Sabtu, 23 November 2013

OMSP TNI-AU di Filipina

Sejak Selasa, (19/11) crew (awak) Pesawat Hercules C-130 TNI AU dengan tail number A-1323 melakukan distribusi bantuan sosial dari pemerintah Indonesia ke daerah terdekat di Tacloban, Filipina. Untuk itu Pesawat Hercules telah melaksanakan kegiatan penerbangan sebanyak 2 sortie ke daerah bencana tersebut.

(photo: crew hercules TNI-AU)

Berdasarkan informasi crew Pesawat Hercules C-130 dengan PIC (Pilot in Command) Mayor Pnb Puguh Yuliono, memutuskan untuk berangkat lebih pagi karena banyaknya traffic pesawat dari negara lain yang melaksanakan misi pengiriman bantuan. Sortie pertama A-1323 take off dari Mactan Air Base, Cebu pada pukul 07.10, membawa bahan makanan seberat 11.225 kilogram dan 23 pengungsi serta 24 wartawan.

Menurut Mayor Pnb Puguh Yuliono, kendala di daerah bencana selain keterbatasan makanan, tempat tinggal warga juga tidak layak, karena tinggal di bangunan-bangunan bekas bencana yang rentan untuk roboh. Selain itu, dalam segi penerbangan disebabkan keterbatasan appron yang tersedia, maka setelah unloading, crew Hercules harus segera kembali lagi ke Cebu dengan membawa 94 pengungsi serta 6 personel militer ke Cebu.

Ditambahkan, pada sortie kedua crew Hercules berangkat dari Mactan pukul 13.23 membawa sekitar 14.528 kilogram bahan makanan beserta 8 orang wartawan dan seorang personel militer. Tidak berbeda dengan sortie sebelumnya, pada sortie kedua crew Hercules juga harus segera kembali ke Cebu dengan mengangkut 95 pengungsi dan 15 personil militer. Pada pukul 15.15 waktu setempat Pesawat Hercules berhasil mendarat di Mactan dengan aman.

Pada hari keempat, Rabu (20/11) crew (awak) Pesawat Hercules C-130 TNI AU dengan tail number A-1323 selain melakukan distribusi bantuan sosial di Tacloban juga menjangkau Bandara Ilo Ilo, Filipina untuk distribusi bahan makanan.

(photo: crew hercules TNI-AU)

Mayor Pnb Puguh Yuliono sebagai PIC (Pilot in Command), menyatakan pada hari keempat telah 2 sortie penerbangan yang dilakukan yang meliputi 1 sortie ke Roxas dan 1 sortie ke Ilo ilo. “Pada sortie pertama, penerbangan berjalan lancar yaitu dari Mactan ke Roxas berangkat pada pukul 00.16 membawa 15.000 kilogram bahan makanan dan 8 wartawan. Setelah unloading di Roxas, crew kembalii ke Mactan melaksanakan sortie berikutnya”, ujarnya. Ditambahkan setiba di Mactan, crew menyiapkan sortie selanjutnya ke Ilo ilo sebagai penerbangan pertama Hercules ke bandara tersebut dengan membawa 15.000 kilogram bahan makanan dan 7 wartawan. Setelah loading, crew melaksanakan penerbangan ke Ilo ilo pukul 12.00 dan sampai pada pukul 04.37 UTC. Selanjutnya setelah crew melaksanakan unloading, kembali ke Cebu dan mendarat pada pukul 06.30 UTC atau 14.30 waktu Filipina dengan aman.(Pentak Lanud Halim PK)

  ● ARC  

Jumat, 22 November 2013

Lembaga Sandi Akui Kedutaan Besar RI di Beberapa Negara Disadap

  Alat sadap ditemukan di sejumlah KBRI. Pemerintah telah memprotes.  

Lembaga Sandi Negara mengakui ada indikasi penyadapan di beberapa kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di luar negeri.

Mereka pun selalu melaporkan upaya penyadapan itu kepada tim terpadu dan tim kepresidenan, namun tidak disampaikan ke publik karena persoalan intelijen bersifat rahasia.

“Indikasi penyadapan selalu ada. Hanya kami tidak bisa pastikan siapa yang memasang alat sadap itu,” kata Kepala Lemsaneg Mayor Jenderal TNI Djoko Setiadi di Jakarta, Jumat 22 November 2013. Menurutnya, alat sadap yang ditemukan di sejumlah KBRI itu tidak bermerek sehingga tidak diketahui pihak mana yang membuat produk tersebut.

Itulah yang membuat Lemsaneg sulit mengetahui pihak mana yang bertanggung jawab dalam mencuri informasi di KBRI beberapa negara. “Seratus persen kami tidak tahu siapa yang pasang alat sadap. Setelah kami telusuri tidak ada ciri-ciri khusus pada alat itu,” kata dia.

Untuk diketahui, di ruang kerja Duta Besar RI di Canberra Australia dan di Washington DC Amerika Serikat pernah ditemukan alat sadap. Pemerintah Indonesia bahkan telah melayangkan protes.

Namun kedua negara terkait tidak mengakui. Alat yang dipasang di KBRI itu disebut pemerintah masing-masing negara sebagai bagian dari upaya membantu Indonesia aman dari ancaman terorisme.

Saat ini hubungan Australia dan Indonesia memburuk paska terkuaknya penyadapan Badan Intelijen Australia (DSD) terhadap Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, istri, dan para pejabatnya.

Indonesia menghentikan kerjasama militer dan intelijen dengan Australia untuk sementara waktu sampai pemerintah Australia memberikan penjelasan resmi atas aksi spionase itu.

 Benda-benda Ini Ketahuan Disamarkan Jadi Alat Sadap di KBRI  

Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) juga bertugas melakukan pengecekan dan penyisiran di semua KBRI di dunia.

Hasilnya, banyak alat sadap yang tersembunyi di KBRI. Beberapa di antaranya melalui alat ini.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Lemsaneg Mayjen TNI Djoko Setiadi dalam acara coffee morning bersama pemimpin redaksi dan redaktur media nasional di kantor Lemsaneg, Jalan Harsono RM, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013). Djoko enggan mengungkapkan KBRI di negara mana saja, namun lembaganya, termasuk dia sendiri pernah menemukan alat sadap tersamar.

"Kami bersama BIN dan Kemlu memiliki tim terpadu yang bertugas keliling perwakilan kita di seluruh dunia, untuk mengecek apakah ditemukan alat penyadap tadi," jelas Djoko.

"Namun kita tidak bisa memastikan siapa yang menaruhnya," imbuhnya.

Ternyata tim terpadu itu menemukan banyak KBRI dipasangi alat sadap tersamar dan tersembunyi seperti yang dijelaskan Djoko berikut ini:

1. Alarm Kebakaran


"Ada alat untuk alarm kebakaran, ternyata setelah kita cek, ada kabel yang tersambung dengan jaringan line telepon di kediaman Pak Dubes, itu sekitar tahun 2004-2005," kata Djoko.

2. Plafon Ruang Dubes


Saat itu, Djoko sendiri yang hendak memeriksa ruang kerja dubes. Sang dubes sempat mengatakan bahwa negara tempatnya bertugas adalah sahabat Indonesia. "Yakinlah, tidak ada alat-alat itu," kata Djoko menirukan dubes itu.

Kenyataannya, alat sadap itu ditemukan di atas plafon ruangan sang dubes. "Di atas meja Pak Dubes, di atas plafon, kita gergaji ada alat sadap. Lagi-lagi kita tidak tahu, siapa yang memasang," tuturnya.

Di KBRI lain lagi, Lemsaneg bahkan pernah menemukan transmitter atau alat-alat sadap ini dicor langsung di plafon ruang rapat KBRI. "Di plafon ada metal-metal begitu, ternyata setelah kita cek, 100 persen itu transmitter, dicor langsung di ruang rapat," tuturnya.

3. Handle Pintu


Lemsaneg juga pernah menemukan ada alat penyadap di handle pintu dubes.

4. Saklar Listrik


Lemsaneg juga menyebutkan saklar listrik di antara ruangan dubes pernah didapati dipasangi alat penyadap.

5. Serbuk Misterius


Ini bukan alat untuk menyamarkan alat sadap, melainkan dicurigai menjadi modus memasang alat sadap di KBRI. Pernah di satu KBRI, ada serbuk misterius yang dikirimkan. Seluruh personel KBRI disuruh keluar, termasuk Atase Pertahanan. Sebagai gantinya, polisi dan tentara negara di KBRI itu masuk untuk menyisir.

"Kita bukan sok menuduh, tapi mungkin saja ketika itu justru dimanfaatkan mereka untuk memasang alat-alat (sadap) yang mereka inginkan. Dan bubuk ini bisa dikondisikan," kata Djoko.

  ♞ Vivanews | detik  

Latihan Bersama “GARUDA SHAKTI” Antara Kostrad dan AD India

Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan Indian Army Battalion 9 Madras melaksanakan Latihan Bersama (Latma), dengan nama latihan “Execise Garuda Shakti-II/2013”, yang dibuka oleh Panglima Divisi Infanteri-1 Kostrad Mayjen TNI Daniel Ambat, di Markas Divisi Infanteri 1 Kostrad, Cilodong, Depok, Senin (18/11).

Latma Execise Garuda Shakti-II dilaksanakan dari tanggal 18 sampai tanggal 29 November 2013, dengan lokasi daerah latihan di Cilodong dan daerah latihan Kostrad Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.

Latihan Bersama India ini merupakan Latihan Bersama antara 2 (dua) negara dan merupakan wujud kerjasama internasional, dilaksanakan setiap tahun secara bergantian, bertujuan untuk menjalin dan meningkatkan hubungan kerjasama antara TNI-AD dengan Army Battalion 9 Madras.

Adapun materi Latma Execise Garuda Shakti-II ini antara lain Latihan silang Cross Training (PJD), Latihan taktis dengan pasukan Infanteri mekanis dalam OLI (FTX), Sedangkan personel yang dilibatkan dalam latihan bersama ini sejumlah personel terdiri dari kostrad 40 personel yang dipimpin Mayor Inf Habib Mahfud Koamandan Batalyon Infanteri 321 Kostrad dan Angkatan Darat India 40 personel dipimpin oleh Mayor Polaki Srinivas.

Pangdivif 1 Kostrad mengatakan, melalui latihan bersama Execise Garuda Shakti-II, prajurit kedua negara dapat mengembangkan kemampuan taktik yang dimiliki, dihadapkan dengan medan yang sebenarnya, sehingga dapat menunjang pencapaian keberhasilan latihan bersama Execise Garuda Shakti-II 2013.

Pangdivif 1 Kostrad berharap peserta latihan dapat meningkatkan persahabatan dan kerja sama serta meningkatkan profesionalitas keprajuritan sehingga tujuan latihan dapat tercapai secara optimal.

Disamping itu, Pangdivif 1 kostrad juga berharap seluruh kegiatan Latihan Bersama dapat berjalan sesuai dengan sasaran yang dikehendaki, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh para Prajurit, satuan dan Angkatan Darat kedua negara.

  ♞ Kostrad  

Negosiasi Pembelian Kapal Selam Rusia oleh RI Target Penyadapan?

 Agustus 2009 ketika SBY disadap, adalah saat krusial dalam negosiasi. 

Ketegangan diplomatik masih menyelimuti Jakarta-Canberra menyusul terungkapnya aksi penyadapan Australia terhadap Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabatnya. Dalam salah satu dokumen yang dibocorkan Edward Snowden, Badan Intelijen Australia (DSD) menyadap SBY pada Agustus 2009.

Apa sebenarnya yang diincar Australia pada periode Agustus 2009 itu? Mantan Duta Besar RI untuk Rusia, Hamid Awaluddin, menduga rencana RI membeli kapal selam Rusia ikut menjadi target penyadapan. Pasalnya, tarik-ulur atau negosiasi seputar jadi-tidaknya Indonesia membeli kapal selam Rusia terjadi pada Agustus 2009.

“Teknologi kapal selam yang saat itu hendak dibeli Indonesia dari Rusia sungguh dahsyat. RI berencana membeli dua kapal selam. Kalau jadi, (Australia) tentu takut sama kita,” kata Hamid kepada VIVAnews, Jumat 22 November 2013.

Sejumlah pejabat RI yang ketika itu disadap oleh Australia, diyakini Hamid ada kaitannya dengan rencana pembelian kapal selam Rusia itu. “Sofyan Djalil saat itu Menteri Negara BUMN, Sri Mulyani Indrawati saat itu Menteri Koordinator Perekonomian. Mereka terkait dengan aspek ekonomi negosiasi itu (kapal selam), yakni pembiayaan. Ada anggarannya atau tidak,” kata Hamid.

Penyadapan terhadap Sofyan Djalil juga terkait dengan dana BUMN untuk membangun dermaga kapal selam tersebut. Sementara Dino Patti Djalal yang juga disadap ketika itu merupakan Juru Bicara Presiden Bidang Luar Negeri. Komunikasi-komunikasi dari pihak asing sangat mungkin masuk melalui Dino.

Pada akhirnya, kata Hamid, Indonesia batal membeli kapal selam Rusia karena alasan keterbatasan biaya. RI akhirnya lebih memilih membeli kapal selam Korea Selatan.

Untuk diketahui, Rusia pada tahun 2012 memiliki 60 kapal selam bertenaga nuklir dengan teknologi canggih. Meskipun pembelian kapal selam dari Rusia batal dilakukan pada tahun 2009 itu, kini Rusia kembali menawarkan 10 unit kapal selamnya kepada Indonesia.

“Ada tawaran kapal selam dari Rusia. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan Indonesia dengan Rusia,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, 17 Agustus 2013.

 Jakarta-Moskow tingkatkan kerjasama 

Dalam kunjungannya ke parlemen Indonesia Kamis kemarin, 21 November 2013, parlemen Rusia menyepakati peningkatan kerjasama dengan Indonesia, termasuk dalam teknologi sadap dan antisadap.

Selain bertemu pimpinan parlemen Rusia, DPR juga melakukan pertemuan selama hampir 4 jam dengan Duta Besar Rusia untuk RI. “Saya gembira Rusia mendukung Indonesia. Kami sudah berbicara langsung (soal peningkatan kemitraan),” kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso.

DPR mengingatkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi target penyadapan Australia, untuk tidak terlena dengan kerjasama dengan pemerintah AS. “Indonesia juga harus meningkatkan kerjasama dengan negara lain, termasuk Rusia,” kata Priyo.(umi)

  ♞ Vivanews 

Kemhan Dukung Alih Teknologi Fuze dari Bulgaria

Malang - Kementerian Pertahanan mendukung kemungkinan alih teknologi pembuatan fuze atau komponen pemicu bom dari Armaco JSC Bulgaria sebagai upaya menuju kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

"Kita memang menuju kepada kemandirian alat utama sistem senjata (Alutsista), tetapi prosesnya bertahap. Pada saat kita belum mampu, kita melakukan kerja sama dengan luar negeri," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang juga Ketua High Level Committe (HLC) usai meninjau kesiapan pabrik bom PT Sari Bahari di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Menurut dia, kerja sama dengan luar negeri harus ada kesetaraan dan kemitraan untuk mendapatkan satu alih teknologi tentang pengembangan fuze ini.

"Ini dilakukan secara bertahap dengan target suatu saat kita bangun pabrik fuze di Indonesia. Ini dilakukan agar industri pertahanan dalam negeri bisa mandiri tanpa ketergantungan negara asing," tuturya.

Menurut dia, meski Indonesia belum memiliki pabrik pembuat fuze, namun Indonesia memiliki pabrik pembuat bom, PT Sari Bahari, dimana satu-satunya yang ada di Asia Tenggara.

Bom yang telah diproduksi oleh PT Sari Bahari dan PT Dahana selaku tempat pengisian bahan peledaknya, antara lain, bom asap, bom P-100 L yang diperuntukan untuk pesawat tempur Sukhoi TNI AU, roket untuk pesawat Super Tucano dan lainnya.

"Kami koneksikan dengan PT Sari Bahari dengan PT Dahana. Ini menunjukan kemampuan industri pertahanan kita sudah memiliki infrastruktur termasuk amunisi untuk mendukung kemandirian alutsista TNI," kata Sjafrie.

Di tempat yang sama, Presiden Direktur PT Sari Bahari Ricky Egam mengatakan, pihaknya akan berusaha untuk bisa berkembang dengan pesat, meskipun ada beberapa kendala yang dihadapinya.

Kendala itu, kata dia, belum adanya pembuat fuze di Indonesia sehingga mengharuskan pihaknya mengimpor dari Bulgaria.

"Sebenarnya pihak Armaco, Bulgaria setuju untuk menjalin kerja sama untuk PT Sari Bahari untuk alih teknologi pembuatan fuze. Namun, pihak Armaco meminta sebelum ada kesepakatan, PT Sari Bahari harus membeli fuze sebanyak 1.500 pcs. Kami minta pemerintah untuk mendukung masalah ini," katanya.

 Pabrik Bom Siap Operasional Untuk Mendukung Modernisasi Peralatan Militer

Wakil Menteri Pertahanan, mengatakan Pabrik Bom yang ada di Indonesia telah siap beroperasional dalam rangka mendukung modernisasi peralatan TNI baik untuk kebutuhan latihan ataupun tugas-tugas mengamankan kedaulatan.

“kita pastikan industri dalam negeri makin bangkit dan kuat khususnya pabrik produksi bom siap operasional untuk mendukung modernisasi peralatan militer,” Ungkap Wamenhan.

Demikian diungkapkan Wamenhan, Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat (22/11) saat meninjau secara langsung proses pembuatan bom latih P-100 di kompleks Pabrik milik PT. Sari Bahari, Malang, Jawa Timur.

Saat peninjauan, Wamenhan mengatakan industri bom seperti PT. Sari Bahari dalam proses perkembangan yang mengarah kepada kesiapan operasional mendukung modernisasi peralatan, selain memiliki peluang yang besar, namun juga terdapat tantangan yang harus dihadapi.

Mengenai peluang Wamenhan mengatakan penggunaan bom akan tetap diperlukan selama masih tersedianya senjata. Disamping itu pihak pemerintah juga memberikan peluang seluas-luasnya berjalan secara berkelanjutan pada setiap sistem yang melintas dari rencana strategis (Renstra) setiap lima tahun.

Sedangkan terkait dengan tantangan yang akan dihadapi, menurut Wamenhan akan menyangkut dengan keandalan dari suatu sistem persenjataan yang didukung oleh kemandirian industri pertahanannya.

Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat beberapa faktor penting yang akan bisa menopang peluang yang diberikan dari pemerintah, dan perlu diperhatikan dalam menjawab tantangan yang akan dihadapi.

Diantaranya dijelaskan Wamenhan, agar kualitas produksi bisa terus meningkat dan berkembang perlu juga meningkatkan factor Skill Level dalam wujud kesejahteraan, Selain itu diperlukan atensi terhadap perkembangan infrastruktur pabrik yang akan menunjang target industri strategis.

Wamenhan juga menghimbau dari sisi legitimasi kelayakan produksi sebagai bagian dari pada industri pertahanan juga perlu diawasi. Terkait faktor legitimasi kelayakan produksi industri harus berinteraksi dengan pihak regulator dan pengguna, karena disini memiliki kepentingan untuk mendapatkan otentikasi kelayakan operasional. Sehingga hal itulah yang menjadi pegangan untuk terus meningkat dan menjadi justifikasi apabila ingin masuk kedalam lingkup eksport regional.

  ♞ Antara  | Kemhan 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...