Senin, 18 April 2016

[Dunia] Iran Pamerkan Senjata Canggih S-300 Buatan Rusia

Farsnews ○

Iran mulai memamerkan sistem rudal canggih S-300 di Teheran pada Minggu, 17 April 2016. Senjata terbaru Iran buatan Rusia itu akhirnya dapat juga diperlihatkan kepada masyarakat Iran setelah beberapa lama tertunda.

Iringan sistem rudal S-300 buatan Rusia menandai mulainya perayaan hari militer tahunan Iran.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sambutannya menyatakan bahwa persenjataan militer yang ditampilkan pada acara tersebut membuktikan bahwa Iran memiliki kekuatan militer yang tangguh dan melebihi negara lain.

"Mereka yang mengatakan Teheran tidak perlu hard power adalah naif, dan orang yang mengatakan kita tidak perlu soft power juga memiliki pandangan yang sempit," ujar Hassan Rouhani, sebagaimana dikutip dari INN, Minggu (17/4/2016).

Penjualan sistem pertahanan udara S-300 awalnya dilakukan pada tahun 2007. Tapi, kesepakatan ini berulang kali tertunda akibat tekanan dari negara-negara Barat. (FIK)

  ★ okezone  

[Dunia] Tak Merugi, Operasi Militer Suriah Penuhi Pundi-pundi Rusia

Rusia menghabiskan 464 juta dolar AS dalam operasi udaranya di Suriah. Namun demikian, Rusia bisa mendapat keuntungan finansial yang lebih besar. Potensi kontrak ekspor senjata yang dilibatkan dalam pertempuran di Suriah dapat mencapai enam hingga tujuh miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang. Helikopter Mi-28N. [Kommersant] ☆

Lima setengah bulan Angkatan Udara Rusia melakukan operasi militer di Suriah, dan Negeri Beruang Merah tersebut menggelontorkan biaya sebesar 33 miliar rubel (464 juta dolar AS), demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun, angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima. Beberapa narasumber militer menyampaikan pada Dengi bahwa sejak dimulainya kampanye di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri pertahanan Rusia, terutama pesawat.

“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur seorang narasumber Dengi yang dekat dengan lembaga tersebut.

 Kontrak dengan Aljazair

Pada Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah berlangsung selama delapan tahun. Kesuksesan performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam negosiasi. Menurut narasumber Dengi, militer Aljazair harus merogoh kocek setidaknya 500 – 600 juta dolar AS untuk membeli skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai. Kontrak penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850 – 900 juta dolar AS.

Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40 helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap dikirim. Dalam kasus ini, peran operasi Suriah tak terlalu signifikan karena Irak sudah membeli pesawat ini untuk memerangi ISIS. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600 – 700 juta dolar AS.

 Apa yang Menarik Perhatian Asia Tenggara dan Timur Tengah?

Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian Indonesia, Vietnam, dan Pakistan. Ketiga negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang didiskusikan. Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian tersebut.

Sementara untuk Pakistan, situasinya lebih rumit: selain buruknya situasi ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik berkaitan dengan India. Narasumber Dengi menyebutkan, bahkan dalam skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS.

Militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator. Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok 46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017. Diperkirakan demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.

 Contoh Nyata

Contoh lainnya ialah T-90, yang — selama pertempuran di Suriah — bertabrakan dengan sistem misil anti-tank buatan AS, TOW. Insiden tersebut terekam kamera.

Contoh ini akan digunakan dalam negosiasi dengan klien, demikian disampaikan seorang manajer senior di perusahaan industri pertahanan. Daftar klien tersebut antara lain Irak, Iran, dan negara-negara Teluk lain, serta anggota Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS).

Penggunaan sistem pertahanan udara S-400 di Suriah telah meningkatkan ketertarikan Arab Saudi terhadap senjata ini dan memicu pembicaraan yang lebih aktif dengan India. Kontrak tersebut bisa mencapai dua hingga tiga miliar dolar AS, tergantung jumlah sistem misil.

Wakil Kepala Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Konstantin Makienko menyinggung peningkatan ketertarikan terhadap senjata Rusia, tapi saat ini belum terefleksi dalam kontrak nyata. Kontrak harus segera dinegosiasikan karena perlu ada siklus produksi, sehingga kalkulasi akhir baru bisa dilakukan setidaknya dua hingga empat tahun, terangnya.
 

  ☠ RBTH  

Minggu, 17 April 2016

MNEK ditutup dengan penghormatan pada KRI Makassar-590

Kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 ditutupKapal perang berbagai negara peserta Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 melakukan sailing pass melintasi KRI Makassar-590 di Perairan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Sabtu (16/4/2016). Kegiatan sailing pass itu menandai ditutupnya rangkaian Komodo 2016. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) ☆

Latihan militer bersama dalam kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 ditutup dengan penghormatan (Sailing Pass) oleh seluruh kapal perang peserta kepada KRI Makassar-590 di laut perairan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Sabtu.

Sementara upacara penghormatan diselenggarakan di darat yaitu di Kepulauan Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksda TNI INGN Ary Atmaja di Padang, Sabtu, mengatakan, setelah melakukan penghormatan tersebut kapal perang asing langsung bertolak menuju ke negara masing-masing.

"Sejumlah kapal perang Indonesia ada yang merapat terlebih dahulu di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang. Salah satunya adalah KRI Makassar yang merupakan kapal markas dalam kegiatan MNEK," jelasnya.

KRI Makassar-590 bersandar di Pelabuhan Teluk Bayur pada Sabtu sekitar pukul 22.00 WIB. Kapal itu rencananya bertolak menuju Surabaya pada Minggu (17/4).

Ia mengatakan, beberapa kendala yang ditemukan dalam kegiatan itu yaitu membagi waktu saat ada kegiatan rapat dan kegiatan yang bersifat protokoler, dan lainnya dilakukan dalam waktu bersamaan.

"Namun itu mampu kita atasi," kata Ary Atmaja didampingi Komandan Gugus Tempur Laut Koarmabar Laksma TNI Choky Hutabarat.

Ia juga mengapresiasi dukungan positif dari masyarakat Kota Padang dan Mentawai yang menjadi pusat MNEK 2016.

"Kami sangat mengapresiasi dukungan masyarakat, sehingga tidak ada hambatan dan kegiatan berlangsung dengan baik," katanya.

Ary Atmaja mengatakan, kegiatan MNEK itu rencananya dilaksanakan kembali pada 2018.

Sebelumnya dalam rangkaian kegiatan MNEK itu dilaksanakan sejumlah kegiatan bersama kapal perang RI dengan kapal perang asing dalam bidang perdamaian dan kemanusiaan.

Beberapa di antaranya adalah simulasi penyelamatan (SAR) dan simulasi pemeriksaan kapal asing di laut.
 

[​IMG]

  ☠ antara  

TNI Kerahkan Kapal Perang ke Perbatasan Filipina

KRI Slamet Riyadi-352 ☆

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan TNI mengerahkan dua kapal perang ke perbatasan Filipina menanggapi aksi penyanderaan terhadap WNI yang diduga kembali dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf.

"Saya sudah siapkan pasukan di darat, laut dan udara untuk mengambil tindakan di perbatasan Filipina," kata Panglima TNI saat menghadiri peringatan HUT ke 64 Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu.

Ia mengaku telah mendapat informasi bahwa pada Jumat (15/4) sekitar pukul 18.20 WIB di perairan perbatasan antara Malaysia dengan Filipina telah terjadi penyanderaan terhadap WNI.

"Satu orang ditembak di bawah ketiak, kemudian empat orang disandera. Dan enam orang selamat sekarang ada di Sabah. Yang tertembak dalam kondisi selamat di Malaysia. Terindikasi adalah kelompok Abu Sayaf tapi masih dalam penyelidikan," katanya.

Ia mengatakan, sejak Jumat malam (15/4) TNI sudah mengerahkan dua kapal perang yakni, KRI Badau-841 dan KRI Slamet Riyadi-352 ke daerah perbatasan untuk melakukan penjagaan di perairan tersebut.

"Saya tegaskan TNI sudah menyiapkan pasukan untuk melakukan tindakan tegas, saya ulangi TNI sudah menyiapkan pasukan untuk melaksanakan tindakan tegas baik di laut, darat dan hutan saya siap. Kapan pelaksanaan adalah bagaimana koordinasi dengan pemerintah Filipina," tegasnya.

Jenderal bintang empat ini menyebutkan, pihaknya akan melaksanakan koordinasi dengan Panglima Angkatan Bersenjata Filipina dan Malaysia untuk bersama-sama melakukan patroli bersama terkoordinasi.

"Patroli bersama terkoordinasi itu maksudnya, kami mengawal sampai batas perbatasan terluar Zona Ekonomi Esklusif (ZEE), setelah itu di wilayah Filipina ya Filipina dan di wilayah Malaysia ya wewenang Malaysia," ujarnya.

Namun apabila terjadi sesuatu di wilayah negara Malaysia ataupun Filipina, kata Gatot, maka siapa pun militer yang mampu hadir dengan cepat diperbolehkan melakukan penanganan.

"Ini langkah-langkah yang segera dilakukan. Itulah perjanjian yang kita buat nantinya, salah satu klausulnya seperti itu (bisa masuk ke wilayah negara tempat terjadinya gangguan)," kata mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini.

Panglima TNI pun optimistis bila nota kesepahaman patroli terkoordinasi itu ditandatangani, maka perairan perbatasan ketiga negara menjadi aman.

"Saya akan melaksanakan koordinasi dengan Malaysia dan Filipina karena wilayah itu berbatasan dengan ketiga negara. Saat ini Filipina operasi besar-besaran di Kepulauan Zulu. Kita tunggu saja," ujarnya.

Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan mengakui telah terjadi penyanderaan kembali terhadap empat WNI. Saat ini pemerintah Indonesia tengah mencermati langkah apa yang harus dilakukan.

"Kita akan evaluasi dari waktu ke waktu sekarang krisis center sudah berjalan di bawah Polhukam dan kita memantau semua kegiatan itu. Kita lihat apakah politik atau tebusan-tebusan," jelasnya.

Dalam pembicaraannya dengan Panglima TNI, kata Luhut, tidak tertutup kemungkinan dibangun kerja sama antara TNI dengan tentara Filipina dan Malaysia untuk melakukan patroli di perairan tersebut guna menghadapi masalah perompakan.

"Untuk penyanderaan pertama, kita masih negosiasi oleh pengusaha. Kita biarkan saja pengusaha dulu, kita monitor dengan baik, kita tunggu Senin (18/4), tapi saya sampaikan negosiasi ini tidak bisa dilakukan dengan cepat," ucapnya.
 

  ☠ Berita Satu  

Bea Cukai Perkuat Armada Laut

Menambah 9 kapal patroli ukuran 28 dan 38 meterKapal B&C produksi DRU ☆

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menerima sembilan kapal yang dipesan dari galangan nasional PT Daya Radar Utama (PT DRU) dalam acara commander trial and ceremony delivery yang berlangsung di area galangan kapal PT DRU di Bandar Lampung, Selasa 12 April 2016. Sembilan kapal baru itu ditujukan untuk memperkuat keseluruhan armada patroli Bea Cukai yang berjumlah 179 unit yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kapal-kapal tersebut rencananya akan ditempatkan di Pangkalan Sarana Operasi (PSO) Bea Cukai Tanjung Balai Karimun sebanyak lima unit dan PSO Pantoloan sebanyak empat unit. Kapal yang baru diujicobakan ini memiliki spesifikasi berbeda. Fast Patroli Boat (FPB) 20003 memiliki panjang 28,85 meter, lebar 6,60 meter, kedalaman 3,9 meter, dan mampu melaju hingga 35 knot dengan kapasitas kru sebanyak 20 orang. Sedangkan FPB 30004 memiliki panjang 38 meter, lebar 7,3 meter, kedalaman 4,73 meter, dan mampu melaju dengan kecepatan maksimum 35 knot dengan jumlah kru 25 personel.

Dalam menghadapi trend penyelundupan melalui jalur laut yang terus meningkat, DJBC tidak berhenti melakukan upaya-upaya konkret dalam hal pengawasan berupa patroli laut. Salah satu upaya konkret tersebut berupa peningkatan dari segi kesiapan sarana dan prasarana utama yakni penambahan armada kapal patroli DJBC. Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan armada DJBC dalam hal jumlah kapal patroli yang dimiliki saat ini sebanyak 179 unit dimulai dari jenis speed boat sampai dengan Kapal FPB 60 meter yang tersebar di seluruh kantor Wilayah DJBC beserta pangkalan sarana operasi dibawahnya.

Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, saat ini marak terjadi pelanggaran di bidang kepabeanan dan cukai melalui jalur transportasi laut. Berdasarkan data statistik penindakan per jenis komoditi melalui jalur laut, menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Dalam hal menghadapi tantangan diatas, pengawasan Bea Cukai melalui patroli laut harus berbanding lurus dengan sarana prasarana yang memadai. “Ini akan memperkuat formasi yang sudah ada. Sejak 2013 kami berkomitmen untuk memperkuat wilayah maritim,” ujar Dirjen.

Sementara itu, Direktur Utama PT DRU, Amir Gunawan mengatakan, sembilan kapal patroli pesanan Bea Cukai ini memiliki standar tinggi dengan bahan baku terbaik. Kekuatan dan desain kapal seharga Rp 50-70 miliar itu telah memenuhi kritera internasional. “Saya percaya kapal ini sangat aman. Kapal FPB jenis ini masih jarang populasinya. Ditunjuknya kami sebagai pembuat kapal oleh Bea Cukai merupakan bentuk penghargaan dan kepercayaan dari Pemerintah khususnya Bea Cukai kepada kami putra-putri Indonesia,” ujarnya.
 

  ☠ B&C  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...