Peluncuran Rudal BrahMos dari INS Kolkata★
India berhasil menguji-tembak rudal supersonik BrahMos, rudal jelajah dengan kemampuan 290 km dari kapal terbaru Angkatan Laut INS Kolkata.
Peluncuran dari lepas pantai Goa "sempurna" dan rudal memenuhi semua parameter yang dirancang.
INS Kolkata, yang ditugaskan oleh Angkatan Laut India pada tanggal 16 Agustus 2014, memiliki kemampuan menembakkan rudal BrahMos.
Sementara kapal perang lain biasanya mampu meluncurkan delapan rudal, sedangkan INS Kolkata dapat menembakkan 16 rudal BrahMos dalam mode salvo, ungkap sumber-sumber pertahanan.
Ini merupakan kapal pertama dalam kelas ini, dengan dua lagi yang direncanakan.
Semua tiga kapal dilengkapi dengan rudal BrahMos sebagai senjata utama dengan sistem vertikal.
Universal Vertical Launcher (UVLM) yang digunakan dalam kapal ini memiliki desain yang unik, dikembangkan dan dipatenkan oleh BrahMos Aerospace.
UVLM ini memiliki kemampuan siluman dan memungkinkan peluncuran rudal vertikal ke segala arah, kata pernyataan resmi.
Kepala BrahMos Sudhir Mishra mengucapkan selamat kepada timnya dan Angkatan Laut India atas misi yang sukses.
Rudal dua tahap, yang pertama menggunakan propelan padat dan yang kedua menggunakan propelan cair dalam satu ramjet, telah digunakan Angkatan Darat dan Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.[indiatimes]
★ Garuda Militer
Sukhoi Su-35. Foto: Wikipedia★
TNI Angkatan Udara (AU) Indonesia menilai pesawat Sukhoi Su-35 buatan Rusia memenuhi spesifikasi untuk melengkapi kekuatan TNI AU. Hal tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Agus Supriatna kepada kantor berita Antara, Rabu (4/2).
“Semoga pengadaan pesawat Sukhoi Su-35 disetujui pemerintah. Semua boleh menawarkan (pesawat), tapi keinginan kami sebagai orang-orang operasional ingin kalau bisa pesawat generasi IV ke atas,” ujar Supriatna usai membuka Rapim TNI AU di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu.
Menurut Supriatna, selain memenuhi spesifikasi, pesawat Sukhoi Su-35 dipilih TNI AU karena perawatan pesawat tersebut lebih mudah dilakukan.
TNI AU menginginkan pesawat tempur yang lebih canggih untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger II yang telah memasuki masa pensiun.
Infografis Perbandingan Spesifikasi Teknis★
Opsi pembelian 16 pesawat tempur Su-35 dari Rusia tengah dipertimbangkan Kementerian Pertahanan Indonesia. Opsi pembelian pesawat tersebut telah lama dibicarakan dalam pertemuan perwakilan Kementerian Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dengan Kepala Staf dan Komando Angkatan Udara Rusia pada pertengahan Januari 2014 lalu.
Saat ini Indonesia memiliki 16 pesawat tempur Su-27SK/SKM dan Su-30 MK/MK2. Hingga 2024, akan ada delapan skuadron yang berisi 16 unit pesawat tipe “Su” per skuadronnya. Kemungkinan skuadron tersebut akan diisi oleh pesawat unggulan saat ini, yakni Su-35.
Debut Pesawat Tempur Su-35 di HUT Angkatan Udara Rusia
Jet tempur super manuver multiguna generasi 4++ terbaru Su-35 untuk pertama kalinya ikut serta dalam atraksi peragaan manuver di udara dalam perayaan hari jadi Angkatan Udara Rusia di Lipetsk, Selasa (12/8).
Sanksi Barat Tak Pengaruhi Minat Ekspor dari Rusia, Termasuk ke Indonesia
Rusia terus bertahan di peringkat kedua dunia dalam jumlah pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan ekspor senjata dan teknologi militer. Pada awal 2014 lalu diumumkan hasil akhir pendapatan ekspor senjata selama 2013 telah melewati angka 15 miliar dolar AS. Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia telah membeli beberapa pesawat tempur multifungsi dari Rusia, yakni Su-27 dan Su-30, sepuluh helikopter Mi-35, 14 helikopter Mi-17, 17 kendaraan tempur infanteri BMP-3F, 48 kendaraan lapis baja BTR-80A, dan sembilan ribu senapan Kalashnikov AK-102. Pada Desember 2011, Rusia dan Indonesia telah menandatangani kontrak pengiriman enam pesawat tempur ke Indonesia seharga 500 juta dolar AS.
Kontrak negara untuk penyediaan pesawat Il-112V bagi Kementerian Pertahanan Federasi Rusia rencananya akan resmi berjalan tahun depan. Sementara itu, Kemenhan Rusia sendiri telah memesan dua unit prototipe pesawat angkut militer itu. Prototipe itu akan dibuat di Pabrik Aviasi Varonezh (VASO). Pesawat “pengangkut” baru kelas ringan ini diproyeksikan akan menggantikan An-26.
Pesawat angkut militer baru ini akan sepenuhnya dibuat menggunakan komponen domestik. Kredit: TASS♣
Proyek pesawat Il-112V telah dimulai 10 tahun lalu. Namun, akibat anggaran yang tidak mencukupi, proyek ini sempat dibekukan di tahun 2010. Investor lama menghentikan pendanaan kegiatan uji coba konstruksi yang kala itu dijalankan oleh Perusahaan Kompleks Aviasi Ilyushin, serta menyarankan untuk mencari investor lain.
Sementara, United Aircraft Corporation, perusahaan tempat VASO bergabung juga tidak dapat memberikan bantuan dana. Padahal, di dalam pabrik yang merencanakan untuk memproduksi massal 18 unit pesawat per tahun di masa yang akan datang ini sudah dibangun landasan pacu serta perlengkapan untuk merakit empat buah prototipe. Saat ini, untuk menjalankan kembali proyek yang sempat dibekukan ini, perusahaan tinggal memeriksa dokumen-dokumen terkait desain pesawat dan bersiap meluncurkan kembali proses produksi.
Dalam kontrak negara yang diresmikan pada akhir Desember lalu, VASO akan membuat dua buah prototipe Il-112V untuk keperluan uji coba konstruksi. Satu unit untuk uji coba statik dan kelelahan (fatigue test), sedangkan yang lainnya untuk uji coba terbang. Kedua pesawat itu dijadwalkan akan siap di tahun 2016, sesuai dengan rencana dilaksanakannya penerbangan perdana.
Pesawat angkut militer baru ini akan sepenuhnya dibuat menggunakan komponen domestik. Sebanyak 30 perusahaan dan lebih dari 50 pemasok suku cadang dan komponen aviasi asal Rusia akan terlibat dalam kerja sama pembuatan pesawat tersebut. Beberapa di antaranya adalah perusahaan dari Novosibirsk, Aviakomposit, yang akan membuat moncong pesawat, Asosiasi Produsen Aviasi Kazan yang membuat sayap dan sejumlah komponen pesawat, serta melibatkan perusahaanAviastar-SP dari Ulyanovsk dan Aviaagregat dari Samara.
Di tahun 2015 ini, penandatanganan kontrak negara untuk penyediaan pesawat Il-112V akan dilakukan. Nantinya, pesawat Il-112V siap terbang pertama akan muncul pada 2018.
Pesawat angkut operasional taktis militer Il-112V dirancang untuk pengangkutan dan penerjunan barang, senjata, kendaraan tempur, dan manusia dalam setiap kondisi geografis, meteorologis, dan iklim hingga jarak lima ribu kilometer. Berdasarkan perhitungan, pesawat ini seharusnya mempunyai kemampuan lebih dari pesawat lain di kelasnya dalam hal jarak tempuh dan kecepatan terbang, serta kemampuan terbang pada lintasan lepas landas yang pendek dan kondisi lapangan yang tidak layak. Pesawat ini juga dapat digunakan untuk tujuan transportasi komersial.
Boeing Tawarkan Super Hornet dengan radar AESA untuk RMAF Malaysia (Boeing)♘
Perusahaan Boeing memiliki keuntungan signifikan atas pesaingnya dalam menawarkan jet tempur Super Hornet untuk Malaysia sebagai pesawat yang “terjangkau” untuk operasional jangka panjang.
Produsen pesawat global ini siap membantu Malaysia menghadapi masalah pendanaan dalam memperoleh jet tempur dengan daya tahan tinggi. Kendala keuangan ini disebabkan perlambatan ekonomi global.
“Tidak ada pesawat di kompetisi ini yang mampu mengimbangi keterjangkauan yang ditawarkan Super Hornet,” ujar Wakil Presiden Boeing untuk penjualan F/A-18 E/F internasional, Howard M Berry.
“Biaya total lifecycle, dari sejak akuisisi hingga support pesawat sepanjang masa, termasuk pelatihan, logistik hingga akhirnya pesawat keluar dari layanan, memakan budget 70 persen,” katanya.
Ia menambahkan, Boeing menyadari bahwa setiap bangsa, termasuk Malaysia, menghadapi tantangan saat ini karena penurunan harga minyak dan mata uang lemah. Namun Boeing optimis bahwa “dalam dunia yang terus berubah, harga minyak akan rebound.”
“Kami telah membahas dan bekerja sama dengan pemerintah Malaysia. Kita bisa melakukan banyak hal finansial dan menangani setiap tantangan pendanaan dalam waktu dekat.” Pada akhirnya, hal itu akan menjadi keputusan politik dan kita harus melihat bagaimana pesoalan ini bisa diatasi,“ kata Berry.
Boeing telah melakukan negosiasi sejak tahun 2002 untuk kesepakatan Super Hornet dengan Royal Malaysia Air Force, yang saat ini mengoperasikan delapan generasi Klasik Hornets, F/A-18D.
“Kami siap untuk tetap terlibat. Ini merupakan penjualan yang penting bagi kami dan akan melakukan segala kemungkinan untuk memfasilitasi akuisisi ketika pemerintah Malaysia siap untuk bergerak maju,” katanya.
Menurut Berry, versi Super Hornet yang dijual ke Malaysia disebut Blok II, yang mulai dioperasikan pada tahun 2007, dan bisa dengan mudah diintegrasikan ke dalam sistem pesawat Super Hornet yang saat ini diterbangkan Malaysia.
Super Hornet baru terbang selama sekitar tujuh sampai delapan tahun, sehingga bisa dibilang pesawat terbaru dalam pelayanan militer AS.
Berry mengatakan sejauh pesawat ini memiliki 1,4 juta jam terbang, dengan demikian pesawat ini matang dan relevan untuk operasional. Manfaat yang didapatkan Angkatan Udara Malaysia RMAF adalah Super Hornet memiliki risiko desain yang rendah.
“Ketika Anda membeli dari kompetitor saya, pesawat mereka relatif belum matang dan memiliki sistem yang belum matang, terutama radar. Mereka masih mengembangkan radar active electronically scanned array (AESA),” tambahnya.
Dia mengatakan Super Hornet saat ini terbang dengan radar AESA yang paling canggih, APG-79 dari Raytheon, yang tanpa diragukan lagi berada di garis depan teknologi AESA dan combat proven. Berry juga mencatat Super Hornet F / A-18E / Fs sangat cocok untuk peran tersebut.
Namun, ia mengatakan, Malaysia memiliki beberapa masalah untuk diatasi, seperti garis pantai yang sangat panjang, sehingga mmbutuhkan superioritas udara.
“Untuk menghadapi itu, Anda harus memiliki kemampuan patroli. Pesawat Super Hornet memiliki kemampuan dan jangkauan untuk itu. Pesawat Ini membawa kokpit dua kursi dan mesin kembar. Mesin Twin adalah kunci, setiap pilot yang menghabiskan banyak waktu di atas air akan memberitahu Anda bahwa mereka menyukai twin engine.
“F/A-18F tentu juga cocok untuk operasi maritim. Dua kursi kokpit adalah kunci (dan) ketika Anda berada di luar sana di atas air, untuk melakukan kontrol jalur laut dan pengawasan maritim, memiliki sepasang mata orang kedua adalah penting, “katanya.
Di Langkawi Maritime and Aerospace Exhibition 2001, Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak, yang saat itu sebagai Menteri Pertahanan, terbang dengan Super Hornet F/A-18 E / F membuatnya sebagai menteri pertahanan pertama yang terbang dengan jet tempur dua seater yang dikemudikan kepala uji coba Boeing, Dave Desmond.
Unit Perusahaan Boeing, Boeing Defense, Space & Security merupakan salah satu industri pertahanan, ruang angkasa dan keamanan terbesar di dunia yang mengkhususkan diri dalam memberi solusi inovatif kepada pelanggan dan kemampuan-driven, dan produsen terbesar dan paling serbaguna di dunia pesawat militer.(Bernama)
Rudal Tomahawak setelah dipandu F18 Hornet
Bulan lalu Angkatan Laut AS menguji cara baru untuk memandu rudal jelajah jarak jauh untuk memukul target bergerak secara akurat – caranya dengan menyerahkan kontrol rudal Tomahawk kepada Super Hornet F/A-18 untuk memandu rudal dalam menyerang kapal bergerak.
Pengujian dilakukan di pantai San Nicolas Island, California. Pada 27 Januari 2015, kapal perusak USS Kidd meluncurkan rudal Tomahawk dan menyerahkan kontrol rudal ke pilot Super Hornet, yang mengarahkan ke kapal sasaran dan menghajar sasaran berupa kapal kontainer.
“Ini menunjukkan terkoneksinya komunikasi jarak jauh untuk update posisi target bergerak,” ujar Manager Sistem Senjata Program Tomahawk untuk Naval Air Systems Command, Kapten Joe Mauser, dalam sebuah pernyataan Angkatan Laut yang dilansir USNI News.
“Keberhasilan ini lebih lanjut menunjukkan kemampuan yang ada pada Tomahawk sebagai senjata berjaringan (netted weapon), yang memperluas jangkauan melalui fix point dan re-locatable point, untuk menghancurkan target bergerak.
Metode ini akan memungkinkan Angkatan Laut memperpanjang jangkauan 1.000 nautical mil Tomahawk Blok IV, yang dapat menerima informasi baru di pertengahan penerbangan untuk memperbarui jalan (path) dan target serangan bergerak.
Menurut The Aviationist, platform tambahan ini akan mencakup pesawat F-22, F-35 dan mungkin drone, untuk mendukung penargetan rudal jelajah. (dailycaller.com)