Minggu, 26 Maret 2017
MRSS Indonesia Jadi Pilihan TLDM
✈️ Multi Role Support Ship
✈️ Tjahjono Yudo menunjukkan replika kapal laut MRSS keluaran Indonesia. [Utusan]
Bukan lagi rahsia betapa Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) sangat berkehendakkan kapal sokongan pelbagai peranan (MRSS) sebagai salah satu daripada elemen transformasi 15 to 5 yang dianggap sebagai langkah efisien dalam mengukuhkan ketumbukan pasukan menjaga perairan negara.
Setelah beberapa negara termasuk Amerika Syarikat (AS) dan China dikhabarkan cuba melobi Malaysia untuk membeli kapal mereka sebelum ini, kebelakangan ini, terdengar khabar mengatakan MRSS dihasilkan syarikat negara jiran, PT PAL Indonesia (Persero) yang menjadi pilihan.
Pengarah Urusan Perancangan Strategik Korporat Persero, Ir. Tjahjono Yudo ketika ditemui mengakui pihaknya sudah pun menjalinkan kerjasama bersama Boustead Naval Shipyard bagi meneliti spesifikasi kapal yang sesuai ditawarkan kepada TLDM.
Kapal MRSS pengajuan dari China [Navy Recognition]
“Setakat ini saya belum boleh memberi maklumat penuh mengenai spesifikasi kapal yang ditawarkan. Namun secara umumnya MRSS yang kami tawarkan adalah kapal versi terkini yang dibangunkan daripada kapal pendarat (LPD), sama seperti kapal perang Republik Indonesia (KRI) Banjamasin dan KRI Banda Aceh”.
“Tentera Laut Filipina membuat dua tempahan kapal ini daripada kami dengan satu daripadanya sudah diserahkan pada Mei 2016 dan satu lagi bakal diselesaikan tahun ini. Saya percaya selaku negara berjiran yang mempunyai keadaan hampir sama, Malaysia juga sesuai memiliki kapal ini,” katanya kepada Utusan Malaysia di sini hari ini.
Sementara itu, sumber dalaman TLDM memaklumkan, pasukan itu sememangnya berhasrat mendapatkan kapal tersebut namun belum ada sebarang keputusan dibuat mengenainya.
“Sejak KD Inderapura terbakar pada 2009, tugas-tugas logistik kebanyakannya diambil alih dua lagi kapal dalam kelas Multi Purpose Command Support Ship (MPCSS) iaitu KD Mahawangsa dan KD Sri Indera Sakti”.
Kapal MRSS pengajuan dari Belanda [Navy Recognition]
“Kedua-dua kapal itu tidak sebesar KD Inderapura dan bebanan tugas berlebihan juga menyebabkan kos penyelenggaraan serta baik pulih meningkat. Jadi, langkah untuk mendapatkan MRSS adalah pilihan terbaik,” katanya.
Selain itu, katanya, kapal tersebut sekiranya dimiliki mampu memberi imej lebih mesra kepada negara ini dalam menjalankan misi-misi kemanusiaan.
“Adakalanya dalam menjalankan misi kemanusiaan, kita terpaksa menggunakan kapal-kapal perang. Jadi kalau kita menggunakan kapal pengangkut seperti ini, keadaannya akan menjadi lebih ‘molek’ dan mesra,” katanya.
✈️ Tjahjono Yudo menunjukkan replika kapal laut MRSS keluaran Indonesia. [Utusan]Bukan lagi rahsia betapa Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) sangat berkehendakkan kapal sokongan pelbagai peranan (MRSS) sebagai salah satu daripada elemen transformasi 15 to 5 yang dianggap sebagai langkah efisien dalam mengukuhkan ketumbukan pasukan menjaga perairan negara.
Setelah beberapa negara termasuk Amerika Syarikat (AS) dan China dikhabarkan cuba melobi Malaysia untuk membeli kapal mereka sebelum ini, kebelakangan ini, terdengar khabar mengatakan MRSS dihasilkan syarikat negara jiran, PT PAL Indonesia (Persero) yang menjadi pilihan.
Pengarah Urusan Perancangan Strategik Korporat Persero, Ir. Tjahjono Yudo ketika ditemui mengakui pihaknya sudah pun menjalinkan kerjasama bersama Boustead Naval Shipyard bagi meneliti spesifikasi kapal yang sesuai ditawarkan kepada TLDM.
Kapal MRSS pengajuan dari China [Navy Recognition]“Setakat ini saya belum boleh memberi maklumat penuh mengenai spesifikasi kapal yang ditawarkan. Namun secara umumnya MRSS yang kami tawarkan adalah kapal versi terkini yang dibangunkan daripada kapal pendarat (LPD), sama seperti kapal perang Republik Indonesia (KRI) Banjamasin dan KRI Banda Aceh”.
“Tentera Laut Filipina membuat dua tempahan kapal ini daripada kami dengan satu daripadanya sudah diserahkan pada Mei 2016 dan satu lagi bakal diselesaikan tahun ini. Saya percaya selaku negara berjiran yang mempunyai keadaan hampir sama, Malaysia juga sesuai memiliki kapal ini,” katanya kepada Utusan Malaysia di sini hari ini.
Sementara itu, sumber dalaman TLDM memaklumkan, pasukan itu sememangnya berhasrat mendapatkan kapal tersebut namun belum ada sebarang keputusan dibuat mengenainya.
“Sejak KD Inderapura terbakar pada 2009, tugas-tugas logistik kebanyakannya diambil alih dua lagi kapal dalam kelas Multi Purpose Command Support Ship (MPCSS) iaitu KD Mahawangsa dan KD Sri Indera Sakti”.
Kapal MRSS pengajuan dari Belanda [Navy Recognition]“Kedua-dua kapal itu tidak sebesar KD Inderapura dan bebanan tugas berlebihan juga menyebabkan kos penyelenggaraan serta baik pulih meningkat. Jadi, langkah untuk mendapatkan MRSS adalah pilihan terbaik,” katanya.
Selain itu, katanya, kapal tersebut sekiranya dimiliki mampu memberi imej lebih mesra kepada negara ini dalam menjalankan misi-misi kemanusiaan.
“Adakalanya dalam menjalankan misi kemanusiaan, kita terpaksa menggunakan kapal-kapal perang. Jadi kalau kita menggunakan kapal pengangkut seperti ini, keadaannya akan menjadi lebih ‘molek’ dan mesra,” katanya.
[Dunia] Kapal Induk Baru Jepang
Jepang meluncurkan kapal induk helikopter kedua yang diberi nama "Kaga." Bersama kapal induk serupa, "Izumo," Jepang kini memiliki dua kapal perang yang menggandakan daya tempur negeri pasifis tersebut.
Alat Perang Pasifisme
Raksasa samudera sepanjang 248 meter ini diluncurkan dari sebuah galangan kapal di Yokohama. Setidaknya 520 serdadu akan ditempatkan pada kapal induk helikopter tersebut. Sejak Perang Dunia II konstitusi Jepang yang menganut ideologi Pasifisme sebenarnya melarang keberadaan angkatan bersenjata. Sebab itu militer Jepang menyebut diri sebagai “Angkatan Pertahanan.”
Duet Kaga dan Izumo
Proses pengerjaan kapal “Kaga” dan “Izumo” berlangsung selama delapan tahun. Kedua kapal induk helikopter itu digerakkan oleh mesin Diesel. Menurut media pemerintah di Tokyo membayar 1,2 miliar Dollar AS atau sekitar 16 triliun Rupiah. “Kaga” diambil dari nama provinsi Jepang di pulau Honshu.
Kapal Perang buat Tujuan “Kemanusiaan”
Dengan dua kapal induk tersebut Jepang mengaku ingin meningkatkan kapasitas dan daya angkut personal atau barang bantuan kemanusiaan, seperti untuk bencana alam. “Kami bisa menyumbang lebih banyak untuk kegiatan humaniter,” kata Menteri Pertahanan Takayuki Kobayashi.
Kaga n Izumo [Eiji Hori]
Kapal Multiguna
Landasan pacu Kaga memungkinkan lima helikopter untuk mendarat atau terbang pada waktu yang bersamaan. Meski berstatus kapal induk helikopter, sejumlah pakar militer meyakini landasan pacu Kaga juga didesain agar bisa menampung jet tempur termutakhir.
Ancaman Cina
Kaga dan Izumo masing-masing bisa menampung 28 helikopter berukuran sedang atau 14 helikopter berukuran besar. Termasuk dalam sistem pertahanan adalah 7 helikopter yang didesain khusus untuk menghancurkan kapal selam. Fitur tersebut dianggap mendesak untuk mendeteksi kapal selam Cina dengan lebih efektif.
Berdesain Ganda
Tahun 2010 Forecast International melaporkan sejumlah fitur desain Kaga mampu menampung pesawat tiltrotor sayap tinggi V-22 Osprey atau bahkan jet tempur generasi kelima AS, F-35 Lightning II. Sifatnya yang tidak membutuhkan landasan pacu yang panjang dan mampu mendarat secara vertikal membuat F-35 cocok untuk dioperasikan di atas Kaga.
Bayang Gelap Sejarah
Namun begitu pemilihan nama “Kaga” dianggap kontoversial. Pasalnya nama serupa pernah digunakan untuk kapal induk Jepang yang mulai aktif sejak 1928 dan terlibat dalam serangan Pearl Harbor. Kapal tersebut dikaramkan militer AS pada Perang Midway, Juni 1942.
Alat Perang PasifismeRaksasa samudera sepanjang 248 meter ini diluncurkan dari sebuah galangan kapal di Yokohama. Setidaknya 520 serdadu akan ditempatkan pada kapal induk helikopter tersebut. Sejak Perang Dunia II konstitusi Jepang yang menganut ideologi Pasifisme sebenarnya melarang keberadaan angkatan bersenjata. Sebab itu militer Jepang menyebut diri sebagai “Angkatan Pertahanan.”
Duet Kaga dan Izumo
Proses pengerjaan kapal “Kaga” dan “Izumo” berlangsung selama delapan tahun. Kedua kapal induk helikopter itu digerakkan oleh mesin Diesel. Menurut media pemerintah di Tokyo membayar 1,2 miliar Dollar AS atau sekitar 16 triliun Rupiah. “Kaga” diambil dari nama provinsi Jepang di pulau Honshu.
Kapal Perang buat Tujuan “Kemanusiaan”
Dengan dua kapal induk tersebut Jepang mengaku ingin meningkatkan kapasitas dan daya angkut personal atau barang bantuan kemanusiaan, seperti untuk bencana alam. “Kami bisa menyumbang lebih banyak untuk kegiatan humaniter,” kata Menteri Pertahanan Takayuki Kobayashi.
Kaga n Izumo [Eiji Hori]Kapal Multiguna
Landasan pacu Kaga memungkinkan lima helikopter untuk mendarat atau terbang pada waktu yang bersamaan. Meski berstatus kapal induk helikopter, sejumlah pakar militer meyakini landasan pacu Kaga juga didesain agar bisa menampung jet tempur termutakhir.
Ancaman Cina
Kaga dan Izumo masing-masing bisa menampung 28 helikopter berukuran sedang atau 14 helikopter berukuran besar. Termasuk dalam sistem pertahanan adalah 7 helikopter yang didesain khusus untuk menghancurkan kapal selam. Fitur tersebut dianggap mendesak untuk mendeteksi kapal selam Cina dengan lebih efektif.
Berdesain Ganda
Tahun 2010 Forecast International melaporkan sejumlah fitur desain Kaga mampu menampung pesawat tiltrotor sayap tinggi V-22 Osprey atau bahkan jet tempur generasi kelima AS, F-35 Lightning II. Sifatnya yang tidak membutuhkan landasan pacu yang panjang dan mampu mendarat secara vertikal membuat F-35 cocok untuk dioperasikan di atas Kaga.
Bayang Gelap Sejarah
Namun begitu pemilihan nama “Kaga” dianggap kontoversial. Pasalnya nama serupa pernah digunakan untuk kapal induk Jepang yang mulai aktif sejak 1928 dan terlibat dalam serangan Pearl Harbor. Kapal tersebut dikaramkan militer AS pada Perang Midway, Juni 1942.
★ dw
Delapan Apache Siap Perkuat Skadron 11 Penerbad
Apache n Hind [TNI] ○Delapan Heli Apache akan segera diterima Skadron 11 Penerbad Semarang. Pengiriman pesawat canggih buatan Amerika tersebut akan dilakukan dua tahap, dengan tahap pertama sebanyak tiga unit akan diterima November, sedang lima unit sisanya pada tahun 2018. Hal tersebut diungkapkan Wadanpuspenerbad Brigjen TNI Eko Susetyo usai menerima kunjungan kerja Komisi I DPR RI di Skadron 11/ Serbu, Penerbad Semarang, Jumat (24/3).
“Heli Apache akan kita terima sebanyak delapan unit yang akan dikirim bertahap. Ini menjadi alutsista penerbad dengan teknologi tercanggih dan terbaru. Untuk itu kita telah melakukan persiapan, baik untuk kemampuan pilot menerbangkannya maupun dalam perawatannya. Sejumlah personil pilot sudah kami kirim untuk mengikuti training di Amerika. Apache ini akan menjadi kekuatan baru yang menunjang tugas Penerbad yang bisa digunakan dalam tugas heli serang, patrol perbatasan atau dilibatkan dalam pengamanan laut maupun ilegal fishing,” jelasnya.
Dalam menerima Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari bersama rombongan, Wadanpuspenerbad berharap masalah anggaran pemeliharaan alutsista Penerbad harus diperhatikan. Menurutnya sebagai satuan yang memiliki kekuatan 91 heli berupa heli latih, serang, serbu dan angkut. Penerbad membutuhkan anggaran sangat besar untuk perawatan serta menjaga profesionalisme personil yang di sekolahkan/ training untuk menambah keilmuannya dalam bidangnya masing-masing.
Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengatakan dalam kunjungannya Komisi I DPR RI ingin melihat lebih dekat seperti kondisi alutsista di Penerbad dan seberapa banyak kendala yang dihadapi.
“Ternyata Penerbad ada 91 heli yang butuh maintenance yang sangat besar. Mereka melakukan perawatan sendiri karena kalau dilakukan pihak outsourcing akan terlalu mahal biayanya. Kita akan dorong anggaran untuk mendukung tugas penerbad dalam rangka meningkatkan profesionalisme SDM dan maintenance alutsista.”
“Kami juga mendukung pembaharuan alutsista untuk menunjang tugas Penerbad . Ini sangat penting diperjuangkan karena sebagai Negara kepulauan, kehadiran satuan penerbad sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan seperti pergeseran patok wilayah, illegal fishing, mengantisipasi penyelundupan melalui patrol udara,” tandasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)