Tampilkan postingan dengan label UI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2026

Inggris-Indonesia Sepakati Kerja Sama Strategis di Bidang Pertahanan Maritim hingga Pendidikan

KRI BPD 322 frigate pertama PAL, hasil kerjasama Babcock (PAL)

Perusahaan pertahanan Inggris, Babcock International Group (Babcock), bersama Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Kamar Dagang Inggris (Britcham), dan para mitra di Indonesia meluncurkan Maritime Partnership Programme (MPP).

Ini merupakan sebuah kesepakatan strategis guna memperdalam kerja sama Inggris–Indonesia di bidang pertahanan maritim, perikanan, kapabilitas industri, serta pengembangan keterampilan.

Chief Executive Babcock, David Lockwood OBE mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis utama bagi Babcock.

"Kemitraan ini akan mewujudkan komitmen tersebut, dan kami menantikan kelanjutan hubungan yang kuat dan berkelanjutan," kata David di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey CVO OBE, mengatakan bahwa Maritime Partnership Programme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat berupa lapangan kerja, peluang, dan pertumbuhan.

Program ini mencerminkan komitmen bersama Inggris dan Indonesia terhadap stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik, menjunjung tinggi kebebasan navigasi serta mendukung tatanan internasional berbasis aturan.

"Melalui program ini, kita bersama-sama memperkuat ketahanan maritim, mendukung industri, dan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi pemimpin Indonesia berikutnya. Kemitraan ini dibangun atas ambisi bersama danakan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan Inggris. Diplomasi, kolaborasi, dan prestasi!" ujarnya.

Ketua Kamar Dagang Inggris di Indonesia, Ian Betts, menyambut baik peluncuran UK–Indonesia Maritime Partnership Programme. Menurutnya program tersebut menjadi tonggak penting dalam memperdalam hubungan ekonomi dan industri antara kedua negara.

Ian menambahkan, Investasi Babcock, termasuk perannya dalam memperkuat kapabilitas fregat Indonesia melalui program Arrowhead 140, menunjukkan kuatnya keahlian maritim Inggris sekaligus komitmen jangka panjang terhadap ambisi maritim Indonesia.

Kemitraan tersebut dinilai melampaui sektor pertahanan, dengan mendorong pengembangan industri lokal, transfer keterampilan, serta pertumbuhan ekosistem maritim yang lebih luas di Indonesia. Hal ini mencerminkan visi bersama untuk infrastruktur maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan aman di kawasan Indo-Pasifik.

Peluncuran Maritime Partnership Programme turut dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Inggris untuk Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Keir Mather, Chief Executive Babcock David Lockwood OBE, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey CVO OBE, serta perwakilan sektor bisnis, pejabat pemerintah senior, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Babcock diketahui menandatangani empat Nota Kesepahaman (MoU) strategis dengan universitas-universitas terkemuka, mitra industri, dan pemangku kepentingan utama dari program MPP. MoU ini mencakup pengembangan tenaga kerja, pendidikan, beasiswa, serta kapabilitas industri guna mendukung tujuan maritim Indonesia dan implementasi MPP.

Salah satu MoU yang ditandatangani yakni terkait Beasiswa Chevening. Babcock berkomitmen mendanai total 30 beasiswa Chevening Pemerintah Inggris bagi mahasiswa Indonesia, yang akan diberikan secara bertahap selama periode tiga tahun untuk mendukung calon pemimpin masa depan di sektor maritim dan industri.

Selain itu, Babcock juga menyepakati kemitraan dengan enam universitas di Inggris dan Indonesia untuk memperkuat kapasitas pendidikan dan keterampilan maritim yang selaras dengan prioritas MPP, membuka peluang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

Konsorsium ini terdiri dari Newcastle University, University of Strathclyde, University of Edinburgh, University of Glasgow, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Selain itu Babcock dan PT Len Industri juga sepakat berkolaborasi dalam pengembangan teknologi angkatan laut dan maritim, termasuk potensi pemanfaatan fasilitas DEFEND ID.

Kemudian Babcock juga menjajaki kerja sama pembuatan kapal dengan PT Citra Shipyard, pengembangan keterampilan, transfer teknologi, dan rantai pasok.

MoU tersebut juga mencerminkan strategi yang terarah untuk berinvestasi di seluruh spektrum pembangunan maritim Indonesia, serta melanjutkan kesepakatan maritim senilai £4 miliar antara Inggris dan Indonesia yang ditandatangani pada November 2025.

Inisiatif ini juga memperkuat komitmen Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Sir Keir Starmer di London pada 20 Januari 2026.

  📝  Investor Trust  

Kamis, 23 April 2026

TNI AL Pamerkan Teknologi Hidrografi di Monaco

  Garapan UI dan ITB Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto menjelaskan produk teknologi hidrografi unggulan Indonesia kepada delegasi asing dalam pameran IHO Assembly 2026 di Monaco. (Foto: Dok. Pushidrosal))

TNI AL melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) hadir sebagai delegasi Indonesia dalam sidang 4th Session of the IHO Assembly 2026 di Monaco. Dalam forum internasional ini, Pushidrosal membawa produk teknologi hasil inovasi dalam negeri.

Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto memimpin langsung delegasi Indonesia di Auditorium Rainier III, Monaco, pada 19-23 April. Pertemuan ini merupakan forum pengambil keputusan tertinggi dalam International Hydrographic Organization (IHO) atau Organisasi Hidrografi Internasional.

 Inovasi HidroSDB35 dan Almanak Nautika

Dua produk unggulan yang menjadi fokus pameran adalah HidroSDB35 dan Almanak Nautika Indonesia. Teknologi ini merupakan hasil penelitian mandiri antara personel Pushidrosal dengan akademisi dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendukung data pemetaan laut nasional.

Budi menjelaskan, kehadiran produk tersebut membuktikan kemampuan teknologi Indonesia di bidang hidro-oseanografi atau ilmu pemetaan laut.

Produk ini mencerminkan kemandirian teknologi nasional. Hal ini menunjukkan kontribusi nyata Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dunia,” ujar Budi, dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (22/4).

Ia menambahkan, keterlibatan para pakar domestik menjadi kunci dalam inovasi ini. “Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan putra-putri terbaik bangsa untuk menghasilkan perangkat pendukung keselamatan pelayaran,” lanjutnya.

 Tentukan Kebijakan Strategis Maritim

Selain pameran teknis, delegasi Indonesia berperan aktif dalam merumuskan rencana strategis IHO periode 2027–2032. Forum ini membahas laporan kegiatan organisasi serta menetapkan anggaran tiga tahunan untuk kepentingan hidrografi global.

Partisipasi aktif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, yang menekankan pentingnya peran Indonesia dalam mendukung keselamatan pelayaran dunia serta memperkuat kedaulatan maritim.

Melalui forum ini, TNI AL memastikan pemanfaatan informasi hidrospasial atau data keruangan laut dapat terintegrasi secara modern. Langkah tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan navigasi kapal-kapal yang melintasi perairan internasional. (at)

 ⚓️ 
IDM  

Kamis, 28 Mei 2020

Kopassus dan Ahli Radiasi UI Ciptakan Box Anti Corona Belanja Online

 https://img.medicalexpo.com/images_me/photo-mg/122447-12963532.jpgIlustrasi box sterililasi [medicalexpo]

Semenjak Virus Corona atau COVID-19 menyerang Indonesia, pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan semua aktivitas di rumah saja. Dengan begitu semakin meningkat pula kebiasaan belanja secara online.

Belanja secara online ini mampu melindungi diri sendiri karena kita tidak perlu berhadapan langsung dengan orang lain. Namun bagi sebagian orang melupakan bahwa saat kita menerima paket dari luar, bisa saja paket tersebut terdapat virus corona.

Dilansir dari situs TNI AD Kamis 28 Mei 2020, Kopassus bekerjasama dengan alumni fakultas teknik Universitas Indonesia. Kerjasama ini menghasilkan sebuah box sterilisasi yang berukuran cukup besar, sehingga mampu mensterilkan sebuah paket yang dikirim dalam transaksi belanja online.

Selain itu, teknologi yang berada di box Disinfex ini juga tergolong canggih. Pasalnya box ini hanya membutuhkan waktu selama 6 detik saja dan paket sudah tersterilisasi tanpa adanya bahan kimia.

Menurut Professor David J. Brenner, seorang ahli dalam bidang radiasi dan biofisika mengungkapkan bahwa ketika DNA virus dirusak oleh energi poton sinar UVC maka virus tidak bisa bermutasi, tidak dapat berkembang, dan akhirnya mati.

Sehingga dengannya box Disinfex ini, mampu memutus mata rantai penyebaran virus ini dimulai dari lingkungan sendiri. Alat ini sendiri akan diuji coba terlebih dahulu di lingkungan tempat tinggal Kopassus yang berada di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

Box Disinfex ini juga diklaim mampu mematikan virus corona yang terdapat pada kemasan makanan dan dokumen. Sehingga setelah menerima paket tersebut, kita tidak perlu khawatir dengan ancaman virus. Karena virus tersebut sudah dimatikan dengan bantuan sinar UVC.

 ♖ VIVAnews  

Sabtu, 09 Mei 2020

PT Pindad Bisa Produksi Ventilator Murah Rp 15 Juta

Penampakan alat bantu pernafasan ventilator resusitator manual Pindad VRM buatan PT Pindad, Bandung, Kamis, 30 April 2020. Pindad VRM memiliki desain dan operasi sederhana, menggunakan komponen dan bahan baku lokal yang banyak tersedia di pasaran serta memenuhi kriteria minimum medis yang diperlukan. [TEMPO/Prima Mulia] ⚓️

PT Pindad (Persero) meyakini bahwa ventilator yang sedang mereka kembangkan tidak memiliki kendala dengan hak paten. Sebab ventilator tersebut dikembangkan dengan sumber daya manusia di badan penelitian dan pengembangan Pindad.

Wakil Sementara Sekretaris Perusahaan PT Pindad, Herryawan Roosdyanto mengatakan bahwa ventilator yang saat ini dikembangkan Pindad yakni tipe VRM, ventilator sederhana dengan harga yang sangat murah.

Pindad menjual ventilator tipe VRM dengan harga Rp 10 juta – Rp 15 juta. Lebih murah dibandingkan dengan ventilator impor yang umumnya dibanderol dengan harga Rp 700 juta.

Untuk ventilator jenis ini secara fungsi minimum medis terwakili - terwadahi – terpenuhi, memenuhi baku mutunya.

Terdapat banyak jenis Ventilatom, dua diantaranya adalah VRM dan Covent-20 yang sedang dikembangkan oleh Pindad bekerjasama dengan sejumlah pemangku kepentingan. Pindad VRM merupakan alat yang dirancang untuk membantu pasien gagal nafas dengan memberikan penambahan oksigen.

Sementara Covent-20 adalah ventilator darurat dan transportasi (portable) dengan siklus waktu dan volume konstan yang dirancang untuk digunakan dalam pengaturan pra-rumah sakit, intra-rumah sakit, antar-rumah sakit, dan transportasi.

Lebih lanjut, mengenai harga murah ventilator yang ditawarkan Pindad, kata Herryawan, disebabkan oleh komponen dan bahan baku yang digunakan berasal dari lokal dan mudah diperoleh dipasaran.

Pindad melalui Litbang Pindad mengembangkan sendiri Ventilator tipe VRM. Pengembangan tersebut melibatkan dokter-dokter di Rumah Sakit Pindad. Saat ini proses pengembangan tersebut masih dalam tahap sertifikasi kelaikan di Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan.

Adapun mengenai hak paten, menurutnya tidak terdapat permasalahan dengan ventilator yang sedang dikembangkan oleh pindad.

Untuk produksi Ventilator tipe lainnya seperti Covent-20, Heryyawan menjelaskan Pindad bekerja sama dengan Universitas Indonesia yang memiliki desain dan patennya.

PT Pindad juga membuka diri untuk bekerjasama dengan intitusi maupun univeritas lainnya dalam memproduksi ventilator yang sangat dibutuhkan oleh pasien Covid-19.

Meski Pindad mengembangkan ventilator namun core bisnisnya tetap memproduksi peralatan alutsista dan produk komersial. Untuk hak paten sepertinya tidak ada masalah,” kata Herryawan kepada Bisnis, Jumat, 8 Mei 2020.

Dia menjelaskan bahwa ventilator yang saat ini sedang dikembangkan sejalan dengan arahan Kementerian Pertahanan dan Kementerian BUMN. Kementerian Pertahanan pun mengaku tertarik memesan 1.000 unit ventilator, jika alat tersebut telah lulus uji sertifikasi di BPFK. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dikabarkan juga tertarik memesan ventilator tersebut untuk digunakan di sejumlah rumah sakit.

PT Pindad mulai mengembangkan ventilator sejak pandemic global virus Covid-19 menyebar di Indonesia. Gagasan untuk memasarkan ventilator didasari oleh sulitnya mendapatkan ventilator untuk Rumah Sakit Pindad. Pindad hanya memiliki masing-masing satu ventilator di RS Pindad Bandung dan Turen.

  ⚓️ Tempo  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...