Minggu, 12 Oktober 2014

[Video] Upacara HUT TNI [IV]

Video Defile Senjata & Kendaraan Tempur Video persembahan Agus Haryanto dari Youtube


  ★ Youtube  

BMP-3F, Tank Amfibi Andalan Marinir

Kemampuan tempurnya disegani dan teratas di kelasnya BMP3F Marinir

Tank Amfibi BMP-3F adalah kendaraan tempur lapis baja yang mampu bermanuver di air dan darat. Tank hasil rakitan pabrik senjata Kurganmashzavod Rusia tahun 2013 ini mempunyai kemampuan paling unggul di kelas peralatan tempur amfibi saat ini.

Senjata utama Tank Amfibi BMP-3F adalah meriam kaliber 100 mm, senjata antiserangan udara, rudal antitank, serta mampu mengangkut pasukan sekaligus mempertahankan diri dari serangan lawan.

Tank ini memiliki akurasi tembakan ke sasaran dengan kemampuan bertahan tinggi di berbagai medan pertempuran. Keunggulan inilah yang menjadikan Tank Amfibi BMP-3F sebagai salah satu tank amfibi disegani di dunia.

BMP-3F berbobot 18,7 ton dengan dimensi panjang 7,14 meter, lebar 3,15 meter, dan tinggi 3,57 meter mampu membawa tujuh pasukan dan tiga personel.

Hingga saat ini, ada 10 negara yang menggunakannya selain Rusia dan Indonesia, yaitu UEA, Venezuela, Kuwait, Korsel, Sri Lanka, Siprus, Ukraina, Azerbaijan, dan Yunani.(kur)

  ★ sindonews  

[World Article] TP-82, Senjata Kosmonot yang Dibawa ke Luar Angkasa

Saat melakukan perjalanan ke luar angkasa, para kosmonot Soviet dibekali senjata berwujud senapan laras tiga, yang mirip senapan berburu laras pendek. Senapan tersebut bukan digunakan untuk menghadapi alien, tapi lebih ditujukan untuk melindungi diri saat kembali ke bumi. TP-82, Senjata Kosmonot yang Dibawa ke Luar AngkasaPara kosmonot dipersenjatai senapan Makarof (PM) reguler, sama seperti yang digunakan oleh polisi. Foto: Wikipedia

Sejak zaman Yuri Gagarin, kosmonot Soviet sudah membawa senjata saat pergi ke luar angkasa, namun hal ini tabu dibicarakaan pada masa Uni Soviet. Para kosmonot dipersenjatai senapan Makarof (PM) reguler, sama seperti yang digunakan oleh polisi. Senjata tersebut diberikan untuk berjaga-jaga seandainya kosmonot mendarat di alam liar, bertujuan untuk melindungi mereka dari hewan buas atau penjahat kriminal.
Ancaman Beruang Dulu, Rusia enggan mengganti senjata perbekalan kosmonot. Namun hal itu berubah setelah pada 1965, kosmonot Alexei Leonov dan Pavel Belyaev mengalami kecelakaan dan harus mendarat di tengah hutan pohon jarum (taiga).

Ketika itu, Leonov dan Belyaev harus menghabiskan beberapa hari di tengah hutan. Tim penyelamat kesulitan menemukan mereka karena medannya cukup rumit. “Helikopter yang terbang di atas kami hanya melihat ada seseorang yang sedang menebang pohon dan ada orang lain yang menggunakan kayu tebangan itu sebagai kayu bakar,” tutur Leonov.

Tak lama setelah kedua kosmonot tersebut membangun tempat berlindung, kemudian mereka didatangi beruang yang baru saja bangun dari hibernasi musim dinginnya—yang tentu saja lapar dan agresif. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan Leonov dan Belyaev adalah melakukan tembakan ke udara, yang malah membuat hewan-hewan liar itu semakin penasaran. “Makarov hanya bagus untuk menembak diri sendiri,” seloroh Leonov.
Impian Gembala dan Pemburu Leonov kemudian menggagas pembuatan senjata khusus bagi kosmonot untuk bertahan hidup jika mereka terpaksa melakukan pendaratan darurat. Ide senjata tersebut dikembangkan selama tiga minggu oleh Direktur Pabrik Senjata Tula, Vladimir Paramov. Paramov kemudian mengusulkan tiga ide, yakni revolver, rifle smoothbore semiotomatis, dan senapan laras tiga. Akhirnya, senapan laras tiga dipilih menjadi senjata baru kosmonot karena dinilai paling cocok untuk tujuan yang diinginkan, yakni melindungi diri dari binatang buas dan penjahat kriminal, berburu makanan, dan menembakkan sinyal bahaya yang kasat mata. Senapan tersebut memiliki dua laras atas horizontal yang halus dengan kaliber berburu 32 mm dan laras rifling bawah berkaliber 5,45 mm. Amunisi yang digunakan adalah peluru SP 5,45 mm, gotri SP kaliber 32 mm, dan selongsong sinyal SP kaliber 32 mm.

Para pekerja pabrik menyebut senapan itu sebagai "Senapan Impian Pemburu", sedangkan dalam dokumen resmi ia terdaftar dengan nama SONAZ (СОНАЗ—senjata api darurat portabel).

Secara resmi СОНАЗ mulai tersedia pada 1986. Senapan yang juga dikenal sebagai senjata api TP-82 ini meluncur ke ruang angkasa pada tahun yang sama dalam misi ruang angkasa Prancis-Soviet.

TP-82 memiliki popor unik berupa parang berlapis sarung keras yang menempel pada senapan sehingga menghasilkan sebuah rifle. Parang tersebut dapat digunakan untuk memotong kayu. Dengan laras smoothbore, senapan ini dapat digunakan untuk berburu binatang kecil seperti kelinci dan ayam, sementara rifle dapat digunakan untuk berburu binatang besar seperti rusa dan babi hutan. Amunisi TP-82 terdiri dari 11 peluru SP, 10 gotri SP, dan lima selongsong sinyal SP.

Senjata ini menjadi senjata darurat kosmonot andalan Rusia. Wakil Direktur Departemen Pertahanan Hidup Darurat di Pusat Pelatihan Kosmonot Nicholai Filatov menjelaskan senapan ini pernah diisi pasir dan air di dalamnya, namun tetap dapat bekerja dengan normal. “Padahal itu tidak kami uji sebelumnya,” tutur Filatov.

Semua orang menginginkan senjata ini, mulai dari pilot, geolog, pelancong, apalagi pemburu. Bahkan, saat para gembala Kazak mengetahui kabar mengenai TP-82, mereka langsung bersedia menukar seluruh kawanan dombanya untuk memiliki senjata tersebut.

TP-82 tersedia hingga akhir 1980-an. Versi resmi alasan penghentian produksi senjata ini adalah sudah cukup banyak model yang dikeluarkan. Namun menurut rumor, masalah keuangan periode pasca-Perestroika tidak memungkinkan pabrik senjata memproduksi senapan eksotik semacam itu. Tak lama kemudian senjata tersebut dikloning menjadi Vepr-1 dan Vepr-2.
Nasib TP-82 Kini Nasib TP-82 pasca-Soviet tidak banyak diketahui. Tidak jelas apakah TP-82 atau versi analognya masih menjadi bagian dari persenjataan kosmonot. Pada 2007, media mengungkap bahwa komandan ekspedisi ke-16 ke Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) Yuri Malenchenko dibekali sebuah pistol Makarov karena masa aktif selongsong amunisi TP-82 telah habis.

Pada tahun 2008, ahli ruang angkasa Amerika Serikat yang merupakan insinyur NASA ternama James Oberg meminta agar senjata api Rusia tersebut dikeluarkan dari ISS. Ia menganggap senjata merupakan hal yang berbahaya dan senapan tidak perlu ada di orbit, tempat orang bekerja dalam kondisi penuh tekanan dan ketegangan secara psikologis.

Namun, para ahli Rusia tidak setuju dengan Oberg. Menurut Direktur Persiapan Khusus di Pusat Pelatihan Kosmonot Yuri Gidzenko, kebutuhan untuk memiliki senjata dalam pesawat telah terbukti dari pengalaman terbang selama ini. Maka, terlalu dini untuk menyingkirkan TP-82 dari gudang senjata kosmonot dan sejarah ruang angkasa.

  ★ RBTH Indonesia  

T-50i Golden Eagle: Dua Minggu Dua Misi

Kami akan mempertahankan negeri ini sampai ujung timur Indonesia sekalipun. T50i TNI AU

Ucapan itulah yang muncul di benak kami sesaat pesawat T-50i Golden Eagle menapakkan kakinya di bumi Sentani, Jayapura. Hari itu, 25 Agustus 2014, satu flight T-50i dipimpin Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Wastum “Conda” tiba di Lanud Saleh Basarah, Jayapura. Tiga pesawat T-50i yang berkelir camo menempuh jarak kurang lebih 3.700 km. Satu hari sebelumnya kami berangkat dari homebase di Lanud Iswahjudi, Madiun dengan rute Iswahjudi-Makasar-Manado-Biak-Jayapura.

Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang dan cukup menantang ini langsung sirna saat pesawat taxiing menuju Military Apron Lanud Jayapura. Kami disambut lambaian tangan dan senyuman warga yang bermukim di sekitar Bandara Sentani. Memang sudah cukup lama pesawat tempur TNI AU tidak mendarat di Jayapura, sehingga menjadi hal baru bagi masyarakat melihat keberadaan pesawat tempur khususnya T-50i yang belum genap setahun dioperasikan Skadron 15. Pesawat ini diterima secara resmi Pemerintah Indonesia pada 13 Februari 2014.

Penerbangan ke Jayapura tidak hanya pengalaman baru bagi T-50i, sekaligus misi pertama keluar dari Pulau Jawa. Sebelumnya kami melaksanakan misi hanya di Jawa seperti HUT TNI 5 Oktober 2013 di Jakarta, Latgab TNI Juni 2014 di Surabaya, flypast Prasetya Perwira Akademi TNI Juli 2014 di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta serta flypast HUT RI ke 69 di atas Istana Negara satu minggu sebelum berangkat ke Jayapura. Hal ini dapat dijadikan indikator kemampuan dan reliability bahwa T-50i dapat beroperasi ke seluruh wilayah Indonesia.

 Perkasa D-14 

Di layar monitor tertangkap dua titik mencurigakan yang bergerak memasuki wilayah Indonesia pada jarak 200 Nm dari arah timur laut Satuan Radar 242 Tanjung Warari, Biak. temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Pangkosekhanudnas IV yang segera memerintahkan untuk dilaksanakan pengamatan secara ketat dan penelusuran terhadap sasaran.

Penelusuran dilakukan ke Mabes TNI dan Kementrian Luar Negeri terkait Flight Clearance (FC) sasaran, yang ternyata tidak ada. Karena itu sasaran dinyatakan sebagai sasaran tidak dikenal (Lasa X). Pangkosek IV menaikkan tingkat kesiagaan menjadi Siaga 1 Waspada Merah dan Siap Tempur 1 serta memerintahkan Flight Sukhoi (tiga pesawat) scramble dari Lanud Manuhua, Biak untuk melaksanakan identifikasi secara visual, dilanjutkan pengusiran, pemaksaan mendarat ataupun melaksanakan penghancuran dengan dasar perintah komando atas apabila Lasa X menunjukkan sikap tidak bersahabat yang bisa membahayakan maupun mengancam pesawat kita sendiri.(Mayor Pnb. Dharma “Rottweil” Gultom)

  ★ angkasa  

Kisah Aksi Pasukan Garuda & Panser Anoa di konflik Lebanon-Israel

TNI ikut mengirim pasukan perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL). Pasukan Kontingen Garuda itu turut dilengkapi dengan Panser Anoa buatan PT Pindad Bandung.

Sebelumnya pihak UNIFIL telah mengecek Panser Anoa milik TNI. Hasilnya, kendaraan tempur lapis baja buatan Indonesia itu dinyatakan layak bertugas dalam misi perdamaian PBB. Khusus untuk pasukan PBB, seluruh badan panser dicat putih. Ada tulisan besar UN alias United Nations di kedua sisi dan muka panser.

Untuk para personel pasukan perdamaian, panser Anoa memberikan perlindungan yang cukup. Lapisan baja dan rangka Anoa memiliki tingkat Stanag 3, yang berarti bisa menahan peluru kinetis hingga 7,62x51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s.

Anoa juga bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.

Persenjataan Anoa ialah senapan mesin berat kaliber 12,7 mm dan 7,62 mm, senapan Remote Weapon System berkaliber 7,62 mm dan pelontar granat berkaliber 40 mm. Untuk pertahanan diri Anoa dilengkapi dengan pelontar tabir asap 2x3,66 m.

Dengan perlindungan Anoa dan kemampuan para personel TNI, Kinerja Pasukan Garuda di Lebanon dianggap sangat memuaskan. Dalam penilaian kinerja tugas yang dievaluasi UNIFIL, Kontingen Garuda memperoleh nilai 85 persen luar biasa, dan 15 persen melampaui harapan.

Berikut kisah seputar Panser Anoa dan Pasukan Garuda di tengah konflik Lebanon-Israel.
★ Panser Anoa kawal komandan UNIFIL Panser Anoa jadi andalan Pasukan Garuda untuk misi patroli dan pengawalan. Tugas membanggakan datang dari UNIFIL saat Pasukan garuda diberi kepercayaan mengawal komandan pasukan UNIFIL Mayjen Paolo Serra.

Mayjen Paolo saat itu menuju area UNP 1-32 A, di perbatasan Lebanon dan Israel, Rabu, (23/1/2013). Dia mengikuti pertemuan tripartit antara UNIFIL, Lebanon dan Israel.

Komandan Satgas Mayor Inf Yuri Elias Mamahi memerintahkan personelnya menggunakan Panser ANOA buatan PT Pindad.

"Pengawalan dengan menggunakan Panser Anoa sangatlah membanggakan. Karena produksi anak bangsa tersebut ikut serta bergabung dalam sistem pengamanan perjalanan Force Commander," ujar Mayor Inf Yuri Elias Mamahi.

Kontingen Garuda menugaskan 16 personel di bawah pimpinan Lettu Mar Deni Kusmana serta mengerahkan satu panser ANOA dan 1 buah light vehicle untuk kendaraan peninjau depan. Sejak berangkat hingga kembali, tugas pengawalan dilakukan dengan baik.
★ Panser Anoa dan pasukan Garuda temukan alat mata-mata Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Indobatt (Indonesia Battalion) Kontingen Garuda (Konga) XXIII-H/UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menemukan alat mata-mata di perbatasan Lebanon dan Israel.

Spontan pihak Israel menempatkan pasukan IDF (Israeli Defence Force) di daerah perbatasan. Begitu pula dengan pihak Lebanon yang juga menurunkan personel Lebanese Armed Forces (LAF) di sekitar area TP-36 lengkap dengan senjata M-16 dan kendaraan jenis Humvee.

Komandan Satgas Indobatt Konga XXIII-H/UNIFIL Letkol Inf M. Asmi, langsung memerintahkan Danki Alfa untuk membuat barikade dengan menggunakan Kendaraan Tempur (Ranpur) ANOA dan VAB di tengah-tengah perbatasan di antara kedua belah pihak guna mencegah pertikaian lebih lanjut dan kontak senjata.

"Selama keberadaan kotak tersebut belum jelas statusnya, maka area TP-36 wajib dijaga 24 jam penuh oleh personel Indobatt," tutur Letkol Inf M Asmi.

"Selain itu, jalan menuju ke TP-36 juga wajib diblokir dengan Ranpur agar kendaraan sipil yang tidak berkepentingan tidak bisa memasuki area TP-36 untuk menghindari semakin ramainya suasana di daerah perbatasan dan hal-hal yang tidak diinginkan," lanjut Asmi.

Aksi TNI ini berhasil mencegah kontak tembak antara Israel dan Lebanon. Beberapa waktu kemudian mereka diganjar penghargaan dari UNIFIL.
★ Panser Anoa dipuji petinggi UNIFIL Aksi pasukan Garuda yang menunggangi Panser Anoa sudah terkenal di kalangan UNIFIL. Para petinggi UNIFIL pun memuji mereka kemampuan pasukan garuda dan Panser Anoa.

"Indonesia melalui Satgas Indobatt memang sudah dikenal oleh Kontingen lain tentang kesiapannya dan Alutsista yang digunakannya, seperti Anoa dan Senjata yang diproduksinya sendiri dari Indonesia," kata Komandan Sektor Timur UNIFIL Brigjen Fernando Lopez Del Pozo.

Lebih lanjut Brigjen Fernando menyampaikan, Indonesia yang bisa memproduksi Ranpur jenis Anoa dan Senjata melalui PT. Pindad keberadaannya tentu tidak bisa dilihat sebelah mata.

"Apa yang dimiliki Indobatt sekarang ini sudah merupakan standar dalam melaksanakan Misi Perdamaian," ujarnya.

Sementara itu, menurut Dansatgas Indobatt Konga XXIII-G/UNIFIL Letkol Inf Lucky Avianto keunggulan dari Anoa ini sudah banyak dirasakan dan diakui oleh dunia.

"Indonesia selain mengirim pasukannya dalam Misi Perdamaian juga dimanfaatkan untuk mempromosikan Produk Dalam Negeri Indonesia," ujarnya.

  ♞ Merdeka  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...