Pesawat CN-235 TNI Angkatan Udara dengan tail number AI-2318 dilaporkan mengalami kendala teknis saat melakukan pendaratan dalam operasi di Bandara Oksibil. (Dok. Istimewa)
Pesawat CN-235 TNI Angkatan Udara dengan tail number AI-2318 dilaporkan mengalami kendala teknis saat melakukan pendaratan dalam operasi di Bandara Oksibil, Papua, Minggu (7/9) siang.
Dikutip dari Dinas Penerangan TNI AU (Dispenau), insiden tersebut terjadi saat pesawat yang diawaki Mayor Pnb Suyanto selaku Pilot in Command (PiC) itu melakukan operasi di Oksibil.
"Seluruh awak pesawat dipastikan dalam keadaan selamat dan aman," demikian dikutip dari keterangan tersebut, Senin (8/9).
TNI Angkatan Udara telah mengambil langkah penanganan awal di lokasi dengan tetap menempatkan keselamatan personel sebagai prioritas utama.
Pemeriksaan terhadap pesawat juga telah dilakukan untuk mengetahui kondisi teknis sekaligus menentukan langkah lanjutan yang diperlukan. TNI AU juga memastikan insiden tersebut tidak mempengaruhi operasi yang masih berlangsung di wilayah Oksibil.
"TNI Angkatan Udara terus berkomitmen menjalankan setiap tugas dengan profesional, mengutamakan keselamatan, serta menjaga kesiapan alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) dalam mendukung keberhasilan operasi," katanya. (thr/isn)
Marinir Indonesia uji coba Thermal Weapon Sight, alat bidik termal modern yang klaim bisa tingkatkan presisi operasi tempur (dispenal)
Komandan Pasmar 1 (Danpasmar 1) Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., bersama Panglima Korps Marinir Letjen TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., mengikuti uji coba Thermal Weapon Sight di Lapangan Tembak Jusman Puger, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (8/9).
Uji fungsi ini disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat profesionalisme dan kesiapan tempur prajurit Marinir dengan teknologi modern.
Acara uji fungsi dihadiri sejumlah pejabat utama Korps Marinir dan perwakilan PT Indonesia Defence System sebagai pihak mitra. Rangkaian kegiatan diawali sambutan dari Direktur Utama PT Indonesia Defence System, doa bersama, uji coba alat, hingga sesi ramah tamah.
Dalam kesempatan itu, Danpasmar 1 mencoba langsung kecanggihan Thermal Weapon Sight bersama Pangkormar, Kepala Staf Korps Marinir, dan Wadan Pasmar 1. Mereka menembak sasaran yang disiapkan menggunakan teknologi bidik termal tersebut.
Thermal Weapon Sight merupakan perangkat optik canggih yang mampu mendeteksi panas tubuh manusia maupun kendaraan, bahkan dalam kondisi minim cahaya, berkabut, atau diselimuti asap.
Alat ini memberi keunggulan taktis dengan bidikan presisi siang maupun malam hari, sangat penting untuk operasi tempur, pengintaian, hingga misi khusus.
Alat bidik ini diproyeksikan untuk digunakan prajurit petarung Korps Marinir, terutama satuan elite seperti Detasemen Intai Para Amfibi (Denipam) dan Regu Pandu Tempur (Rupanpur) Brigif Marinir.
Dengan dukungan teknologi baru, Korps Marinir diharapkan semakin siap menjaga kedaulatan negara di darat, laut, maupun pesisir.
Marinir latihan pertempuran kota di Yordania (dispenal)
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang didampingi Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita menyambut para prajurit gelombang I yang baru saja menyelesaikan latihan bersama (latma) pertempuran kota (purkota) di Yordania dan Belarus.
Panglima Agus menyambut sekaligus memberikan arahan langsung di Aula Gatot Soebroto, Markas Besar TNI, Cilangkap. Jakarta Timur, Senin (8/9).
Dalam arahannya, Panglima TNI menegaskan bahwa latihan purkota merupakan bagian dari upaya TNI untuk meningkatkan kemampuan operasi militer di wilayah perkotaan sekaligus menguji kesiapan pasukan dalam menghadapi dinamika ancaman yang kompleks.
“Tujuan latma selain untuk meningkatkan kemampuan prajurit TNI, meningkatkan kerja sama internasional antara TNI dengan Angkatan Bersenjata negara lain, meningkatkan diplomasi Indonesia di bidang militer dan menunjukkan eksistensi TNI dalam hubungan militer internasional,” kata Agus dalam siaran pers Pusat Penerangan TNI, Selasa (9/9).
Agus ingin latma purkota dengan Angkatan Bersenjata Yordania dan Belarus itu dilanjutkan.
“Latma purkota Belarusia dan latma purkota Yordania akan terus dilanjutkan sebagai wujud nyata diplomasi militer dan langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan prajurit TNI,” ujar Panglima TNI.
Agus juga berpesan agar seluruh prajurit memanfaatkan hasil latihan untuk kemajuan satuan dan TNI.
“Kalian akan menjadi kader pelatih, diharapkan dapat mentransfer kemampuan yang diperoleh kepada prajurit di satuan. Jadikan latihan ini sebagai sarana untuk mengasah keterampilan, memperkuat soliditas, dan menjaga semangat juang,” ucap Agus berpesan.
Adapun latihan purkota melibatkan pasukan dari tiga matra TNI dengan skenario operasi gabungan di kawasan perkotaan.
Latihan menguji interoperabilitas pasukan, penggunaan teknologi tempur, serta strategi penanggulangan ancaman dalam konteks perang modern.
Selain itu, latihan juga menjadi pengalaman dan bekal berharga dalam meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas wawasan prajurit terhadap standar latihan internasional. (nma)
Tak mau kalah dari China
INS Vikrant, salah satu kapal induk konvensional yang dioperasikan Angkatan Laut India. Sekarang, India akan membangun kapal induk bertenaga nuklir pertamanya. (Foto/Wikipedia)
India akhirnya berencana untuk membangun kapal induk bertenaga nuklir pertamanya. Rencana ini menyaingi China, yang juga akan membangun kapal induk serupa dan ingin mengoperasikannya pada 2030-an atau bahkan lebih cepat.
Beijing telah membangun prototipe reaktor nuklir berbasis darat, yang menyoroti kemajuan yang telah dicapainya. Kapal induk bertenaga nuklir akan menjadi inti dari tujuan China untuk memiliki militer kelas dunia yang dapat menyaingi Amerika Serikat.
Selain Angkatan Laut Prancis, dengan kapal induknya Charles de Gaulle, hanya Angkatan Laut Amerika Serikat yang saat ini mengoperasikan kapal induk super bertenaga nuklir.
Namun, pada tahun 2030-an, hal itu dapat berubah—dan mungkin bukan hanya China yang akan bergabung dengan kelompok eksklusif negara-negara yang memiliki kemampuan untuk membangun dan mengoperasikan kapal semacam itu.
Menurut rencana modernisasi pertahanan 15 tahun India yang diluncurkan pada hari Jumat lalu, New Delhi juga telah menetapkan tujuan ambisius untuk membangun kapal induk bertenaga nuklir guna memperluas kemampuan angkatan lautnya di Indo-Pasifik.
Meskipun India masih mempertahankan hubungan dekat dengan Moskow dan tetap menjadi importir terbesar perangkat keras militer buatan Rusia, New Delhi telah berupaya memperluas basis industri militernya untuk mengurangi ketergantungan pada kontraktor pertahanan asing.
“Seiring negara ini berada di ambang menghadapi tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar dalam beberapa dekade mendatang, sangat penting bagi Angkatan Bersenjata untuk diperlengkapi dengan tepat,” demikian pernyataan peta jalan Kementerian Pertahanan India tahun 2025, seperti dikutip dari National Interest, Senin (8/9/2025).
“Kemitraan sektor swasta-publik yang lebih besar dengan demikian merupakan jalan ke depan," lanjut pernyataan tersebut.
India sudah memiliki 2 kapal induk konvensional
Angkatan Laut India telah mengoperasikan dua kapal induk, termasuk INS Vikramaditya yang sudah tua—yang dibangun untuk Angkatan Laut Soviet sebelum Rusia menyelesaikan kapal perang tersebut dan menjualnya ke India—dan INS Vikrant yang dibangun di dalam negeri.
Ada spekulasi bahwa Vikramaditya yang semakin usang akan menjalani perbaikan dan modernisasi, tetapi New Delhi mungkin memilih arah alternatif.
INS Vikramaditya, yang awalnya merupakan kapal penjelajah pesawat kelas Kiev Soviet, mulai dibangun pada tahun 1978 dan ditugaskan pada tahun 1987. Kapal ini sempat bertugas di Angkatan Laut Rusia setelah bubarnya Uni Soviet di akhir Perang Dingin, tetapi dipensiunkan karena biaya operasionalnya yang tinggi dan akhirnya dijual ke India.
Namun, sejak mulai beroperasi di Angkatan Laut India, kapal induk Vikramaditya telah diganggu oleh berbagai masalah dan memiliki kemampuan terbatas—mirip dengan kapal induk Admiral Kuznetsov yang usianya serupa yang sekarang rusak di Rusia.
Pemikiran konvensional adalah bahwa mempertahankan kapal perang yang tidak dapat diandalkan lebih buruk daripada membuangnya. New Delhi mungkin memilih untuk mengurangi kerugiannya, memensiunkan kapal induk tua era Soviet tersebut, dan membangun kapal induk domestik kedua dari awal.
Memang, melalui pembangunan Vikrant yang lebih canggih, India telah mengikuti jejak China dalam menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu membangun kapal induk yang dirancang di dalam negeri.
India selanjutnya mungkin akan membangun kapal induk super bertenaga nuklir yang dilengkapi dengan Sistem Peluncuran Pesawat Elektromagnetik (EMALS), sebuah katapel peluncur untuk pesawat—yang memungkinkan pesawat yang lebih besar untuk beroperasi di kapal induk dan menghilangkan kebutuhan akan jalur "lompatan ski" yang sering terlihat pada kapal induk non-AS. Saat ini, hanya Amerika Serikat dan China yang memiliki sistem EMALS.
Menurut rencana modernisasi pertahanannya, India telah menyerukan pembangunan setidaknya 10 sistem propulsi nuklir untuk mendukung kapal induk baru tersebut, serta kapal perang lainnya. Selain kapal induk, rencana tersebut juga menyerukan perluasan Angkatan Laut India dengan penambahan 10 fregat "generasi berikutnya", tujuh korvet siluman, dan empat platform dok pendaratan.
Angkatan Laut India telah mengadopsi pesawat tempur omnirole Dassault Rafale buatan Prancis, dan target saat ini adalah 62 pesawat tempur tersebut akan beroperasi pada tahun 2030, menggantikan Mikoyan MiG-29K rancangan Soviet yang sudah tua. Rencana ini tampaknya tidak berubah bahkan setelah hilangnya setidaknya satu jet Rafale yang memalukan dalam pertempuran melawan Pakistan pada bulan Mei. (mas)
Link ID LEN (LEN Industry)
Link ID Len, sebuah teknologi Tactical Data Link (TDL) atau tautan data taktis yang dikembangkan oleh PT Len Industri (Persero), sebuah Badan Usaha Milik Negara Indonesia.
Sistem ini berfungsi untuk mengirimkan data taktis antar alutsista (alat utama sistem persenjataan) agar tercipta interoperabilitas dalam sistem tempur modern.
Fungsi Utama Link ID
🛰 Mengintegrasikan Alutsista:
Link ID memungkinkan berbagai jenis alutsista, baik buatan dalam negeri maupun asing, untuk berkomunikasi dan berbagi data secara terintegrasi.
🛰 Meningkatkan Kesadaran Situasi:
Dengan pertukaran data taktis seperti posisi kawan/lawan, perintah, foto, dan teks, sistem ini meningkatkan kesadaran dan efisiensi koordinasi antar unit tempur.
🛰 Mendukung Network Centric Warfare (NCW):
Link ID menjadi bagian dari program NCW yang bertujuan mengintegrasikan sistem alutsista agar dapat bekerja bersama secara lebih efektif, seperti yang diterapkan dalam program CTDLS (Communication Tactical Data Link System) oleh TNI AU.
Penggunaan Link ID
Link ID telah digunakan dalam program-program pertahanan Indonesia, termasuk:
🖥 TNI AU:
Diterapkan pada unit pesawat patroli maritim, pusat komando (Puskodal), dan base station (BTS).
🖥 TNI AL:
Diintegrasikan pada beberapa kapal cepat rudal (KCR-60) untuk memungkinkan interoperabilitas dengan sistem CTDLS TNI AU.
🖥 TNI AD:
Diintegrasikan pada kendaraan militer maupun personil TNI AD sehingga bisa dimonitor posisi lawan/kawan.
Keunggulan Link ID
Karya Anak Bangsa:
Link ID adalah bukti inovasi teknologi pertahanan dalam negeri yang mampu menjawab tantangan interoperabilitas sistem tempur global.
Standar Protokol Nasional:
Link ID menetapkan standar protokol komunikasi data taktis nasional yang baru, yang sesuai dengan kebutuhan doktrin militer Indonesia.
📡 Indonesia Teknologi