Tampilkan postingan dengan label BRIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRIN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2026

Green Shipyard Jadi Senjata Baru PT PAL

  Bersaing di Pasar Dunia
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL (PAL)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan kolaborasi dengan PT PAL Indonesia untuk mempercepat penguasaan teknologi dan meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Kepala BRIN, Laksdya TNI (Purn.) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., dalam kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia.

Amarulla mengapresiasi kapabilitas PT PAL sebagai salah satu industri strategis nasional yang memiliki peran penting dalam membangun dan memperkuat ekosistem maritim Indonesia.

Menurut dia, BRIN siap memperkuat kerja sama dengan PT PAL, terutama dalam bidang riset terapan, pengembangan teknologi, serta hilirisasi hasil penelitian untuk mendukung kemajuan industri perkapalan dalam negeri.

Kolaborasi tersebut, kata Amarulla, merupakan bagian dari tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri membangun sinergi untuk meningkatkan pertumbuhan serta kemandirian industri perkapalan nasional.

 Dorong Transformasi Menuju Green Shipyard

Selain pengembangan teknologi, kerja sama BRIN dan PT PAL diarahkan pada transformasi industri menuju konsep green shipyard.

Amarulla mengatakan transformasi tersebut menjadi salah satu agenda penting yang perlu didorong bersama agar produk-produk utama PT PAL dihasilkan melalui proses produksi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi.

“Salah satu target utama yang ingin kami dorong bersama adalah mewujudkan green shipyard, sehingga setiap produk utama yang dihasilkan PT PAL berasal dari proses produksi yang ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi,” ujarnya.

Menurut dia, penerapan prinsip keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat posisi industri perkapalan Indonesia di pasar internasional.

Pasalnya, tuntutan terhadap standar keberlanjutan dan efisiensi produksi semakin tinggi dalam industri global.

“Pasar global semakin menuntut standar keberlanjutan. Karena itu, transformasi ini akan memperkuat kapasitas komersial PT PAL,” kata Amarulla.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., menyambut positif komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional untuk mendukung transformasi industri perkapalan.

Menurut Kaharuddin, kerja sama dengan BRIN akan memberikan kontribusi penting terhadap penguatan kemampuan riset terapan, percepatan penguasaan teknologi, serta pengembangan industri perkapalan yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.

“Ini sejalan dengan arahan Presiden, sinergi antara industri, lembaga riset, dan perguruan tinggi akan menjadi kunci dalam memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional,” tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut, PT PAL dan BRIN turut membahas sejumlah rencana implementasi kolaborasi.

Di antaranya meliputi riset terapan, pengembangan teknologi maritim, hilirisasi hasil penelitian, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan teknologi rendah emisi dan efisiensi energi.

Seluruh agenda tersebut menjadi bagian dari transformasi PT PAL menuju green shipyard sekaligus mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan perusahaan.

Transformasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan industri galangan kapal yang lebih hijau, tetapi juga memperkuat kemampuan teknologi nasional, meningkatkan efisiensi produksi, dan membuka peluang yang lebih besar bagi produk-produk industri pertahanan serta kemaritiman Indonesia untuk bersaing di pasar global.

  👷  Indonesia Inside  

Minggu, 12 Juli 2026

Retractable Landing Gear BRIN

🛩 Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam Proses pengujian Retractable Landing Gear (BRIN)

Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

“Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

“Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

  🛩
BRIN  

Selasa, 30 Juni 2026

BRIN dan Pindad Jajaki Kolaborasi Riset

  🤝  Perkuat Industri Pertahanan RCWS hasil kerjasama Pindad (Pindad)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) menerima kunjungan PT Pindad dalam rangka penjajakan kerja sama penelitian dan pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam), pada Senin (22/6).

Pertemuan yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun Bandung tersebut menjadi forum diskusi awal untuk mengidentifikasi potensi kolaborasi riset yang dapat mendukung penguatan industri pertahanan nasional.

Kepala OREI BRIN Budi Prawara dalam sambutannya memperkenalkan struktur organisasi, pusat-pusat riset yang berada di bawah OREI, serta berbagai kompetensi yang dimiliki para periset.

Salah satu unit yang menjadi fokus pembahasan adalah Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) yang memiliki sejumlah aktivitas riset strategis yang dinilai berpotensi untuk dikolaborasikan dengan PT Pindad.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Yanuandri Putrasari, memaparkan berbagai kapasitas dan pengalaman riset PRMC yang relevan untuk mendukung litbang hankam.

Menurutnya, kompetensi PRMC mencakup bidang mesin, elektro, informatika, dan sistem kendali yang terintegrasi dalam pengembangan teknologi mekatronika cerdas.

“PRMC memiliki berbagai kelompok riset yang fokus pada sistem instrumentasi cerdas, mesin cerdas dan sistem otonom, dinamika dan kendali cerdas, biomekatronika, robotika dan sistem cerdas, serta fluida plasma cerdas. Kapasitas ini sangat relevan untuk mendukung pengembangan teknologi pertahanan nasional,” jelas Yanuandri.

Ia menambahkan bahwa sejumlah hasil riset yang telah dikembangkan PRMC berpotensi untuk di hilirisasi dan dikolaborasikan bersama industri pertahanan.

Salah satunya adalah pengembangan mesin nasional dua silinder 1.000 cc yang dirancang untuk mendukung industri otomotif dalam negeri.

Teknologi tersebut telah mencapai tingkat kesiapan teknologi yang memungkinkan pengembangan lebih lanjut menuju tahap penerapan industri.

“PRMC juga memiliki rekam jejak riset di bidang sistem persenjataan dan sistem otonom, antara lain robot penjinak bom MoroLIPI, lengan robot bersenjata, Remote Controlled Weapon System (RCWS), turret kaliber 20 mm, Electronic Optical Tracking (EOT), serta berbagai teknologi pendukung sistem kendali dan stabilisasi,’’ papar Yanuandri.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan RCWS menjadi salah satu contoh teknologi yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri pertahanan.

Sistem tersebut dirancang sebagai platform persenjataan yang dapat diintegrasikan pada kendaraan tempur, kapal tempur, maupun wahana lainnya. Beberapa tahapan pengujian performa RCWS juga pernah dilakukan bersama PT Pindad.

“Kolaborasi dengan industri sangat penting agar hasil-hasil riset tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang siap digunakan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian teknologi nasional,” ujar Yanuandri.

Bersamaan dengan itu, Vice President Inovasi dan Pengembangan Bisnis PT Pindad, Rakhmad Aryo, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama yang dapat mendukung pengembangan produk dan teknologi pertahanan nasional.

Menurutnya, PT Pindad membutuhkan dukungan dari lembaga riset untuk memperkuat kemampuan inovasi dan pengembangan teknologi strategis.

Diskusi yang berlangsung antara kedua pihak membahas berbagai aspek teknis dan peluang sinergi, mulai dari sistem otonom, teknologi persenjataan, sistem kendali cerdas, hingga pengembangan komponen dan subsistem yang mendukung alat utama sistem persenjataan. nasional.

Melalui pertemuan ini, BRIN dan PT Pindad berharap dapat menindaklanjuti pembahasan menuju kerja sama yang lebih konkret, sehingga hasil-hasil riset nasional dapat semakin berkontribusi dalam memperkuat ekosistem industri pertahanan Indonesia sekaligus mendukung kemandirian teknologi bangsa.

  🤝  BRIN  

Senin, 27 April 2026

Kampus Muhammadiyah Sukses Buat Rudal Anti-Pesawat

🚀 Gandeng TNI Rudal Merapi (UAD)

Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Prof Muchlas, mengungkapkan perkembangan signifikan dalam proyek pengembangan rudal anti-pesawat Merapi-R yang digarap bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Rudal tersebut bahkan dinilai berpotensi menjadi embrio sistem pertahanan udara mirip “Iron Dome” versi Indonesia.

Prof Muchlas menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari tim peneliti, uji fungsi rudal Merapi-R telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.

“Secara uji fungsi, Rudal Merapi siap dikembangkan menjadi senjata untuk keperluan perang, bahkan sangat taktis untuk dikembangkan menjadi embrio Iron Dome versi Indonesia,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (30/3/2026).

Meski demikian, dia menegaskan bahwa tidak semua spesifikasi teknis dapat dipublikasikan secara terbuka.

Hal ini berkaitan dengan aspek strategis dan keamanan nasional. Namun, sejumlah spesifikasi umum telah diungkap kepada publik.

"Spesifikasi tidak dapat disampaikan secara terbuka, tetapi secara umum telah dirilis," ucapnya.

Rudal Merapi-R diketahui merupakan jenis rudal panggul atau Man Portable Air Defence System (MANPADS)/dengan kaliber 70 mm.

Sistem ini dirancang untuk digunakan secara mobile oleh prajurit di lapangan. Dengan bobot sekitar 10 kilogram, rudal ini tergolong ringan dan mudah dibawa.

Dari sisi performa, rudal ini memiliki jangkauan efektif hingga 3.000 meter dan mampu melesat dengan kecepatan lebih dari 650 kilometer per jam.

Sistem pemandunya menggunakan teknologi penjejak inframerah (infrared seeker) dengan fitur fire and forget, yang memungkinkan rudal mengunci target secara otomatis setelah diluncurkan.

Secara desain, Merapi-R dilengkapi sirip lipat (canard dan fin-tail) yang akan terbuka setelah keluar dari tabung peluncur, guna menjaga stabilitas dan akurasi saat menuju sasaran.

Pengembangan rudal ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, yakni tim CIRNOV UAD bersama PT Dahana, Dislitbangad, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kolaborasi ini menjadi bukti kontribusi perguruan tinggi dalam penguatan teknologi pertahanan nasional.

Dia berharap pengembangan Merapi-R dapat terus berlanjut hingga tahap produksi dan operasional, sehingga mampu memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia di masa depan.

Project Leader sekaligus Kepala CIRNOV UAD, Prof Hariyadi menyampaikan bahwa penyempurnaan akan selalu dilakukan agar kualitas produk riset itu dapat memenuhi standar industri pertahanan dan keamanan (hankam) dan digunakan oleh TNI sebagai suatu persembahan anak bangsa kepada negara Indonesia tercinta.

   🚀 Republika  

Sabtu, 14 Februari 2026

Defend ID Bakal Serap Rp 30 Triliun

  Untuk modernisasi alutsista di 2026 (Defend.id)

PT Len Industri (Persero)/ Defend ID, holding BUMN industri pertahanan memproyeksikan menyerap Rp 30 triliun di tahun 2026 untuk pengembangan alat utama sistem senjata (Alutista).

Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar Rp 337 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah postur fiskal Indonesia.

Direktur Utama PT Len Industri, Joga Dharma Setiawan mengatakan sebagian dari anggaran tersebut akan digunakan untuk modernisasi alutsista, peningkatan kapasitas fasilitas pendukung produksi, research & inovation, dan skema spend to invest untuk kemandirian industri pertahanan.

Dia menyebut bahwa anggaran modernisasi alutsista 2026 berada dalam kerangka Kementerian Pertahanan yang telah disetujui Rp 187,1 triliun dengan arahan pemanfaatan untuk modernisasi alutsista, penguatan organisasi, personel, serta dukungan industri nasional.

"Dalam konteks modernisasi alutsista Defend ID menargetkan kurang lebih Rp30 triliun di tahun 2026," katanya kepada Bisnis, Rabu (11/2/2026).

Di sisi lain, dalam rapat bersama Komisi VI, Joga membahas mengenai kinerja operasional dan keuangan BUMN industri pertahanan, rencana kerja dan roadmap industri pertahanan, riset dan pengembangan, serta kolaborasi antar ekosistem industri pertahanan.

Joga menjelaskan bahwa Defend ID akan memanfaatkan 30% dari anggaran tersebut yang digunakan untuk pengembangan peralatan dan investasi.

"Mungkin Defend ID di 30-an persen gitu. Tapi itu bukan untuk peralatan semuanya, ya. Itu termasuk untuk investasi," tuturnya.

Joga menegaskan akan menggunakan komponen dalam negeri agar menekan ketergantungan produk luar negeri atau impor. Nantinya Defend ID menunjang sekitar 60%-70% kebutuhan Kementerian Pertahanan.

"Jadi memang kita harus buat sendiri. Jadi tadi didukung kita memang harus buat sendiri. Misalnya untuk amunisi, propelannya harus kita buat sendiri," terangnya.

Joga menyampaikan guna memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri, Defend ID merencanakan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara intens.

Sebab, kata Joga, BRIN juga fokus melakukan riset di sektor pertahanan, tidak hanya di bidang energi hingga kesehatan.

"Strategi ke depannya kita harus lebih komprehensif pengembangan sumber daya manusia dan lebih banyak kolaborasi dengan BRIN. Karena BRIN sekarang mendukung kuat untuk preset-presetnya untuk pengembangan industri pertahanan," tandasnya..

  👷 
Bisnis  

Senin, 09 Februari 2026

BRIN dan PT LEN Kembangkan Teknologi NVG dan Thermal Imaging

(LEN)

Melalui BRIN Goes to Industry, Len - BRIN berupaya untuk mempercepat riset, pengembangan, dan hilirisasi teknologi agar siap dimanfaatkan oleh industri strategis nasional.

Salah satunya adalah Teknologi NVG dan Thermal Imaging yang merupakan komponen krusial dalam operasi pertahanan, keamanan, dan perlindungan wilayah strategis Indonesia.

Untuk itu, Len bersama BRIN menghadirkan teknologi "mata malam" pertahanan nasional melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengembangan teknologi Night Vision Goggle dan Thermal Imaging Devices.

Kolaborasi antara Len dan BRIN menjadi penting karena menyatukan kekuatan riset nasional dengan kapabilitas industri strategis dalam satu ekosistem inovasi terintegrasi.

BRIN berperan sebagai pusat unggulan riset dan penguasaan teknologi dasar, sementara Len memiliki pengalaman dan kapasitas dalam rekayasa sistem, industrialisasi, serta integrasi teknologi pertahanan.

Sinergi ini memungkinkan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk siap pakai yang memenuhi kebutuhan pengguna dalam negeri.

Melalui kerja sama ini diharapkan lahir inovasi pertahanan yang andal, kompetitif, dan siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kolaborasi ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun kemandirian teknologi, memperkuat ketahanan nasional, serta menjaga kedaulatan Indonesia di tengah dinamika global.

  🤝 
LEN Industri  

Sabtu, 07 Februari 2026

BRIN Kawal Riset Tank Ringan Nasional melalui Kolaborasi Industri

 🤝 Hingga tahap sertifikasi BRIN riset tank ringan nasional (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat perannya dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional melalui pengembangan riset kendaraan tempur tank ringan. Riset ini dikawal secara komprehensif hingga tahap kesiapan dan sertifikasi, serta dilaksanakan melalui skema kolaborasi dengan mitra industri.

Perkembangan riset tersebut disampaikan dalam rangkaian International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA) 2026 yang digelar di Hotel Trembesi BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Lukman Shalahuddin, menjelaskan bahwa riset kendaraan tempur tank ringan merupakan bagian dari prioritas riset strategis industri pertahanan.

“BRIN mengawal pengembangan kendaraan ini hingga mencapai tahapan sertifikasi. Masih terdapat sejumlah tantangan teknis, sehingga kami memastikan kendaraan benar-benar siap sebelum dinyatakan ready,” ujar Lukman pada Selasa (3/2).

Menurutnya, tahap awal riset difokuskan pada optimasi kinerja kendaraan, meliputi desain dan struktur bodi, pemilihan material, serta sistem penggerak. Pengembangan ini ditujukan untuk memastikan kendaraan mampu beroperasi secara andal dalam berbagai kondisi ekstrem.

P8 Light Tank (SSE)

Lukman menambahkan, cakupan riset ke depan akan diperluas tidak hanya pada kendaraan tempur tank ringan, tetapi juga mencakup pengembangan berbagai varian kendaraan taktis lainnya. Setelah fase optimasi tank ringan, pengembangan akan dilanjutkan pada varian seperti Armoured Personnel Carrier (APC) yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional militer, termasuk evakuasi dan dukungan medis.

Skema kolaborasi riset ini dirancang melibatkan tiga pihak, yakni BRIN, TNI Angkatan Darat, dan PT Sentra Surya Ekajaya (SSE). Saat ini, kerja sama antara BRIN dan PT SSE telah berjalan, sementara penjajakan kolaborasi dengan TNI AD masih berlangsung dan ditargetkan terealisasi dalam tahun ini, imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Project Manager PT SSE, Mardjuki, menyampaikan apresiasi terhadap peran BRIN sebagai mitra riset strategis. Menurutnya, BRIN memberikan dukungan keilmuan yang signifikan, mulai dari pengembangan mesin hingga struktur kendaraan.

“Kolaborasi dengan BRIN memberikan kontribusi penting dalam memastikan aspek teknis kendaraan dikembangkan secara ilmiah dan terukur. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan diperluas ke pengembangan kendaraan lainnya,” ujar Mardjuki.

Melalui kolaborasi riset ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam menjembatani riset dan kebutuhan industri, sekaligus mendorong lahirnya inovasi teknologi pertahanan yang siap diimplementasikan dan berdaya saing nasional. (aj/ed:ugi)

  ♞  BRIN  

PT Pindad & BRIN Jalin Kerja Sama Riset Material Laras Senjata

  Perkuat kemandirian indhan (Pindad)

PT Pindad bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani perjanjian kerja sama dalam rangkaian kegiatan BRIN Goes to Industry pada Kamis, 5 Februari 2026 berlokasi di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Penandatanganan dilaksanakan oleh Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma dengan Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN, Ika Kartika. Kerja sama antara PT Pindad dengan BRIN bernilai strategis dalam rangka mengakselerasi hilirisasi riset menuju kemandirian industri strategis nasional.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini mengenai Riset Pengembangan Material untuk Laras Senjata Berbasis Baja Paduan. Tujuan kerja sama ini adalah peningkatan kemandirian industri pertahanan melalui penggunaan material dan proses dalam negeri. Laras merupakan komponen utama dalam senjata api yang memerlukan ketahanan tinggi dari ledakan serta gesekan dengan amunisi yang meluncur.

Mengawali kegiatan, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen penandatanganan kerja sama strategis antara BRIN dengan berbagai pihak.

“Selanjutnya akan ada penandatanganan antara BRIN dengan PT Len Industri (Persero), lalu PT Pindad, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Chroma International dan PT Nuon Digital Indonesia dengan Asosiasi Game Indonesia. Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi, bahwa hari ini kita mengumpulkan periset-periset, universitas hingga industri strategis dan menjalin kerja sama. Kita berharap dengan berbagai kerja sama ini dapat mengakselerasi hilirisasi kemandirian industri strategis nasional.” Ucap Hendrian.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas mewakili Kepala BRIN menyampaikan permohonan maaf karena berhalangan hadir pada penandatanganan kerja sama hari ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang mendorong kemandirian industri strategis nasional.

“Saya mengucapkan permohonan maaf dari Kepala BRIN yang sedianya hadir pada pagi hari ini namun berhalangan karena ada kegiatan mendesak. Kami menyampaikan apresiasi terhadap seluruh mitra industri, perguruan tinggi, dan asosiasi insinyur professional atas kerja samanya dalam hilirisasi dan komersialisasi riset inovasi terkait industri mineral, industri proses, industri pertahanan maupun industri nuklir.” Jelas Sekretaris Utama BRIN.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menyampaikan bahwa kerja sama kali ini dengan BRIN bukanlah kali pertama. Beliau juga berharap bahwa hasil penelitian bersama ini dapat memaksimalkan tingkat kandungan dalam negeri terlebih bahan baku yang dibutuhkan ada di Indonesia.

“Sebelumnya, PT Pindad dengan BRIN sudah memiliki rekam jejak kerja sama bernilai strategis yang sudah menjadi produk, antara lain teknologi modifikasi cuaca dan Roket Rhan 122. Kerja sama kali ini juga bersifat strategis karena di Indonesia belum ada yang memproduksi material laras dan Pindad mendapatkan nilai manfaat yang besar. Apabila kita melihat TKDN produk senjata Pindad sudah mencapai 60-70%, dan hasilnya akan lebih maksimal dengan material laras senjata hasil dalam negeri.” Jelas Prima Kharisma.

Melalui kerja sama dengan BRIN, PT Pindad memperkuat sinergi antara industri pertahanan dan Lembaga riset nasional dalam mendorong penguasaan teknologi material strategis. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi riset menjadi produk serta mendukung terwujudnya kemandirian industri pertahanan nasional.

  🤝 
Pindad  

Jumat, 26 Desember 2025

BRIN Dorong N219 Jadi Solusi Konektivitas Wilayah Terpencil

  🛩 👷 Integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium(PTDI)

PT Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem kedirgantaraan nasional melalui kolaborasi riset yang lebih erat dengan industri.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala BRIN, Prof Arif Satria, saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Rabu (24/12/2025).

Arif menekankan pentingnya integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata industri (industry-led research).

“Kita harus memastikan bahwa setiap riset di bidang kedirgantaraan memiliki dampak ekonomi dan nilai tambah nyata bagi industri nasional,” ujar Arif dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Arif, PTDI merupakan pusat gravitasi inovasi teknologi tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, BRIN akan mendukung penuh melalui skema pendanaan riset, penggunaan fasilitas laboratorium bersama, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) periset.

  Fokus pada Pesawat N219
Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah meninjau perkembangan pesawat N219 Nurtanio, hasil kolaborasi antara BRIN dan PTDI. Pesawat bermesin ganda ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah terpencil di Indonesia.

Arif menyebutkan bahwa N219 memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi di kelasnya, terutama kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL).

"N219 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek, kurang dari 800 meter, bahkan yang tidak beraspal sekalipun. Ini solusi kunci untuk wilayah seperti pegunungan Papua atau daerah 3T lainnya," ujarnya.

Selain itu, pesawat ini memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dengan kapasitas 19 penumpang. Berkat sistem quick change, konfigurasi kabin dapat diubah dengan cepat untuk misi angkut kargo, evakuasi medis (medevac), hingga patroli maritim.

  Sinergi Riset dan Industri
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyambut baik dukungan dari BRIN. Ia menyatakan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk-produk dirgantara Indonesia.

"Dengan dukungan riset dari BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan," kata Gita.

PTDI merupakan satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan lengkap mulai dari desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat. Selain N219, PTDI juga telah sukses memasarkan produk unggulan lain seperti CN235 dan NC212i ke pasar internasional.
 

  🛩 
Republika  

Kamis, 25 Desember 2025

PT DI Menerima Kunjungan Kepala dan Wakil Kepala BRIN

  🛩 👷 🤝(PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menerima kunjungan kerja Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, bersama Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, disambut langsung oleh Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi dan manajemen PTDI di hanggar Final Assembly Line (FAL) PTDI, Bandung.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan BRIN meninjau sejumlah produk dan program strategis PTDI, antara lain pesawat CN235, N219, program MALE UCAV serta UAS Wulung, sekaligus mendengarkan paparan mengenai perkembangan dan timeline program N219 Amphibious dan MALE UCAV sebagai bagian dari program strategis nasional.

Pengembangan N219 Amphibious dilakukan melalui kerja sama PTDI dengan Momentum (USA) dalam penyediaan float kit.

Sementara itu, pada program MALE UCAV, PTDI akan mengeksplorasi potensi kerja sama dengan ALIT (China) dalam pengintegrasian sistem persenjataan (weapon integration), serta dengan Milkor (Afrika Selatan) dalam pengembangan prototipe airframe berbahan komposit penuh (full composite airframe prototyping) beserta subsistem yang telah teruji.

Melalui kunjungan ini, PTDI berharap memperoleh dukungan BRIN dalam bentuk pemanfaatan fasilitas pengujian dan kepakaran (expertise), pelaksanaan design review untuk subsistem dan teknologi kunci, pengembangan teknologi strategis, penyediaan fasilitas kualifikasi komponen dalam negeri, serta dukungan anggaran guna mempercepat pengembangan program MALE UCAV.

“Kami berharap pengembangan pesawat N219 tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pemerintah, tetapi juga dapat menembus pasar komersial. Dengan meningkatnya keterlibatan pasar swasta, skala ekonomi dapat tercapai sehingga harga menjadi lebih kompetitif. Setelah pasar domestik terpenuhi, pengembangan dapat diperluas ke kawasan Asia Tenggara hingga Afrika yang memiliki banyak wilayah terpencil. BRIN siap mendukung PTDI melalui kolaborasi riset, pemanfaatan fasilitas pengujian, serta penugasan peneliti agar pengembangan dapat berjalan lebih efektif dan produktif, sebagai langkah menuju era baru PTDI di pasar domestik dan global,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria.


  🛩 
PTDI  

Senin, 24 November 2025

Pesawat N219 Siap Diproduksi Lebih Banyak

Infografis Pesawat N-219 Nurtanio (tandaseru)

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, pesawat N219 siap diproduksi lebih banyak sesuai dengan pesanan pemerintah.

Produksi ini menjadi salah satu inovasi BRIN bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pesawat ini diketahui terbang perdana pada tahun 2017 lalu.

"Termasuk tentu industri alutsista. Di mana BRIN juga sudah memiliki sejumlah inovasi bersama PTDI, kita sudah memiliki N219 yang saat ini sudah siap untuk diproduksi lebih banyak lagi sesuai dengan pesanan pemerintah," kata Arif Satria, usai bertemu Presiden Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (24/11/2025).

Arif menyampaikan, alutsista menjadi salah satu topik pembicaraan yang diperbincangkan dengan Presiden Prabowo hari ini, termasuk terkait kontribusinya dalam persiapan pengembangan pesawat amfibi, N219A.

"Kita juga sedang mempersiapkan bagaimana membangun, memperkuat produksi sea plane. Jadi pesawat amfibi yang juga bisa mendarat di laut. Jadi, saya kira industri pesawat dengan PT Dirgantara kita sudah berkolaborasi," ucap dia.

Tak cuma PTDI, BRIN juga akan bekerja sama dan berkolaborasi dengan PT Pindad memproduksi Maung.

"Kita juga nanti akan berkolaborasi juga dengan Pindad yang memproduksi alutsista serta industri otomotif kita. Saya kira Maung yang sudah diproduksi oleh Pindad ini terus akan diperkuat R&D-nya," ujar dia.

  👷 Kompas  

Senin, 25 Agustus 2025

BRIN Validasi Model Dinamis Pesawat Nirawak PUNA dengan Simulasi HILS

BRIN validasi model dinamis pesawat nirawak PUNA dengan simulasi HILS (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan berbagai jenis Pesawat Udara Nirawak (PUNA), salah satunya PUNA Alap-alap. Pesawat tersebut dirancang untuk beragam misi, seperti pemantauan, pemetaan, dan pengambilan foto udara.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) BRIN, Eries Bagita Jayanti, menyampaikan bahwa pengembangan PUNA memerlukan model dinamis akurat. Karena validasi model masih jarang dan sering berbeda dengan uji terbang, PRTP BRIN menggunakan hardware-in-the-loop simulation (HILS).

“HILS merupakan kombinasi uji perangkat lunak, perangkat keras, antarmuka komunikasi, dan real-time hardware mesin. Melalui metode ini, pengujian dapat dilakukan secara waktu nyata sehingga kondisi simulasi mendekati uji terbang sebenarnya,” ujar Eries, dalam Talkshow Kelas Periset Edisi 6, Rabu (20/8).

Eries menjelaskan, pengembangan PUNA diawali dengan pembuatan model dinamis di MATLAB yang mencakup aerodinamika, propulsi, berat, dan sensor. Model tersebut kemudian dijalankan ke speed code yang terhubung dengan programmable system on chip (PSOC) dan QGround Control. Sehingga, data waypoint, perintah motor, dan respons sensor dapat diuji sebelum penerbangan.

Setelah HILS, dilakukan uji terbang untuk memperkuat validasi model. Dengan kombinasi keduanya, validasi menjadi lebih kuat, terstruktur, dan efisien.

Eries menuturkan, riset ini bertujuan mengembangkan model dinamis PUNA yang akurat berbasis data CFD dan parameter fisik, serta memvalidasinya melalui kombinasi HILS dan uji terbang.

Penelitian diharapkan menghasilkan model tervalidasi, panduan teknis, publikasi internasional, dan peningkatan kapasitas teknologi PUNA di Indonesia. Dengan pendekatan komprehensif berbasis data multisumber dan penerapan HILS, penelitian ini diyakini mampu menekan risiko, mengurangi biaya, serta menjadi referensi bagi peneliti dan pengembang PUNA.

Peneliti Ahli Pertama PRTP BRIN, Angga Septiyana, menyampaikan bahwa timnya telah berhasil melakukan simulasi aerodinamika untuk memperoleh koefisien dan karakteristik aerodinamika yang penting bagi model dinamis pesawat.

Gaya aerodinamika seperti samping, angkat, hambat, dorong, serta momen roll, pitch, dan yaw harus diperoleh secara akurat. Tim menggunakan metode CFD dengan perangkat lunak ANSYS Fluent, VLM, Air Surveillance NIMA, dan DATCOM untuk menghasilkan data aerodinamika yang lebih lengkap dan valid.

Menurut Angga, simulasi mencakup gerakan translasi dan rotasi pesawat, termasuk pitch, yaw, dan roll, untuk memperoleh grafik dan data koefisien aerodinamika yang diolah secara matematis, salah satunya melalui pendekatan Direct Fourier.

Simulasi juga menilai pengaruh defleksi bidang kendali aileron, elevator, dan rudder terhadap kestabilan terbang. Selain itu, dilakukan uji statis electric engine dengan testband berisi sensor gaya dorong, momen torsi, suhu, arus, dan tegangan untuk memvalidasi model propulsi pesawat.

Angga menyampaikan, PRTP BRIN mengembangkan Flight Test Instrumentation untuk PUNA, yang merekam data penerbangan secara paralel dengan flight control menggunakan PSOC, Piccolo, atau Ardupilot. Instrumen ini melengkapi data penerbangan untuk mendukung pengujian berbasis HILS. (dv/ed:jh, tnt)

  🛩
BRIN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...