Senin, 17 Desember 2012

Komandan Korps Marinir Kunjungi Pulau Berhala

Komandan Korps Marinir Kunjungi Satgasmar di Pulau BerhalaKomandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) A. Faridz Washington didampingi Wakil Komandan Lantamal I Kolonel Marinir Yanuar Ludfi mengunjungi pulau terluar (Pulau Berhala) yang terletak di wilayah perairan Selat Malaka, Rabu (12/12).

Dankormar beserta rombongan berangkat dari dermaga Mako Lantamal I dengan mengunakan KRI Matacora-823 dengan menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam. Komandan Lantamal I Laksamana Pertama (Laksma) TNI Didik Wahyudi,SE, menyempatkan mengantar Dankormar menuju KRI Matacora-823.

Selama kunjungan ke pulau Berhala Dankormar menyampaikan arahan kepada seluruh personel yang bertugas di Pulau Berhala mengatakan ”Jaga selalu solidaritas, bina selalu fisik, jaga kesehatan dan hilangkan rasa jenuh dalam bertugas tetap semangat ”. Sekaligus meninjau fasilitas serta mess yang ada di pulau berhala, dilanjutkan pemberian bingkisan berupa satu unit mesin Listrik generator, Majalah, dan makan siang bersama prajurit Marinir yang bertugas di P. Berhala.

Dalam kunjungan tersebut Dankormar didampingi Asintel Dankormar Kolonel Marinir Suaf Yanu Hardani, Kadismat Kormar Kolonel Marinir Siswoto, Komandan Brigif-3 Kolonel Marinir Hardimo, Pasops Brigif-3 Mar Letkol Marinir B. Hadi S, Dandenma Mako Kormar Letkol Marinir Andi Rahmat, Pakor Spri Dankormar Letkol Marinir Pangestu, Danyonif-8 Mar Mayor Marinir Romi Hutagaol, dan Komandan Tim Intelijen Lantamal I Mayor Marinir Eddy Panjaitan.

RBS-70 : Rudal Pencegat Supersonik Jarak Dekat

rbs70-tni-ad.jpgKehadiran elemen artileri pertahanan udara (Arhanud) mutlak diperlukan untuk melindungi obyek-obyek penting negara. Salah satu arsenal Arhanud milik Indonesia adalah rudal RBS-70. Meski bukan produk baru, rudal ini masih jadi tulang punggung pertahanan udara, selain rudal Grom. Sampai saat ini RBS-70 dioperasikan oleh Batalyon Arhanud Kodam dan Kostrad. Sifatnya yang mobile, alias mudah dipindahkan dan dirakit membuat rudal buatan Saab Bofors Dynamics, Swedia ini banyak dipakai oleh militer di banyak negara. Untuk gelar operasinya, RBS-70 umumnya dipadukan dengan radar Giraffe sebagai pemandu target.

Dalam konsep rancangannya, RBS-70 dikembangkan sebagai senjata pertahanan udara yang mudah digunakan dan dapat dioperasikan dengan biaya perawatan rendah. Rudal ini mulai diproduksi pada tahun 1977. Meski masuk dalam kelas Manpads (man portable), tapi rudal ini dalam pengoperasiannya tidak bisa dipanggul, peluncur RBS-70 berikut alat bidik berupa teropong monoculer hanya bisa diletakkan pada dudukan peyangga berupa tripod yang memiliki berat 24 kg. Dengan desain model penyangga maka RBS-70 sangat ideal ditempatkan pada jip model Land Rover, seperti yang biasa digunakan oleh Arhanud TNI AD.

RBS-70 Arhanud TNI-AD
Ada 2 tipe RBS-70 yang dimiliki TNI AD, yakni RBS-70 MK-1 dan MK-2. Keduanya sama-sama berpengendali sinar laser, yang membedakan terletak pada kemampuan jarak tembaknya, MK-1 dapat menghajar target mulai dari 500 – 5.000 meter, sedangkan MK-2 bisa mengenai target mulai dari 200 – 7.000 meter. Ketinggian yang bisa dicapai pun berbeda, RBS-70 MK-1 bisa melesat hingga ketinggian 3 km, dan MK-2 hingga 4 km. Beratnya pun berbeda sedikit, bila MK-1 punya bobot 24 kg, maka MK-2 beratnya 26,5 kg.

Selain dari bentuk tabung peluncurnya, yang unik dari rudal ini adalah adanya alat bidik berupa teleskop monoculer yang memiliki pembesaran (zooming) hingga 7x. Dengan material yang sifatnya mudah dibongkar pasang, RBS-70 dapat disiapkan dalam waktu tempur sekitar 30 detik, dan waktu isi ulang 10 detik. Bahkan waktu reaksinya mencapai 8,5 detik. Dengan kecepatan luncur mencapai 1,6 Mach, RBS-70 MK-2 mempunyai kemungkikan perkenaan pada target antara 70 – 90 persen.

Dengan beragam kehandalannya, RBS-70 terbilang rudal SHORAD yang laris dipasaran, tercatat ada 18 negara yang menggunakan rudal ini, yakni Swedia, Australia, Argentina, Bahrain, Brazil, Czech, Finlandia, Jerman, Indonesia, Iran, Irlandia, Latvia, Noorwegia, Pakistan, Singapura, Thailand, Tunisia, dan Uni Emirate Arab. Dilihat dari populasinya, RBS-70 masuk kategori rudal ASEAN, sebab banyak digunakan oleh negara-negara tetangga, mirip dengan Rapier yang juga dimiliki oleh Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darussalam.

Di lingkungan TNI AD, setidaknya ada dua satuan yang mengoperasikan RBS-70, yakni Yon Arhanudse 15/Dahana Bhaladika Yudha, merupakan satuan bantuan tempur yang berada di lingkungan Kodam IV/Diponegoro, berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah. Lalu ada lagi Yon Arhanudri 2 Divisi Infantri 2 Kostrad yang berkedudukan di Malang, Jawa Timur. 

Gelar Operasi RBS-70 

Unit peluncur RBS-70 dapat dioperasikan secara mandiri, atau bisa pula di setting dalam konfigurasi dengan beberapa unit peluncur, yakni membentuk beterai anti pesawat dengan dukungan radar Giraffe. Konsep gelar operasi ini juga umum digunakan oleh Arnanud TNI AD. Umumnya konfigurasi ini mencakup sembilan peluncur RBS-70 dengan rentang jarak antar peluncur sekitar 4 km yang dapat melindungi area selular 175 km2. Fungsi radar Giraffe disini untuk men-supplay data-data dan informasi target ke setiap unit peluncur.(Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Bofors RBS-70 :


Panjang rudal : 1,32 meter
Panjang tabung rudal : 1,735 meter
Diamter tabung : 0,152 meter
Diameter rudal : 0,106 meter
Berat
Rudal tipe MK-1 : 24 kg
Rudal tipe MK-2 : 26,5 kg
Pengendalian : berkas sinar laser
Hulu ledak : MK-1, pecahan impact dan proximity fuze
Kecepatan : supersonik
Jarak Capai
MK-1 : 200 – 5000 meter
MK-2 : 200 – 7000 meter
Ketinggian
MK-1 : 3000 meter
MK-2 : 4000 meter
Alat bidik
Teleskop : monoculer
Pembesaran : 7x
Bidang panjang : 90
Tanki pendingin : 0,7 liter
Berat : 36 kg
Penyangga
Berat : 24 kg
Pengaturan kerataan : max 40
Batasan kerja
Azimuth : 3600
Elevasi : 100 s/d 450
Jumlah awak : 7 orang
Pabrik pembuat : Bofors – Swedia

© Indomiliter

Dubai's Drydocks Chases New Indonesia Deals

http://m.arabianbusiness.com/incoming/article449877.ece/ALTERNATES/g1l/drydocks.JPGDubai - Based Drydocks World is chasing new contracts in Indonesia with talks ongoing on potential projects for the country's coastguard and navy.

The maritime services provider said its chairman, Khamis Juma Buamim, had held "highly productive discussions" with the Indonesian Defence Minister Purnomo Yusgiantoro.

The talks covered a wide ranging issues "with a primary focus on potential partnership on projects for the coastguard and navy", news agency WAM reported.

Buamim said: "We have tremendous experience in servicing the maritime industry with leading edge solutions and are confident that we can offer great value and support to the Indonesian government on naval projects.

"We are interested in knowledge and technology transfer to enable the design and construction of increasingly sophisticated high-end customized vessels."

A memorandum of understanding has been signed by Drydocks World and PAL Indonesia aimed at mutual co-operation in "shipbuilding, general engineering and other relevant areas".

The scope of the MoU also includes maintenance of oil and gas equipment and offshore structures.

In September, Drydocks World said it had signed an agreement with Privinvest Holding, which has construction and design facilities in the Mediterranean, the Gulf, Germany, France and the UK.

The two companies said they envisage a joint venture that will provide ship maintenance, upgrade and refit in addition to other associated services including specialised technical training within the Gulf region for mega yachts and naval vessels.

The memorandum of understanding also says they will work to create a partnership to build warships and support vessels in South East Asia and Indonesia in particular.


Tri Buana Cakti XVIII: Kopassus Kejar Pemberontak

Subuh kemarin (6/12), warga Kampung Karya Merdeka Km 30 dan Kampung Tani Bhakti Km 28, Samboja, Kutai Kartanegara, tercengang oleh bunyi tembakan yang belakangan diketahui berasal dari Senapan Serbu (SS) V-1 Para Komando (Parako) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD. Dibantu teropong bidik malam (NVB), dalam hitungan detik mereka berhasil “melipat” satu peleton (setara 30 personel) kumpulan penimbul aksi (bulsi).

 Dari Bukit Bangkirai, Kopassus Kejar Pemberontak ke Km 28 dan 30

Penyergapan Subuh
RUPANYA para bulsi tersebut merupakan pelarian sisa pemberontak pada penyergapan Kopassus di Bukit Bangkirai, Minggu (2/12) lalu. Mereka memilih bersembunyi di permukiman penduduk untuk lari dari kejaran pasukan elite TNI ini.

Namun berkat informasi dari intelijen dan pelacakan yang akurat, tim Kopassus akhirnya bisa menemukan mereka kendati melakukan pengejaran berhari-hari dalam hutan. Pada subuh tersebut di Kampung Karya Merdeka, satu kompi Parako menyerbu tiga rumah yang diduga menjadi basis persembunyian para pemberontak. Begitu terlihat, mereka yang bergerak cepat langsung menyerbu sasaran. Hasilnya dalam hitungan detik mereka melumpuhkan satu kumpulan bulsi.

Dijelaskan Kolonel Nyoman Cantiasa selaku Direktur Geladi, pertempuran permukiman daerah  merupakan lanjutan dari latihan puncak Geladi Lapangan Tri Buana cakti XVIII Kopassus yang digelar sejak Jumat (30/11) lalu. Sebelumnya sebanyak dua kompi (setara 300 personel) pasukan Kopassus diterbangkan menggunakan tiga pesawat Hercules Long Body dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta menuju Kalimantan Timur. 

Menempuh waktu perjalanan “lintas udara” kurang lebih selama dua jam. Tepatnya di Semoi II kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara melakukan terjun payung lalu bergerak menyisir hutan untuk melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap basis para pemberontak.

“Sisa-sisa pemberontak yang lari dari sana (Km 38 Bukit Bangkirai), berdasarkan intelijen Kopassus kami berhasil identifikasi di tiga titik sasaran penyergapan tadi,” ungkapnya.

Latihan ini diketahui melibatkan satuan Kopassus, para Komando, Satya Yudha (Intelijen), dan Gultor yang secara keseluruhan berjumlah 400 personel.

“Kekuatan disesuaikan dengan skenario latihan dua kompi Parako yang di Kalimantan ini. Semua sudah disusun layaknya operasi di hutan, pemukiman dan perkotaan,” tandasnya.

Pasukan Kopassus masih akan menjalani beberapa serangkaian latihan lagi, yakni Penyergapan Sasaran Pertempuran Hutan Kompi Parako di danau hutan buatan Kebun Raya Balikpapan (13/12), Operasi Raid Pembebasan Tawanan Kompi Parako di Gedung Biru Kaltim Post Group (KPG) (16/12) dan ditutup oleh Operasi Khusus Gabungan Detasemen Penanggulangan Teror dan Parako diawali infiltrasi laut dan mobilisasi udara di pelabuhan Peti Kemas Kariangau.(*/tka/tom/k2)

● Kaltimpost

Minggu, 16 Desember 2012

CIIA: Densus 88 ingin Citrakan Buruk Pesantren Ngruki

http://m.itoday.co.id/timthumb.php?src=http://www.itoday.co.id/images/stories/itoday-images/densus88-2_9.jpg&h=auto&w=140&a=tlPenangkapan santri Al Mukmin Ngruki bernama Ali Zainal Abidin oleh Densus 88 di daerah Gemuruh, Purbalingga Jawa Tengah menunjukkan pasukan antiteror milik kepolisian itu ingin mencitrakan buruk pondok pesantren yang didirikan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. 

Demikian dikatakan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Minggu (16/12). 

Menurut Harits, tindakan Densus 88 yang menangkap Ali Zainal Abidin dengan tuduhan keterlibatan teroris dan jaringan Farhan sangat tidak bijak. 

"Densus 88 nampaknya mencari-cari kesalahan Ali Zainal Abidin agar bisa ditangkap. Penangkapan ini upaya Densus 88 memberikan citra buruk terhadap Pondok Pesantren Al Mukmin yang didirikan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir," tegas Harits. 

Selain itu, Harits juga mengatakan, Densus 88 yang menangkap santri asal Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu telah melukai umat Islam. "Saya melihat tindakan Densus 88 sangat kontraproduktif dan kesekian kalinya melukai perasaan umat Islam," paparnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Densus 88 Mabes Polri menangkap seorang santri asal Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki bernama Ali Zainal Abidin (20), Minggu (16/12) pagi. 

Densus 88 menangkap Ali Zainal di Pondok Pesantren Yayasan Istiqomah, Sambas daerah Gemuruh, Purbalingga Jawa Tengah. Pihak pasukan antiteror milik kepolisian itu menduga Ali Zainal terlibat dalam kegiatan teroris dan terkait jaringan Farhan. 

Berdasarkan keterangan Kapolres Purbalingga, AKP Ferdy Sambo bahwa Ali dijemput oleh anggota Densus 88 saat membeli sayuran di pasar tidak jauh dari pondok pesantren tersebut. 

Sedangkan pengurus pondok pesantren, Mukti Ali mengatakan, Ali Zainal Abidin dijemput Densus 88 dari Jakarta dengan menggunakan mobil pelat nomor Purbalingga. "Kita baru terakhir baru mengetahui bahwa yang membawa Ali adalah anggota Densus 88. Kita merasa kecolongan telah menerima orang yang diduga bermasalah dengan hukum," terangnya. 

 Diduga Terlibat Teroris Solo, Santri Purbalingga Ditangkap Densus 88 

http://m.itoday.co.id/timthumb.php?src=http://www.itoday.co.id/http://www.itoday.co.id/images/stories/itoday-images/Teroris-Solo-01_2.jpg&h=auto&w=140&a=tlSeorang santri terduga teroris di Purbalingga, Jawa Tengah, ditangkap pasukan Detasemen Khusus Antiteror Mabes Polri (Densus 88). Santri berinisial AZ itu ditangkap karena diduga terkait jaringan kelompok Farhan, pelaku peledakan pos polisi dan penembakan polisi di Solo, Jawa Tengah.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Suhardi Alius menyatakan, pihak kepolisian memang telah menangkap seorang santri di sebuah pondok pesantren di Purbalingga. Terduga teroris itu ditangkap dalam penggrebegan aparat Densus 88 di Desa Gumuruh, Purbalingga.

Menurut Suhardi, Densus 88 mulai melakukan penyergapan sejak pukul 05.30 WIB, Minggu (16/12). Suhardi juga memastikan, AZ terkait dengan kelompok Farhan atau kelompok teroris Solo.

Anggota kelompok Farhan saat ini sedang menjalani proses hukum. Farhan sendiri ditembak mati Densus 88 di Jalan Veteran, Surakarta pada Jumat (31/08/2012). Versi pihak kepolisian, Farhan adalah anak tiri Abu Umar, pimpinan teroris di Filipina yang memasok senjata api ke Indonesia. Disebut-sebut, Abu Umar berperan penting dalam pemberangkatan Farhan ke Filipina untuk bergabung dengan mujahidin di Filipina.

● itoday
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...