Sabtu, 08 September 2018

PT DI Siap Ekspor Pesawat Pesanan Beberapa Negara

Pesanan dari Australia dan Tiga Negara Lainnya Pesawat CN-295 Polri [Snap361] ★

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) siap mengekspor pesawat ke empat negara pada 2018 ini.

Keempat negara tersebut adalah Nepal, Senegal, Australia dan Pantai Gading.

Untuk Australia, pesawat yang yang dipesan ke PT DI digunakan untuk operasional di kutub selatan atau Antartika.

"Mungkin kami dapat tambahan book order sekitar empat CN235 sampai akhir tahun. Kebetulan yang Australia digunakan untuk di Antartika," ujar Direktur Niaga PTDI, Irzal Rinaldi di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (7/9/2018).

Selain pesanan dari luar negeri, lanjut Irzal, pihaknya juga tengah merakit pesawat untuk di dalam negeri.

"Kita ada yang punya TNI AL, ada 2 unit," kata Irzal.

Irzal mengatakan, harga pesawat CN235 yany dipesan oleh masing-masing negara tersebut senilai 35 juta dollar AS per unit.

"Kalau (TKDN) CN235 39 persen. Karena itu kebanyakan komponen impor," ucap dia.

Sebelumnya, PT Dirgantara Indonesia baru saja menjual pesawat CN295 ke Polri.

Penyerahan unit pesawat tersebut dilakukan di Mako Direktorat Polisi Udara, Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (7/9/2018).

Seiring dengan diserahkannya pesawat CN295 ini, diharapkan dapat meningkatkan kinerja Kepolisian Udara Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan operasi kepolisian udara.

Pesawat CN295 Polud ini merupakan pesawat ke-10 yang diproduksi PTDI. Sembilan unit pesawat CN295 sebelumnya sudah diserahkan dan dioperasikan oleh TNI AU.

  ★ Tribunnews  

★ Pesawat & Helikopter Baru Polri

Buatan PT Dirgantara Indonesia Pesawat CN-295 Polri [Snap361] ★

Direktorat Polisi Udara Baharkam Mabes Polri memiliki satu pesawat baru CN295 produksi PT Dirgantara Indonesia. Penyerahan pesawat multiguna ini secara resmi diserahkan Dirut PT DI Elfien Goentoro kepada Kabarhakam Mabes Polri Komjen Moechgiyarto, di Mako Ditpol Udara Korpolairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (7/9).

Selain pesawat CN295, PT DI juga menyerahkan satu unit Helikopter Bell 412 EP sesuai masa kontrak serah terima pada September 2019.

Elfien Goentoro mengatakan, pesawat CN295 merupakan pengembangan dari pesawat CN235 yang porsi badanya (fuselage) diperpanjang tiga meter. Selain itu, CN295 ini juga menggunakan mesin terbaru turboprop Pratt & Whitney PW127G yang dilengkapi enam bilah baling-baling Hamilton Standard 586-F.

Pesawat ini, lanjut dia, juga memiliki lima konfigurasi berupa VIP, Passenger, Troops, Paratroops, dan Medical Evacuation.

"Ini adalah pesawat multiguna, yang memiliki konfigurasi yang disiapkan PTDI dan diserahkan bersamaan dengan penyerahan pesawat," kata Elfien.

Lebih jauh, Elfien menerangkan, untuk kapasitas konfigurasi penumpang pada pesawat CN295 ini memiliki kemampuan angkut hingga 50 orang penumpang.

"Konfigurasi troops kapasitas adalah 70 orang, konfigurasi fully equipped paratroops kapasitasnya adalah 45 orang, sementara untuk konfigurasi medical evacuation mampu membawa 24 stretchers," terangnya.

Helikopter Bell 412EP Polri [BUMN]

Dia mengatakan, pesawat multiguna ini merupakan pesawat terbang hasil kerjasama industri antara PTDI dengan Airbus Defense & Space (ADS) yang dikerjakan di kawasan produksi PTDI di Bandung, Jawa Barat.

"Dengan diserahkannya pesawat CN295, diharapkan dapat meningkatkan kinerja Kepolisian Udara Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan operasi kepolisian udara. Pesawat CN295 Polud ini merupakan pesawat ke-10 yang diproduksi PTDI, di mana 9 unit pesawat CN295 sebelumnya sudah diserahkan dan dioperasikan oleh TNI AU," kata Elfien.

Komjen Moechgiyarto mengatakan, pesawat yang dibeli dengan skema kredit Swasta Asing (KSA) ini adalah pesawat ke 11 milik Direktorat Polisi Udara RI. "CN295 kita sudah ada 10 dengan hadirnya ini bertambah menjadi 11, sedangkan helikopter kita ada 48. Nanti akan ditambah 1 lagi menjadi 49 armada untuk tahun 2018," ucap dia.

Menurut mantan Kapolda Metro Jaya ini, jumlah pesawat yang ada saat ini, memang jauh dari ideal. Namun pihaknya berusaha memenuhi standar minimal peralatan dan perlengkapan Polisi udara.

"Kalau ideal negara tak akan mampu, kita standar minimal saja kita akan buat standar kebutuhan minimal peralatan udara itu sejauh berapa yang kita inginkan. Memang kalau kita lihat standar kebutuhan masih jauh dari harapan yang kita inginkan," terang Moechgiyarto.

  ★ Merdeka  

[Video] KP. Yudistira 8003

Siap Mengamankan Perairan Indonesia Produksi PT DRU

Spesifikasi :

★ Panjang: 73 m
★ Lebar: 11.35 m
★ Tinggi: 3 m

Diposkan oleh Titis Juwandar


  ★ Youtube  

Menhan RI Terima Kunjungan Delegasi Industri Pertahanan Turki

Pengembangan bersama pesawat tanpa awak dan kapal selam. Turki tawarkan kerjasama pengembangan kapal selam ke Indonesia [Turkishnavy] ★

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan Delegasi Industri Pertahanan Turki dan Jerman yang dipimpin oleh Vice President of the Presidency of Defence Industries SSB Serdar Demirel, Selasa (4/9) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Dalam kunjungan ini, kedua pihak membicarakan mengenai upaya peningkatan kerja sama pertahanan kedua negara khususnya di bidang industri pertahanan.

Kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Turki beberapa tahun terakhir meningkat signifikan diantaranya adalah program kerja sama pengembangan dan produksi bersama tank kelas menengah (medium tank).

“Sebagaimana diketahui bahwa program tank medium sudah berjalan baik, jadi prototype pertama sudah ditunjukan pada hari Kemerdekaan RI, kami berharap untuk produksi masif sudah bisa berjalan”, tutur Serdar Demirel saat diterima Menhan RI.

Mengawali kunjungan kepada Menhan RI tersebut, Serdar Demirel bersama delegasi menyampaikan ucapan terima kasih atas kehormatannya dapat diterima. Tujuan kunjungan ini adalah dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan antara Presiden Turki dan Presiden RI tentang peningkatan kerja sama industri pertahanan kedua negara, pada saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Turki tahun lalu.

Lebih lanjut Serdar Demirel menyampaikan, selain kerja sama pengembangan Medium Tank, industri pertahanan Turki juga ingin memperluas kerja sama dengan industri pertahanan Indonesia, diantarnya kerja sama pengembangan bersama pesawat tanpa awak dan kapal selam. “Karena kami tahu bahwa Indonesia juga ingin membangun kemampuannya sendiri terkait dengan kapal selam”, tambahnya. (BDI/RAF)

  ♞ Kemhan  

Jumat, 07 September 2018

KSP Apresiasi Kekuatan Industri Pertahanan Indonesia

Medium Tank Pindad [def.pk] ★

Awal pekan ini, Tim Pertahanan Kedeputian V Kantor Staf Presiden Republik Indonesia antara lain Erro Kusnara, Akbar Fajri, Catur Aryanto, dan Santi Paramitha menggelar rangkaian kunjungan terkait industri pertahanan Indonesia.

Senin, 27 Agustus 2018, bertempat di Pusat Pendidikan Infanteri TNI AD Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, tim ini menghadiri kegiatan uji daya gempur (firing test) Medium Tank PT. Pindad sekaligus melakukan verifikasi data capaian kinerja PT. Pindad selama empat tahun terakhir. Uji daya gempur merupakan bagian dari rangkaian kegiatan sertifikasi yang dilaksanakan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat (Dislitbangad) untuk menilai apakah kemampuan daya gempur Medium Tank dalam kondisi baik dan memenuhi persyaratan dan spesifikasi desain. Sebelumnya, Medium Tank telah melewati mine blast test atau uji ketahanan atas ledak ranjau dengan hasil yang memuaskan pada 12 dan14 Juli 2018, serta uji mobilitas dan performa pada 7 - 16 Agustus 2018.

Uji daya gempur dilakukan untuk menguji fungsi penembakan turret 105 mm yang merupakan senjata utama Medium Tank yang memiliki daya hancur besar. Turret Medium Tank dipersenjatai dengan canon kaliber 105 mm yang mampu menembakkan berbagai tipe munisi kaliber 105 mm.

Uji daya gempur dilakukan pada saat tank dalam kondisi statis dan kondisi bergerak. Hal ini untuk menunjukan beberapa kemampuan tank, yakni kemampuan lock on pada satu titik ketika tank dalam kondisi bergerak, kemampuan tembak tank pada semua sisi dalam kondisi statis serta kemampuan tembak pada sasaran diam dalam kondisi tank bergerak.

Pindad telah menyelesaikan proses pengembangan Medium Tank mulai dari proses desain sampai dengan prototyping yang dibangun oleh anak bangsa di Indonesia. Kehadiran Medium Tank merupakan bukti bahwa industri pertahanan dalam negeri mampu menghasilkan produk inovatif berteknologi tinggi dalam mendukung kemandirian alutsista dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Medium Tank merupakan program jangka panjang dalam membangun penguasaan teknologi menuju kemandirian alutsista dalam negeri. Medium Tank termasuk pada 7 program pengembangan strategis pemerintah untuk meningkatkan kapasitas Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) agar dapat bersaing dengan industri pertahanan luar negeri. Melalui program kerjasama pengembangan Medium Tank dengan FNSS Turki, PT. Pindad mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan referensi standar internasional mengenai pengembangan tank yang dapat diimplementasikan pada industri dalam negeri di Indonesia.

Setelah selesai menghadiri uji gempur Medium tank, Tim Kedeputian V mengadakan rapat dengan jajaran pimpinan PT. Pindad yang dipimpin oleh VP Information Technology PT. Pindad, Amalia Maya Fitri. PT. Pindad merupakan salah satu BUMNIS yang dikawal secara langsung oleh Kantor Staf Presiden terutama dalam peningkatan kapasitas industri pertahanan Indonesia. Dalam agenda rapat, PT. Pindad menyampaikan capaian pelaksanaan kegiatan prioritas beserta hambatan-hambatan yang ditemui untuk kemudian dikaji lebih lanjut oleh KSP terkait solusi permasalahn yang ada.

 Berlanjut ke PT Dirgantara Indonesia 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjgJUavCXkq-u8pvPY0LVjF3IjsAg9DFIE4_SFDfrTTggNnJL5_vI1SKE5mv1ZI7VFiyBC0urMwfi3z4V0PZnuSAXYVUsV36OV3FdJYKaiI3KFo3S1yzjITRftFL-ejj0yM4bDTFwkVu3p/s1600/20902122_N219+Maiden+Flight.+Credit+to+akangaviation.jpgSebagai rangkaian dari kegiatan verifikasi lapangan terkait pengembangan industri pertahanan, tim ini kemudian mengunjungi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung. Dalam kunjungan tersebut, Tim KSP diterima oleh Direktur Niaga PTDI, Irzal Rinaldi Zailani, dan Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, untuk membahas capaian kinerja PTDI khususnya dalan empat tahun terakhir.

Erro Kusnara selaku Tenaga Ahli Utama Kedeputian V menyampaikan bahwa verifikasi lapangan dalam tema pertahanan ini merupakan yang kali pertama dilaksanakan oleh Kantor Staf Presiden. “Tahun 2018 ini, tema pertahanan menjadi program yang dikawal oleh Kantor Staf Presiden melalui Sistem Pemantauan (SISPAN). Salah satu bagian dari pemantauan tema pertahanan adalah industri pertahanan. Biasanya kami melaksanakan verifikasi kepada kementerian/lembaga, namun karena ini adalah industri pertahanan, maka kami langsung melakukan koordinasi dan verifikasi pada pelaku industrinya langsung.” kata Erro.

Selain berdiskusi terkait capaian kinerja PTDI, Tim Kedeputian V berkesempatan untuk melakukan plant tour untuk melihat proses produksi dan perakitan pesawat buatan PTDI. Saat melaksanakan plant tour ini, PTDI menjelaskan produk-produk pesawat yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, salah satunya pesawat N219 yang sudah diluncurkan oleh Presiden Jokowi pada November 2017 yang dinamai Nurtanio – untuk menghormati nama perintis penerbangan Indonesia, Nurtanio Pringgoadisuryo.

Saat ini, pesawat N219 tengah dalam proses sertifikasi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Kendati masih menanti penerbitan sertifikat, PTDI sudah menerima pesanan dari banyak negara di antaranya Uni Eropa, Kolombia, Meksiko, dan Uni Emirat Arab. Selain N219, PTDI juga saat ini sedang mengembangkan pesawat CN235 dan helikopter yang sudah dipesan khususnya oleh kementerian/lembaga yang nantinya akan digunakan untuk menjaga keamanan udara wilayah NKRI.

Direktur Produksi PTDI mengungkapkan, “Kami sangat senang dengan adanya kunjungan dan verifikasi lapangan dari Kantor Staf Presiden ini. Melalui forum ini, kami bisa berdiskusi secara langsung dengan pemerintah pusat untuk menyampaikan capaian sekaligus hambatan yang kami hadapi dalam upaya pengembangan industri pertahanan khususnya dari sisi PT Dirgantara Indonesia.”

 Juga Pantau PT PAL 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPHyGDfXUXKQDQoTBQEbhySGbfPPSJB_yXu2ekp0q-97gwxyQutAKXRjTeosj8_0TJRRRvdQmIK_B1NMR7idYxBZX9tEDzfUZ3oKOc_gIVh-kMmDe7QVwY0qXnkcj1XWBFNaPhGwuImyzE/s1600/Screenshot_2018-07-19+Indonesia+Defence+Forum%25281%2529.pngSementara itu, pada Jumat, 31 Agustus 2018, Tim Kedeputian V Kantor Staf Presiden yang terdiri dari Theofransus Litaay (Tenaga Ahli Utama), Akbar Fajri (Tenaga Ahli Muda), dan Catur Aryanto (Tenaga Ahli Muda) melaksanakan verifikasi lapangan bidang industri pertahanan ke PT. PAL Indonesia (Persero) di Surabaya, Jawa Timur. Verifikasi ini ditujukan untuk memantau program/kegiatan prioritas nasional yang dilaksanakan oleh PT. PAL yang menjadi pantauan Kantor Staf Presiden Republik Indonesia melalui Sistem Pemantauan (SISPAN).

Selaras dengan janji Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, kekuatan laut mutlak menjadi syarat utama. Oleh karena itu, pengembangan industri pertahanan khususnya bidang perkapalan merupakan salah satu unsur esensial yang harus dikawal. Selain memproduksi kapal niaga, PT PAL juga memproduksi kapal perang. Saat ini, PT PAL tengah dalam proses produksi jenis kapal landing platform dock (LPD) yang dipesan khusus oleh TNI AL.

Permintaan produksi kapal perang kepada PT. PAL terus meningkat setelah sebelumnya pada 2016 PT.PAL berhasil memproduksi dua kapal jenis strategic sealift vessel (SSV) pesanan Filipina dengan kisaran harga antara 45 – 50 juta dolar AS. Salah satu di antaranya adalah pesanan dari Senegal yang berupa kapal tanker dan kargo seberat 18.500 ton. Di samping itu, Senegal juga mengutarakan minatnya untuk membeli dua unit kapal patrol ukuran 60 meter.

“Verifikasi dan kunjungan ini merupakan salah satu upaya untuk memastikan kemampuan produksi alutsista sektor laut yang dilaksanakan oleh PT. PAL. Progres yang ditunjukkan oleh PT. PAL menunjukkan performa yang sangat baik dalam perakitan kapal selam, pembangunan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter dan kapal LDP pesanan TNI AL. Korea Selatan sebagai negara mitra kerja sama dalam pembuatan kapal selam ini mengakui bahwa hasil pengelasan dan perakitan kapal selam di Indonesia adalah yang paling sempurna dari pengelasan dan perakitan kapal selam yang juga dilakukan oleh negeri gingseng itu. Kita harus bangga akan pencapaian kerja anak bangsa ini,” tukas Theofransus Litaay.

Direksi PT PAL mengungkapkan apresiasinya atas kunjungan KSP untuk meninjau langsung PT.PAL. “Kami sangat senang dengan adanya kunjungan dari KSP ini karena kami bisa langsung mendiskusikan kegiatan prioritas yang dilaksanakan oleh PT PAL dalam rangka mendukung Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. Selain itu, kami juga ikut bertanggung jawab dalam memenuhi alutsista untuk menjaga keamanan laut” ujar Turitan Indaryo, Direktur Pembangunan Kapal PT PAL.

Direktur Utama PT PAL, Budiman Saleh, menutup pertemuan dengan KSP dengan menyatakan harapan Presiden Jokowi dapat hadir dalam waktu dekat ke PT. PAL dalam rangka peresmian beberapa agenda di antaranya penamaan hangar kapal selam, pengiriman KCR 60, peluncuran kapal selam dan pengiriman LPD pesanan TNI AL.

  ♞ KSP  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...