Sabtu, 30 Agustus 2014

Mengakhiri Ketegangan RI dan Australia Soal Penyadapan

Lewat perjanjian khusus, RI ingin Australia jangan lagi menyadap. Presiden SBY menyaksikan penandatanganan Kode Perilaku RI-Australia yang dilakukan Menlu Marty Natalegawa (kanan) dan Menlu Australia Julie Bishop (kiri) di Nusa Dua, Bali, Kamis (28/8/2014)

Setelah sempat memanas gara-gara terbongkarnya skandal penyadapan Australia atas para petinggi Indonesia November tahun lalu, hubungan kedua negara berangsur pulih. Di Pulau Dewata, 28 Agustus 2014, Australia bersedia tandatangani suatu perjanjian khusus seperti yang selama ini diminta Indonesia.

Nama resmi perjanjian itu adalah Tata Perilaku (Code of Conduct/CoC) dalam rangka Implementasi Perjanjian Kerangka Kerjasama Keamanan Kedua Negara. Namun, kalangan media massa Australia dan Indonesia lebih suka menyebutnya Tata Perilaku soal Penyadapan.

Di atas kertas perjanjian itu, masing-masing pihak bersepakat bahwa, sebagai dua negara yang sudah lama bersahabat, tidak etis kalau sampai harus menyadap satu sama lain. Bila ingin minta informasi, tinggal tanya dan berkoordinasi saja dengan lembaga-lembaga terkait dari kedua negara.

Indonesia dan Australia masing-masing diwakili menteri luar negeri masing-masing, yakni Marty Natalegawa dan Julie Bishop. Penekenan CoC itu juga disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, salah satu pejabat Indonesia yang menjadi "korban" penyadapan badan intelijen Australia, Defence Signals Directorate (DSD).

Marty pun mengaku lega. Sebab, proses enam langkah (six road maps) yang diajukan Presiden SBY sebagai prasyarat pemulihan hubungan kedua negara sudah sampai di langkah keempat.

Apa saja isi CoC itu? Marty menjawab ada dua poin penting.

★ Pertama, Indonesia dan Australia tidak akan menggunakan setiap sumber daya intelijen mereka, termasuk kapasitas penyadapan atau sumber-sumber lain yang dapat merugikan kepentingan dari kedua pihak.

★ Kedua, Indonesia dan Australia akan mendorong kerja sama intelijen antarlembaga dan badan-badan relevan sesuai dengan hukum dan peraturan nasional masing-masing.

"Untuk melaksanakan hal tersebut, para kepala badan intelijen kedua negara akan bertemu dan berkonsultasi," kata Marty. Dengan kode perilaku itu, Marty bisa memastikan, kedua negara tidak akan membiarkan skandal penyadapan kembali terulang.

Di sisi lain, dia juga yakin hubungan Indonesia dan Australia akan kembali ke tatanan yang positif seperti sebelumnya. "Pemulihan kerja sama intelijen dan komunikasi antar angkatan bersenjata kedua negara akan kembali pulih," imbuh Marty.

Hal ini diamini Menlu Australia Julie Bishop. Australia dan Indonesia sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang intelijen setelah kedua negara meneken Kode Perilaku itu. Salah satu realisasi meningkatnya kerja sama di bidang intelijen itu adalah, pemimpin badan intelijen kedua negara sepakat melakukan kontak secara reguler.

"Kontak ini sangat penting untuk bekerja sama, meningkatkan, dan menjawab tantangan serta isu keamanan di negara kami, kawasan Asia dan dunia," kata Bishop.

Dia menambahkan, salah satu ancaman yang kini tengah melanda adalah paham ekstrimis. yang tumbuh di negara asal. Para jihadis ini kemudian berangkat untuk berperang dengan kelompok militan di Irak dan Suriah. Lalu, mereka kembali ke negara asal dengan paham radikal. "Kami menantikan kerja sama yang erat dan menguntungkan untuk mencapai hal tersebut," imbuh dia.

Dengan adanya peningkatan kerja sama di bidang intelijen itu, Indonesia pun yakin bahwa pengumpulan informasi di luar koridor, seperti penyadapan, sudah tidak lagi diperlukan. Untuk itu, Marty memastikan bahwa kode perilaku itu lebih dari sekadar dokumen.

Dengan adanya CoC, imbuhnya, komunikasi dua negara kembali seperti sedia kala. Selain itu, kerja sama di bidang pertahanan dan angkatan bersenjata seperti patroli perbatasan bersama dan latihan bersama akan dipulihkan. Namun, Marty menambahkan tidak ada waktu khusus kapan kedua aktivitas itu berjalan normal.

CoC merupakan syarat sebagai perwujudan six road maps yang dituntut oleh Presiden SBY, setelah pada akhir tahun lalu menjadi korban penyadapan badan intelijen Australia (DSD). Informasi itu terkuak di media Australia yang mengutip bocoran dokumen intelijen milik Edward J Snowden.

Usai CoC diteken, maka masih tersisa dua langkah lagi yaitu pembuktian CoC sungguh dipenuhi dan dijalankan. Sementara, langkah terakhir. Dua langkah itu adalah kedua negara memastikan bahwa kode perilaku ini dipatuhi. Terakhir, kerja sama tiga bidang yang sempat dipetieskan, akan kembali di buka.

Adapun ketiga bidang kerja sama itu adalah saling tukar-menukar informasi intelijen, kerja sama polisi, dan patroli gabungan di perbatasan laut untuk mencegah manusia perahu.

 Tak Cukup 

Pengamat hukum internasional dari Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana memiliki pandangan lain mengenai kode perilaku dua negara bertetangga itu. Dia menilai penyadapan tidak bisa diselesaikan dengan menggunakan CoC.

Jika memang kesal dengan kelakuan Australia, Pemerintah Indonesia lebih baik mengusir pejabat diplomat Negeri Kanguru. Gaya yang dipilih SBY untuk menuntaskan skandal ini, ujar Hikmahanto, mengadopsi gaya orang Jawa yang ingin melakukan penanganan secara pelan-pelan.

"Yang namanya intelijen suatu negara, di satu waktu tertentu, akan melakukan penyadapan untuk kepentingan tertentu. Penyadapan itu lazim dilakukan oleh suatu negara. Yang tidak lazim itu jika terbongkar," imbuh pria yang pernah menjadi Dekan Fakultas Hukum UI itu. Oleh sebab itu, Hikmahanto tidak yakin, Australia akan betul-betul menghentikan aksi penyadapannya dengan hanya CoC itu.

Selain itu, Hikmahanto turut menyebut sikap marah Presiden SBY atas skandal penyadapan Australia, lebih didasari kemarahan personal dan bukan mengatasnamakan negara.

Sebab, aksi penyadapan sudah pernah dilakukan Australia, sebelumnya. Ketika mantan kontraktor Badan Intelijen Amerika Serikat (NSA) Edward J Snowden mengungkap di media massa, soal adanya ruang khusus di gedung Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan yang digunakan untuk menyadap.

"Dia baru marah, ketika namanya dan Ibu Ani Yudhoyono masuk ke dalam daftar penyadapan. Masalah ini dijadikan personal matters," kata Hikmahanto.

Hikmahanto juga menyebut, Pemerintah Indonesia tidak bisa hanya menimpakan kesalahan dalam skandal penyadapan kepada Australia semata. Karena, bila diingat kembali ke belakang, aksi penyadapan itu, dilakukan atas permintaan Amerika Serikat. "Seharusnya Indonesia, juga berani marah ke AS. Jangan hanya ke Australia saja," kata dia.

 Skandal penyadapan 

November 2013, Indonesia berang. Gara-garanya Australia ketahuan telah melakukan aksi mata-mata dan membangun jejaring spionase mereka di Tanah Air, melalui kantor kedutaan besar mereka di Jakarta. Hal itu justru diketahui Indonesia dari media massa Australia, The Sydney Morning Herald.

Bahkan media Australia lainnya, Fairfax, menyatakan pos-pos diplomatik Australia yang tersebar di Asia mempunyai fasilitas untuk mencegat lalu lintas data dan panggilan telepon dari pejabat-pejabat penting di negara-negara di kawasan ini.

Belum selesai dengan masalah ini, kekesalan Jakarta atas Canberra bertambah setelah muncul laporan terbaru dari dua media yang kerap memberitakan bocoran Snowden, The Guardian dan Sydney Morning Herald. Muncul kabar bahwa telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para menterinya, bahkan sampai Ibu Negara Ani Yudhoyono pun, pernah disadap intelijen Australia.

Jakarta makin marah. Sebagai reaksi atas kabar penyadapan telepon itu, pemerintah RI memanggil pulang Duta Besar Indonesia untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema, selama waktu yang tidak ditentukan.

Penarikan dubesnya dari Australia ini bukan kali pertama dilakukan pemerintah Indonesia. Sebelum masalah penyadapan ini, pada Maret 2006 pun Pemerintah Indonesia menarik dubesnya dari Australia. Pemulangan dubes RI saat itu untuk memprotes keputusan Australia memberikan visa kepada 42 pencari suaka asal Papua.

"Ini merupakan perbuatan yang tidak bersahabat dan berdampak serius bagi hubungan kedua negara," kata Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa saat mengumumkan pemulangan Dubes Nadjib dari Australia, Senin 18 November 2013.

The Guardian dan The Sydney Morning Herald menjelaskan cukup gamblang skandal penyadapan telepon SBY dan para pejabatnya oleh Australia.

Suatu hari pada bulan Agustus 2009, ada panggilan telepon dari Thailand yang masuk ke ponsel E90-1 milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Panggilan itu dari nomor tak dikenal. Badan Intelijen Australia bersiap menjalankan misinya: mencegat dan menyadap panggilan telepon itu. Sayang perbincangan telepon itu tak berlangsung lama. DSD tak berhasil memenuhi tugasnya.

“Informasi lebih lanjut saat ini nihil (tak memenuhi batas waktu – perbincangan hanya berlangsung satu menit,” demikian catatan yang tertulis di bagian bawah slide presentasi berjudul Indonesian President Voice Intercept (August ’09) milik Departemen Pertahanan Australia dan DSD. Kata-kata "Top Secret" tercantum di bagian atas slide berformat PowerPoint itu.

Itulah salah satu dokumen yang dibocorkan Snowden dan dipublikasikan luas oleh Guardian bersama Australian Broadcasting Corporation serta The Sydney Morning Herald, Senin 18 November 2013. Penyadapan semacam ini dilakukan Australia sejak teknologi 3G masuk ke Asia.

Bukan hanya Presiden SBY dan Ibu Negara Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono saja yang disadap. Ada delapan pejabat RI lainnya, yakni Wakil Presiden Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla, mantan Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Dino Patti Djalal, mantan Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, mantan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, mantan Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani Indrawati yang kini menjabat Direktur Bank Dunia, mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM Widodo AS, dan mantan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.

Kesepuluh nama orang penting di RI itu terpampang berurutan dalam slide berjudul IA Leadership Targets + Handsets. Di samping nama-nama mereka, tercantum pula jenis ponsel yang mereka gunakan. Presiden SBY, Ani Yudhoyono, Hatta Rajasa, Sri Mulyani, dan Sofyan Djalil pada tahun 2009 sama-sama memakai ponsel Nokia E90-1.

Sementara Boediono dan Dino Patti Djalal menggunakan BlackBerry Bold 9000, Jusuf Kalla menggunakan Samsung SGH-Z370, Andi Mallarangeng memakai Nokia E71-1, dan Widodo AS menggunakan Nokia E66-1.

Satu hal jelas, seluruh ponsel itu memiliki teknologi 3G.(ren)


  ★ Vivanews  

[World Article] Fakta Pasca Konflik Palestina - Israel

Bendera PalestinaSetelah bertempur selama tujuh pekan, akhirnya Hamas dan Israel menyetujui kesepakatan gencatan senjata jangka panjang. Kesepakatan itu dicapai dengan perantara Mesir.

Perang menyisakan bukan hanya angka korban tapi juga kepedihan, trauma, dan benih balas dendam. Dalam perang hampir dua bulan ini 2.139 warga sipil Gaza tewas, 490 di antaranya anak-anak, serta 64 serdadu Negeri Zionis, dan enam warga sipil mereka.

Mereka yang berperang selalu saling mengklaim kemenangan. Tapi sebenarnya siapa yang berhak menepuk dada menyatakan diri menang?

Kolumnis Amir Oren dalam ulasannya yang dimuat harian Haaretz (27/8) menyatakan dalam konflik ini Hamas menang melawan Israel, 1-0.

Apa saja yang membuat Hamas merasa memenangkan perang kali ini? Simak uraian yang berhasil dihimpun merdeka.com berikut ini.
Kesepakatan pembukaan blokade Gazahttp://images.harianjogja.com/2014/08/Warga-Palestina-rayakan-gencatan-senjata-jangka-panjang-reuters.com_.jpgWarga Gaza merayakan gencatan senjata itu dengan mengklaim kemenangan dan memenuhi jalanan sambil meluncurkan kembang api dan menembakkan senjata ke udara. Masjid-masjid meneriakkan takbir. Anak-anak dan orang dewasa berpawai keliling kota. Israel juga mengklaim kemenangan selama perang kali ini.

"Hari ini kami menyatakan kemenangan atas perlawanan ini. Hari ini kami menyatakan kemenangan Gaza," kata juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Rabu (26/8).

Pejabat Palestina dan Mesir mengatakan kesepakatan gencatan senjata itu akan berlangsung hingga batas waktu belum ditentukan. Perjanjian itu juga meliputi pembukaan blokade terhadap Gaza sesegera mungkin dan perluasan wilayah penangkapan ikan di Laut Mediterania.

Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengatakan kesepakatan itu mencakup pembukaan seluruh perbatasan di antara Jalur Gaza dan Israel. Itu menandakan embargo Israel terhadap Gaza selama bertahun-tahun akan berakhir.
Biaya perang Israel jauh lebih besar http://jateng.tribunnews.com/foto/bank/images/gaza-digempur-oke-oke.jpgDari penghitungan biaya perang dibandingkan dengan situasi yang terjadi, kolumnis Amir Oren dalam surat kabar Haaretz berpendapat, Israel kehilangan lebih banyak senjata ketimbang Hamas meski dilihat kasat mata kerugian bangsa Zionis itu hanya tiga persen dari apa yang diderita warga Gaza namun mendekati dua bulan perang Hamas semakin unjuk kekuatan diyakini berujung pada kengerian bagi Israel.

Militer Israel mengatakan kepada surat kabar Haaretz pekan lalu perang kali ini menghabiskan dana hingga Rp 29 triliun. Sedangkan Kementerian Keuangan Israel meyakini perang tujuh pekan ini menyedot biaya hingga Rp 22 triliun, seperti dilansir i24news.tv, pekan lalu.

Biaya mengerahkan satu serdadu untuk siap berperang membuntuhkan dana sekitar Rp 1,6 juta sehari. Sejauh ini Israel menempatkan 60 ribu tentaranya buat bersiaga perang. Itu berarti menghabiskan uang Rp 98 miliar sehari.
Rekonstruksi GazaWarga Gaza Mulai Tinggalkan PengungsianDalam gencatan senjata tahap kedua yang akan dimulai sebulan lagi Palestina dan Israel akan membahas pembangunan pelabuhan Kota Gaza dan pembebasan tahanan Hamas di penjara Israel di Tepi Barat.

Membangun kembali Jalur Gaza menjadi pekerjaan besar usai perang selama 51 hari antara Hamas dengan Israel berakhir dengan gencatan senjata jangka panjang.

Sejumlah lembaga donor dan Perserikatan Bangsa-bangsa sudah menghitung kira-kira dibutuhkan dana senilai Rp 4,2 triliun untuk membangun lagi Gaza, seperti dilansir surat kabar Haaretz, Kamis (28/8).

Pekan ini sejumlah negara dan pendonor sudah menyiapkan sekitar Rp 2 triliun buat membantu pembangunan kembali Gaza.

Pada akhirnya rekonstruksi Gaza tergantung dari kemauan komunitas internasional untuk memperbaiki kerusakan akibat serbuan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikecamhttp://www.islamtimes.org/images/docs/000263/n00263466-b.jpgPerdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuai kritik keras di dalam negeri dalam hal perang 51 hari dengan Hamas.

Sejumlah media berpengaruh di Israel menyerang kepemimpinan Netanyahu dalam menghadapi perang paling lama dalam sepuluh tahun terakhir dengan Palestina, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (28/8).

Sejumlah survei menunjukkan kepopuleran Netanyahu merosot tajam, seperti terlihat dari jajak pendapat stasiun televisi Channel 10. Popularitas Netanyahu kini berada pada angka 55 persen, turun dari 69 persen pada awal bulan ini.

  ★ Merdeka  

Jumat, 29 Agustus 2014

[World News] Penjaga perdamaian PBB ditangkap di Golan

Empat puluh tiga penjaga perdamaian PBB ditahan sebuah "kelompok bersenjata" di Dataran tinggi Golan Suriah, kata juru bicara PBB. golanAnggota UNDOF ditangkap saat terjadi konflik pemberontak dan pemerintah.

Anggota Pasukan Pengamat Pelepasan PBB (UNDOF) ditangkap di dekat Quneitra, saat terjadi bentrokan antara pemberontak Suriah dan pasukan pemerintah.

Sementara itu delapan puluh satu anggota pasukan perdamaian dibatasi pergerakannya, hanya di daerah al-Ruwayhina dan Burayqa.

Peristiwa ini terjadi satu hari setelah pemberontak merebut perlintasan ke daerah Golan yang dikuasai Israel setelah terjadi perang dalam waktu yang lama.

Pegiat mengatakan pemberontak yang terlibat adalah anggota Front al-Nusra, bagian dari al-Qaeda di Suriah.

Selama bentrokan tersebut, seorang tentara Israel dan satu warga sipil Israel terluka tembakan peluru.

Militer Israel mengatakan mereka telah membalas dengan tembakan artileri terhadap dua posisi militer Suriah.
PBB tuntut pembebasan prajurit yang ditahan di Golan PBB tuntut pembebasan prajurit yang ditahan di GolanIlustrasi. Pasukan penjaga perdamaian. (REUTERS/Muhammad Hamed)

PBB pada Kamis, menuntut pembebasan segera dan tanpa syarat sebanyak 43 prajurit pemelihara perdamaian yang diculik oleh "satu kelompok bersenjata" di daerah pemisah Dataran Tinggi antara Suriah dan Israel.

Dewan Keamanan PBB "mengutuk keras penahanan 43 prajurit pemelihara perdamaian Pasukan Pengamat Pemisah PBB (UNDOF) dari dalam Daerah Pemisah" oleh "satu kelompok yang mengincar Dewan Keamanan dan oleh anggota kelompok bersenjata tanpa-negara", kata DK PBB di dalam satu pernyataan.

Prajurit pemelihara perdamaian tersebut, semuanya anggota satuan Fiji, ditahan di sekitar Quneitra pada Kamis pagi, kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.

Pasukan pemerintah dan gerilyawan Suriah telah terlibat pertempuran sengit di daerah itu, terutama di sekitar Quneitra, Ibu Kota Gubernuran Quneitra --yang kebanyakan bangunannya rusak dan tak dihuni-- di Suriah Baratdaya, untuk memperebutkan satu-satunya pos penyeberangan perbatasan antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel.

PBB menyatakan badan dunia tersebut tak bisa mengkonfirmasi kelompok mana yang menahan prajurit Baret Biru itu, demikian laporan Xinhua.

Beberapa kelompok, yang memproklamasikan diri sendiri seperti yang berafiliasi pada Front An-Nustra, cabang Al Qaida yang beroperasi di Suriah, mengaku bertanggung jawab atas penahanan tersebut, kata Dujarric. Ia menambahkan, "Tapi kami tak bisa mengkonfirmasinya."

"Ada lebih dari 81 prajurit dari Filipina yang gerakan mereka telah dibatasi di Posisi 68 dan 69 di lingkungan Ar-Ruwayhinah dan Burayqah," tambahnya.

Badan PBB dengan 15-anggota itu menyeru semua pihak agar bekerja sama dengan UNDOF guna memungkinkannya beroperasi secara bebas dan memastikan keamanan penuh personelnya. DK PBB menekankan, "Tak boleh ada pasukan militer di daerah pemisah tersebut selain pasukan UNDOF."(Uu.C003)
75 tentara penjaga perdamaian Filipina hadang pemberontak Suriah http://cdn.sindonews.net/dyn/300/content/2013/03/21/40/729894/T1JhaqU8GP.jpgPasukan Perdamaian Filipina

Puluhan tentara penjaga perdamaian asal Filipina yang bersenjata lengkap, Jumat, menghadang pemberontak Suriah di Dataran Tinggi Golan, beberapa jam setelah para petempur menyandera 43 tentara Fiji di sana, kata komandan pasukan Filipina.

Tujuh puluh lima prajurit Filipina itu mempertahankan pos-pos benteng di kawasan patroli Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) setelah kelompok bersenjata mengepung mereka pada Kamis dengan tuntutan agar pihak tentara menyerahkan senjata mereka, kata Kolonel Roberto Ancan kepada wartawan di Manila.

Ancan, komandan divisi pasukan operasi penjaga perdamaian mengatakan tidak ada tembak-menembak pada saat itu tetapi pasukannya sudah bersiaga untuk melakukan pertempuran.

"Kami bisa menggunakan senjata yang mematikan untuk membela fasilitas PBB," kata Ancan.

"Saya hanya ingin menegaskan bahwa pasukan kami bersenjata lengkap, terlatih dengan baik dan mempunyai disiplin tinggi sebagai pasukan perdamaian."

Militer mengatakan para tentara itu menempati pos-pos UNDOF yang berjarak sekitar empat kilometer dari daerah penyangga antara Suriah dan Israel yang diciptakan setelah gencatan senjata tahun 1974.

PBB sebelumnya menyatakan 81 anggota pasukan perdamaian terkepung, tetapi Ancan mengatakan hanya terdapat 45 orang Filipina di salah satu pos dan 35 orang pada pos yang lain.

Pada Rabu, pemberontak Suriah termasuk milisi terkait Al Qaida, Fron Al-Nusra, menyerbu salah satu bagian dari zona penyangga dan melakukan baku-tembak dengan pasukan Israel.

Sehari kemudian, para petempur itu menangkap 43 orang Fiji dan memaksa mereka menyerahkan senjata lalu menyandera mereka.

Ancan mengatakan, para pemberontak itu menyuruh seorang sandera Fiji yang berbicara dengan bahasa Inggris untuk menyampaikan permintaan kepada Pasukan Perdamaian Filipina yang menolak menyerah.

Presiden Filipina Benigno Aquino menggambarkan suasana di Dataran Tinggi Golan sebagai "panas".

Namun dalam komentar singkat kepada wartawan, Aquino berharap dapat meredakan kecemasan akan nasib pasukan.

"Sejauh ini kita tidak perlu cemas. Kabarnya, keadaannya terlihat stabil," kata Aquino.

Israel menyita 1.200 kilometer persegi wiyalah Dataran Tinggi Golan dalam perang enam hari tahun 1967, kemudian menyerobotnya, suatu langkah yang tidak mendapat pengakuan dari masyarakat internasional.

Pasukan perdamaian PBB ditempatkan di kawasan itu sejak 1974 untuk memantau gencatan senjata antara Israel dan Suriah.

Saat ini terdapat sekitar 1.200 pasukan UNDOF berasal dari Filipina, Fiji, India, Irlandia, Nepal dan Belanda.(Uu.M007)

  ★ BBC | Antara  

KPK Harap TNI Transparan dalam Pengadaan Alutsista

Transparasi diperlukan untuk pembenahan. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLLGwBp7xP11-xQzTMhJESAdPxRrqFycK72IvIsLAgbg0zWHCx4sesJQcMaVUrEaerYRdpSAXwXP9w22vBOa8f8g2mrmGMoSsO233LfOr3pEXVFVtn16iRiNDyp4Yi_QMRMzPHhb47lOY/s1600/scorpion09.jpgWakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas berharap Tentara Nasional Indonesia transparan dalam proyek-proyek pengadaan. Transparansi menurut Busyro diperlukan untuk pembenahan.

"Iya, harus itu. Kalau dibilang transparansi untuk alat-alat, oke. Dijelaskan, definisi transparansi itu apa. Di bidang jenis apa, mekanismenya kayak apa," katanya di kantornya, Kamis malam 28 Agustus 2014.

Dia menuturkan, transparansi di tubuh TNI tidak bisa berjalan sendiri. Namun, harus juga sejalan dengan instansi terkait lainnya, seperti Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, dan DPR.

Sejauh ini, KPK belum mempunyai jadwal untuk mengkaji pencegahan korupsi di sektor alat utama sistem persenjataan. Namun Busyro menilai bahwa hal itu dinilai penting dan akan didiskusikan. Saat disinggung mengenai indikasi korupsi di sektor pertahanan, Busyro menjawab secara diplomatis.

"Paling enggak dengan isu pembelian alat Sukhoi, isu itu kan bagaimana pemerintah itu harus dihargai, dilacak. Kalau memang enggak ada, ya declare. Clean and clear, tapi kalau ada ya diusut dong. Harus tuntas," ujarnya.(ita)

  ★ Vivanews  

TNI AU Kerahkan Boeing B-737 dan CN-295 Cari WNA Hilang di Perairan NTB

cari-subTNI AU dalam hal ini Lanud Rembiga dibawah kendali Koopsau II mengerahkan pesawat intai strategis Boeing B-737 dari Skadron Udara 5 Makassar serta Pesawat CN-295 dari Skadron Udara 2 untuk melakukan penyisiran dan pencarian korban Kapal wisata Versace Amara yang diduga tenggelam setelah menabrak karang‎ di perairan Pulau Sangeang, Kec Wera, Kab Bima, NTB. Kapal yang membawa 20 turis asing dan 5 awak kapal itu tenggelam pada hari sabtu 16 Agustus yang lalu sekitar pukul 20.00 WITA.

Sebagaimana konteks Lanud Rembiga sebagai pangkalan aju operasi, Komandan Lanud Rembiga Letkol Pnb Ardi Syahri, ST.,MM.,MMA beserta seluruh personel Lanud Rembiga siap mendukung dan membantu proses pencarian dua warga Negara spanyol korban kapal tenggelam di perairan pulau Sangeang, Kec Wera Kab. Bima NTB yang hingga kini masih belum diketemukan.

Pencarian sebelumnya telah menyisir sektor utara sampai 100 mil dari bima hingga ke pulau tengah kemudian kembali ke selatan menyusuri pantai utara ke pulau sangeang api hingga gili banta sampai pulau kelapa.

Di pencarian hari kedua Pesawat CN-295 tail number A-2907 dari Skadron 2 dengan Captain Pilot Mayor Pnb Dhian dan Copilot Kapten Pnb Anto bersama 6 crew menyisir wilayah pantai selatan bima hingga ke tambolaka hingga ke pantai timur lalu kembali ke pulau sangeang dan terbang sekitar 2 jam pencarian dengan menggunakan metode low level, dan terbang di ketinggian 2000 ft sampai dengan 1000 ft diatas laut untuk visual contact dengan sasaran.

Turut serta dalam pencarian menggunakan pesawat CN 295 Kabasarnas Marsdya TNI FH Bambang Soelistyo, S.Sos dan Deputy Operasi Basarnas Brigjend TNI Tatang Zaenudin.

Pesawat Boeing B-737 dari Skadron Udara 5 Makassar juga turut terlibat dalam pencarian dan penyisiran di perairan sangeang, dengan Captain Pilot Mayor Pnb Iwan dan Copilot Lettu Pnb Muslih.

Danlanud Rembiga Letkol Pnb Adi Syahri, ST.,MM.,MMA menjelaskan Keterlibatan TNI AU dalam hal ini Koopsau II dan Lanud Rembiga khususnya sebagai Pangkalan Aju Operasi dalam mendukung pelaksanaan tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) TNI mutlak diperlukan sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

Selain itu hal ini juga didasari oleh semangat jiwa kita untuk ingin bersatu padu menyelesaikan persoalan kesulitan manusia dalam memberikan perlindungan, pertolongan dan penyelamatan warga bangsa, khususnya para korban kecelakaan pelayaran, penerbangan dan di lokasi-lokasi ekstrim lainnya.

(Pentak Rembiga/sir)

  ★ Poskota  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...