Senin, 13 Agustus 2012

KRI Dewaruci Sandar di Malta

http://www.tnial.mil.id/Portals/0/News/OPSLAT/0%20aaaaaaaabdewaruci%201111.jpgKRI Dewaruci yang dikomandani Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto, Sabtu (11/08/2012) pukul 10.00 waktu setempat, sandar di dermaga Malta, sejak meninggalkan Spanyol tujuh hari silam.

Turut menyambut sandarnya kapal layar milik TNI AL tersebut diantaranya Atase Pertahanan Perancis merangkap Italia, Kolonel Pnb Erwin Buana Hutama beserta staf lokal lainnya.

Kegiatan selama tiga hari ke depan akan diisi dengan kunjungan-kunjungan untuk menambah pengetahuan Anak Buah Kapal (ABK). Tak ketinggalan openship setiap hari akan dibuka dengan membagikan brosur pariwisata Wonderful Indonesia.

Pelayaran etape ke-17 (Spanyol-Malta) ini cukup memakan waktu dengan tujuh hari di laut menempuh jarak 1.060 Mil dan gelombak laut serta arus lumayan menggoyang dan mengocok perut ABK di dalamnya.

Dalam kondisi seperti itu para ABK yang beragama islam tetap menjalankan ibadah puasa layaknya di pendirat. Kegiatan yang dilaksanakan selama Bulan Ramadhan diisi dengan sholat berjamaah, termasuk shalat tarawih yang dilaksanakan di geladak H apabila geladak tidak basah terkena siraman air laut.

Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.
(TNI AL)

Helikopter Perkuat TNI di Kongo

Pasukan penjaga perdamaian Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas di Kongo, Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO, tahun ini direncanakan diperkuat dengan Satgas Helikopter. Sebelumnya, Satgas Helikopter untuk misi PBB di Kongo, Afrika diemban oleh pasukan dari India.

Mi-17 Hip TNIAD (Foto Roni Sontani)
Perwira Penerangan Konga XX-I/Monusco Lettu Cku Sulikan dalam siaran pers, Sabtu (11/8) mengatakan, terkait rencana penempatan Satgas Heli di Konga XX-I/MONUSCO tersebut, tim Recce Satgas Helly dari TNI telah melakukan pengecekan ke lokasi pada Jumat (10/8). Satgas Heli itu rencananya akan bergabung dengan Konga XX-I/MONUSCO atau juga dikenal Indonesian Engineering Company yang terlebih dahulu telah melaksanakan tugas di Kongo. Secara keseluruhan, Indonesia telah melaksanakan tugas di Kongo sembilan tahun dengan masa pergantian per tahun.

Setelah menerima paparan singkat dari Komandan Satgas Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho tentang situasi keamanan, kegiatan satgas, pekerjaan yang telah, akan dan sedang dikerjakan, Tim Recce Satgas Heli TNI melaksanakan diskusi dengan staf Air Ops Monusco yang berada di wilayah Dungu.

"Dilanjutkan meninjau lokasi penempatan Satgas Heli, mengelilingi Helipad, dan Airport Dungu sepanjang 2,5 kilometer," ujarnya.

Rombongan juga sempat meninjau seluruh camp diantaranya, gudang senjata dan amunisi, gudang sparepart, dan rumah genset. Tak luput dari pantauan adalah gudang makanan basah dan kering, penyimpanan obat, serta alat-alat berat Zeni.

Ketua tim Laksamana Pertama TNI Budihardja Raden mengatakan, jika tidak ada halangan dan disetujui oleh pimpinan, maka di akhir tahun ini Satgas Heli sudah bisa diberangkatkan untuk tugas ke Kongo, menggantikan satgas sebelumnya. "Akan menggantikan negara India yang ditarik pulang ke negaranya," ujarnya.

Budihardja yang menjabat sebagai perwakilan tetap Republik Indonesia di Dewan Keamanan PBB di New York itu berpesan agar alat-alat yang sudah cukup tua tidak menjadi hambatan bagi prajurit menunaikan tugasnya. Sebaliknya, itu tantangan yang harus mampu dihadapi dengan bekerja keras.
(Suara Karya)

Satu Flight F-16 Dan Sukhoi tiba di Halim

Su 30 MK2 (credit@M J. Barritt)

(Halim Perdanakusuma) Satu flight pesawat tempur TNI Angkatan Udara F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun dan satu Flight pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin, Makasar masing-masing yang dibawah kendali langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb Ali. Sudibyo dan Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb M. Untung Suropati mendarat di Lanud Halim Perdankusuma, Senin (13/8).

Kedatangan pesawat F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi di Lanud Halim Perdanakusuma tersebut dalam rangka akan ikut serta memeriahkan HUT Repubilk Indonesia ke-67 dengan melakukan Fly Pass di area udara Istana Negara.

http://tni-au.mil.id/sites/default/files/imagecache/body/2012-08/2012-08-13-hlm.jpg
Tampak pada gambar : Salah satu Pesawat Sukhoi mendarat dengan mulus di Landasan pacu Lanud Halim Perdanakusuma dalam rangka memeriahkan HUT Repubilk Indonesia ke-67 dengan melakukan Flay Pass di area udara Istana Negara.
(TNI AU)

Insiden penyerempetan kapal Indonesia dan Malaysia 2005

KRI Tedong Naga (819)

Pada Jumat (8 April 2005) pagi, Kapal Republik Indonesia Tedong Naga (Indonesia) menyerempet Kapal Diraja Rencong (Malaysia) sebanyak tiga kali di perairan Karang Unarang, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Aksi tersebut terpaksa dilakukan karena KD Rencong berkali-kali melakukan manuver yang membahayakan pembangunan mercusuar Karang Unarang.

 Pra-insiden

Insiden penyerempetan kedua kapal ini merupakan bagian dari pertikaian perbatasan di kawasan Ambalat yang kaya minyak dan gas. Petronas, perusahaan minyak Malaysia, secara sepihak memberikan konsensi kepada perusahaan minyak Shell di Blok Ambalat (Malaysia mengenalnya sebagai Blok XYZ).

Malaysia mengklaim wilayah Ambalat adalah miliknya, menurut peta yang diterbitkan pemerintah Malaysia tahun 1979. Peta tersebut memicu protes dari berbagai negara tetangganya, termasuk Indonesia.

Indonesia memprotes klaim sepihak itu dan memperketat keamanan di perairan Ambalat dengan menempatkan sejumlah kapal perang. Kemudian Indonesia juga merencanakan pembangunan mercusuar di Karang Unarang supaya lebih memperkuat kedaulatannya di sekitar perbatasan itu. Beberapa kali kapal perang Indonesia berhadapan dengan kapal perang Malaysia di perairan Karang Unarang. Puncak ketegangan adalah insiden penyerempetan ini.

 Detail insiden

Sebelumnya, KRI Tedong Naga sudah berkali-kali memperingatkan KD Rencong agar segera meninggalkan wilayah perairan Karang Unarang. Namun, peringatan tersebut tidak dihiraukan kerana KD Rencong menganggap pembinaan di mercusuar adalah merusak kedaulatan Malaysia. Bahkan, KD Rencong melakukan manuver-manuver yang membahayakan pembangunan mercusuar. Misalnya, kapal tersebut melaju cepat sehingga menimbulkan gelombang tinggi di sekitar lokasi pembangunan mercusuar. Akhirnya, KRI Tedong Naga mendekati KD Rencong untuk mengusir keluar dari wilayah perairan yang dipertikaikan.

Dalam upaya tersebut terjadi tiga kali serempetan yang menyebabkan lambung sebelah kanan kapal Malaysia yang umurnya sudah tua dan berkarat di beberapa bagian itu rusak. Sedangkan KRI Tedong Naga hanya tergores catnya di bagian lambung sebelah kiri. KD Rencong kemudian bergerak menuju pangkalannya di Tawau, Malaysia.

 Pasca-insiden

Sehari setelah insiden, tak terlihat lagi kapal perang Malaysia yang memasuki kawasan perairan yang dipersengketakan itu.

Sedangkan pada hari Minggu, dua hari setelah insiden, hanya terlihat sebuah kapal patroli polisi Malaysia yang berlayar normal sekitar 3 mil dari perairan Karang Unarang. KRI Tedong Naga yang pada pagi hari kembali mulai melakukan patroli bersama KRI Hiu tidak mengalami gangguan dari kapal-kapal Malaysia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyWR3ARA2oXPDmJsjVgsNMJCcXbZappXatboNp5R9zgC-Az0vATgtDlaZd_UTMAdFLPUpgK6zr4thNWrj_iS2fFWN0YnoukP0oL4x7FwPxWwKu8Ucr4mdcBm86cyBmLI9qgaWyLEQJXg0w/s1600/804+KRI+Hiu.jpg
KRI HIU (804)

 Tanggapan dari pihak Indonesia

Menurut Kepala Staf Gugus Tempur Laut Armatim Kolonel Laut Marsetio, tindakan Komandan KRI Tedong Naga memutuskan untuk menghalau KD Rencong adalah benar, karena kapal itu sudah memasuki 9,5 mil laut dari Pulau Batik, yang termasuk wilayah yang dipertikaikan.

Pihak Indonesia mengklaim bahwa tindakan itu dibenarkan juga berdasarkan UNCLS (United Nations Convention on the Law of the Sea) tahun 1982 yang menyatakan bahwa suatu negara berwenang untuk mengusir suatu kekuatan asing apabila ia mulai mengganggu kedaulatan suatu negara.

Pada 12 April, pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri telah mengirimkan nota protes resmi kepada Malaysia atas peristiwa penyerempetan kedua kapal.


 Tanggapan dari pihak Malaysia

Sedangkan Angkatan Laut Malaysia membantah bahwa salah satu kapal perangnya bertabrakan dengan kapal perang Indonesia di perairan sekitar Karang Unarang. Menurut Kepala AL Malaysia, kedua kapal itu hanya bersentuhan satu sama lain serta tidak ada seorang pun yang terluka dan tidak ada kerusakan pada kapal tersebut.

Pada 13 April, Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi menyatakan pemerintahnya tidak akan menarik mundur kapal perangnya dari perairan Ambalat. Menurut Badawi, Malaysia mempunyai alasan yang kuat untuk mempertahankan kedaulatan di Ambalat yang dianggapnya sebagai wilayah Malaysia.

Malaysia tidak pernah mengakui klaim Indonesia terhadap kawasan tersebut, dengan itu Malaysia menganggap bahwa UNCLS tidak boleh diterapkan dalam kejadian ini.

 Artikel di KOMPAS

Berkaitan dengan itu pula surat kabar KOMPAS mengeluarkan berita bahwa Menteri Pertahanan Malaysia telah memohon maaf berkaitan perkara tersebut. Berita tersebut segera disanggah oleh Menteri Pertahanan Malaysia yang menyatakan bahwa kawasan tersebut adalah dalam kawasan yang dituntut oleh Malaysia, dengan itu Malaysia tidak mempunyai sebab untuk memohon maaf kerana berada dalam perairan sendiri. Sejajar dengan itu, Malaysia menimbang untuk mengambil tindakan undang-undang terhadap surat kabar KOMPAS yang dianggap menyiarkan informasi yang tidak benar dengan sengaja.

Pemimpin Redaksi Kompas, Suryopratomo kemudian membuat permohonan maaf dalam sebuah berita yang dilaporkan di halaman depan harian tersebut pada 4 Mei 2005, di bawah judul Kompas dan Deputi Perdana Menteri Malaysia Sepakat Berdamai.

 Tindakan lanjut

Kedua pihak setuju untuk merundingkan perkara tersebut dan menimbang untuk melaksanakan patroli bersama di kawasan yang dipersengketakan. Terdapat juga kemungkinan perkara tersebut akan dibahas di pengadilan internasional. Bagaimanapun juga masih belum ada keputusan mutlak yang diambil hingga kini.
(Wikipedia)

Minggu, 12 Agustus 2012

Tujuh Prajurit TNI Dikirim ke Misi PBB

 Dalam rangka survei lokasi untuk penempatan Satgas Helly

Tim Recce Satgas Helly TNI yang berjumlah tujuh orang tiba di Republik Demokratik Kongo untuk mengemban misi Persatuan Bangsa-bangsa, Sabtu (11/8)

Tim  tersebut diterima oleh Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO (Mission de  I'Organisation de republic des Nation Unies Pour la Stabilisation en  Republique Democratique du Congo) atau Indonesian Engineering Company (Indo Eng Coy).

Tim yang berjumlah 7 (tujuh) orang tersebut disambut oleh Komandan Satgas Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho, Wadan Satgas Mayor Czi Ary Syahrial beserta seluruh Perwira Staf di Bumi Nusantara Camp Dungu Kongo

Kedatangan Tim Recce Satgas Helly TNI ke Kongo dalam rangka survei lokasi untuk penempatan Satgas  Helly, yang rencananya akan melaksanakan tugas di misi MONUSCO untuk bergabung dengan Kontingen Garuda Indonesia Engineering Company yang  terlebih dahulu telah melaksanakan tugas di Kongo.

Mulai dari Garuda XX-A tahun 2003 sampai saat ini Garuda XX-I MONUSCO tahun 2012, yang telah melaksanakan tugas selama 9 tahun secara bergiliran setiap  satu tahun sekali untuk melaksanakan misi PBB di Afrika.

Tim Recce Satgas Helly TNI di ketuai oleh Laksamana Pertama TNI Budihardja Raden (Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Dewan Keamanan PBB, New  York), didampingi Kolonel Pnb Hadi Tjahjanto (Paban 1 Renops Sops TNI), Kolonel Inf Suryo (Dirbinrenops PMPP TNI), Mayor Cpn Puput Wikarna  (Penerbad), Kolonel Cpm Victor (Athan RI untuk Afrika Selatan), Letkol  Chaturdevi (Air Operation Western Monusco dari Angkatan Udara India), dan Gautam Mukhophadya (Head of Engineering Section) dari India.

Setelah menerima paparan singkat dari Komandan Satgas tentang situasi keamanan, kegiatan satgas, pekerjaan yang telah, akan dan sedang dikerjakan, Tim Recce Satgas Helly TNI melaksanakan diskusi dengan staf Air Ops Monusco yang berada di wilayah Dungu dilanjutkan meninjau lokasi penempatan Satgas Helly, mengelilingi Hellypad, dan Airport Dungu sepanjang 2,5 km, dilanjutkan meninjau seluruh Camp diantaranya rumah Genset, gudang  senjata dan amunisi, gudang sparepart, gudang makanan basah dan kering, penyimpanan obat, serta melihat secara langsung alat-alat berat Zeni.

Dalam pengarahannya kepada personel Konga XX-I, Laksamana Pertama TNI Budihardja Raden menyampaikan terimakasih atas segala perjuangan dan kerja keras prajurit garuda, rela jauh dari keluarga demi mengemban amanah negara dan panji Merah Putih.

“Perjalanan masih panjang, tetap semangat, pegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan delapan Wajib TNI serta tetap jaga hubungan komunikasi dengan keluarga yang berada di Indonesia," ujarnya.

Budiharja juga meningatkan para prajurit tentang alat-alat yang sudah cukup tua yang bisa menjadi hambatan.

Menurutnya kendala tersebut harus dijadikan tantangan yang harus mampu dihadapi dengan bekerja keras, karena Indonesian Engineering Company mendapatkan tempat yang tinggi di PBB bukan hanya di dalam MONUSCO, sekaligus menjadi contoh dari seluruh Kontingen Kompi Zeni yang berada di bawah MONUSCO

Laksamana Pertama TNI Budihardja Raden juga menyampaikan bahwa, kalau tidak ada halangan dan di setujui oleh pimpinan, di akhir tahun ini Satgas Helly sudah bisa diberangkatkan  tugas ke Kongo dan akan menggantikan negara India yang di tarik pulang ke negaranya, yang sebelumnya melaksanakan tugas di misi Monusco Kongo Afrika.
(Berita Satu)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...