Rabu, 13 Agustus 2025

PT Pindad Tampilkan Produk Inovatif

  Dalam KSTI 2025 PANDU TEV (Tactical Electric Vehicle) produksi Pindad (Pindad)

PT Pindad turut menampilkan berbagai produk alat peralatan pertahanan keamanan (alpalhankam) unggulan dalam ajang pameran KSTI 2025 yang berlangsung hingga 9 Agustus 2025.

PT Pindad menghadirkan produk kendaraan inovatif, PANDU TEV (Tactical Electric Vehicle) yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Indo Defence 2025.

Kendaraan ini menggunakan teknologi NMC Battery dan ideal untuk mendukung kebutuhan operasi militer senyap, mobilisasi personel dan menunjang operasional TNI dengan kemampuan manuver yang gesit di berbagai medan.

PT Pindad juga menghadirkan berbagai produk pertahanan lainnya, meliputi senjata hasil pengembangan terbaru yaitu SS Amphibious dan SPS-1.

SS Amphibious adalah senapan serbu kaliber 5,56 x 45 mm yang dirancang untuk bisa menembak di darat dengan jarak efektif 200 meter dan mampu menembak di bawah air dengan jarak efektif 20 meter.

Sedangkan SPS-1 merupakan solusi pertahanan anti drone pertama di Indonesia, dengan 2 metode, soft kill dan hard kill.

Metode soft kill dengan memblokir akses sinyal drone target dan metode hard kill adalah menghancurkan drone target dengan cara ditembak menggunakan amunisi kaliber 5,56 x 45 mm.

Pada sesi hari kedua KSTI, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menjadi narasumber di fokus bidang pertahanan sesi manufaktur pertahanan dalam negeri.

Melalui partisipasi di KSTI 2025, PT Pindad menegaskan posisi sebagai industri pertahanan nasional berbasis teknologi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan mengintegrasikan riset, teknologi dan kebutuhan industri, konvensi ini menjadi langkah nyata menuju Indonesia Emas 2045 yang berdaulat secara teknologi dan berdaya saing global.

  💫 
Pindad  

Indonesia Kirim Bantuan 800 Ton Makanan-Obat ke Gaza

 ✈️ 🪂800 ton makanan & obat untuk Gaza (Dispenau)

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melepas keberangkatan dua Pesawat C-130J Super Hercules milik TNI AU yang membawa bantuan untuk Palestina khususnya warga Gaza yang saat ini kelaparan karena aksi terorisme dan genosida Israel dari Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu (13/8).

Agus mengatakan pemberangkatan itu merupakan perintah dari Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia berperan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Palestina via Yordania. Ada sekitar 800 ton bantuan yang disalurkan melalui airdrop.

"Satgas Garuda Merah Putih II menggunakan 2 Pesawat Hercules dari Skadron Udara 31 dengan total 66 personil, terdiri dari unsur TNI, kementerian dan lembaga, dan media nasional, yang akan distribusikan total 800 ton bantuan kemanusiaan dari baznas, dan dukungan bahan makanan dari Kemhan," kata Agus.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letjen Tri Budi Utomo menjelaskan bantuan 800 ton itu terdiri dari bahan makanan, obat-obatan, selimut dan logistik lain. Ia mengatakan di Yordania, sudah ada bantuan-bantuan yang telah dikumpulkan terlebih dahulu.

"Misi ini juga bermakna bahwa strategi yang akan dilaksanakan adalah mewujudkan komitmen kemanusiaan Indonesia, yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia," ujarnya.

Tri mengatakan Royal Jordanian Air Force telah memetakan lokasi-lokasi yang menjadi titik airdrop. Menurutnya, penyaluran bantuan via airdrop lebih aman dibanding metode lainnya.

"Jadi ini kita merupakan suatu tim yang sudah disiapkan oleh Royal Jordanian Air Force dan tim ini sudah meninjau titik-titik lokasi dan diinfokan ada 10 titik yang akan dijadikan airdrop. Itu sudah dicek dan steril dan tentang keamanannya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Cadangan Nasional (Kabacadnas) Kemhan RI, Letjen TNI Gabriel Lema mengatakan Satuan Tugas (Satgas) Garuda Merah Putih II siap diberangkatkan untuk melaksanakan misi bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina.

Satgas Garuda Merah Putih II merupakan kelanjutan dari misi pertama yang telah sukses dilaksanakan tahun lalu. Dalam pelaksanaan sebelumnya, satu pesawat berhasil mengirimkan bantuan logistik langsung ke Gaza sesuai kondisi medan.

Kini, misi kedua akan diperkuat dengan dua pesawat C-130J-30 Super Hercules, dengan peningkatan pada sisi komunikasi, koordinasi, dan kesiapan menghadapi situasi di lapangan.

Sebelumnya, zionis Israel melarang 430 jenis bantuan makanan dikirim masuk ke Jalur Gaza, Palestina, selama proses pengiriman bantuan kemanusiaan.

Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan ratusan jenis makanan tersebut mencakup daging beku, ikan beku, keju, produk susu, sayuran beku, hingga buah-buahan.

Bukan hanya membatasi, teroris Israel bahkan juga dengan sengaja mengebom 44 bank makanan hingga menewaskan puluhan staf, serta menyerang 57 pusat distribusi makanan, demikian dilaporkan Al Jazeera.

Pada saat yang sama, pasukan Israel juga menembaki warga Gaza yang mencari bantuan di pusat-pusat distribusi Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), badan bantuan bekingan Israel-Amerika Serikat yang telah dinilai tak becus beroperasi.

Nyaris 1.500 orang tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka saat mencari bantuan. Setidaknya 900 orang tewas di sekitar pusat-pusat distribusi GHF sejak beroperasi pada akhir Mei 2025.

Agresi Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 61.400 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan. Lebih dari 153 ribu orang terluka dan 11 ribu orang masih menghilang. (yoa/dal)
 

  ✈️
CNN  

Selasa, 12 Agustus 2025

TNI AL Menerima Radar Coastal Surveillance dari Balitbang Kemhan

  Produksi RTI Radar Coastal Surveillance RTI (Kemhan)

TNI AL resmi menerima fasilitas Radar Coastal Surveillance dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan (Balitbang Kemhan) dalam acara serah terima yang digelar di Ruang Rapat Balitbang Kemhan, Jakarta. Senin (11/8).

Radar yang diserahkan melalui mekanisme pinjam-pakai ini merupakan hasil inovasi dan pengembangan teknologi dalam negeri yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan deteksi, pemantauan, dan pengawasan wilayah laut nasional. Nantinya, hasil dari pemanfaatan alat ini akan dikembangkan lagi oleh Kemhan untuk memaksimalkan penggunaan alat sensor yang lebih optimal.

Asisten Komunikasi dan Elektronika Kepala Staf Angkatan Laut (Askomlek Kasal) Laksamana Muda TNI Tri Harsono, S.T., CHRMP., M.Tr.Opsla, dalam sambutannya menegaskan bahwa fasilitas radar ini akan dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung tugas penegakan hukum dan menjaga keamanan laut Indonesia.

“Pemanfaatan radar ini menjadi bentuk nyata integrasi antara hasil penelitian dan kebutuhan riil di lapangan. Kami akan menggunakannya untuk mendukung kesiapsiagaan operasi TNI AL,” ujar Askomlek Kasal.

Laksda TNI Tri Harsono juga menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga litbang pertahanan dan satuan operasional pengguna. Menurutnya, keberhasilan pembangunan sistem pertahanan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemauan dan kemampuan untuk berkolaborasi serta menjaga kesinambungan kerja sama.

Sementara itu, Kepala Balitbang Kemhan, Mayjen TNI Dr. I.E. Djoko Purwanto, S.E., M.M. yang turut hadir bersama sejumlah pejabat TNI AL, perwakilan PT RTI berharap momen ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat ekosistem litbang pertahanan yang kolaboratif, strategis, dan berorientasi pada hasil nyata bagi kekuatan TNI dan negara.

Penerimaan fasilitas radar ini sebagai wujud implementasi dalam mendukung mendukung tugas pokok TNI AL selaras dengan penekanan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.

  📡 
TNI AL  

Drone Tempur Strategis Pertama Indonesia

🛩  Elang Hitam UAV MALE UAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia memasuki jajaran elit pengembang drone MALE dengan keberhasilan uji terbang UAV Elang Hitam buatan dalam negeri—yang dirancang untuk terbang selama 24 jam di ketinggian 20.000 kaki dan membentuk masa depan kekuatan udara regional.

Elang Hitam (Elang Hitam) adalah wahana udara nirawak (UAV) Medium Altitude Long Endurance (MALE) pertama yang dikembangkan di dalam negeri, dirancang untuk menyediakan solusi lokal bagi negara untuk pengawasan strategis, pengintaian, dan operasi drone yang berpotensi bersenjata.

  Pengantar Elang Hitam 
Elang Hitam merupakan lompatan teknologi besar bagi sektor kedirgantaraan dan pertahanan Indonesia.

Diklasifikasikan sebagai UAV kelas MALE, drone ini dirancang untuk terbang di ketinggian hingga 20.000 kaki dan dapat tetap mengudara hingga 24 jam—menempatkannya di kelas operasional yang sama dengan drone internasional canggih seperti MQ-9 Reaper (AS), Bayraktar Akinci (Turki), dan Heron TP (Israel).

Drone ini dirancang untuk mendukung berbagai misi jangka panjang, termasuk pengawasan perbatasan, patroli maritim, pengumpulan intelijen, akuisisi target, dan penilaian kerusakan pertempuran, dengan potensi peningkatan di masa mendatang untuk kemampuan serang menggunakan amunisi berpemandu presisi.

 Siapa yang Membangun Elang Hitam? 
Drone Elang Hitam merupakan hasil kolaborasi nasional multi-lembaga yang dipelopori oleh PT Dirgantara Indonesia (PT Dirgantara Indonesia).

Proyek strategis ini didukung oleh konsorsium pengembangan drone domestik yang meliputi:

👷​ Kementerian Pertahanan Indonesia
👷​ TNI-AU
👷​ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
👷​ Institut Teknologi Bandung (ITB)

Desain, rekayasa, dan integrasi sistem Elang Hitam sepenuhnya dipimpin oleh para insinyur dan institusi Indonesia, menjadikannya tonggak penting dalam kemandirian teknologi nasional.

 Fitur Teknis Utama 
UAV Elang Hitam menggabungkan beberapa subsistem canggih, termasuk:

🛩 Sistem Kontrol Penerbangan Otomatis: Memungkinkan lepas landas, terbang, dan mendarat secara otonom.
🛩 Sistem Komunikasi Jarak Jauh: Memungkinkan komando dan kendali waktu nyata dari stasiun darat dalam jarak yang sangat jauh.
🛩 Desain Arsitektur Terbuka: Mendukung peningkatan modular, interoperabilitas sistem, dan integrasi muatan dan sensor baru.
🛩 Daya Tahan 24 Jam: Cocok untuk misi jangka panjang di darat dan laut.
🛩 Ketinggian Langit-Langit: Hingga 20.000 kaki, memungkinkan pengintaian di ketinggian tinggi sambil tetap berada di luar jangkauan sebagian besar ancaman berbasis darat.

Fitur-fitur ini menjadikan Elang Hitam sebagai platform drone MALE yang kredibel dengan kemampuan strategis yang selaras dengan persyaratan operasional Angkatan Udara Indonesia.

 Di Mana Diuji? 
Uji terbang pertama Elang Hitam yang berhasil dilakukan pada 28 Juli di Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Uji coba ini menandai titik validasi penting bagi program ini, yang menunjukkan kelaikan udara pesawat, kemampuan terbang otonom, dan integrasi sistem—yang semuanya penting untuk sertifikasi dan penerapan di masa mendatang.

 Mengapa Elang Hitam Penting 
Menurut Direktur Pemasaran, Teknologi, dan Pengembangan PT DI, Mohammad Arif Faisal, uji terbang ini lebih dari sekadar tonggak teknis—ini merupakan deklarasi kesiapan Indonesia untuk memproduksi drone strategisnya sendiri.

“Ini bukan sekadar uji terbang,” ujar Arif.

“Ini bukti bahwa Indonesia kini mampu memproduksi UAV strategis menggunakan teknologi dalam negeri.”

Seiring negara-negara di Indo-Pasifik menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang dan mengadopsi doktrin kekuatan udara baru, Elang Hitam memposisikan Indonesia sebagai inovator UAV regional, yang mampu mengoperasikan drone dalam negeri alih-alih bergantung pada impor yang mahal.

Hal ini juga mencerminkan strategi nasional yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada sistem militer asing dan memperkuat kemandirian dalam manufaktur pertahanan.

  Apa Langkah Selanjutnya untuk Elang Hitam? 
Elang Hitam akan menjalani uji terbang lanjutan dan proses sertifikasi yang ketat untuk memvalidasi rangka pesawat, avionik, tautan data, dan sistem kendalinya.

Setelah menyelesaikan fase ini, platform tersebut akan memasuki tahap produksi massal dan layanan operasional di Angkatan Bersenjata Indonesia.

Ke depannya, Indonesia mungkin akan menjajaki varian bersenjata Elang Hitam, yang memposisikannya tidak hanya sebagai alat pengintaian tetapi juga sebagai UCAV (unmanned combat aerial vehicle) berkemampuan tempur untuk misi serangan presisi.

Dengan meningkatnya minat regional terhadap drone MALE yang terjangkau, keberhasilan produksi bahkan dapat membuat Elang Hitam ditawarkan untuk ekspor, terutama ke pasar Asia Tenggara dan Afrika.

Drone Elang Hitam merupakan langkah awal Indonesia ke arena UAV strategis, yang menandakan ambisi bangsa untuk menjadi pemimpin regional dalam sistem tak berawak dan produsen platform kedirgantaraan canggih yang berdaulat.

Keberhasilan pengembangan dan uji terbangnya menandai babak baru dalam kemampuan pertahanan Indonesia—yang ditentukan oleh inovasi dalam negeri, otonomi strategis, dan rekayasa kedirgantaraan yang berwawasan ke depan.

Saat peperangan pesawat tak berawak terus mendefinisikan ulang pertempuran modern, Elang Hitam siap untuk terbang.

 Tren Regional & Konteks Strategis 
Di seluruh Asia Tenggara, hanya Indonesia yang berhasil meluncurkan program pengembangan UAV MALE sejati, dengan penerbangan Elang Hitam menandai tonggak penting.

Negara-negara lain masih menggunakan ukuran UAV taktis atau mengimpor sistem MALE asing. Misalnya, Malaysia membeli drone Anka-S Turki untuk melengkapi pengawasan maritim di Laut Cina Selatan.

Pergerakan menuju program UAV lokal didorong oleh:

  💥 Keharusan keamanan nasional dan keinginan untuk berpatroli di zona maritim yang luas.
  💥 Upaya untuk mengurangi ketergantungan pengadaan asing.
  💥 Kemitraan strategis, seperti perjanjian produksi bersama Indonesia-Turki, yang mendukung transfer teknologi dan industrialisasi pertahanan (Wikipedia)

Negara-negara dengan lembaga litbang akademis sedang mengalami kemajuan di bidang UAV kecil, tetapi peningkatan skala ke sistem kelas MALE membutuhkan kapabilitas industri yang luas, pengembangan avionik, integrasi sistem misi, sertifikasi, dan infrastruktur manufaktur.

 Prospek 
Indonesia memimpin Asia Tenggara dalam kapabilitas drone MALE.

Malaysia dan Thailand masih sangat bergantung pada impor atau memproduksi drone taktis alih-alih platform kelas MALE. Jika Elang Hitam berhasil melalui sertifikasi dan memasuki tahap produksi, Indonesia berpotensi menjadi eksportir UAV MALE pertama di Asia Tenggara, yang akan membantu mempercepat otonomi pertahanan regional.

Lanskap UAV Asia Tenggara sedang berada di titik balik—program drone MALE lokal masih jarang, tetapi keberhasilan Indonesia dengan Elang Hitam dapat membuka jalan bagi upaya pengembangan drone lokal yang lebih mendalam dalam dekade mendatang.

  🛩
DSA  

Harga Jet Tempur Canggih Rafale dan KAAN

Pesawat Gen V KAAN Turkiye akan dibeli Indonesia senilai 160 Triliun untuk 48 unit, dengan opsi kerjasama ToT dan produksi bersama. (TAI)

Pemerintah Indonesia resmi memborong dua jenis jet tempur canggih, yaitu Dassault Rafale asal Prancis dan KAAN buatan Turki, dengan nilai kontrak yang cukup besar.

Kontrak terbaru untuk pengadaan 48 unit jet tempur nasional KAAN ditandatangani pemerintah Indonesia dan Turki dalam rangkaian pameran pertahanan internasional (IDEF) 2025 di Istanbul, Sabtu (26/7).

Penandatanganan yang disaksikan langsung Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Government-to-Government (G2G) pada 11 Juni 2025.

Menurut laporan sejumlah media Turki, seperti Daily Sabah, nilai kontrak tersebut mencapai sekitar US$ 10 miliar atau setara Rp 160 triliun. Kesepakatan ini mencakup produksi dan pengiriman KAAN ke Indonesia selama 10 tahun, disertai pembangunan fasilitas baru di RI untuk mendukung proses lokalisasi industri pertahanan.

KAAN merupakan pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan Turki selama hampir satu dekade. Jet ini pertama kali diperkenalkan pada 2023, menjalani uji terbang perdana pada awal 2024, dan direncanakan mulai diproduksi massal pada 2028.

Penampakan pesawat Rafale pertama T-0301 TNI AU. (Dispenau)

Sementara itu, Kementerian Pertahanan juga akan membeli 42 unit jet tempur generasi 4,5 Dassault Rafale buatan Prancis.

Total nilai pembelian Rafale mencapai Rp 68,88 triliun. Rencana ini dimulai dengan kontrak awal pembelian enam pesawat yang ditandatangani pada 10 Februari 2022.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat itu menegaskan pembelian ini menjadi bagian dari rencana penguatan alutsista Indonesia untuk memiliki multirole combat aircraft berteknologi tinggi.

Dengan demikian, total nilai pembelian dua jenis jet tempur ini, KAAN dan Rafale, mencapai lebih dari Rp 228 triliun, yang mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat kekuatan udara dan kemandirian industri pertahanan nasional. (zdm/dna)

  ★
CNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...