Sabtu, 21 Februari 2015

Armoured Vehicles Asia Conference 2015

Terrex 8x8 AIFVs

Taking place in Jakarta, Indonesia in partnership with PT Pindad, the Armoured Vehicles Asia conference invites you to join regional military officials and manufacturing partners at a series of lectures, round table discussions and working groups designed to strengthen existing and to create new international partnerships for armoured vehicle stakeholders.

If you are active in the region or looking for that first project to contribute your solution to, this forum will provide you with access to the information and contacts that you need to deliver your offering.

 Why Indonesia? 

Indonesia has increased its defense budget over the past 5 years from $3.2 billion in 2007 to $8.1 billion in 2013
Indonesia is in the throes of a rapid transformation, swept along by its position at the heart of the world’s most dynamic economic region
The country has recorded one of the most consistent growth rates among global economies during the past decade with nearly 6 percent annual GDP growth (McKinsey SEA Report)

 Indonesia and Armoured Vehicles 

Indonesia plans to buy 420 Terrex 8x8 AIFVs under license from Singapore’s ST Kinetics. In November it finalised a deal to procure 102 modernised Leopard 2 MBTs, 42 upgraded Marder 1A3 IFVs and 11 armoured recovery vehicles from Rheinmetall in a €216m ($290m) deal, which includes logistical support. The deal makes Indonesia the 18th nation operating the Leopard 2. Indonesia’s locally-built armoured personnel carrier, the 6x6 Anoa, has had a number of export enquiries since it was produced in 2009 from Malaysia, Iraq, Nepal, Oman and Bangladesh

 About PT Pindad 

PT Pindad's objective is to become the leading manufacturer of defence and security equipment in Asia, by 2023 by utilising product innovation and strategic partnerships and the implementation of an integrated effort. Their primary objective is to support national development and specifically to support national defence and security.

Starting with the Nation Car project in 1993, PT. Pindad began focusing on the development of motor vehicle technology. PT. Pindad (Persero) since 1993, has been working with the various parties both within and outside the country in it’s effort to develop a special function vehicle technology, including bullet-resistance vehicles to meet market demand.

Continuous research and development is conducted to achieve future goals to increase the capacity of business and technology. The resulting product, such as : Tactical Vehicle, Panser for the TNI and Polri, special construction and automobile spare part.

 Asia Driving Global Armoured Vehicle Market Growth 

There is an arms race taking place in Asia. China’s defence budget has increased eightfold in the last 20 years and now many other countries in the region are looking to catch up. Both Vietnam and Cambodia have more than doubled their military spend over the last decade and other regional powers, including Japan, Philippines and Malaysia are following suit.

According to SIPRI data, the top five arms importers in the world are all based in Asia – India, China, Pakistan, South Korea and Singapore. India recently overtook China as the top arms importer after Beijing invested in its indigenous defence industry to lessen reliance on foreign deals. India is hoping to mirror China’s success in this area as it seeks to bolster its defence infrastructure and award contracts to Indian firms.

Some analysts predict that the global armoured vehicle and counter IED market will decline over the next decade, with traditional markets in the West taking the brunt of the collateral. However, while the global market is set to wane, demand in Asia will actually increase during the period. ICD Research forecasts that the market in Asia will be worth $5.4bn in 2021, up from $4.4bn in 2011. The vast majority of this will likely be spent on tactical trucks, main battle tanks (MBTs) and armoured personnel carriers (APCs)

Countries in the region such as Thailand, Singapore, Pakistan, India and South Korea face threats from insurgent groups, further increasing the requirement for armoured vehicles and other military equipment.

The 8th annual Armoured Vehicles Asia conference will create a high-level platform to address these challenges, including:

Armour requirements and procurement processes
Enhancing Survivability and Protection
Improving Vehicle Mobility and Firepower
Integrating C4I Networks and Systems into Armoured Vehicles
Capability development for armoured vehicles to improve overall mission effectiveness
Providing operational case studies and experiences of armoured vehicles in battlefield operations

Armoured Vehicles Asia 2015 is part of our highly successful International Armoured Vehicles Series, dedicated and specially contextualised to the region. Our event offers the perfect platform for high-level, senior key decision makers from the military to interact and meet with international counterparts and industry stakeholders.


Brasil Tolak Dubes RI

Pemerintah Indonesia Tarik Pulang Duta Besarnya di Brasil Pemerintah Indonesia protes keras atas tindakan pemerintah Brasil yang tiba-tiba menunda pemberian mandat kepada Duta Besar Indonesia untuk Brasil. Tak terima dengan tindakan pemerintah Brasil, pemerintah menarik pulang Dubes Indonesia untuk Brasil.

"Kemlu sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan Pemerintah Brasil, terkait dengan penundaan secara mendadak penyerahan credentials Duta Besar designate RI untuk Brasillia, Bapak Toto Riyanto, setelah diundang secara resmi untuk menyampaikan credentials pada upacara di Istana Presiden Brasil pada pukul 9.00 pagi (waktu Brasillia) tanggal 20 Februari 2015," kata pihak Kemenlu melalui rilis yang diterima, Sabtu (21/2/2015).

Dubes Toto Riyanto sebenarnya saat itu sudah berada di Istana Presiden Brasil untuk menerima mandat seperti undangan yang telah dilayangkan pihak pemerintah Brasil. Namun, tanpa diduga, pemerintah Brasil secara sepihak membatalkan tanpa alasan yang jelas.

"Cara penundaan penyerahan credentials yang dilakukan oleh Menlu Brasil secara tiba-tiba pada saat Dubes designate RI untuk Brasillia telah berada di Istana Presiden Brasil merupakan suatu tindakan yang tidak dapat diterima oleh Indonesia," jelas pihak Kemenlu.

Tak terima dengan sikap sepihak pemerintah Brasil, Indonesia menarik pulang Dubesnya. Selain itu, Indonesia juga mengirimkan nota protes atas tindakan pemerintah Brasil yang melanggar etika berhubungan antar pemerintahan.

"Kemlu telah memanggil Duta Besar Brasil untuk Indonesia pada 20 Februari 2015, pukul 22.00 WIB untuk menyampaikan protes keras terhadap tindakan tidak bersahabat tersebut sekaligus menyampaikan nota protes," ungkap Kemenlu.

"Pemerintah Indonesia juga telah memanggil pulang ke Jakarta Dubes RI designate untuk Brasil sampai jadwal baru penyerahan credentials dipastikan oleh Pemerintah Brasil," tegasnya.

Pemerintah menduga, tindakan sepihak pemerintah Brasil masih ada hubungannya dengan eksekusi mati seorang warga Brasil terpidana kasus Narkotika beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, saat Indonesia memutuskan untuk mengeksekusi mati warga negara Brasil terpidana kasus narkotika, Marco Archer Cardoso Moreira (53) pemerintah Brasil memprotes keras bahkan langsung memanggil pulang Dubesnya.

"Sebagai negara demokratis yang berdaulat dan memiliki sistem hukum yang mandiri serta tidak memihak, maka tidak ada negara asing atau pihak manapun dapat mencampuri penegakan hukum di Indonesia, termasuk terkait dengan penegakan hukum untuk pemberantasan peredaran narkoba," ujar pihak Kemenlu.(kha/kha)
Perlakuan Brasil Tak Terpuji, Penarikan Dubes Indonesia Dinilai Tepat Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri memutuskan untuk memanggil pulang Dubes Indonesia untuk Brasil Toto Riyanto terkait dengan sikap tak terpuji pemerintah Brasil yang tiba-tiba membatalkan proses penerimaan surat kepercayaan (credential). Menurut Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana keputusan yang diambil Kemenlu sangat tepat.

"Presiden Brasil ketika akan menerima surat kepercayaan (credential) dari sejumlah Dubes negara sahabatnya, termasuk Indonesia, tiba-tiba meminta Dubes Toto Riyanto untuk tidak turut dalam rombongan tersebut. Padahal Dubes Toto secara resmi jauh-jauh hari telah mendapat undangan dan telah berada di Istana. Pemberitahuan dari pihak Kemlu Brasil dilakukan tanpa memberi alasan," urai Hikmahanto memulai penjelasannya, Sabtu (21/2/2015).

Hikmahanto menjelaskan, tindakan pemerintah Brasil itu sangat berisiko memperburuk hubungan kedua negara yang selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. Sehingga, keputusan Menlu untuk langsung memanggil pulang Dubes dari Brasil dinilai sebagai satu keputusan yang sangat tepat.

"Atas perlakuan pemerintah Brasil terhadap Dubes Toto, Menlu telah memanggil pulang ke Indonesia untuk berkonsultasi. Pada saat yang bersamaan Kemlu telah melayangkan nota protes diplomatik. Tindakan Kemlu telah benar. Indonesia tentu tidak bisa menerima perlakuan dari pemerintah Brasil," jelasnya.

Hikmahanto menduga, alasan yang mendasari sikap tak terpuji pemerintah Brasil salah satunya adalah terkait salah satu warga negara Brasil yang telah dieksekusi mati terkait kasus narkotika di Indonesia. Brasil sejak awal memang tak terima warga negaranya yang berstatus sebagai terpidana kasus narkotika dieksekusi mati.

"Meski tidak disampaikan alasan, dugaan kuat karena protes pemerintah Brazil atas satu warganya yang telah dihukum mati dan satu lagi yang akan menjalani hukuman mati," urainya.

"Pemerintah Brasil telah memulai tindakan untuk memperburuk hubungan dengan Indonesia semata karena melakukan perlindungan yang berlebihan atas warganya yang melakukan kejahatan yang serius," imbuh Hikmahanto.

Sebenarnya, Indonesia bisa saja melakukan upaya balasan dengan tindakan persona non grata atau pengusiran terhadap satu atau beberapa diplomat Brasil yang tengah bertugas di Indonesia. Namun dalam pandangan Hikmahanto, tindakan itu belum diperlukan.

"Tentu Brasil yang harus berpikir dua kali bila hendak meneruskan protes dan kemarahannya. Mereka harus berpikir apakah sebanding 'merusak' hubungan baik kedua negara dengan melindungi warganya yang melakukan kejahatan yang sangat serius di Indonesia. Di samping, tindakan Brasil berpotensi mengintervensi kedaulatan hukum Indonesia," tuturnya.(kha/kha)
Ulah Brasil Tolak Dubes RI akan Perburuk Hubungan Diplomatik Antarnegara Sikap Kemlu yang menarik pulang Dubes Indonesia untuk Brasil diapresiasi oleh Wakil Ketua Komisi 1 Tantowi Yahya. Menurutnya, keputusan Brasil membatalkan proses penerimaan surat kepercayaan (credential) merupakan sikap emosional yang tidak strategis.

“Tindakan emosional yang diambil Pemerintah Brasil akan memperburuk hubungan bilateral kedua negara dalam berbagai bidang,” ujar Tantowi dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (21/2/2015).

Tantowi menyatakan dukungannya atas keputusan Kemlu. Menurutnya, pembatalan penyerahan kepada dubes dari Indonesia di istana kepresidenan bersama dengan dubes-dubes lain adalah pelecehan diplomatik.

“Pemberian credential adalah hak negara akreditasi,” katanya.

Tidak ada negara yang bisa mendikte hukum negara lain. Brasil sebagai negara berdaulat seharusnya memahami dan memaklumi itu.

“Komisi I DPR mendukung sikap tegas pemerintah memanggil pulang Dubes RI di Brasil dan memanggil Dubes Brasil di Jakarta ke Kemlu untuk menyampaikan protes keras,” tegasnya.(gah/mok)
DPR akan Panggil Menhan untuk Kaji Pembelian Peluncur Roket MLRS Astros TNI

Tindakan tak terpuji Pemerintah Brasil terhadap Duta Besar Indonesia untuk Brasil Toto Riyanto akan berdampak pada terganggunya hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang. Seperti di bidang pertahanan dan perdagangan.

Wakil Ketua Komisi 1 Tantowi Yahya mengatakan bahwa di bidang pertahanan, Indonesia telah memesan pesawat Super Tucano untuk mengawasi garis pantai. "Kita juga memesan Multi Launcher Rocket System (MLRS)," ujar Tantowi dalam rilisnya yang diterima detikcom, Sabtu (21/2/2015).

Menurut Tantowi, jika Brasil tidak mengubah sikapnya terhadap Indonesia, Komisi 1 akan mengevaluasi kerjasama tersebut bersama Kementerian Pertahanan. Selain itu, Tantowi mengatakan bahwa sebenarnya Brasil lebih membutuhkan Indonesia sebagai tujuan pasar ekspor dagingnya.

"Brasil saat ini sedang berusaha memasukkan dagingnya ke Indonesia. Mereka tahu besarnya kebutuhan kita akan daging. Dari dua bidang itu saja, saya menilai Brasil dalam posisi yang lebih membutuhkan kita," lanjutnya.

Tantowi juga menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia jangan gentar terhadap perilaku Brasil, karena saat ini Indonesia sedang mengalami darurat narkoba. "Pemerintah tidak boleh takut apalagi tunduk oleh tekanan-tekanan seperti yang sedang ditunjukkan oleh Brasil dan Australia saat ini," sambungnya.(gah/gah)
Tinjau Ulang Hubungan Dagang dengan Brazil Pemerintah Brazil melakukan tindakan tak terpuji terhadap Duta Besar RI untuk Brazil Toto Riyanto. Anggota Komisi I DPR Charles Honoris menyatakan Indonesia harus meninjau ulang hubungan perdagangan dengan Brazil sebagai reaksi atas tindakan negara Samba itu.

"Kami sangat menyayangkan langkah Brazil yang menunda penerimaan duta besar kita untuk Brasil. Kami juga mendukung penuh sikap tegas pemerintah dalam menarik kembali Dubes Toto Riyanto dari Brasil," kata Charles dalam pesan singkat, Sabtu (21/2/2015).

Charles menambahkan, langkah pemerintah Brazil berarti tidak menghormati kedaulatan Indonesia dan hukum yang berlaku di Nusantara. Sehingga ia menyarankan Presiden Joko Widodo mengkaji ulang perjanjian dagang dengan Brazil yang kurang menguntungkan.

"Langkah pemerintah Brazil menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati kedaulatan negara kita dan hukum yang berlaku di Indonesia. Untuk itu pemerintahan Jokowi harus meninjau ulang hubungan perdagangan kita dengan Brazil yang selama ini lebih menguntungkan untuk Brazil," ‎ujar Charles.

Selain perdagangan, Charles juga berharap pemerintah Indonesia meninjau ulang kerjasama di bidang pertahanan dengan pemerintah Brazil. Ditambah dengan impor daging yang menurut Charles harus ditutup sebagai reaksi pemerintah Indonesia terhadap tindakan kurang menghormati itu.

"Pemerintah Indonesia harus meninjau ulang kebijakan pembelian alutsista dari Brasil dan tutup keran impor daging ayam dan sapi dari Brasil," ucap Charles.

Presiden Brasil Dilma Rousseff sendiri memiliki alasan sendiri menunda penerimaan surat mandat Duta Besar Indonesia. Dilma menginginkan adanya 'evolusi' terhadap hubungan diplomatik Brasil dengan Indonesia.

Dalam pernyataan seperti dilansir Wall Street Journal dan AFP, Sabtu (21/2/2015), kantor presiden membantah hal ini merupakan balasan atas eksekusi mati terpidana narkoba asal Brasil, Marco Archer Cardoso Moreira beberapa waktu lalu.

"Kami pikir penting akan adanya sebuah evolusi dalam situasi ini, demi memperjelas hubungan Brasil dengan Indonesia," ujar Dilma.(vid/mok)


TNI AL Membutuhkan Kapal dan BBM

TNI AL siap meningkatkan pemantauan dan mengamankan wilayah perairan untuk mewujudkan visi kemaritiman Indonesia. TNI AL membutuhkan kapal patroli baru dan bahan bakar untuk mengoptimalkan operasi pengamanan laut.

Kepala Staff TNI AL Laksamana Ade supandi mengatakan hal itu seusai meresmikan rumah tahanan militer di Markas Komando Pusat Polisi Militer Angkatan Laut, Jakarta, Jumat (20/2). Ade berada di sana sehubungan dengan perayaan ke-69 Polisi Militer.

"Kami butuh pembaruan kapal berdaya jelajah tinggi, karena yang tersedia saat ini adalah kapal generasi 1980-an. Yang kami butuhkan saat ini adalah kapal patroli dan bahan bakar minyak untuk meningkatakan kualitas pemantauan di laut melalui patroli maritim, dengan menggunakan drone," kata Ade.

Ade mengungkapkan, TNI AL akan mengupayakan pengadaan alutsista dengan mengikuti program lanjutan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Menurut Ade, dalam APBN-P 2015 terdapat anggaran tambahan sedikitnya Rp.4 trilyun untuk modernisasi sistem persenjataan.

Pemerintah Jokowi-JK telah mendeklarasikan Indonesia sebagai poros maritim dunia sehingga penguatan dan modernisasi TNI AL mutlak dibutuhkan. Saat ini TNI AL memiliki 159 kapal dan membutuhkan sedikitnya 5,6 juta kiloliter BBM pertahun (Kompas 14/12/2014). Pembaharuan kapal patroli kian mendesak karena Indonesia memiliki wilayah laut seluas 3.257.483 kilometer persegi.

Kapal patroli untuk wilayah Indonesia bagian timur juga harus berkecepatan tinggi dan mampu membelah ombak yang terkadang bisa mencapai setinggi 4m hingga 5m.

TNI AL juga akan menggelar simposium maritim dan pelatihan penaggulangan bencana bersama BASARNAS pada akhir 2015 dan awal 2016. kegiatan ini diharapkan bisa mendorong terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia.


Apapun Rayuanmu, Ini Indonesia ... Mike

Hercules TNI AU [Jeff Prananda]

Hubungan pertemanan Indonesia Australia sebenarnya baik-baik aja tuh. Semua berjalan sesuai kesetaraan bertetangga yang memang sudah menjadi takdir sejarah bagi kedua negara. Tetapi ternyata penyebab panas dinginnya silaturrahim selama dua tahun terakhir ini berasal dari sebuah virus yang teridentifikasi bernama “asam amino abbott laknat”. Ya virus itulah yang menyebabkan pola hubungan bertetangga RI Australia terkontaminasi keruh.

Ketika hubungan memanas akibat skandal “kamu ketahuan menyadap” si Abbott angkuh banget dan tak merasa bersalah apalagi boro-boro minta maaf. Sampai akhirnya RI menarik Dubesnya dari Canberra dan memaksa Australia untuk mematuhi kode etik bertetangga, tak jua si Abbott berwajah teduh melainkan menampilkan gaya Cowboy. Ketika SBY mengakhiri pemerintahannya hubungan diplomatik RI Australia membaik dengan catatan si Abbott tak pernah mau meminta maaf.

Ketika skandal sadap itu menjadi demam, sesungguhnya hubungan militer kedua negara tetap akrab. Seperti kita ketahui Australia memberikan 4 Hercules dengan status hibah berbayar dan menjual 5 Hercules secondnya dengan harga diskon. Hibah berbayar itu maksudnya meski dikasih gratis tetapi perlu ongkos retrofit sebelum dikirim ke Jakarta. Dari 9 Hercules ini sudah datang sebanyak 4 unit dan nantinya akan membentuk skuadron angkut berat yang bermarkas di Makassar. Kerjasama yang lain adalah dalam bentuk pelatihan militer dan pemberian Bushmaster untuk Kopassus.

Untuk sebuah persoalan hukum yang sudah terang benderang dengan akan dieksekusinya 2 Napi narkoba kelas berat “Bali Nine”, gaya penyampaian Abbott sangat tidak elok didengar ketika berupaya mendikte, mengungkit lalu mengancam dengan bahasa vulgar. Sekali lagi bahasa vulgar bukan bahasa diplomatik apalagi bahasa rayuan untuk menyelamatkan 2 warga negaranya di depan regu tembak Nusakambangan. Yang paling menyesakkan adalah ketika dia merasa menjadi pahlawan atas musibah akbar Tsunami Aceh tahun 2004. Menjadi sangat tidak pantas bantuan yang sudah menjadi segudang pahala besar bagi Australia lalu diminta untuk “dibayar” dengan transaksi 2 Bali Nine.

Menggambarkan Abbott seperti menggambarkan sosok yang tak memahami pola bertetangga yang elegan. Dia lebih banyak mengedepankan emosi jiwa, karakter superior daripada santun berbahasa. Sebenarnya saat ini posisi jabatan PMnya berada diujung tanduk, mengalami titik terendah selama dia menjabat dan terancam diberhentikan. Boleh jadi kasus Bali Nine itu dijadikan komoditi politik domestik untuk menaikkan pencitraannya. Tetapi karena kebanyakan cangkem malah dia dikritik habis di dalam negerinya sendiri.

Sekedar mengingatkan hubungan Indonesia dan Australia atau dengan negara manapun dibangun dan dikembangkan dengan prinsip kesetaraan. Maknanya adalah jangan coba-coba mencampuri urusan dalam negeri dan rumah tangga RI. Ekseskusi mati 2 Bali Nine itu sudah melalui tahapan yang jelas dan terang benderang sampai Presiden Joko Widodo menolak memberikan grasi. Lha kok ente merasa keberatan dan main ancam untuk boikot dan ungkit tsunami. Benar-benar sampeyan itu tak memahami tata krama bertetangga.

Indonesia akan berjalan terus menapaki jalan cita-cita dan harapannya menuju negara kesejahteraan yang bermartabat. Pembangunan ekonomi diiringi dengan pembangunan kekuatan militer sedang giat dilaksanakan. Kedua hal ini diyakini sebagai kekuatan seiring sejalan, seia sekata yang mampu membawa nilai-nilai kebanggaan sebagai bangsa besar yang berbudaya. Ya kita membangun bangsa yang berkebudayaan yang mampu menjaga hubungan pertemanan dengan negara lain, saling menghormati, tidak suka mendikte. Itulah salah satu ciri budaya timur. Beda dengan si Abbott yang merasa barat tapi lahir dan tinggal di lingkungan timur yang memiliki sopan santun. Jadilah dia seperti Tarzan.

Rakyat Australia sepanjang yang kita ketahui sesungguhnya memahami dan mengagumi kultur Indonesia. Mereka bahkan bisa menyesuaikan dalam kondisi tertentu untuk menjalani pola hidup negeri nusantara ini sebagaimana sering kita lihat di berbagai kota di Indonesia. Rakyat Australia memahami bahwa kultur barat yang menjadi darah dagingnya tidak untuk dibenturkan melainkan disinergikan dengan kultur timur yang dimanifestasikan dengan Indonesia.

Maka ketika gaya angkuh pemerintahan si Abbott mengeluarkan statemen obral dan merasa sebagai pemimpin superior agar Indonesia tidak jadi mengeksekusi 2 warganya yang terkena kasus narkoba, kemudian mengancam untuk boikot Bali, ungkit tsunami Aceh, akhirnya kita merasa jijik dan mau muntah. Kita merasa heran kok ya bisa orang nomor satu di negeri Kanguru itu tidak menampilkan kualitas persepsi dan perspektif intelektual. Maka pantas juga omongannya di respons dengan gaya omongan di Lapo Tuak : macam mananya kau, pake-pake maen ancam, emang siapa kau. Kalau aku mau tembak warga kau, suka-suka akulah.

Bandingkan dengan gaya anggun Menteri Retno yang mungil itu, gaya penyampaian bahasanya yang tegas, sistematis, berwibawa, tidak emosi dan berkelas ketika merespons statemen si Abbott. Demikian juga gaya lugas Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang langsung menyiapkan sejumlah alat tempur berupa pasukan khusus dan sejumlah KRI di Nusakambangan. Perkataan dan gaya kedua pejabat kebanggaan RI itu jika disatukan maknanya adalah: anda jual kami beli, kalau mau tetap bersahabat, pelihara cangkemmu Abbott.
Jagarin Pane / 21 Feb 2015


LAPAN rancang pesawat sesuai kondisi geografis Indonesia

Program LAPAN

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir mengatakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang merancang pesawat komersial dengan jarak tempuh pendek sesuai kondisi geografis Indonesia.

"Riset pesawat sudah hampir selesai, prototipenya jarak pendek sesuai kondisi geografis Indonesia," kata dia usai ramah tamah dan dialog dengan civitas akademika Universitas Mataram di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat.

Ia mengatakan riset pesawat komersial sesuai kondisi geografis Indonesia itu dilakukan karena potensi pasarnya di Indonesia pun ada.

"Market share pesawat di Indonesia, dalam kurun waktu lima tahun mencapai 200 unit, sedangkan PT Dirgantara Indonesia hanya mampu memproduksi 24 unit pesawat per tahun.

Artinya, kata Nasir, dari potensi pasar pesawat di Indonesia, yang mampu dipenuhi PT DI hanya 120 unit selama lima tahun.

"Makanya, hasil riset LAPAN terkait pesawat komersial dengan jarak tempuh pendek itu nanti juga akan digunakan oleh PT DI," ujar dia.

Nasir terus mendorong para peneliti baik yang ada di lembaga penelitian maupun di perguruan tinggi negeri untuk terus berinovasi melakukan riset ilmiah.

Kemenristek Dikti sudah menyediakan alokasi anggaran 30 persen dari total biaya operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN) untuk riset yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.


Lebih Dekat Dengan India EMB-145i AEW&C

Apakah Indonesia akan Akuisisi Pesawat ini ... EMB-145i AEW&C India [livefistdefence]

"Kami ingin user untuk mendapatkan yang terbaik. Kita harus berorientasi dengan keinginan user," kata Dr K. Rajalakshmi, direktur proyek AEW&C & DRDO itu, Dilaporkan Livefist pekan lalu.

Sebagai proyek yang sensitif, Mengingat sifat rahasia dari sensor, elektronik dan sistem di kapal, Livefist mendapat akses untuk dapat melihat lebih dekat dalam ujicoba EMB-145i setelah terbang sortie di Aero India, dan kesempatan untuk mewawancarai Tim proyek.

Banyak kabar baik dalam kesempatan itu. Setelah tur resmi pesawat, tim bertemu dengan Delegasi militer dari Indonesia yang sangat berminat dalam memperoleh platform pesawat Indo-Brasil dengan biaya yang hemat. Israel dan Brasil pun terlihat tertarik dengan proyek ini.

Untuk pasar secara keseluruhan, DRDO dan MoD menawarkan EMB-145i dalam tiga kategori yang memungkinkan:

(a) Solusi lengkap, tersedia seperti (dengan sistem taktis dimodifikasi ala kebutuhan user).
(b) Paket sensor dapat disesuaikan user.
(c) Versi modifikasi dari EMB-145i itu melibatkan kerjasama pembuatan komponen.

"Pemerintah sangat tertarik untuk melihat platform ini untuk diekspor. Mereka telah meyakinkan kami mendukung penuh untuk mendapatkan pelanggan," kata Dr Rajalakshmi.

Angkatan Udara India (IAF) akan mengambil dua jet EMB-145i tahun ini. Badan pesawat Embraer ketiga, diperkirakan akan tiba dari Brazil tahun ini, akan ditahan oleh Centre for Airborne Systems (CABS) untuk penelitian tentang upgrade dan sebagai unit pertama untuk ekspor. Indikasinya adalah untuk Indonesia, yang bisa menjadi pelanggan pertama dalam antrean untuk jet.

"Keuntungan utama adalah efektivitas biaya," kata Dr Rajalakshmi. "Tidak ada sistem yang sebanding dengan semua fitur yang dimiliki EMB-145i, dan merupakan satu-satunya pesawat di kelasnya dengan kemampuan pengisian bahan bakar dalam penerbangan."

Direktur Suma Varghese, mengatakan keterlibatan IAF dalam program dari awal memungkinkan tim untuk kursus yang benar secara real time, dan menjadi dapat diandalkan untuk memberikan platform sehingga IAF sepenuhnya puas dan nyaman. Kepuasan itu, untuk saat ini diukur oleh tim yang beriisi delapan orang dan dipimpin oleh Komodor Udara PL Vithalkar, yang akan menguji pesawat tersebut.

"Sensor dan sistem sepenuhnya dari India, dan merupakan keuntungan besar bagi user. Kami ingin IAF untuk mendapatkan yang terbaik," kata Dr M. Easwaran, manajer proyek yang ditunjuk pada program AWACS.[Livefistdefence]

  Garuda Militer  

[World] Jet Tempur F-16 Thailand Jatuh

1 Perwira Militer Tewas Puing F-16 Thailand yang jatuh di distrik Khok Samrong (bangkokpost)

Sebuah jet tempur F-16 milik Thailand jatuh saat melakukan latihan hari ini. Seorang perwira militer Thai tewas dalam insiden itu.

Jet tempur itu jatuh di distrik Khok Samrong, provinsi Lopburi, Thailand tengah pada sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

"Pilot tak bisa meloncat keluar dari pesawatnya tepat waktu," tutur Gubernur Lopburi, Thanakom Chongchira seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (20/2/2015).

Belum diketahui penyebab jatuhnya pesawat militer Thai tersebut. Insiden yang terjadi dekat pusat pelatihan Angkatan Udara Thailand ini tengah diselidiki.

Pada November 2014 lalu, helikopter militer jatuh di Thailand utara dan menewaskan sembilan tentara. Sebelumnya pada Juli 2011, terjadi rentetan kecelakaan helikopter dalam rentang waktu satu pekan, yang menewaskan total 17 orang. Hal ini memaksa pihak militer Thai mengkandangkan sebagian besar helikopternya.(ita/ita)

  ★ detik  

[World] 7 Kapal Perang India Senilai 102 Triliun

⚓️ Mengembangkan kemampuan industri lokal Kapal Induk India, INS Vikrant, yang merupakan rancangan dan produksi sendiri bangsa India

Pemerintah India menganggarkan 8 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 102 triliun untuk membangun tujuh kapal perang demi mendorong produk lokal sekaligus menyaingi militer China yang terus berkembang.

Langkah ini dilihat sebagai cara untuk mempersempit celah besar antara angkatan laut China yang sudah sangat maju sekaligus mengembangkan kemampuan industri lokal untuk mengembangkan teknologi pertahanan.

India, yang dikelilingi negara-negara "musuh" yaitu Pakistan dan China, kini tengah meremajakan peralatan militernya yang sudah tua. Bahkan, baru-baru ini India mencabut larangan investasi asing di bidang pertahanan.

"Komite keamanan di kabinet telah menyetujui usulan membangun tujuh fregat siluman di galangan-galangan domestik," ujar seorang sumber di Kementerian Pertahanan India.

Empat kapal perang akan dibangun di galangan Mazagon, Mumbai dan tiga lainnya dibangun oleh Garden Reach Shuolbuilders and Engineers di Kalkuta.

Ketujuh kapal fregat itu akan dilengkapi dengan teknologi siluman sehingga radar atau alat pencari lokasi lainya milik musuh akan kesulitan menangkap pergerakan kapal-kapal ini.

Sementara itu, harian The Times of India mengabarkan, komite kabinet telah menyetujui pembangunan enam kapal selam nuklir untuk proyek lainya yang bernilai 18 juta dolar. Sejak memenangkan pemilu pada Mei lalu, pemerintahan berhaluan kanan perdana menteri Narendra Modi telah menyetujui tujuh usulan untuk memperbarui militer negera itu yang sebagian besar adalah buatan Uni Soviet dan telah berusia tua.

  ⚓️ Kompas  

Mengintip latihan komando Kopassus & kamp tawanan seperti 'neraka'


Komando Pasukan Khusus TNI AD atau Kopassus dikenal sebagai salah satu pasukan khusus terbaik di dunia. Tidak bisa sembarangan untuk mendapatkan baret merah dan brevet komando kebanggaan korps tersebut. Para prajurit harus melewati pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia.

Tahapan pertama yang harus dilalui adalah Tahap Basis, yaitu pemusatan pelatihan di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Di sini para calon prajurit komando dilatih keterampilan dasar seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, navigasi darat dan berbagai keterampilan lain.

Selesai latihan basis, dilanjutkan dengan Tahap Hutan Gunung yang diadakan di Citatah, Bandung. Di sini para calon prajurit komando berlatih untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, survival di tengah hutan.

Dalam Pelatihan Survival para calon Prajurit komando harus bisa hidup di hutan dengan makanan alami yang tersedia di hutan. Dengan latihan ini Para Prajurit Komando harus bisa membedakan tumbuhan yang beracun dan dapat dimakan, dan juga mampu berburu binatang liar untuk mempertahankan hidup.

Tahap latihan hutan gunung diakhiri dengan long march dari Situ lembang ke Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, senjata dan perlengkapan perorangan.

Mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo membeberkan pengalamannya saat mengikuti latihan Komando Kopassus. Pramono menuliskannya dalam buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan yang diterbitkan QailQita Publishing tahun 2014.
Mengintip Neraka di Cilacap Kopassus

Latihan terberat sudah menanti saat sampai di Cilacap. ini adalah latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut.

Di sini materi Latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet. Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

"Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan 'pelolosan' dan 'kamp tawanan'," kata Pramono.

Dalam latihan itu para calon prajurit komando dilepas pagi hari tanpa bekal, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu. selama "pelolosan" si calon harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.

Dalam pelolosan itu, kalau siswa sampai tertangkap maka itu berarti neraka baginya karena dia akan diinterogasi layaknya dalam perang. Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi.

Dalam kondisi seperti itu, si prajurit harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya. Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka. Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

Selama tiga hari siswa menjalani latihan di kamp tawanan. dalam kamp tawanan ini semua siswa akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia.

"Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya," tulis Pramono Edhie.

Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan. nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70. Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter.

"Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa," tutup mantan Danjen Kopassus ini.

  ⚓️ Merdeka  

[World] Turki Tertarik Dengan Sistem Rudal China China

Turki tampaknya siap membeli sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh Cina meskipun memiliki ketidakcocokan dengan peralatan NATO.

Turki merupakan salah satu anggota kunci dari NATO, sehingga perusahaan-perusahaan senjata AS dan Perancis sempat bersaing sengit dengan CPMIEC China.

Sistem rudal anti udara China senilai $ 3.4 miliar (£ 2.2 miliar) akan digunakan “tanpa mengintegrasikan dengan sistem NATO”, kata Menteri Pertahanan Turki Ismet Yilmaz.

Laporan mengatakan, NATO dan AS telah mendesak Turki untuk tidak menerima tawaran China.

Menurut seorang pejabat industri pertahanan Turki, Ankara belum mengambil keputusan akhir tentang pembelian sistem pertahanan rudal jarak jauh dan kontrak pembicaraan dengan China masih terus dilakukan, ujar laporan kantor berita Reuters.

Pembicaraan ini muncul setelah Menteri Pertahanan Yilmaz menanggapi pertanyaan anggota parlemen tentang proyek pertahanan rudal Turki. Yilmaz mengatakan Turki telah menyelesaikan proses evaluasi untuk proyek tersebut.

Situs berita Rusia melaporkan, Turki berencana membeli setidaknya 12 baterai rudal HQ-9 China. Sistem China ini lebih murah dibandingkan dengan sistem saingannya, ujar laporan itu.

Para pesaing lainnya untuk kontrak sistem pertahanan udara Turki, adalah: Patriot buatan Raytheon dan Lockheed Martin, AS. SAMP / T yang dibuat oleh Perancis-Italia lewat konsorsium Eurosam, dan Antey-2500 buatan Rosoboronexport, Rusia.(BBC)

  ♙ JKGR  

Jumat, 20 Februari 2015

[World] Vietnam akan Menerima Dua Kapal Rudal "Moniya" dan Sepuluh Su-30MK2 Su-30MK2 VPAF (PhunuToday)

Tentara Rakyat Vietnam (VPA) tahun ini akan menerima dua kapal rudal "Molniya" dan sepuluh Su-30MK2 dari Rusia. Ini diumumkan oleh portal informasi pemerintah Vietnam.

Di bawah kontrak dengan Vietnam, Rusia akan mengirimkan seluruh pesanan Su-30MK2 kepada Vietnam pada tahun 2015. Jumlah pesawat Su-30MK2 Vietnam akan bertambah menjadi 36 unit. Pesawat tempur ini merupakan tercanggih yang digunakan Angkatan Udara Vietnam.

Angkatan Laut Vietnam, menurut portal pemerintah, tahun ini akan menerima dua kapal rudal "Molniya", dibangun di bawah lisensi dari Rusia pada galangan kapal lokal "Bashon" dan sekarang sedang menjalani ujicoba. Sesuai dengan kontrak yang ditandatangani pada tahun 2003, Rusia dan Vietnam sepakat membangun dua unit kapal "Molniya", Proyek ini dikembangkan oleh Central Marine Design Bureau "Almaz" (St. Petersburg), yang akan dibangun di Rusia dan sisanya mencapai sepuluh kapal akan dibangun di Vietnam berdasarkan lisensi dari Rusia. Kontrak lisensi dimulai pada tahun 2010 hingga 2016. Rudal Molniya (Militaryphotos)

Rusia merupakan mitra Vietnam dalam kerjasama di bidang militer. Dalam beberapa tahun terakhir, telah menandatangani kontrak senilai lebih dari US$ 4.5 miliar untuk pengiriman senjata terbaru Rusia ke Vietnam. Yang paling signifikan adalah kontrak untuk pembelian pesawat multifungsi Su-30MK2, dengan nilai satu miliar dolar dan kesepakatan pengadaan enam kapal selam proyek 636,1 "Varshavyanka" senilai US$ 2 miliar.

Bulan lalu, tiga kapal selam "Varshavyanka" untuk Vietnam telah dikirimkan ke pangkalan angkatan laut di Teluk Cam Ranh. Pengiriman seluruh kapal selam direncanakan akan selesai pada tahun 2016.

Menurut pemerintah Vietnam, biaya tahunan pertahanan Vietnam adalah sekitar $ 1,5 miliar atau setara dengan 1,8 % dari PDB nasional.[TASS]

  Garuda Militer  

Prajurit Yontaifib-1 MAR Taklukkan Selat Madura rangka uji standart kemampuan perorangan dasar dan profesionalisme prajurit, Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir (Yontaifib-1 Mar) melaksanakan latihan renang Selat Madura pulang pergi (PP) di Dermaga Ujung Koarmatim, Surabaya, Rabu (18/02/2015).

Latihan ini diikuti sebanyak 68 personel, merupakan uji nilai renang pada rangkaian latihan SKPD TA. 2015 serta untuk mengasah kemampuan fisik dan mental perorangan prajurit, sekaligus sebagai materi lomba “KOMPI TRENGGINAS” dalam rangka memperingati HUT Taifib ke 54.

Adapun lomba antar kompi yang dilaksanakan meliputi Tri Media lomba yaitu media darat, laut dan udara. Dimana pada media laut yang diperlombakan yaitu renang Selat Madura dengan jarak tempuh yang dicapai ± 7 KM dengan titik start Monumen Jalesveva Jayamahe Dermaga Batu Poron Madura dan finish di Monumen Jalesveva Jayamahe.

Dari sorot mata dan kesiapan setiap prajurit sebelum melaksanakan renang terlihat sangat antusias, penuh semangat serta gembira, karena mereka yakin akan kemampuan yang dimiliki dengan adanya latihan yang dipersiapkan sebelumnya. Perenang pertama yang berhasil masuk garis finish atas nama Kopda Mar/Iam Kismanto.

Setelah seluruh prajurit yang melaksanakan renang mencapai garis finish Komandan Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir, Mayor Marinir Freddy Ardianzah menyampaikan ucapan terima kasih kepada penyelenggara latihan dan para perenang telah melaksanakan kegiatan ini dengan baik, sesuai prosedur dan rencana latihan yang telah dibuat.


Panglima TNI Jamin Peringatan 60 Tahun KAA Kondusif TNI Jendral Moeldoko mengatakan kondisi keamanan menjelang peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) dan 10 tahun New Asia-Africa Strategic kondusif.

"Kita sudah cukup pengalaman dan situasi keamanan sudah cukup baik," kata Moeldoko di Kantor Setneg, Jakarta, Selasa (17/2/2015).

Peringatan KAA akan berlangsung di Jakarta dua tempat yakni Jakarta dan Bandung, TNI sudah menyiapkan 12.000 prajurit untuk mengamankan acara yang akan dihadiri oleh banyak kepala negara di dunia itu.

"Pada saat APEC (di Bali), pengamanan kita sangat diapresiasi dari benagai kepala negara dan jadi contoh pada saat APEC di China karena angkatan bersenjatanya belajar ke kita untuk melihat pengalamamn kita di Bali," tutur Moeldoko.

Peringatan 60 tahun KAA akan digelar di dua kota yakni di Jakarta pada tanggal 19 -23 April 2015. Kemudian dilanjutkan di Bandung pada 24 April 2015 Malam ini sejumlah menteri melakukan rapat di Kantor Sekretariat Negara.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...