Jumat, 02 Januari 2015

Jokowi wants RI military to be strongest in the region

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhasP_F2eSjbbmJ68dCWUno5woKWG3aPKJZGzgczhGx9FNC-XCfewmAmBLZuFi-A1dzDjq-Z55NOSDroeHkv3uWk15c3SDYammzWPClGEOFGdSQSX23Muh0CPHcS81aujqVz3dCQ0Fiivw/s1600/Heli+Apache+++Mi+35+(U.S.%2BArmy%2Bphoto%2Bcourtesy%2Bof%2B25th%2BCombat%2BAviation%2BBrigade).JPGPresident Joko “Jokowi” Widodo set a target on Tuesday to improve the capacity of the Indonesian Military (TNI) and defense industry not only to meet the Minimum Essential Force (MEF) targets, but also to transform it into a force to be reckoned with in the region.

In a bid to improve the country’s obsolete weapons system, the government earlier implemented a plan to realize the military’s MEF blueprint for achieving an independent defense industry by 2024.

Speaking during a meeting with Defense Industry Policy Committee (KKIP) on Tuesday at the Presidential Office, Jokowi pointed out four main priorities for the country’s defense policy, including efforts to develop the military to become a well-respected force, to reach self-sufficiency in defense equipment, to meet the country’s defensive needs and to make defense policy a part of the comprehensive approach to security.

The President said that the country should no longer depend on imported defense equipment and that efforts (such as bureaucratic reforms) needed to be taken to expedite the transfer of military technology at state-owned defense firms.

“Those [reforms] include measures related to competitiveness and productivity that are designed in such as way that we will be able to partner with such global defense industry players as South Korea, the United States and Western European countries,” Jokowi said.

Obsolete weapons systems have hampered the TNI’s ability to guard Indonesia’s territorial waters from rampant illegal fishing.

The Defense Ministry has recently pledged to spur the development and production of naval weapons by national defense companies in order to help implement Jokowi’s maritime-axis vision. The ministry has also aimed to promote joint cooperation between local and overseas defense firms to give local defense firms essential knowledge and experience that would eventually help them independently produce state-of-the-art armaments for the TNI.

In December 2011, the ministry and South Korean Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) signed a US$1.1 billion contract to manufacture three U-209 diesel-electric submarines. PT PAL’s engineers will be given a chance to take a close look at the construction of the first two submarines at a DSME plant in South Korea before they construct the last one at the PT PAL plant in Surabaya.

In the meeting, Jokowi also wanted defense firms to start working on civilian projects.

“For example, Pindad’s [light-armored] Anoa vehicles should be used for commercial trucks, PAL’s warships can also be used as commercial ships and for fishing, while the DI’s [military transport aircraft] CN295 can also be used for civil defense,” he said.

PT Pindad’s executive director Silmy Karim said his company was ready to produce non-defense equipment, which would not only encourage the country’s defense industry but could also promote economic growth.

“The demands for defense products continue to rise, so we will boost the production of both [defense and non-defense industries],” said Silmy after Tuesday’s meeting.

Other than Anoa, Silmy added, Pindad is also looking into production for rail networks and heavy equipment utilizers.

“The meeting supported the idea that we should optimize the country’s defense production,” Defense Minister Ryamizard Ryacudu said.

 ♖ thejakartapost  

Hari Keenam, Basarnas Temukan 30 Jenazah Korban AirAsia

http://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2015/01/02/23/945376/hari-keenam-basarnas-temukan-30-jenazah-korban-airasia-SPA.jpgTim gabungan Basarnas membawa 10 peti jenazah korban AirAsia QZ8501 ke dalam pesawat CN-295 A2903 milik TNI AU di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1/2014).

Memasuki hari keenam pencarian puing dan korban pesawat AirAsia QZ8501, Badan SAR Nasonal (Basarnas) telah berhasil mengevakuasi sejumlah 30 jenazah.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI F Henry Bambang Soelistyo mengatakan dari 30 jenazah itu, 10 di antaranya dalam proses penerbangan ke Surabaya. Sementara empat jenazah berada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

"Delapan jenazah dengan perincian tujuh jenazah masih berada di KRI Bung Tomo, satu jenazah ada di KM Pahang milik Malaysia. Delapan jenazah sudah ada di Surabaya. Total yang sudah saya konfirmasi 30 jenazah," kata Soelistyo di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2015).

Terkait tujuh jenazah yang masih berada di KRI Bung Tomo dan satu jenazah lainnya di KM Pahang milik Malaysia, Soelistyo menjelaskan belum dapat dievakuasi menuju Pangkalan Bun karena terkendala cuaca buruk.

Soelistyo mengatakan hari ini gelombang laut di titik pencarian mencapai enam meter.

"Ombaknya (setinggi) tiga sampai empat meter. Tapi kenyataannya di sana gelombang setinggi enam meter," kata Soelistyo.(dam)

 ♖ sindonews  

Pesawat Korsel Temukan Tiga Jasad Duduk Sejajar di Kursi

http://images.cnnindonesia.com/visual/2015/01/02/8f8b8ca6-3ec8-466d-ae86-f058d0bad253_169.jpg?w=650Tim Pesawat P-3C Orion KN-01 dari Korea Selatan sebelum melaksanakan misi pencarian badan AirAsia QZ8501 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (1/1). (Dok. Dinas Penerangan TNI AU)

Pesawat Orion milik Korea Selatan yang dikirim untuk membantu proses pencarian pesawat AirAsia QZ8501 telah mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (2/12). Setelah sekitar lima jam mengudara, tim menemukan beberapa jenazah di lokasi pencarian.

"Pukul 11.58 mereka berhasil menemukan tiga jenazah duduk di kursi dalam satu baris (row) pada koordinat 03.52.34.S dan 110.29.50.E," demikian keterangan tertera dalam siaran pers dari Dinas Penerangan TNI AU yang diterima CNN indonesia, Jumat (2/12).

Melanjutkan pencarian, pada pukul 12.31 WIB, pukul 12.48, dan pukul 13.00 WIB awak pesawat P-3C Orion KN-01 kembali menemukan jenazah di tiga tempat berdekatan.

"Setiap penemuan korban segera disampaikan lewat radio, di samping melempar suar penanda posisi setiap korban untuk dievakuasi oleh KRI 357 Bung Tomo yang juga mengatur kapal lain termasuk USS Sampson di dekat situ," demikian penjelasan Dispen AU.

Dalam rilis pers tersebut, disampaikan pula rasa bangga dan haru dari pendamping misi pesawat Orion, Mayor Pnb Trinanda Hasan, yang menyaksikan rangkaian aksi kapal perang modern milik TNI AL tersebut mengevakuasi korban Air Asia.

Tak hanya itu, dalam pernyataan resmi Dispen TNI AU ini juga dilansir keterangan bahwa kru pesawat Orion yang berasal dari Korea Selatan mengaku kagum dengan kerja sama tim SAR Indonesia.

Pesawat P3C Orion KN-01 di bawah pimpinan Colonel Yoon Kiheui dengan Mission Commander Mayor Lee Jung Bong ini lepas landas dari Halim Perdanakusuma pukul 08.50 WIB.(sip)

 ♖ CNN  

Korem 152 Babullah Dapat Bantuan Kapal Cepat

http://www.aktual.co/images/content/2015/01/02/e3ab83dd3b80dc27d2007e4a95156c3e_a.jpgKorem 152 Babullah Ternate, Maluku Utara (Malut), menerima bantuan Kapal Motor Cepat (KMC). Komando Bantuan yang digunakan untuk operasional di daerah ini.

Kapenrem Mayor Inf Anang Setyoadi mengatakan, bantuan ini bagian dari program pemerintah untuk menciptakan kedaulatan laut dan keamanan laut dalam rangka poros maritim.

"Rupanya program ini bukan hanya isapan jempol semata, dibuktikan dengan dukungan satu unit KMC Komando yang diberikan kepada jajaran Korem 152 Babullah," kata dia di Ternate, Jumat (2/1).

Kapenrem mengatakan, keberadaan KMC Komando juga untuk menjaga perairan Malut yang sering terjadi illegal fishing. Menurut dia, KMC Komando merupakan salah satu master piece buatan putra-putri terbaik Indonesia hasil riset Dislitbang TNI AD dan berbagai pihak dari Universitas Indonesia, dibuat di galangan kapal dalam negeri yang dapat mengangkut 31 orang personel dan 2 ABK serta mempunyai daya jelajah 250 NM (Nautica Mile) dengan kecepatan 45 Knot dan dapat beroperasi di laut, perairan dangkal, rawa, danau dan sungai.

Selain itu, kapal tersebut juga dilengkapi peralatan canggih terbaru baik marine radar, alat komunikasi maupun GPS termodern dikelasnya. KMP Komando juga dilengkapi dengan persenjataan senapan mesin berat jenis M2HB Browning kaliber 12,7 mm dengan sistem bidik menggunakan Remote Control Weapon System dilengkapi optronik sensor yang didalamnya terdapat Laser Range Finder.

Kanpenrem menambahkan, KMP Komando yang diberikan kepada jajaran Korem 152 Babullah untuk membantu mobilisasi pergerakan pasukan di wilayah Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau dipisahkan oleh laut.

 ♖ aktual  

Cuaca Buruk adalah Kawan Baik Kami

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/0/02/LogoPaska2.jpgTim evakuasi dari unsur laut kian intensif mengerahkan armada untuk mendeteksi kerangka utama dari badan pesawat AirAsia Q8501 pada hari keenam pencarian, Jumat (2/1). Serpihan pesawat yang berhasil ditemukan hingga hari ini dijadikan petunjuk untuk lebih mendalami investigasi.

Menurut Kepala Operasi SAR Pangkalan Bun Marsekal Pertama Supriyadi, pencarian kini fokus di bawah laut dengan menggunakan alat sonar detektor eco sounder. Alat itu sudah dua hari diandalkan untuk pencarian.

"Semakin banyak bukti dan tanda kemungkinan besar kerangka AirAsia semakin dekat dengan deteksi kapal laut," ujar Supriyadi di Lanud Iskandar Pangkalan Bun, Jumat.

Meski demikian, titik lokasi pasti dari badan pesawat jenis Airbus A320 itu hingga kini masih menjadi misteri. Cuaca buruk dan gelombang ombak yang tinggi menjadi kendala penyisiran di wilayah perairan.

Tim khusus Komando Pasukan Katak (Kopaska) sudah siap terjun menyelami bawah laut untuk mencari keberadaan pasti badan pesawat. Kapten Laut (P) Danden SatKopaska Edy Tirtayasa mengatakan, saat ini ada 41 personel Pasukan Katak yang disiagakan menyelam ke bawah laut.

Mereka bakal disebar di kapal-kapal yang diperbantukan untuk menyisir wilayah perairan pada jarak 90-150 nm dari arah barat daya Teluk Kumai, Pangkalan Bun.

"Hingga detik ini kami belum menerjunkan personel ke bawah laut. Walaupun pintu darurat sudah ditemukan, belum tentu lokasinya sama dengan posisi badan utama pesawat," kata Edy.

Komandan Tim Kopaska Teluk Kumai itu menyatakan, operasi pencarian di laut lebih sulit ketimbang di darat. Meski tim gabungan laut telah dilengkapi alat deteksi sonar, tidak berarti tim penyelam bawah laut bisa langsung diterjunkan membantu pencarian.

Namun Edy memastikan, timnya sudah terbiasa dengan cuaca paling buruk sekalipun. Penyelaman di tengah amukan ombak diakui Edy telah menjadi santapan sehari-hari Pasukan Katak.

"It is not a big problem. Cuaca buruk adalah kawan kami. Tapi pertanyaannya sampai kapan lokasi pasti ditemukan. Jenazah bisa membusuk di lautan. Persoalan evakuasi akan menjadi PR berat kami," ujar Edy.

Hingga hari keenam pencarian, Badan SAR Nasional (Basarnas) baru menemukan sejumlah bagian dari pesawat AirAsia hilang kontak, Ahad lalu, 28 Desember 2014. Pesawat dengan rute Surabaya tujuan Singapura tersebut hilang kontak pada Ahad pagi (28/12) pukul 06.17 WIB, hanya beberapa menit setelah lepas landas di Bandara Juanda, Surabaya.

Sementara itu empat jenazah telah diidentifikasi. Satu jenazah teridentifikasi Kamis lalu (1/1) atas nama Hayati Lutfiah Hamid dan sudah diserahkan kepada keluarga.

Tiga jenazah lainnya diidentifikasi hari ini, Jumat, atas nama Grayson Herbert Linaksita, Kevin Alexander Soetjipto, dan Khairunnisa Haidar Fauzi alias Nisa.(rdk/nez)
Evakuasi di Bawah Laut Bakal "Zero Visibility" http://images.cnnindonesia.com/visual/2015/01/02/539a2906-0f29-47b2-82cd-a252fec7a2f6_169.jpg?w=650Komandan Tim Kopaska Teluk Kumai, Kapten Laut (p) DanDen SatKopaska Edy Tirtayasa di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1). (CNN Indonesia/Gilang Fauzi)

Tim Disaster Victim Identification (DVI) meminta tim evakuasi berhati-hati mengangkat jenazah yang ditemukan di perairan. Soalnya, jasad di dalam laut akan mengalami proses pembusukan sangat cepat.

Direktur DVI Mabes Polri Komisaris Polisi Anton Castelano mengatakan, ketika jenazah tenggelam, jasad akan membengkak terisi kandungan nitrogen di bawah laut.

"Ibarat balon yang diisi gas, pada hari ketiga biasanya jenazah akan naik ke atas dan mengambang di permukaan laut," kata Anton di Lanud Iskandar Pangkalan Bun, Jumat (2/1).

Setelah terapung dan terombang-ambing di permukaan laut, lanjut Anton, jenazah kembali tenggelam ke dasar laut. Pada titik ini, jenazah rentan rapuh jasadnya. Jika telah lewat satu pekan, jasad akan berada dalam kondisi tertentu.

Untuk itu, tambah Anton, dibutuhkan upaya yang ekstra hati-hati dalam menyelamatkan jenazah yang sudah melewati hari pembusukan. Jika tidak, jasad korban rentan hancur atau pulang dengan kondisi yang tidak lagi utuh. "Semoga itu tidak terjadi," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Komandan Tim Kopaska Teluk Kumai Kapten Laut (P) Danden SatKopaska Edy Tirtayasa memahami situasi itu. Selama 21 tahun bergabung dengan Kopaska, tak terhitung penyelamatan evakuasi di bawah air laut yang telah dia lakukan.

Edy membenarkan bahwa ketika jenazah tenggelam selama lebih dari sepekan, jasad rentan terkoyak. Kendala lain, kondisi dasar laut di lokasi pencarian saat ini disinyalir bakal berlumpur akibat pasir lembut, efek dari sedimentasi yang dibawa arus utara.

"Kemungkinan besar di bawah sana kami akan mengalami zero visibility," ujar Edy.

Jarak pandang yang pekat di dasar laut menjadi tantangan bagi regu penyelam. Edy memprediksi banyak kemungkinan dari posisi jenazah yang, sekiranya, masih tersangkut di dalam badan pesawat.

Menurut Edy, jenazah di dalam pesawat bisa dalam posisi masih duduk dengan kondisi mengenakan sabuk pengaman; duduk dengan posisi membungkuk; dan terlepas dari sabuk pengaman namun masih tersangkut di dalam pesawat.

"Dengan kondisi gelap, kami tentu harus meraba-raba. Selain itu serpihan pesawat akan sangat membahayakan. Di bawah tekanan kedalaman laut, serpihan besi setumpul apapun akan lebih tajam dari silet," kata Edy.

Teknik pengambilan jenazah tidak sembarangan. Edy menjelaskan, cara terbaik mengevakuasi jenazah yang rentan adalah dengan memeluk badan korban dengan lembut, atau menarik kerah baju belakang.

Satu-satunya cara evakuasi bawah laut yang paling memungkinkan untuk menarik jasad ke permukaan, Edy menambahkan, adalah dengan memanfaatkan peralatan floating bag. Jasad yang sudah dikeluarkan dari badan pesawat lantas dimasukkan ke dalam keranjang sebelum ditarik oleh balon yang sudah mengembang.

Saat balon muncul di permukaan, evakuasi dilakukan oleh tim kapal laut.

Kini pencarian telah memasuki hari keenam. Edy tak ingin berandai-andai menerka kondisi jenazah. Dia hanya berharap alat-alat canggih yang sudah dioperasikan bisa segera membuahkan hasil. "Mari kita bedoa agar mereka segera bisa diselamatkan," ujarnya.(rdk/nez)

 ♖ CNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...