Kamis, 03 Juli 2025

KRI Brawijaya-320 Resmi Diserahkan Ke TNI AL

 ⚓️ Disaksikan KSAL Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menghadiri upacara serah terima dan peresmian kapal KRI Brawijaya-320 di galangan kapal Fincantieri, Muggiano, Italia, Rabu (2/7/2025). (Dokumentasi Dinas Penerangan Angkatan Laut)

TNI Angkatan Laut (TNI AL) resmi memperkuat armadanya dengan kapal fregat canggih buatan Italia, KRI Brawijaya-320.

Serah terima kapal ini dilangsungkan dalam sebuah upacara militer di galangan kapal Fincantieri, Muggiano, Italia, Rabu (2/7/2025), dan dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.

Dalam kesempatan tersebut, Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh dikukuhkan sebagai komandan pertama KRI Brawijaya-320.

Kapal ini akan memperkuat jajaran Satuan Kapal Eskorta Komando Armada II (Koarmada II) TNI AL.

Berdasarkan keterangan resmi yang dibagikan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), KRI Brawijaya-320 memiliki kemampuan multifungsi yang memungkinkan dilakukannya berbagai operasi maritim, mulai dari patroli, pengawasan wilayah, hingga peperangan antikapal dan antiserangan udara.

Dengan panjang 143 meter, kapal ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum hingga 32 knot dan mampu menampung hingga 171 personel.

Fregat ini juga dirancang dengan fleksibilitas, modularitas, dan skalabilitas tinggi, memungkinkan konfigurasi ulang sesuai kebutuhan operasional Angkatan Laut modern.

"Kapal perang ini sangat tepat dimiliki oleh Indonesia yang memiliki wilayah laut yang sangat luas," kata KSAL.

Salah satu keunggulan utama KRI Brawijaya-320 adalah sistem tempur dan navigasi modern yang terintegrasi dalam Combat Management System (CMS).

Sistem ini menghubungkan sensor, senjata, sistem komunikasi, serta perangkat navigasi melalui jaringan berkecepatan tinggi.

Kemampuan Anti Air Warfare (AAW) yang dimiliki kapal ini membuatnya mampu menghadapi berbagai ancaman dari udara, menjadikannya salah satu kapal paling canggih dalam jajaran TNI AL saat ini.

Kapal ini merupakan fregat PPA pertama yang dibeli Indonesia dari Italia dan menjadi tonggak dalam pengembangan kekuatan laut nasional berbasis teknologi tinggi.

KRI Brawijaya-320 juga menjadi simbol baru kerja sama strategis antara Indonesia dan Italia di bidang pertahanan.

  ⚓️ 
Kompas  

Perusahaan Turki Akan Melengkapi Fregat Merah Putih Indonesia

Modul kapal FMP di Indo Defence Jakarta (Mabal News)

Perusahaan pertahanan terkemuka Turki, Aselsan, Havelsan, dan Roketsan, akan memasok sistem utama untuk fregat kelas Merah Putih Indonesia, menurut informasi yang diperoleh selama pameran Indo Defence 2025 yang diadakan di Jakarta dari 11 hingga 14 Juni.

Fregat kelas Merah Putih didasarkan pada desain Arrowhead 140 Babcock, yang berasal dari fregat kelas Iver Huitfeldt milik Angkatan Laut Kerajaan Denmark. Kapal-kapal tersebut sedang dibangun oleh PT PAL Indonesia di galangan kapalnya di Surabaya, dengan pemotongan baja kapal utama pada 9 Desember 2022 dan pemasangan lunas pada 25 Agustus 2025.

Berdasarkan kerangka akuisisi program, sistem diklasifikasikan sebagai “Fitted For, But Not With” (FFBNW) dan “Main Contract Equipment.” Perusahaan Turki dan Italia mendominasi daftar pasokan, dengan perusahaan Turki mengambil peran utama dalam integrasi sistem tempur.

  Aselsan Akan Mengirimkan Rangkaian Sensor Canggih 
Aselsan akan menyediakan rangkaian sensor yang komprehensif untuk fregat Merah Putih. Rangkaian ini meliputi radar multifungsi Mete Han (juga dikenal sebagai CENK-350), radar CENK-200 (juga disebut sebagai MAR-D) untuk kendali helikopter, dan radar pengintai CENK-400 AESA, yang saat ini beroperasi di atas fregat kelas I milik Turki. Sistem ini merupakan inti dari kemampuan kewaspadaan situasional dan pengawasan udara kapal.

Selain itu, Aselsan akan memasok sistem tautan data dan IFF, sistem kendali tembakan AKREP-200 untuk rudal antikapal Atmaca, dan sonar yang dipasang di lambung kapal FERSAH untuk pengawasan bawah air.

Perwakilan perusahaan mengonfirmasi bahwa tiga kontrak terkait sistem ini telah ditandatangani hingga saat ini. Pengiriman semua komponen direncanakan dalam jangka waktu 36 bulan.

  Kontribusi Havelsan dan Roketsan 
Havelsan akan bertindak sebagai integrator sistem utama, dengan Sistem Manajemen Tempur (CMS) ADVENT yang akan dipasang pada fregat kelas Merah Putih. ADVENT telah diadopsi secara lebih luas oleh Angkatan Laut Indonesia, yang bermaksud untuk meningkatkan lebih dari 40 kapal dengan sistem tersebut. Hasilnya, Indonesia diharapkan dapat memperluas kemampuan peperangan yang berpusat pada jaringan secara signifikan.

Pemasangan ADVENT pada fregat Merah Putih menandai tonggak sejarah bagi Havelsan, karena ini akan menjadi pertama kalinya sistem tersebut diintegrasikan ke dalam lambung kapal yang dirancang oleh Inggris.

Roketsan akan melengkapi fregat tersebut dengan sistem peluncur vertikal MIDLAS, yang akan menampung rudal antikapal ATMACA sebagai senjata serang permukaan utama platform tersebut. Kelas Merah Putih akan menjadi platform pertama yang meluncurkan rudal ATMACA dari MIDLAS, menjadikan Indonesia sebagai pelanggan peluncuran untuk kemampuan terintegrasi ini.

  Implikasi Strategis dan Industri 
Program kelas Merah Putih mencerminkan strategi Indonesia untuk mengembangkan armada permukaan modern berdasarkan kerja sama internasional dan konstruksi dalam negeri. Integrasi sistem Turki tidak hanya memperkuat hubungan pertahanan antara Turki dan Indonesia, tetapi juga menghadirkan kesamaan operasional di sejumlah platform angkatan laut Indonesia yang terus bertambah.

Varian Arrowhead 140 juga sedang dikembangkan untuk Angkatan Laut Kerajaan (kelas Tipe 31) dan Angkatan Laut Polandia (kelas Miecznik), tetapi program Merah Putih akan menonjol karena penggabungan sistem Turki dan arsitektur manajemen tempur.

  Target Peluncuran 
Menurut pernyataan yang dibuat oleh Menteri Pertahanan Indonesia pada Januari 2025, fregat Merah Putih pertama seharusnya diluncurkan pada bulan Juni. Namun, Naval News memahami bahwa upacara peluncuran telah diundur hingga Oktober. Rekaman terbaru oleh CNN Indonesia ini menunjukkan status terkini lambung pertama.

Selama Indo Defence 2025, Naval News juga mengetahui bahwa Babcock siap membantu proyek tersebut sebagai mitra pendukung desain. (Tayfun Ozberkk)

 👷 
Naval News  

RI Gandeng Prancis Kembangkan Bengkel Pesawat

👷 🤝 menuju kemandirian industri pertahanan nasional Ilustrasi (Foto: Dok. Republikorp)

Perusahaan asal Prancis, SECAMIC dan PT Republik Aero Dirgantara (RAD) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di ajang Paris Air Show 2025 pada 20 Juni lalu. Kerja sama ini untuk mengembangkan layanan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) yang mencakup sejumlah pesawat sipil dan militer di Indonesia untuk membangun kapabilitas perawatan pesawat yang mandiri dan berstandar internasional di dalam negeri.

Kerja sama ini mencakup pelatihan teknis, pembangunan rantai pasok, pengawasan mutu, serta alih teknologi dan peralatan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional Indonesia. Seluruh kegiatan MRO direncanakan terpusat di fasilitas RAD yang ada di Bandung, dan akan dikembangkan sebagai pusat operasional utama.

SECAMIC akan berperan penting dalam menjamin kepatuhan teknis, pendampingan proses sertifikasi, serta memastikan transfer keahlian dari Prancis ke Indonesia. Bertrand Lucereau, CEO SECAMIC, menyatakan bahwa MoU ini mencerminkan karena kesamaan visi SECAMIC dengan RAD.

"Kami percaya, dengan dukungan teknis dan pengetahuan kelas dunia, Indonesia dapat memperkuat infrastruktur MRO-nya secara berdaulat," ujar Bertrand dalam keterangannya, Sabtu (28/6/2025).

Sementara itu, Norman Joesoef, selaku Chairman Republikorp sebagai perusahaan induk RAD mengatakan bahwa kerja sama ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tapi sebuah langkah strategis menuju kemandirian industri pertahanan nasional.

"Bersama SECAMIC, kami ingin menghadirkan layanan MRO bernilai tinggi yang tak hanya mendukung armada saat ini dan masa depan, tapi juga membuka lapangan kerja dan mengembangkan sumber daya lokal," kata Norman.

Kesepakatan ini menjadi landasan pengembangan kerja sama antara para pihak, dengan implementasi awal lima tahun dan peluang perpanjangan ke depan. Setelah diresmikan, kolaborasi ini diharapkan memperkuat kemandirian Indonesia dalam layanan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) serta meningkatkan kesiapan operasional armada.

Inisiatif ini juga bertujuan memperluas kerja sama internasional yang mendukung pembangunan industri pertahanan nasional, dengan memadukan keahlian teknologi dan pengalaman untuk menciptakan nilai tambah strategis bagi Indonesia.

Untuk diketahui, SECAMIC adalah perusahaan asal Prancis yang bergerak di bidang layanan pendukung pertahanan dan keamanan, khususnya di sektor kedirgantaraan. Kompetensi utama perusahaan ini mencakup layanan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) pesawat militer, logistik, dukungan teknis, serta pelatihan. (ara/ara)

  👷
detik  

Rabu, 02 Juli 2025

PTDI-Intercrus Kembangkan Taksi Udara

  🛩  Bisa dimanfaatkan militer untuk pengiriman kargo & logistik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Intercrus Aero Indonesia (Intercrus) mengembangkan taksi udara guna perkuat ekosistem dirgantara. Angkutan ini didesain ulang sebagai UAV militer untuk membawa peralatan militer canggih ke medan perang. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Intercrus Aero Indonesia (Intercrus) mengembangkan taksi udara untuk memperkuat ekosistem dirgantara nasional melalui teknologi Advanced Air Mobility (AAM) yang mendukung konektivitas modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengatakan kemitraan itu menjadi bagian dari strategi jangka panjang pihaknya untuk memperkuat kapasitas inovasi industri dirgantara nasional.

"Kami percaya bahwa AAM dapat menjadi salah satu solusi nyata untuk menjawab tantangan konektivitas di wilayah urban maupun daerah dengan akses terbatas," kata Gita sebagaimana keterangan di Jakarta, Sabtu.

Intercrus, sebuah perusahaan start-up dalam negeri yang bergerak di bidang riset dan pengembangan pesawat Vertical Take-Off & Landing (VTOL) elektrik untuk sektor AAM.

Gita menyampaikan Intercrus SOLA adalah inovasi terbaru hasil kolaborasi PTDI bersama Intercrus termasuk insinyur muda Indonesia yang menghadirkan solusi mobilitas udara masa depan yang efisien, ramah lingkungan, dan adaptif lintas sektor baik sipil maupun militer.

"Dirancang sebagai kendaraan udara elektrik berkonsep VTOL, Intercrus SOLA hadir sebagai taksi udara masa depan yang mampu mengangkut tiga penumpang dan satu pilot," ujarnya lagi.

Tak hanya itu, katanya pula, platform itu juga dapat dikembangkan untuk misi militer seperti pengiriman kargo dan dukungan logistik dengan muatan presisi maupun konvensional.

Dengan kemampuan daya angkut hingga 360 kg dan jarak tempuh mencapai 200 km, serta sistem propulsi elektrik penuh yang rendah kebisingan, Intercrus SOLA dirancang cocok untuk berbagai lingkungan operasi, dari kawasan urban padat hingga daerah terpencil.

Sebagai bagian dari inisiatif green aviation, Intercrus SOLA mencerminkan arah baru PTDI dalam menghadirkan produk berbasis energi bersih dan mendukung pengembangan ekosistem AAM di Indonesia.

Kolaborasi antara PTDI dan Intercrus mencakup pengembangan teknologi, proses sertifikasi, manufaktur, hingga komersialisasi Intercrus SOLA. Pada pembukaan Indo Defence 2024 Expo & Forum hari pertama, Kamis (11/6), PTDI dan Intercrus menghadirkan demonstrasi prototipe sub-skala 1:7 dari Intercrus SOLA, bernama SOLITA.

"Demo ini memperlihatkan kemampuan dasar manuver dan hovering di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto," ujar Gita.

Teknologi tersebut juga memiliki potensi adaptasi untuk mendukung kebutuhan operasi militer, seperti pengiriman logistik ke medan sulit, misi pengintaian, hingga dukungan taktis di area operasi dengan tingkat risiko tinggi.

Melalui kemitraan dengan Intercrus, PTDI mengambil perannya dalam membentuk arah baru ekosistem mobilitas udara nasional tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dan transportasi sipil, tetapi juga dalam mendorong lahirnya solusi teknologi inovatif di sektor kedirgantaraan masa depan.

"Lebih dari sekadar produk, Intercrus SOLA yang ditargetkan siap terbang dan melayani Indonesia pada tahun 2028 ini, juga menjadi simbol transformasi dan masa depan transportasi udara Indonesia," kata Gita.

  🛩
  antara  

Selasa, 01 Juli 2025

Berpacu Waktu Bangun Kapal Selam Scorpene

PAL Indonesia akan membangun dua unit kapal selam Scorpene di Surabaya. (Naval Group)

Pembangunan infrastruktur vital dikebut, insinyur pun disiapkan seiring dimulainya kontrak alih teknologi penuh dengan Perancis. Kesiapan PT PAL kini dipertaruhkan.

Deru mesin dan denting logam yang bersahutan dari Divisi Kapal Selam di ujung utara Kompleks PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, terdengar lebih bersemangat dari biasanya. Di atas lahan seluas satu hektar, jajaran besi menancap pada beton-beton fondasi dermaga. Lokasi itu bakal menjadi denyut nadi industri pertahanan menampung teknologi canggih.

PT PAL Indonesia, produsen kapal perang nasional, kini benar-benar sedang berpacu dengan waktu. Mereka mengejar tenggat untuk menyiapkan seluruh fasilitas yang dibutuhkan untuk ”melahirkan” sang predator laut dalam, kapal selam Scorpene.

Kebutuhan akan fasilitas modern ini bukanlah isapan jempol. Pengalaman adalah guru terbaik. Kepala Divisi Kapal Selam PT PAL Indonesia Agus Rifai mengungkapkan, pelajaran berharga dipetik saat peluncuran KRI Alugoro 405 pada 2021 lalu, kapal selam pertama yang berhasil dirakit di dalam negeri.

”Ternyata dalam proses peluncuran KRI Alugoro kemarin, kami belum punya fasilitas yang namanya "shiplift". Akhirnya pemerintah memberikan bantuan di PMN (penyertaan modal negara) 2021 untuk melengkapi proses kami sehingga PT PAL bisa 100 persen melaksanakan "whole local production" kapal selam,” ujar Rifai di sela-sela kunjungan eksplorasi industri pertahanan ke PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (25/6/2025).

Bantuan pemerintah itu kini berwujud proyek masif. Progres pembangunan dermaga kapal selam yang dikerjakan oleh PT PP (Persero) Tbk tampak signifikan. Aktivitas pembangunan yang dimulai 14 Juni 2024 kini sudah mencapai 62 persen. Torehan ini bahkan melebihi rencana awal.

Secara keseluruhan, pekerjaan struktur dermaga akan tuntas pada Desember 2025. Setelah itu, pekerjaan akan menyisakan aktivitas pengerukan ruang sandaran kapal selam hingga kedalaman 16 meter dan instalasi fasilitas "shiplift" itu sendiri, yang teknologinya didatangkan dari Syncrolift, perusahaan asal Norwegia yang menjadi rujukan dunia.

Fasilitas baru ini dirancang dengan spesifikasi yang jauh melampaui kebutuhan Scorpene. Kapal selam asal Perancis itu memiliki bobot 2.000 ton, tetapi kapasitas "shiplift" mampu mengangkat beban hingga 6.000 ton. Konstruksinya diklaim sangat kokoh dengah perhitungan 15 ton per tiang pancang.

Kemampuan angkat yang masif itu bukan tanpa alasan. Fasilitas tersebut dirancang serbaguna. Tidak hanya kapal selam, kapal-kapal permukaan, seperti fregat, pun bisa ”digendong” oleh "shiplift" ini. Rencana itu bahkan sudah konkret.

”Nanti di bulan Agustus (2026), kapal Fregat Merah Putih (unit) kedua yang ada di hangar akan kita pindahkan melalui "shiplift" ini untuk dimasukkan ke dok guna melanjutkan proses konstruksi,” ungkapnya.

Di jantung kawasan ini, berdiri tiga hanggar utama berukuran total 100 x 100 meter. Seluruh proses vital berlangsung di sana. Mulai dari pengepresan lambung "hull pressing", penyambungan, hingga pemasangan seluruh perlengkapan canggih "outfitting", semuanya dilakukan dalam satu alur produksi yang terintegrasi.

Kecanggihan tak berhenti di situ. "Shiplift" ini nantinya akan dilengkapi dengan sistem transversal "boogie", yang memungkinkan kapal selam tidak hanya bergerak maju-mundur dari laut ke hangar, tetapi juga bisa digeser ke samping menuju dermaga rawat (dermaga bay).

”Karena rumitnya kebutuhan inilah yang menjadikan fasilitas ini sejatinya cukup mahal untuk bisa diaplikasikan,” tutur Rifai.

Pada akhirnya, semua pacuan waktu ini bermuara pada satu momen pembuktian. Sebuah momen saat kapal selam Scorpene pertama buatan Indonesia diluncurkan dari dermaga ini. Dunia akan menjadi saksi kemampuan PT PAL Indonesia memproduksi dan merawat Scorpene, kapal selam senilai Rp 15 triliun.

Untuk diketahui, kontrak kapal selam Scorpene antara Indonesia dan Naval Group, Perancis, ditandatangani pada 28 Maret 2024. Namun, kontraknya belum efektif karena belum ada pembayaran uang muka. Kontrak ini mencakup pembangunan dua unit kapal selam Scorpene di PT PAL Indonesia.

 Ingin dipercepat 
Detail kapal selam Scorpene (Kompas)
Project Director untuk Kapal Selam Scorpene PT PAL Laksamana Muda (Purn) Wiranto mengungkapkan adanya arahan baru yang mengubah dinamika proyek secara fundamental. Proyek yang semula dirancang untuk berjalan selama 96 bulan atau delapan tahun untuk pembangunan dua kapal selam di Surabaya kini diminta untuk berlari lebih kencang.

”Ini menarik sekali. Beberapa bulan yang lalu, Bapak Presiden meminta kepada tim, yaitu tim dari PT PAL dan mitra kita dari Naval Group, untuk (proyek ini) dimajukan lebih cepat tiga tahun,” tuturnya.

Permintaan ini, lanjutnya, sontak menjadi sebuah tantangan besar yang harus dijawab bersama. Kalkulasi ulang, penjadwalan yang lebih agresif, dan inovasi proses kini menjadi pekerjaan rumah utama bagi kedua belah pihak.

Di sisi lain, Wiranto memaparkan bahwa proyek ini akan dimulai dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 30 persen. Angka ini merupakan pijakan awal dalam sebuah maraton panjang menuju kemandirian penuh, yang menjadi sasaran utama dari seluruh proyek alih teknologi ini.

”Kalau tidak salah, sampai dengan tahun 2045, sasaran kita nanti harus bisa melaksanakan ekspor kapal selam,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Frega Wenas Inkiriwang yang menyambangi lokasi pembangunan, memandang hiruk-pikuk galangan kapal PT PAL sebagai bagian dari sebuah maraton panjang. Pembangunan postur pertahanan yang ideal diakui sebagai sebuah upaya yang menuntut kesabaran, biaya, dan di atas segalanya, komitmen yang tak lekang oleh waktu.

”Bicara penguatan postur pertahanan, itu tidak bisa dibangun dalam waktu yang singkat. Untuk membangun sebuah kapal selam, misalnya, itu butuh 8 sampai 9 tahun, bahkan di beberapa proyek bisa sampai 10 tahun,” tuturnya.

Kesadaran akan rentang waktu yang panjang inilah yang melandasi komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan. Kendati kepemimpinan berganti, kontrak-kontrak strategis yang telah ditandatangani akan terus dihormati dan dijalankan hingga tuntas.

Pemerintah melihat geliat industri pertahanan dalam kerangka filosofis yang lebih dalam. Di bawah payung "holding" Defend ID, perusahaan seperti PT PAL tidak lagi dipandang semata sebagai entitas bisnis yang mengejar keuntungan. Mereka adalah garda terdepan dalam sebuah perjuangan senyap.

Karena itu, inisiatif dan terobosan dari internal industri menjadi sebuah keniscayaan yang ditunggu-tunggu. Pemerintah mendorong agar BUMN pertahanan proaktif dalam riset dan pengembangan, menyiapkan fondasi sebelum panggilan tugas datang. Dengan begitu, saat negara memutuskan sebuah kebutuhan mendesak, industri nasional sudah dalam posisi siaga.

Peneliti militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menyebut langkah ini sebagai momen ”strategis dan bersejarah”. Namun, ia mengingatkan bahwa Scorpene bukanlah kapal selam biasa, melainkan sebuah platform tempur canggih yang menuntut tingkat kesiapan multidimensi.

Ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas fisik seperti dermaga dan hanggar hanyalah satu bagian dari teka-teki besar. Aspek yang jauh lebih krusial adalah memastikan seluruh fasilitas itu memenuhi standar presisi tinggi yang disyaratkan Naval Group.

”Hal yang perlu diperhatikan, antara lain, adalah akurasi permesinan berat, sistem "lifting" presisi tinggi, dan sistem perlindungan terhadap kebocoran informasi. Ini bukan sekadar soal membangun fisik, tapi bagaimana memastikan semua fasilitas itu bisa digunakan secara efisien dan aman,” jelasnya.

Lebih jauh, Fahmi menggarisbawahi esensi dari proses alih teknologi (ToT) itu sendiri. Menurut dia, kesuksesan proyek ini akan hampa jika Indonesia hanya menjadi ”tukang rakit”. Taruhan sesungguhnya terletak pada kedalaman ilmu yang diserap. Untuk itu, pelibatan ekosistem yang lebih luas—mencakup perguruan tinggi, pusat riset, dan industri komponen lokal—menjadi sebuah keharusan agar tidak berhenti sebagai proyek perakitan semata.

Aspek tata kelola yang baik dan transparan juga menjadi sorotan utamanya. Mengingat nilai proyek yang fantastis, potensi penyimpangan harus diantisipasi dengan pengawasan yang ketat tanpa mengorbankan kerahasiaan pertahanan.

”Jika semua itu dijalankan dengan tepat, Indonesia tak hanya akan memiliki kapal selam canggih, tapi juga akan memiliki industri strategis yang mandiri dan berdaya saing di kawasan,” tambah Fahmi.

 👷  Kompas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...