Minggu, 11 November 2012

★ PT DI Kebanjiran Order di 2013

Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) siap melakukan kontrak terbaru untuk membuat pesawat. Lima kontrak untuk membuat 5 pesawat dengan jenis yang berbeda siap dilakukan tahun 2013.

"Tahun depan ada 5 kontrak yang akan kita lakukan," ungkap Asisten Direktur PT DI Sonny Saleh Ibrahim saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Kamis (7/11/2012).

Lima kontrak yang dimaksud salah satunya adalah pembuatan pesawat Cassa jenis CN 235. Pesawat yang mampu terbang dengan ketinggian 25.000 kaki dan dengan kecepatan 245 kt/454 km/jam ini rencanya akan diproduksi 2 unit.

"Ada 5 pesawat Cassa, 2 untuk CN 235, 2 untuk CN295 dan 1 untuk C212-400," katanya.

Selain pesawat jenis Cassa, PT DI juga akan memproduksi 25 Helikopter dan 1 unit pesawat Superpuma. Rencananya jumlah investasi yang meliputi 5 kontrak yang akan dilakukan di tahun 2013 ditaksir sebesar Rp 3 triliun.

"Nilai kontraknya Rp 3 triliun untuk 5 kontrak yang akan kita lakukan di 2013. Ada 5 pesawat jenis Cassa, 25 Helikopter dan 1 Superpuma," cetusnya.


© Detik

Tahun Depan PT DI Dapat Suntikan Dana Segar Rp 100 Miliar

Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dapat suntikan dana segar sebesar Rp 100 miliar. Anggaran sebesar itu akan dikucurkan pada tahun depan oleh BUMN PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

"Kita dapat pinjaman tahun 2013 sebesar Rp 100 miliar dari PNM," ungkap Asisten Dirut PT DI Sonny Saleh Ibrahim di JIE Kemayoran Jakarta, Kamis (7/11/2012).

Sonny mengatakan nantinya dana talangan PNM digunakan untuk menyehatkan perusahaan penerbangan tersebut. "Pinjaman dari PNM untuk menyehatkan perusahaan bukan untuk modal kerja," katanya.

Menurut Sonny, sampai dengan tahun 2014, PT DI akan melakukan capaian produksi sebesar Rp 8,2 triliun. Rinciannnya Rp 3 triliun untuk 2012, Rp 3 triliun untuk 2013, sedangkan sisanya Rp 2,2 triliun untuk 2014.

Sonny menuturkan hingga akhir tahun 2012, PT DI akan mendapatkan laba perusahaan positif tetapi masih masuk kategori lampu kuning (perusahaan belum terlalu sehat).

"Laba akhir tahun 2012 positif tetapi kita masih "kuning". Saat ini kita fokus pada pembelian mesin pesawat dari Korea, Jepang dan China," tutupnya.

Tahun 2013, PT DI siap melakukan proyek revitalisasi yang mencakup 5 komponen pokok.

1. Revitalisasi pembangunan produksi,
2. Revitalisasi sistem,
3. Revitalisasi modal kerja,
4. Revitalisasi pengembangan pesawat,
5. Revitalisasi Sumber Daya Manusia.

© Detik

IndoDefence 2012 Capai Target

http://www.seputar-indonesia.com/publics/imagecache/detail/11/images/news/10%20November%202012/NASIONAL.jpg
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kanan) didampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (ketiga kanan) dan Menteri Perindustrian MS Hidayat (kanan) menandatangani dokumen penamaan kendaraan taktis 4x4 produksi PT Pindad "Komodo" di Jakarta kemarin.

Jakarta – Ajang Indo Defence Expo and Forum 2012 yang memamerkan alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri cukup memberikan dampak berarti bagi pengenalan dan pemasaran produk mereka. Melalui kegiatan dwi tahunan berharap bisa meningkatkan peluang bagi industri pertahanan dalam negeri untuk lebih berkembang.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Kolonel Kav Bambang Hartawan, secara umum target penyelenggaraan Indo Defence 2012 tercapai dilihat dari tingkat partisipannya yang cukup banyak sehingga memberi kesempatan Indonesia untuk sharing dengan negara lain dalam bidang promosi industri pertahanan. “Lewat ini kita juga diakui di dunia, tidak saja di Asia, sebagai penyelenggaran expo produk pertahanan,” katanya di Jakarta, kemarin.

Bambang menerangkan, expo pertahanan berbeda dengan expo produk-produk lainnya seperti furniture, misalnya. Expo semacam ini tidak bisa diketahui nilai transaksi karena pengadaan alat pertahanan membutuhkan proses yang panjang dan dipengaruhi oleh kebijakan politik masing-masing negara, baik penjual maupun pembeli.

Ajang ini, lanjut dia, lebih tepatnya untuk menjembatani bertemunya produsen dengan calon pembeli. “Kalau ada yang berminat, paling mereka mendapatkan contact point. Selanjutnya yang berminat ini pasti akan membicarakan dulu dengan pemerintahannya, kemudian mereka menindaklanjuti sendiri,” terangnya.

Meski demikian, kegiatan ini tetap memberi dampak positif secara ekonomi maupun citra Indonesia. “Banyaknya orang asing itu juga membelanjakan uangnya di sini. Ini juga membawa nama baik industri pertahanan kita dan menunjukkan stabilitas keamanan kita meningkat,” imbuhnya.

Managing Director PT Palindo Marine Harmanto mengungkapkan, selama kegiatan berlangsung, banyak peminat yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya dalam penyediaan kapal. Sejauh ini sebagian besar peminat berasal dari luar negeri. “Ada dari Malaysia, ada dari Timor Leste,” katanya mencontohkan.

Dia menuturkan,sejak dibuka pada 7 November dan ditutup 10 November kemarin, ada banyak kunjungan ke stan perusahaannya. “Kunjungan dari luar negeri juga banyak jadi kita bisa mempromosikan produk kita. Kita ada target (kerja sama) tapi tentu itu tidak bisa langsung di sini karena ini bukan barang kecil,” katanya.

http://i1102.photobucket.com/albums/g459/binbin1979/CIMG3312.jpg
Rantis P2 SSE (Foto Binbin1979)

Hal serupa juga terjadi untuk PT Sentra Surya Ekajaya (SSE) yang memproduksi kendaraan tempur. Industri ini tanpa banyak terekspos produknya sudah dipakai TNI Angkatan Darat dan Angkatan Laut, serta digunakan militer Srilanka.

Menurut Operation Manager PT SSE David Agahari, pada ajang ini PT SSE juga memperkenalkan produk terbaru, tak mau kalah dengan PT Pindad yang merupakan industri pertahanan milik pemerintah. Kendaraan tempur yang diproduksi PT SSE juga memiliki kemampuan seseuai kebutuhan TNI, misalnya antipeluru dan memiliki kemampuan manuver yang baik.

Rantis Komodo

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyEFDnzoxmE1EhkD_jRrsVehEsE0JAFVhJZ6G36V5lUFskJ6NlTp1irA6EnNyN-yIp29oBUYZVzO6I6rliFeXkSVM-JDWWlW3XXEytT0nx41Mg3zD0d9MwPNYvkB0m0ZU08ilrjMa3JL5j/s1600/P1010033.jpg
Komodo V2 APC Pindad (Foto Berita HanKam)

Di hari terakhir pameran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri untuk mengunjungi pameran sekaligus menamai produk kendaraan taktis (rantis) buatan PT Pindad. “Kendaraan taktis karya putra-putri Indonesia yang insya Allah, akan menjadi kendaraan taktis yang handal, bisa bergerak di segala cuaca bertempur di medan-medan Indonesia. Saya beri nama Komodo,” ujar SBY.

Nama Komodo dipilih karena binatang ini sangat perkasa dan populasinya hanya ada di Indonesia.“ Semoga kendaraan taktis ini benar-benar handal, bisa bertempur dan tentu membawa kemenangan dan kejayaan bagi Indonesia,” tambahnya. Kendaraan Komodo ini menggunakan mesin diesel turbo intercooler memiliki transmisi manual enam maju satu mundur.

Kendaraan yang terdiri dari beberapa varian itu memiliki diferensi lock sehingga memiliki kemampuan offroad yang baik. Badan kendaraan taktis ini mengunakan body monocoque dan memiliki ketahanan terhadap tembakan senjata 7,62 mm.[fefy dwi haryanto]

© Sindo

Quo vadis, Indonesia, a friend of everybody?

The presidential election will be held in 2014, which means that it is too early to discuss candidates.

“Belanda masih jauh”, as a local proverb goes, meaning that it is too far away to catch. In spite of that, a number of people (despite saying the majority) have started to stimulate the public by “releasing” an ideal president, who is a resolute-and-responsive figure.

Due to dissatisfaction toward the current administration, there is even a joke, which is somewhat sarcastic, saying that we should vote for a real president, not a songwriter, in the next presidential election!

Before discussing that further, let us start with world development in general within the national and security interests of developed countries, to be exact the United States framework.

Currently, the United States is still struggling from the financial crisis. In the meantime, European countries are also having the same problem as the US.

On security, American international policies were clearly conveyed during the last presidential debate. Mitt Romney, the Republican candidate, claimed that Obama’s policies stipulated “clash escalation” in the Middle East.

Meanwhile, Vice President Joe Biden highlighted that the development of the Middle East was not the only article of the international policies under the Obama presidency.

Biden proclaimed that the United States would do more, yet would ask more of their partners in return. Who are the “partners” he was referring to? For many reasons, it is not difficult to decipher who exactly these “partners” are.

There are countries who fully support (not to say blindly act) every single international policy of the US.

So, how about China? Analyzing the US’ policies towards China during the US presidential debate is pretty interesting. US President Barack Obama stated that China was not only the “enemy” of the US, but also a potential partner. For Romney, China is a good partner to work with should they be responsible.

Thus, it is obvious that the US is indecisive when it comes to China.

In relation to that, the US Marines home base in Darwin, Australia, is another America-against-China policy in the region. The home base was a sensitive issue during a recent meeting between Australian Prime Minister Julia Gillard and Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono.

PM Gillard stated that the home base was aspired to for disaster emergency issues. It would be so naive, however, to merely believe what she said. Historically, there has never been the deployment of a country’s military only for natural disaster management purposes.

There must be a well-established agenda behind it. It is not a natural disaster, indeed. So, does it have anything to do with China’s increasing global power lately? Or is it because of the US new partnership policies, as claimed by Biden?

Now, let us look at the next improvement regarding the recent weapons system procurement. I bet you still remember how difficult it was to get the United States to supply the fighter’s parts.

Now, the US has officially made a decision, to grant 24 F-16 Fighting Falcons!

In a meeting with Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa in Washigton DC, US Secretary of State Hillary Clinton stated that the US government would offer eight military helicopter AH-64/D Apaches to Indonesia. For your information, the Apache is one of the aircraft that is very unlikely to be offered to non-Allies. But, there is no certainty as to whether the Indonesian Army would take that chance in order to obtain Apaches. So, what is happening?

On the other hand, in the procurement process, Indonesian aircraft manufacturer PTDI seems to be an agent of Airbus Military for the C-295, which was somehow believed to be the competitor of B.J. Habibie’s masterpiece — the N-250.

It’s interesting that the procurement of Spanish aircraft was made during the crisis in the matador country. Thus, some people started to raise questions as to whether Indonesia was trying to be Spain’s “savior”.

Indonesia is hand in hand with South Korea, who was facing a serious conflict with the Democratic People’s Republic of Korea, in manufacturing a sort of variant of the F-16 fighter aircraft.

Why should the Indonesian government have an MoU (Memorandum of Understanding) with a country that is “engaging” in a war and why doesn’t the Indonesian government order it from the F-16 manufacturer itself?

All those questions lead to a rational answer. Among those conflicts, Indonesia is trying to uphold (popularize to be exact) a new political policy to befriend all countries. Indonesia is experiencing magnificent economic growth that other countries currently don’t have.

For this reason, Indonesia is so confident in putting forward the glamorous tagline, “Million Friends, Zero Enemies”, as its foreign policy. It somehow sounds irrelevant in comparison to what Aristotle once said that “A friend to all is a friend to none.”

Thus, we end up with a simple conclusion, “Quo vadis, Indonesia?”


Chappy Hakim

The writer is a former Air Force chief of staff and chairman of CSE Aviation
© Jakarta Post

★ Senjata Murah Buatan China Jadi Saingan Berat Pindad

SS2 V5 Pindad (Foto Binbin1979)
Jakarta - PT Pindad (persero) menyatakan saat ini bersaing ketat dengan alat-alat militer buatan China yang menawarkan harga murah serta berkualitas.

Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Pindad Teguh kepada detikFinance dalam pameran Indo Defence Expo 2012 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (9/11/2012).

"China menjadi saingan terberat kita soal pemasaran alat perang," kata Teguh singkat.

Menurut Teguh, China dengan produk murahnya mudah untuk membuat calon pembeli tergiur. Tetapi Pindad memastikan akan terus berkompetisi secara sehat.

"Pindad bisa berkompetisi soal harga, kita juga murah dan kita lebih berkualitas. Ini sudah diakui di banyak negara," paparnya.

Saat ini pasaran alat dan kendaraan militer Pindad sudah memasuki negara ASEAN, Australia, dan Korea. Bahkan merambah ke ranah Eropa sebut saja Prancis, Jerman, Turki, dan Bosnia.

Menurut Teguh dari banyaknya pasar Pindad, salah satu negara yang paling setia untuk membeli alat dan kendaraan militer Pindad adalah Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

"Produk seperti bom, senjata baik senapan jenis SS2, pistol jenis G2 dan amunisi juga kendaraan tempur laku dijual. Khusus untuk negara Singapura, mereka yang paling setia beli dari kami," cetusnya.

© Detik
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...