan dalam perencanaan dan pelaksanaan latihan tersebut yang menurutnya merupakan raihan penting dalam sejarah MTF.
 

  ☆ TNI  

[Video] Penembakan Rudal Exocet MM40 Block 3

⚓️  Diposkan Media Portal Komando Penembakan rudal Exocet MM40 Block 3 KRI GNR 332 (Dispenal)

Penembakan rudal Exocet dilakukan pada latihan Armada Jaya di perairan laut Jawa.

SSM Exocet MM40 Block 3 merupakan rudal yang memiliki diameter 0,35 m dengan panjang 5,8 m dan kecepatan 0,9 mach. Kemampuan rudal ini yaitu fire and forget, all weather, high subsonic, sea-skimming, inertial navigation, active homing head, long range missile, 360 missile axes, no-go zone, coastal line, littoral attack, horizontal waypoints, vertical waypoints, angular manoeuvre, end manoeuvre, proximity function, re-attack, search mode, masking, target priority, and search criterion.

Latihan Armada Jaya dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan unsur Pimpinan - Staf Komando Gabungan TNI dan Komando Tugas Gabungan dalam melaksanakan Proses Pengambilan Keputusan Militer (PPKM) pada pelaksanaan Operasi Gabungan TNI, meningkatkan profesionalisme prajurit TNI Angkatan Laut dan kesiapan operasional serta keterpaduan komponen SSAT, dan menguji doktrin operasi gabungan TNI.

Berikut video dari Youtube :


 ⚓️  Youtube  

Sabtu, 01 Juli 2023

TNI AL Berhasil Uji Penembakan Rudal SSM Exocet MM40 Block 3

⚓️  Pada Latihan Armada Jaya XLI TA 2023 Penembakan rudal Exocet MM40 Block 3 KRI GNR 332 (Dispenal)

TNI Angkatan Laut (TNI AL) berhasil melaksanakan penembakan SSM Exocet MM40 Block 3 yang disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali sebagai Pimpinan Utama Latihan Armada Jaya XLI TA 2023 dari KRI Raden Eddy Martadinata-331, di perairan Laut Jawa, Jumat (30/06).

Penembakan dilaksanakan oleh Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yaitu KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dibawah pimpinan Dansatgas Kolonel Laut (P) Lukman Kharis, dengan sasaran eks. KRI Karang Tekok-982. Penembakan ini merupakan bagian dari Operational Live Firing Trial (OLFT) dalam rangka meningkatkan kemampuan tempur terutama pada aspek Peperangan Anti Kapal Permukaan.

SSM Exocet MM40 Block 3 merupakan rudal yang memiliki diameter 0,35 m dengan panjang 5,8 m dan kecepatan 0,9 mach. Kemampuan rudal ini yaitu fire and forget, all weather, high subsonic, sea-skimming, inertial navigation, active homing head, long range missile, 360 missile axes, no-go zone, coastal line, littoral attack, horizontal waypoints, vertical waypoints, angular manoeuvre, end manoeuvre, proximity function, re-attack, search mode, masking, target priority, and search criterion.

Kasal sangat mengapresiasi dan mengucapkan selamat serta sukses atas keberhasilan uji coba penembakan rudal exocet MM40 Block 3. "Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi atas kerja samanya, kerja kerasnya, dedikasi seluruh prajurit pada Latihan Armada Jaya Kali ini", ungkap Kasal.

Latihan Armada Jaya dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan unsur Pimpinan - Staf Komando Gabungan TNI dan Komando Tugas Gabungan dalam melaksanakan Proses Pengambilan Keputusan Militer (PPKM) pada pelaksanaan Operasi Gabungan TNI, meningkatkan profesionalisme prajurit TNI Angkatan Laut dan kesiapan operasional serta keterpaduan komponen SSAT, dan menguji doktrin operasi gabungan TNI.

Kasal berpesan untuk terus mempertahankan dan meningkatkan kesiapan prajurit serta kondisi alutsista TNI Angkatan Laut untuk menghadapi event latihan yang lebih besar yaitu Latihan Gabungan TNI, Latihan PPRC TNI, dan Latihan Super Garuda Shield.

Pelaksanaan kegiatan Latihan Armada Jaya XLI TA 2023 ini selaras dengan program prioritas Kasal yaitu TNI Angkatan Laut memfokuskan diri untuk mencapai kekuatan yang siap dioperasionalkan dalam bentuk kesiapan dan kesiagaan yang tinggi.

“TNI Angkatan Laut bertanggung jawab dalam melaksanakan kesiapan tempur matra laut yang dimilikinya, termasuk di dalamnya pembinaan kemampuan material dan personel pengawak alutsista, sebagai bagian penting dari upaya membangun TNI Angkatan Laut yang profesional, modern, dan tangguh”, ungkap Kasal.

Penembakan Rudal SSM Exocet MM40 Block 3 Kasal juga didampingi beberapa pejabat TNI AL yang lain yaitu Pangkoarmada RI, Dankodiklatal, Pangkoarmada I, Pangkoarmada II, Pangkoarmada III, Asops Kasal, Aspers Kasal, Asintel Kasal, KS Kogabwilhan II, Danpuspenerbal, Kadisopslatal, Kadiskomlekal, dan Kadispenal. (Kontributor : Arif)

 ⚓️ 
Klik Warta  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...