Menggunakan Pesawat Hawk 100-200
Black Panther Sq Hawk Indonesia [rsnafb]●
Lima unit pesawat tempur hawk 100-200 bersama dua hercules dan satu unit helikopter akan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sabtu (11/4). Mereka akan melaksanakan latihan perang di daerah ini selama satu pekan.
“Kesiapan kita, kita sudah siap dan saya sudah berkoordinasi dengan General Manager Bandara Internasional Minangkabau, karena pesawat akan mendarat di sana.
Begitu juga instansi terkait, mereka sudah menyatakan kesiapan mendukung kegiatan latihan perang ini,” kata Danlanud Padang, Ltk Pnb Mohammad Apon.
Latihan yang digelar hingga Jumat (16/4) itu merupakan latihan jenis maverick atau menjatuhkan bom dari udara ke darat.
“Jadi, para penerbang tempur kan perlu berlatih penembakan dari udara ke darat atau disebut juga air to ground dengan rudal maverick. Maverick itu nama rudalnya,” jelasnya.
Adapun personil yang datang mencapai 70 orang yang terdiri dari penerbang, ground crew, kru khusus, dan juga para pendukung ditambah dengan sejumlah brigade anjing. “Anjing itu sudah standarnya, karena pesawat tempur di jaga anjing,” jelas Apon lagi.
Latihan perang di Padang disampaikannya sesuatu yang baru. Selama ini, pesawat tempur rata-rata berlatih di Ranai dan Natuna.
“Sekarang berdasarkan rencana dan perintah Kepala Staf Angkatan Udara yang tentunya juga atas perintah panglima, pesawat tempur berkeliling Indonesia. Mereka berlatih, terutama di pangkalan yang berbatasan dengan wilayah atau negara lain dan termasuk juga Sumatera Barat,” bebernya.
Soal pendaratan di BIM disampaikan Apon, karena mempertimbangkan keselamatan, mengingat Lanud Padang pernah terkena gempa.
“Soal pendaratan di BIM, saya sudah mengupayakan ke pimpinan untuk dapat dilakukan pendaratan di pangkalan ini, tapi kita memang perlu mengkaji kesiapan dan kelaikan.
Meski pun pesawat jet low engine, namun karena pernah kena gempa dan untuk alasan keamanan, maka pendaratan dilakukan di Bandara Internasional Minangkabau,” ujarnya.
Latuhan PPRC 2015 ●
Memasuki minggu ketiga Latihan Gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) yang digelar di Poso, Sulawesi Tengah, pihak TNI mengaku menemukan sejumlah titik lokasi yang diduga sebagai tempat pelatihan para kelompok teroris.
Selain temuan lokasi pelatihan, pihak TNI juga menemukan beberapa jejak bekas tempat tinggal yang diduga dipergunakan sebelum tim PPRC memasuki wilayah pegunungan biru Kecamatan Poso Pesisir.
Komandan Satuan PPRC, Mayjen TNI Bambang Haryanto, menjelaskan bahwa pihaknya sejauh ini sejak pelaksanaan latihan gabungan telah menemukan sejumlah barang bukti termasuk lokasi seluas sekitar 50 kali 60 meter atau setengah lapangan bola.
Menurut Bambang, dilihat dari kondisi tempat dan sejumlah fasilitas yang ditemukan di lokasi seperti papan juga ditemukan bekas tempat latihan layaknya militer sehingga kuat dugaan lokasi tersebut sebelumnya digunakan oleh kelompok teroris untuk berlatih.
"Ya, secara jujur kita telah menemukan tempat tersebut,lokasinya cukup luas dan cukup strategis untuk dipakai latihan, di lokasi kita temukan semacam papan dan beberapa tempat latihan yang modelnya seperti tempat latihan militer," ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (11/4/2015), setelah menyerahkan bantuan sembako di Desa Pinedapa.
Dia menambahkan, dalam latihan gabungan PPRC di wilayah gunung Biru, pihaknya juga menemukan sejumlah barang bukti serta jejak-jejak yang menggambarkan bahwa ada kelompok teroris itu memang ada.
Berdasarkan hasil temuan, pihaknya memastikan seluruh jejak tersebut ditinggalkan oleh para kelompok teroris pimpinan Santoso sebelum tim PPRC menggelar latihan digunung Biru.
"Kalau berdasarkan dari banyaknya temuan yang sudah ada, ini merupakan petunjuk bahwa keberadaan kelompok teroris tersebut memang ada namun telah keluar dari gunung biru sebelum kita gelar latihan," tambahnya.
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko mengunjungi Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Indonesian Battalion (Satgas Indobatt) Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon) di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P., S.IP selaku Komandan Satgas (Dansatgas), bertempat di UN Posn 7-1 Adchid Al Qusayr, Lebanon Selatan, Jumat (10/4/2015).
Kunjungan Panglima TNI ke Satgas Indobatt merupakan rangkaian kegiatan kunjungannya di Lebanon, dengan maksud ingin melihat dan mengetahui secara dekat pelaksanaan tugas Prajurit TNI yang tengah melaksanakan tugas sebagai Peacekeepers dalam misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di Lebanon.
Kedatangan Panglima TNI yang didampingi oleh Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra Hidayat R., Asintel Panglima TNI Laksda TNI Amri Husaini, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya, Asops Kasad Mayjen TNI Johny L. Tobing, Komandan Kontingen Garuda Kolonel Inf Danni Koswara, beserta rombongan lainnya disambut oleh Dansatgas Indobatt Konga XXIII-I/Unifil Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P, S.IP, didampingi Wadansatgas Mayor Inf Eko Handono beserta para Prajurit TNI Satgas Indobatt.
Turut serta dalam penyambutan Panglima TNI di Markas Indobatt, UN Posn 7-1 Adchid Al Qusayr, Lebanon Selatan,yaitu Komandan Sektor Timur Brigjen Olmos Ruiz dan Wakil Komandan Sektor Timur Kolonel Kav Yatanabey. Selain itu, kibaran bendera Merah Putih dan bendera Lebanon dari penduduk setempat dan anak-anak yang berada di sekitar Area Operasi Indobatt turut pula menyambut kedatangan Panglima TNI beserta rombongan.
Dalam sambutannya pada acara tatap muka dengan Prajurit TNI Satgas Indobatt, Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko menyampaikan terima kasih atas sambutan yang telah diberikan, dan merasa terkesan dengan kehadiran para tokoh masyarakat Lebanon Selatan yang turut menyambut kedatangannya.
“Saya terkesan dengan kedatangan para tokoh masyarakat maupun agama yang turut menyambut kedatangan saya beserta rombongan, saya harapkan hubungan baik dan kerja sama dengan masyarakat Lebanon Selatan yang telah terjalin agar terus di pelihara dengan baik, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh prajurit,” ujar Jenderal TNI Moeldoko.
Panglima TNI juga berpesan, agar Prajurit TNI selalu menjaga nama baik Bangsa Indonesia dan soliditas para Prajurit TNI khususnya Kontingen Garuda yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian dimanapun senantiasa dipelihara. “Dengan soliditas personel dan satuan yang baik, tugas-tugas mulia yang diemban para Prajurit TNI selama di daerah operasi niscaya akan dapat dilaksanakan dengan baik pula,” ungkapnya.
Sebelum meninggalkan Markas Indonesian Battalion Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil, Panglima TNI berkesempatan meninjau gelar perlengkapan militer dan berfoto bersama seluruh para Prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon. (Red)
Upacara Peringatan HUT TNI AU di Makassar
Pasukan TNI AU melakukan upacara memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-69 TNI AU di Apron Glaktika Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (9/4).[ANTARA FOTO/Sahrul Manda]Simulasi Pengamanan Bom di KTT KAA
Anggota Paspampres memeriksa benda yang diduga bom saat Gladi Bersih Operasi Pengamanan VVIP KTT Asia-Afrika ke-60 di Kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (9/4). Simulasi tersebut untuk mengamankan jalannya KTT Asia-Afrika ke-60 yang akan berlangsung pada 18-24 April di Jakarta dan Bandung.(ea/EA/bd-ant)Tinjauan Latihan Operasi SAR Komando Armada RI
Pangarmabar Laksda TNI A. Taufiq R. (ketiga kiri) berjalan meninggalkan helikopter saat ketika meninjau latihan operasi SAR Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) 2015 di perairan Cirebon, Jawa Barat, Kamis (9/4). Kegiatan yang diikuti 800 personel TNI AL tersebut untuk menguji kesiapsiagaan Koarmabar dalam tugas bantuan SAR sehingga mampu digerakkan setiap saat jika terjadi bencana atau kecelakaan di laut.(ea/EA/bd-ant)Patroli Pencarian Korban Kecelakaan Laut
KRI Beladau berpatroli mencari korban kecelakaan laut dalam latihan operasi SAR Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) 2015 di perairan Cirebon, Jawa Barat, Kamis (9/4). Kegiatan yang diikuti 800 personel TNI AL tersebut untuk menguji kesiapsiagaan Koarmabar dalam tugas bantuan SAR sehingga mampu digerakkan setiap saat jika terjadi bencana atau kecelakaan di laut.(ea/EA/bd-ant)Persiapan HUT TNI AU
Deretan Pesawat TNI AU T50 Golden Eagle berderet di lapangan Udara Halim, Jakarta. [anas nurfahid]
Pesawat F-5E TNI AU (Foto: Roni Sontani) ●
TNI Angkatan Udara berharap pesawat pengganti F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 yang sudah berusia 35 tahun, adalah dari tipe pesawat yang selama ini sudah dioperasikan oleh TNI AU namun dari generasi yang lebih tinggi lagi. “Ya, kita sudah pakai F-16 Block 15 dan Block 25. Sekarang kami berharap kalau bisa F-16 Block 70. Sementara kalau Sukhoi, kita sudah pakai Su-27/30, ya kami harapkan Su-35,” ujar KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (7/3).
Pertimbangan memilih kedua pesawat tersebut, kata KSAU kepada Angkasa, adalah karena para teknisi TNI AU sudah familiar dengan perawatan kedua pesawat yang masing-masing berasal dari Amerika Serikat dan Rusia tersebut. “Kasihan adik-adik, kalau harus mulai lagi dengan tipe pesawat yang baru,” jelasnya. Sebagaimana diketahui TNI AU telah mengoperasikan pesawat F-16 sejak 1989 dan Su-27/30 sejak tahun 2003.
Meski demikian, Agus Supriatna menegaskan, baik F-16 Block 70 maupun Su-35, belum diputuskan secara resmi sebagai pengganti F-5E/F Tiger II walaupun sudah santer disebut-sebut dalam banyak pemberitaan. “Oh tidak, TNI AU hanya mengajukan spesifikasi. Sedangkan yang mengkaji adalah dari Kementerian Pertahanan,” ujarnya. “Belum, belum diputuskan,” tambahnya lagi.
Mengenai masa operasi F-5 di TNI AU, walaupun sudah mengabdi 35 tahun, KSAU menyatakan bahwa F-5 masih bisa dimaksimalkan hingga tahun 2020. “Rencananya memang hingga tahun 2020. F-5 akan dimaksimalkan. Kondisinya masih bagus, walaupun hanya tinggal beberapa saja.”
Asisten Logistik KSAU Marsda TNI M. Nurullah, kepada Angkasa mengatakan, F-5 akan dipensiunkan bila pesawat penggantinya sudah datang. “Harapannya F-5 masih bisa digunakan sampai tahun 2020. Suku cadang F-5 masih bisa dibeli dari luar,” ujarnya. Meski demikian, kalau pesawat penggantinya bisa datang lebih cepat, F-5 pun akan segera dipensiunkan. Sebaliknya, kalau pesawat pengganti datangnya lama, F-5 bisa juga dipensiunkan di tengah jalan. “Bisa tahun 2020 atau sebelum itu,” ujarnya.
Seperti diketahui, saat ini Kementerian Pertahanan tengah mencari dan mengkaji pesawat yang cocok untuk menggantikan peran pesawat interseptor F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 Lanud Iswhajudi, Madiun. Beberapa negara sudah menawarkan produk unggulan pesawat tempurnya. Amerika Serikat menawarkan F-16 generasi terbaru Block 60 (atau Block 70 seperti yang disampaikan KSAU --Red), Rusia dengan Su-35, Swedia dengan JAS-39 Gripen, Konsorsium Eropa dengan Eurofighter Typhoon, dan Perancis dengan Rafale.
Pabrik SAAB Swedia telah mengundang beberapa wartawan Indonesia ke Swedia untuk melakukan peliputan guna melihat dan mendapatkan paparan mengenai teknologi Gripen. Perancis telah menghadirkan dua Rafale B/C Angkatan Udara mereka dan mendemonstrasikan kapabilitasnya di langit Lanud Halim Perdanakusuma. Sementara pada April ini rencananya Eurofighter juga akan datang ke PT Dirgantara Indonesia dan mengundang wartawan untuk memaparkan keunggulan jet tempur Typhoon.
Dalam ajang Indo Defence 2014 di Jakarta, Eurofighter dan SAAB juga datang menghadirkan simulator jet tempur mereka untuk dicoba oleh para pengunjung. Tinggal Rusia yang hingga kini terkesan masih “tenang-tenang saja” dengan unggulan mereka Su-35. Diakui banyak kalangan, jet tempur Su-35 memiliki daya gentar yang sangat tinggi. “Jangankan Su-35, kita latihan bareng dengan beberapa negara di Australia pakai Su-27/30 saja, kehebatan pesawat ini sudah bisa terukur,” ujar seorang perwira tinggi TNI AU. “Banyak yang ingin tahu pesawat Sukhoi kita. Apalagi sekarang sudah lengkap dengan beragam senjatanya,” sambungnya.
Pertanyaannya kemudian, bila TNI AU sudah berharap terhadap F-16 terbaru dan/atau Su-35, lalu mengapa masih banyak negara maju lainnya ikut menawarkan jet tempur unggulannya kepada Indonesia? Pertama, pembelian pesawat tempur selain ditinjau dari matriks perbandingan teknis dan kemampuannya, juga ikut menentukan faktor-faktor lain seperti harga, kemudahan perawatan, transfer teknologi, imbal dagang, hingga hubungan baik dengan negara penjual. Pengalaman menggunakan pesawat dari negara tertentu ikut berperan juga dalam hal ini. Banyak kendala atau sebaliknya.
“Beli pesawat tempur atau alutsista lain yang belum bisa kita produksi sendiri, maka harus dibarengi dengan transfer teknologi, adanya jaminan tidak terkena embargo akibat penggunaannya, dan juga harus disertai imbal dagang minimal 85%. Itu bagian dari amanat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.
Pemicu lainnya, tambahnya, karena TNI AU masih ada alokasi tiga skadron tempur baru hingga tahun 2024. “Belum lagi ke depannya, kita juga harus menyiapkan calon pengganti pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 1 dan Skadron Udara 12. Jadi total tiga skadron ditambah Skadron F-5 dan dua Skadron Hawk. Total masih ada enam skadron,” urainya.
Proses penggantian suatu pesawat di banyak negara membutuhkan waktu yang cukup lama. Mulai dari pengajuan kebutuhan, tinjauan, tender, perbandingan performa, kajian, penentuan pemenang, pembiayaan, kontrak efektif, produksi hingga ke realisasi pengiriman.
Skadron Udara 14 TNI AU sepertinya memang masih harus bersabar menanti pesawat pengganti F-5. Program pengadaan pengganti F-5 terdapat pada Rencana Strategis pemenuhan Minimum Essential Forces (MEF) periode dua, 2015-2019. Belajar dari pengalaman, pembelian pesawat butuh waktu yang cukup lama. Bisa jadi, paling cepat pengganti F-5 ini baru tiba di akhir periode MEF II. (roni sontani)