Kejadian ini mencoreng citra TNI dan Polri di mata rakyat.
 |
| Polres OKU Sumsel dibakar |
Konflik antara anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri
kembali terjadi. Kamis pagi, 7 Maret 2013, puluhan anggota Batalyon
Armed 15/ 105 TNI Tarik Martapura membakar Mapolres Ogan Komering Ulu
(OKU), Sumatera Selatan.
Sekitar 90 anggota Batalyon Armed 15/
105 TNI mendatangi Mapolres OKU pada pukul 07.30 WIB. Mereka menggunakan
truk dan motor. Sebagian dari tentara itu membawa sangkur. Mereka
datang untuk menanyakan perkembangan kasus penembakan anggota Batalyon
15/ 105, Pratu Heru Oktavinus oleh anggota Polisi Lalu Lintas Polres OKU
Brigadir Wijaya.
Entah apa yang terjadi, pada pukul 09.30 WIB,
para tentara itu naik pitam. Mereka merusak dan membakar Mapolres OKU.
"Mungkin mereka tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Maka terjadi
keributan yang berujung dengan pembakaran," kata Kepala Pusat Penerangan
Mabes TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul kepada
VIVAnews.
Akibatnya,
sebagian kantor Polres OKU ludes dilalap si jago merah. Selain itu, 4
mobil dan 70 motor turut dirusak dan dibakar. Kekacauan ini juga
menyebabkan 16 tahanan kabur, lainnya dievakuasi.
Tak hanya itu,
aksi brutal ini juga menyebabkan tiga anggota Polres OKU terluka dan
harus dirawat di ruhah sakit. Mereka adalah Briptu Berlin Mandala yang
mengalami luka tusuk di dada dan tangan, Aiptu Marwani luka tusuk di
paha, dan Bripka M yang mengalami luka bakar.
Usai melakukan
pembakaran, puluhan anggota Batalyon 15/ 105 itu meninggalkan Mapolres
OKU yang sebagian telah habis dilahap api. Namun, para tentara itu tidak
berhenti melakukan perusakan. Di perjalanan, mereka juga menghancurkan
dua pos lalu lintas dan pos sub sektor. Mereka bahkan menyerbu Mapolsek
Martapura. Akibatnya, Kapolsek Martapura Kompol Ridwan terluka dan dalam
kondisi kritis.
"Kapolsek dalam keadaan luka cukup parah dan
diterbangkan ke Sumsel untuk dievakuasi, semoga bisa diselamatkan
jiwanya," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jendral
Suhardi Aliyus. Namun dia memastikan, tidak ada korban jiwa dalam
insiden ini.
Pemicu Kerusuhan ini adalah
buntut tewasnya Pratu Heru Oktavinus. Anggota Batalyon 15/ 105 ini
ditembak mati oleh anggota Polisi Lalu Lintas Polres OKU Brigadir Wijaya
saat terlibat perkelahian di Desa Sukajadi, OKU, pada 27 Januari 2013.
Perkelahian
malam itu bermula saat Brigadir Wijaya dan sejumlah polisi lalu lintas
menggelar razia kendaraan bermotor. Setelah melakukan razia, Brigadir
Wijaya duduk di Pos Polisi 902, Jalan Lintas Tengah Sumatra.
Lalu,
melintaslah rombongan Pratu Heru Oktavianus yang berjumlah lima motor.
Mereka baru pulang dari acara sunatan di Lorong Duku, Kelurahan Kemala
Raja, Baturaja Timur, OKU, melintas di depan pos. Saat berada di lokasi
razia, Pratu Heru yang tertinggal dari rombongannya dihentikan, namun
berhasil meloloskan diri sambil menghina polisi.
Menengar hinaan
itu, Brigadir Wijaya menjadi naik pitam dan lantas mengejar Briptu Heru.
Brigadir Wijaya berhasil menyusul Briptu Heru. Dia kemudian menendang
motor Briptu Heru hingga terjatuh. Kemudian, terjadilah percekcokan yang
berujung pada adu fisik. Namun kemudian, Brigadir Wijaya menembak
Briptu Heru dua kali. Satu tembakan mengenai punggung, satu lagi
menembus leher.
Briptu Heru kemudian dibawa ke Rumah Sakit Santo
Antonius Baturaja. Namun beberapa saat kemudian dia tewas. Sejak itulah
situasi di Baturaja, OKU, menjadi tegang. Mapolres OKU dijaga ketat
untuk mengantisipasi kemungkinan serangan. Hingga akhirnya, polisi
menetapkan Brigadir Wijaya ditetapkan sebagai tersangka tunggal kasus
pembunuhan Briptu Heru.
Jangan meluas Kepala
Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengaku terkejut
dengan aksi penyerangan ini. "Saya dapat laporan saat memberi pengarahan
di Makostrad. Saya terkejut dan tidak senang. Saya perintahkan Pangdam
untuk investigasi. Siapa salah harus dihukum," katanya.
"Saya
dapat laporan kalau anak-anak saya mendatangi, tapi tidak baku tembak.
Terus terang mungkin ada rangkaian sebelumnya. Dulu ada anggota TNI
ditembak mati polisi. Terus polisi sudah mengikuti perkembangan, saya
tidak mengerti karena sudah sekian lama baru terjadi," dia menambahkan.
Setelah
insiden itu, Pramono segera melakukan komunikasi dengan aparat di OKU.
Dia meminta semua anggota TNI di OKU menahan diri. Para prajurit itu
dilarang meninggalkan barak. "Kami sudah mengadakan pembicaraan dan saya
minta kepada Pangdam, kejadian ini tidak boleh berkembang. Titik," ujar
Pramono.
Dia menambahkan, TNI juga langsung mengirim tim
investigasi untuk mencari fakta terkait pembakaran Mapolres OKU ini. Tim
investigasi ini dipimpin oleh Wakil Asisten Pengamanan KSAD Brigjen
Irwansyah. Pramono berjanji akan menghukum anggotanya yang terlibat aksi
pembakaran. "Saya tetap, prinsipnya siapa yang salah harus dihukum,"
katanya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo juga
meminta para perusak dan pembakar Mapolres OKU ini dihukum. Sebab,
mereka telah membakar kantor polisi yang merupakan simbol negara. "Saya
minta panglima TNI melakukan pemeriksaan dan kalau melanggar hukum tentu
harus diproses hukum, saya kira itu," kata Timur di kantor Wakil
Presiden, Jakarta.
Polisi, kata dia, saat ini sedang melakukan
investigasi terkait aksi pembakaran ini. Sehingga fakta yang benar
terkait pembakaran dan penyerangan dapat diungkap. "Sekali lagi,
semuanya sedang dalam proses," ujarnya.
Komisioner Kompolnas,
Hamidah Abdurahman, mengatakan aksi brutal itu seharusnya bisa diredam
dengan pendekatan persuasif melalui komandan masing-masing institusi.
"Apabila koordinasi dua lembaga tersebut bagus, peristiwa penyerbuan
tidak akan terjadi," kata Hamidah.
Kompolnas menilai tindakan
anggota TNI yang merusak markas dan menusuk anggota Polri dengan tombak
sebagai perbuatan yang sangat brutal dan kejam. Kejadian ini, katanya,
mencoreng citra TNI dan Polri di mata masyarakat.
Sementara itu
Kadiv Humas Polri Irjen Suhardi mengatakan mengatakan, pimpinan Polri
dan TNI telah memerintahkan anggotanya di OKU untuk menahan diri. Dia
memastikan tindakan ini dilakukan tanpa sepengetahuan atasannya. "Ini
saya katakan tidak sepengetahuan komandannya, jadi tidak terencana.
Pimpinan berusaha menghalau anak buahnya yang melakukan pengerusakan
tapi tidak dihiraukan karena jumlah cukup besar," katanya.