Senin, 27 Juni 2016

Indonesia – Kamboja Lakukan Army To Army Talks (ATAT) 2016

https://lancercell.files.wordpress.com/2016/06/tni-kamboja.jpg?w=863Pada tanggal 22 Juni 2016, Delegasi ATAT 2016 yang dipimpin oleh Kasahli Kasad, Mayjen TNI Turmarhaban Rajagukguk, melaksanakan Courtesy Call (CC) ke Dubes LBBP RI, Bapak Pitono Purnomo, untuk menerima gambaran tentang situasi dan kondisi pemerintah Kamboja.

Dalam pertemuan tersebut ketua delegasi menyampaikan tentang tujuan pelaksanakan kegiatan ATAT 2016 dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara TNI-AD dengan AD Kamboja.

Delegasi ATAT 2016 kemudian melaksanakan pertemuan dengan beberapa pejabat militer Kamboja diantaranya Komandan National Counter-Terrorism Special Forces (NCTSF), H.E. LTG. Hun Manet; Komandan Brigade 911 Special Forces, H.E. LTG. Chap Pheakdey; Kasad, H.E. General Meas Sophea.

Paska melaksanakan pertemuan dengan pejabat militer Kamboja, delegasi ATAT 2016 yang berjumlah 7 orang mengunjungi Royal Palace, Killing Field, dan Toul Sleng Museum

  ✈ Kemlu  

Kronologi Pengusiran C-130 Hercules Malaysia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivIgVCJmGksjRO6uP2sinqUwHdSlUqecNeG_sZM14Tu0DqbXpCsoeY_YCmSWy1Dle46dzubnU_0CSHymjrFEuLuMXpsv2sVq85AVgTrtxJdjR_9XfbK0toBK4JRrZCT0s12CzAT7c1a7c/s1600/CN235+MPA+garuda+Militer.gifF-16 TS-1608 yang di Piloti langsung oleh Danskadron Udara 16 Letkol Pnb Nur Alimi dan F-16 TS-1610 oleh Lettu Pnb Nehemia Anang dengan Call sign Rydder Flight kembali ke Lanud Ranai setelah mengusir pesawat asing jenis C-130 Hercules, Sabtu (25/6). (wartakepri)  ♣

P
ada pukul 10.37 WIB Komandan Skadron Udara 16 menerima perintah dari Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I (Kosekhanudnas I) Jakarta bahwa ada pesawat asing yang melintasi Wilayah Udara Natuna NKRI tanpa izin, Sabtu (25/06/2016).

Kemudian Skadron Udara 16 menindak lanjuti perintah tersebut dan segera menyiapkan pesawat untuk melaksanakan Intersept dengan Crew, Pesawat TS-1608 yang di Piloti langsung oleh Danskadron Udara 16 Letkol Pnb Nur Alimi dan Pesawat TS-1610 oleh Lettu Pnb Nehemia Anang dengan Call sign Rydder Flight dan Airborne pada pukul 10.56 Wib.

Pesawat Tempur F-16 milik TNI AU tersebut langsung menuju kesasaran yang diberikan oleh Satuan Radar 212 Ranai, Natuna.

Selanjutnya pada pukul 11.04 Wib, 2 pesawat Tempur TNI AU berhasil mengidentifikasi satu pesawat asing tersebut dengan jenis C-130 Hercules yang terbang di ketinggian Flight 230 di wilayah barat Natuna.

Rydder Flight mendapat perintah untuk melaksanakan pengusiran dari wilayah teretorial NKRI dan tetap melaksanakan penugasan sampai dengan pesawat asing tersebut benar-benar keluar dari wilayah NKRI.

Setelah melaksanakan pengusiran, Rydder Flight (2 F-16) melaksanakan patroli udara di sekitar wilayah udara diatas perairan Natuna,untuk meyakinkan tidak ada lagi pesawat asing yang masuk NKRI tanpa izin yang jelas dan Rydder Flight (2 F-16) kembali ke Lanud Ranai pada pukul 12.02 Wib.

Komandan Lanud Ranai, Kolonel Pnb Nurtantio Affan, SE.,MH mengatakan, “Keberadaan Unsur tempur di Lanud Ranai dalam rangka Tangkis Sergap yang diselenggarakan Komando Pertahanan Udaran Nasional Jakarta ini sangat penting berada posisi natuna yang strategis, pesawat tempur F-16 ini dapat kita operasikan bukan hanya mengamati di atas permukaan udara tetapi sampai dipermukan air hingga mampu menjaga wilayah NKRI.” Jelas Danlanud.Pen.Ranai.

 Pesawat Malaysia di Natuna Kooperatif Jadi Diperingatkan Saja 

TNI Angkatan Udara (AU) mengatakan pesawat AU Malaysia sempat melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah Indonesia. TNI AU mengatakan belum ada permintaan maaf atau pernyataan resmi pihak Malaysia ke pemerintah Indonesia soal kejadian itu.

“Jadi selama mereka kooperatif mengikuti aturannya, ya kita hanya sebatas peringatan itu saja, enggak sampai membuat pernyataan pada pihak Malaysia,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispen AU) Marsma Wieko Syofyan saat dihubungi detikcom, Minggu (26/6/2016).

Wieko mengatakan sejauh ini peristiwa itu hanya menjadi catatan bagi TNI AU saja. Dia menyebut pesawat Malaysia tidak terlalu dalam masuk ke wilayah NKRI.

“Ya sementara ini masih tetap menjadi catatan kita ya. Karena sebenarnya enggak terlalu masuk ke dalam (wilayah NKRI), jadi itu biasa kejadian seperti itu di wilayah perbatasan. Jadi sementara ini sebatas kita catat saja,” paparnya.

Dijelaskannya, pesawat Malaysia yang melintasi wilayah udara Kepualaun Natuna, Kepulauan Riau itu adalah pesawat jenis Hercules C-130. Wieko mengatakan bahwa pelanggaran tersebut terjadi pada Sabtu (25/6/2016) dan pesawat F-16 Fighting Falcon milik Indonesia sempat terbang untuk mengejar pesawat Malaysia tersebut.

“Pesawat Malaysia sempat diperingatkan oleh pesawat F-16 TNI AU yang sedang bertugas di wilayah Natuna. Selanjutnya pesawat Malaysia keluar wilayah udara RI,” ujarnya.

  ✈ Warta Kepri | detik  

[Dunia] Su-30MKI Sukses Gotong BrahMos

Su-30MKI dengan BrahMos menggantung. [Vishnu Som (NDTV)] ☆

India mencatatkan prestasi baru dalam pengembangan alutsista setelah satu Su-30MKI yang menjadi demonstrator sukses lepas landas dan mendarat dengan menggotong rudal BrahMos versi udara pada Sabtu, 25 Juni 2016.

Su-30MKI dengan tail number SB-200 merupakan pesawat pertama dari dua pesawat yang diserahkan Hindustan Aircraft Limited dari pabriknya di Nasik kepada BrahMos Aerospace pada 2015 untuk diintegrasikan dengan rudal BrahMos versi udara. Pada gilirannya, BrahMos Aerospace menggandeng DRDO dan Federal State Unitary Enterprise NPO Mashinostroyenia untuk memodifikasi Su-30MKI untuk dapat menggotong BrahMos.

Integrasi ini cukup sulit karena harus mencari data mengenai besarnya tekanan yang dihasilkan dalam berbagai tingkatan g (gravitasi), analisa aerodinamika dengan rudal terpasang, modifikasi pada wiring dan avionik agar Su-30MKI dapat menembakkan Brahmos serta menyiapkan rudalnya sendiri. Perhatian khusus harus diberikan pada kekuatan struktur karena bobot BrahMos versi udara mencapai 2,5 ton.

Setelah pada hari Jumat dilakukan ground test, penerbangan perdana Su-30MKI dengan membawa BrahMos versi udara merupakan pencapaian tahap pertama, yang merupakan validasi perhitungan aerodinamika di atas kertas dengan data aktual hasil penerbangan Su-30MKI SB-200 yang membawa perangkat telemetri untuk mengumpulkan data.

Terlihat rudal BrahMos terpasang. Sumber gambar: Manu PubbyTerlihat rudal BrahMos terpasang. [Manu Pubby]

Keberhasilan tahap pertama akan diikuti tahap kedua, yaitu penembakan rudal dengan simulated weight menggantikan hulu ledak untuk mengetahui performa rudal dan karakteristik terbangnya. Apabila berhasil, maka tahap ketiga dan keempat merupakan peluncuran rudal lengkap dengan hulu ledak yang diharapkan bisa diselesaikan pada akhir 2017.

Dengan mulai berjalannya BrahMos versi udara, artinya India sudah memiliki triad BrahMos, setelah sebelumnya berhasil menyelesaikan integrasi BrahMos dengan kapal perangnya, setelah sebelumnya hadir versi darat sebagai pengembangan lanjutan dari rudal Yakhont buatan Rusia. Rudal BrahMos versi udara akan hadir dengan hulu ledak seberat 200 kilogram, dan jarak luncur 280 kilometer (ada yang menyatakan sampai 500 kilometer).

Walaupun parameter ini tidak istimewa, katakanlah dibanding dengan Kh-59ME, namun keunggulan BrahMos versi udara ada pada kecepatan luncurnya yang mencapai Mach 2,8, sehingga sukar ditangkal sistem antirudal. DRDO bahkan menyatakan akan mencari cara agar BrahMos bisa melesat sampai Mach 6 atau mencapai kecepatan hipersonik.

Yang jelas, kemajuan yang dicapai India tentu akan membuat negara tetangga yang selama ini kurang akur seperti Pakistan dan Tiongkok blingsatan. Punya BrahMos versi udara akan memampukan AU India menggapai lokasi strategis di kedua negara yang selama ini tidak terjangkau, sepanjang AU India mampu menyediakan payung SEAD (Supresion of Enemy Air Defense) yang efektif.

Apalagi India saat ini hampir memiliki 300 unit Su-30MKI, yang bila dimodifikasi seluruhnya akan mampu menggotong BrahMos. Dalam perang udara, pada akhirnya kuantitas akan memenangkan pertempuran, mengingat kekuatan udara India dan Tiongkok relatif sama kualitasnya.

Yang jelas, integrasi BrahMos versi udara ini akan menjadi peluang bisnis baru mengingat India dan Rusia sama-sama setuju untuk mengkomersilkan rudal baru ini. Apakah Indonesia tertarik mengakuisisinya, mengingat TNI AU juga mengoperasikan Su-30MK2 dan sedang mencari kapabilitas rudal jelajah taktis? Kita tunggu saja perkembangannya. [Author: Aryo Nugroho]
 

  ☆ Angkasa  

Minggu, 26 Juni 2016

Pesawat Malaysia Diperingatkan via Radio

TNI Angkatan Udara membenarkan adanya pesawat AU Malaysia yang masuk ke wilayah Indonesia, yaitu Natuna, Kepulauan Riau. Pesawat itu belum terlalu jauh memasuki wilayah NKRI.

"Informasiya itu bukan sampai dicegat di Natuna, tapi pesawat itu memang memasuki wilayah kita, kita hanya memperingati pesawat tersebut bahwa pesawat Anda telah masuki wilayah NKRI," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispen AU) Marsma Wieko Syofyan saat dihubungi detikcom, Minggu (26/6/2016).

"Jadi sebatas itu, setelah itu mereka keluar kembali," sambungnya.

Dijelaskannya, pesawat Malaysia yang melintasi wilayah Indonesia itu adalah pesawat jenis Hercules C-130. Pesawat Indonesia tidak sampai mengudara untuk memperingatkan pesawat Malaysia tersebut.

"Jadi kita melalui komunikasi yang stand by di Natuna, kita hanya memperingati. Iya, betul (komunikasi radio ke pilot)," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Seri Hishamuddin Hussein, mengatakan bahwa pesawat jenis Charlie C-130 itu tengah terbang menuju ke Labuan, Sabah, dari pangkalan udara Subang, ketika dicegat.

"Ya, kami telah menerima informasi bahwa pesawat tersebut dicegat oleh 2 jet Indonesia. Namun, kami belum memiliki detail lengkap terkait hal tersebut," kata Hussein seperti dilansir media Malaysia, The Star, Minggu (26/6/2016).

"Saat ini kami tengah dalam proses meminta laporan lengkap," imbuhnya setelah mendistribusikan 1.000 bubur lambuk kepada pengunjung di bazaar Setiawangsa Ramadan hari ini. Namun dia tidak menyebut secara jelas waktu terjadinya pencegatan tersebut. (idh/dhn)
 

  ☆ detik  

TNI AD Tertarik Dengan Mi 26T2 ?

Perbandingan Mi-26 dan Chinook. [keypublishing.com] ☆

Satu minggu terakhir beragam situs berita online dalam negeri yang membahas mengenai kemiliteran diramaikan dengan pemberitaan bahwa TNI AD tengah tertarik untuk meminang helikopter angkut super berat Mi-26T. Jumlah yang dibeli antara tiga sampai empat unit, atau kurang lebih sama dengan niatan pembelian empat unit CH-47 Chinook yang kabarnya sempat ramai pada tahun lalu.

Sejarah Mi-26 dimulai pada tahun 1971, ketika biro Mil mendapatkan lampu hijau untuk memproduksi helikopter pengganti Mi-6 dan Mi-10. Purwarupa berkode V-29 pertama melakukan terbang perdana pada 14 Desember 1977, dan produksi pertama keluar dari pabrik Rostov-on-Don pada 1980 dan mengundang decak kagum pada saat dipamerkan di Paris Air Salon 1981. Uni Soviet sengaja menjadikan Mi-26 sebagai bahan propaganda, karena heli ini baru masuk dinas aktif pada 1983.

Dari segi dimensi, Mi-26 sangat persis dengan Mi-6 Hook, heli terbesar pertama di dunia yang juga sempat dioperasikan oleh TNI AU tahun 1960-an. Biro desain Mil memang berfokus pada penyempurnaan Mi-6, baik dari segi avionik maupun bentuk. Kapasitas angkutnya sangatlah besar, mencapai 20 ton atau dua kali lipat dari Mi-6.

Dengan ruang kargo lega, beragam alat berat seperti traktor, ekskavator, truk kelas sedang, sampai ranpur BMD-3 dapat ditelan ke dalam perutnya. Yang tidak masuk ke dalam perut Mi-26T tinggal digantung pada sling baja, yang diawasi melalui kamera dari dalam kabin bertekanan. Untuk mengangkut penumpang, tersedia 40 kursi lipat yang menempel ke dinding, dan opsinya bisa dipasang 60 kursi lainnya di baris tengah ruang kargo.

Sumber tenaga Mi-26 berasal dari dua mesin turbin Lotarev D-136 yang menyemburkan daya 11.400shp sebuahnya, yang dikawinkan dengan gearbox khusus berbahan aluminium yang dapat memaksimalkan torsi untuk memutar delapan bilah baling-baling fiberglass dengan titanium untuk ujung-ujungnya. Pada varian terbaru Mi-26T2, mesinnya diganti dengan Ivchenko-Progress/ Motor Sich D-136-2 turboshaft yang sudah dilengkapi FADEC (Full Authority Digital Engine Control) dan output yang meningkat sampai 11.650shp sebuahnya.

Truk militer pun ditelan Mi-26. Sumber gsmbar: youtubeTruk militer pun ditelan Mi-26. [youtube]

Nah, apa implikasinya apabila TNI AD memutuskan membeli Mi-26T? Yang pertama, Mi-26T lebih banyak difungsikan untuk angkut berat dengan aplikasi militer terbatas. Dengan sosok tambun dan besar, helikopter ini merupakan sasaran empuk bagi rudal pencari panas, dan kawalan gunship pun tidak akan menjamin bahwa Mi-26T akan selamat di medan pertempuran.

Artinya, penggunaan Mi-26T akan lebih difokuskan untuk OMSP (Operasi Militer Selain Perang) seperti penanggulangan bencana alam, pemadaman kebakaran hutan atau pembangunan infrastruktur di tempat terpencil. Namun begitu, dengan sosok gambot, persiapan LZ (Landing Zone) di tempat tujuan juga lebih masif dan bisa jadi lebih lama, karena butuh ruang kosong yang luas untuk menampung Mi-26T.

Kedua, dimana Mi-26T mau dipangkalkan? Kondisi Lanumad Ahmad Yani Semarang dan Pondok Cabe sudah sangat crowded karena digunakan bersama untuk penerbangan sipil, yang intensitasnya makin meningkat. Saat ini Terminal baru untuk Bandara Ahmad Yani sedang dibangun Angkasa Pura 1, sementara Pondok Cabe tengah disiapkan untuk operasional ATR-72 Garuda Indonesia.

Dengan sosok sangat gambot dan panjang setara Boeing 737-500, Mi-26 berpotensi bersinggungan dengan slot penerbangan sipil di kedua bandara tersebut, berbeda dengan Bell 412 atau NBO-105 yang masih lebih fleksibel pengaturannya. Satu yang memungkinkan adalah Lanumad Gatot Soebroto di Lampung, tetapi sarana dan prasarana di sana belum selengkap Lanumad Ahmad Yani dan Pondok Cabe.

Terakhir dan berpotensi menjadi hambatan operasional adalah jarak tempuh maksimal yang bisa dicapai Mi-26T yang hanya bisa terbang sejauh 800 km dalam kondisi bahan bakar penuh, atau 1.200 km jika membawa tangki bahan bakar cadangan. Sedikit lebih baik dari Mi-17V5 memang, namun Mi-26T lebih boros dalam menenggak bahan bakar, sekali isi bisa 24.000 liter.

Bandingkan dengan Mi-17V5 yang cukup minum 4.000 liter, sudah termasuk ferry tank. Jadi, untuk isi penuh Mi-26T, akan butuh setidaknya tiga truk tangki Pertamina Aviation kapasitas terbesar (trailer) atau empat truk tangki kapasitas sedang. Apakah bahan bakar sebanyak itu akan tersedia nantinya di lokasi bencana yang akan dituju? Walhuallam. [Author: Aryo Nugroho]
 

  ☆ Angkasa  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...