Sabtu, 14 Februari 2015

TNI AU ancam tembak jatuh pesawat pembom Australia

Pesawat TNI AU [Kaskus]⚓️

Tanggal 4 September 1999, menjadi peristiwa bersejarah bagi rakyat Timor Leste. Tepat pada hari itu pula, negeri yang terletak di Pulau Timor ini melepaskan diri dari Indonesia. Di mana dalam hasil jajak pendapat memperlihatkan 78,5 persen warganya ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, tidak semua orang mau menerima hasil itu, kelompok pro-integrasi malah menyerang kelompok anti-integrasi hingga membuat Dili, ibu kota Timor Leste, mencekam. Kekacauan yang terjadi di kota tersebut membuat Indonesia mendapat kecaman, bahkan Australia mengambil tindakan dengan mengusulkan pembentukan The International Force of East Timor (Interfet).

Pasukan ini terpaksa diterima Indonesia setelah serangkaian tekanan dan kritik keras dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Prancis, Jepang hingga PBB terhadap upaya pengamanan. Padahal, dalam perjanjian New York, Indonesia berjanji memberikan pengamanan selama berlangsungnya jajak pendapat.

Kehadiran Interfet justru membuat publik Tanah Air merasa gerah, rakyat merasa Indonesia sedang ditelanjangi habis-habisan oleh pasukan asing. Meski dikritik sana sini, pemerintah hanya diam. Namun, TNI saat itu masih bertindak tegas terhadap pasukan asing, terutama Australia yang ingin membawa pesawat pembomnya ke Timor Leste.

Ketika media sedang gencar memberitakan kedatangan pasukan Interfet, AU Australia meminta izin untuk membawa masuk pesawat pembom strategis jenis F-111C ke Timor Leste. Mendengar itu, Panglima Komando Operasi TNI-AU 2, Marsekal Madya Ian Santoso Perdanakusuma naik pitam, dia tidak memberikan izin pesawat tersebut untuk masuk.

"If you cross our border, I'll shoot you down," ancam Ian dengan tegas dan singkat, seperti disandur dalam buku 'Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi: Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970', Cetakan Pertama, September 2012.

Ian yakin Australia tak akan berani menyeberangkan pesawat tersebut hingga ke Timor Leste. Tak mau disebut gertak sambal, dia pun memerintahkan 12 jet tempur, yakni A-4 Skyhawk, Hawk 200 serta F-16 Fighting Falcon lengkap dengan rudal, radar deteksi disiagakan. Bahkan, dia juga mempersiapkan Lanud di Makassar, Kupang, Surabaya, Malang dan Madiun sebagai tempat pendaratan alternatif.

Ian juga mempersiapkan pesawat Hercules C-130 di Lanud Abdurrahman Saleh di Malang agar bisa mendukung penerbangan A-4 Skyhawk. Selama mempersiapkan mesin perang tersebut, Ian juga telah memperhitungkan untung ruginya jika memang terjadi pertempuran di udara.

"Dua kali gempur. Saya yakin tidak akan ada yang ketiga, karena pasti sudah sama-sama habis," ucap putra pahlawan nasional Halim Perdanakusuma ini.

Mendapat ancaman itu, nyali Australia ciut juga. Mereka membatalkan pengiriman pesawat-pesawat tersebut ke Timor Leste. Meski begitu, TNI beberapa kali mendapati penerbangan gelap (black flight) di dekat wilayah udara Indonesia, diduga dilakukan militer Australia.

  ⚓️ Merdeka  

[World] Tiga Senjata Terbaik Rusia Penangkal Sistem Pertahanan Misil Global AS

Rusia akan ‘melakukan langkah balasan’ atas tindakan AS yang memperluas jangkauan sistem pertahanan misilnya secara global. Demikian ditegaskan Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Rusia Jendral Valery Gerasimov pada akhir Januari lalu.Menurut Gerasimov, langkah balasan tersebut berupa peningkatan sistem persenjataan angkatan darat dan laut Rusia untuk menangkal ancaman serangan sistem misil AS. Sang jenderal juga menyebutkan senjata tersebut ‘akan mengalahkan sistem misil pertahanan AS’. Namun demikian, Gerasimov tidak menyebut sistem yang ia maksud secara spesifik. Berikut, RBTH akan membahas tiga senjata terbaik milik Rusia yang berpotensi menjadi senjata andalan untuk melawan sistem pertahanan misil AS.RubezhSenjata ini ‘akan mengalahkan sistem misil pertahanan AS’. Foto: Goodvint/Wikipedia.org

Misil antarbenua terbaru milik Rusia, RS-26 Rubezh, merupakan hasil pengembangan terbaru industri pertahanan Rusia. Proyek ini sangat dirahasiakan, sehingga hanya sedikit informasi yang diketahui mengenai misil ini. Rubezh, atau yang juga dikenal sebagai Avangard, merupakan misil masa depan yang diciptakan berdasarkan misil RS-24 Yars yang saat ini sudah melengkapi perbendaharaan senjata Pasukan Rudal Strategis Rusia.

Misil berbahan bakar padat ini dilengkapi dengan hulu ledak terpisah. Kuantitas dan bobot hulu ledak yang dapat diangkut oleh misil ini masih belum diketahui. Namun, mengingat misil ini merupakan versi modern dari misil Yars—yang masuk dalam keluarga misil Topol-M—maka diperkirakan Rubezh dibuat untuk mengangkut misil dengan bobot minimal 60 ton. Misil ini hanya akan tersedia dalam versi bergerak, dan kemungkinan kelak akan digunakan untuk menggantikan sistem misil Topol yang mulai menua.

Pihak militer Rusia menyebutkan bahwa uji peluncuran misil ini akan dilakukan pada Maret mendatang. Sebelumnya, uji coba dilakukan secara rahasia, meski pada 2013 informasi mengenai uji coba misil MS-26 di situs uji coba Kapustin Yar bocor ke media. Ketika itu, Staf Jenderal menjelaskan bahwa uji coba tersebut merupakan peluncuran keempat Rubezh.

Berdasarkan keterangan Kolonel Jendral Zarudnitsky, misil baru ini memiliki perlengkapan tempur mutakhir, dan lebih unggul dari segi kapasitas serta karakteristik manuver dibanding sistem pertahanan rudal sebelumnya.
Sarmat[pravda-team]

Ukraina menghentikan pasokan suku cadang untuk sistem misil Voevoda milik Rusia. Sementara, AS terus mengembangkan sistem pertahanan misilnya ke seluruh dunia. Hal itu membuat Rusia mau tak mau harus mencari alternatif pengganti Voevoda.

Pada sekitar 2018-2020, Rusia akan menerima misil kelas berat terbaru, Sarmat. Saat ini sistem persenjataan tersebut tengah dikembangkan oleh Pusat Roket Negara Makeyev.

Sistem Topol yang saat ini digunakan oleh Rusia dapat meluncurkan rudal seberat 1,2 ton hingga jarak sembilan ribu kilometer. Sementara, Voevoda dapat meluncurkan misil seberat 7,3 ton hingga jarak 16 ribu kilometer.

Jika data yang bocor ke media benar, Sarmat akan berukuran setengah dari ukuran Voevoda. Berat senjata ini mencapai sekitar seratus ton, sementara Voevoda memiliki berat 211 ton. Sarmat diperkirakan mampu meluncurkan misil berbobot empat hingga lima ton. Selain itu, peluncuran jarak jauh membuat misil Sarmat memiliki waktu yang cukup leluasa, baik sebelum maupun sesudah peluncuran.
Bulava[RIA Novosti]

Misil R-30 Bulava telah diidam-idamkan sejak lama oleh Angkatan Laut Rusia. Kini, misil tersebut telah bergabung dalam perbendaharaan senjata AL Rusia. Kapal selam tempur kelas Borey ini awalnya dibuat untuk mengalahkan kompleks sistem pertahanan musuh. Sistem pertahanan rudal ini dapat membawa sepuluh hulu ledak dan meluncurkan tembakan serentak dari bawah air dengan jarak lebih dari 11 ribu kilometer. Borei bahkan dapat menyerang AS tanpa meninggalkan markas mereka di Armada Laut Utara atau Pasifik Rusia.

Setiap kapal selam canggih ini dilengkapi dengan 16 misil balistik R-30 Bulava-30 yang siap digunakan. Kapal selam tersebut memiliki fitur hidrodinamis yang unggul dan tingkat kebisingan yang sangat rendah. Hal itu membuat kapal ini dapat dengan mudah melakukan serangan balasan mendadak saat bertempur.

Berdasarkan beberapa laporan, konsep operasional Bulava berbeda dengan sistem Topol-M. Saat hulu ledak Topol-M ditembakan ke target, ia akan hancur berkeping-keping. Sementara, cara kerja Bulava menggunakan prinsip ‘menjalar’. Tiap blok rudal dapat dipisahkan satu per satu dari misil ketika misil tersebut diluncurkan.

  RBTH  

Jumat, 13 Februari 2015

[World] Pesawat Su-24 Jatuh di Volgograd

Infografik SU-24

Pesawat Su-24 milik Kementerian Pertahanan Rusia jatuh di Oblast' Volgograd, demikian diberitakan kantor berita Interfax.

Wakil Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, pesawat tersebut jatuh pada saat melakukan penerbangan latihan.

Tidak ada korban jiwa dari masyarakat sipil akibat kecelakaan yang terjadi pada pukul 11.23 waktu Moskow ini karena pesawat jatuh di luar permukiman penduduk.

Namun demikian, nasib kedua awak pesawat Su-24 tersebut hingga kini masih belum diketahui.

Sumber di aparat keamanan Volgograd sebagaimana yang diberitakan kantor berita RIA Novosti menyatakan, kesalahan awak atau kesalahan teknis diduga menjadi penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

Pesawat Sukhoi Su-24 adalah jenis pesawat penyerang segala cuaca supersonik Uni Soviet yang paling maju pada tahun 1970-1980-an. Pesawat ini mempunyai dua mesin dan merupakan pesawat Soviet pertama yang memiliki perangkat navigasi dan serang digital terintegrasi. Pesawat yang diawaki dua orang ini secara fisik mirip dengan General Dynamics F-111 Aardvark dari Amerika Serikat. Namun demikian, Su-24 memiliki kemampuan mendekati Panavia Tornado IDS dari Inggris dan Jerman.

  RBTH  

[World] Rusia Tak Lagi Mampu Mendeteksi Rudal Balistik yang Datang dari Luar Angkasa

Rusia tidak lagi memiliki sistem peringatan dini untuk mendeteksi rudal balistik yang datang dari luar angkasa akibat satelit yang selama ini menjaga Rusia tidak lagi berfungsi dan ditundanya peluncuran satelit sistem peringatan ini "Tundra".

Menurut surat kabar Kommersant Rusia, sistem satelit Tundra akan diluncurkan untuk menggantikan satelit-satelit tua yang diluncurkan dalam program Oko (Eye). Satelit Oko yang pertama diluncurkan pada tahun 1972 dan beberapa satelit yang masih aktif belakangan usianya telah melebihi 5-7 tahun dari usia hidupnya. Sistem satelit Oko telah banyak mengalami masalah teknis dan pada bulan Januari tahun ini dua satelit yang terakhir, yang hanya mampu beroperasi selama beberapa jam sehari, akhirnya mati total.

Satelit Tundra, dirancang untuk mampu melacak rudal taktis dan balistik, dan untuk menggantikan sistem satelit Oko yang sudah mati. Satelit Tundra pertama kali akan diluncurkan pada tahun 2013 lalu, namun ditunda akibat masalah teknis yang tidak diungkapkan. Akhirnya peluncuran Tundra direncanakan kembali pada tahun 2014, namun kembali gagal. Sekarang satelit ini rencananya baru akan diluncurkan sekitar bulan Juni tahun ini, menurut harian Kommersant.

Kehilangan satelit geostasioner menjadikan sistem peringatan dini Rusia berada dalam risiko dalam menghadapi peluncuran rudal balistik. Sumber di Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa hilangnya kemampuan tersebut masih dapat dikompensasi oleh sistem radar di darat yang terletak di beberapa wilayah Rusia, seperti, Kaliningrad, Leningrad, Irkutsk, dan Krasnodar.

Namun, pihak militer Rusia tidak mengonfirmasi seberapa efektif radar-radar darat tersebut dalam melacak peluncuran rudal balistik.

Pada bulan September tahun 2014 lalu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyinggung soal sistem satelit Tundra (Unified Space System Tundra) sebagai kunci utama dari pencegahan terhadap nuklir. Penundaan peluncuran Tundra yang telah terjadi beberapa kali ini dapat membuat malu pemerintah Rusia yang telah berjanji untuk meningkatkan pertahanan dan industri high-tech di Rusia.

  artileri  

TNI AL Kerjasama dengan SAAB Swedia

Untuk Meningkatkan SDMDalam upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) prajurit TNI AL khususnya di bidang pendidikan, TNI AL melaksanakan Penandatanganan MOU atau kerja sama dengan Svenska Aeroplan Aktiebolaget (SAAB) Swedia, yang dilaksanakan di kampus Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya, baru-baru ini.

Maksud penandatanganan kerja sama ini adalah untuk memberikan beasiswa kepada sepuluh perwira TNI Angkatan Laut melalui Kursus Manajemen Inovasi selama tiga minggu di Swedia, dan kegiatan seminar dua hari di Indonesia. Kedua pelatihan akan dilaksanakan awal tahun 2015.

Lingkup kesepakatan yang dilaksanakan adalah, SAAB Swedia menawarkan kepada TNI AL pendidikan beasiswa yang akan berfokus pada Triple Helix, yaitu dengan teori dari akademisi dan disertai penjelasan dari bermacam-macam perspektif serta penerapan dari dunia industri Swedia.

Melalui pendidikan ini, diharapkan para peserta akan mendapat pengetahuan mengenai sistem inovasi Swedia dan pendorong industri untuk inovasi dan litbang (penelitian dan pengembangan); penjajakan skenario, strategi dan perencanaan portofolio produk, dan bidang-bidang inovatif yang menggambarkan proses dari riset hingga sistem yang siap digunakan dengan contoh-contoh operasional maritim di pantai dangkal, termasuk teknologi serta metode-metodenya.

SAAB Swedia dihadiri oleh Deputy Head of SAAB Mr. Lars Nielsen, sedangkan dari pihak TNI AL dihadiri oleh Kadisdikal Laksamana Pertama TNI Dr Ir Supartono M.M., Komandan STTAL Laksamana Pertama TNI Siswo Hadi Sumantri, Kasubdis Opsdik Disdikal, Kolonel Laut (P) Arif Badrudin, dan Perwira Staf STTAL.

Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.

  TNI AL  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...