Komandan Gugus Keamanan Laut Koarmatim (Danguskamlatim) Laksamana Pertama (Laksma) TNI I.N.G. Sudihartawan, S.Pi., mewakili Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H.,M.A.P., menghadiri acara pelepasan pelayaran Latihan Praktek Navigasi dan Astronomi Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Tingkat II Korps Pelaut Angkatan 64 tahun 2017, yang dilepas langsung oleh Gubernur AAL Laksda TNI Wuspo Lukito, S.E., M.M., di Dermaga Madura Barat, Koarmatim Ujung Surabaya. Senin, (17/04/2017).
Kapal Latih TNI AL yakni KRI Dewaruci dibawah kendali Satuan Kapal Bantu (Satban) Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) dengan Komandan KRI Letkol Laut (P) Rahadian. R. M.Tr (Han). Taruna AAL yang mengikuti Lattek berjumlah 41 orang terdiri dari Taruna AAL berjumlah 34 orang dan Taruni AAL berjumlah 7 orang, sedangkan sebagai Perwira pelaksana latihan (Palaklat) adalah Letkol Laut (P) Cahya Indra. Kegiatan Lattek ini dilaksanakan selama 10 hari dengan rute Surabaya – Lampung.
Hadir dalam pelepasan KRI Dewaruci diantaranya, Komandan Satuan Kapal Bantu (Dansatban) Koarmatim Kolonel Laut (P) Singgih Sugiarto, S.T., dan Pejabat Utama AAL
Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan kerja Duta Besar (Dubes) Bangladesh untuk Indonesia HE. Major General Azmal Kabir, Selasa (18/4), di Jakarta, yang menyatakan keinginan negaranya untuk lebih meningkatkan kerja sama dengan Indonesia khususnya Bidang Pertahanan.
Sejumlah bentuk kerja sama yang dimaksud antara lain Pertukaran Perwira, untuk mengikuti pendidikan setingkat Sesko dan Lemhanas, kemudian penempatan Atase Pertahanan (Athan) di kedua negara, Latihan bersama Pasukan Komando, Penyiapan Pasukan Penjaga Perdamaian yang tergabung dalam PBB serta Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Selain itu, Dubes Bangladesh juga menyampaikan ketertarikan negaranya untuk membeli sejumlah perlatan tempur Produksi Industri Pertahanan Indonesia, baik untuk Matra Darat, Laut maupun Udara.
Menanggapi keinginan Bangladesh, Menhan menyambut baik dan menyatakan akan mengakomodir semua keinginan Bangladesh, serta mempersilahkan untuk mengunjungi Industri Pertahanan Indonesia, diantaranya PT Pindad, PTDI dan PT PAL. (BND/SSI)
Pengalaman perang dan embargo membuat Iran punya kemandirian.
Kolonel Shahryar Dasin (kiri), Atase Pertahanan Kedutaan Besar Iran, bersama Laksamana Muda Arusukmono Indra Sucahyo (tengah), Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut dan Duta Besar Iran (VIVA/Renne Kawilarang) ●
Iran siap mengembangkan kerja sama militer dan keamanan dengan Indonesia. Termasuk menawarkan persenjataan militer dan kemampuan di bidang keamanan siber. Demikian diungkapkan Kolonel Shahryar Dasin, Atase Pertahanan Kedutaan Besar Iran di Jakarta.
"Kami siap menawarkan kerja sama jual beli persenjataan dengan Indonesia. Persenjataan apa yang kami tawarkan, tergantung pada kebutuhan Pemerintah Indonesia," kata Dasin dalam acara perayaan Hari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di Jakarta, Senin malam 17 April 2017.
Dasin mengungkapkan bahwa pengalaman perang delapan tahun pada dekade 1980-an dan menghadapi tekanan embargo dari negara-negara besar, telah membuat Iran menjadi bangsa yang mandiri. Termasuk dalam memproduksi sendiri alat-alat pertahanan tanpa bergantung pada negara-negara lain.
Dasin pun memberi contoh bahwa beberapa tahun terakhir, Sistem Pertahanan Udara Iran mampu menghadapi semua gangguan udara. "Ini menjadikan ruang udara Iran tidak dapat dilalui jika terancam oleh agresi apapun," ujar Dasin.
Selain itu, Iran tidak hanya swasembada produksi kapal, kapal selam, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan, melainkan juga telah membuktikan kehadiran kuat di perairan internasional, membantu memerangi terorisme dan pembajakan serta mengamankan lintas perkapalan bersama angkatan laut lainnya di laut lepas.
"Iran juga memproduksi berbagai pesawat terbang, seperti pesawat tempur, transportasi dan pelatihan, berbagai jenis rudal, perlengkapan keselamatan elektronik, perlengkapan laser, dan juga menghasilkan bagian-bagian rumit pesawat tempur dan bomber," kata Dasin, dalam acara yang juga dihadiri oleh Laksamana Muda Arusukmono Indra Sucahyo , Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut, dan para perwira militer lainnya dari sejumlah negara.
Pada kesempatan yang sama, Dasin menawarkan kesiapan Iran dalam kerja sama keamanan dengan Indonesia, terutama dalam keamanan siber.
"Kami sudah bertahun-tahun berpengalaman menangani keamanan siber melalui badan khusus. Iran bisa berbagi pengalaman dan kemampuan dengan Indonesia dalam keamanan siber," ujar Dasin.
Menurut dia, pejabat militer kedua negara percaya bahwa kerja sama militer bilateral selanjutnya harus ditingkatkan bersama dengan berkembangnya hubungan politik dan ekonomi Indonesia dan Iran.
Panser Andalan Yonkav 7 yang Kenyang Perang
Panser V-150 Commando TNI AD [kaskus] ★
Biarpun TNI AD terus mendatangkan beragam jenis panser baru untuk mencapai kekuatan esensial minimum, panser beroda ban V-150 yang menjadi tulang punggung Batalyon Kavaleri 7 Sersus (Panser Khusus) masih belum terdengar akan diganti.
Panser yang kenyang akan asam garam pertempuran ini sudah mencicipi perang di Timor-timur, Aceh, dan Papua. Seluruh trouble spot di dalam negeri sudah mendapat ‘sentuhan’ garangnya panser yang sering disebut ‘mobil setan’ oleh awaknya ini.
V-150 sendiri merupakan hasil pengembangan dan kawin silang dari panser V-100 dan V-200 buatan perusahaan Cadillac Gage.
V-100 dibeli oleh Polisi Militer AD AS untuk kendaraan pengaman konvoi di Vietnam. Sedangkan V-200 adalah model ekspor yang ditawarkan sebagai produk militer komersial.
V-150 menjadi model tengah yang memanfaatkan desain V-100 dengan mesin dan transmisi yang lebih bertenaga.
Panser V-150 dipersiapkan untuk kontingen Garuda [kaskus]
Desain lambungnya sudah mengadopsi V-hull yang antiranjau membuatnya tahan dari ledakan ranjau yang sudah dibuktikan tidak hanya sekali-dua kali oleh prajurit Kavaleri TNI AD.
Uniknya, kisah pembelian V-150 sendiri justru berasal dari inisiatif Kolonel (Polisi) Jusuf Chuseinsaputra saat berkunjung ke Amerika Serikat (AS) pada tahun 1970-an.
Saat itu ia sedang mencari panser pengganti M8 Greyhound milik Brimob. Dalam kunjungannya ia meminta dicarikan informasi terkait panser V150 buatan Cadillac Gage. Informasi tersebut kemudian dibawa kembali ke Indonesia.
Panglima ABRI saat itu, Jenderal M. Panggabean, tertarik pada V-150 karena harganya yang terjangkau. TNI AD saat itu juga mempertimbangkan panser roda rantai M113 yang berjaya di Vietnam, tetapi harganya waktu itu terlalu mahal.
Pemerintah Indonesia pun melakukan pendekatan intensif ke AS agar diijinkan untuk dapat membeli V-150. Presiden Soeharto pun melakukan pendekatan khusus kepada Menlu AS Henry Kissinger. Jenderal M. Panggabean juga terus bernegosiasi dengan Dubes AS untuk Indonesia David Newsom.
Panser V-150 commando [chosun]
Hasilnya, AS setuju untuk mendanai melalui program pembiayaan FMS (Foreign Military Sales) di tahun anggaran 1974 yang berbunga lunak.
Cadillac Gage kemudian menunjuk PT. Sunda Karya sebagai agen di Indonesia untuk mengurus administrasi dan menjadi penghubung dengan TNI AD.
Biaya yang dibutuhkan untuk membeli V-150 seluruhnya bernilai USD 7,9 juta. Pemerintah AS setuju jumlah total V-150 yang dibeli oleh TNI AD adalah 58 unit.
Jumlah ini cukup untuk menjadi modal membentuk satu Batalyon, dalam hal ini Yonkav 7 Sersus yang berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur.
Dari total 58 unit, 46 unit di antaranya adalah varian dengan kubah sederhana yang bersenjatakan dua pucuk senapan mesin M60. Sementara 12 unit sisanya tampil dengan kubah yang mengusung kanon 90mm L28 Mecar gun yang merupakan kanon dengan alur (rifled).
Kanon 90 mm ini merupakan kanon bertekanan rendah. Performanya mirip dengan kanon Cockerill MkIII yang kemudian mempersenjatai tank ringan Scorpion 90.
Panser V-150 Commando [spieloplus]
Uniknya, pemerintah AS bertindak selaku end user yang mewakili pemerintah Indonesia dalam proses sertifikasi kubah dan kanon Mecar yang dibeli dari Belgia.
Dari total 58 unit itu, empat unit dialokasikan untuk satuan Paspampres sebagai kendaraan escape Presiden Soeharto dan keluarga dalam kondisi darurat.
Pemindahan ke istana ini dilakukan secara diam-diam. Pasalnya, AS secara eksplisit tidak setuju apabila V-150 digunakan menjaga istana. Mereka khawatir panser itu akan digunakan untuk menembaki massa apabila terjadi demonstrasi terhadap pemerintah.
V-150 mulai dikapalkan dari AS ke Indonesia pada tahun 1975. Penampilan perdana V-150 di depan publik terjadi dalam parade hari ABRI 5 Oktober 1976.
Saat itu V-150 bergabung dengan sejumlah alutsista lain yang juga baru diperkenalkan ke publik, seperti OV-10 Bronco, Fokker F-27 Troopship, dan CASA-212.
Tak lama setelahhnya, V-150 pun dikapalkan ke Timor-timur untuk melaksanakan misi tempur menumpas Fretilin. Palagan Timor-Timur inilah yang menjadi pembuka lembaran awal sejarah panjang kiprah V-150 di Indonesia.
Ilustrasi Bakamla ★
Bakamla RI kedatangan tamu kehormatan dari Australia. Delegasi dari Australian Border Force (ABF) melakukan kunjungan bilateral dengan Bakamla RI. Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Ari Soedewo, S.E., M.H. beserta jajarannya menerima delegasi Australia, di ruang Tamu Kepala Bakamla RI, Kantor Pusat Bakamla RI, Jl. Dr. Sutomo No. 11, Jakarta Pusat, Kamis (13/4).
Maksud kedatangan delegasi Australia adalah untuk membahas kelanjutan kerja sama antara Pemerintah Australia yang diwakili oleh ABF dengan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Bakamla RI. Fokus kerja sama meliputi bidang pengembangan kapasitas personel dengan melakukan pelatihan bersama dan kegiatan diskusi bersama yang juga turut mengundang beberapa negara anggota kawasan. Tidak hanya itu, kegiatan operasi bersama juga akan dilakukan di tahun ini.
Delegasi dari Australia dipimpin oleh Regional Director Southeast Asia, Department of Immigration and Border Protection, Commander Chris Waters; First Secretary (Indonesia, Singapore and Timor-Leste), Inspector Jeffrey Thompson; dan Project Officer, Karl Brandt.
Lebih lanjut, pendamping Kepala Bakamla RI dalam pertemuan ini antara lain Sestama Bakamla RI Laksamana Muda TNI Agus Setiadji, S.AP., Deputi Operasi dan Latihan Bakamla RI Laksamana Muda TNI Andi Achdar, Plt. Deputi Kebijakan dan Strategi Bakamla RI Brigjen Pol. Drs. Arifin, M.H., Plt. Deputi Informasi Hukum dan Kerjasama Bakamla RI Brigjen Pol. Dr. Drs. Abdul Gofur, S.H.,M.H., Direktur Latihan Laksamana TNI Muspin Santoso, S.H., M.Si., (Han)., Kepala Pusat Informasi Maritim Kolonel Laut (P) Berkat Widjanarko, S.E. dan Kasubdit Kerja Sama Luar Negeri Satya Pratama, S.Sos., M.Sc.
Pertemuan ini menghasilkan keputusan untuk terus melanjutkan kerja sama yang telah berlangsung, bahkan kedua instansi berkomitmen untuk melakukan peningkatan kualitas dari kerja sama yang akan dijalani. Saat ini kedua instansi sedang mempersiapkan kegiatan bersama yang rencananya akan bertempat di Manado pada awal bulan April 2017.