(Marinir) ★
Prajurit Korps Marinir dari Brigif 2 Marinir bersama Singapore Army dan Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) melaksanakan latihan Patroli Tempur pada Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield 2023 di Hutan Selogiri, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. Minggu (03/09/2023).
Sebelum melaksanakan patroli tempur, Prajurit Brigif 2 Marinir yang dipimpin Komandan Kompi Latihan Lettu Marinir Gilang Aditya Kanandha tersebut bersama Singapore Army dan Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) saling berbagi materi tentang teknik dan taktik patroli tempur.
Pada saat pelaksanaan praktek patroli tempur, prajurit dari ketiga negara tersebut dengan semangat melaksanakan patroli tempur tingkat Peleton, dimana satu peleton merupakan gabungan dari Prajurit Korps Marinir TNI AL, Singapore Army dan Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF).
Patroli tempur merupakan salah satu materi yang dilatihkan dalam Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) 2023 yang bertujuan meningkatkan profesionalisme pada latihan jungle patrol (patroli hutan) prajurit Marinir Indonesia, Singapore Army dan Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF).
Sementara itu, Komandan Brigif 2 Marinir Kolonel Marinir Argo Setiyono selaku Koordinator Marine Exercise pada Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) tahun 2023 menyampaikan bahwa kegiatan tersebut selaras dengan tujuan dari Latgabma Super Garuda Shield 2023 kali ini, yaitu guna meningkatkan kerja sama bilateral antar militer dan hubungan militer yang positif serta mengembangkan dan meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan fungsi gabungan.
Baik Ciptaan Sendiri Maupun dari Negara Lain
Drone Iran mengalami kemajuan pesat (Reuters) ★
Senjata militer Iran baik yang merupakan ciptaan sendiri atau didapat dari negara lain yang berada dalam daftar ini memang terkenal berbahaya. Bahkan sebagai pesaing, AS cukup khawatir bila negara timur Tengah ini memiliki senjata tersebut.
Meskipun Iran bukanlah negara modern yang dipenuhi berbagai senjata militer canggih macam Rusia dan AS, namun negara ini terbilang memiliki perkembangan industri militer yang luar biasa dalam beberapa dekade.
Bahkan Iran disebut-sebut memiliki gudang persenjataan yang cukup besar dan beragam di Timur Tengah. Terutama untuk rudal yang dimiliki, baik termasuk jenis balistik maupun jelajah.
Selain itu, Iran juga merupakan pusat utama proliferasi senjata, memasok kelompok mitra/proksi seperti Hizbullah dan rezim al-Assad di Suriah dengan pasokan rudal dan roket, serta kemampuan produksi lokal. Berikut ini sejumlah senjata andalan militer Iran yang cukup berbahaya.
Senjata Andalan Militer Iran
1. Sistem Rudal S-300
S-300 merupakan sistem rudal yang diproduksi oleh NPO Almaz asal Rusia. Sistem rudal ini tercatat telah ada di Iran sejak tahun 1012 lalu, kemunculan senjata mematikan era Uni Soviet itu besar kemungkinan berasal dari jalur ilegal.
Sistem rudal S-300 sendiri adalah peluncur rudal dari darat ke udara yang punya radar pengintai jarak jauh. Dari senjata ini juga Iran membuat sistem Bavar 373 yang kemampuannya diklaim punya kemampuan yang sama dengan sistem rudal asal Rusia tersebut.
2. Sisten Rudal Tactical Sayyad
Sistem rudal yang baru saja diumumkan oleh Iran pada 2023 ini menjadi salah satu andalan negara tersebut. Sistem ini punya kemampuan canggih untuk mendeteksi sekaligus menyerang secara simultan.
Menteri Pertahanan Iran mengklaim bahwa sistem rudal lokal ini mampu mendeteksi hingga 24 target dalam jarak 180 km, sekaligus menyerang 6 hingga 12 target tersebut dalam radius 120 km.
3. Rudal Sejil
Menurut laman Missile Thread, rudal sijil adalah rudal balistik jarak menengah dua tahap, berbahan bakar padat, yang dirancang dan dibangun di dalam negeri oleh Iran.
Rudal sepanjang 18 meter dengan diameter 1,25 meter ini diklaim mampu untuk menjangkau jarak 2.000 km. Sejara ini rencananya hanya akan membawa hulu ledak HE sebelum nantinya Iran mendapat hulu ledak nuklirnya sendiri.
4. Rudal Soumar
Soumar adalah rudal jelajah darat Iran yang secara resmi diumumkan ke publik pada 8 Maret 2015. Banyak pengamat berspekulasi bahwa rudal ini adalah tiruan dari Kh-55 Rusia yang punya kekuatan nuklir.
Pada tahun 2005, Ukraina mengungkapkan bahwa 12 Kh-55 (tanpa hulu ledak nuklir) dijual secara ilegal ke Iran pada tahun 2001 melalui operasi pemalsuan pasar gelap.
Salah satu hal yang mencolok dari rudal ini adalah jangkauannya yang diklaim mencapai 3.000 km. Namun hal tersebut rupanya belum terbukti secara pasti, dan hanya mampu mencapai jangkauan 2.500 km dalam percobaan yang telah dilakukan.
5. Kapal Selam Ghadir
Kapal selam seberat 150 ton ini disebut-sebut memiliki kemampuan mobilisasi yang mumpuni dan mampu memasuki wilayah musuh tanpa terdeteksi.
Selain itu, kemampuan kapal selam kelas ghadir yang dapat membawa tabung 533 mm untuk menembakkan torpedo dan meletakkan ranjau membuatnya semakin terlihat berbahaya.
6. Jet MIG-29
Jet tempur andalan Rusia yang dikirimkan ke Iran dalam beberapa dekade lalu, sampai saat ini masih menjadi andalan Team Melli mengingat kemampuan jet tersebut yang masih relevan sampai saat ini.
MIG-29 memiliki kecepatan maksimal mencapai Mach 2,25 dengan jangkauan lebih dari 1.400 km. Kemampuannya yang mampu menampung hampir empat ton persenjataan dan memiliki enam rudal membuat pesawat ini masih menjadi andalan di beberapa negara.
7. Tank Zulfiqar
Dikutip dari Business Insider, Tank Zulfiqar adalah salah satu contoh bagus dari pencapaian Iran dalam mengembangkan teknologi yang diproduksi dalam negeri sejauh ini.
Dinamakan berdasarkan pedang legendaris Nabi Muhammad SAW, Zulfiqar adalah tank tempur sepanjang 41 ton dan panjang 23 kaki yang diproduksi di Iran oleh Kompleks Industri Shahid Kolah Dooz.
Kendaraan tempur ini dipersenjatai dengan senapan tank 12,5 cm, dan membawa dua senapan mesin. Kecepatannya bisa mencapai 43 mph.
8. Drone Karrar
Drone tempur ini diluncurkan pada akhir tahun 2010, namun rinciannya masih samar. Jaringan televisi pemerintah Iran mengklaim bahwa Karrar yang berarti “Striker” memiliki jangkauan 620 mil dan dapat mengirimkan dua bom berpemandu presisi seberat seperempat ton. (ahm)
Tiga anak buah Egianus Kogoya tewas
Ilustrasi (Arsip Istimewa) ☆
Aparat TNI menggerebek markas kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Tiga orang anggota KKB dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen Izak Pangemanan membenarkan laporan tersebut. Dia mengatakan operasi ini buntut dari terbunuhnya 3 warga sipil pada 16 Agustus 2023 lalu.
"Tindakan operasi kemarin adalah akibat dari terbunuhnya tiga orang masyarakat sipil oleh KKB di Batas Batu," kata Mayjen Izak Pangemanan saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (3/9/2023).
Izak mengungkapkan penggerebekan markas KKB itu dilakukan pada Jumat (1/9) di Kampung Aluguru, Distrik Krepkuri, Kabupaten Nduga. TNI juga mengamankan sejumlah barang bukti.
"Dari operasi ini juga tim gabungan berhasil mengamankan sejumlah barang bukti seperti senjata, amunisi, peralatan, serta dokumen yang mengindikasikan aktivitas TPNPB-OPM," ungkapnya.
Sempat terjadi kontak tembak antara TNI dan KKB pimpinan Egianus Kogoya. Dalam kontak tembak itu menewaskan tiga anggota KKB bernama Army Tabuni, Ganti Gwijangge, dan satu lainnya yang belum teridentifikasi.
"Kontak tembak terjadi, sehingga mengakibatkan tiga anak buah Egianus Kogoya tewas," jelasnya.
Menurut Izak, markas kelompok di Kampung Aluguru yang digerebek ini merupakan markas besar KKB pimpinan Egianus Kogoya. Aparat akhirnya berhasil mengambil alih markas KKB tersebut.
"Tim gabungan akhirnya berhasil menduduki Aluguru yang selama ini dikenal sebagai markas besar kelompok Egianus Kogoya," pungkasnya. (hsr/asm)
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, KSAD Jenderal TNI Mulyono, Danjen Kopassus Mayjen TNI Muhammad Harindra, dan Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi saat mengejar Presiden Jokowi. (Istimewa) ★
Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan sosok pemimpin yang sangat berani. Kesan tersebut diungkapkan Pangdam Jaya Mayjen TNI Mohamad Hasan saat bertugas menjadi perisai hidup Jokowi.
Saat itu, mantan Danjen Kopassus ini menjabat sebagai Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden atau Dangrup A Paspampres yang bertugas menjaga keamanan dan keselamatan orang nomor satu di Indonesia ini.
Dalam buku biografinya berjudul “Menjaga Jokowi Menjaga Nusantara: Catatan Perjalanan Jaguar Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden” lulusan Akademi Militer (Akmil) 1993 ini menceritakan momen bagaimana Paspampres sempat kalang kabut mempersiapkan keamanan saat Jokowi memutuskan mudik Lebaran ke Solo dan Yogyakarta untuk open house di Gedung Agung atau Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Sebab, sebelum berangkat ke Solo, terjadi bom bunuh diri oleh seorang terduga teroris di halaman Mapolres Surakarta. Peristiwa yang terjadi pada 5 Juli 2016 itu menewaskan seorang pelaku dan satu anggota kepolisian. Kejadian ini cukup menggemparkan karena terjadi dalam suasana Hari Raya Idul Fitri.
Peristiwa itu menjadi pertimbangan bagi Paspampres untuk memperketat pengawalan selama Presiden Jokowi mudik pada 8 Juli 2016. Komandan Paspampres (Danpaspampres) yang saat itu dijabat Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono segera mengumpulkan data situasi terakhir yang berkembang untuk kemudian dilaporkan kepada Presiden Jokowi.
Laporan situasi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi Presiden untuk membatalkan atau tetap melanjutkan perjalanan ke Solo. Setelah menerima laporan dari Komandan Paspampres, Jokowi ternyata tetap memutuskan untuk tetap pulang kampung ke Solo.
"Seperti yang saya sudah duga, Presiden Jokowi tetap akan melanjutkan perjalanan ke Solo. Keputusan ini tentunya menjadi tantangan bagi Paspampres untuk menerapkan pola pengamanan yang ekstra-hati-hati karena situasi di Solo waktu itu masih cukup rawan," kenangnya dikutip SINDOnews, Sabtu (26/8/2023).
Di Kota Surakarta, orang-orang masih hangat membicarakan kejadian bom bunuh diri di Mapolres Surakarta. Pelakunya diketahui bernama Nur Rohman, warga Desa Sangkrah, Pasar Kliwon, Surakarta.
Perkembangan situasi ini membuat penyambutan Presiden Jokowi di Bandara Internasional Adi Sumarmo Boyolali lebih ketat. Mulai dari saat penjemputan, perjalanan, hingga di kediaman Presiden Jokowi yang terletak di Kecamatan Sumber, Surakarta, pengamanan wilayah tampak lebih banyak dari biasanya.
Walaupun kepolisian memperkirakan tidak akan ada aksi lanjutan pelaku teror, namun karena yang datang seorang kepala negara, aparat keamanan wilayah tak mau ambil risiko. Aparat kepolisian menggelar pengamanan di sepanjang rute yang dilalui Presiden lebih banyak dari biasanya. Demikian pula Paspampres melakukan perkuatan pengamanan lebih banyak di kediaman Presiden dan keluarga.
"Anggota Grup A Paspampres saya perintahkan untuk melakukan beberapa modifikasi pengamanan di sekitar kompleks perumahan Sumber. Pembatasan akses jalan masuk ke perumahan dan patroli di seputaran lingkar dalam kompleks dilakukan Paspampres," katanya.
Sedangkan, untuk pengamanan lingkar luar kediaman dilakukan oleh pengamanan wilayah dari Komando Distrik Militer (Kodim) Surakarta. Menjelang waktu Salat Asar seluruh pengamanan di pos pintu masuk perumahan dicek.
"Saya mendengar suara orang mengaji dari masjid sekitar kompleks. Saat itu saya baru sadar bahwa hari itu adalah hari Kamis, dan besok Presiden harus Salat Jumat. Langsung saya teringat kebiasaan Presiden Jokowi kalau Salat Jumat di Solo. Beliau selalu memilih sendiri masjid yang akan dituju," ujarnya.
Beberapa kali Salat Jumat di Solo, masjid ditentukan setelah beliau menaiki mobil walaupun sebelumnya ajudan telah menanyakan masjid yang akan didatangi. Jawaban Presiden Jokowi, "Nanti saya tentukan."
Kebiasaan seperti ini membuat pengamanan di lokasi Salat Jumat menjadi terburu-buru. Pengamanan dari Paspampres dan wilayah tentu tak punya waktu banyak untuk melakukan prosedur tetap pengamanan yang semestinya. Padahal, masjid yang dipakai Jumatan Presiden tidak akan 100% steril.
Alasan Presiden Jokowi menentukan masjid saat sudah di mobil karena beliau merasa Solo adalah kota yang sangat dikenalnya sehingga Presiden Jokowi ingin berbaur dengan masyarakatnya. Apalagi selama ini salat berlangsung lancar dan aman-aman saja. Namun, kali ini, Jumatan hanya berselang dua hari setelah peristiwa aksi terorisme yang menggemparkan Indonesia, khususnya Kota Solo.
"Kebiasaan Presiden ini menjadi pemikiran saya sebagai Dan Grup A Paspampres bagaimana caranya agar Presiden dapat menentukan salat di masjid lebih awal sehingga pengamanan dapat dilakukan optimal," katanya.
Dengan pertimbangan pascaaksi terorisme, bagaimana jika Salat Jumat dilakukan di masjid yang berada di kompleks militer atau kepolisian yang dipastikan lebih aman dan steril. Hal itupun disampaikan Mohamad Hasan kepada ajudan Presiden yang saat itu bertugas, yakni Kombes Pol. Listyo Sigit Prabowo kini menjabat sebagai Kapolri.
"Bang, mengingat situasi pascabom di Polres Solo, saya sarankan untuk Jumatan besok di masjid militer atau kepolisian," tutur saya memberikan saran kepada ajudan dinas.
"Ok, betul juga dinda, saya setuju. Nanti saya sampaikan kepada Pak Anggit (Sekretaris Pribadi Presiden Anggit Nugroho)," kata Sigit.
Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat pada 13 Maret 1971 yang sudah melakukan survei cepat terhadap beberapa masjid di kompleks militer dan kepolisian mengantongi tiga pilihan tempat untuk Salat Jumat Presiden Jokowi. Antara lain, masjid di Korem, Polres, dan Kodim. Namun, ketiga pilihan tersebut ternyata tidak memungkinkan.
Masjid di Korem tengah dalam renovasi dan belum bisa digunakan. Demikian juga masjid di Polres, lokasinya sangat berdekatan dengan Tempat Kejadian Perkara (TKP) aksi bom bunuh diri di Mapolres Solo. Adapun masjid di Kodim terlalu sempit dan kurang representatif.
"Akhirnya, saya ingat salah satu instansi militer yang berada di Kota Solo, yaitu Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Karta Sebagai mantan Wakil Komandan Grup 2 Kopassus di Kandang Menjangan, saya sangat hapal kondisi masjid itu," ujar eks Wadan Grup 2/Sandi Yudha Kopassus ini.
Selain masjidnya cukup besar, lokasinya berada di kawasan Kompleks Grup 2 Kopassus Akhirnya, usulan itu disetujui untuk dijadikan tempat Salat Jumat Presiden Jokowi. "Dinda, Presiden setuju dengan saran kita. Segera koordinasikan ya," kata Kombes Pol Sigit.
Mendapat informasi tersebut, M. Hasan mengaku lega dan langsung menghubungi Komandan Grup 2 Kopassus, Kolone Infanteri Rafael Granada Baay yang juga teman satu angkatan dengan di Akademi Militer 1993.
Setelah menghubungi Dan Grup A Kopassus, mantan Pangdam Iskandar Muda ini pun segera menghubungi Komandan Korem (Danrem) 074/Warastratama Maruli Simanjuntak yang kini menjabat sebagai Pangkostrad.
M. Hasan juga menyarankan kepada Dan Grup 2 Kopassus untuk menyiapkan alat tulis agar Presiden bisa menuliskan pesan untuk prajurit Kopassus seperti yang dilakukan ketika Presiden mengunjungi KRI Imam Bonjol di Kepulauan Natuna.
"Ide bagus, Bro. Soalnya Presiden belum pernah berkunjung ke Makopasus atau satuan Kopassus lainnya. Ini yang pertama Presiden ke Kopassus," jawab Kolonel Rafael sumringah.
Malam itu juga, dirinya mendapat informasi yang cukup mengejutkan tentang rencana kehadiran Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono, dan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Herindra.
Padahal, sebelumnya mendapat arahan dari ajudan Presiden Kombes Pol Listyo Sigit cukup Pangdam dan Kapolda saja yang hadir pada saat Salat Jumat. Namun, rupanya, Dan Grup 2 Kopas melaporkan kepada Danjen Kopassus tentang rencana Salat Jumat Presiden Jokowidi Kandang Menjangan.
Sudah dapat ditebak kelanjutannya dengan laporan tersebut. Danjen akan melapor kepada KSAD dan KSAD akan melapor kepada Panglima TNI. Akhir ketiga pejabat tinggi TNI tersebut dipastikan akan hadir di Grup 2 Kopassus untuk menyambut Presiden.
"Waah besok Kesatrian Kandang Menjangan akan bertaburan 'bintang' nih," ujar Kolonel Rafael ketika mendengar berita itu.
Setelah mengunjungi beberapa titik di Solo sejak pagi, menjelang siang Presiden Jokowi tiba di Markas Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, dan Sukoharjo, Presiden Jokowi disambut Dangrup 2 Kopassus Kolonel Rafael Granada Baay. Kemudian Presiden berganti kendaraan taktis yang disiapkan untuk berkeliling asrama. Kendaraan pertama diisi Presiden, Panglima TNI, KSAD, dan Danjen Kopassus. Termasuk dirinya dan ajudan dinas Presiden.
Kendaraan kedua diisi oleh Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Djaswandi, Sesmilpres, Danrem 074/Warastratama, Kolonel Maruli, dan Kapolresta Surakarta Kombes Pol. Ahmad Luthfi.
Saat Salat Jumat, Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, KSAD Jenderal TNI Mulyono, Danjen Kopassus Mayjen TNI Muhammad Harindra, dan Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi.
Hadir juga Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Condro Kirono, Komandan Korem 074/Warastratama Surakarta Kolonel Inf. Maruli Simanjuntak, Komandan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kapolresta Surakarta Kombes Pol. Ahmad Luthfi,
Setelah menunaikan ibadah Salat Jumat, Jokowi memberikan pengarahan bagi semua anggota Kopassus serta anggota TNI maupun Polri yang hadir. Dilanjutkan dengan makan siang bersama di halaman masjid.
Jokowi Dikejar 4 Jenderal TNI.
Meski acara sudah selesai, kejutan masih berlanjut. Seusai rangkaian kegiatan di Masjid Al Ihya, Presiden berjalan menuju ke mess Grup A Kopassus untuk menuju kendaraan dan berpamitan dan meninggalkan mess Grup 2 Kopassus menuju gerbang utama mako.
Terlihat anak-anak, istri-istri prajurit, dan prajurit TNI/Polri yang ikut Salat Jumat berbaris rapi di sepanjang jalan menuju gerbang utama, sambil membawa bendera Merah Putih dan melambaikan ke arah konvoi rangkaian Presiden. Presiden Jokowi hanya membuka kaca mobilnya.
"Saya sudah tahu apa yang akan dilakukan Presiden setelah melihat rakyatnya berbaris, yakni beliau akan membuka kaca mobil untuk membagi-bagikan buku atau kaus. Tebakan saya benar, staf ajudan membuka bagasi mobil dan mengambil buku-buku untuk dibagikan kepada anak-anak yang telah berbaris di pinggir jalan," katanya.
Belum lama rangkaian bergerak, sejumlah ibu yang ingin bersalaman dengan Presiden tiba-tiba mencegat kendaraan di tengah jalan. Semula Presiden melayani jabat tangan para ibu tersebut. Selanjutnya, ibu-ibu dan anak-anak mulai merapat ke mobil Presiden.
Mobil pun berhenti dan Presiden keluar dari mobil, langsung membagi-bagikan buku kepada anak-anak dan menyalami warga Kompleks Kopassus yang ingin berjabat tangan. Informasi berhentinya mobil Presiden sampai ke telinga para pejabat TNI yang sebelumnya melepas keberangkatan Presiden di depan mess Grup 2 Kopassus.
Spontan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berlari menuju lokasi tempat Presiden berhenti. Melihat Panglima TNI berlari, KSAD mengikuti. Demikian juga Pangdam IV Diponegoro dan Danj Kopassus terpaksa ikut lari juga.
"Terjadilah pemandangan langka di Kesatrian Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan. Empat jenderal kompak berlari bersama mengejar Presiden yang tengah melayani keinginan rakyatnya," katanya. (cip)
Korban Dituduh Sebagai "Agen Intelijen"
Akitivis perempuan Papua tewas di tengah konflik berkepanjangan antara kelompok pro-kemerdekaan Papua dan militer Indonesia. Pegiat HAM dan pengamat mengatakan jika konflik dibiarkan, 'korban terus berjatuhan'.(SEBBY SAMBOM via BBC Indonesia) ★
Akitivis perempuan Papua tewas di tengah konflik berkepanjangan antara kelompok pro-kemerdekaan Papua dan militer Indonesia. Pegiat HAM dan pengamat mengatakan jika konflik dibiarkan, 'korban terus berjatuhan'.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengeklaim telah menembak mati seorang aktivis perempuan Papua bernama Michelle Kurisi Ndoga yang mereka sebut sebagai "agen intelijen".
Aparat gabungan TNI-Polri dan Satgas Damai Cartenz 2023 saat ini telah mengevakuasi jenazah Michelle yang ditemukan di Distrik Kolawa Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, pada Kamis (31/08).
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Ignatius, Benny Ady Prabowo, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman dan investigasi lebih lanjut terhadap kebenaran di balik kasus tersebut.
“Kasus ini masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan guna mencari keterangan saksi,” jelas Benny dalam keterangan tertulis, Kamis (31/8/2023).
Sebelumnya, Benny menjelaskan bahwa pembunuhan ini terjadi setelah Michelle Kurisi Ndgoga diinterogasi mengenai tujuannya dalam perjalanan menuju ke Kwijawagi.
"Dia bermaksud mengumpulkan data tentang pengungsi perang masyarakat Nduga,” ungkap Benny.
Pegiat HAM asal Papua, Theo Hasegem, menyayangkan pembunuhan Michelle Kurisi, seraya menegaskan pembunuhan warga sipil semakin sering terjadi di wilayah rawan konflik Papua.
Menurutnya, kelompok TPNPB-OPM memiliki kecurigaan terhadap warga yang mereka duga memiliki kedekatan dengan para pejabat atau tokoh NKRI dan menganggap mereka ‘intel’.
“Cukup parah dan sebenarnya itu memang tidak manusiawi. Mereka kalau misalnya diperlakukan oleh TPNPB. Kalau mereka menduga seperti itu bisa diusir pulang. Tapi ini sudah di puncak menghilangkan nyawa,” ungkap Theo.
Sejak 2018 hingga 2022, Amnesty International mencatat setidaknya 94 kasus pembunuhan di luar hukum yang melibatkan aparat TNI, Polri, petugas lembaga pemasyarakatan, dan kelompok pro-kemerdekaan Papua yang menewaskan setidaknya 179 warga sipil.
Dalam periode waktu yang sama, jumlah korban yang meninggal dari pihak TNI sebanyak 35 jiwa dari 24 kasus pembunuhan di luar hukum, sembilan anggota Polri dari delapan kasus, dan 23 anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua dari 17 kasus.
"Kami siap tembak mati"
Kekerasan terhadap warga sipil di daerah konflik Papua kembali terjadi. Kali ini korban merupakan aktivis perempuan. (YESKIEL BELAU via BBC Indonesia) ★
Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menegaskan bahwa pihaknya memiliki bukti kuat Michelle Kurisi sebagai intel yang mengirim data dan informasi mengenai keberadaan kelompok itu dan memberikannya kepada pihak polisi.
“Kita punya bukti-bukti semua jelas. Bisa lihat foto yang terpaut dan lain-lain, dia itu bagian dari BIN. Kami sudah identifikasi bukan baru," kata Sebby.
"Semua orang Papua tahu, jadi semua itu kami punya catatan-catatan, siapa yang menjadi anggota, siapapun itu kami siap tembak mati,“ lanjutnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan pihaknya sudah memperingatkan agar warga segera meninggalkan daerah konflik yang mereka sebut sebagai wilayah perang, di mana pendatang dari luar akan segera mereka tembak mati.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes polisi Ignatius Benny Ady Prabowo, mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pendalaman dan investigasi lebih lanjut guna memverifikasi kebenaran informasi yang beredar di media sosial.
Salah satunya berupa cuplikan video yang menunjukkan sosok menyerupai korban berbaju hitam dan dalam keadaan duduk. Dalam video tersebut, ia memberi penjelasan sambil menyebut kata-kata “the spirit of Papua...Di sana Kakak Samuel...mereka dibina oleh...”
Tayangan video itu kemudian berlanjut dengan korban yang sudah jatuh telentang di atas tanah dan terluka parah.
Benny menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang mereka terima, pembunuhan tersebut terjadi setelah korban diinterogasi mengenai tujuannya dalam perjalanan menuju ke Kwijawagi, di mana dia bertujuan mengumpulkan data tentang pengungsi warga Nduga.
"Kami telah melakukan penyelidikan yang teliti untuk mengungkap kebenaran dari informasi ini," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan pihak kepolisian masih berupaya mencari letak jasad Michelle dan akan menindak pelanggaran hukum dengan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.
Tokoh HAM Papua yang juga seorang imam Katolik yang berbasis di Wamena, Pastor John Djonga, mengatakan bahwa Michelle cukup dikenal oleh warga setempat karena ia sendiri merupakan warga Wamena.
“Michelle Kurisi sudah beberapa kali ditegur oleh kelompok itu [TNPB-OPM] tentang aktivitas dia. Aktivitas dia, dia biasa pergi mencari data, mendaftar korban pengungsi dari daerah Nduga lalu ditegur oleh kelompok itu yang ada di daerah Tiom, Kabupaten Jayawijaya,“ jelas Pastor John.
Ia mengatakan bahwa warga setempat hanya mengenalnya sebagai aktivis dan pengusaha, sementara statusnya sebagai ‘intel‘ masih belum jelas kebenarannya.
“Saya pikir memang ini hanya curiga kelompok ini, memang data-data atau informasi yang pasti tentang benar tidaknya bahwa dia bekerjasama [dengan polisi] itu juga masih sesuatu yang sangat rahasia,“ katanya.
Namun, terlepas dari itu, Pastor John menilai tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh para pelaku sudah melanggar soal hidup orang lain dan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.
“Tindakan seperti ini hanya menimbulkan kebencian dan juga bukan saja menimbulkan kebencian tapi juga entah keluarga maupun orang lain merasa itu tambah memperparah semangat perdamaian dan situasi Papua yang semakin memanas.“
Warga sipil jadi korban terbanyak
Kapolres Nduga beserta Satgas Damai Cartenz melakukan tembakan pembersihan ke area seberang Bandara Kenyam untuk menganggu KKB yang hendak menembaki pesawat, Nduga, Papua Pegunungan, Senin (26/6/2023) (Dok Polres Nduga) ★
Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan konflik di Papua sudah sampai tahap yang bisa disebut exceptional circumstances alias keadaan luar biasa, di mana problem kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia sudah tak tertangani lagi.
“Pembunuhan terhadap Michelle Kurisi itu jelas. Tindakan yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia. Tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya,” kata Usman kepada BBC News Indonesia.
Ia mengatakan bahwa selama ini warga sipil menjadi korban terbanyak selama tiga hingga empat tahun terakhir, sehingga kondisi sudah sangat mengkhawatirkan. Hal itu, sambungnya, tidak bisa dibenarkan walaupun Papua Barat kini berada dalam situasi konflik.
“Saya mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan oleh TPNPB yang tidak bisa dibenarkan oleh hukum-hukum konflik bersenjata. Baik itu konvensi-konvensi Jenewa atau hukum-hukum perang. Karena para korbannya itu jelas bukan kombatan,“ ujarnya.
Peneliti masalah Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adriana Elizabeth, mengatakan bahwa warga yang tinggal di daerah konflik Papua tidak merasa nyaman. Sebab, warga merasa takut dan khawatir jika perilaku atau tindakan mereka bisa dicurigai oleh kelompok bersenjata dan pada akhirnya ditargetkan juga.
“Siapa melakukan apa kan berarti harus diperhatikan setiap waktu, supaya jelas, ini korbannya memang benar-benar yang dituduhkan itu, atau memang misalnya salah tembak saja,“ ujar Elizabeth.
Menurutnya, TPNPB-OPM melakukan tindakan itu untuk mengirim peringatan kepada dunia luar, bahwa keberadaan mereka masih sangat nyata dan bahwa konflik di Papua masih terus berlangsung.
“Mereka bisa juga melakukan sesuatu yang, walaupun dianggap sadis dan sebagainya,menyatakan bahwa kami eksis dan kami tahu apa yang dilakukan pihak lain. Ini kemudian mereka menyatakan diri seperti ini,“ katanya.
Pegiat HAM, Theo Hasegem, mengatakan bahwa jika TPNPB-OPM merasa curiga terhadap seorang individu mereka tidak bisa sewenang-wenang merampas nyawa warga tersebut. Melainkan mereka bisa mengusirnya dari wilayah itu.
“Kalau ada kecurigaan seperti itu, yang pertama mereka melakukan penyitaan data. Data kecurigaan itu. Dan kemudian mereka kasih peringatan supaya tidak boleh datang di daerah itu."
“Jadi tidak bisa main eksekusi. Kalau mereka punya dugaan itu mereka harus membuktikan dengan fakta,“ ungkap Theo.
Lebih lanjut, ia mengatakan pemerintah pusat harus mengambil langkah untuk berdialog duduk sama-sama dengan TPNPB-OPM. Karena kalau tidak, korban-korban akan terus berjatuhan.
“[Ini] tidak bisa dibiarkan kecuali TPNBB itu menyerah atau mengakui diri bahwa kami adalah bagian dari NKRI. Tapi kalau mereka belum, pasti konflik terus akan bertambah,“ kata Theo.
Klaim tidak menembak sembarang warga
Anggota Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka memegang bendera Bintang Kejora. (SEBBY SAMBOM via BBC Indonesia)
★
Juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengaku bertanggung jawab atas kematian Michelle Kurisi pada Selasa (29/08).
Ia mengatakan bahwa kelompok itu percaya Michelle merupakan seorang pembela NKRI yang selama ini mengumpulkan data untuk diberikan kepada pihak TNI-Polri.
Tak hanya itu, kedekatan Michelle dengan mantan Kapolda yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpauw, disebut juga oleh Sebby sebagai alasan menuding Michelle sebagai pendukung NKRI. Oleh karena itu, kelompoknya memilih untuk mengeksekusinya.
“Ibu [Michelle] ini menyamar masuk untuk mengambil data, tempat tinggal lain-lain, supaya tentara bisa operasi senyap untuk bunuh macam itu dia lakukan. Semua data di tangan TPNPB,” kata Sebby kepada BBC News Indonesia.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa mereka sudah melarang warga memasuki daerah ‘perang’ yang mereka tentukan menjadi delapan wilayah, di antaranya Intan Jaya, Ndugama, Nduga, Puncak dan Yakohimo, Wamena, Puncak Jaya, Sorong, Maybrat, dan Fakfak.
“Wilayah perang yang kami sudah umumkan untuk ditinggalkan wilayah itu. Mereka itu bagian dari nama-nama dari para infiltrasi, spionase, TNI-Polri, spy,” kata Sebby.
Ia menambahkan bahwa konflik di Papua Barat akan terus berlanjut hingga tiga tahun ke depan, dan siapa pun yang menurut mereka terbukti adalah mata-mata atau pendukung NKRI yang masuk wilayah mereka akan ditembak mati.
“Perang revolusi, gerilya, itu sebelum lawan musuh, mata-mata semua harus dibersihkan. Karena mata-mata yang akan memberikan informasi keberadaan pasukan TPNPB, makanya musuh harus langsung membunuh,” ujarnya.
"Gencatan senjata menjadi kunci penyelesaikan konflik"
Untuk menghentikan siklus kekerasan yang terus terjadi di Papua, peneliti LIPI Adriana Elizabeth mengatakan harus ada keinginan dari kedua belah pihak, baik aparat keamanan Indonesia maupun TPNPB-OPM untuk berhenti menggunakan kekerasan.
“Kalau yang satu masih merasa terancam, mereka punya senjata, jadi kami harus bersiaga, dan sebagainya, ya [konflik] tidak akan pernah selesai,“ kata Elizabeth.
Kedua pihak, lanjutnya, perlu melakukan gencatan senjata selama kurun waktu tertentu atau jeda kemanusiaan, dengan tujuan membantu atau menolong pihak-pihak yang terdampak konflik.
Tetapi itu hanya solusi sementara, ia mengatakan pemerintah juga harus turun tangan dengan mengadakan perundingan damai dengan kelompok Papua Merdeka. Meskipun ia cukup sadar pemerintah Indonesia menolak untuk bernegosiasi dengan apa yang mereka sebut ‘separatis‘.
“Agendanya tidak bicara merdeka. Tetapi bicara yang lain aja dulu, gitu. Misalnya bagaimana tidak ada tembakan-tembakan lagi, kan itu bisa dipikirkan bersama.
“Itu menurut saya harus dibuka peluang-peluang seperti itu, supaya ada jalan. Kalau tidak, akan begini terus. Kalau dalam situasi curiga, apapun bisa terjadi,“ tegasnya.
Pastor John Djonga mengatakan sejauh ini, hampir semua upaya berdialog dari gereja maupun kelompok kemanusiaan di luar pemerintah dengan kelompok garis keras, Papua Merdeka belum ada yang benar-benar berhasil tembus.
“Itu yang saya tahu. Bukan tidak di dengar, tetapi [saran] tidak dipatuhi oleh kelompok. Untuk bisa berdialog di antara tokoh-tokoh atau orang-orang yang sedang mencari itu damai atau pemerintah, sangat sulit,“ ujar Pastor John.
Namun, menurut Pastor John berdialog dengan TPNPB-OPM juga menjadi semakin sulit sejak muncul kebijakan TNI dari Jakarta yang terus melakukan upaya militer terhadap kelompok tersebut.
“Itu yang menimbulkan juga reaksi dari kelompok teman-teman yang ada di beberapa tempat kelompok garis keras Papua Merdeka,“ katanya.
Oleh karena itu, ia berharap kedua belah pihak mampu mengendalikan diri dan berhenti membunuh orang lain.
“Bagaimanapun juga, entah kelompok yang bertentangan dengan NKRI atau kelompok Papua, mereka harus menghargai hak hidup orang lain,“ tegas Pastor John.