Diponegoro class ●
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menanggapi ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok soal latihan perang gabungan di Laut China Selatan (LCS).
Menurut Panglima, TNI hanya akan melakukan kegiatan yang sejalan dengan kebijakan pemerintah.
"TNI harus segaris dan mematuhi apa yang menjadi kebijakan pemerintah," ujar Gatot di gedung parlemen, Jakarta, Senin.
Dia menjelaskan pemerintah RI secara tegas bertekad mewujudkan keamanan dan stabilitas. Pemerintah juga telah mengimbau semua elemen tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan di Laut China Selatan yang dapat meningkatkan tensi stabilitas.
"Artinya diajak negara manapun (latihan gabungan) di Laut China Selatan, demi meningkatkan stabilitas di sana sebaiknya TNI tidak melaksanakan itu," ujar Gatot, menegaskan.
Sebelumnya Tiongkok mengajukan tawaran untuk latihan perang bersama di Laut China Selatan, ditengah tensi yang memanas akibat adanya saling klaim sejumlah negara ASEAN di wilayah tersebut.
Ajakan itu disampaikan Menteri Pertahanan Tiongkok dalam pertemuan informal dengan Menteri Pertahanan ASEAN di Beijing. Menurut Menhan Tiongkok Chang Wanquan, latihan perang ini ditujukan untuk penyelamatan maritim dan penanggulangan bencana.
✈ Makin Bersinar
✈ Pesawat T50i Golden Eagle TNI AU [kraken_Christiyanto] ●
Diakui atau tidak pesawat latih tempur T-50 Golden Eagle yang dibangun KAI Korea Selatan telah mengejutkan pasar dunia. Kinerja ekspor pesawat ini terus melesat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pesawat semakin serius di kancah pesawat pelatih dunia.
Keberhasilan KAI terbaru adalah penjualan empat pelatih T-50 ke Thailand dengan harga total US$ 110 juta yang diumumkan pada bulan September. Menurut KAI, T-50 mengalahkan sejumlah pesaing termasuk L-15 China, Alenia Aermacchi M-346, dan Textron Scorpion.
Kemenangan itu membawa total penjualan ke-32 di Asia Tenggara menyusul penjualan 12 FA-50 untuk Filipina pada 2014. Perusahaan ini juga mendapat pemesanan dari Irak dengan 24 pesawat yang ditunjuk T-50IQ pada akhir 2013, dengan 12 pesawat pertama akan disampaikan pada awal 2016. Indonesia menjadi pelanggan ekspor pertama untuk jenis ini dan telah menerima semua 16 dari T / A-50.
Tetapi T-50 telah mengalami kekalahan di sejumlah kompetisi pelatih utama, yaitu di Singapura dan Israel dimana dia ditendang oleh M-346.
Sementara itu, Angkatan Udara Korea Selatan telah memiliki salah satu skuadron operasional FA-50, dengan 20 pesawat skuadron kedua yang akan dibentuk pada awal 2016, ketika pesawat akan menerima izin operasional akhir. Angkatan Udara Korsel juga memiliki 49 T-50, sembilan T-50B, dan 22 TA-50.
FA-50 dilengkapi dengan data taktis Link 16 Link, radar mechanically scanned array, radar penerima peringatan dan sistem visi pencitraan malam. Pesawat ini mampu membawa 4,500kg senjata dipandu, meriam 20mm dan dapat membawa rudal udara ke udara. Semua varian T-50 yang didukung oleh mesin F404.
Dalam kasus Filipina dan Irak, pesawat ini akan memainkan peran penting dalam membangun kembali angkatan udara kedua negara tersebut. Maka mereka membeli sebuah pesawat yang dapat berfungsi baik sebagai jet pelatih canggih dan pesawat serang.
Kesepakatan Filipina sangat mendesak, sebagai bangsa yang menemukan dirinya dalam posisi yang tidak nyaman dan perlu untuk melawan China yang kekuatannya semakin tumbuh di Laut China Selatan. Negara ini nyaris tidak memiliki kekuatan tempur udara setelah mempensiunkan Northrop F-5 terakhir lebih dari satu dekade yang lalu. Pada tahun 2011, sebuah pesawat turboprop Rockwell OV-10 angkatan udara Filipina menemukan dirinya benar-benar tidak mampu untuk terlibat dengan dua jet tempur China yang terbang di sebuah pulau karang yang diklaim Manila.
Demikian juga dengan Irak. Sumber yang dekat dengan kesepakatan mengatakan bahwa T-50IQ didasarkan pada FA-50, meskipun ini belum pernah secara resmi dikonfirmasi. Pesawat bisa menjadi sumber daya berharga dalam pertempuran Irak melawan ISIS.
Menatap Peluang 1.000 Pesawat
✈ F50 Golden Eagle ●
Target besar yang sedang dibidik T-50 adalah program pengadaan pesawat latih Angkatan Udara AS yang dikenal dengan program TX untuk menggantikan Northrop T-38. KAI memperkirakan nilai kesepakatan ini senilai US$ 10 miliar untuk memproduksi sekitar 350 pesawat, dan berencana untuk bermitra dengan Lockheed Martin dalam kompetisi tersebut. KAI menambahkan bahwa akan ada permintaan tambahan dari Angkatan Laut AS dan Marinir untuk 350 pelatih jet canggih, serta 150 jet disesuaikan untuk mensimulasikan pesawat musuh. Total bisa 1.000 pesawat yang akan diproduksi.
Ada peluang besar T-50 untuk menang dalam kompetisi ini mengingat persyaratannya adalah membuat pesawat latih dari pesawat yang telah ada. Bukan desain yang benar-benar baru. Hal ini karena Angkatan Udara AS ingin menghemat biaya dan waktu. Sementara Boeing dan Saab berencana untuk menawarkan jet yang benar-benar baru untuk kompetisi ini.
“Jika kompetisi nanti ditentukan oleh biaya, maka T-50 akan muncul dalam posisi yang baik untuk mengamankan kontrak,” kata analis Forecast Internasional Daniel Darling. “Tetapi jika elemen desain yang benar-benr baru benar-benar memunculkan hal yang lain, maka prospek T-50 akan redup. Tapi sebagai pelatih jet canggih yang terlihat penggunaan di layananan dan berasal jejak Lockheed Martin, T-50 pasti dianggap sebagai calon kuat.” [Flightglobal]
⚓️ Terbaik di Dunia
Korvet Siluman kelas Visby milik Angkatan Laut Swedia, HMS Helsingborg. Lambung kapal dibuat dari bahan inti PVC dengan serat karbon dan vinyl laminasi yang memancarkan radar rendah dan non magnetik. Kelas Visby dipersenjatai dengan meriam Bofors 57mm 70 SAK MKIII, rudal permukaan-ke-udara Umkhonto, rudal anti-kapal Saab Bofors Dynamics RBS 15 MK2, peluncur granat peluncur granat bertenaga roket, ASW 127mm, torpedo 400mm. [wikipedia. org]
Korvet siluman K 130 merupakan korvet termodern milik angkatan laut Jerman. Siluman ini dipersenjatai dengan satu meriam Otobreda 76 mm, dua meriam automatik MLG 27 mm, rudal anti kapal RBS-15 Mk 3, dan dapat melaju hingga 26 knot (48 km/jam) dengan daya jelajah 4.000 mil laut (7.400 km pada kecepatan 28 km/jam). [wikipedia.org]
Korvet siluman kelas SIGMA milik TNI-AL dibangun Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Korvet ini dipersenjatai dengan meriam Oto-Melara 76 mm, dua kanon ringan Auxiliary Gun 20 mm Vector G12, rudal anti kapal MBDA Exocet MM40 block 2, rudal permukaan ke udara ke udara MBDA Mistral TETRAL, torpedo 3A 244S Mode II/MU 90. Kecepatan maksimum korvet Sigma adalah 28 knots (52 km/jam) dan mampu menjelajah hingga 4.800 mil laut (8.900 km pada kecepatan 14 knot atau 26 km/jam). [Damen]
Korvet siluman kelas Milgem milik angkatan laut Turki. Kapal ini dilengkapi dengan meriam 76mm Oto Melara, dua senjata mesin Aselsan STAMP, rudal anti kapal Harpoon, rudal anti serangan udara SeaSparrow, torpedo 324 mm. Kapal ini dapat melaju hingga 30 knot (56 km/jam) dan menjelajah hingga 3,500 mil laut (6.480 km pada kecepatan15 knots atau 28 km/jam). [Turkish Naval Forces]
Korvet siluman kelas Steregushchy merupakan kovet terbaru Rusia. Korvet ini dipersenjatai dengan meriam 100mm A-190 Arsenal atau 130mm A-192, rudal Reduk-K, rudal Kh-35, pertahanan udara Kashtan, AK-630, senjata mesin otomatis 14.5mm MTPU pedestal, terpedo 330mm Paket-NK. Stereshguchy mampu melaju dngan kecepatan 27 knot (50 km/jam) dengan daya jelajah 3.800 mil laut (7,000 km pada kecetpatan 14 knot atau 26 km/jam. [oursogo.com]
Angkatan Laut Uni Emirat arab memiliki korvet Baynunah untuk penjaga wilayah perairan dan Zona Ekonomi Eksklusif. Korvet ini dipersenjatai dengan meriam Oto Melara 76 mm/62 mm, dua senjata mesin Rheinmetall MLG 27 27 mm, rudal Ecocet MBDA MM40 Blok 3, untuk pertahanan udara Baynunah mengandalkan rudal sistem RAM Blok 1. Kapal ini mampu melaju dengan kecepatan 30 knot (56 km/jam), daya jelajah 2.400 mil laut (4,400 km pada kecepatan 5 knots atau 28 km/jam. [defence.pk]
⚓️ Tempo
Proyek landasan pacu China di Laut China Selatan. Beijing tidak akan sembrono gunakan kekuatan di wilayah sengketa itu. (Reuters) ●
Seorang jenderal senior China, Fan Changlong, pada Sabtu (17/10/2015), mengatakan, Beijing tidak akan sembrono menggunakan kekuatan militer di kawasan Laut China Selatan, yang jadi sengketa antara China dengan negara-negara ASEAN.
Krisis Laut China Selatan kembali memanas sejak Amerika Serikat (AS) mulai campur tangan. Washington telah mengkritik keras klaim dan reklamasi pulau-pulau di Laut China Selatan yang dianggap untuk kepentingan militer China. AS berpendapat, wilayah Laut China Selatan merupakan kawasan internasional yang bebas dilintasi kapal dan pesawat negara mana pun, termasuk AS.
Namun, China telah mengklaim hampir 90 persen kawasan maritim itu. Militer China pernah mengusir pesawat mata-mata AS yang sedang mengintai proyek reklamasi China di wilayah sengketa tersebut.
Jenderal Fan Changlong adalah salah satu Wakil Ketua Komisi Militer yang menguasai angkatan bersenjata China. Komisi itu dipimpin langsung oleh Presiden China, Xi Jinping. Menurut Fan, China telah berusaha untuk menghindari konflik.
”Kami tidak akan pernah sembrono untuk menggunakan kekuatan, bahkan pada isu-isu kedaulatan, dan telah melakukan yang terbaik untuk menghindari konflik yang tak terduga,” kata Fan dalam forum yang dihadiri para Menteri Pertahanan Asia Tenggara, sebagaimana dikutip Reuters.
Fan menegaskan bahwa pulau-pulau reklamasi China tidak akan mempengaruhi kebebasan navigasi di Laut China Selatan. Menurutnya, China telah merampungkan pembangunan mercusuar di Cuarteron Reef dan Johnson South Reef di Kepulauan Spratly. ”Dan Sudah mulai memberikan layanan navigasi untuk semua bangsa,” ujarnya.
”Kami akan terus menyelesaikan sengketa dan perbedaan dengan pihak terkait langsung melalui konsultasi yang ramah dan berkomitmen untuk bekerja dengan pihak-pihak terkait untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas kawasan,” kata Fan. (mas)
Serangan udara koalisi Arab salah sasaran [© Fahad Shadeed / Reuters] ●
Serangan jet-jet tempur koalisi Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang seharusnya menyerang basis pemberontak Houthi, malah menyerang pejuang Yaman.
Akibatnya, 30 orang pejuang Yaman loyalis Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi tewas, setelah bom-bom yang dijatuhkan jet-jet tempur koalisi Arab menghantam kamp militer loyalis Presiden Hadi di Provinsi Taiz, Sabtu (17/10/2015), kata pejabat setempat.
Serangan yang juga melukai 40 pejuang lainnya itu adalah serangan terbaru dalam serangkaian insiden serangan yang telah dilakukan oleh koalisi Arab terhadap kelompok Houthi sejak Maret lalu.
"Serangan koalisi mengenai target yang salah," ujar seorang pejabat seperti dilansir dari Reuters, Minggu (18/10/2015). Sedangkan, pejabat dari koalisi Arab dan pemerintah Yaman tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar terkait hal ini.
[RT] ●
Serangan salah sasaran juga pernah terjadi pada 28 September lalu dimana serangan koalisi Arab menghantam pesta pernikahan dan menewaskan 131 orang.
Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab untuk melakukan intervensi militer di Yaman sejak bulan Maret lalu untuk mencoba memulihkan pemerintahan Presiden hadi, yang kini berbasis di sebuah hotel di Aden, dan menangkal pengaruh Iran di negara itu.
Setidaknya 5.400 orang telah tewas dalam perang sipil yang telah terjadi selama enam bulan di negara termiskin di Semananjung Arab itu. PBB mengatakan, situasi kemanusiaan di Yaman, diperburuk oleh blokade Saudi terhadap pelabuhan Yaman, sudah mencapai tahap yang kritis. (ian)