Jumat, 24 Februari 2012

☆ Mengenang Usman & Harun (1)

engenang kembali Kisah Perjuangan dan Pengorbanan Usman dan Harun yang berasal di KKo AL kala itu yang kini menjadi Korps Marinir. 
Mereka berdua adalah legenda yang gugur menjalankan Tugas Negara.

JANATIN alias USMAN
 

Masa Kecil 
Pada masa penjajahan Jepang, di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba KabupatenPurbalingga, lahirlah seorang bayi bernama Janatin, tepatnya pada hari Minggu Kliwon tanggal 18 Maret 1943 pukul 10.00 pagi. Janatin lahir dari keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah yang kemudian dikenal dengan nama Usman, salah seorang Pahlawan Nasional.

Hari, bulan dan tahun berjalan terus, Janatin terus tumbuh menjadi besar dan kemudian memasuki lingkungan yang lebih luas sesuai dengan pertumbuhannya dan ia mulai menunjukkan identitas dirinya sebagai Janatin. Orangnya pendiam lagi tidak sombong, memang demikian pembawaannya. Pergaulannya luas, bisa bergaul dengan teman semua lapisan yang sebaya dengannya. Tidak merasa rendah diri walaupun anak desa, dan tidak sombong dengan orang yang lebih lemah dari dia, sehingga ia mempunyai teman banyak.
 
Sebagai kepala keluarga Haji Muhammad Ali selalu menerangkan agama sebagai landasan hidup. Demikian pula dalam bidang pendidikan sebagai dasarnya beliau menekankan pada pendidikan agama. Tujuannya tidak lain agar kelak putra-putrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa serta tahu membalas jasa orang tua. Karena itu tidaklah mengherankan bila putra-putri Haji Muhammad Ali sedikit banyak mengetahui soal keagamaan dan semua dapat membaca Al Qur'an dengan baik.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Janatin meneruskan ke SMP kota Purbalingga, yang jaraknya kurang lebih sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Ia masuk di sekolah swasta SMP Budi Bhakti. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan simpati di kalangan masyarakat Purbalingga, karena prestasinya sejajar dengan sekolah negeri.

Walaupun Janatin dari kalangan Islam, namun tidak ada halangan dari orang tuanya untuk memasuki sekolah tersebut. Karena tujuan masuk sekolah bukan untuk belajar agama tetapi untuk menuntut ilmu pengetahuan yang akan dipergunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan masalah ilmu agama sudah diperoleh di rumah yang diajarkan oleh orang tuanya sendiri.
 

Sebagai anak desa Janatin tidak lupa akan tugas yang diberikan oleh orang tuanya, yaitu membantu orang tuanya. Ia turut bekerja untuk meringankan beban orang tua, seperti membersihkan kebun, membantu bekerja di sawah dalam mengolah sawahnya, kemudian turut membantu memetik hasil kebun serta memikulnya ke rumah. Setiap hari ia membawa sabit dan menjunjung keranjang untuk mencari makanan binatang piaraan. Pekerjaan demikian sudah menjadi kewajiban yang dijalankan setiap hari, sehingga menjadikan dirinya seorang yang tabah dan ulet.

Di samping itu Janatin ikut juga memperkuat olah raga bulu tangkis di desanya. Permainan bulu tangkis ini diperoleh dari perkenalan dengan anak-anak kota. Untuk arena permainan telah dikorbankan sepetak tanah miliknya yang terletak di dekat rumahnya. Dengan dibukanya lapangan ini banyak mengundang pemuda-pemuda di desanya, bahkan lebih luas lagi sampai ke kota.

 
  • Memasuki Kehidupan Militer

Dengan dikomandokannya Trikora pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta oleh Presiden Sukarno, mulailah konfrontasi total terhadap Belanda. Guna menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut Irian Barat, maka pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden / Pangti ABRI / Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962 membentuk Komando Mandala yang bertanggung jawab atas segala kegiatan Operasi ABRI serta Sukarelawan.


Masalah Trikora berkumandang di seluruh pelosok tanah air, telah memanggil segenap lapisan masyarakat dan membangkitkan hati semua pemuda untuk menyumbangkan tenaga dalam pembebasan wilayah yang masih dikuasai Belanda.


Kesempatan inilah membuka pintu bagi Janatin untuk memasuki dinas militer, seperti pemuda lainnya dari pelosok tanah air. Sehingga dalam waktu yang singkat berbondong-bondong pemuda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi Sukarelawan, dan salah seorang yang terpanggil adalah Janatin.


Pada saat itu Janatin sudah menduduki SMP kelas tiga kwartal terakhir. Karena panggilan hatinya yang bergelora ingin menjadi ABRI, maka setelah menyelesaikan pendidikan, Janatin mendaftarkan menjadi ABRI. Sebelumnya ia memang nengagumi angkatan Bersenjata. Hal ini terlihat dari perhatian fanatik kepada kakaknya yang berdinas di Militer. Bila kakaknya pulang, selalu mendapat perhatian dari Janatin, baik dari pakaian seragam, sikap, dan geraknya. Begitu pula setiap melihat anggota ABRI baik tetangga se desa ataupun kenalan selalu menjadi perhatian baginya. pengaruh inilah yang mengilhami dirinya sehingga ingin menjadi seorang militer.




Semula maksud Janatin tidak mendapat restu dari bapaknya, orangtuanya mempunyai pandangan lain, menghendaki agar anaknya melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Haji Muhammad Ali mengharapkan anaknya tidak memasuki dinas militer, beliau sudah merasa cukup karena ketiga kakaknya sudah menjadi ABRI, sedangkan Janatin biarlah mencari pekerjaan yang lain. Namun karena kemauan keras yang tidak dapat dibendung, ia berusaha mendapatkan restu dari ibunya. Akhirnya Janatin mendapat restu dari orangtuanya untuk memasuki dinas militer.


Janatin pada tahun 1962 mulai mengikuti pendidikan militer di Malang yang dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini dilaksanakan guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi Trikora. Karena itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon Tamtama (Secatamko), lamanya pendidikan enam bulan dan Janatin termasuk siswa angkatan ke - X . Setiap siswa selesai melakukan pendidikan dan latihan pendidikan amphibi dan perang hutan. Pendidikan ini merupakan kekhususan bagi setiap anggota Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan Calon Tamtama dilaksanakan bertingkat. Pendidikan dasar militer dilakasanakan di Gunung Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan di pusat latihan Pasukan Pendarat di Semampir. Pada akhir seluruh pendidikan diadakan latihan puncak di daerah Purboyo Malang selatan dalam bentuk Suroyudo. Di sinilah letaknya pembentukan disiplin yang kuat, ketangguhan yang luar biasa, keberanian yang pantang menyerah serta membentuk kemampuan fisik di segala medan dan cuaca, merupakan Pembentukan Pendidikan Korps Komando Angkatan Laut. Semua pendidikan ini telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak memakai baret ungu.
 

Berkat pendidikan dan latihan yang diperoleh selama memasuki militer, Janatin tubuhnya menjadi tegap, kekar, pikirannya tambah jernih, korek, yang lebih penting lagi ia terbina dalam disiplin yang tinggi, patuh, taat dan tunduk kepada perintah atasannya.

Janatin pada bulan April 1964 dengan teman-temannya mengikuti latihan tambahan khusus di Cisarua Bogor selama satu bulan. Mayor KKO Boedi Prayitno dan Letnan KKO Harahap masing-masing sebagai Komandan latihan dan wakilnya. Dalam pendidikan khusus ini dibagi dalam 13 Tim, sedangkan materi yang diberikan antara lain: Inteljen, kontra inteljen, sabotase, Demolisi, gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal dari latihan di Cisarua
ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan untuk mengemban tugas nanti.

TOHIR alias Harun
 


Masa Kecil 
Sekitar 15 kilometer sebelah utara kota Pahlawan, Surabaya, tampaklah dari kejauhan sebuah pulau kecil yang luasnya kira kira 4 kilometer persegi. Di pulau ini terdapat tempat yang dianggap keramat, karena di pulau inilah pernah dimakamkan seorang kyai yang sangat sakti dan terkenal di masa itu, yaitu Kyai Bawean. Sehingga tempat yang keramat ini terkenal dengan nama Keramat Bawean.

Pada saat tentara Jepang menginjakkan kakinya di Pulau Bawean tanggal 4 April 1943, lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Tohir bin Said. Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang kemudian terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.

Sejak dibangku Sekolah Dasar ia tertarik dengan kulit-kulit kerang yang terdampar di pasir-pasir tepian pantai daripada memperhatikan pelajaran di sekolah, hal ini akibat seringnya Tohir pergi ke pantai laut. Perahu-perahu yang setiap hari mencari nafkah di tengah-tengah lautan, merupakan daya tarik tersendiri bagi Tohir. Dengan jalan mencuri-curi ia sering menyelinap ikut berlayar bersama perahu-perahu nelayan ke tengah lautan. Bahkan ia sering tidak masuk sekolah ataupun pulang ke rumah, karena mengikuti perahu-perahu layar mencari ikan di tengah laut beberapa hari lamanya.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia berhasil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta sampai mendapatkan ijazah. Sejak ia menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal dagang, di samping itu tetap rajin belajar mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolahnya dengan jalan mengutip kawan-kawannya.

Ia telah menjelajahi beberapa Negara, tetapi yang paling dikenal dan hafal daerahnya adalah daratan Singapura. Kadang kadang ia berhari-hari lamanya tinggal di Pelabuhan Singapura. Dan sering pula ia ikut kapal mondar-mandir antara Singapura - Tanjung Pinang.

Seorang pemuda Tohir tidak terlepas dari persoalan dunia percintaan. Pada masa remaja kira-kira umur 21 tahun ia pernah jatuh cinta dengan seorang gadis idaman hatinya yang bernama Nurlaila.

Tanpa diketahui oleh Samsuri kakak sulungnya sebagai pengganti ayahnya yang sudah meninggal, Tohir dan gadis tersebut telah sepakat untuk kemudian hari membina suatu rumah tangga yang bahagia. Sebagai tanda janjinya gadis tersebut dilingkarkan cicin emas di jari manisnya.

Setelah mendengar kabar, bahwa gadis idaman yang pernah ditandai cincin akan melangsungkan perkawinan dengan seorang pemuda pilihan orang tua sang gadis, Tohir merasa tersinggung. Pada saat di rumah sang gadis sedang ramai-ramainya tamu dan kedua mempelai sudah hampir dihadapkan penghulu, tiba-tiba Tohir dan kawan-kawannya datang menghentikan Upacara perkawinan. Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar Upacara perkawinan itu dibatalkan.

Karena penghulu mendapat ancaman dari Tohir, akhirnya lari ke rumah kakaknya yang dekat tempat Upacara perkawinan bekas pacar Tohir di Jalan Jember Lorong 61 Tanjung Priok, minta tolong untuk mencegah tindakan Tohir. Akhirnya Samsuri terpaksa ikut campur dalam masalah perkawinan ini. Ternyata setelah diusut, barulah diketahui bahwa gadis tersebut secara diam-diam dengan Tohir melakukan tunangan.

Sebagai seorang anak yang menghormati orang tua maupun saudaranya yang lebih tua, akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan kakaknya untuk mengurungkan niatnya, tapi dengan syarat barang-barang perhiasan dan uang yang sudah diberikan kepada gadis tersebut dikembalikan. Sampai saat ini gadis tersebut masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di bilangan Tanjung Priok.


  • Memasuki Dunia Militer

Dalam Tim Brahma I dibawah Letnan KKO Paulus Subekti Tohir memulai kariernya sebagai anggota KKO AL. Ia mulai masuk Angkatan Laut bulan Juni 1964, dan ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di sini ia bertemu dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani bin Aroep. Ketiga pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah mereka sering ditugaskan bersama sama.

Setelah Tohir memasuki Sukarelawan ALRI, yang tergabung dalam Dwikora dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama lima bulan, di daerah Riau daratan, pada tanggal 1 Nopember 1964. Kemudian pada tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan Tempur bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu. Hingga beberapa lamanya rombongan Tohir dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kesatuan A KOTI Basis X melaksanakan tugas di Pulau Sambu. Tohir sendiri telah ke Singapura beberapa kali, dan sering mendarat ke Singapura menyamar sebagai pelayan dapur, ia ke sana menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke Pulau Sambu untuk mengisi bahan bakar.

Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.



  • PERTEMUAN USMAN HARUN DALAM OPERASI DWIKORA

Baru saja TNI AL selesai melaksanakan tugas-tugas operasi dalam mengembalikan Irian Barat ke wilayah kekuasaan RI, timbul lagi masalah baru yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia, dengan dikomandokannya Dwikora oleh Presiden Sukarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta. Komando tersebut mendapat sambutan dari lapisan masyarakat . termasuk ABRI. Hal ini terbukti bahwa rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Dwikora sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan.

Penggunaan tenaga sukarelawan ini membawa dampak yang besar. Dilihat dari segi positifnya memang sangat menguntungkan, karena perang yang akan dihadapi tidak secara frontal, sehingga akan membingungkan pihak lawan. Tetapi dari segi negatif kurang menguntungkan, karena apabila sukarelawan itu tertangkap ia akan diperlakukan sebagai penjahat biasa, jadi bukan sebagai tawanan perang di lindungi oleh UU Perang. Jika Sukarelawan itu tertangkap oleh lawan, resikonya disiksa secara kejam.

Untuk melindungi Operasi tersebut di atas, KOTI kemudian memutuskan untuk mempergunakan tenaga-tenaga militer lebih banyak guna mendampingi sukarelawan-sukarelawan tersebut, memperkuat kekuatan Sukarelawan Indonesia di daerah musuh.
 
Untuk mendukung Operasi A. KKO AL mengirimkan 300 orang anggota yang terdiri dari Kopral sampai Perwira. Sebelum melaksanakan Operasi A. mereka diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua Bogor. Selesai latihan mereka dibagi dalam tim-tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV). Yang dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan tim Brahma V 22 orang.

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa Sub. Basis:
 

  1. Sub. Basis X yang berpangkalan di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran Singapura. 
  2. Sub. Basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung Balai. 
  3. Sub. Basis T yang berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur. 
  4. Sub. Basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.

Sedangkan Tugas Basis II:
 

  1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan. 
  2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing. 
  3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis. 
  4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat 
  5. Mengumpulkan informasi. 
  6. Melakukan kontra inteljen.

Dalam operasi ini Janatin / Usman melakukan tugas ke wilayah Basis II. A Koti, ia berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Sub Basis dengan menggunakan kapal jenis MTB. Kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO - AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau. Ketika Usman menggabungkan dengan kawan-kawannya,, ia berkenalan dengan Harun dan Gani bin Arup, mereka ini merupakan sahabat yang akrab dalam pergaulan. Dalam tim ini Usman dan Harun mendapat tugas yang sama untuk mengadakan sabotase di Singapura.


Meskipun Usman bertindak sebagai Komandan Tim dan usianya sedikit lebih tua dari Harun, demikian pula ia lebih banyak berpengalaman dalam bidang militer, tetapi ia mengakui masih kurang pengalaman dalam wilayah Singapura. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya di Singapura, ia lebih banyak memberikan informasi kepada Usman. Harun telah hafal betul tentang keadaan dan tempat-tempat di Singapura, karena Harun pernah tinggal di sana. Tetapi sebagai seorang militer, mereka masing-masing telah mengetahui apa tugas-tugas mereka sebagai Komandan dan bawahan.

Karena ketatnya penjagaan daerah lawan dan sukar ditembus maka satu-satunya jalan yang ditempuh ialah menyamar sebagai pedagang yang akan memasukkan barang dagangannya ke wilayah Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut kelihatan membawa hasil yang memuaskan, karena dengan jalan ini anggota sukarelawan berhasil masuk ke daerah lawan yang kemudian dapat memperoleh petunjuk yang diperlukan untuk melakukan tindakan selanjutnya. Dari penyamaran sebagai pedagang ini banyak diperoleh data yang penting bagi para Sukarelawan untuk melakukan kegiatan. Dengan taktik demikian para Sukarelawan telah berhasil menyusup beberapa kali ke luar masuk daerah musuh.

Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki. Demikian Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali. Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji Muhammad Ali.
 
Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin Said. Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian tempat-tempat yang dianggap penting.

Sedangkan di front belakang telah siap siaga kekuatan tempur yang setiap saat dapat digerakkan untuk memberikan pukulan terhadap lawan. Kekuatan ini terus bergerak di daerah sepanjang perbatasan untuk mendukung para Sukarelawan yang menyusup ke daerah lawan dan apabila perlu akan memberikan bantuan berupa perlindungan terhadap Sukarelawan yang dikejar oleh musuh di daerah perbatasan.

Copyright by : Korps Marinir


Sumber :  

Kisah Anak Kawat Duri dari Kongo

Dokumen Puspen TNI
aat fajar mulai menyingsing, suasana hiruk pikuk mewarnai kesibukan anggota Kontingen Garuda di sekitar Bumi Nusantara Camp. Ada yang mempersiapkan diri untuk berangkat ke lokasi kerja, ada pula yang mempersiapan apel dan sarapan.

Pagi itu saya pergi ke dapur untuk mengambil air dan sarapan.  Sesampainya di dapur saya mulai mengantre untuk mengisi air minum. Disaat mengisi air terdengar suara teriakan anak-anak kecil dari luar tanggul. Seketika pandangan mata saya langsung mengarah ke sumber suara.


Diluar dapur beberapa “Anak Kawat Duri” (sebutan untuk anak-anak Kongole yang sering datang di sekitar camp) sudah berdiri di atas tanggul bagian luar. Tanggul itu dipagari kawat duri yang melingkar mengelilingi camp tempat Pasukan Garuda XX-H.

Tangan anak-anak berpegangan pada duri-duri yang menempel di kawat pagar itu. Pakaian mereka compang-camping, kotor, dekil, dan sepertinya sudah berhari-hari belum pernah dicuci. Ada juga yang memakai pakaian berukuran besar, yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya hingga kelihatan kedodoran.

Wajahnya juga terlihat lusuh berlumpur. Itu karena mereka sering juga tidur di sekitar lapangan tanpa alas atau alas seadanya berupa lembaran kardus. Mungkin saja setelah bangun tidur mereka belum sempat cuci muka ataukah memang sudah kebiasaan mereka tidak pernah cuci muka di pagi hari.

Dengan wajah memelas sesekali mereka berkata, “Bapak Indo makan… Bapak Indo makan”.  Terkadang mereka juga bilang “Abang di the dapuuuur mana nasi…Abang di the dapuuuur mana nasi…bagi buat saya”. 

Biasanya ada yang menjawab dengan gurauan” Nasi habis, besok aja”.  Anak-anak itu lalu menyangkal. ” Ah, besok..besok, besoook terus. Besok mati. (maksudnya kalau nggak di kasih sekarang mungkin mereka besok akan  mati kelaparan).

Dan sekali lagi mereka memanggil – manggil untuk minta makan” Abang baroooot mana makan”. Sering kali hal seperti ini kita jumpai, baik pagi, siang dan sore hari sebelumnya. Begitulah salah satu usaha mereka untuk mencari makan demi bertahan hidup. Mungkin suara anak –anak ini akan menjadi salah satu kerinduan bagi 'bapak-bapak Indo' setelah kembali ke Indonesia.

Tidak lama kemudian ada seseorang 'bapak Indo' (ini nama sebutan anak-anak Kongo untuk anggota Kontingen Garuda) yang berjalan ke atas tanggul menuju anak-anak kawat duri itu. Ia menjinjing sebungkus makanan di tangan kanannya.

Sebelum naik ke atas tanggul, 'bapak Indo' itu menoleh ke kanan-kiri untuk melihat di sekitarnya aman dari pantauan petugas security UN (United Nation). Setelah diperkirakan aman, mulailah 'bapak Indo' itu naik dan menyodorkan bungkus makanan itu ke anak kawat duri.

“Sudah cepat bawa pergi, jangan di makan disini,” seru si bapak Indo ke anak-anak itu.
“Bapak Indo terima kasih, besok lagi..,” ucap anak kawat duri itu sembari tersenyum kegirangan. Perlahan anak-anak itu mulai turun dari tanggul dan lari ke pojok lapangan bola Sudirman di bawah pohon mangga.

Bersamaan dengan anak-anak itu pergi, Bapak Indo yang memberi makan itu juga bergegas turun dari tanggul dan kembali ke dapur. Dia tidak ingin mengambil risiko ketahuan petugas Security UN. Soalnya  ada peraturan dari MONUSCO (organisasi pasukan pemelihara perdamaian yang ada di negara Kongo) yang melarang untuk memberi, menukar, atau bahkan menjual makanan apapun kepada anak- anak ataupun warga Kongo lainnya.

Peraturan inilah yang kadang bertentangan dengan rasa kemanusiaan anggota kontingen. Maka dari itu terkadang anggota kontingen harus sembunyi-sembunyi untuk memberikan sesuatu ke anak-anak atau warga setempat.

Itulah selintas pandang kehidupan anak-anak kawat duri. Mereka hanya memikirkan bagaimana harus bertahan hidup untuk hari ini. Mungkin juga tidak terlintas di benak mereka untuk bersekolah.

Tidak seperti halnya anak-anak di Indonesia yang sering kita lihat, hidup dengan penuh kasih sayang orang tua, serba tersedia, dan serba ada apa yang mereka inginkan. Maka bersyukurlah kita dan mungkin anak-anak yang terlahir di Indonesia karena diberi kehidupan yang lebih baik daripada saudara-saudara di negara lain yang berkekurangan. (sebagaimana dikisahkan Perwira Penerangan Konga XX-Monusco, Lettu Inf Imam Mahmud, dari Kongo, Afrika)


Sumber :
  • wartakota

Buaya Putih : Lima GAM Dilumpuhkan, Enam Menyerah

Raiders Kostrad
erikut kisah lain Batalyon Infanteri 323 Raider dalam penugasan operasi penumpasan kelompok pembrontak GAM di Naggroe Aceh Darussalam.

Lima anggota pemberontak GAM dilaporkan berhasil dilumpuhkan dalam baku tembak dengan pasukan TNI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dan enam anggota separatis lainnya menyerahkan diri. "Kelima anggota GAM itu dilumpuhkan dalam kontak senjata dengan pasukan TNI sepanjang Kamis hingga Jumat (8-9/4) di Kabupaten Aceh Selatan, Bireuen dan Aceh Utara," kata Juru Bicara Satgas Info Komando Operasi (Koops) TNI, Letkol CAJ Asep Sapari, di Lhokseumawe, Sabtu (10/4).

Ia mengatakan, dalam kontak tembak yang menewaskan lima anggota GAM itu, TNI menyita barang bukti berupa dua senjata laras panjang, sepucuk pistol, 270 butir amunisi AK dan satu buah magazen AK serta HP satelit, baju loreng dan sepatu boat beserta bendera GSA.

Kelima anggota GAM yang tewas itu, dua di antaranya tanpa identititas, sedangkan tiga orang lainnya masing-masing atas nama Irwan (30), Anwar (23) warga Aceh Selatan dan Zulkifli (40) warga Aceh Utara. Dalam kontak tembak itu, TNI juga menangkap seorang anggota GSA, Zakaria (Kapolsek GAM) wilayah Aceh Selatan.

Sementara enam anggota GAM yang menyerahkan diri ke pihak keamanan di Aceh Selatan, Jumat (9/4), yakni Sugiman (40), Saikani (34), Jarmin ( 34), Safrizal (36) dan Pasa Ladi (22). Mereka menyerahkan diri ke pos Kali Jaga II Yonif-142/KJ di Aceh Selatan.

Seperti diberitakan Serambi Indonesia, Minggu (11/4), penyerahan diri anggota GAM juga berlangsung di Kabupaten Aceh Besar. Seorang Anggota GAM, M Ali, (37) jabatan pengantar logistik menyerahkan diri kepada aparat keamanan terdekat di daerah tersebut.

Selain itu, aparat kemanan dari Tim 4 Kipur 4 dari Yonif 323 / Raider menemukan sesosok mayat anggota GAM tanpa identitas di Kampung Air Berundang, Tapaktuan, Aceh Selatan. Jenazah anggota pemberontak itu diserahkan kepada Keuchik (Kepala desa) setempat untuk dikebumikan.

Bersamaan dengan kejadian tersebut, di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen warga dihebohkan dengan ditemukannya sesosok mayat tanpa identitas. Mayat tanpa identitas itu diserahkan warga ke Polsek Samalanga.

Panglima
Sementara itu dari Meulaboh, Dantim Info B Koops TNI, Kapten Inf Candra Purnama SH, mengatakan salah seorang anggota GAM yang menyerah di Aceh Selatan itu bernama Jarmin. Di kalangan GAM ia dikenal sebagai Panglima Sagoe Kecamatan Meukek. "Ia menyerah diri langsung ke Pos Tim 2 Yonif 142 / KJ yang dipimpin Lettu Inf Tagaul Hutagalung," jelasnya.

Chandra juga melansir sejumlah anggota GAM yang menyerah di Aceh Selatan dan Aceh Besar sebagaimana yang disampaikan Asep Sapari. Selain itu, katanya, pasukan Yonif 713 yang melakukan pengepungan terhadap sebuah rumah yang dicurigai berhasil menangkap seorang Kapolsek GAM yang beroperasi di wilayah Kecamatan Labuhan Haji Timur, Aceh Selatan.

Sedangkan dalam kontak tembak yang terjadi di Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya, pasukan TNI dari Tim 2 Yonif 323 / Raider melumpuhkan seorang anggota GAM. Korban yang diindefikasikan bernama Irwan (30) adalah mantan Mukim GAM setempat. Di lokasi kejadian pasukan yang dipimpin Lettu Didik Efendi menyita sejumlah barang bukti.

Sebuah sumber sangat layak dipercaya di Kodim 0107 Aceh Selatan melaporkan bahwa kontak tembak terjadi antara pasukan TNI dari Yonif 323 Raider dengan anggota GAM di kawasan Gunung Jambu Air Berudang, Kecamatan Tapaktuan, pada hari Kamis dan Jumat (9/4) subuh. Hasilnya, dua anggota GAM tewas. Sementara di Kecamatan Meukek, 18 anggota GAM menyerahkan diri kepada pasukan TNI Yonif 142 Ksatria Jaya (KJ) Pos Jambo Papeun.

Informasi dari Kodim 0107, menyebutkan, kontak tembak pertama terjadi pada hari Kamis (8/4) sekitar pukul 10.00 WIB ketika pasukan dari Yonif 323 Raider dipimpin Sertu Yudha Bakti melaksanakan tugas patroli rutin di Gunung Jambu, kawasan Desa Air Berudang.

Kelompok GAM diperkirakan 10 orang dengan kekuatan tiga pucuk senjata api campuran. Namun mereka melarikan diri setelah kontak senjata berlansung beberapa menit. Setelah lokasi dibersihkan oleh pasukan Yonif 323 Raider pimpinan Sertu Yudha Bakti, ditemukan satu GAM telah menjadi mayat. Korban dikenali, Sunardi bin Saridin (21), warga Desa Air Berudang, mayat korban kemudian diserahkan kepada masyarakat setempat yang mengevakuasi dari lokasi.

Masih menurut keterangan dari pihak TNI bahwa, setelah kontak pertama, pasukan Yonif 323 Raider dibawah pimpinan Sertu Yudha Bakti terus melakukan pengejaran dan melakukan pengendapan di gunung Jambu. Pada subuh Jumat (9/4) sekitar pukul 05.15 WIB, pasukan pemukul itu kembali bertemu dengan kelompok GAM sehingga terjadi kontak kedua, tidak berapa jauh dari lokasi kontak pertama pada Kamis pagi.

Dalam peristiwa kedua itu, pasukan Yonif 323 Raider kembali melumpuhkan satu anggota GAM. Korban kemudian dikenali, Noviandi (23), juga warga Desa Air Berudang, Kecamatan Tapaktuan. Mayat korban dievakuasi masyarakat setempat dari lokasi kejadian Jumat pagi kemarin.

Sementara itu di Kecamatan Meukek dilaporkan 18 anggota GAM menyerahkan diri kepada TNI Yonif 142 KJ Pos Jambo Papeun pada hari Rabu (7/4) sekitar pukul 17.30 WIB. Menurut keterangan di Kodim 0107, anggota GAM itu menyerahkan diri dengan diantar langsung oleh Kepala Desa Jambo Papeun. Kemudian Danpos Yonif 142 KJ Jambo Papeun berkoordinasi dengan Danramil Meukek, dan selanjutnya ke-18 anggota GAM itu dibawa ke Makodim 0107 di Tapaktuan.

Anggota GAM yang terdiri TNA, tukang masak dan bendahara GAM yang menyerah tersebut terdiri dari 13 orang berasal dari Desa Jamboe Papeun, Adi Irani (32), Ainur Mudaksir (23), Agusman (25), Pardiana (28), M Hamzah (18), Muktar (23), Irman (23), Saiful Rama (23), Syamsul Bahri (22), Harfian Mas (27), Nurman (28), dan Emman Syar (35).

Di antara anggota GAM yang menyerah itu juga terdapat dua orang dari Desa Bukit Mas, Syaifuddin (28) dan Adeni Anto (24). Kemudian Kasman (25) dari Desa Kuta Buluh I, Akbaruddin (28) dari Desa Roet Teungoeh, dan Agusman (25) dari Desa Drien Jalo yang seluruhnya berada dalam Kecamatan Meukek.



Sumber :
  • Serambi  Indonesia

Kamis, 23 Februari 2012

Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

UPAYA MENGHADAPI SERANGAN BELANDA PADA PERTEMPURAN LIMA HARI LIMA MALAM DI PALEMBANG

  • Pengantar

Palembang merupakan kota yang sangat strategis di Sumatera Selatan. Sebagai kota tua, Palembang banyak menyimpan sejarah perjuangan rakyat. Keberadaan Palembang yang dibagi oleh Sungai Musi menambah eksotismenya. Ciri khas kota Palembang sebagai kota yang sangat didominasi oleh air, bahkan oleh Belanda sebelum Perang Dunia II, pernah dipromosikan sebagai “Venetie van het Verre Oasten” atau “Venesia dari Timur Jauh”. Kekayaan alam Sumatera Selatan menjadi kebanggaan sekaligus ancaman dari bangsa asing.

Setelah Perang Dunia II, Sekutu memboncengi NICA ke Indonesia dengan maksud agar Belanda dapat kembali menguasai Indonesia. Konflik RI dan Belanda semakin menimbulkan ketegangan. Para pasukan RI, lasykar dan rakyat berusaha mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai pada 17 Agustus 1945. Usaha untuk mencapai kepentingan Belanda berlanjut dengan pertempuran besar. Pertempuran besar yang menentukan antara lain
Bandung Lautan Api, Pertempuran Ambarawa, Medan Area, Puputan Margarana dan lain-lain. Di Sumatera Selatan pun terjadi pertempuran besar yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang. pertempuran ini terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik, ekonomi dan militer. Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju serta Sei Gerong. Selain itu, dapat pula memanfaatkan Palembang sebagai pusat perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Pasukan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan–pasukan yang berada di luar kota. Oleh karena itu, jika Belanda berhasil menguasai Kota Palembang secara total, maka akan mempermudah gerakan operasi militer mereka ke daerah-daerah pedalaman.


Peranan rakyat sangat besar dalam pertempuran Lima Hari Lima Malam. Motivasi perjuangan rakyat Indonesia umumnya dan khususnya para pejuang di daerah Sumatera Selatan yakni adanya “sense to be a nation”, rasa harga diri sebagai suatu bangsa yang telah merdeka. Semboyan “Merdeka atau Mati” yang berkumandang semasa periode Perang Kemerdekaan adalah wujud usaha untuk menjaga agar tetap berdirinya Negara Republik Indonesia.


  • Provokasi Belanda

Daerah Keresidenan Palembang pada masa-masa menjelang Pertempuran Lima Hari Lima Malam memiliki keunikan tersendiri, bila dibandingkan dengan daerah-daerah Indonesia lainnya yang telah diduduki oleh Sekutu (NICA), seperti Medan, Padang, Jakarta, Bandung, dan lain-lainnya, yang masih terdapat pemerintahan RI lengkap dengan pasukan, karena keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh kepala pemerintahan setempat. Setelah Belanda menggantikan Inggris di Palembang pada 24 Oktober 1946, Kolonel Mollinger menjadi Komandan territorial Belanda untuk Sumatera Selatan (Palembang, Lampung, Bangka, dan Jambi). Penyerahan pendudukan Inggris kepada Belanda berlangsung pada 7 November 1946. Setelah menggantikan Inggris, Belanda menuntut garis demarkasi yang lebih jauh. Untuk mencegah timbulnya insiden dilakukanlah perundingan antara pihak Belanda dan RI pada tanggal November 1946.

Hal terpenting dari perundingan itu antara lain tentara Belanda tidak akan memperluas atau melewati batas daerah yang diserahkan kepadanya oleh Inggris dan akan memelihara status quo. Sementara itu di Palembang mulai dilakukan pengembangan kekuatan militer oleh Pasukan TRI sedangkan, pihak Belanda giat menyusun posisi dan memperkuat pasukannya di Palembang.


Pada bulan Desember 1946, pihak Belanda telah menyusun pasukan-pasukannya di Kota Palembang dan sekitarnya. Kapal-kapal perang Belanda mulai melakukan pencegahan terhadap lalu lintas pelayaran antara Palembang – Lampung – Jambi – Singapura, yang bertujuan untuk mengadakan blokade ekonomi dan militer. Blokade bertujuan agar hubungan timbal balik antara Jambi, Lampung, Palembang dan Singapura terputus sehingga hasil bumi, barang kebutuhan hidup dan senjata tidak dapat diimpor dan diselundupkan dari Singapura. Dr. A.K. Gani melakukan kegiatan menembus blokade tersebut untuk memperkuat perjuangan sehingga dia dijuluki “The biggest smuggler of South East”.


Panglima Komando Sumatera, Mayor Jenderal Suharjo Harjowardoyo mengeluarkan Perintah Harian lewat corong Radio Republik Indonesia di Palembang pada akhir Desember 1946 yang ditujukan kepada pasukan-pasukan RI di daerah pendudukan Belanda di Medan, Padang dan terutama yang di Palembang untuk selalu siap siaga dan waspada menunggu instruksi dari pemerintahan pusat.


Pada tanggal 28 Desember 1946, seorang anggota Lasykar Napindo bernama Nungcik ditembak mati karena melewati pos pasukan Belanda di Benteng. Malam harinya Belanda melanggar garis demarkasi yang telah ditentukan. Dua buah Jeep yang dikendarai oleh pasukan Belanda dari Talang Semut melewati Jalan Merdeka, Jalan Tengkuruk (sekarang Jalan Sudirman), Rumah Sakit Charitas sambil melepaskan tembakan-tembakan secara membabi buta. Pancingan itu segera mendapat jawaban dari pasukan RI. Meletuslah pertempuran yang berlangsung sekitar 13 jam lamanya. Setelah terjadinya perang sekitar 13 jam, situasi Palembang dalam kondisi cease fire. Insiden ini menunjukkan akan meletusnya perang yang lebih besar, karena Belanda berusaha meningkatkan pertahanannya.


Penghentian tembak-menembak tersebut tidaklah berlangsung lama, Belanda kembali melanggar kesepakatan pada 29 Desember 1946, berupa terjadinya penembakan terhadap Letnan Satu A. Riva’i, Komandan Datasemen Divisi Dua, yang mengendarai sepeda motor Harley Davidson saat sedang melakukan inspeksi kepada pasukan-pasukan dan pos-pos pertahanan TRI - Subkoss / Lasykar. Ketika melintas di depan Charitas, ia ditembak dengan senjata otomatis oleh pasukan belanda yang berada di Charitas. Letnan Satu A. Riva’i berhasil menyelamatkan diri walaupun tembakan itu tepat mengenai perutnya.


Provokasi Belanda terus terjadi pada 31 Desember 1946 menyebabkan insiden dengan pihak TRI yang sifatnya sporadis. Belanda melakukan konvoi dari Talang Semut menuju arah Jalan Jenderal Sudirman. Mobil tersebut melaju dengan kencang dan melepaskan tembakan-tembakan. Kontak senjata tidak terelakkan di depan Masjid Agung dan sekitar rumah penjara Jalan Merdeka. Pasukan TRI melakukan pengepungan dan serangan terhadap kekuatan Belanda di Charitas sehingga tidak mungkin Belanda untuk keluar dan meneriman bantuan dari luar. Akhirnya Belanda meminta bantuan Panglima Divisi II (Kol. Hasan Kasim) dan Gubernur Sumatera Selatan (dr. M. Isa) untuk penghentian tembak-menembak (cease fire).


Tujuan dilakukan penghentian tembak-menembak bagi Belanda adalah untuk menyusun kembali kekuatan tempurnya. Sebelum Belanda melakukan serangan udara itu memakan waktu yang relatif singkat, yaitu beberapa jam sebelum matahari terbenam menjelang malam. Belanda melakukan penembakan dengan mortir ke tempat dimana Pasukan TRI /  Lasykar berada yaitu di Gedung Perjuangan (sekarang Pusat Perbelanjaan Bandung), di daerah dekat Sungai Jeruju, daerah Tangga Buntung dan sebagainya. Dengan demikian telah berakhir kesepakatan penghentian tembak-menembak oleh Belanda.


Insiden-insiden yang terjadi pada akhir tahun 1949 tersebut menjadikan situasi di Kota Palembang dan sekitarnya menjadi panas (Perwiranegara, 1987 : 58). Insiden yang terjadi sesungguhnya adalah cara Belanda untuk memicu keributan dengan tujuan agar terjadi pertempuran yang lebih besar.


Pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi, sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda keluar dari Benteng dengan kecepatan tinggi. Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Ternyata mereka mabuk setelah pesta semalam suntuk merayakan datangnya tahun baru. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan, kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI / Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan Markas Polisi Tentara.


Pada kesempatan yang sama para pemimpin milter dan lasykar mengadakan rapat komando untuk menentukan sikap dalam menghadapi provokasi Belanda. Rapat dihadiri pimpinan pemerintah sipil Gubernur Muda M. Isa. Dalam rapat tersebut, Panglima Divisi II Kolonel Bambang Utoyo, Gubernur Muda M. Isa maupun Panglima Lasykar 17 Agustus, Kolonel Husin Achmad menyatakan bahwa dalam menghadapi provokasi Belanda, pihak RI bertindak tidak lagi sekedar membalas serangan, melainkan harus berinisiatif untuk menggempur semua kedudukan dan posisi pertahanan Belanda di seluruh sektor. Kepala staf Divisi II, Kapten Alamsyah, mengeluarkan perintah “Siap dan Maju” untuk bertempur menghadapi Belanda.

  • Front Pertempuran Lima Hari Lima Malam

Gambaran Sengitnya Pertempuran dengan Latar Belakang Kobaran Api dan Masjid Agung

☆Front Seberang Ilir Timur
Front Seberang Ilir Timur meliputi kawasan mulai dari Tengkuruk sampai RS. Charitas - Lorong Pagar Alam - Jalan Talang Betutu - 16 Ilir - Kepandean - Sungai Jeruju - Boom Baru - Kenten. Pertempuran pertama terjadi pada hari Rabu tanggal 1 Januari 1947. Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang berada di sekitar Rumah Sakit Charitas. RS. Charitas berada ditempat strategis karena berada di atas bukit srhingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda.
Daerah Front Seberang Ilir (RS. Charitas) menjadi tanggung jawab dari Komandan resimen Mayor Dani Effendi. Basis strategis pertahanan di Front Seberang Ilir Timur terutama berlokasi di depan Mesjid Agung, simpang tiga Candi Walang, Pasar Lingkis (sekarang Pasar Cinde), Lorong Candi Angkoso dan di Jalan Ophir (sekarang Lapangan Hatta).

Dibawah pimpinan Mayor Dani Effendi, Pasukan TRI melancarkan serangan ke Rumah Sakit Charitas dan daerah di Talang Betutu. Serangan ini dilakukan bersama dengan satu kompi dan batalyon Kapten Animan Akhyat yang bertahan di simpang Jalan Talang Betutu (Perwiranegara, 1987 : 67). Tujuan serangan ini adalah untuk memblokir bantuan Belanda yang datang dari arah Lapangan Udara Talang Betutu menuju arah Palembang dan untuk menghalangi hubungan antara pusat pertahanan Belanda di RS. Charitas dengan Benteng.

Pada sore harinya, pihak Belanda telah mengerahkan pasukan tank dan panser untuk menerobos pertahanan dan barikade Pasukan TRI di sepanjang Jalan Tengkuruk. Mereka kemudian berhasil menduduki Kantor Pos dan Kantor Telepon melalui perlawanan seru dari Pasukan TRI. Dengan berhasilnya Belanda menduduki kantor Telepon, maka hubungan melalui alat komunikasi menjadi terputus secara total. Setelah itu, Belanda memperluas gerakannya hingga menduduki Kantor Residen dan Kantor Walikota. Pasukan TRI yang berada di daerah tersebut mengundurkan diri ke Jalan Kebon Duku dan Jalan Kepandean sedangkan di RS. Charitas, kekuatan Belanda semakin terdesak karena serangan dari Pasukan TRI.


Pada pertempuran hari kedua, konsentrasi pasukan terutama diarahkan terhadap pasukan dan pertahanan Belanda di RS. Charitas. Namun, Belanda berhasil menerobos lini Talang Betutu setelah terlebih dahulu berhadapan dengan Lettu Wahid Uddin bersama Kapten Animan Achyat. Belanda telah memperkuat tempat-tempat yang telah mereka kuasai, terutama di depan Masjid Agung. Sementara itu, kapal-kapal perang (korvet) Belanda mulai bergerak hilir mudik di Sungai Musi sambil menembakkan peluru mortirnya ke segala arah. Secara spontanitas, rakyat dan pemuda di dalam kota dan luar kota turut serta bertempur melawan Belanda. Mobilisasi umum di kalangan masyarakat agraris - tradisional terus berlangsung untuk menghadapi Belanda. Melihat kemajuan-kemajuan di pihak kita, Belanda pun segera mengadakan pengintaian, bahkan melakukan tembakan dari udara terhadap kereta api yang membawa bahan makanan, bantuan dari Baturaja, Lubuk Linggau dan Lahat, Rakyat yang berada di Front Seberang Ilir menjadi sangat menderita karena keterbatasan kesediaan pangan akibat Sungai Musi dikuasai Belanda dan penembakan kereta api.


Oleh karena lokasi Markas Besar Staf Komando Divisi II tidak lagi aman, maka dipindahkan dari Sungai Jeruju ke daerah Kenten, tepatnya di Jalan Duku. Hal ini disebabkan karena Belanda terus-menerus melakukan pengintaian dan pengeboman terhadap markas-markas Pasukan TRI / Lasykar. Keberhasilan pengeboman jarak jauh yang dilakukan oleh Belanda tidak terlepas dari peranan para pengintai atau mata-mata.


Ternyata dalam pemeriksaan dan interogerasi yang dilaksanakan, memberi banyak petunjuk bahwa pihak Belanda secara licik menggunakan warga kota keturunan Tionghoa sebagai informan mereka, disamping sebagai pelayan kegiatan ekonomi bagi kepentingan Belanda. Kapten Alamsyah Ratu Perwiranegara menilai bahwa kasus mata-mata ini sangat sensitif, ia segera memerintahkan Letnan Dua Asmuni Nas untuk merazia dan menyita semua telepon yang digunakan oleh keturunan Tionghoa di sepanjang Pasar 16 Ilir.


Pertempuran ketiga berlangsung pada hari Jum’at, tanggal 3 Januari 1947. Saat itu, Kolonel Mollinger memerintahkan angkatan perangnya (Darat, Laut dan Udara) untuk menghancurkan semua garis pertahanan Pasukan TRI / Lasykar. Ini menunjukkan terjadinya konsep perang tiga matra yang dilakukan Belanda di Palembang.


Berdasarkan perintah tersebut, maka konvoi kendaraan berlapis baja keluar dari Benteng menuju RS. Charitas menerobos Jalan Tengkuruk, melepaskan tembakan di sekitar Masjid Agung dan Markas BPRI. Gerakan penerobosan Belanda ke Charitas itu dihambat oleh pasukan kita yang berada di Pasar Cinde dengan ranjau-ranjau, namun gagal karena ranjau-ranjau tersebut gagal meledak. Akibatnya Pasar Lingkis (Cinde) dapat dikuasai oleh musuh. Tapi, sore harinya pasar itu dapat dikuasai kembali oleh pasukan kita (Resimen XVII). senjata dan amunisi yang dimiliki pasukan RI jumlahnya terbatas, dan sebagian besar senjata yang digunakan oleh pasukan kita banyak yang telah tua (out of date) sebagai hasil rampasan dari serdadu Jepang (Abdullah, 1996 : 43). Sampai hari ketiga, keadaan Palembang sebenarnya sudah parah. Hampir seperlima kota telah hancur terkena serangan bom dan peluru mortir Belanda.


Kehancuran Kota Palembang karena bom-bom Belanda tersebut ditambah lagi dengan adanya aksi bumi hangus, seperti jembatan kayu di 24 Ilir, atas perintah Kepala Pertahanan Divisi II, Kapten Alamsyah. Pembongkaran ini dimaksudkan agar jembatan tidak digunakan oleh Belanda untuk menerobos dari arah Bukit Kecil menuju Charitas. Bahkan, perintah yang benar-benar ditakuti oleh Belanda adalah “aksi bumi hangus Plaju dan Sungai Gerong”.


Pada pertempuran keempat (4 Januari 1947), Belanda memfokuskan pertahanan di Plaju. Sehingga pasukan Mayor Dani Effendi berhasil memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai Charitas dan sekitarnya. Akibatnya pasukan Belanda mulai terdesak. Pasukan TRI berhasil mendekati gudang amunisi di RS. Charitas dan menembak serdadu Belanda yang berusaha mendekati gudang tersebut.


Pada 5 januari 1947, pihak Belanda dapat menguasai beberapa tempat dengan bantuan kapal-kapal perang yang hilir mudik di Sungai Musi dan pesawat terbang yang menjatuhkan bom-bom ke arah posisi Pasukan TRI. Namun demikian pasukan Belanda mengalami keadaan yang sama dengan Pasukan TRI yaitu letih, kurang tidur dan merasa stress, sedangkan Pasukan TRI telah banyak menderita kerugian baik dari materi ataupun yang gugur dan luka-luka.


☆Front Seberang Ilir Barat
Front Seberang Ilir Barat meliputi kawasan mulai dari 36 Ilir yaitu meliputi Tangga Buntung – Talang – Bukit Besar – Talang Semut – Talang Kerangga – Emma Laan – Sungai Tawar – Sekanak – Benteng. Markas Batalyon 32 Resimen XV Divisi II dipimpin Makmun Murod yang berada di Front Seberang Ilir Barat, yaitu di Sekanak. Komandan Resimen XV dan Komandan Batalyon 32/XV beserta para perwira yang berada di markas, sibuk mengatur pertahanan dan merencanakan untuk menyerang benteng-benteng pertahanan Belanda. Suara tembakan yang saling bersahutan sudah semakin gencar diselingi oleh dentuman senjata-senjata berat yang ditembakkan dari pos-pos dan gedung-gedung pertahanan Belanda ke arah kubu pertahanan Pasukan TRI dan barisan pertahanan rakyat.


Pada pertempuran yang terjadi pada tanggal 1 Januari 1947, pasukan-pasukan disekitar belakang Benteng mulai terdesak lalu mengundurkan diri ke sekitar Jalan Kelurahan Madu dan Jalan Kebon Duku. TRI / Lasykar yang berlokasi di Bukit terpaksa mengubah taktik yaitu memencarkan diri masuk ke kampung-kampung di sekitar Bukit Siguntang dan sekitarnya. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah pasukan Belanda yang akan menerobos ke 35 Ilir. Karena apabila pasukan Belanda yang akan beroperasi di 36 Ilir, Suro, 29 Ilir dan Sekanak akan terkepung. Usaha Pasukan TRI dibawah pimpinan Mayor Surbi Bustan dilakukan untuk menyerang Gedung BPM Handelszaken. Serangan ini dibantu oleh Kapten Makmun Murod, Letnan Satu Asnawi Mangkualam dan Kapten Riyacudu. Dalam pertempuran tersebut, seorang prajurit yang diketahui pemuda keturunan Tionghoa, Sing, tertembak dan gugur. Belanda dengan menggunakan kendaraan berlapis baja dan persenjataan modern berhasil menguasai Kantor Pos, Kantor Telegraf, Kantor Residen, Kantor Walikota dan disekitar Jalan Guru-guru di 19 Ilir.


Secara keseluruhan, pertempuran pada hari pertama tersebut, inisiatif sepenuhnya berada di tangan Pasukan TRI dan pejuang. Belanda dengan segala kemampuannya berusaha mempertahankan pos-pos pertahanan dan kedudukannya sambil terus melancarkan tembakan-tembakan ke arah pasukan yang menyerang. Pasukan Belanda boleh dikatakan tidak berani keluar dari kubu pertahanannya, terutama yang berkedudukan di Seberang Ilir, karena gencarnya serangan Pasukan TRI dan Lasykar. Pasukan Belanda hanya membalas tembakan dari tempat perlindungan, dengan memuntahkan peluru mortir dan dengan tembakan howitzer untuk sasaran jarak jauh.


Belanda menerapkan sistem pertahanan saling dukung antar pos-pos mereka. Jika satu tempat pertahanan terkepung oleh Pasukan TRI, maka dalam waktu singkat akan mendapat bantuan dari kubu pertahanan Belanda lainnya. Bantuan sering berupa tembakan, mortir atau howitzer atau dukungan tembakan dari kapal perang De Ruiter. Kapal Belanda memang hilir mudik di sungai Musi, khususnya jenis korvet.


Pada pertempuran hari kedua, Belanda menembakkan mortirnya dengan membabi buta ke arah Sekanak sampai ke Tangga Buntung. Tujuan utama adalah menembaki markas batalyon dan pos-pos pertahanan TRI dan rakyat yang terdapat antara Sekanak sampai Tangga Buntung. Tidak dapat dihindari lagi peluru tersebut telah mengenai daerah pemukiman penduduk. Gencarnya tembakan yang dilakukan Belanda dari benteng pertahanann dan yang dilakukan Belanda dari benteng pertahanan dan pesawat udara pada 2 Januari 1947 menyebabkan staf Komando Batalyon 32/ XV oleh Mayor Zurbi Bustan bersama Kapten Makmun Murod dipindahkan ke Talang. Daerah Suro dan Talang Kerangga pada saat itu tidak luput dari sasaran musuh.


Dengan dorongan semangat dan do’a, Pasukan TRI tetap berusaha untuk mempertahankan diri. Penambahan pasukan terjadi melalui bantuan Batalyon Ismail Husin dari Lampung yang berhasil menyeberang melalui Tangga Buntung. Rakyat atau penduduk sipil pun ikut serta memberi bantuan tenaga.keterbatasan senjata tidak membuat pasukan kita menyerah. “Molotov” adalah bensin yang dimasukkan yang dimasukkan ke dalam botol dicampur dengan karet untuk kemudian diberi sumbu menjadi alat yang sangat efisien. Kapten Alamsjah memerintahkan Sersan Mayor M. Amin Suhud untuk mencuri persediaan bensin Belanda yang akan digunakan untuk membuat bom molotov. Sersan Mayor M. Amin Suhud berhasil mendapatkan bensin di markas, Kesulitan bahan makanan dialami oleh Front Seberang Ilir Barat karena blokade yang dilakukan oleh Belanda. Dalam kondisi demikian, bantuan bahan makanan dari dapur umum di garis belakang yang dikirimkan oleh ibu-ibu dan remaja puteri sangat berarti. Begitu pula peran anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan PPI (Pemuda Putri Indonesia) yang mengurus korban pertempuran dan mengurus bahan makanan.


Pada hari ketiga, pertempuran tiga matra yang dilakukan oleh Belanda semakin aktif, setelah dikeluarkan perintah oleh Kolonel Mollinger untuk menghancurkan garis pertahanan RI di Emma Laan (Jalan Kartini) dan Sekolah MULO Talang Semut. Pasukan TRI dibawah pimpinan Letda Ali Usman berhasil menghancurkan sekitar 3 regu Pasukan Belanda yaitu Pasukan Gajah Merah (Perwiranegara, 1987 : 75). Belanda tidak tinggal diam, segera membalas serangan di Emma Laan. Sehingga pada pertempuran hari keempat, Satbtu tanggal 4 Januari 1947, Pasukan TRI / Lasykar terdesak sehingga mundur ke arah Kebo Gede, Talang dan Tangga Buntung.


Sebagai resiko perjuangan dari bangsa yang baru merdeka, maka setiap gerakan pasukan musuh berakibat pada pemindahan dislokasi pasukan. Walaupun situasi pertempuran selalu dilaporkan kepada komando pertempuran. Namun laporan tersebut mengalami keterlambatan akibat sulitnya hubungan komunikasi.


Pada hari kelima pertempuran di Front Seberang Ilir Barat terus berlangsung, walaupun Pasukan TRI / Lasykar dan rakyat mulai menampakkan keletihan dan pengiriman makanan dari dapur umum mulai tidak teratur lagi akibat blokade Belanda. Sebenarnya blokade ini juga berdampak pada pihak Belanda juga karena bahan makanan dari luar kota sulit masuk ke Kota Palembang.

Front Seberang Ulu
Front Seberang Ulu meliputi kawasan mulai dari 1 Ulu Kertapati sampai Bagus Kuning, selanjutnya meliputi kawasan Plaju – Simpang Kayu Agung – Sungai Gerong. Untuk tanggung jawab pertahanan dan keamanan di daerah Palembang Ulu dibebankan kepada Batalyon 34 Resimen XV dengan Komandan Batalyon Kapten Raden Mas yang bermarkas di sekolah Cina 7 Ulu (sekarang SHD), yang melakukan perlawanan di Kertapati sampai Plaju.


Pada awal pertempuran taanggal 1 Januari 1947, tembakan mortir dari pasukan Belanda yang berada di Bagus Kuning, Plaju dan Sungai Gerong terus ditujukan ke markas batalyon yang dipimpin Kapten Raden Mas. Namun demikian, kapal perang Belanda yang berada di Boom Plaju atau Sungai Gerong belum dapat bergerak leluasa, karena dihambat oleh pasukan ALRI di Boom Baru.


Lokasi di perairan Sungai Musi sebelum pertempuran merupakan salah satu tempat berlangsungnya aktivitas perekonomian. Namun ini berbeda pada hari pertama pertempuran. Motorboat milik Belanda melaju dari arah Plaju menuju Boom Yetty yang diduga membawa bahan persenjataan pasukan Belanda, Pasukan TRI berusaha menyerang namun tidak berhasil.


Kompi I yang berkedudukan di Jalan Bakaran Plaju, dipimpin Lettu Abdullah di Jalan kayu Agung dan Sungai Bakung diberi tugas untuk menghadapi Belanda. Begitu juga Kompi II yang dipimpin Letda. Sumaji bertugas menghadapi Belanda di Bagus Kuning dan Sriguna sedangkan Kompi II dibawah pimpinan Letda Z. Anwar Lizano bertugas menghadapi Belanda di pinggir Sungai Musi yang letaknya sejajar dengan Boom Yetty sampai Pasar 16 Ilir. Pertempuran yang telah terjadi menimbulkan semangat patriotisme di kalangan Pasukan TRI. Bantuan pasukan segera menuju Palembang. Letkol Harun Sohar telah melepaskan pemberangkatan pasukannya menuju Kertapati dan Lahat dengan menggunakan kereta api.


Kelelahan pasukan Belanda dimanfaatkan oleh Letnan Dua S. Sumaji yang merencanakan serbuan dini hari, pada tanggal 2 Januari 1947. Pasukannya dibantu dari Lasykar Pesindo, Napindo dan Hizbullah. Penyerbuan tersebut membuahkan hasil. Pasukan TRI / Lasykar dapat menguasai gudang-gudang persenjataan musuh. Dalam pendudukan tersebut, TRI berhasil merampas persenjataan musuh sedangkan pasukan Belanda mengundurkan diri ke kapal-kapal perang mereka. Bendera Belanda si tiga warna yang terpancang di depan asrama telah diturunkan, kemudian dirobek warna birunya dan dinaikkan kembali dalam keadaan si Dwiwarna, Sang Saka Merah Putih. Namun kemenangan ini tidak berlangsung lama pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan-tembakan mortir ke arah kedudukan Pasukan TRI / Lasykar.


Setelah Komandan Mollinger mengeluarkan perintah kepada seluruh unsur kekuatan darat, laut dan udara. Belanda untuk meningkatkan gempuran dan berusaha menerobos setiap garis pertahanan TRI dan badan-badan perjuangan rakyat. Pesawat-pesawat terbang dan kapal-kapal perang Belanda semakin menggiatkan aksinya, terutama di daerah-daerah yang menjadi tempat bertahan pasukan-Pasukan TRI yang berada di Seberang Ulu dan Ilir. Kapal perang jenis korvet menembakkan mesin ke sepanjang Sungai Musi terutama di pos-pos pertahanan RI, terutama yang berlokasi di sekitar 7 Ulu.


Akibatnya Pasukan TRI dan Lasykar terpaksa membalas dengan menggunakan senjata bekas persenjataan Jepang, yaitu meriam pantai milik Kompi III Batalyon 34 di 7 Ulu di tepi Sungai Musi. Dengan menggunakan senjata seperti itu, pasukan Hisbullah dibawah pimpinan Letkol (Lasykar) M. Ali Thoyib berhasil menembak sebuah motorboat Belanda yang sedang mengangkat amunisi milik Belanda dari Plaju menuju ke Benteng. Serangan terhadap motorboat Belanda mengakibatkan kemarahan pasukan Belanda. Mereka membalas dengan mengirim pesawat Mustang dan secara terus-menerus menghujani basis pasukan di 7 Ulu dengan tembakan bertubi-tubi selama dua jam. Hal ini menimbulkan korban yang besar di kalangan Pasukan TRI / Lasykar dan rakyat. Bantuan terhadap pasukan di Front Seberang Ulu datang dari Lahat dan Baturaja dikirim ke Bagus Kuning.


Pada tanggal 4 Januari 1947 di Front Seberang Ulu pasukan Belanda semakin memperhebat tekanannya terhadap pasukan RI sehingga pasukan TRI yang berada di Bagus Kuning mengundurkan diri ke 16 Ulu. Kapal-kapal perang Belanda melakukan patroli mulai dari perairan Sungai Gerong di bagian Hilir sampai ke perairan Kertapati Keramasan di bagian Hulu. Pada hari kelima, tanggal 5 Januari 1947, pasukan kita dalam keadaan lelah, sekalipun hal itu tidak mengendorkan semangat perjuangan.

  • Upaya Perundingan dan Pengakhiran Pertempuran

Sejak tanggal 4 Januari 1947 di Kota Palembang telah menerima kedatangan Kapten A.M. Thalib, utusan Panglima Divisi II Bambang Utoyo, yang mengabarkan tentang keinginan Mollinger untuk berunding. Ternyata Gubernur Muda telah menerima berita dari Jakarta lewat telegram yang diterima oleh pemancar darurat dibawah pimpinan Herry Salim, bahwa akan datang ke Palembang secepatnya Dokter Adnan Kapau Gani sebagai utusan pemerintah pusat untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan pihak Belanda.

Perundingan yang dilakukan oleh pihak RI dikarenakan ada kepentingan strategis dengan alasan :
  1. Mencegah korban lebih banyak.
  2. Kita perlu mengadakan konsolidasi kekuatan kembali
  3. Dari segi politis akan membelikan gambaran kepada dunia internasional bahwa RI cinta perdamaian, sekaligus menegaskan bahwa pemerintah pusatnya dipatuhi oleh daerah-daerah.

Perhitungan yang melandasi untuk berunding dari pihak RI adalah berdasarkan :

  • Perjuangan kemerdekaan akan memakan waktu cukup lama, mungkin bertahun-tahun.
  • Hampir 60% pasukan RI di Sumatera Selatan berada di Kota Palembang, bila sampai bertempur habis-habisan akan memperlemah kekuatan pada masa selanjutnya.

Setelah itu, ditetapkan tiga orang delegasi yang akan melakukan penjajakan perundingan. Mereka adalah dr. M. Isa, Gubernur Muda Sumatera Selatan yang mewakili Pemerintahan Sipil; Mayor M. Rasyad Nawawi, Kepala Staf Divisi Garuda II yang mewakili pasukan-pasukan dari Komando Pertempuran dan Komisaris Besar Polisi Mursoda, yang mewakili Kepolisian (Parikesit, 1995 : 69).


Perundingan Cease Fire.

Perundingan antara RI – Belanda dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 1947 di Rumah Sakit Charitas. Formasi delegasi pun ditambah dengan Kolonel Bambang Utoyo, Komandan Divisi Garuda II, yang ditunjuk sebagai Ketua dan Mayor Laut A.R. Saroingsong. Pertemuan dengan pihak Belanda sebenarnya telah mereka nanti-nantikan, sebab posisi Belanda benar-benar terjepit dan belum bisa mengadakan link up. Mereka masih terkurung dalam kubu per kubu yang terpisah satu sama lainnya

Dalam perundingan tersebut pihak Belanda menuntut Kota palembang dikosongkan dari seluruh Pasukan TRI. Namun hal itu ditolak oleh delegasi RI. Pihak RI bersedia menarik TRI dan Lasykar dari kota, tapi ALRI, Kepolisian dan Pemerintahan Sipil tetap berada di dalam kota. Dengan alasan bahwa ALRI tidak mempunyai hubungan dengan Angkatan Darat. Adapun maksud tersembunyi adalah pasukan ALRI yang tinggal di kota Palembang akan menjadi penghubung dan mata-mata, disamping Polisi dan Pemerintahan Sipil, guna mengawasi kegiatan Belanda.

Akhirnya pertempuran Lima Hari Lima Malam diakhiri dengan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/ lasykar harus keluar dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintahan Sipil RI dan ALRI masih tetap berada di dalam kota. Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 km dari pusat kota. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.

  • Kesimpulan

Pertempuran Lima Hari Lima Malam merupakan upaya yang dilakukan oleh Pasukan TRI, lasykar dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan di Kota Palembang. Dalam pertempuran itu, pihak lawan menguasai udara dan perairan (air and sea superioritary). Karena superioritas itulah mereka dapat bertahan dan disinilah pula terletak kelemahan kita serta tidak mempunyai perhubungan yang modern.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan pertempuran tiga matra dan perang terbesar dan terlengkap yang pertama kali kita alami. Namun pihak kita hingga akhir pertempuran masih dapat bertahan berkat semangat pengorbanan jiwa, jihad dan patriotisme yang besar dari para pejuang dan rakyat.(Sri Purwati)

Pasukan Indonesia menyebrangi Sungai Musi untuk membantu posisi Front.

☆Kronologis Perang Lima Hari Lima Malam☆

⚪1 Januari 1947
Dari RS. Charitas terjadi rentetan tembakan disusul oleh ledakan-ledakan dahsyat kearah kedudukan pasukan kita yang bahu membahu dengan Tokoh masyarakat bergerak dari pos di Kebon Duku (24 Ilir Sekarang) mulai dari Jalan Jenderal Sudirman terus melaju kearah Borsumij, Bomyetty Sekanak, BPM, Talang Semut.

⚪2 Januari 1947
Diperkuat dengan Panser dan Tank Canggih Belanda bermaksud menyerbu dan menduduki markas Tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang. Pasukan Batalyon Geni dibantu oleh Tokoh Masyarakat bahu membahu memperkuat barisan mengobarkan semangat jihad yang akhirnya dapat berhasil mempertahankan Masjid Agung dari serangan sporadis Belanda. Pasukan bantuan Belanda dari Talang Betutu gagal menuju Masjid Agung karena disergap oleh pasukan Lettu. Wahid Luddien, sedangkan pada hari kedua Lettu Soerodjo tewas, ketika menyerbu Javache Bank. Diseberang hulu Lettu. Raden. M menyerbu kedudukan strategis Belanda di Bagus Kuning dan berhasil mendudukinya untuk sementara. Bertepatan dengan masuknya pasukan bantuan kita dari Resimen XVII Prabumulih

⚪3 Januari 1947
Pertempuran yang semakin sengit kembali memakan korban perwira penting Lettu. Akhmad Rivai yang tewas terkena meriam kapal perang Belanda di sungai seruju. Keberhasilan gemilang diraih oleh Batalyon Geni pimpinan Letda Ali Usman yang sukses menhancurkan Tiga Regu Kaveleri Gajah Merah Belanda. Meskipun Letda Ali Usman terluka parah pada lengan.

Pasukan lini dua kita yang bergerak dilokasi keramat Candi Walang (24 Ilir) menjaga posisi, untuk menghindari terlalu mudah bagi Belanda memborbardir posisi mereka. Sedangkan Pasukan Ki.III/34 di 4 Ulu berhasil menenggelamkan satu kapal belanda yang sarat dengan mesiu. Akibatnya pesawat-pesawat mustang Belanda mengamuk dan menghantam selama 2 jam tanpa henti posisi pasukan ini.

Pada saat ini pasukan bantuan kita dari Lampung, Lahat dan Baturaja tiba dikertapati namun kesulitan memasuki zona sentral pertempuran diareal Masjid Agung dan sekitar akibat dikuasainya Sungai Musi oleh Pasukan Angkatan Laut Belanda.

⚪4 Januari 1947
Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat, sedangkan tentara kita  mendapat bantuan dari Tokoh masyarakat dan pemuka adat yang mengerahkan pengikutnya untuk membuka dapur umum dan lokasi persembunyian serta perawatan umum.

Pasukan Mayor Nawawi yang mendarat di keramasan terus melaju ke pusat kota melalui jalan Demang Lebar Daun. Bantuan dari pasukan ke Masjid Agung terhadang di Simpang empat BPM, Sekanak, dan Kantor Keresidenan oleh pasukan Belanda sehingga bantuan belum bisa langsung menuju kewilayah charitas dan sekitar.

⚪5 Januari 1947 
Pada hari ke Lima panser Belanda serentak bergerak maju kearah Pasar Cinde namun belum berani maju karena perlawanan sengit dari Pasukan Mobrig kita pimpinan Inspektur Wagiman dibantu oleh Batalyon Geni. Sedangkan pasukan Belanda dijalan merdeka mulai sekanak tetap tertahan tidak mampu mendekati Masjid Agung. Akibat kesulitan, tentara Belanda dibidang logistik dan kesulitan yang lebih besar pada pihak kita pada bidang amunisi akhirnya dibuat kesepakatan untuk mengadakan Cease Fire.

Pasukan dari Kebun Duku diperintahkan untuk menyerang Jalan Jawa lama dan 11 Siang telah menyusun barisan berangkat ke kenten. Tiba-tiba dalam perjalanan Kapal Belanda menembaki rumah sekolah yang dihuni oleh Batalyon Geni dan Laskar Nepindo sehingga pihak kita mengalami banyak kerugian dan korban jiwa.

Dalam Cease Fire TKR dan Laskar serta badan-badan perlawanan rakyat diperintahkan mundur sejauh 20 KM dari kota Palembang atas perintah Komandan Divisi II Kolonel Bambang Utoyo. Sedangkan dikota Palembang hanya diperbolehkan pasukan ALRI dan unsur sipil dari RI yang tinggal.




Sumber :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...