Senin, 06 Oktober 2025

MLRS Arjuna

➶ Kendaraan Peluncur Mulri Roket LokalMLRS Arjuna (Medef)

MLRS Arjuna adalah Kendaraan Peluncur Multi Roket (Multiple Launch Rocket System) buatan Indonesia yang dirancang oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana, menggunakan peluncur roket R-Han-122B dan berbasis truk KAMAZ 8x8.

Sistem ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 66% dan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor industri pertahanan.

Fitur Utama MLRS Arjuna:

➶​ Basis Kendaraan: Menggunakan truk KAMAZ 8x8 sebagai sasisnya.
➶​ Sistem Peluncur: Dilengkapi dengan peluncur roket R-Han-122B.
➶​ Produk Dalam Negeri: Dibuat oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana dengan TKDN mencapai 66%.
➶​ Kemandirian Pertahanan: Merupakan wujud kemandirian industri pertahanan Indonesia dan penggunaan teknologi anak bangsa, seperti yang dilaporkan akun Instagram tersebut.

  ➶
Garuda MIliter  

RI Jajaki Kerja Sama Industri Pertahanan dengan Prancis

  Amunisi MBT Leopard (Ist)

Indonesia menjajaki kerja sama industri pertahanan dengan perusahaan Eropa KNDS setelah delegasi Kementerian Pertahanan (Kemhan), TNI AD, dan industri dalam negeri melakukan kunjungan ke Prancis dan Portugal pada Mei 2025. Agenda ini meliputi uji tembak amunisi 120mm untuk Tank Leopard di Lisboa serta pembahasan transfer teknologi persenjataan hingga riset bersama.

"Hasil uji tembak menunjukkan kualitas produk KNDS yang sangat baik dan memenuhi standar internasional," kata Kepala Badan Teknologi Pertahanan (BATEKHAN) Mayjen TNI Djoko Purwanto dalam keterangannya, Jumat (3/10/2025).

Ia menambahkan, kesuksesan uji coba tersebut menjadi indikator penting bagi Indonesia untuk menilai potensi kerja sama teknologi persenjataan dengan KNDS. Uji coba dilakukan dengan tiga jenis amunisi berbeda, yakni HE, HEAT-TP, dan SHARD, dengan total 21 peluru yang berhasil mengenai sasaran sesuai standar NATO.

Selain uji tembak, delegasi Indonesia dan KNDS juga membahas peluang kerja sama di bidang produksi amunisi, kendaraan lapis baja, artileri, hingga kendaraan darat tak berawak.

"Kami menjajaki peluang kerja sama penelitian dan pengembangan pertahanan, khususnya pada sektor kendaraan lapis baja, sistem artileri, amunisi sedang hingga besar, sistem persenjataan, dan kendaraan darat tak berawak," jelas Djoko.

MBT Leo 2A4 TNI AD sedang mengaum (Dispenad)
KNDS disebut siap mendukung lewat transfer of manufacture (TOM) dan pelatihan untuk industri pertahanan nasional, termasuk pemanfaatan propelan PT Dahana untuk amunisi Pindad.

Kerja sama ini disebut membawa manfaat strategis, mulai dari transfer teknologi yang bebas ITAR, pengembangan SDM pertahanan, hingga implementasi perjanjian Indonesia-Prancis dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi. KNDS sebelumnya telah meneken lima nota kesepahaman (MoU) dalam ajang Indo Defence 2025, termasuk dengan PT Pindad, PT DI, PT SSE, dan Balitbang Kemhan.

CEO KNDS Nicolas Chamussy menegaskan, "KNDS merasa terhormat menjadi mitra yang dipercaya Kemhan dan TNI selama lebih dari 40 tahun, dan akan terus mendukung pengembangan sistem pertahanan Indonesia agar tercapai kemandirian."

Sebelum ke Portugal, delegasi juga mengunjungi fasilitas produksi KNDS di Prancis. Mereka mendapat paparan langsung tentang proses produksi amunisi Tank Leopard 120mm dari bahan mentah hingga pengujian balistik.

KNDS memaparkan portofolionya yang meliputi sistem artileri, kendaraan tempur, turret, hingga sistem CBRN. Perusahaan ini berdiri sejak 1690 dan kini mengoperasikan 12 fasilitas di Prancis, Belgia, dan Italia.

Delegasi Indonesia dipimpin Kepala Badan Teknologi Pertahanan (BATEKHAN) Mayjen TNI Djoko Purwanto, didampingi Wakil Komandan Pussenkav TNI AD Brigjen TNI Rayen Obersyl. Ikut serta pula VP Pemasaran dan Penjualan PT Pindad Yanto Sugiharto, Kepala Bagian Program dan Laporan (Kabag Proglap) Kolonel Kav. R. Herdianto Nuringtyas, dan sejumlah pejabat serta staf Balitbang Kemhan, Pussenkav TNI AD, dan Atase Pertahanan RI. Kehadiran delegasi tingkat tinggi ini menunjukkan keseriusan pemerintah Indonesia dalam mengembangkan industri pertahanan nasional. (igo/fdl)

  👷 
detik  

Minggu, 05 Oktober 2025

Perjalanan Loreng TNI Jelang HUT ke-80

  Dari Malvinas - Sage Green Loreng PDL terbaru TNI (Ist)

Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-80 pada Minggu (5/10/2025). Perayaan akbar akan digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dengan rangkaian acara mulai dari upacara, parade pasukan, atraksi udara, hingga demonstrasi alutsista.

Di luar itu, TNI juga baru saja melakukan penggantian seragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL) yang digunakan prajurit dari seluruh matra.

Motif loreng lama, yakni Loreng Malvinas yang telah dipakai sejak 1982, kini resmi digantikan dengan motif baru berwarna sage green yang dirancang khusus agar lebih efektif dalam penyamaran, khususnya saat bertugas di hutan atau medan operasi tertentu.

Perubahan ini bukan hanya simbol adaptasi terhadap perkembangan zaman, tetapi juga menandai langkah TNI yang terus bertransformasi menjadi angkatan bersenjata modern, sejalan dengan tema HUT ke-80 TNI: "TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju."

  Sejarah Loreng Malvinas 
Kopassus dengan loreng malvinas (CNBC)

TNI telah menggunakan PDL dengan motif malvinas ini sejak 1982 atau sudah lebih dari 40 tahun lamanya.-Motif ini terinspirasi dari Perang Falkland atau yang juga dikenal sebagai Perang Malvinas, antara Inggris dan Argentina.

Motif loreng Malavinas didominasi oleh tiga warna utama, yakni hijau tua, cokelat tua, dan krem. Seragam loreng ini telah menjadi saksi perjalan panjang TNI, mulai dari operasi di Timor Timur, operasi di Aceh, sampai dipakai oleh prajurit TNI ketika penugasan sebagai pasukan perdamaian dunia.

  Sebelum Loreng Malvinas 
Jauh sebelum era Malvinas, TNI telah mengenal dan menggunakan berbagai motif loreng sejak era pasca-kemerdekaan.

Pada dekade 1960-1970-an, penggunaan loreng belum terstandardisasi secara nasional. Setiap matra dan kesatuan kerap menggunakan variasi corak masing-masing, seperti loreng hutan tropis, loreng macan tutul, hingga pola sederhana campuran hijau dan cokelat. Variasi tersebut biasanya disesuaikan dengan kebutuhan taktis satuan, misalnya pasukan komando darat, marinir, maupun pasukan udara.

Barulah pada 1982, TNI menetapkan motif Loreng Malvinas sebagai seragam lapangan standar nasional, menggantikan beragam pola sebelumnya. Keputusan ini menandai era baru di mana seluruh prajurit TNI dari tiga matra menggunakan satu identitas loreng yang sama.

  Seragam PDL Loreng di Beberapa Satuan Khusus
Meskipun sejak 1982 TNI secara resmi menggunakan PDL dengan motif Malvinas sebagai standar nasional, namun sejumlah satuan khusus tetap memiliki corak loreng khas mereka masing-masing. Hal ini menjadi identitas sekaligus pembeda fungsi dan karakter setiap satuan elite di lingkungan TNI.

Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

  Komando Pasukan Khusus (Kopassus) 
Seragam loreng mereka bercorak merah-hitam dengan dasar hijau dan krem, melambangkan keberanian, ketegasan, serta kemampuan bertempur di segala medan.

  Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) 
Kopasgat KOpasgat TNI AU menggunakan loreng dengan kombinasi warna hijau, cokelat, dan krem untuk mendukung operasi darat maupun udara.

Seorang personel TNI AU menyeka wajahnya sebelum pawai dalam rangka perayaan HUT TNI ke-79 di kompleks Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Indonesia, 5 Oktober 2024. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

  Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) 
Kostrad menggunakan loreng dengan dasar warna hijau, cokelat, dan hitam. Motif ini memberikan kemampuan kamuflase tinggi di medan operasi darat, khususnya hutan tropis yang menjadi karakteristik utama geografi Indonesia.

  Korps Marinir TNI AL 
Loreng yang digunakan Korps Marinir TNI Angkatan Laut memiliki corak unik berupa kombinasi hijau, cokelat, hitam, dan krem dengan pola bulat besar. Motif ini mencerminkan identitas Marinir sebagai pasukan amfibi yang siap bertempur di darat, laut, maupun pesisir.

Selain satuan khusus tersebut, setiap matra juga memiliki variasi loreng tersendiri mulai dari AD, AL, dan AU yang disesuaikan dengan lingkungan operasi masing-masing. Dengan begitu, meskipun ada standar nasional, corak loreng tetap menjadi simbol keunikan sekaligus kebanggaan tiap matra dan satuan khusus TNI. (evw/evw)

  💂 
CNBC  

Sabtu, 04 Oktober 2025

Indonesia Minati Bom Kit KGGB dari Korea Selatan

Bom kit KGGB buatan LIG Nex 1. (The Guru)

Indonesia telah menyatakan minatnya untuk mengakuisisi kit Bom Berpandu GPS Korea/ Korean GPS-Guided Bomb (KGGB) dan telah meminta presentasi formal mengenai produk tersebut dari LIG Nex1 Korea Selatan.

Sumber yang dekat dengan masalah ini telah mengonfirmasi kepada Janes bahwa presentasi mengenai kit bom tersebut kemudian dilakukan di Jakarta pada 30 September setelah minat Indonesia terhadap produk tersebut meningkat menyusul pengerahan tempur pertamanya dalam konflik perbatasan Kamboja-Thailand pada bulan Juli.

Menurut dokumen kehadiran yang diberikan kepada Janes oleh salah satu sumber, pertemuan tersebut dihadiri oleh 26 pejabat senior Angkatan Udara Indonesia, termasuk para pemimpin dari unit perencanaan strategis dan komandan Wing 3, Wing 14, Wing 15, dan Wing 16 dari Skadron Udara 3.

KGGB adalah kit bom luncur berpemandu presisi yang dirancang untuk mengubah bom serbaguna Mk 82 konvensional menjadi amunisi jarak jauh dengan akurasi tinggi.

Bom ini dikembangkan bersama oleh Badan Pengembangan Pertahanan (ADD) Korea Selatan dan LIG Nex1, dan mengintegrasikan sistem navigasi satelit berbasis GPS dengan sistem navigasi inersia (INS).

Perangkat ini berpusat pada sepasang sayap yang dapat dilipat dan modul pemandu yang terpasang pada bom, yang memungkinkannya meluncur dalam jarak jauh tanpa propulsi.

Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) mengerahkan bom Mk 82 yang dilengkapi KGGB dari pesawat tempur F-16 dalam konflik Juli 2025, menargetkan posisi militer Kamboja termasuk pos komando, depot amunisi, dan sistem peluncur roket ganda BM-21 Grad.

Ini menandai penggunaan operasional pertama sistem KGGB yang diketahui dalam pertempuran.

  🚀 
Jane's  

Barata Indonesia Rampungkan Komponen Untuk Kapal Perang Frigat Merah Putih

V-Bracket Untuk Kapal Perang Frigat Merah Putih (FMP). (Barata)

PT Barata Indonesia (Persero) berhasil menyelesaikan produksi komponen kapal perang Fregat dengan mensupport PT Pal Indonesia. Komponen tersebut antara lain V-Bracket, I-Bracket dan Stern Tube. Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting bagi Barata Indonesia sebagai BUMN manufaktur yang memiliki peran besar dalam mendukung industri pertahanan nasional, khususnya dalam penyediaan komponen kapal dengan standar internasional.

Proses penyelesaian komponen V-Bracket ini juga telah melalui asesmen dari tim teknis PT PAL Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, tim meninjau fasilitas produksi Barata Indonesia, termasuk permesinan dan sistem quality control, guna memastikan standar kualitas dan presisi terpenuhi. Hasil asesmen pun menunjukkan bahwa fasilitas serta produk Barata Indonesia mampu menjawab kebutuhan pembangunan kapal perang. Dari sisi kualitas, pekerjaan Ini dibawah pengawasan ketat Llyod’s Register, sebuah organisasi internasional penyedia layanan dan sertifikasi kapal, struktur maritim dan sistemnya.

Direktur PT Barata Indonesia (Persero), Hertyoso Nursasongko, menyampaikan bahwa keberhasilan ini membuktikan kompetensi industri manufaktur dalam negeri. “Keterlibatan Barata Indonesia dalam penyediaan komponen V-Bracket memperlihatkan kapasitas kami untuk memenuhi spesifikasi teknis yang ketat. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa industri nasional dapat diandalkan dalam memperkuat kemandirian alutsista,” ujarnya.

Keberhasilan penyelesaian V-Bracket sekaligus memperkuat sinergi antara Barata Indonesia, PT PAL Indonesia dalam proyek strategis pertahanan maritim. Pencapaian ini diharapkan tidak hanya mendukung keberlanjutan pembangunan kapal perang, tetapi juga meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional di level global.

  👷 
Barata  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...