Tampilkan postingan dengan label Operasi Intelejen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Operasi Intelejen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2026

[Global] 20 Update Baru Perang Iran

140 Tentara AS Luka & Trump Omong Doang Tel aviv black out (Ist)

Perang masih terus berkecambuk di Timur Tengah. Sejak serangan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke Iran 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei pertempuran terus berkecamuk.

Lalu bagaimana updatenya di hari ke-11 perang? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Rabu (11/3/2026).

  1.140 Tentara AS Terluka
Pentagon mengatakan bahwa sekitar 140 personel militer AS telah terluka dalam serangan dalam perang Iran. Sebelumnya, tujuh anggota militer AS di awal konflik yang telah diberikan oleh militer AS.

  2.Tidak Ada Gencatan Senjata
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan di media sosial tak negara itu tak akan mau melakukan gencatan senjata. "Kami tidak mencari gencatan senjata," tegasnya.

Ia mengatakan Amerika dan Israel harus "diberi pelajaran". Ini, ujarnya, akan membuat mereka kapok menyerang Iran lagi.

  3.Ledakan di Teheran
Tiga ledakan terjadi di Teheran Selasa malam. Namun belum ada informasi langsung tentang target yang dituju.

  4.Israel Umumkan Serangan Baru
Rabu pagi, militer Israel mengatakan bahwa mereka telah melancarkan "gelombang serangan" baru terhadap Teheran. Ini dikatakan setelah serangkaian ledakan terdengar di Teheran.

"IDF (militer) telah memulai gelombang serangan tambahan terhadap target rezim teror Iran," tulis militer Israel di saluran Telegram resminya.

  5.Iran Luncurkan Serangan Balasan Baru
Iran meluncurkan rentetan rudal baru. Menurut Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) kota-kota Israel termasuk Tel Aviv menjadi target, termasuk kepentingan AS di wilayah tersebut.

  6.Pertemuan Darurat IEA
Negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) bertemu untuk pembicaraan krisis. Ini guna menilai keamanan pasokan minyak dan potensi pelepasan stok darurat karena perang di Timur Tengah mengganggu pasar.

  7.Trump Warning Ranjau di Selat Hormuz
Trump memberi peringatan agar Iran tidak memasang ranjau di Selat Hormuz. Ini dikatakannya saat mengumumkan bahwa pasukan AS telah menghancurkan 10 kapal pemasang ranjau Iran.

Ia pun mengancam Teheran tentang konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya jika menargetkan Selat Hormuz. Komentar Trump muncul setelah Teheran bersumpah bahwa tidak ada minyak Teluk yang akan melewati selat tersebut, karena harga minyak tetap sangat fluktuatif akibat terhentinya pengiriman barang.

  8.Harga Minyak Anjlok
Harga minyak mentah turun dan sebagian besar saham naik karena negara-negara pengimpor minyak membahas kemungkinan pelepasan cadangan sambil memantau Selat Hormuz, jalur air minyak utama yang sepi lalu lintas. Patokan harga minyak internasional, Brent anjlok 11,3% menjadi US$ 87,80 per barel, sehari setelah mendekati US$ 120.

  9.Drone Ukraina
Para ahli militer Ukraina di bidang pertahanan drone akan pergi ke Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi minggu inI. Mereka akan datang guna membantu negara-negara Teluk menangkis serangan Iran.

Ukraina sendiri berpengalaman dengan serangan drone Shahed Iran. Drone tersebut dipakai Rusia menyerang Ukraina.

  10.Peretasan Kamera
Direktorat keamanan siber Israel mengatakan telah mengidentifikasi puluhan peretasan yang dilakukan Iran ke kamera keamanan Israel untuk tujuan spionase sejak awal perang. Israel mendesak masyarakat untuk memperbarui kata sandi dan perangkat lunak mereka.

  11.Iran Tangkap 30 Mata-Mata
Kementerian Intelijen Iran mengumumkan penangkapan 30 orang yang dituduh memata-matai negara itu "atas nama musuh Amerika-Zionis". Mereka yang ditangkap termasuk seorang warga negara asing, yang kewarganegaraannya tidak diungkapkan.

  12.Diplomat Tewas
Iran menuduh Israel membunuh empat diplomatnya dalam serangan akhir pekan di sebuah hotel di Beirut. Hal ini terungkap dalam sebuah surat yang ditujukan kepada kepala PBB.

  13.Kilang Minyak Ditutup
Salah satu kilang minyak terbesar di dunia, fasilitas Ruwais di UEA, menghentikan operasinya sebagai "tindakan pencegahan". Ini setelah serangan pesawat tak berawak terhadap kompleks industri tempatnya berada, kata sebuah sumber kepada AFP.

  14.Bencana Minyak
Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah dapat memiliki "konsekuensi bencana" pada pasar minyak. Perusahaan itu menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang biasanya membawa sekitar 20% pasokan minyak global tetapi telah ditutup oleh konflik tersebut.

  15.Putin Minta Setop Perang
Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan "de-eskalasi" konflik Iran. Hal ini terungkap dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, kata Kremlin.

"Pezeshkian berterima kasih kepada Rusia atas dukungannya, khususnya atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada Iran," tambah Kremlin, membenarkan bahwa Moskow telah mengirimkan bantuan kepada sekutunya, Teheran.

  16.Evakuasi Kedutaan
Denmark dan Belanda mengumumkan bahwa mereka memindahkan staf kedutaan mereka di Teheran ke Azerbaijan. Evakuasi sebelum ya juga dilakukan AS ke staf-staf nya di negara Arab.

  17.Tidak Ada Agenda Berbicara dengan Amerika
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada stasiun televisi AS PBS bahwa negerinya "tidak memasukkan agenda berbicara dengan AS". "Saya rasa berbicara dengan Amerika tidak akan ada dalam agenda kami lagi", ujarnya menambahkan bahwa Teheran memiliki "pengalaman yang sangat pahit" selama negosiasi sebelumnya.

  18.Belum Selesai
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan terhadap Iran "belum selesai". Ia tiba-tiba menyinggung rakyat Iran, menyebut keinginan Israel membebaskan Iran dari pemerintah saat ini.

"Aspirasi kami adalah untuk membawa rakyat Iran melepaskan diri dari belenggu tirani; pada akhirnya, itu tergantung pada mereka," ujarnya.

"Tetapi tidak diragukan lagi bahwa dengan tindakan yang telah diambil sejauh ini, kami sedang menghancurkan mereka... dan kami belum selesai," tambahnya lagi.

  19.Serangan Israel Menghantam Lebanon
Serangan Israel terbaru menghantam pinggiran selatan Beirut dan Lebanon selatan setelah tentara Israel memperingatkan warga untuk mengungsi. Otoritas Lebanon mengatakan hampir 760.000 orang telah terdaftar sebagai pengungsi.

Lebanon terseret ke dalam perang pekan lalu ketika kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, menyerang Israel sebagai tanggapan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan AS-Israel.

  20.Trump "Omong Doang"
Pernyataan Trump yang mengatakan AS akan mengawal kapal tanker minyak apapun melalui Selat Hormuz belum terbukti. Kemarin, Gedung Putih bahkan menghapus postingan di akun media sosial menteri energi mereka.

Awalnya Menteri Energi AS Chris Wright mengunggah pernyataan yang menyebut bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, Selasa. Tapi ternyata, postingan itu tiba-tiba dihapus, hanya beberapa menit setelah akunnya mengunggahnya.

"Saya dapat mengkonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini, meskipun tentu saja itu adalah pilihan," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah konferensi pers.

Militer Iran IRGC juga mengatakan pada hari Selasa bahwa tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang "berani" mendekati Selat Hormuz. Iran mengatakan klaim AS adalah kebohongan.

"Tidak satu pun kapal perang AS yang berani mendekati bahkan Laut Oman, Teluk Persia, atau Selat Hormuz selama perang," kata juru bicara Garda, Ali Mohammad Naini, menyebut klaim tersebut sebagai "kebohongan belaka". (sef/sef)

  👹  CNBC  

Selasa, 03 Maret 2026

Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika

🛩  ⦻ Efektif kuras rudal mahal Drone kamikaze Iran (Ist)

Drone kamikaze Shahed-136 Iran kembali menjadi sorotan, setelah digunakan dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Teluk Arab akhir pekan lalu.

Setelah terbukti efektif dan relatif murah di medan perang Ukraina, drone tersebut kini dilepaskan ke sejumlah negara Teluk, menimbulkan kerusakan signifikan di tengah eskalasi konflik yang oleh AS dinamai Operasi Epic Fury.

Video terverifikasi New York Times pada Sabtu (28/2/2026) menunjukkan Shahed-136 menghantam bangunan di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Rekaman dari Manama, ibu kota Bahrain, memperlihatkan drone berbentuk segitiga itu menabrak sisi gedung apartemen bertingkat tinggi hingga memicu kebakaran, membuat puing-puing berhamburan.

Suara dengungan khas mesin drone terdengar jelas sebelum benturan terjadi.

  Drone murah kuras rudal mahal  
Spesifikasi drone Shahed-136 buatan Iran yang dipaparkan Badan Distribusi Informasi Visual Pertahanan (DVIDS) Amerika Serikat, dari puing-puing yang diambil Angkatan Laut AS pada 16 November 2022.(DVIDS via AFP)
New York Times melaporkan, Shahed-136 merupakan bagian dari keluarga drone Shahed yang dalam bahasa Persia berarti “saksi”.

Drone ini dirancang sebagai kendaraan udara tak berawak berbiaya rendah, yang dapat berfungsi seperti rudal berpemandu karena terbang menuju target yang telah ditentukan.

Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), cabang militer ideologis yang melindungi sistem pemerintahan Iran.

Iran memproduksi Shahed-136 setidaknya sejak 2021 dan pernah menggunakannya di Irak sebelum konflik terbaru.

Drone serang satu arah ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan rudal tradisional, terutama dari sisi biaya.

Satu unit Shahed-136 dapat diproduksi dengan biaya "hanya" 35.000 dollar AS (Rp 590 juta) dan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer.

Sebaliknya, biaya untuk mencegat satu drone oleh militer Amerika bisa mencapai antara 500.000 dollar AS (Rp 8,4 miliar) hingga 4 juta dollar AS (Rp 67,4 miliar).

Seth Frantzman, ahli perang drone, menilai efektivitas Shahed tidak terletak pada kecanggihannya, melainkan pada kombinasi harga murah dan kemampuan diproduksi massal.

Mereka memberi Iran sistem senjata murah sekelas angkatan udara,” kata Frantzman, penulis buku Drone Wars: Pioneers, Killing Machines, Artificial Intelligence, and the Battle for the Future (2021), dilansir dari Daily Mail, Senin (2/3/2026).

Menurut dia, meskipun tidak seefektif senjata lain dalam hal presisi atau daya hancur, drone ini kadang mampu menghindari sistem pertahanan udara mahal dan menyebarkan kekacauan.

  Contoh penggunaan drone Shahed  
Drone Shahed Iran menghantam sistem radar Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain. (ist)
Dalam eskalasi terbaru, Iran meluncurkan serangan ke Israel serta pangkalan AS dan sekutunya di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.

Dengan menyebarkan serangan di lebih dari lima medan operasi sekaligus dan mempertahankan lebih dari 2.500 drone per hari, Teheran memaksa lawan-lawannya membagi pertahanan.

Setiap pencegat yang digunakan untuk melindungi satu pangkalan tidak dapat dialihkan ke lokasi lain karena jumlahnya terbatas.

Kondisi tersebut memaksa perencana militer menyebarkan sumber daya di ribuan kilometer wilayah, sehingga perlindungan di tiap titik menjadi lebih lemah.

Data intelijen sumber terbuka dan analisis pertahanan memperkirakan, total armada Shahed di semua varian mencapai antara 80.000-100.000 unit.

Produksi yang masih berjalan sekitar 500 unit per bulan memungkinkan Iran, jika mengerahkan kapasitas penuh, meluncurkan gelombang lebih dari 2.500 drone per hari selama sebulan.

  Stok rudal pencegat menipis  
Perisai udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) saat ditempatkan oleh militer Amerika Serikat di Israel pada 4 Maret 2019. Senjata ini kembali disiapkan dalam ancang-ancang serangan AS ke Iran, Januari 2026. (DVIDS/CORY PAYNE via AFP)
Sejumlah pejabat dan analis Barat memperingatkan, persediaan pencegat akan kesulitan mengimbangi laju tersebut.

Tekanan terhadap stok amunisi sudah terlihat sejak pertempuran pada Juni 2025 yang menguras persediaan secara signifikan.

Selama konflik musim panas lalu, Amerika Serikat menembakkan sekitar 150 pencegat THAAD dalam 12 hari untuk mempertahankan Israel, setara sekitar seperempat dari total persediaannya.

Setiap pencegat THAAD bernilai sekitar 15 juta dollar AS (Rp 253 miliar) dan memerlukan waktu tiga hingga delapan tahun untuk diproduksi ulang.

Saat ini sistem yang sama digunakan di berbagai negara sekaligus karena intensitas serangan Iran terus berlanjut.

Keterbatasan tidak hanya terjadi pada pencegat, tetapi juga pada rudal jelajah Tomahawk (TLAM) yang diluncurkan dari laut, serta senjata yang diluncurkan dari pesawat.

Situasi ini terjadi setelah AS-Israel melancarkan serangan terhadap kepemimpinan serta situs militer Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, penguasa Iran selama 37 tahun.

Iran kemudian membalas dengan rudal dan drone ke berbagai negara Timur Tengah yang menampung pasukan AS.

Ali Larijani, pejabat senior Iran, menulis di media sosial pada Minggu bahwa Iran tidak menyerang negara-negara Arab. Ia menyatakan sasaran Iran adalah pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS.

  Rusia juga pakai, AS tiru model Shahed  
Drone kamikaze tiruan amerika gagal dan jatuh di Iraq (X)
Di luar kawasan Teluk, Shahed-136 sebelumnya digunakan Rusia untuk menyerang infrastruktur sipil di Ukraina.

Rusia memproduksi versi dalam negeri yang dikenal dengan nama Geran di pabrik terpencil timur negara itu, lalu memodifikasinya selama invasi ke Ukraina.

Akhir tahun lalu, AS mengumumkan pengerahan drone serang satu arah bernama LUCAS, hasil rekayasa balik Shahed oleh perusahaan Arizona, SpectreWorks.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, drone tersebut dikerahkan untuk kali pertama dalam kampanye melawan Iran, tetapi klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.

Presiden AS Donald Trump baru saja mengatakan bahwa perang dapat berlanjut hingga empat minggu ke depan.

Jika konflik berkepanjangan, persediaan pencegat dan amunisi mahal AS berpotensi menjadi persoalan serius di tengah gelombang serangan drone murah Iran yang terus berlanjut.

  🛩
Kompas  

Kamis, 14 Agustus 2025

Profil Letda (Purn) Darius Bayani: 'Rambo' TNI yang Terima Bintang Sakti Prabowo

Presiden RI Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Sakti pada Darius Bayani di Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Pusdiklat Passus Kopassus, Minggu (10/8/2025). (YouTube/ Puspen TNI)

Presiden Prabowo Subianto memberikan bintang kehormatan kepada Letda (Purn) Darius Bayani pada Minggu (10/8). Putra asli Papua ini menerima tanda kehormatan Bintang Sakti atas jasanya selama berkarier di TNI. Darius mendapat bintang kehormatan atas jasasnya dalam operasi Mapenduma 1996. Dalam operasi itu, OPM atau disebut Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) kala itu, menyandera 26 anggota Ekspedisi Lorentz ‘95.

GPK pimpinan Kelly Kwalik ini membawa sandera ke Mapenduma, sekitar 160 km barat daya Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya sekarang Provinsi Papua Pegunungan.

Darius merupakan salah satu tokoh yang mencolok dalam operasi itu. Prabowo bilang, saat operasi dilakukan, Bayani masih berpangkat pembantu letnan satu alias peltu. Prabowo memuji keberanian Bayani.

"Jika ada Rambo di TNI, saya kira Bayani bisa memenuhi syarat untuk jadi Rambo," ujar Prabowo dalam tulisannya pada 15 Maret 2023. Bintang Sakti diberikan kepada prajurit yang menunjukkan keberanian, keperwiraan, dan jasa luar biasa dalam pertempuran atau operasi militer strategis baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Prabowo menganugerahkan Bintang Sakti pada Darius Bayani dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Pusdiklat Kopassus, Batujajar, Bandung, pada Minggu (10/8).

  Sekilas Profil Darius Bayani 
Bayani (kanan) dalam postingan resmi Presiden RI Prabowo Subianto semasa muda. (Facebook/Prabowo Subianto)
Prabowo pernah menulis sendiri mengenai sosok Darius Bayani. Prabowo mengatakan, dirinya mengenal Darius Bayani setelah mendapat rekomendasi dari seniornya, yakni Mayor Zacky Anwar.

Zacky, kata Prabowo, mengenal Bayani dari operasi di Irian Barat.

"Menurut Pak Zacky Anwar, Bayani adalah prajurit yang hebat di lapangan. Dia memiliki teknik lapangan yang hebat, kekuatan fisik yang hebat, dia bisa bergerak di hutan secara diam-diam," tulis Prabowo di akun media sosialnya pada 15 Maret 2023.

Prabowo lantas menceritakan sepak terjang Peltu Bayani saat operasi pembebasan sandera Mapenduma yang membebaskan sejumlah peneliti yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Lorentz ‘95 yang disandera kelompok GPK di daerah Mapenduma, Papua, pada 1996.

Berikut kesaksian Prabowo terhadap sosok Darius Bayani dalam tulisannya pada 15 Maret 2023:

Hari ini saya ingin berbagi kisah seorang putra daerah Papua namanya Peltu Bayani. Bayani dikenal begitu berani sehingga dia pernah menyusup ke kamp gerilya musuh sendirian tanpa senjata. Dia melewati para penjaga menuju orang-orang yang berkerumun di sekitar api unggun.

Dia meraih senapan mereka dan mengalahkan mereka. Ia bawa mereka kembali sebagai tahanan. Dia adalah tentara yang selalu tersenyum, suka bercanda juga. Jika ada Rambo di TNI, saya kira Bayani bisa memenuhi syarat untuk jadi Rambo.

Bayani direkomendasikan kepada saya oleh senior saya saat itu, Mayor Zacky Anwar, yang mengenal Bayani dari operasi di Irian Barat. Menurut Pak Zacky Anwar, Bayani adalah prajurit yang hebat di lapangan. Dia memiliki teknik lapangan yang hebat, kekuatan fisik yang hebat, dia bisa bergerak di hutan secara diam-diam.

Satu kisah yang ingin saya ceritakan tentang Peltu Bayani terkait operasi pembebasan sandera Mapenduma, yaitu operasi militer untuk membebaskan sejumlah peneliti yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Lorentz ‘95 yang disandera kelompok GPK di daerah Mapenduma, Papua pada tahun 1996.

Dalam upaya membebaskan sandera tersebut, saya membentuk tim inti pembaca jejak yang terdiri dari pasukan Kopassus dan pasukan Kodam Cenderawasih. Mereka semua putra daerah. Kami memberi nama Tim Kasuari, dengan dipimpin langsung Bayani. Tugas mereka adalah masuk ke daerah yang paling sulit.

Pada tahun 1996, TNI tidak memiliki satelit, drone, dan pesawat pengintai yang baik sehingga sangat sulit untuk mendapatkan data intelijen yang mutakhir atau real time intelligence. Bahkan kita tidak memiliki peta topografi dengan skala 1:50.000. Yang ada hanya satu peta bagan yang terbuat dari tangan. Peta inilah yang akhirnya kita perbanyak.

Menjelang saya memutuskan operasi akan dimulai, saya diberi tahu oleh peninjau dari luar negeri, yaitu dari Inggris. Mereka menyampaikan bahwa mereka telah berhasil menyelundupkan satu alat "beacon" pada saat mereka menitip obat-obatan, makanan, pakaian melalui Palang Merah Internasional kepada para sandera.

Menurut mereka, beacon ini bisa memberi sinyal dan menentukan exact location. Mereka menggunakan helikopter untuk mencari sinyal "beacon" tersebut. Setelah sinyal tersebut tertangkap dari atas helikopter, mereka menentukan exact location sasaran.

Setelah beberapa saat, mereka pun kembali dengan helikopter yang saya pinjamkan. Lalu mereka memberikan titik koordinat exact location sasaran kepada saya. Setelah kami cek, titik sasaran berada di suatu gunung yang tinggi dan bisa kelihatan dari posko saya. Namun, keberadaan titik tersebut di luar enam sasaran yang diberikan oleh Tim Intelijen saya.

Dihadapkan pada dua pilihan yang berbeda, insting saya kemudian mengatakan lebih baik saya bertanya pada orang yang berpengalaman dan menguasai wilayah tersebut. Akhirnya saya memanggil Bayani. Saya meminta tanggapannya atas informasi yang diberikan oleh pakar dari Inggris tersebut. Bayani menepisnya. Bayani kemudian memberikan penjelasan yang saya tidak pernah lupa setelah sekian puluh tahun. Dengan logat khas Papua dia mengatakan, "Bapak, jangankan Kelly Kwalik, monyet pun tidak mau tinggal di situ. Tidak ada air di situ. Bapak, bagaimana sekian puluh orang berada di atas tanpa air."

Inilah kecerdasan dari seorang pribumi, putra daerah. Dia lebih tahu kondisi setempat dibandingkan dengan orang asing yang datang dari jauh walaupun membawa alat yang canggih.

Saya pun memutuskan untuk menyerang enam titik sesuai hasil kajian Tim Intelijen saya. Akhirnya kami berhasil membebaskan sandera. Walaupun jatuh korban dari pihak kita dan dari pihak sandera. Dari 26 sandera, tiga orang dibunuh oleh penyandera. Sisanya lepas termasuk semua orang asing.

Keberhasilan operasi pembebasan sandera Mapenduma ini telah mengangkat wibawa TNI, Pemerintah Pusat, dan Republik Indonesia.

Saya merasa sangat bangga atas keberhasilan ini. Namun, sekarang saya sadar bahwa keberhasilan itu juga karena adanya keberanian dan ketegasan seorang bintara.

Dengan percaya diri, dia berhasil meyakinkan seorang jenderal, seorang perwira tinggi Indonesia. Dia telah berperan besar dalam menyelamatkan wajah bangsa Indonesia.

Saya bersyukur bahwa naluri saya benar untuk mengikuti anak buah saya sendiri dan tidak terintimidasi untuk terlalu mengandalkan teknologi barat yang canggih.

Seorang perwira Inggris bahkan berkomentar: "Hanya James Bond yang bisa melakukan ini. Hanya James Bond yang bisa berhasil dalam jenis operasi ini." Setelah kami berhasil, mungkin orang asing ini sekarang akan menganggap kami setara dengan James Bond. Perbedaan terbesarnya adalah, James Bond adalah fiksi. Tentara kami nyata dan kami berhasil dalam kenyataan, bukan dalam film.

  ⭕ 
Kumparan  

Jumat, 07 Februari 2025

Kisah Intelijen Kopassus 100 Prajurit Berambut Gondrong Bergerak di Pedalaman Timor Timur

Satgas Intelijen Kopassus dipimpin Mayor TNI Yunus Yosfiah yang beranggotakan 100 personel berambut gondrong diturunkan di pedalaman Timor-Timur awal 1975. (Foto/Ist)

SATGAS Intelijen Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dipimpin Mayor TNI Yunus Yosfiah yang beranggotakan 100 personel diturunkan di wilayah pedalaman Timor-Timur (Timtim) pada awal 1975 silam.

Satgas ini dibagi menjadi tiga tim yang diberi sandi nama perempuan yakni, Susi, Tuti dan Umi. Setiap tim beranggotakan 100 personel sebagai bagian dari tim Operasi Flamboyan.

Tim Susi dipimpin Mayor Infanteri Yunus Yosfiah dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sunarto.

Sedangkan Tim Tuti dipimpin Mayor Infanteri Tarub dengan wakilnya Kapten Infanteri Agus Salim Lubis.

Sementara Tim Umi dipimpin Mayor Infanteri Sofian Effendi dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sutiyoso.

Satgas Intelijen Kopassus ini merupakan pasukan intelijen tempur dalam Operasi Flamboyan.

Ketiga tim tersebut disusupkan dengan penyamaran. Setiap personel memiliki ciri khas berambut gondrong, berpakaian sipil, kemeja dan celana jeans. Dilengkapi dengan topi dan selendang khas Timor Portugis.

Di kemudian hari, ketiga tim ini dikenal dengan sebutan The Blue Jeans Soldiers yang melegenda.

Letjen TNI (Purn) Sutiyoso mengabadikan perjuangannya dalam tugas di medan operasi Timor Timur dalam buku “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando”.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengisahkan ketika menjalankan tugas rahasia ke perbatasan Timor Portugis atau Timor-Timur (Timtim) yang saat ini disebut Timor Leste.

Sutiyoso yang saat itu berpangkat Kapten dipanggil Ketua G-1/Intelijen Hankam Mayjen TNI LB Moerdani untuk menjalankan tugas penting ke Timor Timur.

Dia ditugasi oleh LB Moerdani untuk memantau perkembangan situasi politik dan keamanan daerah tersebut yang semakin genting. Sutiyoso ditugaskan secara klandestin atau rahasia pra Operasi Sandiyudha terbatas yang kemudian dikenal dengan sandi Operasi Flamboyan.

 Nama Samaran
Semua anggota Satgas diberi nama samaran. Sebagai Kasi Intel Satgas, Sutiyoso memilih nama Manix. Nama tersebut terinspirasi dari film mata-mata. Hingga akhirnya Sutiyoso dikenal dengan panggilan Kapten Manix.

Tepat pada 27 Agustus 1975 Tim Umi yang dipimpin Mayor Infanteri Sofian Effendi dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sutiyoso kemudian diterbangkan ke Kupang untuk selanjutnya ke Atambua, kota terdekat Indonesia ke Timor Portugis.

Setibanya di Atambua, upaya penyusupan yang rencananya dilakukan melalui Kefamenanu untuk menguasai Ambeno dibatalkan.

Hingga akhirnya Tim Umi diperintahkan melanjutkan perjalanan ke Motaain sebuah desa pantai di wilayah RI yang hanya berjarak 3 Km sebelah barat Kota Batugede, wilayah Timor Portugis.

Dalam situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya Tim Umi diperintahkan untuk menyusup jauh ke daerah pedalaman pegunungan di selatan Viquque.

Saya dan pasukan mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viquque yang terletak jauh dari basis. Tapi sebagai seorang prajurit, kita selalu siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya apapun risikonya,” kenang Sutiyoso.

Karena keterbatasan pasukan, Tim Umi saat di Kotabot kemudian dibagi dua, Tim Umi di bawah Mayor Inf Sofian Effendi menyusup ke Tilomar.

Sedangkan Tim Umi dipimpin Sutiyoso menyusup ke Suai. Inilah penyusupan terjauh saat Operasi Flamboyan.

Menjelang tengah malam, ketika mendekati Suai, pasukan kemudian dibagi dua mengingat ada dua sasaran yang menjadi target yakni markas polisi dan markas tentara.

Sutiyoso menyasar markas tentara. Sedangkan, pasukan kecil dipimpin Letnan Bambang bergerak menuju markas polisi.

Tepat pukul 01.00 waktu setempat, Sutiyoso memberi isyarat dengan melepas tembakan. Kedua tim kemudian secara serentak melakukan penyerangan ke markas polisi dan tentara.

Terjadi perlawanan sengit. Setelah pertempuran selama 20 menit, Sutiyoso melepas tembakan sebagai isyarat untuk mundur sesuai strategi hit and run.

Saat itu, Sutiyoso mendapat laporan Sersan Parman yang bertugas sebagai penembak roket launcher tertembak di kakinya. Begitu pula pembantunya Sarwono tertembak sehingga satu jari tangannya putus. Termasuk empat anggota lainnya yang tertembak.

Praktis upaya pergerakan Tim Umi yang dipimpin Sutiyoso untuk kembali ke Kotabot terhambat karena harus bertempur dan membopong empat anggotanya yang tertembak.

Di tengah kejaran pasukan musuh, pertempuran sengit terus terjadi. Sutiyoso dengan tiga anggota kemudian membopong mereka yang terluka sambil memanggul senjata.

Bahkan, anggota yang dipapah Sutiyoso meminta supaya dia ditinggal dan dibekali granat. Tapi Sutiyoso tidak tega.

Mereka terus bergerak. Sutiyoso bersama timnya belum makan. Rasa lapar dan haus mulai menyerang. Hingga di suatu tempat yang cukup aman, Sutiyoso kemudian membuka radio dan meminta dikirim bantuan helikopter.

Namun karena terbang terlalu tinggi sehingga isyarat kepulan asap yang dibuat Sutiyoso tidak terlihat. Tapi Sutiyoso tidak mau menyerah, Kolonel Dading kembali dihubungi untuk mengirim helikopter lagi.

Namun lagi-lagi helikopter tidak dapat melihat titik kepul asap yang dibuat pasukan Sutiyoso.

Akhirnya, Sutiyoso menembakkan pistol dengan tembakan isyarat warna hijau. Meski upaya tersebut berhasil. Namun hal itu juga membuat pasukan Fretilin mengetahui keberadaan pasukan Sutiyoso.

Di tengah serangan pasukan Fretilin, Sutiyoso meletakkan senjata dan ransel untuk membopong anggotanya yang terluka naik ke helikopter. Setelah berjuang keras, keempat anggota yang tertembak berhasil dievakuasi menggunakan helikopter.

Sutiyoso dan pasukannya kembali bergerak mencari jalan menuju perbatasan. Namun karena Fretilin sudah menyebar di mana-mana sehingga perjalanan yang semula direncanakan selama 10 hari harus ditempuh dalam waktu 15 hari.

Selama 5 hari Sutiyoso dan personel Tim Umi yang tersisa sudah kehabisan logistik. Ditambah lagi makanan tidak ada, begitu juga air minum. Di tengah keletihan, rasa lapar dan haus yang luar biasa itu, Sutiyoso tidak mau mengendorkan kewaspadaan.

Dalam upaya melepaskan diri dari kejaran Fretilin, Sutiyoso juga melarang anggotanya untuk melepaskan tembakan kecuali sangat diperlukan untuk mempertahankan diri karena peluru mereka masing-masing tinggal 20 butir dari semula 250 butir.

Sutiyoso bersama pasukannya bergerak menyusuri jalur pantai mengingat beberapa jalur telah di sekat oleh Fretilin. Satu per satu pasukannya bergerak pada malam hari.

Akhirnya mereka selamat sampai di perbatasan dan masuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua anggota pasukan selamat meski kondisinya terlihat amat kurus tak terkecuali Sutiyoso karena selama lima hari tidak makan. (shf)

  💥 sindonews  

Selasa, 15 Oktober 2024

[Teror] Kisah Upaya Pembunuhan Nicolas Maduro

 CIA, Navy Seal, dan Uang Tunai USD15 Juta 
https://pict.sindonews.net/webp/732/pena/news/2024/10/13/45/1472231/ini-kisah-cia-navy-seal-dan-uang-tunai-usd15-juta-dalam-upaya-pembunuhan-nicolas-maduro-fkw.webpCIA dan Navy Seal berniat membunuh Nicolas Maduro. (Foto/easy-peasy)

I
tu adalah kisah yang sangat menyentuh hati, tepat pada saat Natal.

Pada tanggal 20 Desember tahun lalu, Amerika Serikat berhasil membebaskan 10 warga negara AS dari Venezuela – enam di antaranya ditahan secara salah – dengan imbalan sekutu dekat Presiden otoriter Nicolas Maduro dan komitmen dari Caracas bahwa mereka akan berhenti menahan warga Amerika untuk digunakan sebagai pion negosiasi.

Pemerintah telah menjelaskan dengan sangat jelas harapan bahwa warga Amerika lainnya tidak akan ditahan, dan telah mengamankan komitmen terkait hal tersebut,” seorang pejabat AS yang ceria mengumumkan pada saat itu, dilansir CNN.

Kesepakatan itu, yang juga mencakup ekstradisi mantan kontraktor militer yang dikenal sebagai “Fat Leonard” yang mengatur skandal korupsi terbesar dalam sejarah Angkatan Laut AS, dipuji sebagai pencairan hubungan dalam kebuntuan yang telah berlangsung lama antara kedua negara yang telah melihat AS menjatuhkan sanksi terhadap Venezuela dan menuduh pemimpinnya secara ilegal merebut kekuasaan, menyalahgunakan hak asasi manusia, dan memperdagangkan narkoba.

Namun, hampir setahun kemudian, suasana berubah menjadi lebih seperti tipuan Halloween daripada suguhan Natal.

AS mengatakan klaim rencana CIA untuk membunuh Maduro adalah "salah kategori" setelah Venezuela menangkap enam warga negara asing.

Venezuela baru-baru ini mengumumkan telah menahan sedikitnya empat warga negara AS, bersama dengan beberapa warga negara asing lainnya, dengan tuduhan bahwa mereka adalah bagian dari konspirasi internasional yang didalangi oleh CIA dan intelijen Spanyol untuk menggulingkan Maduro.

Klaim tersebut telah dibantah keras oleh pemerintah AS dan Spanyol.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan klaim tersebut "salah kategori" dan mengisyaratkan bahwa penahanan tersebut terkait dengan kritik Amerika terhadap pemilihan presiden Venezuela yang disengketakan, yang diklaim dimenangkan Maduro meskipun ada skeptisisme yang meluas. Amerika Serikat "terus mendukung solusi demokratis untuk krisis politik di Venezuela," kata Departemen Luar Negeri, dengan tegas, saat mengomentari tuduhan tersebut.

Jadi, apakah klaim Venezuela itu benar? Dan jika tidak, apa yang diharapkan Maduro dengan kembali ke buku pedoman lama?

 1. Skenario Bergaya Hollywood 

Rincian dugaan rencana itu seperti naskah film thriller Hollywood. Menteri Dalam Negeri Maduro, Diosdado Cabello mengklaim bahwa orang asing yang ditahan - yang juga termasuk dua orang Spanyol dan seorang Ceko - adalah bagian dari unit bayangan yang melakukan perjalanan ke Venezuela untuk membunuh Maduro, yang tampaknya dimotivasi oleh hadiah hingga $ 15 juta yang ditawarkan Departemen Kehakiman AS pada tahun 2020 untuk informasi yang mengarah pada penangkapan atau hukumannya.

Menurut Cabello, rencana tersebut tidak hanya melibatkan CIA tetapi juga dipimpin oleh seorang anggota Angkatan Laut AS yang masih aktif bertugas, dan melibatkan pengiriman 400 senapan buatan AS (yang sekarang disita) dan senjata api lainnya.

Cabello mengklaim bahwa dua warga negara AS lainnya adalah "peretas" yang berniat mengganggu layanan listrik Venezuela yang tidak efisien secara kronis. (Bukan pertama kalinya Cabello mengkritik keras pemadaman listrik; ia menduga "tindakan teroris" oleh pihak oposisi berada di balik pemadaman listrik pada akhir Agustus yang memengaruhi sedikitnya sembilan negara bagian Venezuela dan puluhan kota termasuk ibu kota Caracas.)

Yang menarik, juru bicara Gedung Putih John Kirby mengonfirmasi bahwa pria yang diidentifikasi Caracas sebagai dalang yang diduga – Wilbert Castañeda – adalah anggota aktif Angkatan Laut AS yang, menurut Kirby, pergi ke Venezuela untuk "perjalanan pribadi." Media lain melaporkan bahwa Castañeda, yang memiliki kewarganegaraan ganda Meksiko-AS, pernah bertugas sebagai Navy Seal tetapi statusnya dicabut beberapa waktu lalu.

Mengingat sifat tuduhan tersebut, klaim Venezuela hampir mustahil untuk diverifikasi secara independen.

 2. Nicolas Maduro Jadi Target Utama 

Namun, para skeptis mungkin mengatakan bahwa itulah intinya – bahwa bagi Maduro, CIA hanyalah momok yang mudah digunakan dan sudah teruji.

Maduro sebelumnya juga menuduh, tanpa bukti, bahwa pemerintah AS dan mantan Presiden AS Donald Trump berada di balik upaya pembunuhan tahun 2018 di mana sebuah pesawat nirawak bermuatan bahan peledak meledak dalam salah satu pidatonya (sebuah 'serangan' yang awalnya coba disematkan jaksa kepada Presiden Kolombia saat itu, Juan Manuel Santos).

Maduro juga menuduh, lagi-lagi tanpa bukti, bahwa CIA dan Washington secara umum harus disalahkan atas pemberontakan pada April 2019, dan pada September tahun berikutnya pemerintahnya menahan warga negara AS Matthew Heath atas tuduhan memata-matai kilang minyak di negara bagian Falcon. Heath kemudian dibebaskan dalam pertukaran tahanan, dan pemerintah AS selalu membantah terlibat dalam salah satu skema yang dituduhkan.

Meski begitu, Maduro tahu ada audiens yang menerima narasi semacam itu, tepatnya karena CIA memang memiliki sejarah campur tangan yang terdokumentasi dengan baik di wilayah tersebut. Dan kemungkinan besar dia tidak melupakan bahwa AS mengetahui adanya rencana untuk menggulingkan pendahulunya, Hugo Chavez, beberapa minggu sebelum kudeta dicoba pada tahun 2002.

'Anjing liar', atau ancaman dari dalam? Namun, bahkan di antara mereka di pemerintahan Venezuela yang percaya bahwa badan keamanan telah menemukan semacam rencana, ada beberapa yang skeptis terhadap klaim Cabello tentang keterlibatan CIA.

"Saya pikir ini lebih merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab daripada keterlibatan nyata dari pemerintah AS, karena semua orang tahu bahwa menyingkirkan Maduro dengan paksa hanya akan meningkatkan konflik di sekitar Venezuela," kata seorang sumber pemerintah yang, seperti orang lain yang dimintai pendapatnya untuk artikel ini, meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sifat rahasia topik tersebut.

 3. Ada Hadiah Senilai USD15 Juta

"Tetapi Anda tidak dapat meremehkan daya tarik hadiah (USD15 juta dari Departemen Kehakiman) terutama untuk petualang gila, atau apakah Anda benar-benar percaya bahwa seorang Navy Seal yang bertugas aktif melakukan perjalanan ke Venezuela untuk romansa musim panas?" kata sumber tersebut.

Satu skenario yang tampaknya tidak dipertimbangkan dalam koridor kekuasaan Caracas adalah apakah sebuah rencana dapat berasal dari dalam negeri.

Hal itu mungkin terdengar mengejutkan, mengingat Maduro telah mengasingkan sebagian besar penduduk dengan 'kemenangan' pemilihannya dan tindakan keras berikutnya terhadap oposisi. Ia juga mungkin telah mengasingkan sebagian orang dalam pemerintahannya sendiri dengan kebiasaannya memotong dan mengganti personel kunci sesuka hati.

Namun, meskipun bukan tidak mungkin untuk membayangkan mantan pendukung Chavez berencana untuk menjatuhkan Maduro, penjelasan yang lebih masuk akal mungkin adalah bahwa pemimpin Venezuela itu telah mengarang seluruh cerita untuk pengaruh politik terhadap musuh lamanya, AS.

Jika demikian, menurut Maduro apa yang akan ia peroleh?

Taktik negosiasi?

Jawaban yang jelas mengarah kembali ke pemilihan umum. Pada bulan Oktober tahun lalu, sebelum dirilisnya "Fat Leonard" dan kawan-kawan, Maduro telah berjanji kepada AS bahwa pemilihan umum Venezuela akan bebas dan adil. Dan baru enam bulan yang lalu, komunitas ekonomi di Caracas berharap setidaknya akan cukup adil bagi AS untuk mencabut sanksi minyak yang tersisa dan membawa Venezuela kembali ke dalam pangkuan demokrasi dunia.

Lelucon pemilu berikutnya, dan pengabaian Maduro terhadap komitmennya untuk memulihkan demokrasi, menghancurkan harapan-harapan tersebut dan memperjelas bahwa setiap langkah lebih lanjut menuju rekonsiliasi harus dinegosiasikan dengan susah payah oleh para diplomat.

 4. Menjadikan Tahanan AS Jadi Pion 

Tampaknya Maduro melihat warga Amerika yang baru ditahan sebagai pion yang akan digunakan dalam negosiasi tersebut, dengan tujuan untuk meredakan kritik AS terhadap pemilu tersebut, dan sebagai daya ungkit dalam negosiasi sanksi apa pun.

Ini adalah pendekatan yang mengirimkan pesan yang diperhitungkan kepada Presiden AS Joe Biden, yang pemerintahannya telah memprioritaskan pembebasan warga negara AS yang ditahan secara tidak adil di luar negeri – setelah mencapai kesepakatan serupa dengan Presiden Rusia Vladimir Putin atas pembebasan bintang WNBA Brittney Griner dan jurnalis Wall Street Journal Evan Gershkovich.

Namun, selain Biden, penahanan tersebut juga merupakan pesan kepada Panglima Tertinggi yang baru, baik itu Kamala Harris atau Donald Trump.

Sejak pemungutan suara yang disengketakan di Venezuela, Departemen Luar Negeri hanya melakukan tindakan minimal terhadap negara tersebut, dengan menjatuhkan sanksi pribadi kepada 16 orang dan meminta Venezuela untuk merilis surat suara lengkap untuk mengklarifikasi hasilnya.

Meskipun AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap ekspor minyak Venezuela selama bertahun-tahun, otorisasi khusus yang mengizinkan perusahaan minyak Chevron untuk beroperasi di negara tersebut masih berlaku meskipun ada protes internasional musim panas ini.

Siapa pun yang memenangkan pemilihan AS pada bulan November akan menghadapi nasib para tahanan yang membebani mereka ketika mereka dihadapkan pada keputusan apakah akan melanjutkan pendekatan minimal itu atau memperketat aturan.

Dan mereka dapat melupakan harapan bahwa nasib para tahanan dapat diserahkan kepada pengadilan.

"Anda bahkan tidak dapat berbicara tentang persidangan, sejujurnya," kata seorang pengacara yang mewakili warga negara AS yang ditahan secara salah di Venezuela di masa lalu. “Dalam kebanyakan kasus, tidak ada berkas berisi tuduhan yang diajukan terhadap klien Anda, Anda tidak memiliki akses ke investigasi, tidak ada saksi, dan Anda tidak dapat mengajukan bukti baru, semua proses itu terjadi di pengadilan, tetapi itu semua lelucon.

Ini membuat frustrasi, pada dasarnya Anda pergi ke pengadilan, dan Anda tahu tidak ada yang diputuskan di sana yang akan membuat perbedaan bagi klien Anda,” kata pengacara lain, yang kliennya dibebaskan setelah menghabiskan lebih dari dua tahun di penjara tanpa dijatuhi hukuman.

 5. AS Terjebak dalam Permainan Maduro 

Bahkan bagi mereka yang yakin bahwa Maduro telah mengarang rencana untuk mendapatkan pengaruh di AS, masih ada satu misteri yang tersisa: tujuan akhir yang diinginkannya.

Dalam negosiasi sebelumnya mengenai pertukaran tahanan, Maduro berhasil membebaskan tersangka pengatur keuangannya, Alex Saab, dan dua keponakan istrinya yang menjalani hukuman karena mencoba menyelundupkan 800 kilogram kokain ke Amerika Serikat.

Ia juga berhasil mengamankan pencabutan beberapa sanksi minyak yang dijatuhkan AS terhadap Caracas dalam beberapa tahun terakhir.

Kali ini, tanpa ada satu pun rekan dekatnya yang berada di tangan AS, tidak jelas apa yang bisa diminta Maduro di meja perundingan selain legitimasi dan pencabutan sanksi lebih lanjut.

Demikian pula, tidak jelas bagaimana pemerintahan AS yang baru akan menerima gagasan untuk menyerah kepada – dan terlihat menyerah kepada – seorang penindas otoriter.

Negosiasi penyanderaan adalah topik yang canggung bagi pemerintah mana pun, tidak ada yang lebih canggung daripada Amerika Serikat, yang di masa lalu telah menolak untuk terlibat dengan para penculik.

Di sisi lain, AS dapat memutuskan kebebasan warganya sepadan dengan konsesi terbatas apa pun yang dicari Maduro.

Seperti yang dikatakan salah satu orang yang terlibat dalam negosiasi tahun lalu: "Masyarakat bebas memutuskan bahwa tidak ada orang yang tidak bersalah yang boleh dipenjara. Ketika Anda menerima bahwa seorang penjahat bebas berkeliaran tetapi tidak ada tahanan yang tidak bersalah, itulah kebebasan yang sesungguhnya." (ahm)

  💵 sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...