Tampilkan postingan dengan label LAPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAPAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Agustus 2025

Drone Elang Hitam Sukses Terbang 24 Jam di 20 Ribu Kaki

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan teknologi pertahanan. Pesawat tanpa awak Elang Hitam (Black Eagle) buatan anak bangsa sukses menjalani uji terbang di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, pada Senin (28/7/2025).

Elang Hitam merupakan drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dirancang oleh konsorsium nasional, dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai integrator utama. Dalam uji terbang tersebut, drone berhasil mengudara selama 24 jam nonstop dan mampu terbang di ketinggian maksimal 20 ribu kaki, menunjukkan performa yang sesuai dengan standar internasional.

"Uji terbang ini adalah bukti bahwa Indonesia menguasai teknologi kunci dalam pengembangan drone MALE. Termasuk dalam hal desain sistem, kendali terbang otomatis, hingga komunikasi jarak jauh," ujar Mohammad Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi, dan Pengembangan PTDI, dikutip dari detikJabar.

 Spesifikasi Elang Hitam 
Dilansir dari berbagai sumber, drone Elang Hitam memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni untuk mendukung misi pengawasan dan pertahanan. Drone jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance) ini memiliki dimensi panjang 8,3 meter, tinggi 1,02 meter, dan bentang sayap 16 meter.

Berat kosongnya mencapai 575 kg, dengan kapasitas muatan hingga 300 kg, berat bahan bakar 420 kg, dan berat maksimum saat lepas landas 1.115 kg. Ditenagai mesin Rotax 915 iS berkekuatan 110-150 horsepower dengan konfigurasi empat silinder, turbocharged, dan baling-baling tipe pusher, Elang Hitam mampu mencapai ketinggian jelajah 3.000-5.000 meter (maksimum 7.200 meter), kecepatan maksimum 235 km/jam, dan kecepatan jelajah sekitar 225 km/jam.

Drone ini memiliki daya tahan terbang hingga 24-30 jam nonstop dengan radius operasi 250 km, membutuhkan landasan pacu 700 meter untuk lepas landas dan 500 meter untuk mendarat. Dilengkapi sistem kendali terbang otomatis, ground control station (GCS), dan teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) berbasis satelit, Elang Hitam juga mendukung arsitektur modular dengan muatan seperti kamera, radar, dan potensi misil udara-ke-permukaan untuk misi militer.

 Siap Jalankan Misi Militer dan Kemanusiaan 
Elang Hitam dikembangkan guna mendukung berbagai misi strategis, mulai dari pengawasan wilayah perbatasan hingga pengintaian medan musuh. Selain fungsi militer, drone ini juga dirancang untuk misi kemanusiaan seperti pemantauan bencana alam dan pencarian korban di area sulit dijangkau.

Dalam sesi uji coba, Elang Hitam didampingi oleh pesawat Kodiak milik PTDI untuk mengevaluasi daya jelajah dan stabilitas kendali otomatis yang dimilikinya. Uji coba ini dinilai berhasil dan membuka jalan bagi produksi massal serta operasional penuh dalam waktu dekat.

 Dari Gagal Terbang ke Sukses Mengudara 
Proyek pengembangan Elang Hitam telah dimulai sejak 2015. Drone ini dikembangkan melalui kerja sama konsorsium yang mencakup berbagai institusi strategis, antara lain; PTDI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini tergabung dalam BRIN, Kementerian Pertahanan RI, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), PT Len Industri (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, proyek ini sempat menghadapi tantangan serius. Pada 2021, uji terbang Elang Hitam mengalami kegagalan. Imbasnya, pada 2020–2023 fokus pengembangan sempat dialihkan oleh BRIN dari sektor militer ke sipil karena kendala teknis dan prioritas anggaran.

Kebangkitan proyek ini dimulai lagi pasca Rapat Pleno KKIP pada Oktober 2024, yang memutuskan kelanjutan pengembangan drone untuk kebutuhan militer, dengan PTDI mengambil peran sentral sebagai pemimpin integrasi.

 Indonesia Makin Mandiri dalam Teknologi Pertahanan 
Keberhasilan Elang Hitam menandai kemajuan signifikan Indonesia dalam industri pertahanan nasional. Drone ini memperkuat posisi Indonesia di jajaran negara yang mampu mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak secara mandiri.

"Ke depan, kami berharap Elang Hitam bisa memenuhi kebutuhan pengintaian dan intelijen TNI, sekaligus menjadi produk ekspor unggulan Indonesia," tutup Arif.

Dengan suksesnya uji terbang ini, Elang Hitam membuka babak baru dalam sejarah kemandirian pertahanan Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan anak bangsa tak kalah dari negara maju lainnya. (afr/afr)

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩
detik  

Selasa, 29 Juli 2025

Elang Hitam Terbang Perdana

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Sebuah drone tempur buatan dalam negeri akhirnya mengudara.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi melaksanakan uji terbang pesawat tanpa awak jenis Medium Altitude Long Endurance (PTTA MALE) bernama Elang Hitam di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Senin, 28 Juli 2025.

Uji coba ini bukan sekadar manuver teknis, melainkan penanda ambisi Indonesia untuk mandiri dalam teknologi strategis pertahanan udara.

Uji terbang dilakukan dengan pengawalan pesawat Kodiak milik PTDI yang bertindak sebagai chaser aircraft, guna memantau kinerja dan menjamin aspek keselamatan. Bagi PTDI, ini adalah fase penting dari proses panjang menuju sertifikasi resmi dan pengakuan sistem udara nirawak nasional.

Proyek Elang Hitam bukan kerja satu badan. Ia dibangun lewat skema konsorsium nasional yang melibatkan sejumlah institusi strategis seperti Kementerian Pertahanan RI, TNI AU, PT Len Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta BRIN yang membawahi eks-BPPT dan LAPAN.

PTDI sendiri bertindak sebagai lead integrator—pengendali utama yang memimpin seluruh tahapan mulai dari desain konseptual, prototyping, hingga pengujian.

Ini bukan sekadar uji terbang, tapi pembuktian penguasaan teknologi kunci, termasuk sistem kendali otomatis dan komunikasi jarak jauh yang jadi syarat utama PTTA kelas MALE,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI di kutip Selasa (29/7/2025).

Konsep ini akan menjadi fondasi pengembangan drone strategis ke depan.” imbuhnya.

Sebagai drone MALE pertama buatan Indonesia dengan bobot lebih dari satu ton, Elang Hitam dirancang mampu mengudara selama 24 jam pada ketinggian 20.000 kaki.

Arsitektur sistemnya modular dan terbuka, memungkinkan adaptasi misi, baik militer seperti pengintaian dan pengawasan perbatasan, maupun sipil seperti mitigasi bencana dan patroli maritim.

Dengan teknologi yang dikembangkan secara independen, Elang Hitam tak sekadar menjadi produk, tetapi simbol transisi Indonesia dari pengguna teknologi ke negara perancang. Dalam kancah global, hanya segelintir negara—seperti Amerika Serikat, Turki, dan India—yang mampu merancang dan memproduksi drone MALE sendiri.

Langkah ini juga menindaklanjuti arahan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang menekankan pentingnya membangun ekosistem pertahanan nasional berbasis kolaborasi antarlembaga.

Elang Hitam, dengan segala kerumitannya, menjadi cerminan potensi ekosistem tersebut jika dikelola secara berkelanjutan.

Pesawat ini bukan akhir, tapi awal dari lompatan teknologi kita. Elang Hitam adalah fondasi industri drone strategis Indonesia,” tegas Arif Faisal.

Jika sukses melewati semua tahapan sertifikasi, Indonesia akan resmi bergabung ke dalam barisan elite negara produsen drone MALE.

Tantangannya kini bukan lagi membangun, melainkan memastikan keberlanjutan: dari lini produksi, pembiayaan, hingga keberpihakan kebijakan negara.***

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩 Bandung Oke  

Minggu, 10 November 2024

PT DI Target Kuasai Sejumlah Teknologi Kunci untuk PTTA MALE

Protottipe Drone MALE Elang Hitam  (Bambang H)
Perseroan Terbatas Dirgantara Indonesia (PT DI) menargetkan menguasai sejumlah teknologi kunci dalam pengembangan pesawat terbang tanpa awak (PTTA) berkemampuan terbang menengah dengan waktu yang lama (MALE) buatan dalam negeri.

Direktur Utama PT DI Gita Amperiawan saat dihubungi di Jakarta, Jumat, menjelaskan bahwa teknologi-teknologi kunci yang dibidik oleh PT DI krusial karena menentukan keberhasilan pengembangan PTTA buatan dalam negeri itu.

"Teknologi kunci tersebut, di antaranya teknologi material komposit, teknologi flight control, teknologi telemetri datalink, teknologi weapon integration system, dan teknologi integrasi propulsi, termasuk software-nya," kata Gita menjawab pertanyaan ANTARA.

PTTA MALE buatan dalam negeri merupakan satu dari 10 program prioritas industri pertahanan nasional yang dirintis sejak pemerintahan presiden ke-7 RI Joko Widodo dan berlanjut pada masa pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto.

Dalam rapat koordinasi tindak lanjut program PTTA MALE yang digelar oleh Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di Jakarta, akhir bulan lalu (31/10), PT DI ditetapkan sebagai koordinator (lead integrator) untuk program pengembangan PTTA MALE (medium altitude long endurance).

Ketua Tim Pelaksana (Katimlak) KKIP Letjen TNI Purn. Yoedhi Swastanto saat memimpin rapat koordinasi itu, sebagaimana disiarkan laman resmi KKIP, memandang perlu ada konsorsium baru dan pemetaan industri dalam negeri apa saja yang bakal dilibatkan dalam pengembangan PTTA berkemampuan MALE untuk kebutuhan tempur/kombatan.

Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi anggaran dan penguasaan teknologi kunci PTTA MALE.

Dalam rapat koordinasi KKIP pada tanggal 31 Oktober 2024, PT DI yang diwakili Direktur Utama Gita Amperiawan, mengatakan bahwa PTTA MALE Elang Hitam (EH-1B) bakal menjadi dasar pengembangan PTTA MALE kombatan buatan dalam negeri.

"Apabila telah siap, baik dari aspek teknis, anggaran, maupun pendukung lainnya, akan dilaksanakan uji terbang PTTA MALE EH-1B di Pangkalan TNI AU Iswahjudi Madiun," demikian siaran resmi KKIP.

Pengembangan PTTA MALE buatan dalam negeri Elang Hitam dirintis sejak 2015 dan konsorsium untuk itu dibentuk pada tahun 2017 yang terdiri atas Kementerian Pertahanan RI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI Angkatan Udara, Institut Teknologi Bandung, PT Dirgantara Indonesia dan PT Len Industri, kemudian pada tahun 2019 bertambah satu anggota, yaitu Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

PT DI beserta BPPT, sekarang melebur menjadi bagian dari BRIN, pada tahun 2019 berhasil membuat rangka (airframe) PTTA MALE Elang Hitam dan meluncurkan itu ke hadapan publik di hanggar PT DI, Bandung, Jawa Barat.

Namun, pada tahun 2020, BRIN mengumumkan program pengembangan Elang Hitam dialihkan dari versi militer menjadi versi sipil. Kepala BRIN saat itu, Laksana Tri Handoko, menjelaskan bahwa pengalihan terjadi karena kendala penguasaan teknologi kunci. Keputusan itu juga diambil setelah gagalnya uji terbang pada tahun 2021.

Berlanjut ke hasil Rapat Pleno KKIP pada bulan Oktober 2024, pengembangan PTTA MALE untuk kebutuhan militer kembali berlanjut, dan dipimpin oleh PT DI sebagai lead integrator-nya.

  antara  

Jumat, 24 November 2023

Indonesia Hampir Membuat Rudal Balistik

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_ucoZ9SeEAphs6D7NNKW_2m8993feLbi0wAZ6bsElTnMv43KUOwazDiOzc90Fb4qQwaMneJRn1kOlpYmbuz5YfcMF63vMlRG82VfADQrvTJxZ9qda4GapaBA50x8DTd1_BMKqEran6zcBShibDyYcyAwD1B97ITFfN10HTvY5SnUzBAbbMzywxnhtFoZP/s976/indonesian-r-han-450-test-pt-dahana.jpgRhan 450 (PT Dahana)] 🚀

P
ada tahun 2010-an, dua perusahaan milik negara, produsen bahan kimia PT Dahana dan badan antariksa LAPAN, mengembangkan roket berbahan bakar padat yang dapat mengirimkan muatan kecil dalam jarak pendek.

Sejak tahun 2016 hingga 2018 RX 450 yang berganti nama menjadi R-HAN 450 menjadi roket taktis dengan jangkauan efektif maksimum 100 kilometer. Namun pabrikannya, PT Dahana, belum terlalu agresif dalam meningkatkan sistem senjata terbesarnya – tidak ada keraguan mengenai perannya karena namanya R-HAN melengkapi roket R-HAN 122mm “Grad” yang lebih kecil. Ini mungkin akan segera berubah tetapi tidak ada yang tahu kapan. Meskipun pembuatan roket kaliber besar bukanlah hal yang kontroversial, penerapan proses manufaktur yang sama dapat menghasilkan apa yang disebut sebagai senjata strategis.

Setidaknya empat negara Asia menggunakan produksi roket kecil yang tidak terarah untuk membangun program rudal permukaan-ke-permukaan dalam negeri. Dalam beberapa kasus, lembaga-lembaga ini mempunyai potensi peran yang berkemampuan nuklir; rudal dapat dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir jika tersedia. Negara-negara tersebut adalah Iran, Pakistan, Korea Utara, dan Türkiye. Tidak ada bukti bahwa Indonesia dan angkatan bersenjatanya ingin mengikuti jalur yang sama, namun tren ini hampir tidak bisa dihindari.

Pada variannya yang sekarang, R-HAN 450 merupakan roket terarah kaliber besar dengan dimensi 460mm x 7200mm. Penampilannya sesuai dengan roket taktis dasar dengan kuartet sirip di sekitar boosternya dan badan pesawat yang memanjang. RX 450 yang diuji LAPAN pada tahun 2020 memiliki erector-launcher berbasis trailer yang memposisikan roket pada sudut curam, bukan vertikal. Jauh dari kata canggih, R-HAN 450 yang diproduksi oleh PT Dahana tidak memiliki wadah dan bahkan kendaraan pengangkut meskipun truk 6x6 atau 8x8 biasanya cukup untuk senjata jenis ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheRJa3T8iz9juizl2yhJwQq5TD8JYXAKzvhbxfiyoTdp0W-lvqkSjLVmMPoh6H9hoY0X7o43pudQffiVyitAUqY1iZD2l3wdtFpcRUUmg-uUg-Ni5dOzN-mDrCuRv9NQSMkfCEFqhRZD4VEFtpAjKj9269kUeFFq4kblvQAWGBKS6nBqJDWwgj4-F9fjWA/s836/indonesian-lapan-rx-450-5-rocket-launch.jpgRX 450-5 adalah demonstran satu tahap untuk badan antariksa Indonesia, LAPAN. (LAPAN) 🚀

Jika R-HAN 450 berevolusi di tahun-tahun mendatang, hasilnya akan mengarah pada sebuah rudal balistik – sebuah amunisi berdiameter besar dengan karakteristik berbeda yang membedakannya dari roket terarah yang “bodoh”. Kriteria penting dulunya adalah ukuran rudal balistik, namun tren terkini menjadikan hal ini tidak penting.

Rudal balistik, setidaknya model satu tahap, biasanya memiliki empat bagian – booster, propelan, hulu ledak, sistem panduan – dan PT Dahana tampaknya telah menguasai 3/4 proses pembuatannya. Jadi merakit rudal balistik satu tahap cukup mudah, namun tantangan untuk mengembangkan alat panduan dan navigasinya sangat berat. Ini ditempatkan di ujung rudal yang berbentuk kerucut (hulu ledak dan bahan bakar ada di bagian bawahnya) dan dilengkapi dengan jaringan komputer portabel. Terkadang penting untuk melengkapi ujung rudal dengan aktuator yang mengarahkan canard untuk menstabilkan jalur penerbangan rudal saat melaju dengan kecepatan supersonik. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut PT Dahana membutuhkan mitra eksternal yang mampu memasok avionik serta integrasi dan pengujian sistem.

Indonesia dikabarkan telah menjalin kerangka kerja sama pertahanan multi-sisi dengan Türkiye yang melibatkan produksi berbagai rudal. Pengembangan R-HAN 450 oleh PT Dahana tampaknya terpisah dari aliansi ini, namun upaya Turki dalam meningkatkan teknologi rudal buatannya patut untuk dikaji. SRBM Khan milik Roketsan, misalnya, memiliki banyak kesamaan eksternal dengan R-HAN 450 – meskipun Khan didasarkan pada model Tiongkok – tetapi memiliki dimensi lebih besar dan mampu mencapai target sejauh 280 kilometer. Roket terakurat terbesar Roketsan, TRG-300 300mm yang digambarkan di bawah, mirip dengan R-HAN 450 dan mampu mencapai target sejauh 120 km. TRG-300 menggambarkan dengan baik bagaimana roket medan perang berdiameter besar yang tidak terarah berevolusi untuk meningkatkan akurasi dan penerbangan.

Jika SRBM Indonesia benar-benar berfungsi, detail penting yang perlu diperhatikan adalah dimensi badan pesawat dan sistem panduan yang dipasang di ujungnya. Terlepas dari seberapa banyak masukan yang diperoleh mitra asing, hasilnya kemungkinan besar akan menyerupai M20 Tiongkok yang telah diekspor ke beberapa negara. -Ada beberapa risiko yang terkait dengan program ini. Yang paling besar adalah kontroversi dan tekanan eksternal yang tidak diinginkan jika Jakarta terlalu ambisius dalam pengembangan rudal dan hal ini memicu sanksi dari negara-negara Asia Barat yang tidak ikut campur dalam masalah tersebut. (Indonesia tidak terikat atau menandatangani Rezim Pengendalian Teknologi Rudal/MTCR.)

https://21stcenturyasianarmsrace.files.wordpress.com/2023/04/turkish-roketsan-trg-300-display-adex-2022.jpgRoketsan TRG-300 memiliki jangkauan maksimum 120 km. (Roketsan/ADEX 2022) 🚀

Aspek teknologi dari terobosan Indonesia dalam artileri roket dan rudal balistik yang akurat akan sangat dramatis. Saat ini terdapat banyak contoh amunisi permukaan-ke-permukaan yang menghapus batasan yang memisahkan artileri roket dan berbagai rudal strategis. Yang paling utama adalah Precision Strike Missile (PrSM) Lockheed Martin yang lebih kecil dari SRBM mana pun namun dapat terbang lebih dari 500 km sambil dipersenjatai dengan muatan modular. Sebuah PrSM tunggal memiliki lebar hampir 400mm dan panjang 3.940mm, proporsi yang sederhana dibandingkan dengan SRBM kontemporer, namun memiliki karakteristik penerbangan yang ekstrim. Tiongkok, Iran, dan Israel hampir mencapai hal yang sama, sementara sektor industri militer Indonesia lebih maju dari yang diperkirakan.

Jika PT Dahana dan perusahaan DEFEND ID berhasil memproduksi secara massal R-HAN 450 sebagai amunisi yang lebih baik dan kemudian menindaklanjutinya dengan SRBM dalam negeri, hal ini akan membantu tren regional di ASEAN: rudal taktis kaliber besar kini sedang digemari.

Kamis, 23 Februari 2023

Jokowi Siapkan Teknologi Roket Buatan Indonesia

Rhan Pindad 🚀

Pemerintah mengeluarkan aturan baru terkait penguasaan teknologi keantariksaan, salah satunya adalah adalah pengembangan teknologi roket.

Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Penguasaan Teknologi Keantariksaan, yang diteken oleh Presiden Joko Widodo dan ditetapkan pada 16 Februari 2023 lalu.

Dalam beleid ini mengatur mengenai penguasaan dan perlindungan teknologi keantariksaan, standar prosedur keamanan dan keselamatan dalam pengusahaan teknologi keantariksaan, peran masyarakat dalam penguasaan teknologi keantariksaan, pembinaan, dan pendanaan.

Selain itu dalam aturan ini juga penguasaan teknologi keantariksaan wajib dilaksanakan oleh Badan. Selain itu teknologi yang dimaksud tidak terbatas hanya penguasaan teknologi roket, satelit, aeronautika, dan penjalaran teknologi.

Untuk penguasaan dan pengembangan teknologi roket, disebutkan meliputi penguasaan ilmu dan pengetahuan di bidang teknologi motor roket, struktur roket, penjejakan telemetri, dan kendali, hingga muatan.

Serta hanya dapat dilaksanakan oleh Badan, kecuali ditentukan lain oleh ketentuan perundang-undangan.

"Dalam penguasaan dan pengembangan teknologi motor roket sebagaimana maksud pada ayat (2) huruf a yang dilaksanakan oleh Penyelenggara Keantariksaan selain Badan, Wajib memperoleh izin dari Badan," mengutip Beledi pada Pasal 8 Ayat (4).

Selain itu ketentuan mengenai tata cara dan persyaratan izin penguasaan dan pengembangan teknologi roket juga sebagaimana ayat (4) diatur dalam Peraturan Badan.

Dalam Beleid ini diungkapkan penguasaan dan pengembangan teknologi roket, badan pada akhirnya akan membuat perancangan prototipe roket hingga melakukan pengujian roket.

"Badan juga wajib melakukan menyusun program pengembangan roket, membuat perancangan dan prototipe roket, dan melaksanakan pengujian roket," mengutip Pasal 11 ayat (1).

Selain itu dalam penyelenggara juga wajib menjaga keamanan dan keselamatan kegiatan dan masyarakat dari risiko kecelakaan.

Jika ada Penyelenggara Keantariksaan selain Badan yang melanggar, akan diberikan sanksi administratif kepada Kepala Badan. Berupa peringatan tertulis, penghentian kegiatan (sementara, sebagian, atau seluruh), pencabutan izin hingga denda administratif.

  Pengembangan Satelit Hingga Aeronautika 
Satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI melintasi wilayah Indonesia sekitar 14 kali sehari (LAPAN)

Tidak hanya roket, Beleid itu juga mengatur pengembangan teknologi satelit yang dilaksanakan oleh penyelenggara keantariksaan.

Penguasaan dan pengembangan teknologi satelit meliputi dari ilmu dan pengetahuan di bidang teknologi bus satelit, muatan satelit, ruas bumi dan operasi satelit.

Sehingga Badan wajib menyusun program pengembangan satelit, melakukan perancangan dan prototipe satelit, melaksanakan pengujian satelit, hingga mengoperasikan stasiun bumi untuk (telemetri, penjajakan dan komando jarak jauh), serta melaksanakan peluncuran satelit dengan kemampuan sendiri atau melalui kerja sama.

"Dalam penguasaan dan pengembangan teknologi satelit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan dapat mengikutsertakan penyelenggara keantariksaan selain badan," tulis Pasal 14 ayat (2).

Sedangkan penguasaan dan pengembangan teknologi aeronautika meliputi penguasaan ilmu dan pengetahuan bidang teknologi propulsi, aerostruktur, avionik, dan kendali terbang. Yang bisa bekerja sama dengan Penyelenggara Keantariksaan selain badan dalam penguasaan teknologi Aeronautika.

Dari Beleid ini juga mengatur penjalaran teknologi keantariksaan. baik untuk penggunaan publik, pemerintah atau pengguna non publik. (hoi/hoi)

  📡 CNBC  

Jumat, 23 Desember 2022

Peluncuran Roket RX 200 TC Seri 01 di Garut

Peluncuran Roket RX 200 TC Seri 01 di Garut (LAPAN BRIN) 🚀

Indonesia luncurkan roket di sebuah pantai di Garut, Jawa Barat pada Rabu (21/12/2022). Roket RX (Roket Eksperimental) itu dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN.

Dalam video yang dibagikan akun instagram @lapan_ri terlihat roket tersebut melesat cepat ke langit saat diluncurkan.

Terlihat juga kepulan asap tebal mengekor saat roket melesat ke langit biru. Pembawa acara pun mengucapkan hamdalah saat roket berhasil diluncurkan sesuai harapan.

Dalam keterangannya dijelaskan bahwa Roket RX (Roket Eksperimental) adalah seri dari beberapa jenis roket berbahan bakar padat yang dikembangkan oleh BRIN.

Roket tersebut dinamakan berdasar ukuran diameternya dalam milimeter.

Roket buatan anak negeri itu diluncurkan Rabu, 21 Desember 2022 di Pantai Karang Papak RUNWAY TNI AU, Santolo, Garut. Adapun seri roket yang diluncurkan ialah Roket RX 200 TC Seri 01.

Adapun penekanan tombol Firing Control dilakukan Oleh Christianus Ratrias Dewanto, dengan sudut elevasi Roket 50° berhasil meluncur dengan sempurna sesuai yang diharapkan.

Bukan kali ini saja roket buatan anak Indonesia diluncurkan. Dikutip dari Lapan.go.id sebelumnya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melalui satuan kerja Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) meluncurkan roket eksperimen bernama RX450-5.

Roket tersebut diluncurkan di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Garut (BUTPAAG) LAPAN, Rabu (2/12/2022).

Kepala Pustekroket Lilis Mariani menyampaikan, uji terbang RX450-5 ini dilakukan guna mendapatkan data kinerja terbang roket. Sehingga, nantinya dapat dilakukan pengoptimalisasian produk.

Uji terbang RX450-5 perlu dilakukan untuk memastikan kinerja terbang roket. Terlebih RX450-5 merupakan baseline pengembangan program PRN Roket Dua Tingkat. Ini adalah upaya kami dalam penguasaan teknologi keantariksaan,“ kata Lilis berdasarkan keterangan resmi, Rabu (2/12/2020).

Roket yang diuji kali ini adalah roket yang kelima sejak peluncuran pertama pada 2015. RX450-5 merupakan baseline dari roket jangkauan 100 km lebih yang akan menjadi awal pengembangan roket dua tingkat.

Sedangkan roket dua tingkat LAPAN sendiri ditargetkan dapat mengudara pada tahun 2025 dengan misi penelitian atmosfer pada ketinggian 200 km.

Penelitian dan pengembangan teknologi roket yang dilakukan Pustekroket LAPAN sejalan dengan visi Indonesia yakni Keantariksaan Indonesia yang Mandiri, Maju, dan Berkelanjutan.

Pengembangan roket penting untuk mendukung sistem komunikasi dan pertahanan bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Indonesia memerlukan kemajuan teknologi roket yang merupakan teknologi terdepan (frontier) untuk menjaga keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Indonesia.

Manfaat roket sendiri bagi masyarakat selain untuk pertahanan antara lain sebagai alat mitigasi bencana melalui ketersediaan roket modifikasi cuaca pada daerah rawan kebakaran, penelitian atmosfer di wilayah Indonesia.

Serta mendukung ketersediaan sarana komunikasi melalui roket peluncur satelit yang dapat membawa satelit komunikasi. Maka dari itu, urgensi kemandirian bidang antariksa khususnya roket perlu ditekankan, agar segala manfaat dari teknologi roket ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.


  🚀
Warta Kota  

Senin, 24 Oktober 2022

Dahana Sukses Uji Statis Roket Rhan 450

 Hasil Kolaborasi dengan Kemenhan dan BRIN 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKWwnhZ0MX7_EsVluccw4hOiSQ4FN5NZWMCZDY9rysgl0hJrpWtGJ64EJhhMeALRJ0_wm3zj4jqw4yuFNzHGFbN8nkc4qAVrojQ-eh8EHxl0YoxyYGKAmFxtbJYgutD2HVv45gNKy07V0bkp9PUnfcSgBT09mXPtNc9W2WAmoZ5J3mRZx-lx2E3nZj/w400-h266/WhatsApp-Image-2022-10-21-at-9.16.32-AM.jpeg.webpUji statis Roket Rhan 450 dengan jarak jangkau ground-to-ground 100 km (Dahana)

PT
Dahana bersama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), serta Balitbang Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kembali menggelar uji statis roket Rhan 450.

Kegiatan ini berlangsung di Balai Uji Teknologi & Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BUTPAAG) Pameungpeuk, Garut, Kamis (20/10/ 2022).

Direktur Teknologi dan Pengembangan Dahana, Suhendra Yusuf RPN, menuturkan, Dahana diberikan amanah kembali untuk melanjutkan pengembangan Roket Rhan 450 jarak 100 km.

Dahana juga turut menggandeng Pusat Riset Teknologi Roket ORPA BRIN. Menurutnya, Proyek Rhan 450 memiliki nilai strategis untuk mewujudkan kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) nasional.

Kegiatan uji statis ini sangat penting untuk dilakukan untuk melihat konsistensi hasil penelitian dan pengembangan Roket Pertahanan, dimana hal tersebut merupakan komitmen bersama PT Dahana, Balitbang Kemhan, dan BRIN,” ucap Suhendra.

Suhendra menambahkan, uji statis juga dapat menjadi wadah pembentukan kualitas dan kuantitas personel dengan meningkatkan kemampuan teknologi roket, materil, serta sumber daya lainnya. Selain itu, uji statis ini akan memberikan data performa dan karakteristik Rhan 450 yang akan digunakan sebagai pijakan bagi pengembangan ke tahap berikutnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI8YfSFlQdVCDZVNUSBR4XgqgMy5AMStNVeG0ak9yLynKpfHMLnNmZMs3S5Dapc_lJ6igXGdVOXgokYd5NwCHVlCVCcEJw2WbPMs9f7Z83XIPxDOz8s1UhwEupZgypAkGV8bYByNUocYS-lrX5mByFE2wBo-gxoVxZHpyhUum3BqH2vuvWg2duK-wx/w400-h266/WhatsApp-Image-2022-10-21-at-9.16.32-AM-1.jpegDari proses uji statis terakhir, data menunjukkan adanya peningkatan performa dan karakteristik dari uji statis yang dilaksanakan pada tahun lalu. Suhendra berharap agar Indonesia dapat segera merealisasikan kebutuhan nasional akan roket.

Secara hasil, alhamdulillah sudah sesuai dengan harapan. Uji statis kali ini telah mengalami perkembangan yang signifikan dan perbaikan dari tahun lalu. Hasilnya sudah sesuai dan sangat baik. Mudah-mudahan kita dapat merealisasikan keinginan bersama untuk memiliki roket ground to ground minimal 100 Km dengan capaian yang baik,” harap Suhendra.

Suhendra menyampaikan harapan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek ini agar pemerintah memberikan komitmen anggaran selanjutnya untuk litbang roket.

Tentunya harapan kami bersama, bahwa ada komitmen anggaran pemerintah agar litbang Rhan 450 bisa dilanjutkan sampai uji dinamis,” kata Suhendra.

Uji statis Rhan 450 kali ini juga disaksikan langsung oleh Kepala Balitbang Kemhan RI Julexi Tambayong; Deputi Bidang Kebijakan Pembangungan BRIN Mego Pinandito; Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, Robertus Heru Triharjanto; Pejabat eselon III Balitbang Kemhan, serta tamu undangan dari Pussenarmed, Puspalad, ITS, UI, dan Unhan.

  ★ Tribunnews  

Sabtu, 01 Oktober 2022

Kolaborasi BRIN dan Kemhan untuk Roket Ground to Ground R-HAN 450

Rhan 450 [Lapan] ★

Pusat Riset Teknologi Roket, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN (PRTR-ORPA BRIN) berkolaborasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan (Balitbang Kemhan) melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan roket selama 5 hari pada rentang (19-23/09) di PRTR, Bogor, Jawa Barat.

Pengembangan roket jarak 100 Km darat ke darat (Ground to Ground) ini merupakan program lanjutan yang direncanakan dalam empat tahap. Tahun 2022 ini sudah memasuki pada tahap ke-II dari IV tahap yang direncanakan. Fokus kegiatan ini lebih ditujukan pada penyempurnaan desain roket yang dinamai R-Han 450 dan peningkatan karakteristik motor roket.

Penyempurnaan desain ditujukan untuk mendapatkan rancangan motor roket yang diharapkan. Sedangkan penyempurnaan struktur dilakukan dengan mempertebal grafit dan nosel, penurunan laju pembakaran bahan bakar (burning rate propellant), dan optimasi isian semburan api/pyrotechnics yang digunakan pada pemantik/igniter. Materi dalam kegiatan ini juga meliputi pembahasan tentang pengujian propelan dan strukturnya dengan Radiografi/Sinar-X.

Pengujian struktur propelan dilakukan dengan cara penyinaran dengan sinar berenergi tinggi (Sinar-X atau Sinar Gamma). Sinar ini dapat menembus benda uji dan membentuk bayangan pada film radiografi.

Pada kesempatan ini juga dibahas perencanaan kegiatan uji statis, serta pengerjaan di laboratorium yakni kegiatan pengetesan setelah proses decoring atau pengetesan kekerasan. Pembuatan prototipe R-Han 450 kali ini ditujukan untuk menyempurnakan desain propulsi roket (perubahan komposisi propelan dan isian igniter) serta desain struktur roket (dimensi ablatif material pada nozzle).

Perekayasa Ahli Madya PRTR, Wiwiek Utami Dewi mengungkapkan bahwa hasil uji statis roket standar (MX100) yang telah dilakukan sebanyak 9 kali menunjukkan bahwa desain baru tersebut bekerja dengan baik.

Oleh karena pengujian pada roket standar (MX100) sudah berhasil, maka saat ini periset PRTR BRIN tengah membuat prototipe roket R-Han 450 skala asli (diameter motor roket 450 mm, panjang motor 4200 mm) untuk diuji statis pada akhir Oktober mendatang,” jelasnya.

Diharapkan kolaborasi riset ini dapat memajukan kemandirian teknologi penerbangan dan antariksa, khususnya di bidang roket. Kegiatan ini juga menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Dahana (Persero).

  Lapan  

Sabtu, 08 Januari 2022

Prototipe Drone Elang Hitam Disebut Gunakan Mesin Piston Rotax 915 iS

 Siap Uji Terbang Perdana ✈ Penampakan purnarupa drone MALE Elang Hitam [Lembaga Keris]

Jika tidak ada aral melintang, prototipe drone tempur (UCAV) pertama buatan Indonesia, yaitu Elang Hitam akan terbang perdana pada bulan Februari mendatang. Dari serangkaian persiapan yang tengah dilakukan PT Dirgantara Indonesia, sumber tak resmi menyebut bila drone MALE (Medium Altitule Long Endurance) ini bakal ditenagai Rotax 915 iS.

Dikutip dari akun Twitter @abe_accord, Elang Hitam disokong mesin Rotax 915 iS buatan Austria. Rotax 915 iS adalah jenis mesin piston yang biasa digunakan pada pesawat ultralight, pesawat terbang sport sampai helikopter ringan. Dirancang pada tahun 2014, Rotax 915 iS mendapat sertifikasi airworthiness pada tahun 2017.

Rotax 915 iS adalah mesin bensin empat silinder dengan empat langkah turbocharged yang berpendingin udara dan air. Mesin ini dirancang untuk dapat beroperasi di ketinggian 4.572 meter. Rotax 915 iS mampu menghasilkan tenaga 141 hp untuk lepas landas dan 135 hp untuk terbang jelajah.

Rotax 915 iS dikembangkan dari Rotax 912 Internal Combustion (100 hp), dimana Rotax 912 adalah jenis mesin piston yang digunakan pada drone tempur Bayraktar TB2, sebelum akhirnya dihentikan pengguaannya karena mendapatkan embargo dari Kanada.

Sebagai informasi, meski Rotax adalah manufaktur mesin asal Austria, namun status Rotax adalah anak perusahaan Bombardier Recreational Products. Perusahaan Kanada itu belakangan baru menyadari bahwa produknya digunakan untuk misi penyerangan oleh Azerbaijan ke posisi pasukan Armenia.

Kembali tentang Elang Hitam, drone tempur ini punya panjang 8,65 meter, lebar bentang sayap 16 meter dan tinggi 2,6 meter. Bobot maksimum saat tinggal landas mencapai 1.300 kg, sementara kapasitas payload 300 kg. Dengan kapasitas bahan bakar 420 liter, Elang Hitam dapat terbang selama 30 jam, sementara radius kendali Line of Sight sampai 250 km.

Elang Hitam dapat terbang dengan kecepatan maksimum 235 km per jam dan kecepatan jelajah 50 – 180 km per jam – diasumsikan terbang pada ketinggian 5 ribu meter. Batas ketinggian terbang drone ini ditakar sampai 7.200 meter. Panjang landasan yang dibutuhkan untuk landing adalah 500 meter dan panjang landasan untum take-off yaitu 700 meter. (Gilang Perdana)

  Indomiliter  

Senin, 22 November 2021

Pesawat Amphibi N219 Siap Terbang Tahun 2023

🛩 ✈ Pesawat N219 versi amphibi (iNews)

PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah mengembangkan pesawat Amphibi N219. Pesawat buatan anak negeri tersebut diharapkan sudah bisa beroperasi pada 2023.

Jika sesuai dengan linimasa yang ada, pesawat ini diperkirakan dapat melaksanakan penerbangan pertamanya di tahun 2023,” tutur Batara Silaban, Direktur Produksi PTDI.

Batara menemani Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi, Ayodhia G L Kalake dalam kunjungan ke PT. Dirgantara Indonesia pada Jumat, (12/11).

Batara menjelaskan pesawat Amphibi N219 memiliki kecepatan hingga 296 KM per jam pada ketinggian maksimal 10 ribu kaki.

Dengan beban 1560 KG, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 KM. Take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air, pesawat membutuhkan jarak hingga 1400 meter.

N219 Nurtanio Untuk landing dari ketinggian 50 kaki, pesawat membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut.

Maximum Take-Off Weight pesawat ini mencapai 7030 KG dengan maximum landing weight 6940 KG, dengan total kapasitas bahan bakar 1600 KG,” kata Batara.

Pesawat Amphibi N219 memang dirancang bisa melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air. Dengan demikian, pesawat ini sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.

Pesawat ini telah diproduksi dengan mengedepankan TKDN, sehingga hasil karya dalam negeri ini tentu mendukung pengembangan konektivitas darat dan laut di indonesia,” kata Ayodhia.

Dia menambahkan fleksibilitas yang dimiliki pesawat ini mampu mencakup darat, danau dan sungai besar, hingga teluk dan laut.

Pesawat N219 (PTDI)

Selain itu, amphiport (airport untuk pesawat amphibi) dapat dibangun dengan lebih mudah dan murah dibandingkan dengan airport pada umumnya.

Pesawat ini mampu dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah Maritim,” kata Batara.

Potensi pasar terbesar pesawat Amphibi N219 berada di bidang pariwisata. Pesawat tersebut juga mampu mengakomodir Pulau-Pulau 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan) yang tersebar di Indonesia.

Berbagai wilayah di Indonesia pun cukup berpotensi untuk menggunakan pesawat ini, seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo.

Potensi pasar yang besar juga terlihat khususnya di Asia Pasifik. Kini, ada 150 unit pesawat aktif dan 45% dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging.

Kendati menjanjikan, pengembangan pesawat Amphibi N219 bukan tanpa masalah. Permasalahan utama yang dihadapi ini adalah dalam hal penganggaran.

Dalam perencanaan pengembangan sampai tahun 2024, anggaran tersebut dialokasikan melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dengan adanya perubahan organisasi, LAPAN dan BPPT masuk kedalam organisasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dikhawatirkan akan mempengaruhi perencanaan pengembangan yang sudah ditetapkan. Selain anggaran, permasalahan lain seperti tingkat korosif yang tinggi karena mendarat di laut.

Kemenko Marves meminta PTDI menginventarisasikan berbagai problematika yang ada, “Kami harap nantinya ada pertemuan lanjut antara PTDI dan berbagai pihak, baik dengan BRIN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN,” ungkap Firdausi Manti, Asisten Deputi Industri Maritim dan Transportasi.

  🛩 Kata Data  

Masa Depan Pembiayaan Program Pesawat N219

Opini by Alman HAN219 PTDI

Meskipun pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah berhasil mendapatkan Type Certificate CASR Part 23 dari Directorate General of Civil Aviation (DGCA) Indonesia pada 22 Desember 2020, perjalanan pesawat sayap tetap pertama buatan Indonesia pasca N250 masih panjang dan penuh tantangan.

Kini pesawat turboprop yang pengembangannya melibatkan LAPAN sedang menjalani fase performance improvement untuk memenuhi Design Requirement & Objective (DRO) yang telah ditetapkan sebelum memasuki tahap produksi serial. Sampai beberapa waktu silam, para insinyur BUMN ini juga sibuk mengembangkan N219 versi amfibi yang memerlukan Amended Type Certification dari DGCA sebelum dapat diproduksi.

Pesawat yang digadang-gadang mampu bersaing dengan Cessna SkyCourrier dan de Havilland DHC6-400 diharapkan memasuki lini produksi pada 2022 apabila telah mendapatkan kontrak dari beberapa calon konsumen dalam negeri.

Sebagaimana program N250 di era PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), program N219 mendapatkan pembiayaan dari APBN. Tidak terdapat data pasti berapa nilai APBN yang telah disalurkan untuk membiayai program tersebut. Namun diperkirakan nilainya hampir mencapai Rp 1 triliun yang berasal dari LAPAN. Selain itu, PTDI juga memakai dana internal untuk membiayai program pengembangan pesawat yang menggunakan mesin Pratt & Whitney PT6A-42 buatan Kanada ini. Diharapkan dana APBN masih akan terus mengucur hingga beberapa tahun ke depan sebagaimana telah menjadi komitmen pemerintah dalam mendukung program N219.

Namun terjadinya perubahan organisasi penelitian dan pengembangan di Indonesia di mana LAPAN diserap ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memengaruhi pendanaan program N219.

Sejumlah sumber kredibel di kalangan industri dirgantara telah memberikan konfirmasi BRIN tidak akan mengucurkan dana untuk mendukung program N219 sebagaimana dulu dilakukan oleh LAPAN. Alasannya karena program ini belum menguntungkan secara komersial dan lembaga super ini tidak ingin mengulangi pengalaman program N250 yang terhenti di tengah jalan. BRIN menyerahkan nasib program N219 kepada PTDI untuk membiayai program ini.

Kebijakan BRIN merupakan 'serangan torpedo' terhadap program N219, khususnya N219 Amfibi, yang ironisnya termasuk dalam Program Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan oleh pemerintah sendiri. Sebelum BRIN berdiri, pemerintah telah berkomitmen untuk membantu pendanaan program N219 hingga beberapa tahun ke depan. Pendanaan pemerintah untuk program pesawat terbang di Indonesia merupakan hal yang tidak terhindarkan, meskipun skala pendanaannya tidak harus 100% seperti program N250. Karena pada tingkat minimal pemerintah harus maintain skilled jobs di bidang desain dan rancang bangun pesawat terbang, sedangkan pada tingkat maksimal pemerintah harus turut berkontribusi pada peningkatan penguasaan teknologi dirgantara.

Bantuan pemerintah dalam mendorong industri dirgantara di dunia merupakan hal yang lumrah, walaupun di negara maju bentuknya seringkali berbentuk subsidi tidak langsung. Sebagai contoh, pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan sejumlah subsidi kepada Boeing, salah satunya adalah progam pajak negara bagian Washington yang menjadi salah satu fasilitas produksi Boeing.

Bagaimanapun, industri dirgantara merupakan industri yang padat modal, padat teknologi, padat risiko dan padat teknologi. Keputusan pemerintah beberapa tahun silam untuk membantu pendanaan program N219 melalui LAPAN telah melalui analisis yang dalam agar pengalaman pahit program N250 tidak terulang lagi.

Sebagai dampak dari kebijakan BRIN terhadap program N219, pengembangan N219 Amfibi telah dihentikan. Sejumlah insinyur muda PTDI yang terlibat dalam program ini, khususnya N219 Amfibi, telah mengundurkan diri. Hal itu merupakan ironi karena mereka direkrut sekitar 10 tahun silam setelah dalam periode 1998-2010 BUMN ini tidak melakukan rekrutmen sumber daya manusia (SDM) karena mengalami turbulensi yang hebat. Diperkirakan jumlah insinyur muda yang akan mengundurkan diri dari program N219 Amfibi masih akan bertambah dan merupakan tanda bahaya bagi regenerasi sumber daya manusia industri manufaktur pesawat terbang Indonesia di masa depan.

Para insinyur muda tersebut merupakan jembatan dalam transfer pengetahuan dan pengalaman tentang desain dan pengembangan pesawat terbang dari para insinyur senior yang tersisa di PTDI. Para insinyur senior yang merupakan anak didik B.J. Habibie mempunyai pengalaman dalam pengembangan N250, sedangkan para insinyur muda yang direkrut pasca 2010 hanya memiliki pengalaman memodifikasi pesawat terbang seperti NC212i dan CN235-220.

Melalui program N219, para insinyur muda diberikan kesempatan mendapatkan pengalaman bagaimana mendesain dan mengembangkan pesawat sayap tetap, mulai dari conceptual design sampai dengan maintenance, repair and overhaul. Pengunduran diri mereka merupakan kerugian besar bagi industri dirgantara Indonesia secara keseluruhan sekaligus hilangnya sumber daya manusia yang terdidik. Sebagian besar para insinyur muda itu telah mendalami ilmu aeronautika di luar negeri, di antaranya menggunakan dana APBN lewat program beasiswa.

Dihadapkan pada kondisi demikian, PTDI perlu mengintensifkan pencarian pembiayaan program N219 dari luar negeri. Firma ini perlu menindaklanjuti komitmen awal beberapa pihak asing yang pernah menyatakan siap membantu pendanaan program pesawat yang mengadopsi avionik buatan Garmin. Terlepas dari isu pembiayaan program, korban kebijakan BRIN telah berjatuhan, yaitu sumber daya manusia PTDI. Masih ada asa agar program N219 tidak terhenti sampai pada tahap purwarupa dan selanjutnya masuk museum seperti program N250. (miq/miq)
 

  🛩
CNBC  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...