Minggu, 23 September 2018

[Dunia] Israel Jadikan Pesawat Rusia Tameng dari Sistem Pertahanan Suriah

Israel Salahkan Suriah Pesawat Il-20 milik Angkatan Udara Rusia sebagai perisai dari sistem pertahanan udara pemerintah Suriah. [Foto/Istimewa]

Jet tempur Israel dilaporkan menggunakan pesawat Il-20 milik Angkatan Udara Rusia sebagai perisai dari sistem pertahanan udara pemerintah Suriah. Sebelumnya, sebuah pesawat Il-20 jatuh dihantam sistem pertahanan udara Suriah, saat Israel melancarkan serangan di negara itu.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov tidak secara langsung membenarkan laporan itu. Dia hanya menyatakan, jet tempur Israel mendekati pesawat Il-20, saat pesawat itu mulai meluncur luncur setelah terkena rudal Suriah.

Konashenkov kemudian membantah klaim oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF), bahwa jet mereka sudah berada di wilayah udara Israel ketika Angkatan Darat Suriah meluncurkan rudal yang menghantam pesawat Rusia. Dia mengatakan bahwa F-16 Israel meninggalkan daerah itu 10 menit setelah pesawat Rusia tertembak.

"Data obyektif yang disajikan memberi kesaksian bahwa tindakan pilot jet tempur Israel, yang menyebabkan hilangnya nyawa 15 prajurit Rusia, tidak memiliki profesionalisme atau merupakan tindakan kelalaian kriminal," ucapnya, seperti dilansir Spuntik pada Minggu (23/9).

"Oleh karena itu, kami percaya bahwa kesalahan untuk tragedi pesawat Ilyushin Il-20 Rusia terletak sepenuhnya pada pasukan udara Israel dan mereka yang membuat keputusan untuk melakukan tindakan seperti itu," sambungnya.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa jet Israel mungkin telah menjadi ancaman bagi pesawat sipil ketika Il-20 ditembak jatuh, dan menekankan bahwa Rusia tidak pernah melanggar perjanjian mengenai penerbangan di Suriah dengan Israel.

"Dengan demikian, jet Israel menciptakan ancaman langsung ke setiap pesawat penumpang atau transportasi yang mungkin ada di sana pada waktu itu dan bisa menjadi korban dari "petualangan" militer Israel ini," tukasnya.

 Israel Langgar Perjanjian Mengenai Pencegahan Insiden 

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov menyatakan, Israel telah melanggar perjanjian mengenai pencegahan insiden di Suriah, dengan memberitahu akan melakukan serangan saat serangan itu telah dilancarkan.

Berbicara dalam konferensi pers di Moksow, Konashenkov mengatakan, Israel menyesatkan pihak Rusia dengan memberikan informasi yang salah tentang area serangan udara yang direncanakan di Suriah pada 17 September, sehingga pesawat Il-20 Rusia tidak bisa berpindah ke tempat yang aman.

"Hari ini, kami berbagi informasi rinci tentang jatuhnya pesawat Ilyushin IL-20 dari Angkatan Udara Rusia di dekat pantai Suriah pada tanggal 17 September," ucap Konashenkov dalam sebuah pernyataan.

"Kami akan menyajikan laporan menit-demi-menit dari insiden tragis ini yang dibuat berdasarkan pada pembacaan radar yang obyektif termasuk dari sistem informasi tampilan udara Plotto," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (23/9).

Dia lalu mengatakan, Angkatan Udara Israel memberi tahu Rusia tentang rencana serangannya terhadap sasaran di Suriah secara bersamaan dengan permulaan serangan, bukannya melakukan hal itu sebelumnya. Hal ini, lanjut Konashenkov melanggar perjanjian bilateral tahun 2015 untuk mencegah insiden semacam itu di wilayah udara Suriah.

"Israel tidak memberitahu pasukan Rusia tentang operasinya sebelumnya, tetapi mereka mengeluarkan peringatan secara bersamaan dengan awal serangan, yang merupakan pelanggaran perjanjian. Tindakan ini merupakan pelanggaran jelas dari perjanjian Rusia-Israel pada 2015 yang bertujuan untuk mencegah bentrokan antara angkatan bersenjata kita, di dan di atas Suriah, yang dicapai oleh kelompok kerja gabungan," tukasnya. (esn)

 Tel Aviv Menolak Disalahkan 
Rusia-Israel Memanas, Tel Aviv Menolak Disalahkan atas Tragedi Il-20Paparan visual menit-menit tragedi jatuhnya pesawat mata-mata Il-20 Rusia di Latakia, Suriah. Moskow salahkan Israel meski pesawat itu ditembak jatuh oleh sistem rudal S-200 Suriah. [Foto/Kementerian Pertahanan Rusia]

Perseteruan antara Israel dan Rusia memanas setelah Tel Aviv menolak disalahkan Moskow atas tragedi jatuhnya pesawat mata-mata Il-20 di Suriah yang menewaskan 15 tentara Moskow. Moskow tetap anggap Tel Aviv bersalah dengan menjadikan pesawat mata-mata itu sebagai tameng jet-jet tempur F-16 Israel dari tembakan sistem rudal S-200 Suriah di Latakia.

Moskow pada hari Minggu (23/9/2018) sudah merilis data menit-menit tragedi pesawat Il-20. Kesimpulan Moskow di luar espektasi Tel Aviv yang percaya ketegangan atas insiden itu sudah diselesaikan pekan lalu dengan penjelasan rinci militer Israel.

"IAF (Angkatan Udara Israel) tidak bersembunyi di balik pesawat apapun dan ... pesawat Israel berada di wilayah udara Israel pada saat jatuhnya pesawat Rusia," kata Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui Twitter yang dikutip dari akun resminya, @IDFSpokesperson, semalam.

"Mekanisme deconfliction (dengan pasukan Rusia) beroperasi dalam jangka waktu yang relevan," lanjut IDF.

"Keamanan dan kesejahteraan pasukan Rusia yang beroperasi di Suriah adalah komponen fokus di setiap persetujuan dari setiap kegiatan oleh pejabat senior di IDF dan di Israel," imbuh IDF.

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman bahkan menegaskan Tel Aviv tidak akan mengubah kebijakan militernya di Suriah meski pesawat Il-20 Rusia sudah menjadi korban.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia menyajikan data menit-demi-menit dari tragedi jatuhnya pesawat Il-20 di Suriah pada 17 September 2018. "Kesalahan atas insiden itu, di mana 15 tentara Rusia terbunuh, terletak sepenuhnya pada Angkatan Udara Israel," kata Kementerian itu.

Data radar dan komunikasi yang sebelumnya dirahasiakan menunjukkan bahwa pesawat Moskow itu ditembak jatuh oleh sistem rudal pertahanan udara Suriah ketika jet F-16 Israel secara efektif menggunakan pesawat Il-20 sebagai perisai selama serangan berlangsung.

Menurut kementerian itu, Angkatan Udara Israel memberi Rusia waktu peringatan kurang dari satu menit sebelum pemboman di Latakia. Selain itu, Tel Aviv juga memberikan informasi yang salah tentang posisi jet tempurnya dan target mereka. "Tindakan tersebut adalah pelanggaran jelas dari perjanjian Rusia-Israel 2015," lanjut kementerian tersebut, seperti dikutip dari media pemerintah Moskow, Russia Today.

"Kepemimpinan militer Israel tidak memiliki penghargaan untuk hubungan erat dengan Rusia, atau tidak memiliki kontrol atas perintah individu atau perwira komandan yang mengerti bahwa tindakan mereka akan mengarah pada tragedi," papar Kementerian Pertahanan Rusia.

Moskow juga menyatakan bahwa mereka memiliki data tak terbantahkan lain yang mendukung materi yang disajikan pada briefing hari Minggu dan membuktikan bahwa Israel memang harus bertanggung jawab.

 Rusia Pasok Sistem Rudal S-300 

Rusia memutuskan akan memasok sistem rudal S-300 kepada rezim Suriah dalam dua minggu ke depan. Keputusan yang pernah ditentang Israel ini diambil Moskow setelah pesawat mata-matanya, Il-20, ditembak jatuh sistem rudal S-200 Damaskus ketika merespons serangan empat jet tempur F-16 Israel.

Menteri Pertahanan Sergei Shoigu pada hari Senin (24/9/2018) mengumumkan keputusan Moskow tersebut. Senjata terbaru bagi rezim Suriah itu akan meningkatkan kemampuan tempur pasukan pertahanan Presiden Bashar al-Assad terhadap setiap serangan musuh.

Shoigu mengungkapkan Moskow pernah menghentikan pengiriman S-300 ke Damaskus pada tahun 2013 atas permintaan Israel. "Tetapi situasi di seputar pasokan itu telah berubah bukan karena kesalahan Rusia," katanya, seperti dikutip Sputnik.

Sistem, yang memiliki jangkauan 250 kilometer dan dapat melibatkan beberapa target udara, akan dikerahkan untuk meningkatkan keamanan tentara Rusia yang ditugaskan di Suriah. Selain itu, peralatan otomatis yang disediakan oleh Moskow itu akan memastikan identifikasi pesawat Rusia oleh pasukan pertahanan udara Suriah.

"Jika tindakan yang diambil oleh Rusia setelah insiden Il-20 di Mediterania gagal mendinginkan 'pemarah', kita harus merespons sesuai dengan situasi," ujar Shoigu.

Pada hari Minggu Kementerian Pertahanan Rusia menyajikan data menit-demi-menit dari tragedi jatuhnya pesawat Il-20 di Suriah pada 17 September 2018. "Kesalahan atas insiden itu, di mana 15 tentara Rusia terbunuh, terletak sepenuhnya pada Angkatan Udara Israel," kata Kementerian itu.

Data radar dan komunikasi yang sebelumnya dirahasiakan menunjukkan bahwa pesawat Moskow itu ditembak jatuh oleh sistem rudal pertahanan udara Suriah ketika jet F-16 Israel secara efektif menggunakan pesawat Il-20 sebagai perisai selama serangan berlangsung.

Namun, Israel tetap menolak disalahkan. "IAF (Angkatan Udara Israel) tidak bersembunyi di balik pesawat apapun dan ... pesawat Israel berada di wilayah udara Israel pada saat jatuhnya pesawat Rusia," kata Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui Twitter yang dikutip dari akun resminya, @IDFSpokesperson, semalam.

"Mekanisme deconfliction (dengan pasukan Rusia) beroperasi dalam jangka waktu yang relevan," lanjut IDF. (mas)

  ♞ sindonews  

Pindad Akan Bikin Tank 8x8 Dengan Mesin Listrik

♞ Setelah Sukses Membuat Medium Tank Arah pengembangan kendaraan tempur di PT Pindad [JMP]

PT Pindad (Persero) baru saja merampungkan pembuatan purwarupa medium tank. Sebelum bisa diproduksi massal, tank teranyar buatan Pindad tersebut menjalani uji tembak pada 27 Agustus.

Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose mengatakan tank merupakan kendaraan tempur yang cukup menjanjikan dari sisi bisnis selain menambah kekuatan tempur TNI karena tank AMX akan dipensiunkan.

"Medium tank ini akan kami tingkatkan untuk mengganti (AMX)," tutur Abraham.

Kesuksesaan membuat medium tank tidak menghentikannya untuk berinovasi. Namun semangat untuk kembali membuat kendaraan tempur berat terus berkobar.

"Setelah ini kami akan menggarap tank 8X8," ungkapnya.

Selain itu, pengembangan varian akan terus dilakukan. Dalam hal ini, Abraham mengungkapkan salah satu yang akan menjadi pengembangannya adalah membuat tank listrik.

"Selama ini transmisi dan mesin yang digunakan masih konvensional. Masih menggunakan bahan bakar, kedepan kami akan mengembangkan transmisi dan mesin elektrik. Sangat memungkinkan, kapal selam saja sudah ada yang menggunakan listrik, kenapa tank tidak bisa?" imbuhnya.

Salah satu yang menjadi kendala dalam membuat tank berbahan bakar listrik adalah terletak pada bagian power suply. Abraham menyebut, saat ini yang menjadi keterbatasan dalam pengembangan mesin dan transmisi eletrik adalah baterai.

"Tapi dalam lima tahun kedepan, teknologi batre akan maju begitu pesat. Masalah batre ini kemungkinan tidak akan menjadi kendala lagi," tutupnya.

  ♞ Ayo Bandung  

Sabtu, 22 September 2018

Skadron Udara 8 Latihan Terbang Malam

Tanpa Bantuan Cahaya Lampu https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAA4iApPaBgsRAF8mBEQFURdwCkxBw3Hn6jnU1D69EdFuriDJu6f8iUJL21CkOcUpIuHG3CCLuufhWrRXpcki57P-bPX-ga3Hy4tGDcMqZ7MY3SLygkwOF7tjdBGvpYmmzGKZ-Sw11zS8/s400/3-kclff2.pngSkuadron Udara 8 saat ini mengoperasikan helikopter AS-332 Super Puma dan EC-725 Caracal [Detik] ★

Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja kini memiliki Night Vision Google (NVG) yaitu alat bantu penglihatan malam yang digunakan untuk melaksanakan terbang malam tanpa bantuan cahaya lampu. Alat tersebut diuji coba setelah menjalani latihan penggunaan alat tersebut, yang dilakukan langsung oleh Komandan Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja, Letkol Pnb Asep Wahyu Wijaya, yang dilaksanakan di area Bogor, selama sepekan ini, dan berakhir pada malam Jumat atau Kamis malam, (20/9).

Di sela-sela kesibukannya melaksanakan latihan malam menggunakan NVG, Danskadron Udara 8 ini menjelaskan tentang kegunaan alat tersebut. “Untuk pertama kali alat ini digunakan oleh Penerbang khususnya penerbang helikopter di Indonesia yang dilaksanakan oleh Skadron Udara 8 pada hari Selasa, 18 September 2018 pada pukul 22.00 Wib,” jelasnya. “Kami melakukan konven area ke daerah Ciomas, di wilayah Gunung Kapur dan melaksanakan landing di Helipad Hastina Gunung Kapur tanpa ada cahaya apapun,” ujar Letkol Pnb Asep Wahyu Wijaya.

Selanjutnya Danskadron 8 ini menjelaskan kehebatan alat tersebut yang digunakan untuk melihat dengan jelas di malam hari tanpa ada cahaya sedikitpun, hanya menggunakan ilminasi dari cahaya bulan. “Karena bila ada cahaya, maka akan mengganggu penglihatan penerbang karena memang alat ini berfungsi untuk menerangkan di kondisi gelap”, ujarnya.

“Sebelum menggunakan alat ini, lanjutnya, kita bisa melaksanakan terbang malam hanya base to base, dari aerodrome ke aerodrome, tidak bisa dari aerodrome ke spot, apalagi dari spot ke spot, itu lebih tidak bisa lagi, karena dengan mata terbuka di malam hari, kita tidak bisa melihat tingginya pohon, adanya bukit dan segala macam, tapi dengan alat ini, semuanya tampak jelas seperti siang hari”.

Letkol Pnb Asep mengungkapkan bahwa kalau terbang di low level navigasi, pada siang hari saja ya agak bikin merinding, tapi dengan terbang di malam hari menggunakan alat ini, tanpa ada cahaya lampu sedikitpun, dapat melihat dengan jelas, ada bukit, ada antena, dan lain sebagainya. Dengan alat tersebut, menelusuri bebukitan, menelusuri sungai, yang biasanya hanya bisa di lakukan siang hari, dapat dilakukan dengan mudah dimalam hari yang gelap.

Komandan Lanud Atang Sendjaja, Marsma TNI Erwin B. Utama, yang selama pelaksanaan latihan malam, bersama-sama dengan pejabat Lanud Atang sendjaja lainnya berada di Skadron Udara 8 mengungkapkan bahwa dengan adanya alat ini, akan ada peningkatan kemampuan penerbang untuk terbang malam. “Akan terjadi peningkatan kemampuan penerbang termasuk waktu terbang yang bisa dilakukan selama 24 jam tanpa hambatan,” ujar Marsma TNI Erwin B. Utama. Artinya, lanjutnya, dapat terbang dari pagi sampai pagi tanpa harus ada lagi pembatasan, karena tuntutan tugas ya memang seperti itu”.

“Kami berharap, dengan adanya alat terbaru yang dimiliki oleh Skadron Udara 8 maupun Skadron Udara 6, akan dapat meningkatkan peran pesawat helikopter bagi kepentingan bangsa dan Negara termasuk masyarakat”, ujar Danlanud Atang Sendjaja. “Kami juga mohon pengertian dari masyarakat apabila sewaktu-waktu kami melaksanakan latihan malam, agar dapat dimaklumi dan semoga selalu memberikan dukungan atas pelaksanaan tugas-tugas Lanud Atang Sendjaja tersebut,” pungkasnya.


  ★ TNI AU  

Jumat, 21 September 2018

[Dunia] Australia Berencana Bangun Pangkalan MIliter

Di Papua Niugini Pulau Manus PNG [Google Maps] ★

Australia dilaporkan berencana membangun pangkalan angkatan laut di Papua Niugini untuk menangkal pengaruh China di kawasan Pasifik.

The Australian via AFP melaporkan Kamis (20/9/2018), Canberra bersiap menyelesaikan fasilitas militer bersama di Pulau Manus.

Kesepakatan itu bakal dijalin di tengah pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Port Moresby November mendatang.

Pejabat Kementerian Pertahanan Australia menjajaki pembangunan kembali Pangkalan Lombrum setelah Perdana Menteri Papua Niugini Peter O'Neill berkunjung ke Australia Juli lalu.

Dikonfirmasi mengenai pemberitaan The Australian, PM Australia Scott Morrison berkata tidak memberikan sanggahan.

"Pasifik merupakan area prioritas tertinggi bagi kepentingan keamanan nasional Australia," kata PM 50 tahun tersebut.

"Namun saya tidak akan berkomentar soal spekulasi isu keamanan nasional karena memang tak diperlukan," lanjut Morrison.

Kabar rencana pembangunan pangkalan militer di Papua Niugini terjadi setelah China dikabarkan berniat menempatkan militer di Vanuatu.

China dilaporkan telah mengucurkan miliaran dolar Amerika Serikat (AS) dalam bentuk pinjaman infrastruktur di pulau kawasan Pasifik.

Kawasan tersebut dikenal sangat strategis dan penting sebagai jembatan maritim di Asia. Australia telah memperingatkan pentingnya membendung pengaruh Beijing di sana.

Negeri "Kanguru" mengkritik China yang disebut melakukan "diplomatik lembut". Di 2018 ini, mereka menyatakan bakal menjalin perjanjian dengan Vanuatu.

Selain itu, mereka juga mengumumkan bakal membangun jalur kabel komunikasi bawah laut di Kepulauan Solomon dan Papua Niugini.

  ♞ Kompas  

Kompi Kavaleri 11/WSC Kodam Iskandar Muda Diresmikan

Diperkuat Anoa Panglima Kodam (Pangdam) Iskandar Muda (IM), Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko meresmikan Kompi Kavaleri (Kikav) 11/Walet Setia Cakti (WSC) Kodam IM, dalam suatu upacara di lapangan upacara Kompi Kav 11/WSC, Lhoknga, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Rabu (19/9/2018).

Satuan ini sebelumnya berada dibawah komando dan bagian dari Kompi Panser 11.1/Serbu Batalyon Kavaleri (Yonkav) 11/Macan Setia Cakti (MSC) yang bermarkas di Jantho, Aceh Besar.

Dalam amanatnya Pangdam IM mengatakan, upacara peresmian tersebut merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan organisasi Kodam IM, karena sejak hari itu, Kikav 11.1 Yonkav 11/MSC beralih status menjadi Kikav 11/WSC Kodam IM.

“Penyesuaian Orgas ini merupakan bagian rencana strategis TNI AD dalam pembangunan dan gelar satuan TNI AD yang semakin modern, efektif, dan profesional, guna memaksimalkan Deterrence Effect, sekaligus respon terhadap dinamika perkembangan lingkungan strategis ke depan, guna mendukung tugas-tugas Kodam Islandar Muda,” katanya.

Dikatakan lebih lanjut, pengembangan satuan berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) TNI AD, setiap Kodam memiliki satu Kompi yang bersifat Berdiri Sendiri (BS), yang berada dibawah kendali langsung Pangdam, dengan tugas pengamanan pada satuan yang lebih besar sebagai satuan kawal, tirai dan pengintai, pengamanan wilayah, pengamanan objek vital nasional, VIP, dan VVIP, serta untuk melaksanakan pengintaian guna mengumpulkan bahan keterangan dalam setiap pelaksanaan tugas operasi.

“Sebagai satuan yang berada di tengah-tengah masyarakat, perhatikan faktor keamanan prajurit yang keluar masuk satuan, serta laksanakan pembinaan teritorial terbatas di wilayahnya, agar para prajurit mengenal lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar pangkalan, sehingga masyarakat di sekitar pangkalan akan merasa memiliki dan merasa aman dengan keberadaan Kikav 11/WSC ini,” pesan Pangdam IM.

Turut hadir dalam upacara tersebut, Kasdam IM Brigjen TNI Achmad Daniel Chardin , Irdam IM, Kabalakdam IM, dan Komandan satuan jajaran (Dansatjar) Kodam IM.

  ♞ TNI AD  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...