Sabtu, 21 Desember 2019

Indonesian Shipyard Lays Keels for Two Tank Landing Ships

 An Indonesian shipbuilder has laid down two more tank landing ships for the country’s navy. [Terafulk] ☆

Indonesian shipbuilder PT Bandar Abadi has laid down two more Teluk Bintuni-class tank landing ships (LSTs) on order for the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut, or TNI-AL).

The keels for both vessels were laid down on 19 December at the company’s facilities in Batam. The event was confirmed by Terafulk Ship Design, which is collaborating with PT Bandar Abadi on the project, in a statement on the following day.
 

  ☠ Jane's  

Jumat, 20 Desember 2019

Kapal Cepat Rudal ke 5 dan 6 Pesanan Kemenhan

Rampung 30 Persen https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh343RinlCe7O1Ro6F6TyuS-Iq7T9agCglKrc_EuXeEP6Cg5c_5OLpi7YO9xOlbRaVPof1YT8FawuoH_AmUcIzZDms9WJj1jzoLMyw2qeeFC8w7NDUNhxJeZJaLNSXIouFkEiABw-y3Eitq/s1600/Screenshot_2019-12-24+Indonesia+Defence+Forum.pngIlustrasi KCR 60M PT PAL. [PAL Indonesia] ☆

PT PAL Indonesia (Persero) telah merealisasikan proses keel laying pembangunan proyek kapal KCR 5 dan KCR 6 pesanan Kementerian Pertahanan atau sekitar 30% melebihi target perencanaan.

Direktur Utama PAL Indonesia, Budiman Saleh mengatakan perkembangan produksi untuk KCR 60 ke-5 dalam keel laying atau pemasangan lunas kapal sudah mencapai 28,61% dari target semula 20,6%.

"Sedangkan KCR 60 ke-6 sudah mencapai 30,07% melebihi target semula 19,4%. Jadi keel laying ini dilaksanakan lebih awal dari rencana semula," katanya dalam rilis, Jumat (20/12/2019).

Dia mengatakan pembangunan dua kapal KCR 60 ini merupakan hasil kontrak pembelian dari Kemenhan sejak 28 September 2018. Hingga kini perseroan telah menyerahkan 4 unit kapal KCR kepada Kemenhan sebagai pemesan.

Adapun tahapan keel laying ini penting karena nantinya usia kapal akan dihitung sejak pertama kali pemasangan lunasnya. Kapal KCR ke-5 dan KCR-6 TNI AL ini memiliki panjang 60 meter, dan lebar 8,10 meter.

Kapal tersebut mampu mengakomodasi kru sebanyak 55 orang. Kapal tersebut memiliki berat 500 ton dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 28 knot dengan endurance 5 hari, kapal itu juga memiliki jarak jelajah 2400 Nm pada kecepatan 20 knot.

"Kapal tersebut juga akan dilengkapi dengan sistem senjata dan radar," imbuhnya.

Diketahui fungsi utama kapal KCR adalah untuk pengamanan wilayah maritim dan sangat relevan dengan karakteristik geografi Indonesia.

Kapal KCR masuk dalam kategori Offshore Patrol Vessel (OPV) yang memiliki kemampuan manuver yang lincah, mampu bergerak secara cepat, serta dapat digunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kapal asing yang melanggar wilayah teritorial.

  ★ Bisnis  

KRI Bubara 968 dan Gulamah 869 Armada Baru TNI AL

TNI AL baru saja mendapatkan tambahan kekuatan armada perang dengan hadirnya dua kapal perang hasil karya anak bangsa, yakni KRI Gulamah 869 dan KRI Bubara 868.

Kedua kapal perang produksi PT Caputra Mitra Sejati (CMS) tersebut menggunakan nomer lambung dari kapal perang lama yang kini sudah diturunkan perannya dari KRI ke KAL.

KRI Bubara 868 tadinya nomer lambungnya disematkan pada KRI Anakonda 868, kemudian KRI Gumalah 869 tadinya nomer lambungnya adalah milik KRI Patola 869, kedua kapal patroli dari bahan lambung fiberglass tersebut kini menjadi arsenal peronda di tingkat Lantamal (Pangkalan Utama Angkatan Laut).

Dikutip dari tnial.mil.id, pemberian nama Bubara dan Gulamah, diambil dari nama sejenis ikan kakap putih yang merupakan ikan jenis demersal, ikan tersebut biasa ditemukan di perairan pesisir dan sungai. Kedua ikan itu memiliki karakteristik kecepatan dan ketahanan dalam berenang.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWHT5OuQqjGSLiCkhNRDe5Nuik5VMQCoCNpvOM0gzz3ne6vmmdpUOT_b16bEr8Hez6OA2Zslr5Ie5h3hz_OMkhAb-_WEpoWElJv3kkJ6mHGb9WJ_12FM8SVLn-5x4dBXeNvluJNWdPlUR0/s1600/Persenjataan-Kapal.jpgKedua kapal jenis patroli cepat (PC)-40 M ini memiliki spesifikasi panjang 45,5 meter, lebar 7,9 meter dan bobot 230 ton. Disokong mesin utama 3 x 1800 Hp dengan putaran mesin 2300 rpm, kapal ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot dan kecepatan ekonomis 15 knot. Untuk urusan daya tahan berlayar, dengan bekal bahan bakar penuh (56.000 liter), endurance kapal ini dapat berlayar selama enam hari. Dengan bahan bakar penuh, jangkauan berlayar kapal patroli ini dapat mencapai 3.022 km.

Sebagai elemen persenjataan, kapal yang diawali 35 prajurit ini mengandalkan kanon kaliber 30 mm pada haluan. Bila merujuk ke keluarga PC-40 yang telah dioperasikan TNI AL, maka besar kemungkinan jenis senjata yang akan dipasang adalah kanon Marlin WS (Modular Advanced Remotely controlled Lightweight Naval Weapon Station). Kanon yang dikendalikan dengan teknologi RCWS (Remote Control Weapon System) ini mengandalkan basis senjata Oto Melara 30 mm.

Ciri khas Marlin WS, kanon ini dapat dioperasikan stand alone dengan remote control consol yang terdapat di PIT (Pusat Informasi Tempur). Namun Oto Melara 30 mm dapat pula diintegrasikan dengan CMS, menjadikan sistem senjata ini terkonfigurasi utuh dalam FCS (Fire Control System) yang melibatkan peran radar penjejak dan video tracking. Jalur yang digunakan dari terminal senjata ke CMS/FCS memakai teknologi LAN (Local Area Netwotk).

Dari aspek performa, Oto Melara 30 mm dapat menjangkau sasaran sejauh 3.000 meter. Kecepatan tembak per menitnya adalah 160 peluru per menit. [rif]

  ★ Indo Politika  

Kamis, 19 Desember 2019

Prabowo dan Menhan China Bicarakan Peningkatan Kerjasama

Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto didampingi Menhan Nasional China Jenderal Wei Fenghe (kiri) menginspeksi pasukan kawal kehormatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sebelum melakukan pertemuan bilateral di Beijing, Senin (16/12/2019). ANTARA/HO PLA/am ⚓️

Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Nasional China Jenderal Wei Fenghe membicarakan peningkatan kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan kedua negara.

Di bawah dinginnya suhu udara Beijing yang diguyur hujan salju sejak Senin pagi itu, kedua Menhan tampak bersikap hangat dan bersahabat.

"Suasananya cair antardua rekan sejawat ini dalam membahas berbagai isu terkait pertahanan negara, kerja sama kedua angkatan bersenjata Indonesia dan Tiongkok, serta masalah stabilitas dan keamanan di kawasan," kata Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun yang turut serta dalam pertemuan di kawasan Deshengmen itu.

Bahkan Menhan Prabowo merasa yakin "counterpart"-nya itu bisa diajak memperluas area kerja sama di bidang pertahanan dan kemiliteran.

Kedatangan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI ke Ibu Kota China tersebut disambut upacara militer oleh Menhan Wei dan pasukan kawal kehormatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Prabowo sudah dua kali bertemu Jenderal Wei karena sebelumnya berjumpa dalam Pertemuan ke-6 Tingkat Menteri Pertahanan ASEAN Plus di Bangkok, Thailand, pada 18 November 2019.

 Industri Pertahanan 
Delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto foto bersama delegasi China dalam pertemuan bilateral dengan Menhan Nasional China Jenderal Wei Fenge di Beijing, Senin (16/12). (ANTARA/HO-PLA/mii)

Dalam kunjungannya ke Beijing, Prabowo juga sempat melakukan dialog dengan Deputi Direktur Jenderal Lembaga Negara untuk Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional (SASTIND) Xu Zhanbin.

Dalam pertemuan tersebut Xu didampingi perwakilan dari sejumlah BUMN industri strategis China, di antaranya China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMIEC), Norinco, dan China Electronics Technology Group Corporation (CETC) yang berkesempatan memaparkan pengalaman mereka di Indonesia dan negara-negara lain.

Menurut Dubes Djauhari, dialog dengan SASTIND membahas kemungkinan kerja sama industri pertahanan dengan China.

"Industri pertahanan Tiongkok telah terbukti dapat memenuhi hampir semua kebutuhan pertahanan negara ini," ujarnya.

Selain Dubes, dalam dua pertemuan tersebut Prabowo didampingi Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing Brigadir Jenderal TNI Kuat Budiman, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Suryo Prabowo serta beberapa pejabat di lingkungan Kemenhan dan TNI.

  ⚓️ antara  

Indonesian Navy Seeks USD 340 Million For New Class of OPVs

The vessels will be operated as ‘motherships’ for unmanned aerial, surface, and underwater vehicles OPV 95M design by PT PAL ⚓️

The Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL) has requested that a total of IDR 4.8 trillion (USD 340 million) be allocated towards a new class of offshore patrol vessels (OPVs) for the service.

According to a draft of the request that was provided to Jane’s on 16 December, the funds will be sourced from domestic lenders as part of loans to be scheduled in the period spanning 2020–24.

  ⚓️ Jane's  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...