Minggu, 16 Desember 2012

UNIFIL Periksa Peralatan Operasional Konga

banon-subLebanon - Tm COE (Contingent Owned Equipment) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menggelar pemeriksaan kesiapan peralatan operasional terhadap materiil, perlengkapan, persenjataan dan kendaraan Satgas Indo FPC (Force Protection Company) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVI-E2/UNIFIL. di Sudirman Camp, Naqoura, Lebanon, Sabtu (15/12/2012).

Kedatangan 10 personel Tim COE UNIFIL yang dipimpin Mr. Sergiy Mazarov dari Rusia, diterima oleh Dansatgas Indo FPC TNI Konga XXVI-E2/UNIFIL, Mayor Inf Yuri Elias Mamahi didampingi Perwira Seksi Logistik Lettu Inf Ramdani selaku koordinator dalam kegiatan pemeriksaan ini beserta seluruh Perwira Staf yang membidangi masing-masing materi.

Obyek pemeriksaan terdiri dari Major Equipment dan Self Sustainment. Untuk Major Equipment antara lain meliputi kendaraan tempur, kendaraan pendukung, senjata, dan peralatan kesehatan. Sedangkan Self Sustainment antara lain pelayanan catering (food), komunikasi, perlengkapan kantor, dan kebersihan compound.


Tim COE UNFIIL berasal dari kalangan sipil dan militer mempunyai latar belakang spesialisasi sesuai bidang masing-masing, pemeriksaan ini dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali, untuk memastikan pemberian reimbursment benar-benar sesuai dengan kemampuan operasional Major Equipment dan Self Sustainment satuan yang ada.

Hasil penilaian yang disampaikan oleh Mr. Sergiy Mazarov pada saat briefing akhir, usai pelaksanaan pengecekan Operational Readiness Inspection (ORI) langsung di lapangan bahwa Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-E2/UNIFIL secara umum dinyatakan lolos dalam pelaksanaan pemeriksaan tersebut.

UNIFIL sebagai perwakilan PBB di wilayah Lebanon menuntut seluruh satuan yang dikirimkan oleh Negara-negara pengirim atau Troops Contributing Country (TCC) memiliki kesiapan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan, baik kesiapan personel, materiil maupun perlengkapannya.

Sementara itu, Dansatgas Konga XXVI-E2/UNIFIL Mayor Inf Yuri Elias Mamahi menekankan kepada seluruh personelnya untuk senantiasa menjaga dan merawat perlengkapan yang sudah diberikan oleh negara.


Wadansatgas FPC Konga XXVI-E2/UNIFIL
Kapten Inf Fardin Wardhana


● Poskota

TNI AD Lanjutkan Modernisasi Alutsista

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQz9YY8IR4kZriFx0veaXqfrMqxZLEBOLy4DxUdFtzFhu2X19h_PNUYLqibRodnnpxyga66M6q_xhkcJfx8fqDk8f-Acf7p7P3ClwUGSvVPTfhfwG5ZUwAFkLZeVFk42pdBVYVzbbm6Ng/s1600/1.jpgKEPALA Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan TNI Angkatan Darat akan terus melanjutkan modernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) guna mewujudkan TNI AD yang profesional. Karena itu, Satuan TNI Angkatan Darat akan dilengkapi dengan Alutsista yang modern dan tercanggih di kelasnya, seperti MBT Leopard, Marder, Meriam 155 Caesar, MLRS Astros II, Rudal Mistral, Helikopter Black Hawk serta persenjataan lainnya.

Demikian amanat tertulis KSAD yang dibacakan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Letjen TNI Budiman saat menjadi Inspektur Upacara Hari Juang Kartika Ke-67, Sabtu (15/12) di Lapangan Upacara Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta. Hari Juang Kartika diperingati sejak 15 Desember 1945 hingga saat ini, 15 Desember 2012.

Menurut Pramono Edhie, sejalan dengan dinamika perubahan situasi pada lingkup nasional, regional, maupun global serta tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, tugas Angkatan Darat ke depan akan semakin berat dan kompleks. Tantangan tugas ini menuntut kesiapan operasional satuan, profesionalitas dan soliditas satuan yang tinggi serta dukungan seluruh komponen bangsa.

Seluruh prajurit TNI Angkatan Darat harus menjadi prajurit yang terlatih, tangguh dan handal. Karenanya, KSAD meminta para komandan satuan untuk menyelenggarakan latihan di satuannya dengan profesional dan terukur sesuai dengan prinsip-prinsip latihan yang kita pedomani.

Dia mengingatkan untuk mewujudkan profesionalisme keprajuritan tidak cukup hanya dilakukan dengan modernisasi Alutsista, tetapi yang lebih penting adalah menyiapkan sumber daya prajuritnya. Karena secanggih dan semodern apapun Alutsista yang kita miliki, tanpa didukung profesionalitas dan semangat juang, maka tidak akan memberikan hasil yang optimal.

“Selain itu, profesionalisme keprajuritan yang kita bangun, bukan untuk menciptakan prajurit seperti robot, melainkan profesionalisme yang berbasis kepada jati dirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, dan tentara nasional,” katanya melalui siaran pers Kasubdis Penum Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Dispenad), Kolonel Inf Zaenal M.

Usai upacara, Wakasad menyerahkan piala dan plakat kepada para pemenang lomba kebersihan antar satuan di lingkungan Mabesad. Juara I diraih oleh Staf Pengamanan, Juara II oleh Staf Personel dan Juara III diraih oleh Staf Perencanaan dan Anggaran.


● Jurnas

☆ Sultan Hasanuddin

 Ayam Jantan Dari Timur

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. dia diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655).

Sementara itu belanda memberinya gelar de Haav van de Oesten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihannya dan keberaniannya dalam melawan Kolonial belanda. Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.

Reruntuhan benteng Somba Opu Makassar
Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660. Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan perdamaian. Akan tetapi, perjanjian dama tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Lalu Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Aru palaka, penguasa Kerajaan Bone juga ikut menyerang Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Makam Sultan Hasanuddin

Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda.

Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973.


Referensi : 
- http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hasanuddin
- http://id.shvoong.com/humanities/history/2147854-biografi-sultan-hasanuddin/


© Kolom Biografi

Military (also) Needs Logistical Innovations

Opinion

Indonesia’s recent defense guidelines have comprehensively outlined the government’s military modernization programs. Although those documents have specified a broad range of arms acquisition plans up to 2024, they still lack a clear vision on the development of a robust logistics support system and capabilities.

Logistics is the “life blood” of military affairs. It covers issues related to the supply, movement and maintenance of the armed forces.

In general practice, distribution of logistical resources involves “wholesale” and “retail” operations. They respectively refer to the delivery or stockpile of huge amounts of war materials to forward logistics bases, and the distribution of specific supplies to tactical units that need them.

Logistical supplies are critical for the operational readiness and sustainability of weapon systems on the battlefield. Without ammunition, fuel and spare parts, the battle tanks, artillery pieces, fighter aircraft and warships are just “paper tigers”.

Prominent military thinkers throughout history, including Jomini and Mahan have noted a close relationship between combat elements and logistical support. Hence, they underlined the gravity of interior “lines of operation” or “lines of communication”, which help to shape the course and outcome of warfare.

Logistical means available serve to connect numerous operational factors, including technology, the type of forces involved, weather and the geographical landscape. Their effective combination makes a range of military maneuvers possible, thereby allowing the commanders to exploit them to win a war or battle.

In that sense, the process of arms modernization should go hand in hand with innovations in military logistical affairs. As military planners seek to develop new war-fighting concepts with newly procured weapons, they ultimately have to upgrade the capabilities and proficiency of combat support units to deliver logistical supplies.

There are five key issues which military planners must take notice of to develop the Indonesian Military’s (TNI) logistics support system and capabilities.

First, logistics need to derive from war-fighting concepts. Different styles of warfare entail different logistical arrangement and capabilities.

For decades, the TNI’s leadership has established a logistical network to anticipate protracted guerilla warfare against a superior enemy. This network rests on overt and covert institutions to maintain political conformity and mobilize resources in wartime.

Nowadays, a highly dynamic threat environment has placed new demands for rapid force deployment to key flash points. Meanwhile, the vast maritime domain and diverse landscape of the Indonesian archipelago make such military maneuvers difficult. These operational requirements are logistical in nature. Hence, the TNI leadership should gradually transform its current logistics establishment, with its emphasis on strategic and tactical mobility, to allow force projection throughout the archipelago.

Second, the solution to logistical problems lies in developing a flexibility to deploy combat elements and supplies in an effective manner. Given the operational challenges of future military maneuvers, military logisticians must optimize the technological developments of transportation a means in terms of speed, distance and tonnage.

Typical barriers to sea lift are undeveloped seaports and natural obstacles, such as soft sandy beaches, marshes, swampland and loose surfaces. Modern amphibious vessels, including air cushioned and roll-on/roll-off catamaran landing crafts offer greater speed, payload and accessibility to most of Indonesia’s coastlines and ports. The acquisition of these technologies would enhance the TNI’s amphibious assault capabilities and inter-island mobility to transfer troops, heavy armor and supplies.

An increased demand for rapid force deployment means the growing role of airlift capabilities. Recent aviation advances have increased the cargo capacity, operational range and versatility of aerial transportation to support airborne operations. Under specific terrain, weather and threat conditions, the potential distance and payload requirements suggest that short take-off and landing aircraft appear more appropriate to resupply ground forces than rotary-wing and tilt-rotor aircraft.

Third, diversifying supply networks is a crucial measure to avoid major logistic breakdowns. Multiple accesses to logistical resources would minimize the chances of the enemy completely disrupting material supplies to friendly forces.

Airbases and naval bases are among the critical logistic assets to sustain military forces in a theater of war. While devoting some defensive measures to protect these assets from enemy raids, TNI’s logisticians must prepare complimentary means or alternative facilities to maintain the healthy flow of supplies to fighting units. These include the development of mobile offshore base and dual-function national infrastructures, such as commercial freighters, railways and highways.

Fourth, the actual logistics requirements of military operations are likely to exceed peacetime planning and estimates, not less. Given the sustainability of their unit is at stake, field commanders have every reason to be wary of having logistics shortfalls in wartime.

Indonesia’s “minimum essential force” (MEF) is still an under-developed concept for military logistics planning. Amid the absence of actual military threats and financial constraints, the developers of “tables of organization and equipment” may unwittingly overlook some critical aspects of logistics that appear only in real-time operation. Hence, the biggest challenge for military logisticians is to delve deep into the logistical details of the MEF capabilities based on future war-fighting concepts.

Fifth, logistics success is a matter of preparation and training. Because the substitutes nothing real knowledge of combat situations, military logisticians must rehearse their detailed logistics plans under realistic conditions. Proper exercise would minimize poor logistics performance that ultimately causes the armed forces to run unacceptable risks in wartime.

Looking at its routine exercises, the TNI tends to involve only battalion-size units, or occasionally brigades, to maneuver at one time. Such exercise suffers some logistical drawbacks. While ammunition and fuel are used on a lesser scale, the units involved are only required to evacuate minor casualties and repair a small number of wrecked armored fighting vehicles. This means not only are retail supply operations are severely tested, but also the proficiency of combat service support is poorly measured.

Moreover, the nature of Indonesian archipelago demands a joint operation among the armed services. As each military branch and units raises different problems and offers various opportunities, the effectiveness of logistical supports becomes critical to execute and sustain such operation. To understand the implications of their respective advantages or disadvantages, military logisticians must closely examine the way that they work together under specific operational conditions.

Having said all that, for the armed forces to gain a full advantage of war-fighting capabilities, they must invent innovative ways to wed their logistical assets with the operational requirements of their military strategy and order of battle.

Iis Gindarsah,
The writer is a researcher at the Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta.


Tri Buana Cakti XVIII: Terjun dari Ketinggian 1.200 Kaki, Lumpuhkan 60 Musuh dalam Lima Menit

Sebanyak dua kompi (setara 300 personel) pasukan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) diterbangkan dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta menuju Kalimantan Timur, Sabtu (1/12) lalu. Mereka bertolak dalam misi memberantas pemberontak negara yang ada di Benua Etam. Dua kompi Para Komando (Parako) ini berangkat dengan menggunakan tiga pesawat Hercules C-103 Long Body pada pukul 16.00 Wita.

Kopassus Sergap Pemberontak di Bukit Bangkirai

SEKITAR pukul 19.00 Wita, tiga pesawat Hercules tersebut sampai di langit Kalimantan Timur, tepatnya di Semoi II Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara. Dari atas ketinggian 1.200 feet, para pasukan elite TNI ini melakukan penerjunan malam hari di titik yang telah ditentukan. Setibanya di darat mereka segera mencari lokasi markas pemberontak yang berada di kawasan Bukit Bangkirai, Km 38 Samboja, Kutai Kartanegara.

Selama satu malam, pasukan bergerak dalam hutan dengan persenjataan lengkap. Sekitar pukul 04.30 Wita, Senin (3/12), mereka akhirnya menemukan sasaran yang dituju. Pasukan Kopassus segera melakukan penyergapan lokasi persembunyian pemberontak dari beberapa arah.

Baku tembak antara pasukan Kopassus dengan para pemberontak pun tak terelakkan. Dengan kesigapan dan strategi yang mantap para pemberontak berhasil dilumpuhkan dalam waktu lima menit. Sebanyak 60 pemberontak tewas dalam operasi ini.

Skenario di atas merupakan bagian latihan puncak yang rutin digelar tiap akhir tahun oleh Kopassus dengan nama kegiatan Gladi Lapangan Tri Buana Cakti XVIII. Latihan ini identik dengan melakukan penerjunan pada malam hari untuk kemudian melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap para pemberontak.

Tahun sebelumnya Gladi Lapangan Tri Buana Cakti XVII digelar di Kalimantan Barat. Sedangkan tahun ini latihan akan digelar sampai 23 Desember dengan mengambil sejumlah lokasi di Kalimantan Timur, termasuk Balikpapan.

Komandan Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo mengungkapkan latihan ini merupakan kali pertama yang digelar di Kalimantan Timur. “Harapan kami latihan ini dapat meningkatkan kemampuan dan kualitas para prajurit Kopassus dalam segala situasi pertempuran di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Terpisah, Deputi Strategi Mayor Inf Suwondo menambahkan bahwa latihan juga bertujuan meningkatkan naluri dan kemampuan serta profesionalisme bertempur anggota Kopassus.

“Latihan akan berlangsung sampai tiga minggu ke depan, dan pada penutupan nanti rencananya dihadiri Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo,” pungkasnya.
(*/hul/tom/k2)

● Kaltimpost
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...