Rabu, 08 Januari 2020

Politik Alutsista Prabowo Subianto

⚓️ Oleh: Dahnil Anzar S Kapal Iver Huitfeldt Class merupakan kandidat kuat kapal frigat TNI AL kedepan dan telah beberapa kali ditinjau Kemhan [Toast Master]

MENTERI Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto memanggul beban berat. Salah satunya memenuhi 100 persen minimum essential forces (MEF) atau kekuatan pokok minimum. Program MEF 2010–2024 ini dibagi dalam tiga tahap. Yaitu, rencana strategis (renstra) 2010–2014, 2015–2019, dan 2020–2024.

Kebijakan MEF tersebut merupakan terobosan dalam melakukan transformasi dan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI pasca-Orde Baru. Apalagi, Indonesia tidak bisa melakukan pengadaan dan peremajaan sejak 1995 sampai 2005 karena diembargo AS.

Padahal, militer, seperti disampaikan Mearsheimer, adalah actual power bagi suatu negara. Karena itulah, program MEF tersebut mendesak direalisasikan. Sebab, Indonesia sangat rentan terhadap ancaman. Mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas. Belum lagi kekayaan alam yang dimiliki. Apalagi, Indonesia berbatasan dengan banyak negara, yang secara geografis bisa menjadi faktor pembentuk ancaman.

Sementara itu, kekuatan beberapa negara tetangga lebih kuat. Berdasar The Asia Power Indeks 2018 yang dirilis Lowy Institute, khususnya dalam bidang militer, Indonesia berada di urutan ke-13 di bawah Vietnam (urutan ke-11) dan Singapura (10). Posisi Indonesia juga melorot satu peringkat menjadi urutan ke-16 merujuk Global Firepower 2019 dibanding tahun lalu.

Pemerintah sudah menunjukkan good will yang kuat untuk memperkuat dan memodernisasi alutsista TNI. Itu terbukti dengan peningkatan anggaran Kementerian Pertahanan. Dari Rp 48,9 triliun pada 2010 terus naik menjadi Rp 109,6 triliun pada 2019. Pada 2020, angkanya naik lagi menjadi Rp 131 triliun. Meski, kenaikan anggaran tersebut tidak selalu berhubungan positif dengan kenaikan belanja alutsista TNI. Sebab, terbentur besarnya belanja pegawai.

Pembangunan persenjataan ini tentu tidak dimaksudkan sebagai ajang perlombaan persenjataan (arms race) maupun strategi pembangunan kekuatan untuk memenangkan perang total. Akan tetapi, pembangunan persenjataan adalah suatu bentuk kekuatan pokok yang memenuhi standar tertentu serta memiliki efek getar (detterent effect).

Dalam meningkatkan dan memodernisasi alutsista tersebut, Prabowo menyiapkan empat pegangan yang saya sebut sebagai politik pengadaan alutsista ala Prabowo.

 Pertama, Tepat Guna 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwQ6c1tY_I6shUNvLzzu1dhCE3BjhueQ8z14w8x9Vd6akfZ6cSsd0qeeoicm90ZWNnJCS-8rsrCjlZOOwrAJxzMIAvaNp8rNQsKRiiCNUVoKg7kwmxeyNzcsf7GfxgKBGW2ZwpiBLpKq3Q/s1600/Harimau+medium+tank+widja207.pngMedium Tank Harimau, Produk kerjasama Pindad bersama Turki [Pindad]

Mengingat luasnya wilayah NKRI dan ancaman yang sangat bervariasi, ancaman tradisional maupun nontradisional, berasal dari negara (state actor) atau nonnegara (nonstate actor), pengadaan alutsista tepat guna harus menjadi kunci. Karena itu, pengadaan alutsista setidaknya menggunakan prinsip threat based planning. Dalam konteks ini, arahan presiden agar pengadaan alutsista harus berdasar kebutuhan, bukan keinginan, menemukan relevansinya.

Karena itulah, Prabowo sangat aktif menyisir semua kondisi alutsista TNI yang ada, termasuk melakukan review terhadap kontrak-kontrak alutsista yang dianggap tidak tepat guna dengan tentu mendengarkan masukan dari para end user dari angkatan bersenjata.

 Kedua, Geopolitik Dan Geostrategis 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEB-2wCP2lu80Pi60BxcwB6n77gwpdrCgv0C3WiDcho6QoZjtWt14Qes79SLbIoBGQneWC7QKsBI9-QTyxmJxnIFFtvsrgj7YMRDa-se-Hbc14Pw87mEzLU_dQCuHbm7LyaM_oHNLmjYdo/s1600/Credit+to+Gerry+Soejatman..jpgPesawat F16V merupakan kandidat kuat pesawat TNI AU kedepan [Lockheed Martin]

Saat ini negara produsen alutsista bukan satu atau dua negara lagi. Berdasar data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), ada 67 negara eksporter senjata selama 2014–2018. Lima pemasok terbesar adalah AS, Rusia, Prancis, Jerman, dan Tiongkok.

Indonesia bisa leluasa dalam menentukan produsen mana sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan nasional. Yang penting, jaminan tidak adanya potensi embargo, kondisionalitas politik, dan hambatan penggunaan alutsista oleh pemerintah dari negara produsen (pasal 43 ayat 5 huruf d UU Industri Pertahanan) seperti pernah dialami Indonesia sebelumnya. Namun, tentu kedaulatan adalah sikap yang penting dalam politik alutsista terkait geopolitik dan geostrategis belanja alutsista ini. Dalam makna yang singkat adalah tidak ada pihak baik korporasi maupun negara asing yang boleh dan bisa mendikte kebijakan belanja alutsista Indonesia.

Bahkan, lebih dari itu, pengadaan alutsista harus juga digunakan sebagai bagian dari diplomasi pertahanan. Pengadaan alutsista tidak hanya sebagai penguatan militer (internal balancing), tapi juga sebagai penguatan posisi tawar negara di kawasan melalui bantuan pihak asing (external balancing) (Sulaiman, 2016).

  Ketiga, Efisiensi Anggaran 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGyqVzj31OKG1Lpydn1QjLgOz87qC0z6hBy4WriLZm0XwFoNnjvYTYVbhIe3LLrO534eP2JF_gGDtCDcPPnYLVE2ZclowQ42SHDojTTotxAwERpUfDth5DThF7gZbuDzEWAvo2B5SBH6ow/s1600/PAL95++military_buzz+%25E2%2580%25A2+Instagram+photos+and+videos.pngKapal OPV rancangan PAL, diberitakan Indonesia akan memesan OPV produksi dalam negeri [PAL/military_buzz]

Meski anggaran Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengalami peningkatan dan disebutkan sebagai kementerian dengan anggaran terbesar dibandingkan dengan kementerian lain, perlu dipahami bahwa anggaran Kemenhan dibagi menjadi lima pengguna anggaran dari total Rp 131 triliun. Kemenhan sendiri mendapat alokasi Rp 21,54 triliun (16,4 persen); Mabes TNI Rp 9,09 triliun (6,9 persen); TNI-AD Rp 61,09 triliun (46,6 persen); TNI-AL Rp 22,76 triliun (17,3 persen); dan TNI-AU Rp 16,69 triliun (12,7 persen). Dari total Rp 131 triliun tersebut, yang digunakan untuk pengadaan alutsista hanya sekitar 30 persen.

Dengan belum maksimalnya anggaran untuk belanja modal tersebut, efisiensi anggaran harus menjadi perhatian. Karena itu, sejak awal duduk menjadi Menhan, kalimat pertama yang disampaikan Prabowo adalah ingin memastikan tidak ada lagi praktik korupsi dalam pengadaan alutsista, ingin melawan kebocoran yang selama ini mengganggu upaya memperkuat pertahanan melalui TNI. Apalagi, Presiden Jokowi sudah mengingatkan jangan sampai ada kebocoran dan pengadaan alutsista tidak boleh berorientasi proyek alias sekadar penyerapan anggaran.

 Keempat, Alih Teknologi Dan Offset 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg63Em9hKtXnPoEwN4YLmvtYuVNCycLoW-D4AR68r73uPZaixehaZJAQGQmuObDAsNxNe3yZugiui0q8WrFtoZBV3MF2zlJv2dr5MqnwXrWZmlz0JdYdi0w0OU9zkzu7izZTm1_P_9yQ95v/s1600/KRI+Alugoro+405+Indonesia+Defence+Forum.pngProduk kerjasama kapal selam PAL Indonesia dengan Korea Selatan [submarine.id]

Kita tidak akan mandiri, apalagi bisa melampaui negara produsen, selama kita mengandalkan impor alutsista. Kekurangan dalam penguasaan teknologi ini menjadikan syarat alih teknologi dalam pengadaan alutsista tidak bisa ditawar, pun demikian dengan offset (kandungan lokal).

Partisipasi industri yang bisa diwujudkan lewat produksi bersama (co-production), saham patungan (joint venture), beli kembali (buyback), alih pengetahuan (knowledge transfer), dan pelatihan juga harus dijalankan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat industri pertahanan kita. Karena itu, langkah muhibah Prabowo ke negara-negara yang memiliki kapasitas teknologi pertahanan sangat penting untuk merancang kerja sama industri pertahanan, khususnya terkait alih teknologi industri pertahanan Indonesia.

Dengan demikian, kemampuan industri pertahanan pada 2024, mampu menyediakan kebutuhan alutsista untuk mendukung kemampuan pertahanan yang memiliki daya tangkal terhadap seluruh kekuatan negara tetangga, semoga bisa tercapai. Lebih jauh, kita berharap Indonesia menjadi pemain global dalam industri pertahanan. Hal itu sangat memungkinkan mengingat Indonesia saat ini sudah melakukan ekspor alutsista dan terus meningkatkan kandungan lokal (offset) industri pertahanan kita. (*)

  ⚓️ Jawa Pos  

Kemenkeu Siapkan Dana Talangan

⚓️ Untuk Perkuat Alutsista KRI REM 331 [IG PAL]

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani, mengaku tidak tahu-menahu soal rencana pembelian kapal baru untuk Kementerian Pertahanan (Kemhan). Sebab sejauh ini pihaknya hanya mengalokasikan kebutuhan anggaran untuk pengadaan alutsista.

“(Soal penambahan kapal?) Tentunya kami tidak tahu apa yang disampaikan apakah sudah ada alokasinya, nanti dicek persisnya, tentunya di Kemenhan itu kita tahu sudah ada pendanaan alutsista. Apakah itu kapal, peralatan untuk perang lainnya,” kata Askolani ditemui di Kantornya, Jakarta.

Kendati begitu, pihaknya mengaku siap untuk memberikan dana talangan apabila memang dibutuhkan Kementerian Pertahanan untuk menambah kapal baru. Nantinya anggaran tersebut berasal dari Bendahara Umum Negara (BUN).

“Nanti lihat kebutuhan. Ini baru awal tahun. Pagu Kemhan kan banyak, kalau kurang atau tidak cukup kan ada dana cadangan untuk antisipasi dan kebutuhan mendesak,” katanya.

  ⚓️ Liputan 6  

Heli Panther TNI AL Latihan MTT dengan 3 KRI

Heli Panther di geladak KRI REM 331 [TNI AL]

Mobile Training Team adalah solusi non material untuk menyiasati keterbatasan anggaran guna meningkatkan kualitas kemampuan pelatihan pengawak Alutsista TNI AL, pelatihan dalam MTT telah berhasil meningkatkan kompetensi dalam berbagai operasi maritim sesuai standar internasional (NATO).

MTT adalah Tim Trainer yang terdiri dari para prajurit terbaik TNI AL yang memiliki dedikasi dan semangat tinggi untuk mengembangkan kompetensi yang telah diperoleh.

Dokumen-dokumen instruksional yang telah dibuat MTT siap digunakan dalam berbagai level pelatihan, MTT akan diperkaya dengan pengetahuan dan kompetensi instruksional lain yang relevan, Regenerasi MTT sangat penting untuk disiapkan seawal mungkin.

Heli Panther AS 565 MBe HS-4210 mendukung pelaksanaan latihan MTT dengan KRI REM 331. KRI Fatahilah 361 dan KRI Alugoro 405 diperairan Utara Pulau Bali, Laut Jawa dan Perairan Bawean.

  ⚓️ TNI AL  

Selasa, 07 Januari 2020

TNI AU Kerahkan Empat Jet Tempur F-16 ke Natuna

✈️ Pesawat  F16 TNI AU [detik]

TNI Angkatan Udara menerbangkan empat pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 16 Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau. Ini dilakukan untuk melaksanakan operasi patroli di wilayah terluar Indonesia itu.

"Empat pesawat F-16 berangkat sekarang," kata Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsekal Pertama Ronny Irianto Moningka di Pekanbaru, Selasa, 7 Januari 2020.

Ia menjelaskan pengerahan empat jet tempur F-16 berikut enam penerbang serta puluhan personel angkatan udara ke Natuna hari ini atas perintah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Seluruh pesawat buatan negeri Paman Sam yang menjadi salah satu andalan angkatan bersenjata Indonesia itu melaksanakan patroli wilayah kedaulatan NKRI dengan sandi Operasi Lintang Elang 20.

"Ini sebenarnya operasi rutin di wilayah barat yang kami geser ke Natuna," ujarnya.

Dia menjelaskan selain empat jet tempur itu, Lanud Roesmin Nurjadin yang merupakan pangkalan militer terlengkap di Pulau Sumatera dan diperkuat dua Skadron tempur itu juga tengah siaga. Dia menuturkan siap untuk mengerahkan seluruh kekuatan jika ada perintah dari panglima TNI.

Akan tetapi, Ronny mengatakan bahwa pengiriman jet tempur F-16 itu murni untuk menjaga wilayah kedaulatan Ibu Pertiwi. Dia menuturkan tidak ada niat untuk melakukan provokasi dengan pihak manapun, terutama Cina yang kini sedang mengirimkan kapal-kapal penjaga pantai dan nelayan ke perairan kaya akan ikan itu. "Kami tidak buat provokasi pihak manapun, kami jaga wilayah kita," ujarnya.

Lebih jauh, selain kedatangan F-16 ke Natuna, Ronny mengatakan Panglima TNI juga akan terbang langsung ke Pulau tersebut hari ini.

Tensi hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Cina dalam beberapa hari terakhir memanas lantaran sejumlah kapal nelayan Cina masih bertahan di Perairan Natuna hingga saat ini.

Kapal-kapal asing tersebut bersikukuh melakukan penangkapan ikan yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna.

Sementara TNI sudah mengerahkan delapan Kapal Republik Indonesia berpatroli untuk pengamanan Perairan Natuna, Kepulauan Riau, hingga Senin kemarin.

Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, perairan Natuna merupakan wilayah ZEE Indonesia. Cina tidak memiliki hak apa pun atas perairan tersebut.

Namun Cina secara sepihak mengklaim kawasan itu, masuk ke dalam wilayah mereka, dengan sebutan Nine Dash Line (sembilan garis putus-putus).

  ✈️ Tempo  

TNI-AL Tambah Lima Kapal Perang ke Natuna

Ilustrasi KRI Bung tomo class [TNI AL]

Jalur diplomatik menjadi pilihan pemerintah Indonesia dalam menyikapi pelanggaran zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang dilakukan Tiongkok. Pada saat bersamaan, operasi penjagaan diperkuat. Bahkan, tambahan lima KRI dikirim ke Laut Natura Utara untuk mengintensifkan operasi.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksdya TNI Yudo Margono menyatakan, hubungan baik antara Indonesia dan Tiongkok harus tetap terjaga. Tidak boleh rusak lantaran dinamika yang terjadi di Natuna Utara.

Masuknya kapal nelayan berikut kapal Coast Guard Tiongkok ke perairan ZEE Indonesia di Natuna Utara, kata Yudo, sudah ditindaklanjuti. Bukan hanya pemerintah, TNI bersama instansi lain seperti Badan Keamanan Laut (Bakamla) juga bertindak. Mereka mengirim pasukan beserta alat utama sistem persenjataan (alutsista) ke Natuna Utara.

Yudo menegaskan, armada tersebut hadir bukan untuk bertindak gegabah. Melainkan sebagai tindakan persuasif. Yakni menyampaikan kepada kapal-kapal Tiongkok bahwa ZEE merupakan bagian dari Indonesia. Sehingga tidak boleh ada pelanggaran hukum, apalagi illegal fishing. Yudo memastikan bahwa arahan itu sudah disampaikan kepada para prajurit yang dikirim ke Natuna Utara.

Jenderal bintang tiga TNI-AL tersebut menekankan kepada para prajurit untuk melaksanakan tugas sesuai prosedur. ”Kehadiran kapal perang Indonesia adalah representasi negara. Sehingga mereka (Tiongkok, Red) seharusnya paham, ketika negara mengeluarkan kapal perangnya, negara sudah hadir di situ,” tandasnya.

Dilansir dari Batam Pos, saat ini tiga Coast Guard Tiongkok masih mengawal kapal ikan nelayan Tiongkok di perairan Indonesia. Posisinya berada di 130 nautical mil timur laut Pulau Bunguran. TNI-AL pun melakukan langkah persuasif. ”KRI Teuku Umar dan KRI Tjiptadi yang sedang patroli langsung melakukan komunikasi ke kapal Coast Guard Tiongkok dan meminta untuk segera meninggalkan wilayah ZEE Republik Indonesia,” kata Yudo.

Dalam situasi seperti saat ini, jelas Yudo, TNI-AL berusaha tegas, tapi menghindari terjadinya benturan. Nah, komunikasi secara persuasif dilakukan agar kapal asing, termasuk dari Tiongkok, meninggalkan wilayah ZEE di Laut Natuna. ”Tindakan pengusiran ini akan terus dilakukan. Baik di lapangan maupun secara diplomatik oleh Kemenlu,” ujarnya.

 Tiga KRI lebih dulu 

Selain kapal milik Bakamla, hingga kemarin sudah tiga KRI yang dikirim TNI-AL ke Natuna Utara. Dua kapal korvet KRI Tjiptadi 381 dan KRI Teuku Umar 385 sudah diperkuat satu unit kapal korvet lainnya, yakni KRI Usman-Harun 359. Komando Armada I yang berada di bawah Kogabwilhan I dalam operasi di Natuna Utara memastikan masih menambah kekuatan.

Kepada Jawa Pos, Kadispen Koarmada I Letkol Laut Pelaut Fajar Tri Rohadi mengungkapkan bahwa kemarin lima KRI lain berada dalam perjalanan menuju Natuna. Lima kapal tersebut akan ikut dalam operasi Kogabwilhan I di Natuna Utara. ”KRI Karel Satsuit Tubun 356, KRI John Lie 358, KRI Tarakan 905, KRI Sutendi Senoputra 378, dan KRI Teluk Sibolga 536,” jelas dia.

Fajar memastikan bahwa lima KRI berbagai jenis itu segera tiba di Natuna Utara. Terhadap seluruh pengawak kapal perang tersebut, Koarmada I menuturkan bahwa mereka harus menaati seluruh aturan dan hukum laut. Baik hukum yang berlaku di Indonesia maupun hukum internasional.

Seluruh tindakan yang dilakukan kapal-kapal TNI-AL harus dilaksanakan secara terukur dan profesional. Tujuannya ialah memastikan tidak ada tindakan gegabah yang bisa membuat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok terganggu. Mereka juga diminta melaksanakan rules of engagement (RoE).

  ✈️ Jawa Posl  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...