Selasa, 31 Oktober 2017

Indonesia Selects NASAMS Air Defence System

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8fwByg8woeAgGVAGP-Ouu5kRMu_8RTzMq9Kf2LG2YLmgPEXPoh_6ZtNfo8Du0Ulqh4EJo7wqJOleQTrOtqWp6JjSLiLM5miRl9Q4kkTpI7w6uXV-ZUv62b4Re1YlwAmTFGCxDuu1kcnDN/s400/nasams.jpgNASAMS air defence system [Kongsberg] ☆

KONGSBERG has signed a contract worth 77 MUSD with the Ministry of Defence of Indonesia to supply a NASAMS air defence system.

The contract comprise delivery of a complete NASAMS system with command posts, radars, launchers, radios and integration, and training and logistics support. AMRAAM missiles will be provided in a separate government-to-government agreement between Indonesia and the United States.

NASAMS defends high value civilian and military assets on the ground against air threats. The inherent flexibility and modularity of NASAMS makes it a world leading solution with unique capabilities to combat modern airborne threats, as well as having the ability to integrate with a variety of different sensors and weapons. Several nations have chosen NASAMS, including Norway, Finland, The Netherlands, USA, Spain, Oman and now Indonesia.

“We are very pleased that Indonesia, as the first nation in its region, chooses NASAMS for its homeland defence. The continuous technical evolution and addition of users confirms that NASAMS is the most modern and advanced air defense system in the world,” says Eirik Lie, President of Kongsberg Defence & Aerospace.

  ★ Kongsberg  

Panglima TNI Berharap KRI I Gusti Ngurah Rai Perkuat Poros Maritim

PKR Pekuat Poros Maritim https://www.hobbymiliter.com/wp-content/uploads/2016/09/14441175_1029537310496259_8741495531757610067_n.jpgPKR ke-2 KRI I Gusti Ngurah Rai 332 ☆

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berharap, Kapal perang I Gusti Ngurah Rai-332 (KRI GNR-332) mampu memperkuat poros maritim Indonesia.

Dikutip dari siaran pers Kementerian Pertahanan, Kapal perang I Gusti Ngurah Rai-332 resmi diserahterimakan dari perusahaan kapal Belanda, Damen Schelde Naval Ship Building (DSNS), kepada TNI AL, di Surabaya, Senin (30/10/2017).

"Saya berharap Indonesia akan lebih kuat lagi poros maritimnya. Jadi ada 4 kapal yang akan dibuat, ini yang kedua yang sudah dibuat," ujar Gatot, di Markas Yonkav VII/Sersus, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (31/10/2017).

Gatot mengungkapkan bahwa ia telah memerintahkan Kepala Staf TNI AL Laksamana Ade Supandi berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan agar industri dalam produksi selanjutnya dikerjakan secara mandiri.

Menurut Gatot, berdasarkan UU No 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, maka PT PAL harus mampu memproduksi kapal perang yang ketiga secara mandiri.

"Nah sekarang saya perintahkan kepada KSAL berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan bahwa yang ketiga nanti kita harusnya sudah mengacu pada UU No 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan sehingga mewujudkan kemandirian. Minimal yang ketiga (KRI) bisa 40 persen, yang keempat bisa 100 persen. Kita mengacu pada UU itu tadi," kata Gatot.

Berdasarkan keterangan pers Kementerian Pertahanan, KRI GNR-332 merupakan jenis kapal Perusak Kawal Rudal (PKR).

KRI tersebut memiliki panjang 105,11 meter, lebar 14,02 meter dan berbobot 3.216 ton. Kecepatan maksimal mencapai 28 knot dan mampu menampung 120 kru.

KRI GNR-332 disebut mampu melakukan perang di empat matra sekaligus. Yakni, perang permukaan sesama kapal perang, perang bawah air melawan kapal selam, perang udara pesawat tempur dan perang elektronika.

Selain itu, kapal ini juga mampu membajak sistem persenjataan dan kendali dari kapal perang musuh.

Beberapa persenjataan yang dimiliki KRI ini diantaranya adalah meriam utama OTO Melara 76/62 mm super rapid gun, rudal SSM Exocet MM40 Block 3 yang jarak jangkauannya mencapai 180-200 km.

KRI GNR-332 juga memiliki rudal SAM Anti Serangan Udara Mica yang dirancang bisa dioperasikan dalam waktu singkat, di segala cuaca, serta memiliki jarak jangkauan 20-25 km dan dilengkapi dengan Terma SKWS Decoy Launching System.

Sistem persenjataan lainnya yakni torpedo AKS A-244S, yang merupakan torpedo jenis ringan berpandu yang memiliki kemampuan khusus untuk mengincar sasaran di perairan laut dangkal dan Meriam Close In Weapon System (CIWS) Millenium Gun 35mm yang berfungsi menangkis serangan udara dan ancaman permukaan jarak dekat.

Agar tak mudah terdeteksi, KRI ini juga memiliki mode siluman atau stealth. Teknologi yang melengkapinya antara lain infra red signature dan low noise signature yang menjadikan kapal sulit terdeteksi oleh radar kapal lain.

  ★ Kompas  

Indonesia’s Su-35 Fighter jet Purchase Finalized With 85% Offsets

http://rostec.ru/content/cache/inner_article/content/files/%D0%BD%D0%BE%D0%B2%D0%B0%D1%8F%20%D0%BF%D0%B0%D0%BF%D0%BA%D0%B0%201/su-35_24807_1.jpgSu-35 fighter jet [Image by Rostec] ☆

Indonesia has finalized the purchase of 11 Su-35 fighter jets with 85% offsets which includes 50% commodity exports to Russia and 35% in aircraft maintenance, repair and overhaul (MRO) of the $1.1 billion deal.

"It has been decided by our cabinet to finalize the procurement of 11 Sukhoi Su-35 fighter jets. This is a remarkable effort of our defense minister, Russian state-owned firm Rostec, and PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI), as they have now agreed to invest," the Indonesian Investment Coordinating Board (BKPM) Chief, Thomas Lembong, said in Jakarta Monday, according to Antara News.

Russia would invest in aircraft maintenance, repair and overhaul (MRO) industry for Sukhoi jet fighters that were purchased by Indonesia, the BKPM chief said.

He stated that the law on defense and law on defense industry have stipulated the requirement of minimum 85 percent offset for each purchase of defense equipment, which means that the expense from the states funding should be returned through trade and investment activities.

"Of the total 85 percent of the procurement, 50 percent would be paid in barter trade(commodity exports) and the remaining 35 percent with investment contract," he elaborated. The total procurement of the jet fighters is amounted at US$1.145 billion.

The Trade Ministry has appointed PPI and Rostec to undertake the barter trade. Indonesia would send some commodities, including rubber and palm oil.

"Their investment value is 35 percent of the total $1.145 billion in order to build a spare part factory for the MRO industry," he continued.

He added that the jet fighter procurement would be finalized by the Defense Ministry.

"BKPM and Trade Ministry will follow." The barter trade deal of SU-35 between Indonesia and Russia was signed on Aug 10.

  ★ Defense World  

Senin, 30 Oktober 2017

[Video] Peresmian KRI I Gusti Ngurah Rai-332

⚓️ Liputan CNN Kekuatan alat perang TNI Angkatan Laut bertambah, setelah PT PAL Indonesia, kembali menyerahkan kapal perang buatan dalam negeri ke TNI Angkatan Laut. Kapal perang jenis perusak kawal rudal (PKRI), Gusti Ngurah Rai ini, merupakan kapal kedua yang diserahkan ke TNI AL.



  ⚓️ Youtube  

Menhan Resmikan Kapal PKR-2

⚓️ Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR), KRI I Gusti Ngurah Rai-332 Sejumlah personel TNI Angkatan Laut berbaris di samping kapal KRI I Gusti Ngurah Rai-332 saat upacara penyerahan kapal itu di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/10/2017). Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) buatan PT PAL Indonesia pesanan TNI Angkatan Laut itu untuk menambah kekuatan armada laut dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. [ANTARA FOTO/Didik Suhartono]

Dalam rangka untuk mewujudkan kekuatan pokok minimal atau Minimum Essential Force (MEF) dan membangun kekuatan TNI AL menuju world class navy, Menhan RI Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo selaku wakil pemerintah Indonesia menyaksikan serah terima Kapal Perusak Kawal Rudal Kedua (PKR-2), di galangan kapal PT PAL Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/10).

Kapal PKR-2 ini merupakan hasil kerjasama Belanda dengan PT PAL Indonesia (Persero) melalui proses alih teknologi atau Transfer of Technology (ToT).

Kapal berteknologi canggih ini akan memperkuat jajaran TNI AL berdasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas pertahanan baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Dalam kesempatan tersebut Menhan berharap keberadaan Kapal PKR-2 ini dapat menjadi kebanggaan TNI AL khususnya serta TNI dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dengan hadirnya kapal PKR-2 ini diharapkan dapat dioperasionalkan secara optimal termasuk dalam mengatur sistem pemeliharaan dan perawatannya sebagai pertanggungjawaban kita kepada rakyat Indonesia.

 Sekilas tentang Kapal PKR-2 

Pembangunan Kapal PKR dengan program ToT ini menyerap kurang lebih 200 personel PT PAL Indonesia (Persero) dari berbagai disiplin ilmu dimana 75 orang diantaranya telah mendapat pelatihan di Damen Schelde-Vlisingen Belanda. Kapal perang atas air yang pertama kali dibangun di Indonesia ini dibangun dengan menggunakan sistem pembangunan “Moduler System”.

Sistem pembangunan PKR ke-2 ini mengusung “One Team One Goal” yaitu dua galangan dari dua negara bersatu padu untuk menerobos semua tantangan dan rintangan, menjadi sebuah potensi kesuksesan guna terwujudnya produk yang handal dan berkualitas. Kapal ini memiliki panjang 105.11 meter, lebar 14.2 meter dengan kecepatan 28 knot dan dapat belayar sampai 5000 nm dengan ketahanan berlayar sampai 20 hari. Kapal ini juga dilengkapi dengan persenjataan modern yang terintegrasi dalam sistem Sensor Weapon Control (Sewaco).

Selain itu desain stealth yang dimiliki yakni low radar cross section, low infrared signature, low noise signature menjadikan kapal PKR sulit terdeteksi oleh radar kapal lain. Kapal PKR ini juga mampu melakukan peperangan permukaan laut, udara, bawah air serta elektronika.

  ⚓️ Kemhan  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...