Rabu, 23 Maret 2022

Jalan Berliku PTDI Menuju Sukses Dan Ekspansi

Badan Usaha Milik Negara Indonesia, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), adalah perusahaan pembuat pesawat terbang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan ini telah merancang, membuat, dan memasarkan berbagai jenis pesawat sejak pendiriannya di tahun 1976.N245 program pengganti N250 [PTDI] ☆

PTDI telah mengalami berbagai pasang surut, terutama krisis keuangan Asia 1997 yang hampir membuat perusahaan ini bangkrut. Krisis tersebut juga memaksa PTDI untuk membatalkan pengembangan pesawat N-250, yang merupakan upaya besar pertamanya untuk bersaing di kancah internasional dalam segmen pesawat regional turboprop untuk 60-68 penumpang.

Cukup disayangkan bahwa setelah reorganisasi dan perubahan nama perusahaan dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) menjadi PTDI di tahun 2000, kondisi keuangan perusahaan ini masih memprihatinkan.

Hal ini baru menemukan pemecahan di tahun 2011 setelah pemerintah Indonesia menyuntikkan dana untuk PTDI agar bisa tetap bertahan.


Kini, lebih dari satu dekade kemudian, PTDI telah memposisikan dirinya sebagai salah satu produsen pesawat paling terkemuka di Asia.

Perusahaan ini tidak hanya terus memproduksi pesawat CN-235 – proyek bersama perusahaan dengan CASA Spanyol di dasawarsa 1980-an – namun juga menjadi satu-satunya pusat produksi CASA/Airbus C-212 (dengan sebutan “NC-212 ”), setelah perusahaan pertahanan dan kedirgantaraan multinasional Eropa itu mengalihkan produksinya ke PTDI di tahun 2013.


 Mengetuk Pasar Pesawat Angkut
CN235 MPA TNI AU [PTDI]

“Kami telah mengirimkan lebih dari 40 CN-235, sebagian besar ke pasar domestik kami di sini di Indonesia, tetapi juga ke Brunei, Malaysia dan Thailand,” kata Batara Silaban, Direktur Produksi PTDI dalam sebuah wawancara eksklusif selama Singapore Airshow 2022 baru-baru ini.

"Kami juga telah mengirimkan lebih dari 100 NC-212 baik ke dalam negeri maupun ke Filipina, Thailand dan Vietnam,” jawabnya ketika ditanya tentang pangsa pasar dan peluang PTDI di kawasan Asia Tenggara.

“Kami mungkin akan menjual enam pesawat lagi ke tetangga kami, Filipina. Selain itu kami juga telah melihat minat dari beberapa negara lain untuk akuisisi 16 CN-235 dan 21 NC-212i selama 3-4 tahun ke depan,” tambahnya.


Tentang prospek PTDI di luar kawasan Asia Tenggara, Silaban mengatakan: “Kami memiliki pelanggan seperti Senegal di Afrika. Mereka adalah pelanggan setia kami dan kami masih terus mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan baru.” Senegal memesan dua CN-235 Maritime Patrol Aircraft (MPA) dari PTDI di tahun 2018 dimana satu pesawat telah dikirim tahun lalu. “Kami juga telah mengirimkan empat pesawat ke Uni Emirat Arab di Timur Tengah.”

Meskipun keberhasilan pemasaran PTDI masih terhitung rendah dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dirgantara besar lainnya, PTDI tengah dalam proses untuk memperluas kapasitas produksi pesawatnya.

Ekspansi tersebut dimaksudkan tidak hanya untuk menangani peningkatan pesanan pesawat di dalam negeri – dimana PTDI sudah menerima pesanan untuk 10 unit CN-235 dari Kementerian Pertahanan RI pada awal Februari tahun ini – tetapi juga untuk lebih mendukung ekspansinya ke pasar internasional.


“Kami sedang melakukan proses peningkatan fasilitas produksi kami. PTDI saat ini memiliki kapasitas untuk memproduksi empat NC-212i per tahun dimana kami sedang menjalani program untuk menambah kapasitas hingga sebelas pesawat per tahun, termasuk untuk CN-235 juga.” kata Silaban.

Sebelumnya telah diberitakan melalui sejumlah media massa Indonesia bahwa program ini PTDI akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dimana, “
Pada akhir proses peningkatan ini kami akan memiliki kapasitas untuk memproduksi hingga dua puluh pesawat per tahun. Selain itu, kami juga telah berinvestasi dalam proses manufaktur semi-otomatis dengan beberapa mitra untuk terus meningkatkan kapasitas produksi PTDI.” tambahnya.

 Tantangan Dan Peluang Baru
N219 produksi PTDI [PTDI]

Apa yang terjadi dengan proyek N-250 tetap tidak mampu menyurutkan ambisi PTDI untuk merancang, membangun, dan memasarkan pesawatnya sendiri. Pada tahun 2003, atau lima tahun setelah proyek N-250 dibatalkan, perusahaan negara ini memulai inisiatif untuk merancang, memproduksi, dan memasarkan N-219.

Pesawat ini adalah pesawat terbang bermesin turboprop kembar dengan kapasitas 19-kursi yang khusus dirancang untuk dapat beroperasi dari landasan udara rumput atau tanah – seperti banyak landasan di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Namun karena kondisi keuangan perusahaan yang masih belum mendukung hingga tahun 2011, barulah pada tahun 2014 dimana PTDI mulai membangun prototipe pertama N-219, yang kemudian berhasil melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 16 Agustus 2017.


“Kami melakukannya dari nol untuk pesawat ini,” kata Silaban. “Kami merancang, memproduksi, melakukan pengujian hingga kami mendapat sertifikat (pemerintah Indonesia) pada Desember 2020. Kami berencana untuk mengirimkan N-219 pertama kepada pembeli pada akhir 2023 atau awal 2024,” ujarnya. “Kami sangat yakin dengan pesawat ini dan kami telah melakukan pembicaraan dengan banyak calon pelanggan yang tertarik dengannya. Kami akan masuk ke segmen komersial dengan produksi pesawat ini.” ia menambahkan.

Menyadari pentingnya pesawat yang bisa lepas landas dan mendarat baik di perairan maupun di darat bagi negara kepulauan seperti Indonesia, PTDI mengembangkan N-219 menjadi N-219A – A untuk “Amfibi” – dengan menggantikan roda-roda pendarat pada N-219 dengan dua pelampung berisikan roda-roda pendarat yang dapat ditarik. Walaupun pengembangan N-219A sempat terhambat akibat kekurangan dana, namun tampaknya proses pengembangan pesawat ini sudah kembali berjalan lancar dengan penerbangan pertama yang diharapkan akan diadakan di tahun 2023 atau 2024.

“Kami sekarang sedang mempercepat pengembangan N-219A karena kami melihat ada permintaan besar di pasar domestik kami, terutama untuk mendukung pariwisata di Indonesia,” kata Silaban. “Kami berharap dapat menerima sertifikasi pemerintah untuk pesawat pada tahun 2024 atau 2025 dan akan segera memulai produksi penuh setelahnya.”

 Mengincar Sukses di Sektor Pertahanan
Lambang PUNA MALE Elang Hitam [BUMN]

Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah mengembangkan kemampuannya sendiri dalam mengoperasikan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) atau drone dengan mengakuisisi drone-drone buatan luar negeri. Setelah membeli dan mengoperasikan sejumlah drone dari AS, Israel, dan Tiongkok selama sekitar satu dekade terakhir, TNI dan pihak-pihak terkait kemudian mengambil keputusan bahwa Indonesia juga harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan membangun PUNA sendiri untuk pertahanan dalam negeri dan juga dengan tujuan ekspor.

Maka hadirlah Elang Hitam, PUNA Medium Altitude Long Endurance (MALE) dengan bobot terbang maksimum seberat 1.300 kg yang tengah dikembangkan sejak tahun 2015 oleh PTDI dalam konsorsium dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pertahanan, TNI-AU, PT LEN dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahap akhir dari program ini adalah mengembangkan PUNA Elang Hitam menjadi Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) setelah tahun 2024. Hal ini akan dicapai dengan mempersenjatai drone dengan senjata yang menurut sejumlah sumber akan diakuisisi dari Turki.

Dengan target untuk memiliki performa yang sebanding dengan CH-4 UCAV buatan Tiongkok yang telah dioperasikan TNI-AU selama beberapa tahun, prototipe pertama Elang Hitam diperkenalkan ke publik pada tahun 2019. Namun tidak banyak hal lain yang terungkap setelahnya.

“
Saat ini kami sedang melakukan uji lapangan untuk PUNA Elang Hitam kami, dan telah menemukan beberapa masalah yang tengah kami selesaikan,” kata Silaban. “PTDI dalam konsorsium dengan BRIN dan beberapa lembaga pemerintah dan universitas lainnya dalam pengembangan pesawat ini, berharap dapat melakukan penerbangan pertama pada bulan Maret atau April 2022.”.

Proyek pertahanan tingkat tinggi lainnya yang melibatkan PTDI sejak 2010 adalah jet tempur KF-21/IF-X dengan Korea Aerospace Industries (KAI). Setelah sempat mengalami hambatan akibat penundaan Indonesia dalam memenuhi kewajiban biaya pengembangan sebesar 20% termasuk pandemi COVID-19 yang membuat para insinyur Indonesia dipulangkan dari Korea Selatan pada tahun 2020, program ini kembali berjalan setelah insinyur-insinyur PTDI kembali ke Korea Selatan sejak September tahun lalu. “Kami sedang bekerja dengan KAI dan kami memiliki 30 teknisi di sana untuk bekerja dengan mereka saat ini,” tegas Silaban. “Ini juga berarti bahwa kami sedang mengembangkan kemampuan kami untuk desain dan pembuatan jet tempur kami sendiri di masa depan,” tambahnya.

Sementara KAI sekarang sedang mempersiapkan penerbangan pertama KF-21 dalam beberapa bulan mendatang, sejumlah media di Indonesia telah memberitakan bahwa prototipe keenam dan terakhir pesawat tempur canggih ini akan dikirim ke PTDI agar perusahaan plat merah tersebut dapat memulai proses pengembangan dan pembuatan jet tempurnya sendiri.

Hal ini bisa diartikan bahwa dalam waktu dekat, pengembangan KF-21 dan IF-X bisa jadi akan berjalan secara terpisah disesuaikan dengan kebutuhan operasional yang berbeda antara Indonesia dan Korea Selatan.
 

  🚀
 GBP  

TNI AU Akan Bangun Pangkalan Udara di Sorong Papua Barat

Memperkuat wilayah timurBandara Sorong Papua Barat (GoogleMaps) ☆

Mabes TNI Angkatan Udara membangun fasilitas pangkalan udara (Lanud) Sorong, Papua Barat. Dalam rangka mendukung tugas pokok menjaga kedaulatan negara di udara wilayah Timur Indonesia.

"Fasilitas satuan Lanud Sorong segera dimulai pembangunnya pada tahun ini (Tahun Anggaran 2022)," ungkap Panglima Komando Operasi Udara III Marsekal Muda TNI Samsul Rizal menjawab ANTARA seusai membuka Rakernis Koopsud III di Biak, Rabu 16 Maret 2022.

Marsda Samsul menambahkan, selain Lanud Sorong, pihaknya juga akan membangun Lanud Manokwari di ibukota Provinsi Papua Barat.

"Serta satuan Skuadron udara helikopter dan satuan radar di wilayah pangkalan udara Silas Papare Jayapura," ujar peraih Adhi Makayasa AAU 1990 itu.

Disebutkan Marsda Samsul, sesuai dengan rencara strategis TNI kedepan wilayah Koopsud III juga akan dibentuk satuan TNI terintegrasi di wilayah Moratai dan Saumlaki.

Diakui Marsda Samsul, dengan adanya satuan baru di wilayah Koopsud III makin menunjang optimalisasi pelayanan kepada masyarakat.

"Serta satuan Lanud baru dibentuk akan mendukung tugas-tugas operasi udara dalam rangka penegakkan kedaulatan negara di udara," ungkapnya.

Berdasarkan data wilayah Provinsi Papua Barat awalnya bernama Irian Jaya Barat, berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 tanggal 4 Oktober 1999 hingga 2022 belum satupun kabupaten/kota memiliki pangkalan udara.

  👮 Suara  

Indonesia's CN-235 Gunship Plans Delayed by Push for Aviation Biofuel

Singapore Airshow 2022 A model of the gunship variant of the CN-235 that was on display at Singapore Airshow 2020. The model was not displayed at Airshow 2022 given prevailing uncertainties over the programme. (Janes/Ridzwan Rahmat) ♔

Indonesia's plan to develop a gunship variant of the CN-235 twin-engine multi-purpose aircraft has been delayed indefinitely amid a push for the country to commercialise a home-grown aviation biofuel type.

The matter was revealed to Janes by an official from state-owned aerospace company PT Dirgantara Indonesia (PTDI) at Singapore Airshow 2022. Notably missing from PTDI's exhibition stand during the show was a model of the CN-235 gunship, which has been displayed at past defence exhibitions.

CN 235-200 with Biofuel (ist)

“We are no longer displaying the gunship because it is unclear when this project will resume,” said the official. “The flying testbed that was supposed to be a platform from which we conduct the firing trials is now involved in pre-commercialisation processes of an Indonesian-developed palm-oil based aviation biofuel known as BioAvtur.”

PTDI acquired a second-hand CN-235 airframe, which was in commercial service with the now-defunct domestic flight operator Merpati Nusantara Airlines, in 2018. The airframe was acquired as a flying testbed from which it can prove out experimental concepts such as the CN-235 gunship.

Igan Satyawati, the company's vice-president for business development and marketing, told Janes at Singapore Airshow 2020 that this flying testbed has been fitted with single-barrelled 30 mm DEFA 553 aircraft cannon on the portside aft of its fuselage for ground firing trials. The weapon was salvaged from a retired Douglas A-4H Skyhawk that was formerly in service with the Indonesian Air Force (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Udara: TNI-AU).

  ♔
IHS Jane's  

Kemhan Akan Bentuk 5 Batalion

 Dimana 1 Batalion berjumlah 500 orang 
https://img.inews.co.id/media/822/files/inews_new/2021/10/07/komcad_jokowi.jpgPersonel komponen cadangan (komcad) di Lapang Pusdiklatpassus, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/10/2021). (Foto/MPI/Adi Haryanto) 💂

K
ementerian Pertahanan (Kemhan) akan membentuk 5 Batalion dari program Komponen Cadangan (Komcad) Tahun 2022. Nantinya, matra darat akan memiliki 3 Batalion, dan matra laut dan udara masing-masing 1 Batalion.

Adapun 1 Batalion berjumlah 500 orang. Untuk matra darat 3 Batalion, masing-masing 500 orang di Kodam II/Swj, Kodam VI/Mulawarman dan Kodam XIV/Hasanuddin.

Kemudian 500 orang matra laut di Kodikmar Surabaya, serta 500 orang matra udara di Pusdiklat Pasgat, Bandung.

Direktur Sumber Daya Pertahanan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Fahrid Amran mengatakan, pembentukan Komcad merupakan persiapan dini pembangunan sistem pertahanan negara. Mereka dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat komponen utama (TNI).


https://img.okezone.com/content/2021/10/08/337/2483057/3-103-anggota-komcad-dilantik-dpr-ingatkan-bukan-ajang-gagah-gagahan-mhkjXiwAsZ.jpgLebih jauh dikatakan, Komcad tak hanya berupa sumber daya manusia yakni warga negara, melainkan juga berupa sumber daya alam, sumber daya buatan, dan sarana prasarana nasional yang telah disiapkan.

"Kesiapsiagaan itu, sebagai wujud usaha negara dalam menghadapi ancaman militer maupun ancaman non militer," kata Fahrid dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (21/3/2022).

Dalam hal pengelolaan, Komcad dilaksanakan berdasar kebijakan umum pertahanan negara, dengan menerapkan sistem tata kelola pertahanan negara yang demokratis, berkeadilan. Selain itu, hak asasi manusia juga dihormati dan menaati peraturan perundang-undangan.

“Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2019 tentang PSDN, Komponen Cadangan merupakan salah satu wadah dan bentuk keikutsertaan warga negara secara sukarela serta sarana dan prasarana nasional dalam usaha pertahanan negara, sehingga komponen cadangan bukan wajib militer," ujarnya.

  💂 INews  

Selasa, 22 Maret 2022

[Global] AS Sarankan Turki Kirim Sistem Rudal Buatan Rusia ke Ukraina

➶ 😺S-400 Turki [ist] ★

Amerika Serikat secara informal telah menyarankan Turki untuk mengirimkan sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia ke Ukraina. Tujuannya, agar pihak Ukraina mendapatkan bantuan untuk mengatasi serangan militer Rusia.

Sumber Reuters mengatakan beberapa pejabat AS telah mengajukan solusi tersebut selama sebulan terakhir kepada Turki, meski permintaan formal masih belum diajukan.

Sumber tersebut juga menyampaikan wacana ini muncul kala Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy Sherman, mengunjungi Turki pada awal bulan ini.

Administrasi Presiden Joe Biden telah lama meminta sekutunya untuk menggunakan alutsista dan sistem Rusia, termasuk S-300 dan S-400, untuk dikirimkan ke Ukraina.

Sejumlah pakar menilai ide tersebut bakal ditolak oleh Turki.

Sementara itu, pihak berwenang Turki belum memberikan tanggapan terhadap usulan AS ini.

Kementerian Luar Negeri Turki juga tak dapat dihubungi kala dimintai permintaan komentar.

Namun, AS sebelumnya sempat meminta Turki untuk menyingkirkan baterai rudal buatan Rusia kala barang itu tiba pada Juli 2019. AS juga telah menjatuhkan sanksi pada industri pertahanan Turki dan mengeluarkan negara itu dari program jet tempur F-35.

Ankara menyatakan negaranya memilih S-400 karena sekutu tak menyediakan senjata yang memuaskan.

Melihat hubungan keduanya yang sempat kusut karena masalah senjata Rusia, AS disebut menggunakan momentum ini untuk mengembalikan Turki ke orbit Washington. Sejumlah upaya untuk mengembalikan kembali hubungan keduanya semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir. (pwn/bac)

  ➶ CNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...