Perawatan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dilakukan secara berkala. Seperti yang terlihat di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (13/05/2015)
Petugas melakukan perawatan KRI di Tanjung Priok.
Perawatan dilakukan dengan mengecat bagian lambung kapal.
Perawatan ini rutin dilakukan untuk menjaga KRI tetap prima.
Perawatan dimulai dari pengetokan bagian-bagian yang mengalami karat dan keropos serta dilanjutkan dengan pengecatan bagian haluan, lambung kanan, lambung kiri kapal sampai dengan buritan.
Pelaksanaan pengecatan ini merupakan kegiatan perawatan secara rutin dan berkala sebagai salah satu sarana menjaga dan merawat KRI dalam kesiapannya untuk melaksanakan tugas operasi selanjutnya.
Pelaksanaan pengecatan ini dilaksanakan oleh seluruh prajurit kapal perang dari semua departemen.
Kamis, 14 Mei 2015
Mengapa Angkatan Udara Indonesia Inginkan Su-35?
Angkatan Udara Indonesia hendak membeli pesawat tempur canggih Rusia Su-35. Berikut beberapa alasan mengapa hal tersebut merupakan keputusan yang bijak.
Pesawat Su-35 Super Flanker, yang diincar oleh AU Indonesia, tentu saja lebih canggih. Sukhoi mengklasifikasikannya sebagai pesawat generasi ke-4++, yang berada tepat di bawah pesawat siluman generasi kelima. [Sukhoi.org]☆
Angkatan Udara Indonesia hendak mengganti pesawat tempur F-5 buatan AS yang sudah usang dengan pesawat tempur terbaru Rusia Su-35 Super Flanker. Namun, pemerintah Indonesia belum bisa mengambil langkah pasti karena AS juga menawarkan jet F-16 dan jet F-18 mereka pada AU Indonesia.
Saat ini, armada pesawat tempur Indonesia terdiri dari pesawat AS F-16 dan pesawat Rusia Su-27 dan Su-30. Fakta bahwa pesawat AS bersekutu dengan pesawat Rusia di militer Indonesia adalah hal yang menarik. “Indonesia mengincar pesawat Rusia karena mereka memang membutuhkannya,” tulis Defense Industry Daily (DID). Pesawat tempur AU Indonesia, yakni 12 buah F-16A/B dan 16 buah F-5E/F, menghadapi masalah perawatan karena AS memberlakukan embargo terhadap Indonesia.
Embargo tersebut diberikan setelah Australia mulai campur tangan dalam konflik Timor Timur, dan AS menuduh Indonesia melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Untuk mengatasi masalah akibat embargo AS, pada 2003 Indonesia menandatangani kontrak senilai 192 juta dolar AS dengan Rusia untuk memasok pesawat tempur multiperan Sukhoi melalui Rosoboronexport. Kehadiran pesawat tempur Rusia membuat Indonesia memiliki kapabilitas tempur yang setara dengan para tetangganya, termasuk Tiongkok dan Australia.
Empat tahun kemudian, dalam pameran aviasi MAKS 2007 di Moskow, Indonesia dan Rusia menandatangani kontrak lanjutan senilai 300 juta dolar AS untuk pasokan Sukhoi Flankers. Menariknya, kala itu Indonesia tetap membeli perangkat militer Rusia meski Indonesia telah memiliki kerja sama tertutup dengan Washington. “Itu membuktikan, bahwa pembelian tersebut tak merefleksikan orientasi geopolitik Indonesia. Itu murni disebabkan oleh ketertarikan Indonesia terhadap pesawat Sukhoi,” kata pengamat hubungan internasional Martin Sieff dari UPI.
Berdasarkan informasi dari DID, baik Su-27 SK maupun Su-30 milik Indonesia yang saat ini masih beroperasi, sama-sama memiliki kombinasi karakter Sukhoi Flanker terkait jangkauan jarak yang jauh, muatan besar, dan kinerja udara yang dapat mengimbangi semua pesawat tempur Amerika kecuali F-22A Raptor. Dengan kapabilitas tersebut, serta kebijakan Rusia yang tidak pernah mencampur-adukan situasi politik dengan penjualan senjata, mendorong Indonesia untuk berbalik pada Rusia dan menjadikan Rusia sebagai pemasok senjata.
Kedatangan Sukhoi telah menggenapkan keganjilan di panggung Asia Pasifik. Pilot Australia, yang menyatakan diri tergabung dalam pasukan canggih dengan menerbangkan F-18 Hornets, kini harus berhadapan dengan Flanker yang lebih unggul hampir di semua aspek. Menurut keterangan Air Power Australia, “Akusisi pesawat tempur Rusia Sukhoi Su-27SK dan Su-30MK oleh negara-negara yang ada di wilayah kami menunjukan bahwa F/A-18A/B/F telah ketinggalan jaman berbagai aspek kunci.”
Lompatan Teknologi Maju
Infografis Perbandingan Spesifikasi Teknis Su-35S dan F-22☆
Pesawat Su-35 Super Flanker, yang diincar oleh AU Indonesia, tentu saja lebih canggih. Sukhoi mengklasifikasikannya sebagai pesawat generasi ke-4++, yang berada tepat di bawah pesawat siluman generasi kelima. Dibandingkan dengan F-16 dan F-18, yang berbasis teknologi tahun 1970-an, Su-35 baru saja masuk dalam perbendaharaan senjata AU Rusia. Tiongkok juga telah menandatangani kontrak senilai miliaran dolar untuk memperoleh 24 buah Super Flanker dan para pilot Tiongkok telah datang ke Rusia untuk menjalani pelatihan.
Berdasarkan informasi dari Air Force Technology, Su-35 memiliki kemampuan manuver yang tinggi (+9g) dengan sudut penyerangan tinggi, dan dilengkapi dengan sistem senjata canggih yang membuat pesawat ini memiliki kemampuan tempur yang luar biasa. Kecepatan maksimum pesawat ini mencapai 2.390 kilometer per jam atau Mach 2,25.
Majalah tersebut menyebutkan bahwa Su-35 mampu mengangkut sejumlah misil udara-ke-udara, udara-ke-permukaan, dan misil antikapal. Pesawat juga dapat dipersenjatai dengan beragam bom terarah, dan sensornya mampu mendeteksi serta melacak hingga 30 target udara dengan radar cross section (RCS) dalam radius 400 kilometer menggunakan moda lacak-dan-pindai.
Dalam laporan Aviation Week dari Paris Air Show 2013, pakar aviasi legendaris Bill Sweetman menuliskan bahwa kelincahan yang dipamerkan oleh Sukhoi Su-35 berakar dari konsep Rusia yang mementingkan jangkauan pendek serta pertempuran udara berkecepatan rendah.
“Pesawat ini dilengkapi dengan tiga sumbu dorong vektor (three-axis thrust-vectoring) dan memiliki kontrol penerbangan dan tenaga pendorong yang terintegrasi seluruhnya, menampilkan manuver yang tak tertandingi oleh pesawat tempur manapun,” tulis Sweetman.
Sweetman juga mengutip pilot kepala penguji Sukhoi Sergey Bogdan, “Sebagian besar pesawat tempur yang kami miliki saat ini memiliki dorongan vektor. Su-30MKI dan MKM dapat memamerkan manuver tersebut. Hal yang membedakan pesawat ini adalah ia memiliki lebih banyak dorongan, jadi saat menampilkan manuver, ia dapat tetap berdiri kokoh, dan setelah pembakaran dimulai, pesawat dapat mempertahankan penerbangan hingga 120-140 kilometer per jam.”
Penekanan “kemampuan manuver super” berlawanan dengan doktrin pertempuran udara Barat, yang lebih menekankan kecepatan tinggi, menghindari “peleburan” lamban dan taktik hemat energi. Namun menurut Bogdan, kemampuan manuver super merupakan aspek yang sangat penting.
“Pertempuran udara klasik dimulai pada kecepatan tinggi, namun jika Anda melewatkan tembakan pertama, dan kemungkinanannya besar karena ada manuver untuk menghindari misil, pertempuran akan berlangsung lebih lama,” kata Bogdan. “Setelah bermanuver, pesawat akan berada di kecepatan rendah, namun kedua pesawat akan berada di posisi di mana mereka tak bisa menembak. Kemampuan manuver super membuat pesawat dapat berbalik dalam tiga detik dan kembali menembak.”
Terkait hemat energi, Bogdan mencatat, “Teori pertempuran udara selalu berevolusi. Pada 1940-an dan 1950-an, prioritas utama adalah ketinggian, lalu kecepatan, kemudian manuver, dan persenjataan. Lalu pada generasi ketiga dan keempat, urutannya berubah menjadi kecepatan, ketinggian, baru manuver. Kemampuan manuver super ditambahkan. Itu ibarat pisau di saku tentara.”
Meski tak memiliki kemampuan siluman, pesawat Su-35 bisa 'menghilang', tak terlihat di radar musuh, pada beberapa kondisi tertentu. Sweetman menjelaskan, perubahan kecepatan yang berlangsung acak dapat membuat merusak radar. Manuver tersebut sangat berguna bagi Su-35S karena pilot dapat menerbangkan pesawat ke segala arah.
Pembuktian di Masa Depan
Australia berencana membeli 72 buah pesawat tempur siluman F-35 pada akhir dekade ini, sehingga Indonesia harus mengambil langkah penyeimbang. Pesawat Rusia T-50 mungkin merupakan kandidat paling ideal, namun untuk sementara Su-35 dapat dijadikan pertahanan dalam menghadapi ancaman F-35.
Dave Majumdar dari National Interest menyebutkan bahwa AU Amerika—yang paham betul mengenai F-35—pecaya bahwa Su-35 dapat menjadi ancaman serius bagi jet terbaru Amerika. F-35 dibuat sebagai pesawat penyerang dan tak memiliki kapabilitas kecepatan atau ketinggian seperti Su-35 atau F-22. “Kemampuan pesawat Sukhoi untuk terbang tinggi dan cepat merupakan masalah utama yang kami hadapi, termasuk untuk F-35,” terang pihak militer Amerika.
Menurut Majumdar, sebagai pesawat tempur superior Su-35 memiliki kombinasi kemampuan terbang tinggi dan kecepatannya yang luar biasa.
“Su-35 dapat meluncurkan senjata dari kecepatan supersoniknya, yakni sekitar Mach 1,5 pada ketinggian lebih dari 45 ribu kaki. Sementara F-35 secara umum akan beroperasi pada ketinggian 30 ribu kaki dengan kecepatan sekitar Mach 0,9.”
Sergey Ptichkin dari Rossiyskaya Gazeta menyebutkan, Su-35S hampir identik dengan T-50 dalam aspek perlengkapan elektronik, sistem kontrol, dan persenjataan. “Sehingga, semua pilot yang mampu mengendalikan Su-35 dapat dengan mudah mengendalikan pesawat tempur klasik generasi kelima berteknologi siluman, T-50,” kata Ptichkin.
Dengan belajar mengendalikan Su-35, pilot Indonesia kelak telah siap saat harus menerbangkan pesawat siluman generasi kelima pada dekade mendatang.
Latihan Bersama Pilot Andal
Pada Oktober 2013, India setuju untuk melatih AU Indonesia dalam mengoperasikan armada pesawat tempur Sukhoi. Berdasarkan kesepakatan ini, yang disetujui saat kunjungan Menteri Pertahanan India ke Jakarta, India dan Indonesia akan bekerja sama dalam bidang pelatihan, bantuan teknis, serta pasokan suku cadang.
Di masa lalu, Indonesia memiliki kesepakatan dengan Tiongkok untuk melatih pilot mereka dan menyediakan dukungan teknis untuk armada Flanker-nya. Namun, Indonesia kini berbalik arah pada India, karena melihat AU India ialah mentor ideal. AU India memiliki reputasi dunia sebagai pasukan tempur unggul setelah mengalahkan pasukan Amerika dalam sejumlah latihan udara Cope India. Selain itu, dalam tiga perang pada tahun 1965, 1971, dan 1999, India berhasil mengalahkan pasukan Pakistan.
Dengan kata lain, dukungan tersedia dengan mudah di wilayah Asia, jika Indonesia memutuskan untuk memperbesar armada Flanker-nya.
Tak Ada Ikatan
Argumen yang paling mendukung bagi Indonesia untuk membeli pesawat Rusia adalah, tak seperti negara adidaya lain, Moskow tak pernah memberi embargo akibat sebuah konflik. Selain itu, tindakan menjual senjata untuk sebuah negara namun kemudian menghentikan pasokan pada saat perang ibarat "menusuk dari belakang". Embargo AS pada krisis Timor Timur jelas ditujukan demi keuntungan Australia. Pada konflik Indonesia-Australia di masa depan, hasilnya mungkin tak akan berbeda jauh. Pemimpin politik Indonesia harus mempertimbangkan masak-masak saat mereka hendak mengambil keputusan untuk membeli pesawat tempur.
Pesawat Su-35 Super Flanker, yang diincar oleh AU Indonesia, tentu saja lebih canggih. Sukhoi mengklasifikasikannya sebagai pesawat generasi ke-4++, yang berada tepat di bawah pesawat siluman generasi kelima. [Sukhoi.org]☆Angkatan Udara Indonesia hendak mengganti pesawat tempur F-5 buatan AS yang sudah usang dengan pesawat tempur terbaru Rusia Su-35 Super Flanker. Namun, pemerintah Indonesia belum bisa mengambil langkah pasti karena AS juga menawarkan jet F-16 dan jet F-18 mereka pada AU Indonesia.
Saat ini, armada pesawat tempur Indonesia terdiri dari pesawat AS F-16 dan pesawat Rusia Su-27 dan Su-30. Fakta bahwa pesawat AS bersekutu dengan pesawat Rusia di militer Indonesia adalah hal yang menarik. “Indonesia mengincar pesawat Rusia karena mereka memang membutuhkannya,” tulis Defense Industry Daily (DID). Pesawat tempur AU Indonesia, yakni 12 buah F-16A/B dan 16 buah F-5E/F, menghadapi masalah perawatan karena AS memberlakukan embargo terhadap Indonesia.
Embargo tersebut diberikan setelah Australia mulai campur tangan dalam konflik Timor Timur, dan AS menuduh Indonesia melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Untuk mengatasi masalah akibat embargo AS, pada 2003 Indonesia menandatangani kontrak senilai 192 juta dolar AS dengan Rusia untuk memasok pesawat tempur multiperan Sukhoi melalui Rosoboronexport. Kehadiran pesawat tempur Rusia membuat Indonesia memiliki kapabilitas tempur yang setara dengan para tetangganya, termasuk Tiongkok dan Australia.
Empat tahun kemudian, dalam pameran aviasi MAKS 2007 di Moskow, Indonesia dan Rusia menandatangani kontrak lanjutan senilai 300 juta dolar AS untuk pasokan Sukhoi Flankers. Menariknya, kala itu Indonesia tetap membeli perangkat militer Rusia meski Indonesia telah memiliki kerja sama tertutup dengan Washington. “Itu membuktikan, bahwa pembelian tersebut tak merefleksikan orientasi geopolitik Indonesia. Itu murni disebabkan oleh ketertarikan Indonesia terhadap pesawat Sukhoi,” kata pengamat hubungan internasional Martin Sieff dari UPI.
Berdasarkan informasi dari DID, baik Su-27 SK maupun Su-30 milik Indonesia yang saat ini masih beroperasi, sama-sama memiliki kombinasi karakter Sukhoi Flanker terkait jangkauan jarak yang jauh, muatan besar, dan kinerja udara yang dapat mengimbangi semua pesawat tempur Amerika kecuali F-22A Raptor. Dengan kapabilitas tersebut, serta kebijakan Rusia yang tidak pernah mencampur-adukan situasi politik dengan penjualan senjata, mendorong Indonesia untuk berbalik pada Rusia dan menjadikan Rusia sebagai pemasok senjata.
Kedatangan Sukhoi telah menggenapkan keganjilan di panggung Asia Pasifik. Pilot Australia, yang menyatakan diri tergabung dalam pasukan canggih dengan menerbangkan F-18 Hornets, kini harus berhadapan dengan Flanker yang lebih unggul hampir di semua aspek. Menurut keterangan Air Power Australia, “Akusisi pesawat tempur Rusia Sukhoi Su-27SK dan Su-30MK oleh negara-negara yang ada di wilayah kami menunjukan bahwa F/A-18A/B/F telah ketinggalan jaman berbagai aspek kunci.”
Lompatan Teknologi Maju
Infografis Perbandingan Spesifikasi Teknis Su-35S dan F-22☆Pesawat Su-35 Super Flanker, yang diincar oleh AU Indonesia, tentu saja lebih canggih. Sukhoi mengklasifikasikannya sebagai pesawat generasi ke-4++, yang berada tepat di bawah pesawat siluman generasi kelima. Dibandingkan dengan F-16 dan F-18, yang berbasis teknologi tahun 1970-an, Su-35 baru saja masuk dalam perbendaharaan senjata AU Rusia. Tiongkok juga telah menandatangani kontrak senilai miliaran dolar untuk memperoleh 24 buah Super Flanker dan para pilot Tiongkok telah datang ke Rusia untuk menjalani pelatihan.
Berdasarkan informasi dari Air Force Technology, Su-35 memiliki kemampuan manuver yang tinggi (+9g) dengan sudut penyerangan tinggi, dan dilengkapi dengan sistem senjata canggih yang membuat pesawat ini memiliki kemampuan tempur yang luar biasa. Kecepatan maksimum pesawat ini mencapai 2.390 kilometer per jam atau Mach 2,25.
Majalah tersebut menyebutkan bahwa Su-35 mampu mengangkut sejumlah misil udara-ke-udara, udara-ke-permukaan, dan misil antikapal. Pesawat juga dapat dipersenjatai dengan beragam bom terarah, dan sensornya mampu mendeteksi serta melacak hingga 30 target udara dengan radar cross section (RCS) dalam radius 400 kilometer menggunakan moda lacak-dan-pindai.
Dalam laporan Aviation Week dari Paris Air Show 2013, pakar aviasi legendaris Bill Sweetman menuliskan bahwa kelincahan yang dipamerkan oleh Sukhoi Su-35 berakar dari konsep Rusia yang mementingkan jangkauan pendek serta pertempuran udara berkecepatan rendah.
“Pesawat ini dilengkapi dengan tiga sumbu dorong vektor (three-axis thrust-vectoring) dan memiliki kontrol penerbangan dan tenaga pendorong yang terintegrasi seluruhnya, menampilkan manuver yang tak tertandingi oleh pesawat tempur manapun,” tulis Sweetman.
Sweetman juga mengutip pilot kepala penguji Sukhoi Sergey Bogdan, “Sebagian besar pesawat tempur yang kami miliki saat ini memiliki dorongan vektor. Su-30MKI dan MKM dapat memamerkan manuver tersebut. Hal yang membedakan pesawat ini adalah ia memiliki lebih banyak dorongan, jadi saat menampilkan manuver, ia dapat tetap berdiri kokoh, dan setelah pembakaran dimulai, pesawat dapat mempertahankan penerbangan hingga 120-140 kilometer per jam.”
Penekanan “kemampuan manuver super” berlawanan dengan doktrin pertempuran udara Barat, yang lebih menekankan kecepatan tinggi, menghindari “peleburan” lamban dan taktik hemat energi. Namun menurut Bogdan, kemampuan manuver super merupakan aspek yang sangat penting.
“Pertempuran udara klasik dimulai pada kecepatan tinggi, namun jika Anda melewatkan tembakan pertama, dan kemungkinanannya besar karena ada manuver untuk menghindari misil, pertempuran akan berlangsung lebih lama,” kata Bogdan. “Setelah bermanuver, pesawat akan berada di kecepatan rendah, namun kedua pesawat akan berada di posisi di mana mereka tak bisa menembak. Kemampuan manuver super membuat pesawat dapat berbalik dalam tiga detik dan kembali menembak.”
Terkait hemat energi, Bogdan mencatat, “Teori pertempuran udara selalu berevolusi. Pada 1940-an dan 1950-an, prioritas utama adalah ketinggian, lalu kecepatan, kemudian manuver, dan persenjataan. Lalu pada generasi ketiga dan keempat, urutannya berubah menjadi kecepatan, ketinggian, baru manuver. Kemampuan manuver super ditambahkan. Itu ibarat pisau di saku tentara.”
Meski tak memiliki kemampuan siluman, pesawat Su-35 bisa 'menghilang', tak terlihat di radar musuh, pada beberapa kondisi tertentu. Sweetman menjelaskan, perubahan kecepatan yang berlangsung acak dapat membuat merusak radar. Manuver tersebut sangat berguna bagi Su-35S karena pilot dapat menerbangkan pesawat ke segala arah.
Pembuktian di Masa Depan
Australia berencana membeli 72 buah pesawat tempur siluman F-35 pada akhir dekade ini, sehingga Indonesia harus mengambil langkah penyeimbang. Pesawat Rusia T-50 mungkin merupakan kandidat paling ideal, namun untuk sementara Su-35 dapat dijadikan pertahanan dalam menghadapi ancaman F-35.
Dave Majumdar dari National Interest menyebutkan bahwa AU Amerika—yang paham betul mengenai F-35—pecaya bahwa Su-35 dapat menjadi ancaman serius bagi jet terbaru Amerika. F-35 dibuat sebagai pesawat penyerang dan tak memiliki kapabilitas kecepatan atau ketinggian seperti Su-35 atau F-22. “Kemampuan pesawat Sukhoi untuk terbang tinggi dan cepat merupakan masalah utama yang kami hadapi, termasuk untuk F-35,” terang pihak militer Amerika.
Menurut Majumdar, sebagai pesawat tempur superior Su-35 memiliki kombinasi kemampuan terbang tinggi dan kecepatannya yang luar biasa.
“Su-35 dapat meluncurkan senjata dari kecepatan supersoniknya, yakni sekitar Mach 1,5 pada ketinggian lebih dari 45 ribu kaki. Sementara F-35 secara umum akan beroperasi pada ketinggian 30 ribu kaki dengan kecepatan sekitar Mach 0,9.”
Sergey Ptichkin dari Rossiyskaya Gazeta menyebutkan, Su-35S hampir identik dengan T-50 dalam aspek perlengkapan elektronik, sistem kontrol, dan persenjataan. “Sehingga, semua pilot yang mampu mengendalikan Su-35 dapat dengan mudah mengendalikan pesawat tempur klasik generasi kelima berteknologi siluman, T-50,” kata Ptichkin.
Dengan belajar mengendalikan Su-35, pilot Indonesia kelak telah siap saat harus menerbangkan pesawat siluman generasi kelima pada dekade mendatang.
Latihan Bersama Pilot Andal
Pada Oktober 2013, India setuju untuk melatih AU Indonesia dalam mengoperasikan armada pesawat tempur Sukhoi. Berdasarkan kesepakatan ini, yang disetujui saat kunjungan Menteri Pertahanan India ke Jakarta, India dan Indonesia akan bekerja sama dalam bidang pelatihan, bantuan teknis, serta pasokan suku cadang.
Di masa lalu, Indonesia memiliki kesepakatan dengan Tiongkok untuk melatih pilot mereka dan menyediakan dukungan teknis untuk armada Flanker-nya. Namun, Indonesia kini berbalik arah pada India, karena melihat AU India ialah mentor ideal. AU India memiliki reputasi dunia sebagai pasukan tempur unggul setelah mengalahkan pasukan Amerika dalam sejumlah latihan udara Cope India. Selain itu, dalam tiga perang pada tahun 1965, 1971, dan 1999, India berhasil mengalahkan pasukan Pakistan.
Dengan kata lain, dukungan tersedia dengan mudah di wilayah Asia, jika Indonesia memutuskan untuk memperbesar armada Flanker-nya.
Tak Ada Ikatan
Argumen yang paling mendukung bagi Indonesia untuk membeli pesawat Rusia adalah, tak seperti negara adidaya lain, Moskow tak pernah memberi embargo akibat sebuah konflik. Selain itu, tindakan menjual senjata untuk sebuah negara namun kemudian menghentikan pasokan pada saat perang ibarat "menusuk dari belakang". Embargo AS pada krisis Timor Timur jelas ditujukan demi keuntungan Australia. Pada konflik Indonesia-Australia di masa depan, hasilnya mungkin tak akan berbeda jauh. Pemimpin politik Indonesia harus mempertimbangkan masak-masak saat mereka hendak mengambil keputusan untuk membeli pesawat tempur.
Latihan Kesiapan Tahun 2015 di Perairan Balikpapan
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta menguji kesiapan operasional Koarmatim dan jajarannya dalam menghadapi tugas penanggulangan aksi teror untuk mewujudkan keamanan di laut dan dalam rangka terwujudnya kesiapan operasional Koarmatim yang tinggi.
Adapun skenario latihan yaitu adanya kelompok pengganggu keamanan yang beraksi di daerah Sulawesi, kemudian mereka melarikan diri dan membajak kapal di Selat Makassar.
Dalam latihan manuver lapangan kesiapan pengendalian anti teror kali ini disimulasikan telah terjadi pembajakan oleh sekelompok pembajak yang telah menguasai MT Permina II yang saat ini diperankan oleh KRI Makasar – 590 pada posisi perairan Balikpapan.
Dengan adanya informasi tersebut, Pangarmatim menerima Taklimat Rencana Operasi menjadi Perintah Operasi oleh Panglima TNI.
Berdasarkan Taklimat tersebut Pangarmatim memerintahkan Satuan Komando Pasukan Katak dan unsur-unsur gelar yang sedang melaksanakan patroli di perairan Balikpapan untuk melaksanakan shadowing dan penindakan.
Usai Pelaksanaan Latihan Wakil Komandan Komando dan pendidikan latihan (Kodiklat) Mabes TNI Brigjen TNI Heronimus Guru, menjelaskan dalam keterangan persnya dalam latihan ini bisa berjalan dengan baik dan paling tidak dapat terintegrasi antara TNI dan Polri serta peran serta pemerintah, instansi terkait dan wadan Kodiklat TNI juga sangat menghargai partisipasi dari seluruh satuan yang ada di Kalimantan Timur.
Selain itu juga meberikan apresiasi kepada Pangarmatim dan jajaranya yang telah terpanggil untuk turut serta berperan aktif dalam keamanan diwilayah perairan yuridiksi Nasional yang bertugas pokok sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang TNI No. 34 tahun 2004.
Peserta latihan kesiapan melibatkan unsur KRI diantaranya KRI Makassar, KRI Kihajar Dewantara, KRI Keris, KRI Birang, Combat Boat, empat Sea Rider, satu pesawat Cassa, satu Hely Bell dan satu Hely Bolco dari Skadron 400 Juanda, lima Tim Satuan Komando Pasukan Katak Koarmatim serta didukung dari personil Lanal Balikpapan dan seluruh personil KRI yang terlibat.
Selain itu yang tergabung dalam latihan ini melibatkan pemerintah Kalimantan Timur meliputi personil dari Kodam VI Mulawarman, Polda Kaltim, Pol Airud, Dinas Kesehatan, serta dari Dinas Kesehatan, Tim Basarnas, Tim DVI, Taruna Tanggap Bencana (Tagana) dibawah Dinas Sosial Kalimanatan Timur.
Usai pelaksanaan latihan dilanjutkan Parade kendaraan dan sailing pass yang diikuti dari beberapa KRI diantaranya KRI Kihajar Dewantara, KRI Keris, KRI Birang serta didukung dari dua kapal dari Satpol Airud, Tugboat, Patkamla Lanal Balikpapan.
Hadir dalam Latihan Kesiapan Operasional Koarmatim Dirlat Kodiklat TNI Brigjen TNI Surawahadi, Komandan Puslat Kodiklat TNI Marsma TNI Wahyudi Sumarwoto beserta tim dari Kodiklat, Komandan Lantamal VI Makasar Laksma TNI Rudito, H.P, Asops Pangarmatim Kolonel Laut (P) Maman Firmansah, Komandan Satgas latihan Kolonel Laut (P) Suhartono, Komandan Lanal Balikpapan Kolonel Laut (P) Ariantyo Condrowibowo, Komandan Satuan Pasukan Katak Koarmatim Pejabat dari TNI dan Muspida dan Muspika Kalimantan Timur yang hadir serta instansi terkait.
Usai pelaksanaan latihan Wadan Kodiklat TNI memberikan cinderamata kepada Komandan Lanal Balikpapan Kolonel Laut (P) Ariantyo Condrowibowo dan kepada GM Pelindo area 4 Balikpapan, sekaligus dilaksanakan Upacara penutupan yang dipimpin langsung oleh Wadan Kodiklat TNI dan bertindak sebagai Komandan Upacara Komandan Satgas latihan Kolonel Suhartono serta dilanjutkan penyerahan piagam dari perwakilan peserta latihan.
TNI AL berencana kembangkan "TMC" di laut
TNI Angkatan Laut berencana mengembangkan "Traffic Management Center" (TMC) untuk lalu lintas laut, yang tujuannya memberikan rasa aman bagi masyarakat di laut serta memberikan informasi mengenai kepadatan jalur laut.Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksma TNI Manahan Simorangkir, saat meresmikan Media Center Dispen Koarmatim di Surabaya, Rabu, mengatakan rencana pembentukan TMC seperti yang dimiliki Polri memang ada, dan masih terus dikembangkan.
"Arah ke sana memang ada, sebab tujuan kita adalah untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat kita sendiri atau internasional. Contoh seperti di Selat Malaka, Selat Sunda atau di tempat yang traffick-nya padat atau berbahaya adanya perompakan dan kecelakaan navigasi, perlu sekali adanya semacam TMC," ucapnya.
Terkait rencana itu pula, Manahan mengaku pernah salah satu "vendor" atau penjual alat/jaringan komunikasi menawarkan kepada TNI AL sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk siaran langsung, namun masih dalam penjajakan.
"Rencana itu memang ada, namun prioritas kami saat ini masih melengkapi peralatan dan mengembangkan yang ada. Tentunya, setiap informasi yang akan dikeluarkan juga harus dipilah, mana yang untuk publik dan mana yang merupakan rahasia negara," katanya.
Ia mengatakan, upaya yang dilakukan saat ini adalah mengembangkan keberadaan media center untuk Dispen Koarmatim dan beberapa jajaran lainnya, sehingga bisa terintegrasi dan melaksanakan monitoring terkait pemberitaan mengenai Angkatan Laut.
"Awal pengembangan media center karena pesatnya media saat ini, sehingga menuntut penyesuaian dan peningkatan jajaran penerangan TNI Angkatan Laut dalam rangka membangun opini dan merebut hati dan pikiran rakyat agar mendukung tugas TNI AL," katanya.
Ia berharap, dengan adanya pengembangan teknologi di bidang penerangan dapat membentuk lingkungan informasi yang sesuai dengan kepentingan TNI AL, sehingga mendukung tugas-tugas TNI AL.
[World] Penembakan di Kamp Militer Korsel, Dua Tewas
Seorang tentara Korsel melepaskan tembakan ke arah tentara lainnya sebelum akhirnya bunuh diri. Ini bukan kali pertama peristiwa serupa terjadi. (Chung Sung-Jun/Getty Images)Seorang tentara Korea Selatan menembaki kawannya sendiri saat menjalani latihan di kamp militer Seoul sebelum akhirnya bunuh diri. Insiden ini menewaskan dua orang dan melukai tiga lainnya.
Diberitakan situs Yonhap yang mengutip pernyataan militer, peristiwa ini terjadi pada Rabu (13/5) di kamp militer Naegok-dong saat tentara bernama Choi melepaskan tembakan ke arah teman-temannya.
Setelah menembak beberapa orang, pria 23 tahun ini menembak dirinya sendiri hingga tewas. Korban tewas lainnya adalah tentara berusia 24 tahun yang menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Salah satu korban luka kini dalam keadaan kritis.
"Pelaku menembakkan senapan K-2. Penyelidik masih mencari penyebab mengapa pelaku melakukan hal tersebut," ujar juru bicara militer Korsel, Ko Dong-heun.
Saat peristiwa terjadi ada sekitar 600 tentara yang mengikuti wajib militer tengah menjalani latihan menembak, bagian dari pelatihan tiga hari yang dimulai Selasa lalu.
Salah satu peserta latihan adalah penyanyi Psy. Namun penyanyi "Gangnam Style" ini izin pulang sekitar 20 menit sebelum insiden terjadi.
Seluruh pria yang sehat fisik di Korsel menjadi tentara cadangan dan harus menjalani wajib militer selama dua tahun. Setelah itu, selama tiga hari setiap tahunnya digelar latihan militer yang harus diikuti para tentara cadangan sepanjang enam hingga delapan tahun.
Penembakan di kemiliteran Korsel bukan kali ini saja terjadi, menimbulkan dugaan adanya penindasan atau ketidaksiapan mental para peserta wajib militer.
Tahun lalu, seorang tentara Korsel melempar granat dan menembaki kawan-kawannya, menewaskan lima orang dan melukai tujuh lainnya. Kepada penyidik, pelaku mengaku kesal setelah melihat gambar yang dibuat para korban untuk mencemooh dirinya. (stu)
♞ CNN
Label:
World
Langganan:
Postingan (Atom)