Rabu, 12 Februari 2025

Indonesia -Turkiye Teken Kerjasama

🎯 Bikin Pabrik Drone di Indonesia Dtone UCAV Baykar TB3 yang diminati TNI, diberitakan dipesan Indonesia bersama Drone Akinci  (Baykar)

Turki dan Indonesia telah menyepakati untuk bekerjasama dalam mendirikan pabrik pembuatan drone di Indonesia.

Kesepakatan tersebut diumumkan setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istana Kepresidenan Bogor pada hari Rabu (12/2).

Indonesia dan Turki telah menandatangani perjanjian joint venture antara Republikorp dan Baykar “untuk mendirikan pabrik drone di Indonesia.”

Pada acara tersebut, CEO Republikorp dan Baykar secara langsung menandatangani perjanjian tersebut. Baykar adalah perusahaan swasta Turki yang bergerak dalam pengembangan kendaraan nirawak dan kecerdasan buatan.

Sementara perusahaan Indonesia akan dibantu oleh Republikorp, perusahaan yang berfokus pada pengembangan drone di sektor pertahanan.

Selain pabrik drone, kerjasama antara Indonesia dan Turki juga meliputi beberapa memorandum, seperti kerjasama dalam layanan keagamaan dan pendidikan keagamaan, energi dan sumber daya mineral, pendidikan tinggi, kesehatan, dan ilmu kedokteran.

Selain itu, kerjasama strategis dalam industri pertahanan, perdagangan, dan pertanian juga dicakup dalam kesepakatan tersebut.

Kedua negara juga telah menyepakati surat pernyataan kehendak terkait promosi dan fasilitasi investasi serta pembentukan komite bersama untuk kerjasama industri.

  🎯 Rakyat News  

KRI Lumba-lumba 881 Perkuat Lantamal XIII

⚓ Satrol Terbesar di Tarakan KRI Lumba-lumba 881 (Lantamal XIII Tarakan) ⚓

Kapal Republik Indonesia (KRI) Lumba-lumba 881 merupakan kapal perang terbesar yang memperkuat jajaran Satuan Patroli (Satrol) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XIII Tarakan.

Hal itu diungkapkan Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada) II, Laksamana Muda TNI Ariantyo Condrowibowo.

KRI Lumba-lumba merupakan kapal perang buatan anak bangsa yang dibuat di galangan kapal swasta dalam negeri.

“KRI Lumba-lumba ini merupakan aset yang nanti dioperasionalkan di Lantamal XIII Tarakan yang merupakan KRI terbesar saat ini yang ada di Lantamal XIII,” ujar Laksamana Muda TNI Ariantyo Condrowibowo kepada awak media usai memimpin upacara penyerahan KRI Lumba-lumba di Dermaga TNI AL, Mako Lantamal XIII Tarakan.

Dikutip dari artikel yang ada di terpampang kapal, KRI Lumba-lumba 881 adalah kapal perang jenis PC 60 (patrol Craft atau patroli tipe 60). Memiliki panjang 61,20 meter dan lebar 8,50 meter.

Kapal ini dinakhodai Letkol Laut (P) Guntur Prastyawan dan diawaki 50 prajurit Jalasena yang tangguh dan handal.

KRI Lumba-lumba 881 sandar di Dermaga TNI AL Mamburungan, Mako Lantamal XIII Tarakan. (RRI Tarakan/Muhamad Rajabsyah)

KRI Lumba-lumba dibuat di galangan PT CMS, Serang, Banten untuk memperkuat armada patroli Indonesia.

KRI Lumba-lumba dilengkapi 2 unit mitraliur kaliber 12,7 mm dari PT Pindad dan 1 unit Main Gun Meriam kaliber 40 mm Marlin LLos Leonardo Italia yang fungsi utamanya untuk pertahanan anti udara (anti-aircraft), pertahanan anti permukaan (anti-surface), pengendalian ancaman asimetris (asymmetric warfare) dan dukungan tembakan jarak dekat (naval gun support) yang mampu beroperasi di berbagai medan dan cuaca.

Selain mendukung tugas-tugas patroli dan pengawasan maritim, KRI Lumba-lumba juga memiliki kemampuan untuk melakukan operasi pengamanan perairan, penegakkan hukum di laut dan penanggulangan dari berbagai ancaman.

Adapun pengambilan nama Lumba-lumba untuk KRI jenis PC 60 ini memiliki makna mendalam. Lumba-lumba merupakan salah satu mamalia laut yang dikenal dengan kecerdasan yang tinggi dan karakteristik yang sangat khas serta identik dengan KRI Lumba-lumba. Antara lain kecerdasan dan kecerdikan, kecapatan dan kelincahan, sosial dan setia serta pelindung alam dan navigator andal.

Dengan hadirnya KRI Lumba-lumba 881, total ada 3 unit kapal perang yang memperkuat jajaran Satrol Lantamal XIII Tarakan.

Selain KRI, Satrol Lantamal XIII Tarakan juga diperkuat 2 unit Kapal Angkatan Laut (KAL) dan 8 unit Kapal Patroli Keamanan Laut (Patkamla). (Rajab)
 

  💂
 RRI  

Selasa, 11 Februari 2025

ASELSAN Provides Mete Han MFR to Indonesia’s Future Frigates

⚓ 📡Turkish weaponry & sensors on Merah Putih Frigates (Turdef)

Indonesia’s future Merah Putih-class frigates will be equipped with ASELSAN’s Mete Han multi-function AESA radar, marking a new export in naval radars.

A brochure showing the equipment of Merah Putih-class frigates was shared on social media. The equipment was separated into “Main Contract” and “Fitted For but Not With (FFBNW)”.

Turkish main contract equipment includes the Mete Han multi-function AESA radar and CENK 200-N (MAR-D) searching radar for helicopter approach control, FERSAH hull-mounted sonar, and decoy launchers from ASELSAN. HAVELSAN, on the other hand, will provide the systems for the CIC room, which might be translated to an export of the ADVENT CMS.

Mete Han is a new name, but its fixed configuration and size suggest it might be the AKREP 500-NI multi-function AESA radar of the ÇAFRAD multi-band radar suite to be used on TF-2000 destroyers being built for the Turkish Navy.

Thus, it can be inferred that ASELSAN has developed an “ÇAFRAD Lite” solution for smaller warships like frigates.

FFBNW equipment is listed as CENK 400-N (CENK-S) AESA searching radar and 64 MİDLAS VLS from ROKETSAN.

CENK 400-N (CENK-S) is currently in use with the Turkish Navy’s I-class frigate TCG İstanbul (F-515) and will be used on the other seven class ships to enter service.

The radar’s export agreement to Indonesia was announced in 2024; thus, its integration decision might have passed.

TurDef learnt that the brochure has a spelling error where SAM was written as "ASM".

If Indonesia decides to place the MİDLAS VLS, the frigate will be capable of using HİSAR-D and SİPER missiles for air defence as well as the vertically launched version of ATMACA anti-ship missile for ASuW.

More importantly, it will mark the first export of MİDLAS VLS and missiles associated with it.
 

  📡 Turdef  

Indonesia Pertimbangkan Akuisisi Kapal Induk untuk Perkuat Operasi dan Keamanan Maritim

💥 Beredar rumor tentang kemungkinan akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi, yang dapat mengindikasikan potensi kesepakatan dengan industri angkatan laut Italia untuk modernisasi atau pembangunan berlisensi(Picture source: Marina Difesa)

Saat ini Indonesia tengah menjajaki kemungkinan untuk mengakuisisi kapal induk guna memperkuat kemampuan militernya dalam peran non-tempur. Dalam jumpa pers yang digelar pada 6 Februari 2025 di Jakarta, Kepala Staf Angkatan Laut (TNI-AL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan perlunya memodernisasi peralatan armada dan menyampaikan sejumlah usulan akuisisi kepada Kementerian Pertahanan Indonesia. Di antara usulan tersebut adalah akuisisi kapal induk yang dirancang untuk misi non-tempur, beserta pembelian fregat dari Italia dan kapal patroli cepat bersenjata rudal dari Turki.

Selama beberapa tahun, TNI AL telah melakukan kajian untuk mengakuisisi kapal sejenis kapal induk yang mampu mengangkut helikopter baik untuk operasi tempur maupun non-tempur. Indonesia belum secara resmi mengonfirmasi pembuat kapal induk potensialnya, tetapi sejumlah opsi tengah dipertimbangkan. PT PAL Indonesia, pembuat kapal terkemuka di negara ini, telah mengusulkan konsep kapal induk helikopter dan kapal serbu amfibi, menjadikannya kandidat yang memungkinkan untuk proyek konstruksi dalam negeri, yang berpotensi bekerja sama dengan mitra asing.

Italia juga dapat memainkan peran kunci, khususnya melalui Fincantieri, yang telah memiliki hubungan dengan Angkatan Laut Indonesia untuk penyediaan fregat. Selain itu, rumor telah beredar tentang kemungkinan akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi, yang dapat mengindikasikan kemungkinan kesepakatan dengan industri angkatan laut Italia untuk modernisasi atau konstruksi berlisensi.

Kemungkinan lain adalah kemitraan dengan Korea Selatan, negara yang telah bekerja sama dengan Indonesia di sektor angkatan laut, khususnya melalui Hyundai Heavy Industries atau DSME, yang dapat menawarkan platform yang sesuai. Pilihan untuk membeli kapal bekas juga masih ada di atas meja, dengan potensi modernisasi oleh pembuat aslinya sesuai dengan persyaratan khusus Angkatan Laut Indonesia. Keputusan akhir akan bergantung pada prioritas strategis negara, anggaran, dan negosiasi yang sedang berlangsung dengan mitra industri dan militernya.

Meskipun Angkatan Laut Indonesia dianggap sebagai salah satu yang terkuat di Asia Tenggara, Angkatan Laut Indonesia masih kekurangan kemampuan dan kapal yang memadai untuk menjaga wilayah negara yang luas dan zona ekonomi eksklusif. Armada yang menua tetap menjadi tantangan yang berulang. Sebagai bagian dari rencana modernisasi angkatan bersenjatanya, yang dikenal sebagai Minimum Essential Force (MEF), Angkatan Laut Indonesia berencana untuk mengoperasikan setidaknya empat kapal pengangkut helikopter amfibi.

Di luar proyek kapal induk, Angkatan Laut Indonesia juga tengah mengupayakan akuisisi strategis lainnya. Angkatan Laut Indonesia telah mengajukan permintaan resmi untuk membeli dua fregat yang dibuat di Italia guna meningkatkan kehadiran dan kemampuan operasional armadanya. Sementara itu, dua fregat produksi dalam negeri telah dipersiapkan untuk bertugas, yang memperkuat tujuan negara untuk meningkatkan kemandirian industri dan operasional. Selain itu, beberapa kapal patroli cepat yang dilengkapi rudal dari Turki akan semakin memperkuat armada.

Indonesia juga telah menerima proposal hibah dari Jepang, yang menawarkan dua kapal patroli untuk ditempatkan di pangkalan angkatan laut Balikpapan di Kalimantan Timur. Lokasi ini penting secara strategis karena akan memperkuat kehadiran militer di dekat ibu kota masa depan Indonesia, Nusantara, yang terletak dekat dengan Balikpapan. Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa kapal patroli ini sangat sesuai dengan geografi wilayah tersebut, terutama karena kemampuannya untuk menavigasi berbagai jalur perairan di ibu kota masa depan. Dengan panjang 18 meter, kapal-kapal ini akan meningkatkan keamanan dan pengawasan sungai.

Parlemen Indonesia (DPR) telah menyetujui permintaan Kementerian Pertahanan dan angkatan bersenjata untuk menerima hibah Jepang ini, yang mencerminkan komitmen negara tersebut untuk memperkuat keamanan maritimnya. Akuisisi dan upaya modernisasi ini merupakan strategi yang jelas yang ditujukan untuk meningkatkan proyeksi kekuatan dan keamanan maritim Indonesia dalam lanskap regional yang terus berkembang.
 

  💂 Army Recognition  

Senin, 10 Februari 2025

[Video] OPV 90 Produksi PT DRU

🎥 Kapal OPV pertama dibangun pihak swastaOPV pertama PT DRU KRI 391 RHF ⚓

Dua kapal perang baru untuk TNI Angkatan Laut jenis Offshore Patrol Vessel (OPV) 90 meter, resmi diberi nama KRI Raja Haji Fisabilillah (RHF)-391 dan KRI Lukas Rumkorem (LRK)-392.

Kedua kapal perang tersebut diproduksi PT Daya Radar Utama (DRU) di Lampung dan didesain sebagai kapal kombatan maupun patroli, yang memiliki kecepatan tinggi dan bisa beroperasi di seluruh perairan Indonesia.

Untuk konstruksi, kapal perang OPV ini menggunakan monohull yang dirancang untuk mendapatkan performa yang baik saat melaju dengan kecepatan tinggi sekitar 28 knot maupun pada kecepatan jelajah sekitar 20 knot.

Direktur PT DRU, John Wijanarko dalam sambutannya menyatakan, pihaknya merupakan galangan kapal pertama yang diberi kepercayaan oleh Kementerian Pertahanan untuk membangun kapal OPV.

“Kapal OPV yang kami bangun akan dilengkapi dengan persenjataan peperangan anti serangan udara, permukaan laut, dan bawah air, sehingga kapal OPV yang memiliki fungsi sebagai kapal Patroling Force dapat dioperasikan menjadi kapal Striking Force, untuk menambah kekuatan alutsista TNI Angkatan Laut,” tutur John Wijanarko.

“Dengan kemampuan yang meliputi anti serangan udara, permukaan laut, dan bawah air, kapal OPV yang kami bangun telah memenuhi syarat sebagai kapal jenis Light Frigate,” tambah John.

 📹 Video diposkan Wahyudi Yennawan : 


 🎥 Youtube  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...