Selasa, 11 September 2018

Su-35 Rusia Dinilai Kalahkan Jet F-35

Menhan Australia Tak Terima Ilustrasi dogfight

Menteri Pertahanan (menhan) baru Australia Christopher Pyne tak terima jet tempur F-35 yang baru dibeli dikritik kalah cepat oleh jet tempur Su-35 Rusia. Pyne mengatakan, dia memiliki 100 persen keyakinan bahwa jet tempur kebanggan NATO itu merupakan senjata paling mematikan di dunia.

Komentar menteri itu sebagai tanggapan atas kritik dari jurnalis bisnis veteran Robert Gottliebsen, dan mantan pilot pesawat Angkatan Udara Australia (RAAF) Peter Goon.

Australia membayar sekitar 17 miliar dolar untuk memperoleh 72 unit pesawat tempur produksi Lockheed Martin Amerika Serikat (AS) tersebut.

Goon mengatakan, dia telah melakukan simulasi yang menunjukkan jet tempur baru Rusia yang dibeli China bisa overfly dan melesat lebih cepat dari jet tempur Australia. Menurut Goon, jet tempur buatan Rusia bisa digunakan untuk meluncurkan serangan pengeboman di Darwin atau pangkalan Tindal di Northern Territory.

Sedangkan Gottliebsen pada pekan ini meluncurkan kritik pedas terhadap pertahanan Australia yang dia sebut melakukan penyembunyian besar-besaran tentang jet tempurnya. Menurutnya, jet tempur Australia telah usang oleh pesawat baru Rusia dan China yang bisa terbang lebih cepat dan lebih tinggi.

Pyne membantah keras klaim tersebut.

"Setiap saran yang saya terima, setiap briefing, dari kepala Angkatan Udara ke penerbang yang menerbangkan F-35A telah disepakati bahwa platform ini adalah yang paling mematikan dan dapat dioperasikan dengan platform lain di ruang pertempuran yang sama di dunia," katanya.

Pyne mengatakan, kritik tersebut tidak memiliki akses ke semua informasi yang tersedia untuk pemerintah.

"Saya tentu saja tidak bermaksud untuk memberikan saran di bawah pendapat orang-orang yang tidak mengetahui rahasia tingkat pembagian intelijen yang sama dengan pemimpin yang memberi nasihat kepada pemerintah Australia," ujarnya, seperti dikutip dari The Australian, Rabu (5/9/2018).

Goon, yang bertugas di RAAF selama 15 tahun, mengajukan diagram yang menunjukkan apa yang dia yakini akan terjadi jika jet tempur Sukhoi Su-35 yang baru-baru ini diakuisisi oleh China diadu dengan aset udara utama Australia, termasuk pesawat tempur F-35 dalam pertempuran di Laut Timor.

Skenario ini melibatkan F-35 dan F-18 Hornet Australia yang dikerahkan dalam peran defensif, dan didukung oleh pesawat peringatan dini Wedgetail dan pesawat tanker pengisian bahan bakar sebagai bagian dari kekuatan untuk menggagalkan serangan oleh jet tempur Sukhoi Su-35s Flanker.

Goon mengatakan Flanker akan "supercruise" di sekitar Mach 1,8 tanpa menggunakan afterburner mereka dan pada ketinggian sekitar 55.000 kaki (16.700 m) jauh di atas F-35 dan F-18 Hornet yang harus berada sekitar 30.000-35.000 kaki (10.670m).

"F-35 mungkin bisa menembakkan rudal ke Flanker, tetapi mereka (pilot Flanker) hanya akan bersendawa di afterburner mereka dan berlari lebih cepat dari rudal, yang akan semakin lambat saat mereka naik ke ketinggian Flanker," kata Goon.

Goon mengatakan Flanker kemudian akan menembakkan rudal mereka terhadap pesawat Australia. "Kenyataannya adalah mereka dapat menembakkan rudal dari tingkat tinggi, yang berarti mereka melemparkan tombak mereka dari puncak punggungan ke lembah sementara kami mencoba untuk menembak dari lembah ke punggungan," katanya.

Goon menambahkan, setelah jet Rusia berhasil melewati F-35, mereka bisa mengambil pesawat tanker pengisian bahan bakar

Seorang juru bicara Lockheed Martin mengatakan F-35 adalah kekuatan multiplier yang menyediakan kesadaran situasional lengkap untuk pilot dan di seluruh pasukan operasi yang secara signifikan meningkatkan kemampuan platform berbasis udara dan darat.

Menurutnya, sistem sensor dan komunikasi canggih dan sangat terintegrasi memberi pilot keunggulan perang yang unggul atas musuh.


  ★ sindonews  

KRI Rencong-622 Terbakar di Sorong Papua Barat

[tangerangonline.]

KRI Rencong-622 terbakar di Sorong, Papua Barat, sekitar pukul 07.00 WIT. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa terbakar tersebut.

"Telah terjadi kebakaran pada KRI Rencong-622 yang sedang melaksanakan Operasi BKO Gugus Keamanan Laut (Guskamla) III, Selasa pagi (11/9), di sekitar perairan Sorong kurang lebih 20 mil dari Dermaga Komando Armada III," tulis siaran pers Dispen TNI AL, Selasa (11/9/2018).

Kebakaran ini terjadi pada saat KRI bergerak dari laut menuju dermaga umum Sorong untuk melaksanakan bekal ulang air tawar di Pelabuhan Sorong. Api diduga berasal dari ruang gas turbin (GT).

"Merespon kondisi tersebut, prajurit KRI langsung melaksanakan peran kebakaran, setelah ditangani oleh Tim PEK KRI Rencong-622 api tetap membesar. Sambil tetap berupaya mengatasi kebakaran yang terjadi, komandan KRI mengarahkan kapal mendekat ke daratan terdekat dan Lego jangkar dekat Pulau Yefdoif di Perairan Sorong," terangnya.

KRI Rencong-622 terbakar di perairan Sorong, Papua Barat Menurut Dispen TNI AL, api sempat membesar dan menyebabkan kapal mati total. Bahkan api sudah mau mendekati gudang amunis. Komandan KRI Rencong lalu memerintahkan seluruh awak kapal untuk keluar dari KRI Rencong-622.

Kobaran Api semakin membesar dan kapal black out (listrik mati total) serta api sudah merambat mendekati gudang amunisi kapal dan guna menghindari korban jiwa, karena rawan kemungkinan terjadinya ledakan Komandan KRI memutuskan untuk melaksanakan peran peninggalan bagi seluruh ABK KRI Rencong-622.

"Sementara itu, seluruh ABK KRI Rencong yang selamat telah dievakuasi ke Pangkalan Armada III Sorong, beserta beberapa peralatan penting KRI Rencong-622 yang dapat diselamatkan," terangnya.

Dalam waktu dekat TNI AL akan membentuk Tim Investigasi untuk mencari secara menyeluruh penyebab terjadinya kebakaran tersebut. Diharapkan dari hasil investigasi ini dapat dijadikan bahan evaluasi guna mengantisipasi serta menghindari kejadian serupa di masa yang akan datang. (rvk/nkn)


  ★ detik  

Senin, 10 September 2018

2 Sukhoi SU-35 Yang Dibeli dari Rusia Tiba Tahun Depan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-Nq0EDnBS2Q6GTqUvMJJWa6H50jYcfpZVo02kmU7PaAYyjfjxst4Dvb9bNrqAyFqGPJGyCmPCNyUoW5NUtD5NMxKVgIHHGL7bJHo7581uvNmHoL4TF7bsMqRLN7ORPIM5jaL-4BXV9MQM/s1600/dua-pesawat-sukhoi-tni-au-bermanuver-_150921143748-786.jpgIlustrasi dog fight

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengatakan 2 pesawat Sukhoi Su-35 yang dibeli dari Rusia akan tiba tahun depan. Dua pesawat itu bagian dari total 11 pesawat Sukhoi Su-35 yang dibeli Indonesia.

"Alutsista masih menggunakan yang dulu belum ada penambahan kecuali Sukhoi. Sukhoi akan tiba di Indonesia pada 2019 nanti (sebanyak) 2 unit," kata Kepala Pusat Penerangan dan Komunikasi Kemenhan Brigadir Jenderal (TNI) Totok Sugiarto di restoran D'Cost, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Senin (10/9/2018).

Dia menyebut pesawat itu akan datang secara bertahap. Untuk pertama ini, baru 2 pesawat yang akan tiba.

"Nanti datang 11 unit, 2, 4, 5 kalau nggak salah, bertahap. Tapi pertama tiba 2019 bulan Agustus. Mudah-mudahan nggak ada kendala apa-apa," imbuhnya.

Mengenai pesawat tempur itu, Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan sudah ada penandatanganan kontrak pembelian antara Indonesia dan Rusia. Menurutnya, Indonesia memiliki keuntungan tersendiri saat membeli pesawat itu.

"Itu kan ada 2, dari Kemenhan dan Kementerian Perdagangan jadi itu 50% dibayar anggaran negara, 50% dari sistem dagang jadi lebih hemat lagi negara akibat ini. Mau nggak mau dia harus terima ekspor kita," kata Ryamizard kepada wartawan di kantor BPK RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (10/9).

Ryamizard mengatakan 2 pesawat yang datang pada tahap pertama ini akan bisa digunakan saat HUT TNI pada 5 Oktober 2019.

"Memang bikin pesawat nggak gampang, insyaallah satu tahun depan pada waktu HUT TNI 2 pesawat dulu sudah jalan," sambungnya.

  detik  

Indonesia Akan Beli Hercules dan Helikopter Chinook

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEied_OhY17Ie7F8Dn4e1-36fe4bMa4r01zEH4Uz0s95kAtFA2oBUemGOB1fCNtc1ljAoLE3pDNUVlkuOWaCCdRxfaqbHANnPrRVA3wdjpCv20kiTVEX9jnblpUIM81Ahb0-Q9sQ16HnR6Yx/s1600/C-130J-30+Super+Hercules.pngPesawat C130J Hercules

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan akan membeli pesawat jenis angkut C-130J Super Hercules dari Lockheed Martin dan helikopter angkut, Chinook dari Amerika Serikat.

"Ke depan Indonesia akan membeli pesawat angkut Hercules sebanyak lima unit dan helikopter Chinook dari AS," kata Menhan Ryamizard Ryacudu, di Jakarta, Senin, menanggapi pertemuan dengan Menhan AS James Mattis, di Washington beberapa waktu lalu.

Pembelian pesawat angkut itu berat itu untuk mendukung arsitektur pengembangan pertahanan.

Menurut Ryamizard, pesawat angkut Hercules yang dimiliki Indonesia sudah tua, dan Presiden Joko Widodo mengharapkan adanya regenerasi pesawat angkut berat terbaru.

"Pesawat Hercules sejak tahun 1960 an. Pak Jokowi bilang, pesawatnya sudah tua," kata Menhan.

Dalam pertemuan dengan James Mattis itu, kata dia, Indonesia juga berencana akan membeli helikopter Chinook.

"Sebelumnya Mabes TNI ingin membeli Heli Mi-26, namun heli ini tidak layak untuk operasi. Karena dengan jarak 100 meter, hempasan baling-baling bisa menyebabkan genteng-genteng rumah warga bertebangan," katanya.

  antara  

Minggu, 09 September 2018

TNI AU & RSAF Gelar Joint Fighter Weapon Course

✈️ Tingkatkan Kemampuan TempurUntuk meningkatkan kemampuan penerbang tempur melaksanakan operasi pertempuran udara, TNI AU dan Angkatan Udara Singapura (Republic of Singapore Air Force_– RSAF) menggelar latihan bersama yang dikemas dalam Joint Figther Weapon Course – JFWC).

Latihan dibuka oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Wieko Syofyan dan Chief of Staff AS RSAF BG. Tommy Tan, dalam sebuah upacara militer di Paya Lebar AFB Singapura, Kamis (6/9/2018).

Dalam sambutannya, BG. Tommy Tan mengatakan, JFWC merupakan ajang bagi penerbang tempur TNI AU dan RSAF untuk meningkatkan kemampuan operasi tempur.

Latihan untuk melatih penerbang tempur kedua angkatan udara melakukan pertempuran di udara secara lebih profesional, sekaligus mempererat kerjasama kedua angkatan udara,” ujarnya.

JFWC kali ini merupakan latihan yang ketiga. Latihan di bagi dalam dua kegiatan, ground school dan manuver lapangan. Untuk ground school dilaksanakan selama dua minggu di Paya Lebar, sementara manuver lapangan dilaksanakan selama tiga bulan di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

TNI AU mengerahkan 4 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara (Skadud) 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadud 16 Lanud Roesmin Nuryadin Pekanbaru. Sementara RSAF mengerahkan 6 pesawat F-16 dari 140 SQ, 143 SQ dan 145 SQ.

Dalam manuver lapangan, kedua angkatan udara akan melaksanakan berbagai macam latihan, mulai Basic Fighter Maneuver (BFM), Air Combat Tactic (ACT), Surface Attack Tactic (SAT) hingga puncaknya adalah Large Force Employment (LFE) atau Mission Orientation Training (MOT).

Dalam kegiatan JFWC, juga dilaksanakan kursus Ground Control Intercept (GCI) yang diikuti oleh 2 perwira GCI dari Satrad 231 Lhokseumawe dan Satrad 222 Ploso serta perwira GCI RSAF. Kursus ini melatih kemampuan para GCI untuk memberikan informasi posisi target lawan (termasuk kawan) secara tepat, sehingga para fighter memiliki Situation Awareness pertempuran yang baik.

Turut hadir mendampingi Wakasau, Aspam Kasau Marsda TNI Dwi Fajariyanto, Asops Kasau Marsda TNI Johanes Berchmans SW, Kadisopslatau Marsma TNI Jemi Trisonjaya M. Tr (Han), Danlanud Rsn Marsma TNI Ronny Irianto Moningka dan Paban III/Lat Sopsau Kolonel Pnb Danang Setyabudi serta Atase Pertahanan RI di Singapura Kolonel Pnb Tjahya Elang Migdiawan.

  ✈️ TNI AU  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...