Jumat, 29 Juni 2012

Batalyon 461 Paskhas AU Latihan Bersama US Air Force

Ilustrasi HAHO
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Batalyon 461 Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara terjun dari ketinggian 15.000 feet dalam latihan bersama antara TNI AU dan US Air Force dengan nama Cope West 2012.

Latihan digelar di lapangan terbang Jakarta Aeromodelling Club, Dirgantara III, Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat (29/6/2012).

Latihan terjun dengan teknik HAHO (High Altitude High Opening) ini didukung oleh pesawat Hercules A-1317 dengan kapten pilot Eko Sudjatmiko yang juga menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 31 Wing I Lanud Halim Perdanakusuma.

Wakil Komandan Batalyon 461 Paskhas AU Mayor Kutoyo sebagai Koordinator Paskhas dalam latihan ini, mengatakan, teknik penerjunan dengan HAHO ini sangat jarang dilakukan kecuali dalam misi khusus seperti infiltrasi ke wilayah musuh.

"Terbang tinggi agar tidak mudah terdeteksi musuh. Teknisnya, pada saat loncat dari badan pesawat , langsung menarik tali parasut, dan pada saat mendarat segera berlari ke area yang aman dengan jarak dua puluh kilometer," kata Mayor Pasukan Kutoyo.

Lebih lanjut dikatakan, infiltrasi ini dilakukan dengan tujuan utama menyiapkan daerah dropping zone. Penerjunan ini dilakukan oleh tiga belas personel Paskhas dari Batalyon 461 yang berkedudukan di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma.

Dari pihak USAF, Jump Master yang ikut menyiapkan pasukan adalah Master Sgt J. Gaona dan Master Sgt Sean Flynn.

Agenda kegiatan latihan hari ini salah satunya adalah terbang statik oleh pesawat Hercules dari USAF yang melaksanakan dropping personel di daerah Gorda Banten Serang.

Diakhiri dengan penerbangan USAF C-130s dengan misi CDS (Container Delivery System) Dropping.(Tribunnews)

Kamis, 28 Juni 2012

Latihan Bersama Pawang Anjing Pelacak Bahan Peledak Berlanjut di Sydney

SYDNEY - Dua anggota dari Tim Cakra dan dua anggota dari Tim Jihandak dari Satuan 81 Kopassus, yang masing-masing memiliki fokus pelatihan tentang Anjing Pelacak, Bahan Peledak atau Explosive Dog Detection (EDD) dan Pelacakan Bahan Peledak Explosive Ordnance Detection (EOD), berpartisipasi dalam latihan dua minggu bersama dengan Resimen Zeni Operasi Khusus atau Special Operations Engineer Regiment (SOER) di Holsworthy. Pelatihan ini dilakukan selama dua minggu dari tanggal 28 Mei sampai dengan 9 Juni 2012. Dalam sambutan pembukaan Komandan SOER, LTCOL Scott Corrigan menyambut anggota dari Tim Cakra. Tim tersebut telah bekerja sama dengan SOER pada tahun lalu dan memberikan perhatian khusus pada latihan bersama yang dilakukan pertama kali dengan Tim Jihandak di Australia.

Selama minggu pertama, anggota dari Tim Cakra menerima pelajaran teori dan praktek mengenai aspek dasar dan aspek lanjutan untuk mempertahankan kemampuan EDD. Pada pelatihan ini, pelajaran mencakup seleksi dan proses perekrutan anjing, kelincahan dan pelatihan ketaatan, dasar-dasar menemukan bau bahan peledak, serta pencarian pada area gedung, daerah, kendaraan, dan jalanan publik. Ada juga pelatihan mengenai kebiasaan sehari-hari di kandang termasuk pembersihan kandang, pembersihan anjing, persyaratan makanan untuk anjing, dan perawatan hewan. Pelatihan ini telah direncanakan pada program tahun sebelumnya antara anggota SOER dan Tim Cakra di Australia dan saat latihan bersama pada awal tahun ini di Satuan 81 Kopassus di Cijantung, Jakarta, pada Maret 2012

Minggu kedua dipusatkan pada pencarian dalam sebuah stadion olahraga setempat bernama Warwick Farm di mana pawang dari Tim Cakra bersama pawang EDD Australia menggunakan keterampilannya yang didapatkan dalam minggu sebelumnya untuk melakukan pencarian sistematis pada sebuah bangunan bertingkat dua dan daerah sekitarnya. Pawang dari Tim Cakra berhasil menemukan semua bahan peledak yang disembunyikan oleh komandan latihan Sersan Dave. Beliau sangat terkesan pada kemampuan komunikasi Letda Discon dengan anjing Australia dan keahliannya dalam melakukan pencarian di gedung , yang menurutnya, sangat efektif dan menyeluruh.


04 EOD EDD Sydney 2012
Sementara itu, Tim Jihandak melakukan pelatihan bersama Tim EOD dimana anggotanya sangat terlatih dalam mengatasi ancaman Kimia, Biologi, Radiologi, Nuklir atau Explosif atau Chemical, Biological, Radiological, Nuclear or Explosive (CBRNE). Pelatihan yang dilakukan antara Tim Jihandak dan Tim EOD di Australia merupakan latihan lanjutan dari latihan bersama yang dilakukan pada bulan Maret 2012 di Satuan 81 Kopassus Cijantung, Jakarta.

Pelatihan pada minggu pertama meliputi keterangan mengenai pengidentifikasian bahan peledak, peralatan dan perlengkapan EOD yang digunakan oleh SOER termasuk robot EOD. Terdapat pula latihan di mana Tim EOD dan Tim Jihandak ditugaskan untuk melakukan penyisiran sebuah lapangan udara dari bahan peledak dalam jangka waktu yang singkat untuk memungkinkan pendaratan pesawat. Pada minggu kedua pelatihan berkonsentrasi pada ancaman CBRNE dengan fokus lebih rinci pada aspek Kimia. Tim Jihandak juga berpartisipasi dalam suatu kegiatan untuk meledakkan sebuah simulasi perangkat ledak dengan mengikuti prosedur Tim EOD Australia.


Selama di Australia, anggota Tim Cakra dan Tim Jihandak juga sempat melakukan kunjungan wisata di Sydney dan Canberra, ibukota Australia. Di Sydney, para anggota dari Kopassus tersebut melakukan kunjungan ke Opera House dan Sydney Harbour Bridge yang merupakan lambing kota Sydney. Sementara di Canberra, mereka melakukan kunjungan wisata ke Parliament House, Australian Defence Force Academy, Royal Military College dan Australian War Memorial. Para anggota juga melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Australia dan bertemu dengan Atase Pertahanan Indonesia di kediaman resminya.(
Ikahan)

Tim Aerobatik Jupiter Tiba di Bangkok

Jupiter Aerobatik Team TNI AU bersama Royall Thayland Air Force di Bangkok, Thayland.
Tim Aerobatik Jupiter dari TNI AU akhirnya mendarat dengan selamat di bandara Don Muang Bangkok pada hari Selasa tanggal 26 Juni 2012 dalam rangka turut berpartisipasi dalam Perayaan 100 tahun Penerbangan Thailand. Sebelumnya Tim Jupiter telah melakukan perjalanan panjang sebelum akhirnya tiba di Don Muang. Kedatangannya didahului oleh sebuah pesawat tim aju C-130 dari Skadron Udara 32, disusul 7 pesawat KT-1, dan disusul mendaratnya sebuah pesawat C-130 pendukung.

Rombongan Tim Jupiter kebanggaan Indonesia ini berangkat pada hari Minggu 24 Juni 2012 dengan rute Lanud Adisutjipto Yogyakarta – Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta – Lanud Palembang – Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru – Lanud Suwondo Medan – Lanud Hat Yai - Lanud Prachuab – Lanud Don Muang Bangkok. Rombongan singgah untuk menginap atau RON (Remain Over Night) di kota Palembang dan kota Medan sebelum terbang memasuki wilayah udara tanggal 26 Juni 2012 dan mendarat di Don Muang Bangkok. Disetiap landasan persinggahan rombongan mengisi bahan bakar dan oksigen yang dibutuhkan dalam penerbangan.

Rombongan yang berjumlah 65 orang tersebut berada dibawah Mission Commander (pimpinan) Komandan Wingdik Terbang Kolonel Pnb M. Khairil Lubis. Untuk Tim Aerobatik Jupiter sendiri terdiri dari 12 Instruktur Penerbang TNI AU dari Lanud Adisutjipto dibawah pimpinan Flight Leader Letkol.Pnb.Dedy Susanto. Tim didampingi Team Supervisor Kolonel Pnb. Anang Nurhadi. Sebagai personel pendukung Tim Jupiter adalah para tehnisi pesawat KT-1B dari Skadik 102 dan Skatek 043 Lanud Adisutjipto.

Saat singgah di landasan Hat Yai kedatangan Tim Jupiter disambut oleh Konjen RI Bapak Heru Wicaksono yang didampingi Komandan Lanud RTAF Hat Yai. Selanjutnya saat tiba di Lanud Don Muang Bangkok rombongan disambut dengan hangat oleh Bapak Dubes RI HE Lutfi Rauf yang didampingi Atase Udara RI Kol Pnb A.Joko Takarianto serta Deputi Direktur Operasi RTAF Group Captain Thawonwat yang mewakili Comannder In Chief RTAF ACM Itthaporn Subhawong.

Pada kesempatan itu Dubes RI menyatakan bahwa kedatangan JAT merupakan perwujudan hubungan yang baik antar kedua negara dan khususnya antar kedua angkatan udara. Kesempatan ini juga bermanfaat untuk menunjukan keterampilan dan profesionalitas para penerbang TNIAU yang diwakili kemampuan aerobatic team ini. Pada akhir welcoming greetingnya Bapak Dubes menyampaikan selamat dan doa agar semua yang direncanakan dan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar sampai pada saatnya kembali ke Indonesia. GC Thawonwat pada sambutannya menyampaikan rasa terimakasih yang setinggi tingginya pada TNI AU karena JAT ikut berpartisipasi dalam peringatan seabad penerbangan RTAF Thailand ini.

Perayaan 100 tahun Penerbangan Thailand akan dirayakan dengan meriah di Bangkok pada tanggal 2 Juli 2012. Untuk memeriahkan acara pesta kedirgantaraan ini maka Angkatan Udara Thailand atau Royal Thai Air Force (RTAF) mengadakan kegiatan kedirgantaraan berupa Aerospace Exhibition, dengan pameran kedirgantaraan berupa Static Show dan Air Show. Untuk memeriahkan pesta kedirgantaraan ini mengundang Jupiter Aerobatic Team TNI AU untuk berpartisipasi dengan unjuk kebolehan di langit diatas area terminal kargo Pangkalan Udara yang juga merangkap Bandara Don Muang.

Tim Aerobatik Jupiter direncanakan akan menampilkan atraksi “High Show” saat cuaca baik dimana cuaca baik dan awan sedikit atau tinggi, dan melaksanakan atraksi “Low Show” saat cuaca diselimuti ketinggian dasar awan rendah yang tidak memungkinkan manouver vertical. Adapun maneuver saat cuaca cukup baik untuk melakukan maneuver vertical akan ditampilkan “High Show” dengan antara lain : Jupiter Roll, Loop, X-Clover Leap, Jupiter Wheel, Mirror, Tango to Diamond, Kite Barrel dan Jupiter Roll back. Sedangkan pada saat cuaca kurang memungkinkan untuk manouver vertical maka akan dilaksanakan“Low Show” dengan melaksanakan Jupiter Roll, Hi “G” Turn, Jupiter Wheel, Screw Roll, Mirror, Roll Slide dan Break Off.

Tampilnya tim aerobatic Jupiter TNI AU yang merupakan kebanggaan rakyat Indonesia ini dalam rangka berpartisipasi memeriahkan perayaan seabad penerbangan RTAF Thailand. Hal ini menjadi bukti implementasi hubungan bilateral TNI AU-RTAF mewakili hubungan kedua Negara yang sangat baik dan erat. TNI AU dan RTAF merupakan dua Angkatan Udara pertama di ASEAN yang mempunyai Latihan Bilateral dengan nama Elang Thainesia sejak 30 tahun lebih yang lalu sebelum adanya latihan bersama diantara sesame anggota ASEAN lainnya.

Sejarah juga akan mencatat bahwa JAT adalah tim aerobatic luar negeri pertama yang hadir dalam perayaan ini dan disisi lain JAT juga mencatat sejarahnya sebagai pengalaman pertama tampil di arena kedirgantaraan di luar negeri.. Pada kegiatan ini tak ketinggalan pula pesawat F-16 dari RSAF akan turut serta dalam solo aerobatic . Disamping itu akan tampil seluruh pesawat milik RTAF disamping pesawat milik RTN, RTA serta Royal Thai Police juga ikut meramaikan. RTAF juga akan menampilkan Tim Aerobatik nya yang dikenal dengan nama Blue Phoenix.

Dalam perayaan kedirgantaraan ini, disamping airshow juga digelar exhibition dan static show di Appron Terminal Cargo Bandara Don Muang. Kegiatan pesta kedirgantaraan sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juni dengan puncak acaranya pada tanggal 2 Juli ditandai dengan Upacara Peringatan yang akan dihadiri PM Thailand Yingluck Sinawatra dan pejabat tinggi negara lainnya, baik dari kalangan sipil maupun militer.

Tujuan kehadiran Tim Aerobatik TNI AU Jupiter dalam perayaan 100 Tahun Aviation Thailand adalah menjalin hubungan persahabatan antara kedua Negara dan khususnya kedua Angkatan Udara. Tujuan lainnya adalah untuk memperkenalkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia juga memiliki putra-putra bangsa yang tidak kalah bersaing dalam kancah kedirgantaraan dunia lewat unjuk kebolehan Tim Aerobatik TNI AU di pentas internasional. Semoga hadirnya JAT dalam peringatan ini mempererat hubungan bilateral kedua Negara sekaligus menjadi awal tonggak sejarah kebangkitan kembali dunia kedirgantaraan Indonesia.(Tni-au.mil.id)

Tontaipur

TAHAPAN-TAHAPAN LATIHAN TEMPUR YANG HARUS DILAKUKAN TONTAIPUR KOSTRAD

Mereka harus melakukan sejumlah tahap pelatihan, yang memakan waktu cukup lama, yakni hampir 7 bulan. Fase demi fase harus mereka lalui, yang tidak semua prajurit mampu lolos menempuh kualifikasi sebagai prajurit yang memiliki kemampuan peleton pengintai tempur ini. Karenanya, walaupun sudah hampir 4 kali angkatan, prajurit Tontaipur belum banyak jumlahnya. Setiap angkatan hanya mampu meloloskan hampir 500 prajurit TNI AD yang memiliki kualifikasi Tontaipur.

Memang mereka bukanlah prajurit biasa. Para prajurit yang dilatih dalam Peleton Intai Tempur ini nantinya akan menjadi prajurit TNI yang memiliki kualifikasi khusus, dengan kemampuan Tri Matra, yakni baik kemampuan darat, laut, maupun udara. Bukan main! Para anggotanya direkrut dari satuan-satuan Kostrad, yang masih harus menempuh sejumlah seleksi ketat. Mereka yang tak mampu mengikuti poerjalanan dalam seleksi itu, mustahil akan bisa ikut pendidikan Tontaipur. Karenanya, hanya mereka yang benar-benar mampu secara fisik, kesehatan, karakter, mental, dan ketrampilan militer saja yang bisa mengikuti latihan ini.

Menurut Komandan latihan Tontaipur, Letkol Infanteri Indra J. Nasution, para prajurit yang dilatih dalam Tontaipur ini benar-benar hasil saringan yang sangat ketat. Mereka harus melalui sejumlah tahap seleksi, mulai dari tahap pertama, berupa latihan tempur Hutan Gunung yang berlangsung di medan latihan Kostrad yang terletak di Gunung Sangga Buana. Tahap kedua, adalah latihan Intelijen Aspek Laut , yang dilaksanakan di Satuan Pasukan Katak Armada RI Kawasan Barat. Tahap ketiga, latihan Sandi Yudha di Pusdik Kopassus, Batujajar, mengingat mereka yang memiliki kualifikasi ini harus punya kemampuan intelijen tempur. Dan pada tahap keempat, merupakan latihan aplikasi dari seluruh kegiatan yang pernah dilatihkan, bertempat di Sanggabuana, Cianjur, Cariu, Purwakarta dan kembali lagi ke Sanggabuana. Latihan ini tentunya untuk menguji kemampuan mereka dalam satu latihan yang utuh.

Latihan ini juga diikuti oleh level Perwira, Bintara, dan Tamtama. Dalam catatan, hingga saat ini pelatihan Tontaipur telah meluluskan 5 gelombang, dengan jumlah personel rata-rata sebanyak kurang lebih 100 personel.

Masih menurut Letkol Indra, bahwa mereka yang mengikuti latihan Tontaipur ini sebelumnya harus memiliki kualifikasi Para. Karenanya, mereka yang belum menempuh kualifikasi Para, dan akan diikutkan dalam Tontaipur, mereka harus menempuh Para terlebih dahulu di Pusat Pendidikan Para, Kopassus, Batujajar, Bandung. Persyaratan lainnya adalah memiliki dedikasi tinggi, kesemaptaan jasmani minimal mencapai nilai 70, kemampuan menembak 75 persen, memiliki kemampuan navigasi darat tingkat mampu dan diutamakan bagi mereka yang pernah mengikuti operasi.

“Itu memang menjadi persyaratan yang harus dipenuhi. Maka beberapa waktu lalu sejumlah anggota Tontaipur yang berasal dari Brigif-9 dan Brigif-13 Kostrad yang belum memperoleh wing Para, terlebih dahulu dikirim ke Satuan Pusdik Passus untuk mengikuti pendidikan Para Dasar. Mereka harus melakukan terjun minimal sebanyak tujuh kali penerjunan, yakni berupa terjun gunung hutan bersenjata, terjun malam dan terjun bersenjata dengan membawa kontener”, ujarnya saat Patriot mengunjungi kamp-nya di Sangga Buana, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
 Gagasan Awal Tontaipur

Tontaipur (Foto Kaskus formil)
Gagasan awal pelatihan Tontaipur ini lebih banyak ditimba dari pengalaman di lapangan dan berbagai penugasan tempur. Di situ banyak ditemukan kenyataan bahwa satuan kecil lebih efektif dalam melaksanakan manuver di lapangan. Dengan pengalaman ini maka timbulah sebuah gagasan dari Pangkostrad waktu itu, tahun 2001, Letnan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk membentuk satu pasukan kecil yang dilatih khusus dengan ketrampilan-ketrampilan tempur serta persenjataan dan perlengkapan khusus guna melaksanakan operasi tempur dengan hasil yang optimal.

Gagasan ini kemudian diwujudkan kedalam program pembentukan Taipur, yang diawali dengan penyusunan konsep latihan dan alat perlengkapan yang digunakan, hingga pelaksanaannya yang dilakukan secara tahap demi tahap. Dalam latihan pembentukan Taipur juga digagas tentang materi pelatihannya, yang antara lain menyangkut berbagai taktik tempur diajarkan, selain kemampuan satuan kecil, maupun kemampuan perorangan. Materi-maateri ini harus dilatihkan untuk mengasah dan membentuk sosok prajurit yang mempunyai keterampilan, taktik, teknik, dedikasi, kesemaptaan jasmani serta mentalitas handal, yang memang merupakan syarat mutlak bagi seorang prajurit Taipur.

Gagasan ini tentu juga disandingkan dengan kondisi factual, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. Karenanya sebagai satuan yang senantiasa siap digerakkan ke segala penjuru tanah air, Tontaipur harus memiliki kemampuan baik di darat, laut, maupun di udara untuk melaksanakan infiltrasi ke sasaran sebelum melaksanakan pertempuran yang menentukan.

Dan untuk melaksanakan infiltrasi dengan baik, maka Tontaipur harus dilatih oleh para pelatih khusus yang ahli di bidangnya serta berpengalaman di medan operasi sesungguhnya. Untuk materi aspek udara, Tontaipur dilatih oleh pelatih ahli dari jajaran Kostrad dan Kopassus. Sedangkan untuk materi kelautan, Tontaipur dilatih secara khusus oleh Pasukan Katak, dari Satuan Pasukan Katak TNI AL di Armada Barat.

Tak bisa dipungkiri, sesungguhnya berbagai pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa satuan yang paling banyak bermanuver pada saat penugasan operasi adalah tingkat peleton. Itulah sebabnya sehingga merekalah yang harus dibeklali berbagai kemampuan tempur. Kostrad, sebagai Bala Kekuatan Terpusat, yang setiap saat siap bergerak untuk diterjunkan kapanpun dan di manapun, mau tidak mau harus membina para prajuritnya agar memiliki kemampuan seperti itu. Tak heran ketika Letjen TNI Ryamizard menjabat sebagai Pangkostrad, gagasan itu segera bisa direalisasikan. Intinya, satuan di jajaran Kostrad harus mendidik prajuritnya memiliki kualifikasi Peleton Intai Tempur (Tontaipur), yang memang berada di brigade-brigade jajaran Kostrad.

Perlu dipahami, bahwa setiap brigade infanteri di Kostrad memiliki peleton pengamanan, yang menjadi satuan pertama melakukan manuver ke depan. Peleton Pengamanan inilah yang kemudian dilatih menjadi Ton Pam yang handal dengan pelatihan Tontaipur itu. Brigif Kostrad sengaja melatih mereka secara khusus untuk dapat menyediakan satuan intelijen tempur yang sangat handal. Mereka memang harus dilatih secara intensif sehingga memiliki kualitas yang benar-benar dapat diandalkan.
 Latihan Hutan Gunung

Tontaipur (Foto Kaskus formil)
Sebagai mata dan telinga brigade, maka Tontaipur mempunyai tugas mengumpulkan keterangan. Caranya tentu saja dengan melakukan pengintaian, penyusupan ke daerah lawan, interograsi, wawancara, mencari keterangan di daerah operasi untuk kepentingan taktis tempur. Bukan hanya itu, Tontaipur juga memiliki tugas pengamanan terhadap orang-orang penting, baik VVIP maupun VIP dari kegiaatan lawan. Mereka juga bertugas melakukan pengamanan instalasi vital dari kegiatan lawan, serta pengamanan terhadap sarana dan material. Dalam tugas ini, mereka berada dalam posisi sebagai Peleton Intai Keamanan (Tontaikam).

Mengingat tugas-tugas yang demikian inilah, maka latihan yang mereka harus lakukan bukan hanya meliputi latihan operasi tempur seperti kerjasama pesawat terbang, komunikasi tempur dan proses bantuan tempur, tetapi juga mencakup operasi psikologi, hukum humaniter dan HAM. Kerjasama pesawat terbang merupakan mata latihan penting dalam mendukung patroli tempur dan patroli pengintaian yang merupakan bagian dari perang hutan.

Latihan teknik dasar tempur bagi Tontaipur dilakukan di medan latihan Kostrad di Gunung Sanggabuana, Jawa Barat. Di area seluas 160 hektar itu mereka berlatih, termasuk materi latihan perang hutan gunung. Medan latihan itu adalah milik Yonif Linud-305/Tengkorak, yang telah digunakan sejak tahun 1990.

Di atas lahan yang demikian luas itu para prajurit Kostrad menempa diri menjadi prajurit yang handal, professional, dengan dedikasi tinggi. Berbagai fasilitas pelatihan dan sarana penunjang latihan disediakan, yang setiap saat siap digunakan untuk menyelenggarakan latihan bagi para prajurit tanpa ada kekhawatiran mengganggu milik masyarakat, merusak lingkungan atau tuntutan ganti rugi. Sebab areal itu adalah milik Kostrad.

Secara mudah kita akan menemukan para prajurit ini berlatih di medan yang sesungguhnya. Di Gunung Sanggabuana ini, yang masih berupa gunung, hutan, dan sungai memang sangat ideal untuk latihan patroli, mountaneering, menembak curam, terjal, membaca jejak, mengenal jebakan ranjau darat maupun jebakan tradisional, jungle survival dan mata latihan lainnya yang erat kaitannya dengan perang hutan. Khusus untuk latihan jungle survival, di hutan tropis Jawa Barat, paling sedikit diketahui terdapat 130 jenis tumbuhan yang daun, batang, kulit kayu maupun akarnya dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup di hutan. Medan latihan Gunung Sangga Buana ini merupakan aset yang sangat berharga sebagai sarana penunjang dalam membina kesiapan operasional satuan jajaran Kostrad melalui latihan. Para prajurit Tontaipur itu melaksanakan latihan selama 4 bulan untuk mengasah kemampuan tempur hutan gunung.
 Latihan Intelijen Aspek Laut

Tontaipur (Foto Kaskus formil)
Latihan intelijen aspek laut ditempuh oleh para prajurit Tontaipur di Satuan Pasukan Katak TNI AL. Misalnya tentang teknik tempur bawah air, yang juga diajarkan dengan menggunakan fasilitas Kopaska . Di sini pun sebenarnya mereka masih disaring untuk memenuhi persyaratan toleransi fisik penyelaman. Uji toleransi dilakukan di decompression chamber RSAL. Toleransi fisik diuji dalam ruang udara bertekanan tinggi dengan simulasi penyelaman pada kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut.

Di Kopaska, Tontaipur mendapat pembekalan teknik tempur bawah air selama empat minggu oleh para instruktur yang handal. Mata latihan di antaranya ialah Renang gaya bebas dan gaya katak; Renang dengan Pin dan Snorkle; Renang laut dengan perlengkapan siang dan malam; Kompas bawah air; Selam Militer; Renang Terikat; Cast and Recovery; Helly Cast; Terjun Laut; Rubber Duck; Renang Gaya gunting; Pancangan kaki p,antai; Taktik satuan kecil; Pengetahuan motor tempel; Long Range Navigation; dan Full Mision Profile. Mereka dilatih lebih dari sebulan, yakni 40 hari untuk aspek intelijen laut.

Latihan terjun laut dilakukan dengan pesawat NC-212 Skadron-600 Penerbangan TNI AL dan NC-212 Skadron-212 Skadron-2 Penerbangan TNI AD di teluk Jakarta. Penerjunan dengan mengenakan wet suit dan fins, menggunakan parasut Mc1.1B dan parasut cadangan T-7A. Pendaratan laut dilakukan dengan cara cut away pada ketinggian antara lima sampai tiga meter di atas permukaan laut. Tontaipur dipersenjatai dengan senapan serbu buatan Bulgaria masing-masing AK-47 versi SNUP untuk perwira dan bintara serta AK-47 versi SN untuk tamtama. Sebagian AK-47SN dilengkapi dengan pelontar granat 40mm jenis PG-40.

Senjata itu ditempatkan dalam rubber duck Avon W-400 yang diterjunkan dengan dua cargochute PG-1336. Setelah rubber duck diterjunkan melalui ramp door, maka kelompok Tontaipur segera menyusul terjun dengan penerjunan statik. Jumlah anggota tim maupun jenis senjata yang digunakan, ditentukan sesuai dengan kebutuhan tugas yang akan dileksanakan. Penyusupan mendekati sasaran dapat dilakukan dengan jalan penerjunan dari pesawat bersayap tetap, heli cast, atau disusupkan ke pantai dengan perahu karet yang diturunkan dari kapan perang maupun kapal selam. Dalam Penerjunan Pembebasan Irian Barat tahun 1962, tim Khusus Angkatan Darat berhasil didaratkan dengan perahu karet dari kapal selam kelas Whiskey buatan Sovyet, RI Tjandrasa, di sebelah barat Hollandia (Jayapura).

Mereka harus memiliki rasa percaya diri yang tebal. Hal ini tentu sesuai pula dengan semboyan pada sebuah papan di pinggir lapangan apel Komando Latihan Kostrad di gunung Sangga Buana Komplek yang berbunyi "Hari ini latihan, besok bertempur, lusa menang."
 Latihan Sandi Yudha

Tontaipur (Foto Kaskus formil)
Latihan tahap ketiga adalah latihan Sandi Yudha. Latihan ini biasanya dilaksanakan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdik Passus) Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Waktunya juga selama 40 hari. Materi latihan cukup padat, yang harus ditempuh juga oleh prajurit Tontaipur. Materi latihan itu adalah : Penyelidikan (Interogasi, Wawancara, KODO, Elisitasi, dan Matbar). Pengamanan (Pengamanan Personel, Pengamanan berita, Pengamanan Materiil, Pengamanan Instalasi, dan Pengamanan Kegiatan). Penggalangan, Administrasi Intelijen, Teknik Cover, Komunikasi Rahasia, dan Safe House.

Sedangkan latihan tahap ke empat, yakni tahap aplikasi, yang merupakan aplikasi dari seluruh rangkaian kegiatan latihan yang pernah dilatihkan. Latiihan ini juga menggunakan areal latiihan baik di Sanggabuana, Cianjur, Cariu, Purwakarta dan kembali lagi ke Sanggabuana. Waktunya cukup lama, yakni selama 1 bulan. Materi latihan yang harus ditempuh antara lain: Intelijen, jumpa tempur, Patroli Pantai, Patroli Pemburu, dan lainnya.

Perjalanan latihan yang dilalui oleh para prajurit itu tidak otomatis mulus. Mereka yang tidak mampu menempuh pelatihan-pelatihan yang demikian padat itu, juga tidak akan diberi kualifikasi sebagai prajurit Tontaipur. Karenanya bisa dikatakan, bahwa penyaringan demi penyaringan untuk menjadi prajurit Tontaipur memang sangat berat. Misalnya, pada pelatihan Taipur 1, dari 105 personel yang mengikuti latihan, hanya 97 yang dinyatakan lulus. Pada pelatiihan Taipur II, dari 110 personel yang mengikuti kegiatan latihan, hanya 87 dinyatakan lulus.Pelatihan Taipur III, dari 72 personel yang mengikuti kegiatan latihan, yang dinyatakan lulus sebanyak 65 orang. Dan seterusnya, hal ini menunjukkan betapa tidak mudahnya melewati pelatihan sebagai Tontaipur.
 Atribut Taipur

Tontaipur (Foto Kaskus formil)
Untuk mengenali prajurit Tontaipur tidaklah terlalu sulit. Atributnya memiliki ciri khas, yang sangat membedakan dengan prajurit Kostrad atau TNI AD lainnya. Mereka umumnya menggunakan pakaian seragam hitam-hitam, dengan lambang perisai. Maknanya adalah :

Bentuk dasar Perisai. Melambangkan bahwa Ton Taipur merupakan pelindung Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala bentuk ancaman baik yang datang dari Dalam maupun Luar Negeri yang dapat mengganggu stabilitas Nasional.

Warna Dasar Hijau. Mengandung arti bahwa Ton Taipur merupakan bagian dari TNI Angkatan Darat.

Bendera Merah Putih Melintang. Mengandung arti bahwa dalam dada Prajurit Taipur selalu tertanam jiwa Merah Putih dan senantiasa siap mempertahankan kedaulatan negara.

Pisau.. Melambangkan keberanian prajurit Taipur yang tidak gentar dalam menghadapi berbagai uji dan coba.

Anak Panah Melintang. Mengandung arti kecepatan dalam melaksanakan tugas yang diberikan.

Tulisan Cep,at Tepat Tuntas. Mengandung arti bahwa Ton Taipur Cepat dalam bertindak, Tepat pada sasaran dan Tuntas dalam melaksanakan berbagai tugas .

Baju Hitam Tempur. Baju hitam Taipur dikenakanpada saat even-even khusus, baik yang sifatnya protokoler ataupun penugasan yang sifatnya rahasia, pertempuran jarak dekat ataupun aksi khusus.

Lambang Merah Putih Pada Lengan Kanan Baju PDL. Mengandung arti bahwa semngat pengabdian untuk menegakkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa, siap sedia dalam mempertahankan setiapjengkal wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Begitulah Pasukan Ton Taipur. Kehadirannya sangat membanggakan, dan mampu menjadi cermin sebagai prajurit yang handal, professional, berdedikasi tinggi. Semoga dengan kehandalan yang dimilikinya ini, mereka tetap menjadi prajurit yang komit terhadap jatidirinya, sebagai prajuriot pejuang, prajurit rakyat, prajurit nasional, sekaligus prajurit professional. Bravo, Tontaipur! (Patriot),
[rixco]

Rabu, 27 Juni 2012

Pertamina Bersama TNI Gelar Pelatihan Pertahanan Udara C-12

Sebagai kesiapan menghadapi ancaman serangan udara terhadap Kilang RU II Dumai, PT Pertamina (Persero) RU II dan TNI akan mengadakan Latihan Pertahanan Udara Pasif Perkasa C-12.

Riauterkini-DUMAI- Sebagai persiapan kesiapan menghadapi ancaman serangan udara terhadap Kilang RU II Dumai sebagai objek vital nasional, PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) II dan TNI akan mengadakan Latihan Pertahanan Udara Pasif Perkasa C-12 Tahun 2012 pada Rabu (27/6/12) di Kilang RU II Dumai.

Latihan yang hanya melibatkan internal Pertamina dengan dukungan TNI tersebut berisi dengan simulasi pemadaman kebakaran, evakuasi pekerja/dokumen, dan evakuasi korban cedera. Simulasi tersebut dilakukan di Fire Ground Kilang RU II dan sekitarnya.

Pada latihan tersebut seoalah-olah ada pesawat dari negara yang tidak bersahabat melakukan pengeboman ke Kilang RU II Dumai. Pengeboman tersebut hanya dalam skenario saja dan tentu saja tidak benar-benar dilakukan pengeboman. Saat latihan, pesawat TNI akan terbang mengitari Kilang RU II Dumai.

Setelah “pengeboman”, api di Fire Ground Kilang RU II dinyalakan dan akan dilakukan pemadaman api oleh tim Health, Safety & Environment (HSE) RU II. Selain pemadaman api, juga akan dilakukan simulasi evakuasi pekerja/dokumen dan korban cedera.

Latihan tersebut dimaksudkan untuk melatih pekerja RU II ancaman serangan udara dari negara yang tidak bersahabat. Peran Pertamina dalam hal ini tentunya adalah sebatas melakukan upaya pertahanan udara pasif yang dalam hal ini hanya melakukan upaya-upaya pemadaman api dan evakuasi.

Hadir dalam acara tersebut Walikota Dumai Khairul Anwar, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Dumai, Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) beserta rombongan, dan Tim Manajemen RU II.***(rls/had)(Riauterkini)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...