Senin, 30 April 2012

Menhan Akan Pelajari Kemungkinan Kerjasama Industri Pertahanan Dengan Kroasia

DMC/SASI
Jakarta, DMC - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Jumat (27/4), menerima kunjungan kehormatan Chairman of The President’s Council on Foreign Policy and International Relations Republic of Croatia, Mr Budimir Loncar, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Mr Budimir Loncar sudah tidak asing lagi berada di Indonesia karena pada era orde baru pernah menjabat sebagai Duta Besar Yugoslavia untuk Indonesia dan pada era 90-an pernah menjadi wakil UN untuk Indonesia. Mr. Budimir Loncar juga berperan sebagai mediator dalam pembicaraan perdamaian antara Pemerintah dan GAM Aceh di Stockholm, Swedia.

Kedatangannya kali ini sebagai undangan Kementerian Luar Negeri RI dalam membicarakan peningkatan kerjasama bilateral Indonesia - Kroasia. Mr Budimir Loncar berharap kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Kroatia dapat diperbarui dan dikembangkan. Pada kesempatan tersebut juga diserahkan proposal kerjasama industri pertahanan kedua negara.

Menhan Purnomo Yusgiantoro berjanji untuk mempelajari proposal kerjasama industri pertahanan yang ditawarkan dan akan memberikan jawaban kepada Kedutaan Besar Kroasia. Menhan akan berupaya meramu kerjasama industri pertahanan antara kedua negara yang memberi manfaat bagi Indonesia dan Kroasia.

Saat menerima kunjungan kehormatan Mr Budimir Loncar, Menhan Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin, Direktur Kerjasama Internasional Ditjen Strahan Kemhan Brigjen TNI Jan Pieter Ate M.Bus, dan Kepala Biro TU Stejen Kemhan Brigjen TNI Drs. Herry Noorwanto MA. (DAS/SR)(DMC)

SDM Kurang, Produksi Senjata di Pindad Terlambat

BANDUNG, (PRLM).- Keterlambatan produksi senjata di PT Pindad (Persero) diakibatkan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang sedangkan order semakin melimpah. Perlu adanya perbaikan SDM dan upaya bersama untuk menjadi perusahaan kelas dunia.

Demikiam disampaikan Direktur Utama PT Pindad (Persero), Adik A. Soedarsono dalam acara Seminar Nasional Bersama Menuju Perusahaan Kelas Dunia di Hotel Grand Aquila, Jalan Djundjunan Nomor 116, Bandung, Senin (30/4).

"Untuk menjadi perusahaan kelas dunia tidak bisa dilakukan oleh sendiri. Namun, membutuhkan dukungan dari semua elemen masyarakat dalam mewujudkannya," ujarnya.

Adik mengakui, di Amerika satu orang pekerja dapat menghasilkan 1.000.000 butir peluru per tahunnya. Selain itu, di Inggris dapat menghasilkan sebanyak 600.000 butir peluru per tahunnya, sedangkan di Indonesia satu orang pekerja hanya dapat menghasilkan 120.000 butir peluru per tahunnya.

Hal tersebut menunjukkan Indonesia sudah ketinggalan jauh dari negara lain. Menurutnya, PT Pindad perlu bekerja keras untuk bisa mewujudkan impiannya menuju perusahaan kelas dunia.

"Tak hanya SDM tetapi inovasi pun harus terus ditingkatkan dan dikembangkan karena teknologi yang begitu cepat berkembang," kata Adik.

Pakar pertahanan dan keamanan negara, Connie Rahakundini menambahkan, SDM yang kurang menunjukkan adanya kesalahan dalam memperlakukan SDM. Pada akhirnya SDM di Indonesia banyak yang lari ke luar negeri dan mengembangkan potensi mereka disana.

Mayor Jenderal TNI Muktiyanto dan Pengusaha Nasional Rahmat Gobel pun hadir sebagai pembicara dalam rangka peringatan ulang tahun PT Pindad yang ke-29. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, yang sebelumnya dipercaya sebagai pembicara tidak dapat menghadiri acara karena harus mengerjakan urusan negara. (CA-07/A-107)***
 

AMX 13

AMX-13 TNI AD

 Tank Utama TNI AD

WALAU tak punya MBT (Main Battle Tank), angkatan darat kita punya tank utama, yakni AMX-13 buatan Perancis. Meski dari segi usia tank ini sudah sepuh, karena dibuat antara tahun 50 – 60an, AMX-13 masih eksis digunakan satuan kavaleri TNI-AD sampai saat ini. Disebut tank utama karena jumlah AMX-13 cukup banyak, inilah tipe tank terbanyak yang dimiliki TNI-AD, menurut situs wikipedia TNI-AD mempunyai 275 unit AMX-13 versi kanon.

Monumen AMX-13 Di Markas Kostrad
Ada banyak ragam varian AMX-13, sebut saja mulai dari versi kanon dengan beragam kaliber, versi angkut personel, versi artileri, versi tank jembatan dan versi anti serangan udara. TNI-AD diketahui memiliki tiga tipe, yakni versi kanon, versi angkut personel dan versi artileri 105 mm. Tank versi kanon ini bisa dibilang menjadi ikon kavaleri TNI-AD lebih dari tiga dasawarsa, karena saking tuanya beberapa ada yang sudah menjadi monumen di beberapa museum. Tapi yang masih aktif operasional telah dilakukan program retrofit dan upgrade, seperti mengganti mesin dari tipe bensin ke diesel dan penggantian sistem suspensi agar lebih nyaman digunakan, mengganti kanon yang lebih modern. Dengan upgrade ke mesin diesel, konsumsi bahan bakar bisa ditekan dan jarak tempuh bisa ditingkatkan.

Di kalangan TNI sudah pasti tidak akan asing lagi bila mendengar nama AMX-13 yaitu sejenis tank kelas ringan yang menjadi andalan TNI AD dalam menjalankan tugas pokoknya.

Diberitakan pembelian tambahan tank AMX-13 buatan Prancis adalah armada terbesar tank ringan AD Indonesia merupakan tank bekas dari Belanda. Tank dengan meriam kaliber 105 mm berjumlah 130 unit juga dibeli bekas dari Belanda pada 1980-an. Sementara versi self-propelled gun AMX-13 Mk-61 sebanyak 50 unit, juga dibeli bekas dari AB Belanda pada 1984. Saat itu hubungan Belanda-Indonesia sangat erat karena sejak 1967 hingga 1991, Belanda menjadi ketua Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI), kelompok negara dan lembaga internasional yang memberi bantuan pembangunan pada Indonesia.

Pembelian AMX-13 sendiri saat itu tak kalah ramainya diberitakan karena aktivis HAM Belanda mengecam Operasi Pembunuhan Misterius (Petrus) pada eran 1980-an. Hubungan Belanda-RI akhirnya retak setelah Belanda resmi mengecam keras peristiwa penembakan terhadap para demonstran di kompleks pemakaman Santa Cruz di Dilli, Timor Timur pada 12 November 1991. Dihujat kanan-kiri, akhirnya pada Maret 1992, Soeharto memutuskan membubarkan IGGI.

Tank AMX-13 dibuat oleh Prancis pada tahun 1949 dan di produksi sebanyak 4500 unit dengan berbagai varian seperti versi canon, angkut personel, arteleri, anti serangan udara dan jembatan. Selain Indonesia beberapa Negara lain seperti Israel, Pakistan, India serta Singapura juga pernah mengoperasionalkan tank tersebut hingga sekarang namun dengan berbagai perombakan yang menyesuaikan kebutuhan militer mereka.

Dari segi pengalaman AMX-13 sudah terbukti perannya dalam perang Malvinas, India – Pakistan bahkan di Indonesia sendiri AMX-13 juga sudah memiliki peran dalam operasi seroja di Timor timur serta mendukung operasi Trikora untuk merebut Irian Barat.


Kedepan TNI akan menggunakan untuk pertama kalinya tank berat seperti MBT Leopard 2A6 bekas dari Belanda maupun yang baru dari Jerman, karena banyak hambatan dan kritikan dari DPR, maka pembeliannya pun terhambat. Menurut Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Leopard punya beberapa keunggulan pemilihan tank tempur utama (MBT) Leopard 2A6 sudah melalui berbagai kajian dari beberapa aspek. Antara lain, aspek strategi militer, yakni susunan kekuatan militer dibangun dan dipersiapkan sejak dini dengan asumsi adanya ancaman yang paling mungkin.
 Retrofit AMX-13 TNI-AD

AMX-13 yang kini dioperasikan TNI-AD telah mengalami program retrofit di Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD pada tahun 1995. Retrofit AMX-13 mencakup pemasangan mesin Detroit Diesel DDA GM6V-53 T, 6 silinder 2 langkah turbocharged dengan daya 290 BHP/2800 RPM dan Torsi 91,67 KGM/1600 RPM yang mampu meningkatkan power weight ratio dan pemakaian bahan bakar lebih hemat. AMX-13 menggunakan transmisi otomatis ZF 5WG-180 dengan 5 percepatan maju dan 2 percepatan mundur, hal ini tentu lebih memudahkan pengoperasian tank. Untuk suspensi mengadopsi tipe hydropnematic “Dunlostrut”, meningkatkan kemampuan lintas medan dan mampu menambah kenyamanan awak tank.

Ketimbang tank tempur modern TNI-AD saat ini, seperti Scorpion buatan Alvis – Inggris. AMX-13 lebih punya pengalaman tempur luas. Jasa AMX-13 juga ada dalam operasi di Tanah Air, contoh yang paling nyata keterlibatan aksi AMX-13 dalam operasi Seroja di Timor Timur. AMX-13 mulai berdatangan pada tahun 1962 dalam rangka misi operasi Trikora.

Dari segi rancangan dan bobotnya, AMX-13 termasuk dalam kelas tank ringan yang desain nya mulai dilakukan pada tahun 1946. Beberapa negara pengguna AMX-13 sampai saat ini terus menggunakan tank lawas ini, tentu dengan beragam peningkatan kemampuan persenjataan dan performa. Di ASEAN, Singapura juga mempunyai armada tank AMX-13 berjumlah 350 unit.
 Rekayasa AMX-13 TNI AD

Sejumlah prajurit TNI melakukan perbaikan kendaraan tempur tank, di Markas Batalyon Kavaleri-2/Tank, di Ambarawa, Jateng, Senin (19/12/2011).

Dua prajurit TNI melakukan perbaikan kendaraan tempur tank, di Markas Batalyon Kavaleri-2/Tank, di Ambarawa, Jateng.

Untuk melakukan perbaikan dan penggantian komponen pada tank jenis AMX-13 buatan Prancis yang dirakit antara tahun 1958 hingga 1960 itu terpaksa dilakukan dengan cara merekayasa komponen karena sudah tidak tersedianya suku cadang.
 Upgrade AMX-13 TNI AD

Prototype retrofit AMX-13 TNI AD
Sejalan dengan kebijakan untuk pemenuhan Satuan Kavaleri yang akan dibentuk dan Rematerialisasi pada Satuan kavaleri yang telah ada maka Kavaleri TNI-AD akan memperoleh 243 tank baru dan tank hasil upgrade dalam kurun waktu 2010-2014.

Adapun tank baru yang akan diakuisi terdiri dari tank tempur utama (main battle tank), tank tempur medium, dan panser kanon medium. Penjajakan masih dilakukan pada tank tempur utama dan medium, sedangkan untuk panser kanon telah dilakukan kerjasama dengan Korea Selatan dengan basis kendaraan 6x6 Blackfox.

Adapun tank yang akan dilakukan upgrade atau retrofitting adalah tank ringan AMX-13 sebanyak 65 unit. TNI Angkatan Darat saat ini mengoperasikan tank ringan AMX-13 dalam jumlah yang cukup banyak berkisar 200-300 unit dengan kanon 75 dan 105mm.

Website resmi Pussenkav merilis mengenai ujicoba tank AMX-13 hasil retrofitting. Tampak dalam gambar prototipe tank upgrade tersebut mempunyai kanon baru dan peralatan bidik baru. Apabila prototipe ini telah memenuhi persyaratan TNI AD maka retrofit terhadap 65 tank ringan AMX-13 dapat segera dilakukan. 


 Spesifikasi AMX-13

Tipe : tank ringan
Produsen : Atelier de Construction d’Issy-les-Moulineaux
Berat kosong : 13.7 ton
Berat tempur : 14.5 ton
Panjang : 6.35 meter
Lebar : 2.51 meter
Tinggi : 2.35 meter
Awak : 3 orang (komandan, penembak dan pengemudi)
 Persenjataan

Kanon : 75 mm / 90 mm / 105 mm – 75 mm dengan 32 amunisi.
Senapan mesin : kaliber 7,62 mm dengan 3600 peluru
Mesin : SOFAM Model 8Gxb 8-cyl. water-cooled petrol 250 hp (190 kW), kini sudah dilakukan upgrade dengan mesin diesel buatan Detroit.
Suspensi : torsi bar
Jarak tempuh : 400 km
Kecepatan : 60 km per jam
 Foto AMX-13 TNI AD dari formil kaskus :

- sumber dari berbagai media -

Berhasil Tak Dikenal, Mati Tak Dikenang

Semanagt juang yang tertanam pada diri para prajurit Grup-2/Parako Kopassus di dalam tugas - pantang mundur dalam pertempuran hingga titik darah penghabisan - benar-benar mereka buktikan, meski sebagian anggota badan harus rusak karenanya..

Sebagai pengumpul informasi untuk komsumsi satuan pemukul, tugasnya di satuan SGI ( Satuan Tugas Intelijen) di Peureulak, Aceh Timur (2003 / 2004), akhirnya membuahkan hasil, berupa tertembaknya tokoh GAM Ishak Dawood.

Seru Sujiadi, Wadan Pos SGI di Peureulak, Aceh Timur itu mendapat informasi akurat dari personil GAM yang di tawan SGI, tentang keberadaan sejumlah pasukan bersenjata GAM. "Saya mendapat perintah dari pimpinan satgas untuk melakukan pengejaran," katanya.

Lalu informasi tersebut diberikan ke pasukan TNI yang tergabung dalam Satgas di Aceh dan selanjutnya di susunlah opganisasi paskan yang akan melakukan penyergapan.

Tim penyergap, Yonif 500/ Raider, tiga Tim Parako dan dua personil SGI yang membawa dua tawanan GAM mulai bergerak siang hari dan tiba di lokasi GAM sore harinya. Begitu tiba disana, terjadilah kontak tembak. Hasilnya, satu personil GAM tewas dan empat pucuk senjata didapatkan.

Pengejaran dan pengepungan terhadap personil GAM lainnya yang melarikan diri terus dilanjutkan oleh Pasukan Raider dan Parako, namun SGI sudah tidak terlibat lagi. Tugasnya memberikan informasi tentang kerberadaan GAM sudah terbukti dan selesai. Belakangan diketahui, bahwa dari hasil pengejaran dan pengepungan terhadap GAM yang berlangsung hampir tiga hari itu, akhirnya berhasil menembak mati Panglima GAM wilayah Aceh Timur, Ishak Dawood.

Berkat informasi dari SGI, tokoh GAM dapat di lumpuhkan. dengan keberhasilan tersebut, Sujiadi yang berada di Grup-2 semenjak 1991 mendapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB), dari Sertu (Sersan Satu) menjadi Serka (sersan Kepala), pada September 2004. " Saya selaku anggota SGI ikut bangga, karena atas kerja keras kami untuk mendapat informasi yang tepat dan benar, maka dapat dapat di manfaatkan oleh satuan TNI melumpuhkan kelompok separatis GAM di Aceh," katanya.

Meski bukan dia atau satuannya yang berhasil melumpuhkan tokoh GAM dan menjadi terkenal namanya, dia tetap tidak merasa kecil hati, karena itu sudah menjadi resiko aparat intelijen, " Berhasil Tak Dikenal, Mati Tak Dikenang,"

Serka Sujiadi, orang Lamongan, Jawa Timur ini sekarang Bintara Staff Intelijen, di Grup-2 Parako Kopassus.

“ DWI DHARMA BIRAWA YUDHA ”

(sumber Majalah Defender, April 2007)

Bisnis Pesawat Dosen ITB

Gara-gara krisis keuangan yang membelit perusahaan yang berdiri sejak 1976 itu, maka nasibnya bak di ujung tanduk. Begitu pula, nasib mantan karyawannya setali tiga uang, alias sama-sama tidak berketentuan.

Untungnya, semangat putra-putri Indonesia untuk terus berkarya di bidang teknologi dirgantara tidak ikut-ikutan padam. Dalam skala yang lebih kecil, PT Robo Aero Indonesia (RAI) berhasil melanjutkan prestasi DI (Dirgantara Indonesia) dengan membuat unmanned aerial vehicle (UAV)  pesawat terbang tanpa awak. “Awalnya untuk penelitian," kata Judojono Kartidjo, pendiri dan salah seorang pemilik RAI.

Staf pengajar Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung ini mengaku tertarik dengan dunia dirgantara, karena ia memang pehobi dunia aeromodeling. Dari sebuah penelitian pada pertengahan tahun 2004, ia bersama beberapa rekannya melihat peluang untuk meneliti bidang yang belum tersentuh banyak orang. “Kami mencari apa yang sebenarnya bisa kami buat, tapi belum kami miliki," ujarnya idealis. Salah satu jawabannya adalah UAV.

Jenis pesawat UAV, menurutnya, banyak digunakan oleh kalangan militer dan sipil. Bahkan untuk militer harganya relatif mahal, karena digunakan sebagai pesawat pengintai; sedangkan di kalangan sipil, jenis pesawat ini banyak digunakan di bidang kehutanan. “Nah, kami melihat Indonesia punya hutan yang sangat luas dan tidak terawasi. Bagi kami, ini tantangan untuk menciptakan alat pemantau hutan," ungkap Judo.

Judo dan kawan-kawan membutuhkan waktu cukup panjang guna menyempurnakan penelitiannya. Akhirnya diputuskan untuk mengembangkan UAV jenis autonomous. Dijelaskan Judo, UAV terdiri dari beberapa jenis, ada yang dikendalikan oleh manusia (remote pilot), ada pula yang sama sekali tidak dikendalikan, tapi dengan menggunakan program. “Yang kami buat adalah yang dikendalikan program," ujar kelahiran Kertosono (Jawa Timur) 15 Juli 1945 itu. Maka, konsentrasi awal penelitian adalah mengembangkan sistem kontrolnya. “Kami rancang sistem kontrol agar bisa masuk ke pesawat apa saja. Barulah kami tentukan desain pesawatnya," Judo menerangkan.

Setelah memakan waktu hampir dua tahun, Agustus 2006, RAI memperkenalkan beberapa model pesawat buatannya, seperti Walet dan Camar. Walet merupakan jenis pesawat yang lebih kecil dan bisa dibongkar-pasang. Pesawat ini didesain secara elektrik dengan menggunakan baterai lithium polymer. Sementara Camar bentuknya lebih besar dan memiliki jangkauan yang lebih jauh. Dengan bahan bakar bensin campur, ia mampu terbang hingga dua jam. “Kadang pesawat-pesawat ini harus masuk ke daerah pedalaman, jadi bahan bakarnya harus yang mudah dijumpai," kata Judo.

Rupanya banyak pihak yang meminati pesawat buatan RAI. “Mereka menanyakan harga, kami malah bingung, karena tujuan awalnya adalah riset," Judo mengakui. Namun, karena pertanyaan-pertanyaan itulah, sehingga terpikirkan oleh Judo untuk komersialisasi. “Kami kumpulkan teman-teman untuk membantu dari segi komersialisasi. Maka berdirilah PT Robo Aero Indonesia," tandas Judo seraya menunjuk RAI sebagai holding company.

Ada tiga perusahaan dikelola pihaknya, yaitu: PT Robo Aero Teknologi (RAT); PT Robo Aero Industri (RAIndustri); dan PT Robo Aero Surveyor (RAS). Ketiga perusahaan itu mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda. “RAT bertanggung jawab terhadap riset dan pengembangan (R&D), serta kontrol; RAIndustri adalah pabriknya; dan RAS merupakan perusahaan jasa, karena kami juga menyewakan pesawat," papar Judo.

Dijelaskan Judo, dalam memasarkan pesawat buatannya, RAI berusaha menyediakan pesawat sesuai dengan kebutuhan pelanggan. “Sebelum memproduksi pesawat, kami tanya dulu apa kebutuhannya. Pertemuan berikutnya kami bicara detail teknisnya," tuturnya. Sekarang, perusahaan yang menggunakan pesawat buatan RAI di antaranya Grup Sinar Mas, PLN, dan masih banyak lagi.

RAI pun tak lupa melakukan branding. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengikuti berbagai pameran teknologi. Judo mengatakan, dibandingkan dengan produk buatan luar negeri, pesawat buatan RAI tidak kalah kualitasnya. “Kalau untuk pesawat kecil produk kami tidak kalah. Malah mereka mau membeli instrumentation measurement unit (IMU)-nya saja, tapi kami tidak jual. Hak paten IMU sedang kami urus," ungkap Judo.

Permintaan tak hanya datang dari dalam negeri, beberapa perusahaan asal Malaysia dan Timur Tengah pun menginginkan produk RAI. Hanya saja, hingga saat ini Judo belum dapat memenuhinya. “Kami ingin UAV ini settled dulu di Indonesia," ujar Judo. Dia yakin, pasar Indonesia masih sangat besar. “Bulan depan (April Red.) saja, yang dipesan sudah 12 Walet dan lima Camar. Tidak banyak memang, tapi nilainya cukup besar," ujarnya.

Saat ini, RAI hanya fokus memproduksi UAV, dan belum tersirat untuk membuat pesawat berbadan besar. Judo optimistis, prospek bisnis UAV sangat bagus. “Kalau kami lihat di Internet, hampir di semua negara sekarang berlomba-lomba mengembangkan UAV. Operasional lebih murah, risiko jiwa tidak ada," kata Judo mengakhiri wawancara.(swa)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...