Senin, 27 Februari 2012

Raider Kepung Markas GAM Aceh Besar

Lambang Raider
Ⓟasukan TNI satuan Yonif 400 / Raider, sejak dua hari lalu mengepung markas GAM pimpinan Tgk Muharram di kawasan pegunungan Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Pengepungan yang diwarnai dengan aksi laga senjata itu, mengakibatkan lima pria yang diklaim sebagai anggota GAM berhasil dilumpuhkan, 2 pucuk AK dan satu pistol disita.

Tiga dari lima mayat anggota GAM yang diperkirakan meninggal pada Selasa (6/1), baru dapat dievakuasi oleh anggota TNI/Polri dan seratusan masyarakat dari empat desa di Kemukiman Lambadeuk serta relawan PMI, pada Kamis (8/1) kemarin. Sementara dua mayat lainnya, dilaporkan telah dikuburkan di kawasan pegunungan tersebut, karena tidak memungkinkan lagi untuk dievakuasi.

Komandan Kodim 0101 / Aceh Besar, Letkol Inf Joko Warsito kepada Serambi tadi malam mengatakan, satu dari tiga pria yang berhasil di evakuasi oleh TNI bersama Polri dan masyarakat adalah Amiruddin (32), warga Lampuuk, Aceh Besar, yang menjabat sebagai Panglima Muda Wilayah 25. "Sebagai Panglima Muda dia membawahi beberapa Panglima Sagoe. GAM membagi Aceh Besar ini menjadi tiga wilayah yaitu, wilayah 22, 25 dan 26" katanya.

Sejumlah prajurit TNI AD dari Satuan Tim Gultor Batalyon 400/Raider turun dari heli dan melakukan penyergapan ke sarang pemberontak saat mengikuti Latihan Taktis Batalyon Tim Pertempuran (BTP) 406 di daerah latihan Kodam IV/Diponegoro, Bantir, Sumowono, Kabupaten Semarang, Rabu (19/1). Latihan tersebut melibatkan berbagai kesatuan TNI AD guna meningkatkan kemampuan prajurit dalam menerapkan teknik dan taktik pada operasi pertempuran. (Foto: SM CyberNews / Maulana M Fahmi)

Sementara dua jenazah lainnya yang dievakuasi oleh relawan PMI NAD, Banda Aceh dan Aceh Besar ke RSUZA Banda Aceh, telah dilihat oleh keluarga mereka bernama Rafsanjani (22) dan M Amin (45), warga Ajun, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Sementara dua mayat lainnya yang dikuburkan di kawasan pegunungan tidak berhasil diidentifikasi. Dandim juga mengatakan, sampai tadi malam, aparat TNI masih terus mengepung lokasi tersebut, yang diyakini sebagai salah satu lokasi persembunyian GAM Aceh Besar pimpinan Tgk Muharram, yang diperkirakan berjumlah 50 orang dengan kekuatan 30-an pucuk senjata campuran. Menurut dia, di kawasan tersebut aparat TNI menemukan satu gua yang di pintu masuknya terdapat prasasti bertulis nama- nama anggota GAM bertandatangan Tgk Muharram. "Tadi sore kembali terjadi kontak tembak, kita telah mengepung kawasan tersebut," ujar Joko.

Sebelumnya, saat memantau kegiatan evakuasi mayat di Desa Lambadeuk, Dandim Joko Warsito yang didampingi Komandan Yonif 400 / Raider, Letkol Inf Nurahmad memperoleh kabar bahwa sekitar 15 anggota GAM yang terkepung di lokasi tersebut melakukan kontak dengan keluarga mereka dan menyatakan keinginan untuk menyerahkan diri. "Kita sedang menunggu kabar dari mereka, mudah-mudahan mereka akan segera turun dengan damai," ujar Dandim dan berjanji akan memperlakukan anggota GAM yang menyerah dengan baik.

Dandim juga mengatakan, insiden kontak tembak yang menyebabkan lima anggota GAM menjadi korban dan tiga pucuk senjata serta sejumlah amunisi dan perlengkapan GAM disita, di kawasan pegunungan Lambadeuk itu, merupakan aksi pertama dengan hasil besar yang melibatkan 1 batalyon pasukan Raider di kawasan Aceh Besar. "Kemampuan mereka memang sangat baik, dalam gerakan awal mereka langsung kontak dan bisa melumpuhkan GAM," demikian Dandim Joko Warsito.

☆ Dua hari
Sementara itu, jubir Koops TNI di Lhokseumawe, Letkol CAJ Ahmad Yani Basuki mengonfirmasikan bahwa dalam dua hari terakhir ini terjadi 13 kali insiden kontak-tembak dengan tujuh pemberontak GAM dilumpuhkan, dua tertangkap, dan seorang menyerahkan diri. Pasukan TNI menyita dua pucuk AK-56, sepucuk AK-47, sepucuk pistol FN dan sepucuk pistol FN.

Di antara kontak tembak yang disebutkan Yani itu terjadi di Aceh Timur, Rabu (7/1). Tim Topan Yonif-500/R kontak tembak dengan pemberontak GAM di Bukit Glumpang Kecamatan Peureulak. Juga di Aceh Timur, Rabu, Tim Topan-4 Yonif-500/Raider kontak tembak dengan separatis GAM di Kecamatan Peureulak, seorang pemberontak GAM tanpa identitas berhasil dilumpuhkan. Pasca kontak tembak tersebut, pasukan TNI menyita sepucuk pistol FN-45, jenazah GAM itu diserahkan kepada Keuchik setempat untuk dimakamkan.

Sementara itu, di Aceh Utara, Rabu (7/1), Tim Sus dan Tim-1 Ki Macan Yonif-502 kontak tembak dengan pemberontak GAM di Kampung Cut Calang, Kecamatan Muara Batu. Seorang pemberontak GAM tanpa identitas dilumpuhkan, aparat TNI menyita dua pucuk senjata AK-56, dua buah magazen AK, tiga buah magazen M-16, 635 butir peluru M-16, 180 butir amunsi AK, satu stel PDL loreng, sepotong celana loreng USA, sebuah kopel rim, sebuah HP merek Motorolla, dua karung baju preman, dua lembar bendera GAM, satu lembar selempang piket GAM, dan selembar badge MP.

Di Bireuen, Rabu, tim gabungan Dahlia dan Tim Cadas Yonif-301/PKS baku tembak di Kampung Lesehan, Kecamatan Makmur. Di tempat itu, katanya, dua orang pemberontak dilumpuhkan. Di Pidie, Rabu, Tim gabungan TNI/Polri terdiri Koramil-02 Bandar Baru, Sattis-2/Pidie, Polsek Bandar Baru, dan Brimob BKO Polsek Bandar Baru kontak tembak dengan separatis GAM di Desa Musa Bandar Baru. Seorang GAM dilumpuhkan bernama Muhammad Ibrahim (30) penduduk Desa Uteun, Kecamatan Bandar Baru. Disita sepucuk pistol Revolver, 20 butir amunisi pistol dan sebuah HT merek Kenwood.

Yonif 323 / Raider
Di Aceh Selatan, Rabu (7/1) Tim-4 Ki Arakundo Yonif-323/R kontak tembak dengan pemberontak GAM di Kecamatan Bakongan. Disita sebuah ponco loreng, sebuah kopel rim, 50 kg beras, lima buah bivak, sebuah golok, dan satu set peralatan memasak. Letkol Yani menambahkan, di Aceh Barat, Rabu (7/1) Tim Calang-3 Yonif-527/BY menyergap pemberontak GAM di Desa Semulik Kecamatan Bubon. Dua pemberontak GAM tertangkap masing-masing bernama Juanda (20) dan Muhammad Adnan (21), keduanya beralamat di Desa Semuli Kecamatan Bubon.

Di Pidie, Selasa (6/1) Sekitar pukul 20.30 WIB seorang pemberontak GAM bernama Abdullah Daud (52) penduduk Desa Tangkung Kecamatan Sakti menyerahkan diri pada Koramil-12/Sakti. "Dari berbagai insiden bersenjata itu tidak ada korban dari pihak TNI," kata Letkol Ahmad Yani.(nal/j/ib)


Sumber :
  • Serambinews

Minggu, 26 Februari 2012

Ambon Manise : Sejenak menjadi Sarajevo

Ⓣanggal 5 januari 2001 tim Kopassus, bersama-sama Marinir dan Paskhas dalam satuan tugas gabungan Komando Sektor (Kosektor)-1/ gabungan TNI Maluku/Maluku Utara yang dipimpin Asisten Intelejen Danjen Kopassus Kolonel N.G Sugihartha, berangkat ke Ambon setelah mendapat perintah tugas mendadak pada tanggal 1 januari 2001.

Wakil Asisten Intelejen Danjen Kopassus Letkol I Nyoman Cantiasa (waktu itu berpangkat kapten) yang menjadi anggota tim Kosektor-1 melihat bagaimana warga kehilangan nyawa saat berjalan diruang terbuka akibat gangguan para “sniper” yang disebar oleh pihak bertikai digedung - gedung kosong untuk menteror kota Ambon. 

  • Ambon Manise sejenak menjadi Sarajevo

Setiap hari ada laporan warga dari dua komunitas yang mengadukan kerabatnya menjadi korban sniper terus masuk. Situasi bertambah parah setelah kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS) dan milisi luar Ambon terutama dari pulau jawa ikut memperkeruh suasana disertai pasokan senjata dan bahan peledak yang juga membanjiri dari luar maluku dan dari luar negeri.

Maraknya peredaran senjata organik dipicu oleh pembobolan gudang senjata Polri di desa Tantui semasa konflik tahun 1999 - 2000. Kelompok bertikai menjebol lalu menjarah gudang senjata beserta amunisinya. Sekurangnya 900 pucuk senapan dan pistol serta granat tangan raib dari gudang. Yang lebih mengerikan lagi, saat sweeping ke daerah perusuh, ditemukan bom rakitan seukuran televise 17 inch. Bayangkan bila bom digunakan untuk menyerang keramaian masyarakat.

Para perusuh langsung menguji nyali aparat gabungan yang baru tiba dari Jakarta dengan serangang sporadis. Tembakan sporadis dan serangan bom rakitan silih berganti menghantam pos-pos aparat untuk memancing kerusuhan antar warga.


“Kami terkejut karena mendengar jenis letusan senjata yang digunakan sangat bervariasi. Peluru ukuran 9mm, 5,56mm, rentetan senapan mesin 7,62mm dan mortar terdengar bersautan. Belum lagi serangan panah, tombak, parang, golok, klewang hingga letupan letupan bom Molotov. Perusuh juga menggunakan alat polontar bom yang bias menjangkau jarak 250 meter,” kata Nyoman.

Tim Kosektor-1 segera menganalisa situasi untuk dapat meredakan konflik secepat mungkin berbekal pengalaman tugas di Timor Timur, Aceh dan Papua. Malam hari tanggal 19 januari 2001 saat tim berpatroli menggunakan panser tua Saraccen dan Saladin di dekat pos keamanan Hotel Aman, tiba-tiba serangan bom dan tembakan muncul kembali. Melalui komunikasi HT diketahui posisi musuh berada disekitar Hotel Wijaya II. Beberapa pos aparat yang diserang segera mendapat bantuan pada saat bersamaan.


Naluri seorang Prajurit Kopassus mendorong Nyoman untuk menganalisa cepat situasi lapangan. Sepuluh prajurit diperintahkan untuk naik ke gedung - gedung untuk memantau asal pancaran senjata api ditengah kegelapan. Setelah posisi diketahui, perintah serangan diberikan dan tembakan gencar aparat selama 5 menit menghantam posisi perusuh berhasil membungkam mereka untuk smementara waktu. Tiba - tiba disaluran HT terdengar makian perusuh, “
Arjuna-2, Arjuna-2, anjing, babi kamu!!”Rupanya saluran komunikasi TNI - Polri telah disadap oleh perusuh. (Arjuna-2 : Panggilan sandi Nyoman Cantasiana sebagai Kepala Seksi Operasi Kosektor-1)

Situasi kemudian mereda selama dua hari yang ternyata digunakan perusuh untuk menggalang kekuatan kembali. Menjelang malam 21 januari 2001, mereka menyerang lagi pos - pos dari berbagai arah. Dari hasil observasi para perusuh menempati gedung - gedung kosong yang telah rusak dikoyak kerusuhan.


Aparat setempat yang pada umumnya lebih mengedepankan kegiatan pembinaan warga, belum menguasai teknik perang kota. Tetapi, rapat tetap segera digelar Kosektor-1 dengan aparat setempat untuk menyerang perusuh di gedung - gedung kosong.


Tanggal 22 januari 2001, pukul 02.00 dini hari Nyoman Cantiasa segera menghadap Panglima Kodam XVI Pattimura Mayor Jenderal M. Yasa untuk melaporkan perkembangan situasi terakhir karena perusuh semakin berani dan brutal. Ketika itu Kodam sedang mendapat bantuan Batalyon Gabungan (Yongab) Kopassus - Paskhas - Marinir di bawah pimpinan perwira Kopassus
Mayor Ricky Samuel*. Kosektor-1 segera mendapat bantuan satu kompi Yon Gab dengan unsur utama Kopassus dibantu Paskhas dan Marinir. Sasaran utama Hotel Wijaya II yang menjadi sarang perusuh dan sniper. Batalyon Pemukul Sektor juga diperbantukan untuk mengamankan lingkaran luar hotel yang akan diserbu.

Setelah Pangdam memberi lampu hijau untuk menyerang perusuh, pukul 05.00 WIT pasukan langsung bergerak kearah Hotel Wijaya II. Serangan pembukan dilakukan dengan granat kejut dan rentetan tembakan. Dengan cepat pasukan masuk dan menyerbu ruangan demi ruangan. Ledakan granat kejut dan rentetan tembakan terdengar dimana - mana. 

Sungguh pertempuran kota seperti pertempuran Stalinggrad di Uni Soviet semasa perang dunia II. Pada saat bersamaan, patroli Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Ambon berpatroli memblokir laut mencegah kaburnya perusuh atau datangnya bantuan dari laut.

Pembersihan hotel berlangsung hingga pukul 07.00. Aparat bertekad menangkap mereka hidup - hidup. Beberapa mencoba lari tapi berhasil dikejar disekitar hotel dan banyak juga yang menyerah tanpa syarat. Para perusuh sudah setahun menempati hotel wijaya II itu dan tidak pernah mengira aparat akan berani masuk menyerbu. Banyak dari mereka yang ditangkap ternyata dalam keadaan mabuk dan sisa - sisa pesta ditemukan didalam hotel. Tak disangka bahwa disaat masyarakat Ambon dicekam ketakutan, ternyata para perusuh justru berpesta pora. Sebagian dari perusuh yang ditangkap adalah warga sipil, mantan tentara dan polisi yang ditangkap atau desersi.


Tim gabungan di lokasi juga menyita revolver, pistol FN 46, Colt 38, serta beragam senapan seperti AK 101, AK 102, Lee Enfield (LE), SKS, MK-1, MK-3, SS-1, M-16, SPR, US Carabine 30mm, Ruger mini, Mauser, senapan dan bom rakitan disertai dokumen berisi catatan serangan dan rencana serangan.

*(Mayor Ricky Samuel : telah gugur dalam tugas medio tahun 2009 akibat kecelakaan helicopter saat menjabat Komandan Pusdikpassus Batujajar, Bandung)


Sumber :
  • Cuplikan “KOPASSUS UNTUK INDONESIA”

Torpedo Kapal Selam Whiskey Class

KRI Pasopati - 410
KS RI Pasopati
Ⓣorpedo dapat menghancurkan kapal sasarannya hingga berkeping-keping. Itulah salah satu alasan torpedo menjadi senjata serang utama yang disandang kapal selam jenis Whiskey class. KS RI Pasopati yang termasuk dalam kapal selam jenis Whiskey class tentunya juga memiliki torpedo sebagai senjata utamanya.

☸ Mengenal Torpedo
Torpedo merupakan senjata kapal selam yang khas. Berbentuk tabung memanjang sekitar 4 meter, memiliki berat sekitar 2 ton dengan kaliber sebesar 21, 5 inch (53 cm) dan mampu meluncur dengan kecepatan sekitar 40 knot/jam atau sekitar 60 knot/jam! Tanpa muatan bahan peledak saja, kapal atas air yang ditabrak oleh torpedo ini dapat dipastikan akan bocor lambungnya dan akan tenggelam, apalagi dengan muatan peledaknya yang memiliki berat sekitar 400 kg high explosive, kapal lawan akan patah menjadi dua dan hancur berkeping-keping. Bisa dibayangkan hebatnya torpedo yang dimiliki kapal selam jenis Whiskey class ini.

Baling-Baling Ganda
Baling baling Ganda
Badan torpedo biasanya terbagi menjadi sekurang-kurangnya tiga bagian pokok. Berikut beberapa ruangan yang ada pada torpedo jenis Whiskey class, yaitu: 

♞ Kepala perang (gefechtkopf). Berada di bagian terdepan yang berisi bahan peledak seberat 400 kg. 

♞ Kepala pemikir. Berisi giro, baik vertikal giro yang digunakan untuk mengendalikan torpedo agar saat meluncur tidak berguling-guling, dan juga giro horisontal yang berfungsi untuk menentukan arah luncuran torpedo. Pada bagian ini juga terdapat membran yang digunakan untuk menentukan kedalam luncur torpedo, penggalak (zundung, fuze) untuk meledakkan kepala perang.

♞ Ruang mesin. Berisi turbin (pada steam gas torpedo) atau motor listrik (pada torpedo listrik) yang akan memutar baling-baling ganda yang berputar berlawanan arah dan akan mendorong torpedo melaju dengan kecepatan yang lebih cepat dari kapal manapun. 

♞ Ruang muatan. Berisi botol UTT (Udara Tekanan Tinggi) dan kerosene yang akan dicampur dalam ruang bakar guna menimbulkan uap yang akan dipakai untuk menggerakkan turbin. Pada torpedo listrik, tempat ini dipenuhi batere Perak Nitrat yang akan memberikan tenaga yang luar biasa besarnya dalam waktu yang singkat. 

♞ Sirip tegak, yang berfungsi mengendalikan arah luncuran  dan sirip horisontal yang akan menjaga agar torpedo meluncur dengan stabil, tidak berguling dan mempertahankan kedalaman yang telah diprogramkan. Kemudian, baling-baling ganda yang berputar berlawanan arah. Putaran dibuat berlawanan arah guna menghindarkan efek momen yang akan timbul jika putaran hanya ke satu arah saja.


☸ Bilik Hitung TAS L2
Bilik Hitung TAS L2
Ternyata pada kenyataannya, penembakan torpedo tidak sesederhana yang kita bayangkan. Hal ini disebabkan baik kapal selam yang akan menembak dan kapal sasaran yang akan ditembak sama-sama bergerak, sehingga diperlukan kejelian saat akan memasukkan data yang diperlukan pada bilik hitung TAS L2. 

Pada permukaan bilik hitung TAS L2 terdapat jentera-jentera kecil untuk mengontrol nilai dari data-data yang dimasukkan, ada gambaran-gambaran pada indikator yang penuh dengan angka yang terletak dalam susunan melingkar.

Data-data yang diperlukan antara lain: 

♜ Kedalaman peluncuran. Semakin besar kapal sasaran, biasanya kedalaman peluncuran juga diset semakin dalam. 

♜ Kecepatan luncur torpedo. Bila sasaran berada pada jarak dekat, maka kecepatan akan diset pada kedudukan paling cepat. Bila sasaran jauh, maka kecepatan akan diset pada kecepatan yang optimal sesuai hasil perhitungan. 

♜ Arah yang harus ditempuh. Diberikan baringan yang harus diikuti oleh torpedo dalam menuju ke titik temu dengan kapal yang akan dijadikan sasaran. 

♜ Pistol peledak. Dapat berupa pistol kontak dimana torpedo akan meledak saat bertumburan dengan lambung kapal sasaran atau berupa pistol magnetik dimana torpedo akan memicu meledakkan hulu ledak pada saat medan magnit berubah dari maksimal menjadi menurun menuju ke nol, yaitu tepat saat torpedo lewat dibawah lunas kapal sasaran.

☸ Saatnya Meluncurkan Torpedo
Torpedo diluncurkan menggunakan peralatan yang disebut peluncur torpedo. Peluncur ini berada di haluan kapal, dimana biasanya ditempatkan torpedo non kendali (straight run), steam gas yang akan meluncur lurus langsung menuju sasaran. Sedangkan peluncur pada buritan kapal biasanya ditempatkan torpedo kendali elektrik, SA-ET 70 yang berkepala pelacak (homing head) akustik.

Ruang Torpedo Haluan
Ruang Terpedo Haluan
Beda torpedo kendali dari torpedo straight run / non kendali adalah torpedo masih dapat dikendalikan meski torpedo telah lepas dari peluncurnya. Pengendaliannya bermacam-macam, ada yang menggunakan dawai (draht gelenkter torpedo, wire guided torpedo), seperti torpedo SUT atau Seeschlange Jerman dan Mk 48 Mod 3 Amerika. 

Selain masih bisa dikendalikan setelah lepas dari peluncur, kita juga dapat mengganti sasaran yang dianggap lebih potensial atau lebih membahayakan bagi kapal selam sendiri. Ada juga pengendalian akustik, dengan melengkapi torpedo dengan kepala pelacak akustik seperti pada torpedo SA-ET 40. Dengan pelacak akustik ini, torpedo akan melacak sendiri kapal lawan yang harus ditenggelamkannya dengan hanya “mendengarkan” suara baling-baling saja.

Torpedo kendali elektrik pada buritan kapal digunakan pada saat melakukan pengunduran diri (manuvra withdrawal) dari kejaran kapal pengawal musuhnya dengan melakukan penembakan tanpa harus berlama-lama mengintai dan menghitung gerakan lawan. Serangan semacam ini tentu tidak akan terduga oleh kapal musuh yang sedang antusias untuk mengejar, terlebih lagi dengan pendorong listriknya, torpedo ini sama sekali tidak meninggalkan bekas yang dapat teramati di air. Tiba-tiba saja mereka akan terlempar dari anjungannya, karena kapalnya telah meledak berkeping-keping.

Sangat menakjubkan jika kita mengetahui kehebatan torpedo yang dimiliki kapal selam tipe Whiskey class yang kita miliki ini.

..Wira Ananta Rudira..


Sumber : 
  • Budiyanto, R.D. 2009. Tak Kenal Maka Tak Sayang: Mengenang Kapal Selam Tipe Whiskey Class Ex Sowyet
  • rucitoys

Merah Putih berkibar di Teminabuan

Korpaskhas
Ⓑumi Teminabuan memang merupakan daerah yang mempunyai nilai historis tersendiri bagi bangsa Indonesia serta bagi Korpaskhas (waktu itu bernama PGT) pada khususnya, apalagi pelaku-pelaku sejarah yang masih dikaruniai umur panjang sampai sekarang ini. Bagi pelaku-pelaku sejarah sampai sekarang, mendengar “Teminabuan”, mereka sempat meneteskan air mata karena berbagai perasaan berbaur menjadi satu. Perasaan bangga, haru dan syukur menjadi satu ketika mereka mengenang kembali peristiwa-peritiwa yang dialami di daerah tersebut. Peristiwa heroik ini patut diteladani oleh generasi-generasi penerus.

Kisah nyata ini terjadi dalam rangkaian peristiwa ketika bangsa Indonesia merebut kembali wilayah Irian Barat (sekarang Irian Jaya) dari Belanda, peristiwa ini dikenal dengan nama Tri Komando Rakyat (Trikora). Trikora terjadi karena adanya gelagat Belanda yang tidak mau melepaskan Irian Barat. Sehingga dalam suatu rapat raksasa tanggal 19 Desember 1961 di alun-alun Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumumkan “Tri Komando Rakyat” kepada seluruh rakyat Indonesia.


Adapun tiga maklumat yang disampaikan oleh Presiden Soekarno ketika itu adalah :

  1. Gagalkan pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Kolonial.
  2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian barat tanah air Indonesia.
  3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air Indonesia.

PGT
Setelah adanya Instruksi Presiden tersebut, pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden mengeluarkan Keputusan Nomor I/1962 yang isinya adalah memerintahkan pembentukan Komando Mandala (KOLA) untuk membebaskan Irian Barat. KOLA ini dipimpin oleh Mayjen Soeharto (Mantan Presiden RI kedua) sebagai panglima KOLA yang kedudukannya berada langsung di bawah Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat (Pangbes KOTI/Permibar) yang dirangkap oleh Presiden Soekarno.

Operasi yang dilakukan bersifat gabungan, sehingga di dalam KOLA terdapat komponen-komponen yang terdiri dari Agkatan Darat Mandala (ADLA), Angkatan Laut Mandala (ALLA), Angkatan Udara Mandala (AULA) dan Komando Pertahanan Udara Gabungan Mandala (Kohanudgabla). Sedangkan Kepolisian, pada saat pembentukan KOLA, belum termasuk angkatan bersenjata. Setiap komponen utama yang secara operasional berada dibawah Panglima Mandala, tetapi secara administrated langsung dibawah Panglima Angkatan Masing-masing.

Unsur pimpinan KOLA antara lain Mayjen TNI Soeharto sebagai Panglima KOLA, Komodor Laut Soebono sebagai wakil Panglima I, Komodor Udara Leo Wattimena sebagai wakil Panglima II, Kolonel Achmad Tahir sebagai kepala Staf Umum dan Mayor CHKP Nasution, S.H. sebagai kepala Sekretariat. Selain itu, dalam operasionalnya panglima KOLA juga dibantu oleh para Panglima Komponen Utama dari masing-masing Angkatan.


Markas KOLA berkedudukan di Makasar, sedangkan Pos Komando Depan (Poskopan) bertempat di Ambon. Panglima KOLA di samping mengendalikan jalannya operasi dari Makasar, sering pula berada di daerah operasi bersama Komodor Udara Leo Wattimena. Kegiatan dalam rangka infiltrasi udara termasuk penerjunan pasukan bertolak dari Ambon tepatnya di Pangkalan Udara Laha yang merupakan Pangkalan Udara Depan yaitu Pangkalan Udara Morotai, Amahai, Bulam Letfuan dan Langgur.

Berbagai persiapan operasi dilakukan termasuk persiapan komponen Angkatan Udara. Dalam persiapan tersebut, selain terdapat pesawat-pesawat pembon strategis (TU-16/KS), ada pula pesawat pemburu taktis (P-51 Mustang), pesawat pembom sedang dan ringan (II-28, B-25 dan B-26), pesawat transport (C-130 Hercules) dan pesawat SAR (C-47 Dakota). Oleh karena itu, Pangkalan - Pangkalan Udara depan dan unsur pasukan TNI Angkatan udara yaitu PGT juga harus dipersiapkan dengan baik.

Pak Wiriadinata (Komandan PGT), memberi dorongan moril, sebagian dari orang yang ada dalam pesawat ini mungkin gugur dan tidak dapat kembali lagi.

Infiltrasi Udara dengan tujuan pengintaian maupun untuk penerjunan serta tembakan dari udara dilakukan dengan sangat hati-hati dan rahasia agar tidak terdeteksi olleh pihak Belanda.

Banyak peristiwa Heroik yang terjadi pada saat pelaksanan operasi. Salah satu peristiwa dari sekian banyak peristiwa tersebut adalah penerjunan PGT di Teminabuan, Irian Barat.


Penerjunan dilakukan pada tanggal 19 Mei 1962 sebanyak 81 orang diangkut pesawat C130 Hercules yang tinggal landas dari Pangkalan Udara Laha, Ambon, di pimpin oleh LMU I Soehadi.


Pesawat tinggal landas daru pangkalan Udara Laha, Ambon, pukul 01.00 WIT dini hari. Cuaca kurang bersahabat karena waktu itu sedang hujan sehingga situasi bertambah gelap. Pukul 02.30 WIT penerjunan dimulai. Satu persatu PGT melompat dari pesawat. 

Mereka tidak tahu bagaimana keadaan tempat untuk mendarat karena keadaan gelap. Sebagian dari mereka terkejut karena mereka mendarat di atas atap seng yang ternyata adalah atap asrama tentara Belanda (KL), sehingga tentara Belanda yang masih lelap tidur tersentak bangun. Kedua belah pihak sama-sama terkejut. Suasana menjadi kacau, apalagi langsung terjadi kontak senjata. Meraka sama-sama panik. Karena terdadak dan tidak siap sehingga tentara Belanda terus mendesak, akhirnya mengundurkan diri ke kota kecil Teminabuan.

Menjelang pagi hari keadaan alam semakin terang, PGT yang terlibat pertempuran mengundurkan diri lalu masuk ke hutan untuk bergabung dengan induk pasukan. Pada pagi harinya, Ditemukan jenasah PGT yang gugur, yaitu KU II Alex Sangido dan KU II Wangko, sedangkan KU Liud baru diketahui tertangkap Belanda.


Sesuai perintah operasi, bahwa untuk berkumpul dengan mencari teman-teman di tandai dengan cara meniup peluit sejauh tidak diketaui musuh. Hari berikutnya, tanggal 20 Mei 1962, baru dapat berkumpul sebanyak 40 orang. Diantara mereka terdapat LMU I Soehadi dan SMU Mengko.


Pesawat Fire Fly
Ternyata peristiwa penerjunan di Teminabuan telah menimbulkan pukulan psikologis bagi Belanda. Belanda segera mengirimkan 2 Kompi Marinir yang didukung dengan 2 kapal perangnya, pesawat terbang Neptune, dan pesawat terbang Fire Fly langsung mengadakan serangan balas dan pembersihan melalui darat dan udara di daerah Wersar, Teminabuan, yang telah di duduki PGT.

Pada tanggal 21 Mei 1962, 50 orang anggota PGT berhasil berkumpul di kampung Wersar. Setelah berkumpul, SMU Mengko mengeluarkan bendera Merah Putih dari ranselnya dan memerintahkan salah satu anggotanya menebang pohon yang tingginya 4 meter. Tepat pukul 10.00 WIT, setelah mengikatkan bendera pada tiang tersebut, dengan disaksikan oleh anak buahnya, SMU Mengko menancapkan bendera Merah Putih. Perisitwa ini tercatat dalam sejarah, Untuk pertama kalinya bendera Merah putih berkibar di dataratan Irian Barat. Merah Putih berkibar dengan megahnya di Teminabuan.

Setelah itu, mereka segera meninggalkan tempat tersebut agar tidak diketahui oleh musuh. Pada hari itu juga, mereka bertemu dengan seorang penduduk asli Irian Barat yang meminta agar pasukan jangan pergi dulu dari tempat itu, karena Ibunya akan datang memberi pisang goreng. LMU Soehadi menjadi curiga terhadap gerak-gerik dan ucapan orang tersebut. Kecurigaannya terbukti ketika baru saja akan pergi, tiba-tiba dikejutkan oleh tembakan-tembakan dari pesawat terbang Neptune dan Firefly Belanda. Mereka segera masuk hutan untuk berlindung dari pandangan musuh.


Sampai tanggal 26 Mei 1962, mereka terus mendapat serangan-serangan baik dari udara maupun dari darat, sehingga para anggota PGT tercerai berai dan masuk hutan dalam kelompok-kelompok kecil. Pertempuran-pertempuran terus terjadi dengan kekuatan yang sangat tidak seimbang, sehingga posisi PGT semakin terjepit. Akhirnya mereka banyak yang gugur termasuk LMU I Soehadi, sedangkan yang terluka dan yang masih hidup ditangkap tentara Belanda dan ditawan. Selama dalam tahanan, mereka diperlakukan dengan kejam dan dipindah-pindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya. Mereka dipindahkan mulai dari penjara Teminabuan ke penjara Sorong lalu ke Penjara Pulau Wundi. Dipenjara Pulau Wundi inilah mereka bertemu dengan tawanan lain dari pasukan Banteng Raider, RPKAD, Brimob dan Sukarelawan yang menyusup ke Irian Barat melalui laut dan tertangkap Belanda. Mereka juga bertemu dengan beberapa orang PGT lainnya yang tertangkap sebelumnya.

Selain di Teminabuan, PGT juga diterjunkan didaerah-daerah lain, yaitu di Fak- Fak, Kaimana, Sorong, Klamono, dan Merauke. PGT yang ditejunkan di Fak-fak sebanyak 44 orang, Sorong sebanyak 80 orang, Klamono sebanyak 159 orang, dan Merauke sebanyak 132 orang. Dengan demikian, jumlah keseluruhan PGT yang diterjunkan (termasuk di Teminabuan) yaitu 532 orang.

Seperti halnya di Teminabuan, penerjunan di beberapa daerah tersebut juga mengalami nasib yang sama yaitu menghadapi medan yang berat, perbekalan terbatas, dan tekanan-tekanan dari pihak Belanda yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Karena pertempuran-pertempuran yang terjadi kekuatannya sangat tidak seimbang, PGT akhirnya terdesak dan banyak yang gugur, termasuk LU I Manuhua di Klamono dan banyak juga yang tertangkap tentara Belanda dan ditawan.

Penerjunan PGT terus dilakukan sampai di Merauke. Penerjunan di Merauke dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 1962 sebanyak 132 orang dari Yon 2 dipimpin oleh Kapten Udara Radix Sudarsono. Mereka diangkut pesawat C-130 Hercules bertolak dari pangkalan Udara Laha, Ambon.

Setelah melakukan penerjunan, mereka terus terlibat dalam pertempuran-pertempuran dan terus mendapat serangan dari pesawat Neptune Belanda. Kapten Udara Radix Sudarsono beserta anggotanya yang masih hidup terus bergerak didaerah Klamono. Ternyata, setelah sampai di penampungan selama 1 minggu. Sedangkan, PGT dan pasukan dari satuan lain yang diterjunkan didaerah Sorong, saat itu masih banyak yang berada di hutan.


Kapten Udara Radix Sudarsono mendapat tugas dari PBB untuk ikut mencari anggota pasukan yang masih tersebar. Selain dari udara, diperkirakan ada pasukan yang menyusup dari jalur laut. Akhirnya dapat terkumpul satuan dari Kompi PG 300 dipimpin Peltu Nana, PG 400 dpimpin oleh Charles Papilaya, PG 500 dipimpin Komontoy dan pasukan Raider 700 Pattimura dpimpin Mayor Nussy.

Para gerilyawan yang berhasil dikumpulkan hingga tanggal 30 Agustus 1962 ditampung disebuah rumah pada KM 12 Klasaman, Sorong. Pada awalnya, penampungan ini mendapat kesulitan dari perwakilan PBB, karena pasukan PBB mendesak agar para gerilyawan Indonesia masuk hutan kembali. Ini karena baru tanggal 1 Oktober 1962 pasukan gerilya Indonesia termasuk PGT diizinkan masuk kota. Dalam perundingan akhirnya disetujui bahwa hanya 3 Perwira gerilya yang diiziinkan tinggal dikota. Sedangkan lainnya ditapung diluar kota tidak jauh dari penampungan tersebut.


peta pernejunan di Irian Barat
Peristiwa penerjunan - penerjunan pasukan PGT termasuk dalam rangkaian infiltrasi melalui udara yang dilakukan secara bertahap dan berlanjut dengan berbagai jenis operasi. Jenis-jenis operasi yang dilakukan yatiu : “Operasi Banten Ketaton” tanggal 25 April 1962 yang terdiri dari “Banteng Putih I dan II”, serta “Banteng Merah I dan II”, “Operasi Garuda” tanggal 15 sampai dengan 25 Mei 1962 yang terdiri dari “Garuda Merah I dan II” serta “Garuda Putih I dan II”, “Operasi Serigala” tanggal 17 dan 19 Mei 1962, “Operasi Kancil” tanggal 17 Mei 1962, “Operasi Lumbung” tanggal 30 Juni 1962 dan “Operasi Jatayu” tanggal 13 Agustus 1962 yang terdiri dari Operasi “Elang”, “Gagak”, dan “Alap-alap”.

PGT dengan 532 orang yang tergabung dalam operasi-operasi tersebut, mempunyai peran yang sangat besar. Mereka bagaikan tidak mengenal lelah terus bergerak walaupun menghadapi keadaan cuaca, medan dan musuh (Cumemu) yang berat. Perjuangan yang didasari rasa tanpa pamrih dan semangat tinggi telah mereka buktikan, meskipun pada akhirnya banyak yang tertangkap dan gugur. Selama melaksanakan operasi, PGT yang tertawan berjumlah 73 orang dan yang gugur sebanyak 94 orang. Mereka gugur sebagai pahlawan Trikora dan sebagai Bunga Bangsa di Bumi Pertiwi.


Selama operasi militer sedang berlangsung, perundingan - perundingan terus dilakukan antara pemerintah RI dan pihak Belanda dibawah naungan PBB. Melalui perjuangan yang sangat alot, akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1962 pukul 21.00 GMT dicapai suatu kesepakatan yang ditandai dengan penandatanganan persetujuan New York untuk menghentikan permusuhan antara kedua belah pihak.

Berdasarkan persetujuan New York, akhirnya semua prajurit APRI sebagai tawanan perang yang berada di penjara - penjara tentara Belanda dibebaskan dan dipulangkan ke Jakarta diangkut pesawat UNTEA. Sesampainya di Jakarta, prajurit PGT selanjutnya dikembalikan ke induk pasukan yaitu di Margahayu, Bandung.




Sumber :
  • Korpaskhas

Banjar Kadaton : Helm muter di terjang peluru

Logo Raider
Ⓑatalyon Infanteri 300 / Raider Banjar Kadaton (Yonif 300 / RBK) adalah cikal bakal satuan batalyon infanteri 327 / Brajawijaya (Yonif 327 / Bjw), salah satu "Pasukan Siliwangi" kebanggaan masyarakat Jawa Barat, yang sudah teruji dan terbukti pengabdiannya kepada bangsa dan negara Indonesia. 

Nama Brajawijaya memiliki hubungan yang erat dengan Banjar Kadaton karena keduanya merupakan nama salah satu pasukan perang semasa Kerajaan Pajajaran. Arti dari Banjar berarti daerah, Kadaton berarti Pusat Ibukota, dengan demikian  maknanya Suatu Batalyon yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap keutuhan Wilayah NKRI, Pemerkasa pembentukan Batalyon ini yaitu Jendral TNI Ryamizard Ryacudu (Mantan KASAD) yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 2003 bertepatan dengan peringatan Hari Juang Kartika tahun 2003. Peresmian dilakukan bersama di Jakarta dengan 9 Raider lainnya dari Seluruh Indonesia. 

Tidak berlangsung lama setelah resmi menjadi satuan raider, pada Januari 2004 Yonif 300 / RBK diberikan tugas untuk di BKO (Bawah Kendali Operasi) kan koops TNI dalam tugas operasi di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama 17 bulan.

Ketika mengetahui dirinya akan berangkat tugas operasi, Atif yang masa itu "baru lahir" sebagai tentara berpangkat Prajurit Dua (Prada) merasa senang dan bangga.

Belum seminggu berjalan di NAD, Prada Atif berserta rekan rekannya satu batalyon di perintahkan bergerak ke Gunung Salak. Namun selama dua bulan, tidak ada satu tim pun yang bertemu kelompok GAM. kemudian Tim Banteng yang beranggotakan 15 orang termasuk Prada Atif diperintahkan untuk mengamankan pemilu di kampung Ule Gajah, daerah Jeunib. Di informasikan kalo kampung Ule Gajah rawan GAM, tapi Prada Atif tidak gentar karena sudah bertekad sejak awal untuk dapat berhasil menjalankan tugas.

Yonif 300 / Raider
Untuk mengantisipasi situasi, tim Banteng melakukan patroli dan pengendapan secara bergantian. Saat itu tanggal 7 Mei 2004 menjelang petang dengan situasi remang remang, Prada Atif yang berada didepan sebagai pengintai melihat seseorang, yang dikiranya masyarakat biasa, " Saya lihat satu orang memegang botol air mineral berada di semak-semak. Saya pikir orang itu masyarakat setempat yang sedang berkebun, karena tempat itu masih berdekatan dengan kampung," kata Atif.

Ketika semakin mendekat, terlihat lebih jelas kalo orang itu berpakaian loreng militer TNI dengan pangkat Prada. Untuk menghindari salah tembak, sebagaimana prosedur di militer, maka Prada Atif memberikan sandi dan memberitahukan bahwa dia bersama rekan rekannya adalah anggota TNI dengan teriakan "pasukan kawan". Namun apa yang terjadi? Orang itu kaget dan berlari. Disusul dari semak - semak sekitarnya muncul beberapa orang yang kemudian lari kalang kabut.

Melihat mereka lari setelah mendengar "pasukan kawan", maka jelas mereka bukan anggota TNI, maka Prada Atif dan bersama rekan - rekannya spontan melancarkan tembakan kepada mereka. Setelah 10 menit dirasakan tidak ada tembakan balasan, berarti musuh sudah melarikan diri dan dilokasi itu tidak ada anggota GAM lagi.

Disitulah Atif baru menyadari bahwa orang yang dilihatnya adalah anggota GAM yang sedang tugas jaga malam, menjaga kawan kawannya yang sedang tidur. " Kalau orang itu lihat saya duluan, pasti saya dan rekan rekan akan dihajar tembakan dan kami habis," kenang Atif.

Yonif 300 / RBK
Dalam keadaan yang mulai gelap itu, seorang anggota tim berteriak mengatakan bahwa dia melihat ada satu tikar lagi sambil menunjuk kearah posisi Atif, maka dia menuju ke tempat itu untuk melihat dan mengambil barang bukti tersebut. "Saya kaget karena didekat saya ternyata ada orang yang hampir saja terinjak kaki saya, Lebih kaget lagi, ketika orang itu langsung mengeluarkan tembakan kearah saya," kata Atif.

Atif punya niat lain. Dia ingin menangkap orang itu hidup - hidup, sehingga dia tidak menembaknya. Padahal Helmnya sampai berputar terkena peluru tembakan tadi. "Helm saya sampai muter kena tembakan. Saat itu saya tidak tahu, apakah kena kepala saya atau tidak, karena saya tidak merasakan sakit," kenang Atif.

Atif lalu berusaha merebut senjatanya. namun setelah melihat anggota GAM itu akan menembak lagi dan merasa nyawanya terancam, maka tidak ada pilihan lain, Atif menembak kepala orang itu tiga kali dan anggota GAM itu pun tewas di tempat.

Setelah kejadian itu, Atif meraba helmya, "Ketika saya meraba helm yang saya pakai, saya jadi kaget karena helm saya bolong. Kemudian saya membukanya dan darah pun mengalir dari kepala saya," ujar Atif.

Rupanya peluru yang ditembakan musuh telah menyerempet batok kepala Atif. Dia kemudian melaporkan ke komandannya kalau dia tertembak. Kemudian Dantim Banteng memerintahkan personil kesehatan yang ada di tim untuk memberikan pertolongan pertama pada Atif. Lalu lewat Radio melaporkan kejadian itu ke komando atas. Atif pun lalu di evakuasi ke rumah sakit korem di Lhokseumawe. Setelah dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit, dia lalu dibawa kekantor perwakilan batalyon di Bireuen untuk di rawat jalan. Setelah jahitan di kepala dilepas, Atif bergabung kembali ke timnya.

Yonif 300 / RBK anti teror
Kini, Atif yang mendapat "kenang kenangan" berupa guratan bekas jahitan disebelah kanan kepalanya, telah kembali ke homebase satuannya di Sukabumi dengan menjalankan tugas sehari hari dengan menyandang pangkat Prajurit Satu (Pratu).


Kejadian kepala tertembak, tidak membuat Atif jera apalagi surut semangat. Dia malah menunggu nunggu kapan satuan di tempatnya bertugas. "Saya siap tugas, kapan saja dan dimana saja, Nyawa saya sudah menjadi milik negara," tegas Pratu Atif Nurlatif Pachrul Hayat, Tamtama Kompi Bantuan  (Ta Kiban) Yonif 300 / RBK, kelahiran Bandung 17 Maret 1983, mengakhiri ceritanya kepada Defender.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...