Sabtu, 03 Maret 2012

Jejak Lama di Santa Cruz

PEMAKAMAN Santa Cruz, Dili, Timor Leste, 12 November 1991. Ribuan warga Timor mengarak poster dan bendera Fretilin sembari berteriak, "Viva Xanana!" Massa bernyanyi dan memekik. Suasana riuh-rendah. Tentara Indonesia berjaga di sudut-sudut jalan dengan senjata siaga.

Unjuk rasa hari itu tepat dua pekan setelah kematian Sebastiao Gomes Rangel, pemuda Timor Leste yang dibunuh milisi prointegrasi di Gereja Motael, Dili. Gomes dimakamkan di Santa Cruz. "Seusai misa di Gereja Motael, pemuda-pemuda Timor mengeluarkan spanduk dan poster dari balik baju mereka dan mulai bergerak ke arah pemakaman," kata Allan Nairn, jurnalis Amerika Serikat yang hari itu ada di Dili. Kesaksian itu dia disampaikan dalam sebuah diskusi East Timor Action Network, di New York, empat tahun setelah insiden Santa Cruz.

Sekitar pukul delapan pagi, massa semakin padat. Komandan Sektor C/Khusus Dili Kolonel Binsar Aruan memerintahkan pasukan Brigade Mobil menyekat massa dengan membentuk barikade di belakang demonstran. "Pasukan Indonesia terus bergerak maju, mendekati massa yang terkepung," kenang Allan Nairn. Komandan Kompi Gabungan Letnan Dua Sugiman Mursanib berteriak memerintahkan pasukannya melepas tembakan peringatan ke udara. Mendadak serentetan tembakan terdengar. Massa di bagian belakang roboh. Sisanya bubar, tunggang-langgang.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste memperkirakan sedikitnya 200 orang tewas dalam insiden itu. Nyaris semuanya tewas dengan peluru di atas badan, yang menandakan penembakan sengaja diarahkan ke tubuh.

Peristiwa nahas 18 tahun silam itu kini muncul lagi dalam buku tentang Letnan Jenderal (Purnawirawan) Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, yang diluncurkan dua pekan lalu. Tak sampai sebulan setelah penembakan Santa Cruz, Sintong dicopot dari posisinya sebagai Panglima Komando Daerah Militer IX Udayana. Sejak itu, karier militernya, yang semula cemerlang, meredup.

"Ada kemungkinan keterlibatan pihak ketiga dalam insiden 12 November 1991 di Dili," kata Sintong dalam buku itu. Dia mengarahkan kecurigaannya kepada kelompok lokal yang prointegrasi dan tentara Indonesia di Timor Leste yang "dibina oleh orang berpengaruh di Jakarta". Penulis buku ini, Hendro Subroto, mengelak ketika ditanyai siapa yang dimaksud Sintong. "Tidak etis untuk menyebutnya sekarang," kata Hendro. Eurico Guterres, tokoh kelompok pro-Indonesia di Timor Leste, membenarkan dugaan Sintong. "Tentara yang menembak massa di Santa Cruz tidak dikontrol oleh Sintong," katanya pekan lalu.

Dalam laporannya yang dirilis April tahun lalu, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste menemukan sejumlah kesaksian yang menyebutkan penembakan dilakukan oleh belasan prajurit dari Kompi A Batalion 303. "Sejumlah tentara bertelanjang dada menembak dari dalam Taman Makam Pahlawan Seroja yang berseberangan dengan Santa Cruz,.

Dalam bukunya, Sintong juga mengaku tidak mengerti mengapa para prajurit itu ada di lokasi. "Sebagian anggota batalion itu sedang diistirahatkan dari operasi karena stres dan jenuh di hutan. Mengapa mereka ada di Santa Cruz?".

Sumber Tempo menyebutkan kecurigaan Sintong mengarah kepada Prabowo Subianto. Sintong dan Prabowo memang sudah lama tak akur. Letnan Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, kawan dekat Prabowo, saat itu adalah Wakil Komandan Satuan Tugas Intelijen di Timor Timur. "Pak Sintong curiga karena Prabowo sering datang ke Dili, menemui Sjafrie, padahal Prabowo sudah tidak bertugas di sana," kata seorang perwira yang pernah bertugas di Timor Leste.

Prabowo juga sering menemui tokoh kelompok pro-integrasi garis keras, seperti Bupati Manatuto, Abilio Jose Osorio Soares. Setelah peristiwa Santa Cruz, Abilio diangkat menjadi Gubernur Timor Timur menggantikan Mario Viegas Carrascalao.

Kolonel (Purnawirawan) Gatot Purwanto, mantan Komandan Satuan Tugas Intelijen pada Komando Pelaksana Operasi di Timor Timur, menegaskan bahwa laporan bakal adanya unjuk rasa besar di Dili sebenarnya sudah diketahui jauh-jauh hari. "Karena itu, saya tidak mengerti mengapa tidak ada pasukan dan kendali memadai untuk mengantisipasi," katanya. Gatot sendiri dipecat pasca-insiden Santa Cruz.

Menurut Gatot, demonstrasi itu dirancang untuk memancing kemarahan tentara Indonesia. Penusukan atas Mayor Andi Gerhan Lantara, Wakil Komandan Batalion Infanteri 700/Linud, pada saat unjuk rasa berlangsung juga bagian dari skenario itu.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang juga kawan dekat Prabowo, Fadli Zon, menilai semua tuduhan dalam buku biografi Sintong Panjaitan mengada-ada. Dia juga membantah ada kaitan antara Prabowo dan insiden Santa Cruz. "Itu ngawur," katanya pendek.
Wahyu Dhyatmika, Akbar Tri Kurniawan


Sumber : 

Tim Sumpit

Yonif 600 / Raider


☆ Raider Bersumpit ☆

"Senjata sumpit ini memang hebat dan tidak kalah dengan senjata api, pistol ataupun senapan. Oleh karenanya, satuan ini menjadi tertarik mengadopsinya menjadi salah satu peralatan tempur prajurit dan mengkombinasikannya dengan senjata organik militer mereka, Untuk dipergunakan bagi kepentingan tugas.”

Sebagai satuan tempur yang memang dalam kehidupan kesehariannya bergaul dengan senjata mematikan untuk membunuh musuh, maka Yonif 600/Raider yang bermarkas di Kalimantan ini terinspirasi oleh senjata yang biasa dipergunakan oleh Suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Senjata Sumpit yang biasa digunakan oleh Suku Dayak ini untuk berburu binatang, dengan menggunakan anak sumpit yang ujungnya diberi racun dari ramuan getah tumbuh-tumbuhan dan bisa binatang buas, dapat menimbulkan efek kematian yang relatif singkat pada sasaran yang disumpitnya.

Realisasinya, pada Pebruari 2003 satuan ini membentuk “Tim Sumpit”, yang personelnya diambil dari para prajurit batalyon keturunan asli Dayak. Sebulan kemudian, Yonif 600/Raider mendatangkan pelatih dari tokoh Dayak Pedalaman yang terkenal dengan sumpit beracunnya untuk melatih 25 orang prajurit tentang cara penggunaan sumpit dan pembuatan racun yang dipakai untuk anak sumpit.

Memang, sebelum masuk menjadi tentara, kedua puluh lima orang prajurit itu sudah terbiasa menggunakan sumpit dalam kehidupan sehari-harinya untuk berburu hewan di hutan. Namun didalam penggunaan ramuan yang dipakai untuk anak sumpit berbeda-beda, karena mereka berasal dari bermacam-macam Suku Dayak. Agar terdapat kesamaan dalam penggunaan ramuan racun anak sumpit, yang menghasilkan racun yang sangat bagus, mematikan dan cepat reaksinya, maka mereka dibimbing selama tiga bulan oleh para tokoh Suku Dayak pedalaman Kalimantan itu. Selain itu, mereka juga mendapat pelatihan tentang bagaimana cara membawa dan teknik menggunakan senjata sumpit di medan pertempuran, mengingat mereka juga harus tetap membawa perlengkapan perorangan, termasuk ransel dan sejata api.

Setelah latihan selesai, lalu kedua puluh lima orang prajurit itu disebar ke kompi-kompi dan pada setiap seminggu sekali, mereka memberikan pelatihan kepada rekan-rekannya yang lain, agar seluruh anggola Yonif 600/ Raider mampu menggunakan sumpit.

Inisiatif dan upaya keras untuk menjadikan Sumpit sebagai senjata prajurit ini ternyata tidaklah sia-sia. Terbukti saat Yonif 600/ Raider bertugas ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 2004¬2005, personel Tim Sumpit yang disebar ke dalam tiap-tiap tim, dengan pembagian di setiap tim terdapat tiga hingga empat orang prajurit berkemampuan menggunakan senjata Sumpit, berhasil membunuh empat orang. pemberontak GAM, sekaligus menyita empat pucuk senjata AK-47 yang mereka pakai.

Ceritanya, pada Februari 2004 saat Tim Anas-1 Kipan A Yonif 600/Raider yang dipirnpin Lettu Inf Mulyadi melaksanakan penyergapan di Kampung Blang Sukun, Pidie. Ketika itu, tim dibagi menjadi empat kelompok, salah satu tim dipimpin Oleh Kopda Impung Upai, salah satu personel “Tim Sumpit, yang jabatan sehari-harinya di satuan adalah sebagai Tamtama Penembak SMR (Senapan Mesin Ringan). Sebelum kelompok lain masuk kedudukan, Kelompok-4 yang dipinpin Kopda Impung Upai, putra asli Dayak kelahiran Datah Bilang, Tenggarong 6 Juli 1977  ini adalah kelompok yang pertama kali masuk kedudukan. Saat akan masuk, terlihat satu orang pos tinjau GAM lengkap dengan senjata AK 47 sedang berjaga-jaga. Agar gerakan tetap rahasia dan kehadiran pasukan tidak diketahui musuh, Kopda Impung Upai lalu melumpuhkan pos tinjau tersebut dengan menggunakan sumpit. Anak sumpit tepat mengenai leher bagian belakang anggota GAM itu. Tidak lebih dari 10 detik, orang itu roboh dengan tidak menimbulkan suara berisik.

Senjata lain mereka ambil. Dengan tewasnya pos tinjau GAM tersebut, kelompok lain dari pasukan Yonif 600/Raider dapat masuk kedudukan dengan aman tanpa diketahui GAM dan penyergapanpun dapat dilaksanakan dengan sukses tanpa ada korban dari pihak kawan.

"Raider menggunakan sumpit sebagai senjata mematikan untuk menghadapi musuh di dalam penugasan inilah, yang merupakan ciri khas Yonif 600/Raider dan membedakan satuan kami dengan satuan Raider lainnya di Indonesia" ujar Danyonif 600/Raider Letkol Inf R. Haryono.

Penggunaan sumpit memang sangat cocok untuk pasukan Raider, yang salah satu semboyannya adalah “senyap dalam bergerak”. Selain untuk menjaga kerahasiaan gerak pasukan, juga untuk “bunuh senyap”. Keberadaan senjata sumpit terasa tepat menggantikan fungsi senjata berperedam, yang Iebih diperuntukkan bagi aksi pertempuran kota atau Pertempuran Jarak Dekat (PJD) dan tidak dipergunakan untuk medan-medan penugasan berupa hutan.

Dengan mempelajari kesuksesan penggunaan sumpit di medan tugas, maka sampai sekarang Yonif 600/Raider tetap memelihara kemampuan personelnya dalam menggunakan sumpit dan menjadikan penggunaan sumpit sebagai kualifikasi seluruh personel Yonif 600/Raider, sekaligus melakukan regenerasi personel Tim Sumpit dengan merekrut para prajuril batalyon yang berasal dari etnis Dayak. Suku Dayak mengenal berbagai macam senjata yang biasa digunakan untuk berburu dan berperang pada zaman dahulu atau untuk kegunaan sehari-hari, seperti di ladang. Misalnya sumpitan (sipet), mandau, lonjo (tombak), perisai (telawang), dan taji. 

Senjata sumpit berupa buluh dari batang kayu bulat sepanjang 1,9 meter hingga 2,1 meter. Sumpit harus terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin, tampang, lanan, berangbungkan, rasak, atau kayu plepek. Diameter sumpit dua hingga tiga sentimeter yang berlubang di bagian tengahnya, dengan diameter lubang sekitar satu sentimeter. Lubang ini untuk memasukkan anak sumpit atau damek. Secara tradisional, kalau ingin tepat sasaran dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya, Bagian yang paling penting dari sumpitan, selain batang sumpit, yaitu pelurunya atau anak sumpitnya yang disebut damek. Ujung anak sumpit runcing, sedang bagian pangkal belakang ada semacam gabus dan sejenis dahan pohon agar anak sumpit melayang saat menuju sasaran.

Racun damek oleh etnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagai getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular dan kalajengking. Selain beracun, kelebihan yang dimiliki senjata ini dibandingkan dengan senjata khas Dayak lainnya, yakni kemampuan mengenai sasaran dalam jarak yang relatif jauh. Jarak efektif bisa mencapai puluhan meter, tergantung kemampuan si penyumpit. Selain itu, senjata ini juga tidak menimbulkan bunyi. Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar musuh maupun binatang buruan yang sedang lengah.


☆ Sumber dari Majalah Defender ☆
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...