Jumat, 08 Juni 2012

Camp Pelatihan OPM Digerebek, Satu Orang Ditangkap

Salah satu camp pelatihan OPM (Helmi/dok)
SATUAN gabungan dari Satgas BAN Kopassus dan Intel Polres melakukan penyergapan pada sebuah lokasi di daerah distrik Angkaisera Kp Wadapi, Papua. Tempat tersebut dijadikan sebagai camp pelatihan oleh Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM). Satu orang anggota OPM ditangkap dalam penyergapan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Dandim 1709/Yawa Letkol inf Tornado kepada pers, Kamis (31/05). Penyergapan dan penyisiran pimpinan Kapten Inf Teuku Ridwan beserta 7 orang dari anggota Satgas Ban Kopassus dan Intel Polres Serui.

“Kami berhasil menemukan 1 Lapangan apel/upacara seluas 6.000 meter, halang rintang, peluncuran air, pionir pertahanan, pos tinjau, 17 tenda kamp besar, pos jaga satri, tenda logistik, dapur lapangan, fasilitas kesehatan dan obat-obatan serta perlengkapan komputer,” katanya.

Tornado mengatakan, dari hasil penyergapan tersebut berhasil di amankan anggota TPN-OPM atas nama John Tedi Nuntia. Selain itu, tim gabungan juga menyita 3 buah kamera Handycam sebuah senjata rakitan, 2 buah golok, 1 buah Bendera Bintang kejora 4X2 m, 1 buah BK 60X30 cm, printer 8, dokumen latihan, jadwal, struktur organisasi, pendistribusian logistik, rencana pertemuan dan latihan, tata tertib latihan, kartu kepanitiaan dan peserta latihan, daftar peserta latihan, materi latihan, daftar pelatih, baju loreng dari Yonif 751 dan 753 dan 2 buah Granat latihan.

Tidak hanya itu saja, Dandim menyampaikan dari hasil penyisiran selanjutnya, didapat berupa, 2 unit motor, 1 senjata rakitan, 4 buah senjata angin, 2 buah tombak, 3 buah kapak, 6 buah golok, 7 Amunisi kaliber 55,6 mm, 7,56 mm ,9 mm ,12,7 mm, 1 buah Mesin genset, 1 buah mesin chansaw, 4 buah Jubi, Bahan-bahan logistik beras dan perlengkapan dapur.

Sementara itu Kabid Humas Polda Papua AKBP Yohannes Nugoroho Wicaksono juga membenarkan telah di lakukan penggerebekan terhadap markas TPN OPM di kabupaten Yappen.

“Benar kami telah temukan tempat atau Camp Pelatihan TPM OPM di wilayah wadapi distrik Angkaisera kab. Kepulauan Yapen seluas 1,5 Ha. Waktu dilakukan penggrebekan TPM OPM melarikan diri yang berhasil ditangkap 1 orang atas nama Tedi John Muntia, 26, pekerjaan anggota TPM OPM, alamat kampung Kabuena Distrik Angkaisera,” tegasnya

Dari hasil pemeriksaan bahwa yang bersangkutan adalah anggota pelatihan militer TPM OPM. Yang mana bahwa jumlah peserta latihan 230 orang.

“Saat ini yang bersangkutan sedang di periksa secara intensif di Polres Yapen. Rencananya kami juga akan mengejar pimpinan dari sekelompok seperatis ini,” tegasnya. (nif/rin/kap)

★ SS Bullpup

 Proyek SS-2000 Pindad

Bullpup adalah konfigurasi senjata api, dimana mekanisme dan magazennya terletak di belakang pelatuk. Konfigurasi seperti ini meningkatkan perbandingan panjang laras terhadap panjang total senapan, yang memungkinkan membuat senapan yang larasnya sama dengan laras senapan biasa, tapi total panjang senapan lebih pendek. Keuntungannya selain lebih pendek, juga relatif lebih ringan.

Dibandingkan senapan serbu konvensional, panjang senapan serbu bull-pup umumnya lebih pendek. Keakuratannya diklaim produsennya jauh lebih baik dibandingkan senapan serbu konvensional. Hal ini disebabkan tekanan dari letusan lebih tertahan, karena mekanis ada di belakang senapan. Namun demikian, di tengah tumbuhnya kecenderungan produksi senapan bull-pup, belum diimbangi respons kalangan militer di sejumlah negara yang menyukai senapan serbu konvensional. Walau senapan serbu jenis bull-pup banyak dipromosikan sebagai sosok senapan serbu masa depan (futuristik). Kondisi demikian, tampak dialami sejak dua tahun terakhir. Perkembangan dan produksi senapan serbu bull-pup berkembang pesat di berbagai negara. Maka, dari seluruh pasukan di dunia, yang menggunakan senapan bull-pup secara massal, sampai kini hanya diketahui Inggris, Prancis, Austria, Australia, dan Malaysia. Negara adidaya AS pun belum tertarik menggunakan senapan bull-pup sebagai standar pasukannya.

Industri senjata Indonesia melalui PT Pindad pun tak mau ketinggalan, melalui projek SS-2000 (SS3-V1) yang pernah berhasil di kembangkan dan sempat bercokol di Indo-defence 2006, walau sampai kini masih tak jelas perkembangannya, Urusan perawatan mekanis dan harga lebih mahal menjadi kendala utama penggunaan senapan jenis bull-pup. Begitu juga pengembangannya Di Indonesia, banyak kalangan militer mengaitkan dengan kebiasaan, senapan bull-pup dirasakan terlalu pendek dan kurang cocok digunakan.

Berikut adalah beberapa gambaran mengenai proyek SS-2000 (SS3 v1) buatan Pindad yang sempat bercokol di pameran Indo-defence 2006 dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Sistem operasi setia mengadopsi sistem gas piston milik AK 47 serta pendahulunya SS1, SS2, FN Fal, FN Fnc, Steyr AUG yang sudah terbukti kehandalannya.

2. Dengan layout bullpup dimana pasokan amunisi berada dibelakang triger group/pelatuk, sosok senapan dapat dipangkas sampai 25 % tanpa mengurangi performa balistik. Sosok senjata yang ringkas sangat mendukung dalam skenario PJD/ pertempuran jarak dekat (Close quarter battle); sesuai digunakan dalam operasi antiteror yang kerap terjadi di dalam bangunan/gedung yang memiliki ruang gerak sempit. Keuntungan lain adalah sosok senapan yang ringkas menyesuaikan dengan postur tubuh rata-rata orang Asia.

3. Dari segi receiver/bodi senjata, 70 % material SS ini dibuat dengan bahan high resistant impact polymer ala Steyr AUG yang ringan namun kuat. Dari segi design, receiver tempat mekanisme dan masuknya magazine, handguard, dan pistol grip masih setia menganut model SS2 sehingga memudahkan pengguna terutama dari pihak TNI/Polri (konsumen utama), sedangkan buttstock/popor mengadopsi model bawaan senapan Keltec RFB (rifle forward ejecting bullpup) yang ergonomis di bahu operator.

4. Dilengkapi dengan picatiny rail yang dipasang secara kuadrupel (4 sisi); atas, kanan, kiri, serta dibawah handguard sehingga menawarkan akomodasi penggunaan optik dan aksesori pendukung yang fleksibel; ex: pemasangan front grip pada SS3 V1 untuk mempermudah akuisisi target ataupun bipod seperti varian SS3 V4 Sharpshooter.

5. Sistem bidik bawaan standar masih memakai model pisir pejera berbentuk carrying handle milik SS2. Khusus pejera, dapat dilipat ke bawah dan menyatu dengan tabung gas saat tidak digunakan. Berkat adannya picatiny rail, operator dapat menggantinya dengan optik sesuai dengan tuntutan operasi/kebutuhan (SS3 V3 CQB yang dipasangkan dengan optik Meprolight M21 buatan Israel/ SS3 V4 sharpshooter dengan optik lansiran Pindad).

6. Cocking handle/tuas pengokang berada di atas handguard pada kesua sisi senjata sehingga memudahkan operator, terutama operator kidal untuk mengokang senjata.

7. Ejection port/lubang keluarnya selongsong peluru dibuat pada kedua sisi. Sekali lagi untuk menghindarkan operator kidal dari lontaran selongsong panas. Sama dengan sistem yang dianut Steyr AUG, operator cukup memasang left bolt assembly dan menutup ejection port yang kiri sehingga selongsong keluar lewat kanan.

8. Fire selector/tuas pilih mode tembakan juga dibuat ambidextrous/dibuat pada kedua sisi.

9. Semua varian SS3 dapat dipasangkan dengan bayonet bawaan SS1, SS2, maupun M16 (bayonet m7) sehingga masih bisa digunakan dalam hand to hand combat. Selain itu, model bayonet yang sama akan mempermudah urusan logistik TNI nantinya.

10. Untuk menambah daya pukul, varian SS3 V1 dan V3 dapat dipasangi pelontar granat baik itu SPG 1 (senapan pelontar granat standar TNI buatan Pindad) maupun SPG 2 (model senapan pelontar granat untuk FN F 2000). Sebagai pembidik, kedua varian diatas dilengkapi dengan leaf dan quadrant sight yang menjamin akurasi sampai 400 m.

11. Khusus pada varian SS3 V4 sharpshooter, laras senapan memiliki profil heavy barrel untuk menjamin daya tahan laras saat sustained fire (rentetan panjang) sekaligus akurasi pada jarak jauh. Dapat dilengkapi lightweight bipod untuk menstabilkan senjata. Sistem bidik standar dapat diganti dengan FN scope yg telah dimiliki oleh inventori TNI ataupun memasangkannya dengan optik buatan pindad lainnya.

12. Laras pada semua varian SS Bullpup dipasang dengan teknik free floating barrel sehingga menjamin akurasi sejak pertama kali senjata ditembakkan.

SS Bullpup (foto audryliahepburn)
Diketahui perancang senjata ini adalah seorang prajurit TNI. Bermula menimba ilmu senjata dari kakak, Dia pun bisa langsung berkarya ketika menjadi prajurit Kopassus. Bahkan, pada 2006 Ade sukses meraih juara II lomba karya cipta teknologi TNI dengan karya desain senjata serbu SS-1 yang diproduksi PT Pindad. SS-1 didesain menjadi senjata jenis bullpup.

Sejak itu nama Ade Kusnadi dikenal di kalangan militer sebagai desainer peralatan senjata TNI. Setahun kemudian pria yang berulang tahun setiap 12 Desember itu mendapat tugas di Dislitbang TNI-AD Lembang. "Saya mendapat kepercayaan membuat desain program penelitian submaterial utama yang membawahkan senjata dan kendaraan," tuturnya.(Lihat Sertu Ade)
 Spesifikasi SS Bullpup :

Negara asal : Indonesia
Kaliber : 5,56 x 45 mm NATO/MU5 TJ Pindad
Kapasitas magazine : 30 peluru
Mekanisme : Gas operated, rotating bolt
Berat : 3,4 kg (loaded)
Rate of fire : 750 rpm
Jarak efektif : s/d 600 m (SS 3 V1 & V2), +1000 m (SS3 V4 Sharpshooter)
SS Bullpup (foto beritahankam)
sumber rixco/jpnn

Operasi Pembebasan Sandera Somalia

Perompak Somalia menjadi momok dunia, tapi pasukan TNI berhasil membebaskan sandera tanpa korban di pihak TNI maupun sandera. Bagaimana operasi pembebasan sandera itu? Untuk itu, Redaksi Jalasena mewawancarai Laksamana Pertama TNI A.Taufiqurrahman.
 Kesaksian Laksamana Pertama TNI A. Taufiqurrahman

Laksma TNI Taufiq Dan Guspurlabar
Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI Kawasan Barat

Aneka komentar dan kontroversi tentang penyanderaan Kapal Sinar Kudus dengan 20 orang ABK dan Kapten Kapalnya di media massa tidak sempat diikuti oleh Laksamana Pertama A. Taufiqurrahman yang akrab disapa Laksma Taufiq, lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1985. “Dalam dua belas jam setelah pengangangkatannya di pagi hari sebagai Komandan Gugus Tempur Laut Armada Barat (Guspurlabar), saya sudah harus berangkat tugas,” kenangnya. Semula Laksma Taufiq adalah Komandan Komando Latihan (Kolat) Armada Timur. Ia mengaku belum sempat memasuki ruangan kantor barunya, karena keburu berangkat tugas berlayar.

Taufiq bertugas memimpin pasukan pertama yang dikirim ke Somalia. Pasukan ini diangkut oleh dua kapal perang jenis fregat yaitu KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusumah. Kedua KRI juga dilengkapi dengan 1 helikopter dan boat Sea-Rider. Pasukan itu menjadi bagian dari Satgas Merah Putih yang terdiri dari 480 personel. Pasukan ini terdiri dari anak buah kapal, personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan Laut, Detasemen Jala Mangkara, Sat-81/Kopassus, dan Unit Intai Amfibi Marinir.

Pasukan kedua adalah satgas pasukan kekuatan pendukung yang dipimpin oleh Mayor Jenderal (Marinir) Alfan Baharudin. Pasukan ini menyusul dengan kapal jenis LPD, KRI Banjarmasin. Kapal diawaki oleh 488 personel terdiri dari Kopaska Angkatan Laut, Pasukan Intai Amphibi Marinir, Kopassus Angkatan darat, pasukan Ray Hoowitzer, Kopassus dan Unit Ton Tai Pur Kostrad. KRI Banjarmasin juga dipersenjatai dengan 1 heli NP-412, 7 boat Sea-Rider, 5 tank BMP3F, 4 unit Howitzer dan 18 perahu karet. Pasukan pendukung terakhir adalah satgas intel gabungan yang terdiri dari 15 personel intelijen TNI dan personel Badan Intelijen Negara (BIN). Total pasukan 999 personel. Panglima mengatakan operasi ini direncanakan dalam waktu yang sangat singkat dengan beberapa kendala, seperti tujuan operasi yang jauh dan posisi pangkalan terdekat berada di negara lain.
 Sinar Kudus Korban Pembajakan

Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin
Komandan Satgas Merah Putih
Mungkin orang tidak banyak tahu bahwa Kapal Sinar Kudus yang berangkat dari Pomalaa, Sulawesi Selatan menuju Rotterdam, Belanda pada tanggal 16 Maret 2011. Kapal itu diawaki oleh 20 orang di antaranya WNI dengan Kapten Kapal Slamet Jauhari. Sinar Kudus bermuatan biji nikel yang seharusnya sudah sampai di Rotterdam 34 hari setelah keberangkatan.

Malang bagi kapal itu di Teluk Aden di wilayah perairan Somalia terdapat 28 kapal yang disandera dengan 600 orang sandera di dalamnya. Mereka sudah berbulan-bulan tersandera menunggu pembebasan. Somalia telah kehilangan pemerintah yang stabil dan dicabik oleh perang saudara sejak tergulingnya Presiden Mohamed Said Barre pada 1991. Di sebuah negara yang kekurangan sekali kesempatan kerja, perompakan dapat menciptakan “lapangan pekerjaan” dengan gaji bulanan yang besar. Tidak mengherankan bila masalah pembebasan sandera bukan masalah sederhana. Operasi penyelamatan yang dilakukan harus tetap mengindahkan kedaulatan negara Somalia. Pembebasan sandera selalu menghindari collateral damage yaitu jatuhnya korban yang tidak dikehendaki atau akibat-akibat besar yang tidak diharapkan.

Sebagai prajurit TNI AL, Taufiq kemudian menyusun Rencana operasi untuk melaksanakan tugas memimpin pasukan pertama itu dengan sukses. Sebagai pribadi, ia harus menjamin bahwa keselamatan sandera tetap menjadi prioritas utama dan perintah tugas kepada prajurit di bawahnya merupakan perintah maut, karena dekat sekali dengan ancaman kematian sehingga penugasan ini bagaimana pun sempat memerlukan pertimbangan yang cermat dan cerdas. Tetapi, bagi Taufiq operasi seperti ini bukan yang pertama. Meskipun dalam skala yang lebih kecil, operasi pembebasan pernah dilakukannya.

Pengalaman Taufiq pada tahun 2004 memberi keyakinan itu. Ketika itu kapal tanker Indonesia dibajak oleh salah satu kekuatan separatis Indonesia di Selat Malaka. Bukan kebetulan, sebelumnya Taufiq menempa anak buahnya untuk berlatih menghadapi ancaman intensitas rendah yang harus dihadapi dengan kemampuan perseorangan. Tentu saja banyak komentar dari rekan-rekannya, bahwa ia mengada-ada, karena membuat latihan-latihan itu. Tetapi, kenyataan di lapangan tugas memang berbeda. Ancaman itu datang. Ketika bantuan yang ia minta, tidak kunjung datang, maka pembebasan harus dilakukannya bersama anak buahnya. Pembebasan kapal tanker itu mampu dilaksanakan bersama anak buahnya. Konflik fisik dengan para penyandera dalam jarak dekat pun terjadi dengan sengit. Semua perompak tewas dan beberapa di antaranya tertembak hanya pada jarak 1,5 meter.
 Operasi Pembebasan

(Foto Dok. Guspurlabar)
Bagi pemerintah Indonesia dan TNI, operasi pembebasan di laut ini merupakan operasi jarak jauh pertama yang dilakukan. Komando penuh di tangan Presiden, Komando Operasi di tangan Panglima TNI dan Komando Taktis di tangan Danguspurlabar. Di Somalia sudah ada kesatuan-kesatuan keamanan lain yang sudah beroperasi, seperti European Naval Forces dari Uni Eropa, dari PBB, dari NATO dengan Maritime Group 2 yang dikepalai oleh seorang Laksamana dari Belanda; Sementara itu, Amerika Serikat sudah menggelar tiga Task Force, satu untuk menjaga dan menjamin keamanan wilayah perairan setempat, antiperompakan, dan satu lagi Task Force yang khusus untuk keamanan di Teluk Persia. Operasi penyelamatan yang dilakukan Indonesia mau tak mau harus berkoordinasi dengan kesatuan-kesatuan itu agar tidak timbul konflik yang tidak diinginkan.

Kekuatan yang sudah tergelar mempunyai unique challenge, diantaranya operasi-operasi di pantai-pantai yang menjadi basis perompakan tidak dapat dilakukan, karena menghindari dikorbankannya dua jenis nyawa manusia, yaitu nyawa korban dan penduduk sipil. Taufiq pertama-tama membuat kalkulasi bagaimana karakter orang-orang Somalia itu? Imbangan daya tempur seperti apa yang harus dibangun? “Orang Somalia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, sehingga bila rasa nasionalisme mereka tersinggung, bagi mereka tidak ada rasa takut sedikit pun untuk melakukan apa saja, termasuk bertempur mati-matian,” tegas Taufiq. Para perompak itu diperkirakan didukung oleh 70 persen penduduk pantai sehingga menyulitkan operasi pembebasan. Sandera selalu dijadikan perisai hidup. Pernah terjadi, kata Taufiq, kapal India yang mendekat untuk membebaskan sandera. Buru-buru nakhoda kapal mendapat tondongan senjata sehingga lewat pengeras suara nahkoda kapal dipaksa meminta tentara yang mau menyelamatkan itu untuk menjauh. Tentu saja, tentara yang mau membebaskan itu kemudian mengurungkan niatnya agar sandera tidak menjadi korban.
 Drama Pembebasan

Melaksanakan patroli dan pengamatan perairan Somalia dari udara
Kapal Sinar Kudus berangkat pada tanggal 23 Maret 2011 sehingga diperkirakan tanggal 10 April bahan bakar di kapal itu akan habis. Oleh karena itu, KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma direncanakan tanggal 2 April berada di Laut Arab. Ketika tanggal 29 Maret Kapal sampai di Colombo, ternyata Sinar Kudus sudah lego jangkar 3 mil dari Pantai Somalia sejak tanggal 25 Maret.

Taufiq merasa percaya diri, karena operasi ini didukung oleh pasukan elit TNI, seperti dari Den Jaka, Sat-81/Gultor, Batalyon Inti Amphibi, Kopaska, 4 Sea Riders, dan 2 Frigate. Pada saat mendekat ke Perairan Somalia dilaksanakan pengamatan permukaan dan udara yang dimulai dengan jarak 400 mil, hingga jarak 20 mil dengan terus mengikuti perkembangan komunikasi radio dengan satuan-satuan lain dari mancanegara yang beroperasi di perairan itu disertai sejumlah pengintaian ke kapal. Karena, kapal yang disandera banyak, tidak mudah menemukan Sinar Kudus.

Pengintaian dan pengamatan dilakukan dengan cermat dan terus menerus. Sesuai dengan arahan arahan Presiden, operasi penyelamatan baru bisa dilaksanakan bila tingkat keberhasilan dapat dicapai minimal 70 persen. “Padahal menurut saya baru 50 -50 persen”, kenang Taufiq. Sebabnya, meskipun kapal Sinar Kudus sudah ditemukan, tetapi pasukan penyelamat belum tahu dimana sandera berada? Kapal masih merapat di garis pantai sehingga bila operasi dijalankan akan menimbulkan masalah hukum tersendiri.

Sambil menunggu moment yang “opportuned” maka kapal bertolak ke Oman untuk membangun Staging Base, baik untuk logistik maupun bahan bakar yang dapat dianggap sebagai Pangkalan Aju. Atase Pertahanan di kota Riyad – kebetulan namanya Ahmad Riyad bertugas untuk mengatur segala kelengkapan pangkalan itu, seperti logistik maupun penyediaan tenaga medis. Baru dua hari di kota itu, ada perintah dari Mabes TNI untuk “membebaskan sandera sekarang!” Dalam operasi militer tugas prajurit adalah membebaskan sandera, jadi tidak tunduk pada tuntutan perompak untuk membayar uang tebusan. Tetapi Sinar Kudus adalah kapal niaga. Rupanya PT Samudera Indonesia, melakukan negosiasi untuk pembebasan sandera. Salah satu anggota pembajak pernah menyatakan kepada Reuters mereka telah membebaskan Sinar Kudus setelah menerima pembayaran uang tebusan US$ 3 juta. Menurut pembajak, seperti dikutip kantor berita itu, mereka sedang meninggalkan kapal dan sedang mempersiapkan pelayaran lain. Ketika berita pembebasan itu dikonfirmasi ternyata masih para awak perompak di atas kapal, sehingga ABK belum bisa dikatakan bebas. Di samping itu, tidak ada jaminan bahwa setelah dibebaskan, kapal tidak disandera lagi oleh kelompok perompak yang lain.
 Ditunda

Mengamati situasi perairan Somalia
Perintah pembebasan itu harus ditunda, karena rupanya ada proses negoisasi lain oleh pemilik kapal. Taufiq diperintahkan untuk mengawal KM Labobar yang mengangkut TKI ke Jeddah. Setelah tugas itu selesai kembali ada perintah “Laksanakan pembebasan, penyelamataan crew, pengawalan ke tempat yang aman, dan melaksanakan penindakan sesuai pertimbangan taktis”. Operasi yang dipimpin Taufiq dapat disebut sebagai ‘Temporary Independent Deployment ” sehingga ia harus berkoordinasi dengan European Naval Forces yang kapal-kapalnya hadir di perairan itu.

Ada kekhawatiran saat kapal sudah dibebaskan akan dibajak lagi. “Perlu diketahui paling tidak ada 4 kelompok perompak di Somalia. Tiga kelompok setuju pembebasan, dan satu kelompok menolak,” kenang Taufiq. Oleh karena itu, seiring dengan usaha lain yang dilakukan oleh pemilik Sinar Kudus, sudah saatnya operasi dijalankan. Rencananya kapal akan dibebaskan jam 14.00. KRI Yos dan KRI AHP siap memantau perkembangan. Saat itu di samping kapal-kapal Indonesia ada kapal Amerika USS Brain Birds dan satu Frigate dari Italia. Ketika helikopter pengintai diterbangkan mendekati pembajak, dapat diketahui bahwa di antara pembajak di dalam kapal belum ada kesepakatan.

Setelah ditunggu-tunggu pembebasan tidak terjadi dari jam 15.00 waktu setempat sampai jam 17.00, sampai jam 20.00. Taufiq makin yakin bahwa pembebasan harus dijalankan antara pukul 1 sampai 2 dini hari.

Ternyata kapal melakukan lego jangkar untuk mendekati pantai Somalia dalam jarak 3 mil dari pantai. “Dari para pembajak itu rupanya ada orang angkatan lautnya sehingga tahu hukum internasional untuk meredam upaya pembebasan”, kenang Taufiq. Oleh karena itu, Taufiq memutuskan untuk mencegat kapal itu di kota Eyl yang berjarak 10 mil arah Utara perairan Somalia. Dari jarak 3 mil Helikopter disiapkan dengan dilengkapi General Purpose Machine Gun (GPNG) di sebelah kanan dan di sebalah kiri disiapkan para sniper (penembak jitu) menuju ke Sinar Kudus. Pada jarak aman pasukan turun dan 3 perompak tertembak yang salah satunya memakai kaos milik Mualim Kapal Sinar Kudus. Dua di antaranya bernama Farah dan Abdulkadir yang dikenal paling galak. Semula perompak itu akan ditangkap, tetapi ternyata mereka melawan dengan menembaki heli. “Mereka menembak Komandan!” lapor anggota pasukan. Taufiq pun memerintah, “Sapu!” Semua perompak dapat ditewaskan. Kapal Sinar Kudus dapat diselamatkan. Di salah satu media ditulis, kesakisan salah satu satu ABK Sinar Kudus, “Saya tugasnya di kamar mesin, jadi tidak tahu pasti. Tapi sempat melihat tiga perompak yang sebelumnya menembak helikopter TNI AL, ditembak mati.” “Terima kasih. Kalau Bapak tidak sabar kami mati semua!” tagas para ABK. Sinar Kudus melaju ke wilayah aman. Drama penyanderaan Sinar Kudus selama 61 hari berakhir.
 Mogok

Dua Searider bermanuver untuk menjajaki situasi menjelang aksi pembebasan KM Sinar Kudus
Keesokan harinya kapal Sinar Kudus mogok, karena mesin pendingin tidak berjalan akibat kehabisan air. Taufiq memerintah KRI Yos Sudarso untuk memberikan 20 ton air agar pendingin dapat berjalan kembali. Tanggal 4 Mei sampai di Pelabuhan Salalah, Oman untuk mengganti semua ABK yang bertugas. Para ABK yang telah dibebaskan dari penyanderaan akan diangkut pulang ke tanah air dengan pesawat. Untuk menjaga keamanan di kapal ditempatkan 7 orang pasukan.

Ketika kapal berada 100 mil dari Oman ada teriakan tanda bahaya dari kapal Uni Emirat Arab yang disergap kapal-kapal pembajak. Oleh karena itu, KRI Yos Sudarso berputar arah untuk menghalau para perompak itu. Tembak - menembak terjadi di kegelapan lautan. Tidak bisa dikonfirmasi berapa pembajak yang tewas sebelum mereka melarikan diri. Bagi para pembajak, mati dan hidup rupanya “tidak menjadi masalah serius”. Taufiq menyaksikan, perompak yang tewas langsung dibuang ke laut oleh teman-temannya. “Nyawa orang kok dianggap enteng saja,” tegas Taufiq yang mengaku melakukan sholat untuk para perompak yang tewas. Setelah kapal itu aman, barulah KRI Yos kembali mengawal Sinar Kudus. Komandan pasukan NATO di wilayah itu menyatakan pujian kepada Taufiq, “You do make different!”
 Karunia

KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusumah mengawal Sinar Kudus setelah dibebaskan
Bagi Taufiq, semua pengalaman itu adalah karunia Allah SWT. “Tidak ada hal yang kebetulan dalam hidup ini”, katanya merendah. Manusia ibaratnya hanyalah syariat yang dipenuhi ma’rifat dari Allah. Keberhasilan pembebasan sandera dari pembajak Somalia adalah pembebasan dramatik yang boleh jadi akan menjadi model dan modus operandi bagi pembebasan sandera-sandera lain dari para perompak Somalia yang telah menjadi momok pelayaran dagang internasional selama beberapa dasawarsa. Kecermatan yang dilakukan oleh pasukan TNI di bawah komando Dan Guspurlabar mungkin diteladani pasukan-pasukan penyelamat internasional.

Kuncinya, menurut Laksma Taufik adalah menemukan momentum yang tepat, “Kalau
terlalu cepat membahayakan pasukan, kalau terlalu lambat membahayakan para sandera.” Selama ini pembebasan sandera berhenti di tingkat perundingan dan memenuhi tuntutan pembajak. Sesuatu yang tidak memuaskan di kalangan prajurit manapun di dunia, karena mereka yakin bahwa cara militer akan bisa mengatasi persoalan perompak Somalia. Karena bagi prajurit, seperti dikatakan Laksma Taufik, “Tugas tentara adalah perang dan menang.” Dan pembebasan para sandera dari perompak Somalia yang dilakukan pasukan TNI membuktikan itu tanpa satu nyawa pun yang menjadi korban di pihak TNI maupun sandera. Bravo Laksma Taufik. Jalesveva Jayamahe! (Redaksi Jalasena)

♣ Jalasena, Edisi No. 02 Juni Th.I 2011 ♣


Kamis, 07 Juni 2012

Satran Koarmabar Gelar Latihan Penyapuan Ranjau

Berita Armabar

SATRAN KOARMABAR GELAR LATIHAN PENYAPUAN RANJAU

Jakarta, 7 Juni 2012,-- Satuan Kapal Ranjau (Satran) Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melaksanakan pembinaan personel Satran Koarmabar dalam meningkatkan ketrampilan penyapuan ranjau di geladak KRI Pulau Rangsang (PRG-727) di dermaga Fasharkan Mentinggi Tanjung Uban, Kamis (7/6).

Komandan Satran Koarmabar (Dansatranarmabar) Kolonel Laut (P) Eko Wahyono, SE., mengatakan, guna meningkatkan pembinaan personel Satran Koarmabar dalam hal ketrampilan penyapuan ranjau, maka perlu adanya latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut serta untuk mengasah naluri tempur prajurit Satran Koarmabar.

Pelaksanaan latihan penyapuan ranjau tersebut, meliputi gelar alat penyapu ranjau (APR) jenis mekanik MSG 2S di geladak KRI Pulau Rangsang - 727 yang dikomandani oleh Mayor Laut (P) Agus Darmawan yang sedang sandar di dermaga Fasharkan Mentinggi, Tanjung Uban.

Lebih lanjut Dansatranarmabar menegaskan, bahwa untuk meningkatkan profesionalisme prajurit harus dilaksanakan pembinaan secara terus menerus berlanjut dan bertingkat, sehingga ketrampilan prajurit dapat tetap dipertahankan, bahkan ditingkatkan dengan tetap mengutamakan keselamatan personel maupun materiil dalam setiap latihan atau Zero Accident.(koarmabar)

Danguspurlatim Tutup Latma Carat 2012

Komandan Gugus Tempur Laut Wilayah Timur (Guspurlatim) Laksamana Pertama TNI Ari Soedewo SE menutup secara resmi pelaksanaan Latihan Bersama (Latma) Cooperation Afloat Readiness and Training (Carat) tahun 2012 antara TNI Angkatan laut dengan US Navy, Kamis (7/6) bertempat di Gedung Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolatarmatim, Ujung, Surabaya.

Latihan yang digealr selama 10 hari itu telah berakhir hari ini. Seluruh program latihan berjalan sesuai dengan rencana dan berjalan lancar. Dengan berakhirnya latihan bersama ini, kapal-kapal perang Amerika yang bersandar di Dermaga Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya segera tolak meninggalkan kota surabaya untuk kembali ke Pangkalanya di Armada VII Pasifik.

Dalam Latma Carat 2012 kali ini, TNI Angkatan laut menerjunkan 3 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), 1 pesawat udara Cassa, 1 Helly Bell, 4 buah Tank BTR-50, 1 Batalyon Marinir, Lantamal V, Dislambair, Satkopaska Koarmatim, Kadet AAL dan siswa PWO Kobangdikal. Sedangkan dari US Navy melibatkan USS Germantown (LSD-42),USSVanegrift(FFG48), USCG Waesche, USNS Safeguard, 200 personel United States Marine Corps (USMC) dan USN Seabees.

Upacara penutupan ini juga dihadiri Rear Admiral Tom Carney adalah seorang Commander Logistics Group Western Pacific (CLWP). Juga turut hadir, Komandan Pasmar 1 Brigjen Marinir Tommy B.N, Wagub AAL Laksma TNI Taufikhurahman, para Komandan Satuan Kapal Koarmatim dan para undangan lainya. (Dispenarmatim).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...