Kamis, 02 Agustus 2012

Modern Infantry Vehicles Making Tanks Obsolete

Panser Canon Pindad (Audryliahepburn)
If procurement of main battle tanks (MBTs) in NATO and certain other countries is any indication, the era of MBTs being the bulwark of land forces may be over. Tanks seem to be losing the strategic advantage to UAVs, and force projection advantage to lighter and more agile armoured vehicles.

A study by defenseworld.net has revealed that Germany, France, U.K., and the U.S., have not issued RFPs for new MBTs in the past few years. Instead, highly mobile infantry combat vehicles (IFVs) and All Terrain Vehicles (ATVs) seem to be the flavor of the season.

Used and refurbished MBTs seem to be finding new homes in developing countries. Recently, the Czech Army announced plans to sell 134 T-72 MBTs to an unnamed African country. Earlier, the Czech Republic had sold an unspecified number of T-72s to Algeria. Taking a cue from their NATO neighbors’, the Czech army seems keen on light armored vehicles with higher mobility over the T-72 which can be bogged down in urban environments and are sitting ducks for armed UAVs and other air launched weapons in open fields.

However, some developing countries too seem to be having second thoughts about MBTs. Indonesia which is in the line to purchase 100 used German Leopold tanks has had opposition from Indonesian lawmakers who have voiced that the 62-ton German-built tank is unsuited for the far-flung archipelago with two land borders and an under-developed network of roads and bridges which would be major obstacles to their effective deployment.

IFV manufacturers meanwhile are being flooded with orders. Oshkosh Corporation recently won an order for its mine-resistant, ambush-protected all-terrain vehicles (M-ATVs) from the UAE. Since 2009 Oshkosh has received orders for more than 9,500 M-ATVs. Oshkosh Navistar International Corp. has also pursued contracts with foreign armies interested in upgrading their tactical-truck fleets.

Defense market research organization, Forecast International expects the market for IFVs to be worth more than $19.7 billion, through 2021.

As part of its modernization program, the United Arab Emirates (UAE) Army has issued an international request for proposals (RFP) for 600, 8x8 wheeled combat vehicles. Prospective contenders include BAE Systems Land Systems South Africa's RG41, the ARTEC Boxer (Germany), the FNSS Savunma Sistemleri Pars (Turkey), the General Dynamics European Land Systems Piranha 5.

South Africa is planning to procure a new IFV called Project Hoefyster. BAE Systems has offered the RG41 stating that it was more modern and cheaper than the locally-customised version of the Patria AMV currently slated for production as the “Badger”.

Johan Steyn, director Land Systems SA managing director said “Technology has evolved significantly in the years since Project Hoefyster was first launched".

“It makes sense then to look at newer solutions such as RG41 now available, which largely meet the technical requirements and could provide cost savings and broader economic benefits for the country".

China too has switched over to light armed vehicles in many applications where tanks were earlier used. China’s Type 90 armored personnel carrier (APC) and Type 90 mechanized infantry combat vehicle (MICV) represent a new generation of IFVs the country will increasingly use.

Russia was in talks with French manufacturer Panhard on the purchase of 5001-ton light armored vehicles for its border guards. Russia is scaling down the production of its T-90 tanks for its own forces though it offers a modernized version for export.

India, which has considerable inventory of Russian T-72 and T-90 tanks, has launched its Future Infantry Combat Vehicle (FICV) project. The objective is to have a highly mobile, lightweight and a lethal vehicle which can match a tank in firepower.

The Indonesian government owned manufacturing company Pindad said it will begin production of an armored fighting vehicle in 2014.
Defenseworld.net

Rabu, 01 Agustus 2012

Akademi Militer tidak Mengajarkan Kekerasan

http://www.pikiran-rakyat.com/ffarm/www/imagecache/625x350/ffarm/www/2012/08/01/karbols.jpg
PEN.AAU/"PRLM"
PARA karbol mengikuti tradisi pemberi nama suci yang berlangsung cukup seru.*

YOGYAKARTA, (PRLM).- Gubernur AAU, Marsda TNI Bambang Samoedro, S.Sos memimpin upacara pembukaan orientasi dan penyematan nama suci di Lapangan Dirgantara AAU, Rabu (1/8) yang diikuti oleh perwira pertama (pama), bintara, tamtama, karbol dan PNS AAU.

”Pendidikan di Akademi Militer adalah keras namun bukan berarti menggunakan cara kekerasan. Lembaga tidak akan segan-segan untuk memberhentikan saudara apabila saudara benar-benar melanggar melakukan tindakan kekerasan kepada para junior Karbol. Sanksi terberat yang akan diberikan adalah tindakan hukum pidana dan diberhentikan dari pendidikan AAU”, kata Bambang.

Gerakan merayap lari, guling, jungkir, adalah sebagian gerakan yang dapat disaksikan pada acara tambahan penerimaan serkar baru. Dikomandoi oleh Wingkorp karbol, acara tradisi pemberian nama suci berlangsung cukup seru. Masing-masing karbol mencari namanya yang dibawa oleh para pejabat. Dan di hadapan pejabat para karbol melakukan perintah sesuai yang diminta oleh pejabat.

Meskipun dalam kondisi puasa namun tidak tampak gerakan loyo, atau malas. Semua gerakan dilakukan dengan semangat. Tujuan acara tradisi ini dimaksudkan untuk mengenalkan tradisi yang ada dalam kesatrian AAU. Di samping itu tradisi ini dimaksudkan untuk memberikan kesan sakral dan tidak mudah masuk AAU, tradisi juga gambaran para karbol membina adik-adiknya.

Usai acara di lapangan Dirgantara, Gubernur AAU langsung memberikan pembekalan kepada para sersan karbol baru dan karbol senior. Didampingi oleh seluruh pengasuh dan pejabat AAU, Gubernur menjelaskan motivasi ketika berada di AAU. (A-147)***
(Pikiran Rakyat)

Proses Transfer Teknologi Alutsista

Di tengah memanasnya situasi di laut China Selatan, China justru ingin membuktikan diri bahwa mereka adalah saudara tua Indonesia. China tidak mencla-mencle terhadap janji mereka tentang transfer teknologi peluru kendali untuk Indonesia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXY-6l2TbnzfFWopVcEx7qpP1iLpTJT0R1veuoProaqaeHIKfCrquNfklcUrwcposKmSj73hN-_rs4iUsCwK1CJZ5BbeLZ2F4eRvit6S_Bld7UgG2NDU7zm8-CncUZfpL_OzRWi4366R4/s280/rudal-china.jpgDalam kunjungannya ke Kementerian Pertahanan, tim China yang dipimpin oleh Liu Yunfeng, Deputi Direktur Umum Sains, Teknologi dan Industri Pertahanan China (SASTIND), sepakat melakukan transfer teknologi peluru kendali C-705 secara bertahap. Tahap pertama adalah “Semi Knock Down, Indonesia merakit sedikit/sebagian dari rudal C-705 dan sisanya dikirim langsung dari China.

Tahap Kedua: Complete Knock Down. China mengirim semua komponen rudal secara terurai untuk dirakit Indonesia sepenuhnya. Adapun tahap ketiga adalah riset and development. Di tahapan ini Indonesia boleh memodifikasi peluru kendali sesuai dengan kebutuhan TNI.

Transfer teknologi ini tampaknya ala film-film tiongkok lawas tentang tahapan seorang pemuda yang hendak bergabung menjadi seorang shaolin. Pada tahap awal, pemuda tersebut disuruh memanggul dua tungku air besar dari sungai menuju padepokan, tanpa diajar bela diri sama sekali. Jika ada air yang tumpah, dia harus mengulang dari awal. Tahapan kedua si pemuda diajari ilmu kung fu dasar, jadi masih sering di”bully” oleh seniornya. Tahap ketiga barulah diajari ilmu paripurna dan kalau perlu membuat jurus sendiri.

Ini artinya, jika Indonesia tidak lulus dan memenuhi syarat tahap pertama, dia tidak akan diberikan ilmu tahap kedua dan seterusnya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk merampungkan alih teknologi rudal C-705 hingga tuntas ?

China ingin transfer teknologi rudal C-705 ini bisa cepat direalisasikan. Mereka mengharapkan proposal tahapan pertama dari China bisa ditanggapi Indonesia paling lama bulan Agustus 2012. Proposal tahapan kedua, sebulan kemudian. Adapun tahapan ketiga dibicarakan setelah tahap I dan II jelas. Persetujuan kontrak itu diharapkan tercapai paling lama tahun 2013.

Merakit rudal yang semi knock down dan complete knock down mungkin tidak terlalu susah, karena Indonesia sudah terlibat pembuatan roket selama belasan tahun.

Namun bagaimana dengan tahapan ketiga yakni riset and development ?.

Ditahapan ini yang belum jelas. Apakah China akan membuka semua akses pembuatan rudal termasuk hal yang sensitif seperti: tracking dan guidance, propulsi maupun teknologi telematri ?. Biasanya negara produsen peluru kendali mengunci rapat-rapat data tersebut. Transfer teknologi dilakukan dengan cara “spanyol” alias separuh nyolong. Sebagian data dicuri oleh agen-agen intelijen, untuk diserahkan kepada pakar teknologi mereka yang memang mumpuni.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3-F8Jx_SU2w0QZdCnVKy21rSUB4w1vIqaENX51-tfyOjIoTBdcc_g4LjJDcfbxoOexfgOcsr5SM5xU0A5ECVFu63X0PksK2YTUdvcpFw41uz9SdWLrLWIgN_bRyoYuvG0atNmxRdad_U/s280/rudal-c705-china.jpg
Rudal C705 China
Pakar-pakar rudal AS dan Rusia mencuri ilmu dari pakar-pakar Jerman yang kalah perang lalu dipaksa berbicara dan diberi suaka. Begitu pula china mencurinya dari para agen yang bertebaran di perusahaan teknologi militer AS.

Hal yang sama juga terjadi dengan Pakistan untuk kasus hulu ledak nuklir. Para teknokrat mereka yang bekerja di lembaga nuklir Belanda, mencuri informasi tsedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Setelah ilmu yang dibutuhkan dianggap cukup, mereka di”atur” untuk pulang ke Pakistan dan dikawal sangat ketat setibanya di tanah air. Bahkan rumah mereka dijaga misil anti-udara.

Jadi, agar Indonesia memperoleh seluruh alih teknologi peluru kendali C-705, bukanlah hal yang mudah. Kecuali jika China sangat berbaik hati. Tampaknya agak mustahil sebaik itu.

Hal yang membuat optimis adalah, Indonesia sedang mencoba membuat peluru kendali. Semoga pengalaman ini bisa dipadukan dengan bantuan dari China.

Guide missile Indonesia, pernah diujicoba pada tahun 2010, namun sistem kendali rudal tersebut tidak terkontrol dan menghantam area tambak udang milik PT Windu Kencana di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang, Jawa Timur. Rudal RX1210 yang memiliki berat 45 kg, panjang 3 meter dan jangkuan 11 km, melesat melebihi target yang ditetapkan alias oveshoot.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtmBhOewqC8x399LynbEIdPJRhESTBzQHjmJ7sBBalO3lIwLTS1bzDrDi0Rwg5HIpoPfznMtuSHqgQM4k1s0GlRO9bdht0cual8BN4LrY7HF9SmPiv92ZijONY-dadIRj5ki4q7jf01Ik/s280/Roket-RX-1210-Lapan.jpg
Roket RX 1210 Lapan
Apabila Indonesia berhasil menguasai guide missile melalui rudal C-705 ini, maka kerjasama ini akan menjadi sebuah loncatan besar bagi teknologi militer Indonesia. Kerjasama itu akan mengantarkan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dalam produksi senjata.

Saat ini Indonesia telah mempersiapkan satu daerah produksi situs rudal yang menghadap laut terbuka untuk percobaan pembuatan rudal C-705 yang memiliki jangkauan 120 kilometer.

Apa Motif China ?

Pepatah lama mengatakan: “Tidak ada makan siang gratis”.

Lalu apa motif china mentransfer teknologi rudal yang sangat sensitif ke Indonesia ?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZIpdHS0KgvcgvD29jF72R0X3f-dYiFZzz6GXiOCqccqkw_BCoo_eNO9ixbzasOK80OGbMP3NNoVSs38GxnHff4vhf2BkNmiUECunvGNmhOQrwZL1Jt1NCfyuOeiAOUgo8Albv1D_ijq0/s280/Rudal-C-705-China.jpg
Rudal C-705 China
Di saat China terlihat garang ke AS, Jepang, Vietnam dan Filiphina, mereka justru ingin mendekatkan diri dengan Indonesia. Tentunya hal ini mengundang tanda tanya.

Dari hari ke hari hubungan militer dan kerjasama Indonesia dan China terus meningkat. Selain kerjasama teknologi senjata, kedua negara juga meningkatkan kerjasama militer.

Bulan Juni 2012, sekitar 75 anggota Kopassus latihan bersama tentara elit China di Jinan, Shandong. Cina juga menawarkan untuk melatih 10 pilot Angkatan Udara Indonesia di simulator Sukhoi di Cina. Hubungan erat Indonesia dan China dimulai saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani kesepakatan kerjasama maritim, ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing.

Kerja sama Maritim ?

Bisa jadi trik China ini mengikuti cara Israel dalam memainkan perannya di Timur Tengah. Perdana Menteri Israel saat itu Menachem Begin sempat memprotes Presiden Amerika Serikat Jummy Carter yang mendorong perdamaian antara Israel dan Mesir dalam Perjanjian Camp David.

Namun Jimmy Carter memperingatkan PM Israel Menachem Begin: “Kamu tidak bisa menghadapi seluruh negara Timur Tengah, terutama Mesir !”. Bahkan untuk membujuk agar Mesir mau berdamai dengan Israel, AS terpaksa menghadiahi negeri piramid itu dengan bantuan jutaan dolar AS pertahun, pabrik pembuatan tank Abrams dan ratusan pesawat tempur F-16.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_TK0nAtE4DqgW7_B8-SR_MQ4CEgUrneEiNg7DiVvnd1Ge8tTjCsIFYsCZtuKH_3_O-keuIuTt8LbCTiHuRBoecSe-5dvblegOEaTT54_isQAJ4jaHvI5kKF1rGqu0WgXY-Se60ztSMcY/s280/Jimmy-Carter.jpg
Trik Jimmy Carter di Perjanjian Camp David
China pun sadar tidak mungkin ribut dengan seluruh negara di Asia Tenggara, untuk urusan klaim mereka di Laut China Selatan. China pun tidak memasukkan tuntutannya terhadap Kepulauan Natuna yang berada di laut China Selatan.

Dengan proses tranfer teknologi rudal ini, China mengajak Indonesia untuk duduk manis atas klaim negeri tirai bambu itu terhadap pulau pulau di Laut China Selatan.

Ibarat pemuda di atas yang sedang berguru kung fu ke seorang master Shaolin. Pemuda ini tentu harus menuruti petunjuk gurunya jika ingin merampungkan ilmu Kung Fu nya.

Persis seperti kasus Mesir. Mesir akhirnya asyik sendiri dengan bantuan jutaan dolar dari AS, sibuk membangun tank Abrams yang pabriknya dibikinkan AS di Mesir dan sibuk menerbangkan ratusan F-16 bantuan dari AS. Mesir pun akhirnya tutup mata atas aksi Israel terhadap Palestina maupun Libanon Selatan.

Akankah pancingan China ke Indonesia berhasil ?

Belum tahu. Indonesia memang sedikit kesal dengan aksi AS yang membuat pangkalan militer di Darwin Australia. Namun di saat yang sama Indonesia juga mempererat hubungan miiter dengan Australia. Bahkan Indonesia mengirimkan SU 27/30 dalam latihan perang Pitch Black 2012 di Australia. Selama ini Indonesia tidak pernah melibatkan pesawat tempur Sukhoi dalam latihan dengan Australia. Apalagi mengirimkannya ke negeri Kanguru.

Indonesia sedang memainkan cinta segitiga. Jika salah langkah, bisa ditinggalkan oleh kedua orang yang sedang ia kencani.

Pengalaman menunjukkan permainan Indonesia di antara dua karang jaman lawas, perang dingin AS dan Uni Soviet, tidak berjalan mulus. Sementara negara-negara yang berprinsip setia ke satu pihak, kini terlihat sukses. China, India dan Korea Utara merapat ke Uni Soviet. Sementara Korea Selatan, Jepang dan Australia merapat ke Amerika Serikat.

Saat ini AS melindungi Australia dengan penempatan pasukan di Darwin dan “pemberian” peralatan militer yang berlimpah. Demikian juga Korea Selatan. Jepang apalagi. AS menempatkan skuadron F-22 Raptor di negeri matahari terbit tersebut untuk menjaga Jepang dari ancaman China, hingga pesanan pesawat tempur generasi kelima F-35 Jepang, rampung dikerjakan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4bAQ-FHvcv-8aG-7bmHu0eYY5E_QpOBBM3O1Hs0fP6BQFnl8fNaw5LbVcolVYoeJKQVlPzvWm6FytKSnKkGu49u-6i_QTdV6J1iVTPJgMd0-pqVEklw7jo7B4fVhBoq3UEtcVF5zHhyphenhyphens/s280/F22-Raptor-AS-menjaga-Jepang.jpg
F 22 Raptor AS menjaga Jepang
Selain kerjasama transfer teknologi dengan China, Indonesia juga sedang menggarap transfer teknologi, dengan Korea Selatan untuk pesawat tempur KFX/IFX dan kapal Selam; Spanyol dengan pesawat C-295; dan Belanda dengan teknologi Frigat Sigma (kalau “menir” tidak lagi ingkar janji).

Semua ini belum tentu terlaksana dengan cepat. Kita sudah memiliki pelajaran bagaimana cara Belanda mengulur ngulur waktu dan menyedot uang Indonesia untuk transfer teknologi Korvet/Frigate. Hal ini sangat mungkin terjadi juga dengan China dan Korea Selatan.

Indonesia harus agresif untuk menyerap alih teknologi tersebut. TNI harus berani mematok target, misalnya pada tahun 2018, seluruh alih teknologi dan modernisasi rudal C-705 harus rampung, bersamaan datangnya kapal selam pertama pesanan Indonesia dari Korea Selatan. Target untuk 2018 ke atas adalah ToT Kapal Selam dan Pesawat Tempur IFX, karena kita sudah cukup lama berputar-putar tentang teknologi pembangunan peluru kendali. Tantangannya berat tapi mengasyikkan, sekaligus “testing the water” kualitas bangsa Indonesia bersaing dengan bangsa lain.
JKGR

Koarmatim Terima Satu Kapal Layar

http://www.tnial.mil.id/Portals/0/News/SEREMONIAL/0%20A%20Koarmatim%20Terima%20Satu%20Kapal%20Layar%20%282%29.jpgKomando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) mendapat bantuan satu kapal layar baru dari Direktorat Perawatan Personil TNI Angkatan Laut (Ditwapersal) Mabesal, Selasa (31/7). Serah terima kapal layar itu dilakukan oleh Kadiswatpersal Laksma TNI Karma S. kepada Kepala Staf Koarmatim Laksma TNI Darwanto S.H., M.A.P. bertempat di Dermaga  Koarmatim Ujung, Surabaya.

Kapal layar bantuan dari Ditwatpersal Mabesal itu merupakan bantuan untuk pengembangan olah raga layar di lingkungan Koarmatim. Kapal tersebut diawaki empat orang Anak Buah Kapal  (ABK), memiliki tinggi tiang 12,7 meter, panjang kapal 8,3 meter dan lebar 2,2 meter. Kapal ini menggunakan mesin tempel 5 PK, lunas dan balas 1,6 meter. Berat kapal 810 Kg dan berat balas kapal 520 Kg. Kapal layar  tersebut, dibuat di Batam.

Dalam serah terima kapal layar itu ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima kapal antara Kadiswatpersal Laksma TNI Karma S. dengan Kasarmatim Laksma TNI Darwanto S.H., M.A.P., yang dilanjutkan dengan percobaan pelayaran di basis Koarmatim, Ujung, Surabaya.

Hadir dalam kegiatan serah terima tersebut, Komandan Guspurlatim Laksma TNI Ari Soedewo, para Asisten Pangarmatim,  Komandan Satuan Kapal dan para Kasatker Koarmatim lainnya.
(Dispenarmatim)

Kerjasama Angkatan Laut Indonesia dan Angkatan Laut China

http://www.tnial.mil.id/Portals/0/News/SEREMONIAL/0%20ablatihansopsal.jpgKerja sama bilateral RRC dan RI terus mengalami kemajuan yang sangat baik. Kerja sama bidang pertahananpun cukup mengalami perkembangan yang signifikan. Beberapa waktu lalu telah dilaksanakan Navy To Navy Talk (NTNT) Working Group di Beijing, China.

Asops Kasal Laksda TNI Didit Herdiawan M.P.A., M.B.A.  selaku ketua delegasi TNI AL memimpin langsung penjajakan kerja sama antara kedua Angkatan Laut.  Pada kesempatan tersebut  telah dilakukan langkah-langkah positif untuk menjalin kerja sama yang erat  bagi kedua Angkatan Laut khususnya di bidang maritime cooperation. Dalam pertemuan tersebut telah mengambil kesepakatan perlunya tindak lanjut  pertemuan NTNT pada akhir tahun ini, dengan agenda penandatanganan Terms Of Reference (TOR) kerja sama PLA Navy dan TNI AL.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...