Senin, 23 Desember 2019

Penampakan Rudal AIM-120 AMRAAM TNI AU

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDeckFLVJ5vWoLUMkmd7fdvotMuVIQDpbf3qLsneZFImeF_FzMuSpPJfn-V-GZ0hLJm9yIDDO-AwvXGM24r99_yTz2MOwMU6w4MLJodtVNPcMsqOSx5N4MzD116g1VfclSNCBe4KWXGG4m/s1600/AIM-120+AMRAam+Indonesian+Airforce+%2528TNI+AU%2529+%2528+indonesian_airforce%2529+%25E2%2580%25A2+Instagram+photos+and+videos.pngPenampakan Rudal AIM-120 AMRAAM [Indonesian_Airforce]

Pada instagram Indonesia_Airforce diposting gambar pesawat F16 TNI AU bersama rudal baru.

Terlihat alutsista ini merupakan senjata baru pesanan TNI AU yang nantinya akan digunakan melengkapi persenjataan pesawat tempur F16.

Pesawat F16C/D TNI AU yang disebut sebagai F16 block 52ID telah diupgrade di Amerika, memilik radar AN/APG-68 sehingga mampu menghadapi misi BVR dan mengusung rudal AMRAAM, berbeda dengan F-16A/B dimana perlu peningkatan dengan paket MLU (Mid Life Update). Saat ini F16 A/B TNI AU sedang melaksanakan MLU dan belum selesai.

Pada tahun 2016, DSCA menyetujui penjualan 36 rudal AIM-120C7 AMRAAM kepada Indonesia.

 ♖ Garuda Militer  

Minggu, 22 Desember 2019

2 WNI Sandera Abu Sayyaf di Filipina Berhasil Dibebaskan

 https://asset.kompas.com/crops/UozD_yYxri0FXzA8Ry2Dra7H4uI=/0x0:939x626/750x500/data/photo/2019/11/21/5dd668177d3cd.jpgKetiga nelayan Indonesia ketika dihadapkan dalam rekaman video yang dirilis Abu Sayyaf. Ketiganya ditangkap September lalu, di mana Abu Sayyaf meminta tebusan Rp 8 miliar. (Screengrab from The Star)

Dua WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina berhasil dibebaskan. Sementara itu, pembebasan 1 WNI lainnya masih diupayakan.

"Setelah 90 hari dalam penyanderaan, melalui kerjasama erat Indonesia dan Filipina, 2 WNI berhasil dibebaskan dari penyanderaan ASG pada tanggal 22 Des 2019. Satu WNI masih terus diupayakan pembebasannya," kata Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/12/2019).

Sederet langkah diplomasi sudah dilakukan untuk membebaskan 3 WNI ini. Mulai dari pembicaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte hingga pembicaraan Menlu RI Retno Marsudi dan Menhan Filipina. Pebicaraan itu lalu ditindaklanjuti dengan koordinasi di bawah Kementerian Polhukam.

Berkat komunikasi intensif antara intelijen Indonesia dan militer Filipina, lokasi penyandera diketahui. Terjadi kontak senjata pada pagi tadi.

Dalam operasi itu, dua WNI berinisial SM dan ML berhasil dibebaskan sementara 1 sandera berinisial MF masih diupayakan dibebaskan. Seorang prajurit Filipina gugur dalam operasi ini.

"SM dan ML akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan selanjutnya akan segera direpatriasi ke Indonesia," demikian keterangan dari Kementerian Luar Negeri RI.

 1 Prajurit Filipina Gugur 

Operasi pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf menelan korban. Seorang prajurit Filipina gugur dalam kontak senjata.

Informasi itu disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan tertulis, Minggu (22/12/2019). Dua WNI yang dibebaskan berinisial SM dan ML. Sementara itu, masih ada 1 WNI lain yang sedang diupayakan pembebasannya yaitu MF.

Pembebasan dua WNI ini berhasil berkat kerja sama pemerintah RI dan Filipina. Keduanya dibebaskan lewat kontak senjata pagi tadi.

"Pemerintah RI menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang baik dengan Pemerintah Filipina sekaligus mengucapkan duka cita atas gugurnya satu prajurit Filipina dalam operasi pembebasan tersebut," kata Kemlu RI.

Sebelumnya diberitakan, Kelompok Abu Sayyaf yang menculik tiga nelayan asal Indonesia (WNI) dari perairan dekat Lahad Datu, Sabah, Malaysia, dan membawa mereka ke Filipina, meminta uang tebusan sebesar 30 juta Peso (Rp 8,3 miliar) untuk pembebasan mereka. Ketiga WNI itu diketahui telah disandera sejak September lalu.

Seperti dilansir media Malaysia, The Star, Jumat (22/11/2019), permintaan tebusan itu disampaikan dalam rekaman video yang menampilkan ketiga WNI, yang dirilis via Facebook pada Sabtu (16/11).

Dilaporkan bahwa ketiga WNI dibawa ke gugusan Kepulauan Tawi-Tawi di Filipina bagian selatan dan kemudian ke Jolo, yang diketahui merupakan markas Abu Sayyaf. Sejumlah sumber keamanan Filipina menyebut pria bersenjata yang menculik ketiga WNI itu bekerja untuk penculik bagi kelompok Abu Sayyaf, Salip Mura. Menurut sumber-sumber itu, kelompok itu berkeliaran di area perbatasan laut selama berbulan-bulan untuk mencari sasaran untuk diculik.

 ♖ detik  

Sabtu, 21 Desember 2019

Indonesian Shipyard Lays Keels for Two Tank Landing Ships

 An Indonesian shipbuilder has laid down two more tank landing ships for the country’s navy. [Terafulk] ☆

Indonesian shipbuilder PT Bandar Abadi has laid down two more Teluk Bintuni-class tank landing ships (LSTs) on order for the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut, or TNI-AL).

The keels for both vessels were laid down on 19 December at the company’s facilities in Batam. The event was confirmed by Terafulk Ship Design, which is collaborating with PT Bandar Abadi on the project, in a statement on the following day.
 

  ☠ Jane's  

Jumat, 20 Desember 2019

Kapal Cepat Rudal ke 5 dan 6 Pesanan Kemenhan

Rampung 30 Persen https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh343RinlCe7O1Ro6F6TyuS-Iq7T9agCglKrc_EuXeEP6Cg5c_5OLpi7YO9xOlbRaVPof1YT8FawuoH_AmUcIzZDms9WJj1jzoLMyw2qeeFC8w7NDUNhxJeZJaLNSXIouFkEiABw-y3Eitq/s1600/Screenshot_2019-12-24+Indonesia+Defence+Forum.pngIlustrasi KCR 60M PT PAL. [PAL Indonesia] ☆

PT PAL Indonesia (Persero) telah merealisasikan proses keel laying pembangunan proyek kapal KCR 5 dan KCR 6 pesanan Kementerian Pertahanan atau sekitar 30% melebihi target perencanaan.

Direktur Utama PAL Indonesia, Budiman Saleh mengatakan perkembangan produksi untuk KCR 60 ke-5 dalam keel laying atau pemasangan lunas kapal sudah mencapai 28,61% dari target semula 20,6%.

"Sedangkan KCR 60 ke-6 sudah mencapai 30,07% melebihi target semula 19,4%. Jadi keel laying ini dilaksanakan lebih awal dari rencana semula," katanya dalam rilis, Jumat (20/12/2019).

Dia mengatakan pembangunan dua kapal KCR 60 ini merupakan hasil kontrak pembelian dari Kemenhan sejak 28 September 2018. Hingga kini perseroan telah menyerahkan 4 unit kapal KCR kepada Kemenhan sebagai pemesan.

Adapun tahapan keel laying ini penting karena nantinya usia kapal akan dihitung sejak pertama kali pemasangan lunasnya. Kapal KCR ke-5 dan KCR-6 TNI AL ini memiliki panjang 60 meter, dan lebar 8,10 meter.

Kapal tersebut mampu mengakomodasi kru sebanyak 55 orang. Kapal tersebut memiliki berat 500 ton dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 28 knot dengan endurance 5 hari, kapal itu juga memiliki jarak jelajah 2400 Nm pada kecepatan 20 knot.

"Kapal tersebut juga akan dilengkapi dengan sistem senjata dan radar," imbuhnya.

Diketahui fungsi utama kapal KCR adalah untuk pengamanan wilayah maritim dan sangat relevan dengan karakteristik geografi Indonesia.

Kapal KCR masuk dalam kategori Offshore Patrol Vessel (OPV) yang memiliki kemampuan manuver yang lincah, mampu bergerak secara cepat, serta dapat digunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kapal asing yang melanggar wilayah teritorial.

  ★ Bisnis  

KRI Bubara 968 dan Gulamah 869 Armada Baru TNI AL

TNI AL baru saja mendapatkan tambahan kekuatan armada perang dengan hadirnya dua kapal perang hasil karya anak bangsa, yakni KRI Gulamah 869 dan KRI Bubara 868.

Kedua kapal perang produksi PT Caputra Mitra Sejati (CMS) tersebut menggunakan nomer lambung dari kapal perang lama yang kini sudah diturunkan perannya dari KRI ke KAL.

KRI Bubara 868 tadinya nomer lambungnya disematkan pada KRI Anakonda 868, kemudian KRI Gumalah 869 tadinya nomer lambungnya adalah milik KRI Patola 869, kedua kapal patroli dari bahan lambung fiberglass tersebut kini menjadi arsenal peronda di tingkat Lantamal (Pangkalan Utama Angkatan Laut).

Dikutip dari tnial.mil.id, pemberian nama Bubara dan Gulamah, diambil dari nama sejenis ikan kakap putih yang merupakan ikan jenis demersal, ikan tersebut biasa ditemukan di perairan pesisir dan sungai. Kedua ikan itu memiliki karakteristik kecepatan dan ketahanan dalam berenang.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWHT5OuQqjGSLiCkhNRDe5Nuik5VMQCoCNpvOM0gzz3ne6vmmdpUOT_b16bEr8Hez6OA2Zslr5Ie5h3hz_OMkhAb-_WEpoWElJv3kkJ6mHGb9WJ_12FM8SVLn-5x4dBXeNvluJNWdPlUR0/s1600/Persenjataan-Kapal.jpgKedua kapal jenis patroli cepat (PC)-40 M ini memiliki spesifikasi panjang 45,5 meter, lebar 7,9 meter dan bobot 230 ton. Disokong mesin utama 3 x 1800 Hp dengan putaran mesin 2300 rpm, kapal ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot dan kecepatan ekonomis 15 knot. Untuk urusan daya tahan berlayar, dengan bekal bahan bakar penuh (56.000 liter), endurance kapal ini dapat berlayar selama enam hari. Dengan bahan bakar penuh, jangkauan berlayar kapal patroli ini dapat mencapai 3.022 km.

Sebagai elemen persenjataan, kapal yang diawali 35 prajurit ini mengandalkan kanon kaliber 30 mm pada haluan. Bila merujuk ke keluarga PC-40 yang telah dioperasikan TNI AL, maka besar kemungkinan jenis senjata yang akan dipasang adalah kanon Marlin WS (Modular Advanced Remotely controlled Lightweight Naval Weapon Station). Kanon yang dikendalikan dengan teknologi RCWS (Remote Control Weapon System) ini mengandalkan basis senjata Oto Melara 30 mm.

Ciri khas Marlin WS, kanon ini dapat dioperasikan stand alone dengan remote control consol yang terdapat di PIT (Pusat Informasi Tempur). Namun Oto Melara 30 mm dapat pula diintegrasikan dengan CMS, menjadikan sistem senjata ini terkonfigurasi utuh dalam FCS (Fire Control System) yang melibatkan peran radar penjejak dan video tracking. Jalur yang digunakan dari terminal senjata ke CMS/FCS memakai teknologi LAN (Local Area Netwotk).

Dari aspek performa, Oto Melara 30 mm dapat menjangkau sasaran sejauh 3.000 meter. Kecepatan tembak per menitnya adalah 160 peluru per menit. [rif]

  ★ Indo Politika  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...