Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2026

[Video] Drone Anak Bangsa Untuk Pertahanan Negara

 ⍜  Puluhan drone lokal tampil dalam Expo di Jakarta Ilustrasi drone serbu otomatis digunakan Pasmar (PasMar1)

Puluhan produsen drone lokal tampil di Indonesia Drone Expo 2026 di Kemayoran, Jakarta.

Dari data Kementrian Perindustrian menunjukan produksi drone lokal berpotensi ekonomi yang tinggi

 Berikut video liputan CNN :



  ★
   Youtube    

Jumat, 14 Agustus 2026

Frogs Kenalkani Drone Cleaning dan Militer di Indonesia

   Drone domestik Drone senjata Teknologi Drone Cleaning dan Militer. (Foto/ Dok SindoNews)

Teknologi drone di Indonesia terus berkembang untuk kebutuhan yang semakin beragam. Tak lagi sebatas dokumentasi udara, drone kini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari industri, pertanian, surveillance, pemetaan, hingga pertahanan.

Perkembangan tersebut turut terlihat di Indonesia Drone Expo 2026 yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta.

Frogs Indonesia membawa sejumlah produk drone, di antaranya drone cleaning terbaru dan lini drone militer yang menjadi sorotan.

Salah satu produk yang diperkenalkan Frogs Indonesia adalah Nakula Series, drone yang dikembangkan untuk kebutuhan industrial cleaning dan pemeliharaan aset.

Kehadirannya menunjukkan bagaimana teknologi UAV mulai diarahkan untuk membantu pekerjaan yang memiliki tantangan akses, termasuk pembersihan area gedung dan fasad.

Nakula Series membawa sistem pembersihan dengan kemampuan pompa hingga 10 liter per menit.

Drone ini juga dilengkapi sejumlah sensor, termasuk LiDAR 360° dan terrain radar, yang mendukung kebutuhan penerbangan ketika beroperasi di sekitar objek dan permukaan bangunan.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari tren pemanfaatan drone untuk pekerjaan industri.

Jika sebelumnya drone banyak digunakan untuk mengambil gambar atau memperoleh data dari udara, kini fungsinya semakin berkembang menjadi perangkat yang dapat membantu menjalankan pekerjaan tertentu di lapangan.

Rahman, Chief Technology Frogs Indonesia yang membidangi riset, pengembangan, dan desain produk, menjelaskan bahwa pengembangan Nakula Series turut mengacu pada teknologi drone cleaning yang telah diterapkan di berbagai negara.

“Teknologi drone cleaning sebenarnya sudah mulai diterapkan di beberapa negara. Kami melihat teknologi tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dan disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia, terutama dari sisi desain, sistem cleaning, serta kondisi operasional di lapangan,” jelas Rahman, Selasa (11/08/2026).

Selain drone cleaning, Frogs Indonesia menampilkan lini drone militer yang terdiri dari mortar dropper, kamikaze drone, dan interceptor drone.

Masing-masing dikembangkan dengan fungsi yang berbeda dalam kebutuhan pertahanan.

Mortar dropper dirancang untuk membawa dan melepaskan muatan mortar dari udara.

Sementara Kamikaze drone merupakan drone yang dirancang untuk membawa muatan dalam misi serangan terhadap sasaran tertentu.

Adapun interceptor drone dikembangkan untuk menghadapi ancaman drone lain.

Konsep ini berkaitan dengan teknologi Counter-UAS (C-UAS) yang semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan drone dalam berbagai kebutuhan operasional.

Kehadiran lini drone militer Frogs Indonesia turut menarik perhatian pengunjung di Indonesia Drone Expo 2026.

Sejumlah pengunjung datang untuk melihat lebih dekat dan menanyakan fungsi serta pengembangan dari mortar dropper, kamikaze drone, hingga interceptor drone yang ditampilkan.

Dalam gelaran Indonesia Drone Expo 2026, Selasa (11/08/2026), CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, mengatakan bahwa pengembangan berbagai produk drone tersebut merupakan bagian dari upaya Frogs Indonesia untuk terus memperluas pemanfaatan teknologi UAV sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kami ingin teknologi drone yang dikembangkan Frogs Indonesia tidak berhenti pada kemampuan terbang, tetapi memiliki fungsi yang benar-benar dapat menjawab kebutuhan di lapangan. Termasuk di sektor pertahanan, kami melihat ada peluang besar untuk terus mengembangkan teknologi UAV yang dapat mendukung kebutuhan nasional,” ujar Adhitya.

Pengembangan drone militer ini juga menjadi bagian dari langkah Frogs Indonesia untuk terus menghadirkan teknologi UAV bagi kebutuhan pertahanan.

Ke depan, Frogs Indonesia berharap pengembangan tersebut dapat ikut mendukung penguatan teknologi pertahanan dalam negeri.

Selain drone cleaning dan lini drone militer, Frogs Indonesia turut membawa sejumlah produk lainnya, di antaranya Sekar Agri untuk sektor pertanian serta Palapa S1 untuk kebutuhan surveillance dan pemetaan.

Indonesia Drone Expo 2026 merupakan ajang industri yang berfokus pada perkembangan teknologi drone dan Unmanned Aerial Systems (UAS).

IDE menjadi wadah bagi perusahaan untuk menampilkan produk dan use case, sekaligus memberikan ruang bagi pelaku industri untuk melihat solusi teknologi dan peluang baru dalam pemanfaatan drone.

Pada penyelenggaraan 2026 ini, IDE mengusung tema “Unleashing the Power of Intelligent Aerial Systems”. Tema tersebut menggambarkan dorongan terhadap pemanfaatan sistem udara cerdas yang semakin luas, termasuk untuk kebutuhan industri, pertanian, logistik, hingga pertahanan.

Kehadiran Frogs Indonesia di IDE 2026 memperlihatkan bagaimana teknologi drone terus berkembang mengikuti kebutuhan di lapangan. Dari drone cleaning, pertahanan, hingga pertanian dan pemetaan, setiap produk membawa fungsi yang berbeda untuk kebutuhan yang semakin beragam. (wbs)

  ★
sindonews  

Senin, 03 Agustus 2026

Kemhan Hadiri Rencana Joint Exercise UAV ORLAN 10-E

 🤝 🛩https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjVZKooa1G_GGVc1-mZJUh10uqJdBBpaJI1kK2AvTHyabChC-0l0co0ABH71ni328Nos8PM4rn87xn4rED9z72eL__RoqdsKGPe5fG1xr4scBArevjSYhy7fVSf2WjC_RyIe3Amt3RIbopKVj3Sn8xlNkVVaN3kTDUoBNJV85rHrBojDy_V7-v1IKAVnb2/s1280/759622499_1920587221968817_8824949791883900285_n.jfifDrone Orlan 10-E (Kemhan)

Kepala Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kabatekhan Kemhan) menghadiri kegiatan Penyampaian Rencana Joint Exercise UAV Orlan-10E, yang merupakan bagian dari rencana Latihan Gabungan Produk Militer Kedutaan Besar Federasi Rusia, pada Rabu, 29 Juli 2026, pukul 09.00 WIB, bertempat di Lapangan Terbang Wiladatika, Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, yang memberikan arahan serta memimpin pembahasan mengenai rencana pelaksanaan latihan gabungan sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama teknis dan pertahanan antara Indonesia dan Federasi Rusia, khususnya pada bidang Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Kehadiran Kabatekhan Kemhan mencerminkan komitmen Badan Teknologi Pertahanan dalam mendukung pengembangan dan pemanfaatan teknologi pertahanan melalui kolaborasi internasional, pertukaran pengetahuan, serta peningkatan interoperabilitas guna mendukung terwujudnya sistem pertahanan negara yang modern, tangguh, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Melalui sinergi dan kerja sama strategis ini, diharapkan terbangun hubungan yang semakin erat dalam pengembangan kemampuan teknologi pertahanan, sekaligus memperkuat kesiapan sumber daya pertahanan nasional dalam menghadapi dinamika tantangan keamanan di masa depan.

 ♖  Batekhan  

Minggu, 12 Juli 2026

Retractable Landing Gear BRIN

🛩 Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam Proses pengujian Retractable Landing Gear (BRIN)

Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

“Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

“Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

  🛩
BRIN  

Sabtu, 28 Maret 2026

TNI AL Bakal Memastikan Penggunaan Drone untuk Jaga Selat Strategis

 ⚓️ Lebih efisien KRI BPD 322, Frigate pertama dan drone kapal selam produksi PT PAL (FMI fb)

TNI AL mulai mengalihkan fokus pengamanan laut dengan memanfaatkan teknologi robotik. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan penggunaan pesawat dan kapal tanpa awak (drone) bakal menjadi kunci efisiensi dalam menjaga wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.

Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan pemenuhan jumlah alutsista ideal di tanah air.
Ali mengamini bahwa Indonesia sebenarnya membutuhkan hingga 300 kapal perang untuk mengawal wilayah dari Aceh hingga Papua.

“Kebutuhan 300 kapal itu betul, tapi kita tidak membutuhkan semuanya fregat (kapal tempur besar). Yang kita butuhkan justru banyak kapal-kapal patroli dan kapal kecil untuk menjaga selat-selat serta kawasan pesisir (litoral),” ujar Ali di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (26/3).

 Andalkan Teknologi Tanpa Awak

Ali memproyeksikan penggunaan sistem tanpa awak (unmanned system) secara masif sebagai solusi cerdas di masa depan. Menurutnya, teknologi drone jauh lebih efektif dan hemat biaya untuk mengawasi celah-celah laut strategis dibanding hanya mengandalkan kapal berawak.

“Kita butuh lebih banyak unmanned system. Drone ini sangat efektif dan efisien untuk menjaga perairan kita yang sangat luas karena lebih hemat dalam penggunaan operasional,” jelasnya.

TNI AL membidik tiga jenis armada robotik sekaligus untuk memperkuat pengawasan, seperti kapal tanpa awak (USV) yaitu robot yang bergerak di atas permukaan air untuk patroli.

Kemudian, pesawat tanpa awak (UAV) atau drone udara untuk pengintaian dari langit. Lalu, robot bawah laut (UUV) merupakan perangkat robotik yang beroperasi di bawah air untuk mendeteksi ancaman kapal selam atau ranjau.

 Dorong Produksi Dalam Negeri

Ali menaruh harapan besar agar seluruh perangkat teknologi tanpa awak tersebut lahir dari tangan anak bangsa. Ia mendorong industri pertahanan lokal untuk segera menguasai teknologi robotik laut dan udara ini.

“Harapannya drone-drone ini sudah bisa kita buat di dalam negeri. Baik yang di permukaan, di udara, maupun di bawah laut, semuanya kalau bisa kita bangun sendiri,” tegas Ali.

Selain drone, Ali menyebut kapal-kapal patroli berukuran kecil memiliki peran vital di kawasan pesisir. Kapal jenis ini lebih lincah bermanuver di selat-selat padat dan perairan dangkal yang sulit dijangkau oleh kapal perang berukuran raksasa.

Kehadiran kapal patroli dan drone ini nantinya melengkapi keberadaan kapal-kapal tempur utama seperti KRI Prabu Siliwangi-321 dan KRI Brawijaya-320 yang baru saja memperkuat jajaran armada laut Indonesia. (at)

  👷 
IDM  

Jumat, 07 November 2025

2 Perusahaan Kolaborasi Riset Otak Drone Buatan Lokal

🛩  Menekan produk impor Frogs Indonesia dan PT Infoglobal Teknologi Semesta resmi menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan Flight Control System (FCS) lokal untuk Kendaraan Udara Nirawak (UAV) (dok. Frogs Indonesia)

Dua perusahaan teknologi nasional, Frogs Indonesia dan PT Infoglobal Teknologi Semesta resmi menjalin kerja sama strategis dalam pengembangan Flight Control System (FCS) lokal untuk Kendaraan Udara Nirawak (UAV).

Langkah ini menandai komitmen kuat kedua perusahaan dalam mendorong kemandirian teknologi drone di Indonesia.

"Frogs Indonesia dan Infoglobal Teknologi Semesta sepakat untuk berkolaborasi dalam riset, pengembangan, serta pengujian FCS yang andal dan sesuai dengan kebutuhan operasional drone di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pemetaan, hingga pertahanan," kata Chief Executive Officer (CEO) Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, dikutip Selasa (4/11/2025).

  1. FCS adalah otak dari sebuah drone  
Untuk diketahui, FCS merupakan otak dari sebuah drone dan mempunyai peran dalam mengendalikan penerbangan, mengeksekusi perintah pilot, serta menjalankan navigasi dan misi.

"Oleh karena itu, kemampuan memproduksi FCS sendiri menjadi fondasi penting bagi kemandirian industri UAV nasional," ujar Adhitya.

  2. Pengembangan FCS jadi tantangan besar industri drone RI  
Drone WANI-23 Infoglobal dipamerkan pada IDEF 2025 (Infoglobal)
Adapun hingga saat ini pengembangan FCS masih menjadi tantangan besar bagi industri drone tanah air.

Kebutuhan drone yang terus meningkat belum diimbangi dengan ketersediaan sistem kendali penerbangan buatan dalam negeri. Sebagian besar drone yang digunakan di Indonesia masih bergantung pada produk impor.

"Dengan terjalinnya kerja sama ini, Frogs Indonesia dan PT Infoglobal Teknologi Semesta berharap dapat membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak inovasi teknologi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di industri drone global," kata CEO Infoglobal Teknologi Semesta, J Adi Sasongko.

  3. Kemenhub terus godok regulasi soal drone  
Sebelumnya diberitakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan sangat siap menghadapi teknologi drone. Namun, sama dengan negara lain di dunia yang belum punya aturan tetap terkait drone, Indonesia juga terus menggodok regulasi tersebut sampai sekarang. Hal itu lantaran drone merupakan teknologi baru dan mengalami perkembangan teknologi yang begitu cepat setiap waktu.

"Regulasi itu akan berproses, peraturan itu akan berproses. Semakin data yang masuk, pengalaman mengoperasikan akan masuk, maka semakin matang, semakin mature dalam proses regulasinya. Sama seperti pesawat baru diciptakan tahun 1904, itu juga regulasinya sangat minim, sampai hari ini kita juga punya regulasi yang sangat-sangat kompleks," ujar Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rohman.

"Sama seperti drone, kami di Indonesia sudah menyiapkan regulasi terkait dengan remote pilotnya. Kemudian masalah registrasi kami juga sudah siap dan terkait dengan organisasi yang mengoperasikan kami siap," sambung dia.

Kemenhub juga berencana drone komersial atau Advanced Air Mobility (AAM) bisa beroperasi di Indonesia pada akhir 2026. Adapun kini Kemenhub masih menyiapkan reguasi dan infrastruktur pendukung guna menunjang pengoperasian teknologi baru dalam transportasi udara tersebut.

"Kami sudah on track dalam menyusun dan menyambut teknologi ini. Menteri Perhubungan juga sangat concern agar AAM dapat segera diterapkan. Harapannya, pada Desember 2026 sudah ada satu yang beroperasi secara komersial," kata Sokhib..

  🛩
  IDN Times  

Kamis, 02 Oktober 2025

Prabowo Saksikan Sailing Pass TNI AL dari Atas KRI

 ⚓️ TNI AL kerahkan 51 KRI Sailing pass di Teluk Jakarta disaksikan Presiden (Kompas)

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan sailing pass atau parade kapal perang TNI AL di Teluk Jakarta. Prabowo menyaksikan langsung dari atas KRI dr Radjiman Wedyodiningrat-992.

Acara ini digelar dalam kegiatan 'Presidential Inspection' menjelang HUT ke-80 TNI, Kamis (2/10/2025). Prabowo didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menko Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Polkam Djamari Chaniago, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Waktu Trenggono, Menkomdogi Meutya Hafid, Mensesneg Prasetyo Hadi, Kepala BIN Herindra, Kapala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo, serta Seskab Teddy Indra Wijaya.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, KSAL Laksamana Muhammad Ali, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, dan KSAU Marsekal Tonny Harjono juga hadir. Parade ini diikuti puluhan kapal perang TNI AL.

Parade dipimpin KRI Brawijaya-320. TNI AL juga mengerahkan Pasukan Khusus Laut (Passusla) beserta 51 unsur kapal perang yang terdiri atas 6 fregat, 10 korvet, 2 kapal selam, 3 kapal LST dan LPD, 16 kapal cepat, 2 kapal ranjau, 6 kapal patroli, 4 kapal bantu, serta 2 kapal patih taruna AAL, yaitu KRI Dewaruci dan KRI Bima Suci.

Ada juga unsur kapal dari kedinasan lain, seperti dari ADRI, Bakamla, Basarnas, Polairud, KKP, KPLP, dan perhimpunan kapal nelayan, yang turut berlayar di belakang Parade Kapal Perang TNI AL.

Selain itu, TNI AL memamerkan kekuatan Penerbangan Angkatan Laut (Penerbal) dengan menerbangkan Pesawat Udara di antaranya Bonanza, Piper, CN-235, Cassa NC-212, Heli Bell-412, serta Heli Panther serta 3 Unmanned Areial Vehicle (UAV) berupa drone. (eva/haf)

  ⚓️ 
detik  

Senin, 25 Agustus 2025

BRIN Validasi Model Dinamis Pesawat Nirawak PUNA dengan Simulasi HILS

BRIN validasi model dinamis pesawat nirawak PUNA dengan simulasi HILS (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan berbagai jenis Pesawat Udara Nirawak (PUNA), salah satunya PUNA Alap-alap. Pesawat tersebut dirancang untuk beragam misi, seperti pemantauan, pemetaan, dan pengambilan foto udara.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) BRIN, Eries Bagita Jayanti, menyampaikan bahwa pengembangan PUNA memerlukan model dinamis akurat. Karena validasi model masih jarang dan sering berbeda dengan uji terbang, PRTP BRIN menggunakan hardware-in-the-loop simulation (HILS).

“HILS merupakan kombinasi uji perangkat lunak, perangkat keras, antarmuka komunikasi, dan real-time hardware mesin. Melalui metode ini, pengujian dapat dilakukan secara waktu nyata sehingga kondisi simulasi mendekati uji terbang sebenarnya,” ujar Eries, dalam Talkshow Kelas Periset Edisi 6, Rabu (20/8).

Eries menjelaskan, pengembangan PUNA diawali dengan pembuatan model dinamis di MATLAB yang mencakup aerodinamika, propulsi, berat, dan sensor. Model tersebut kemudian dijalankan ke speed code yang terhubung dengan programmable system on chip (PSOC) dan QGround Control. Sehingga, data waypoint, perintah motor, dan respons sensor dapat diuji sebelum penerbangan.

Setelah HILS, dilakukan uji terbang untuk memperkuat validasi model. Dengan kombinasi keduanya, validasi menjadi lebih kuat, terstruktur, dan efisien.

Eries menuturkan, riset ini bertujuan mengembangkan model dinamis PUNA yang akurat berbasis data CFD dan parameter fisik, serta memvalidasinya melalui kombinasi HILS dan uji terbang.

Penelitian diharapkan menghasilkan model tervalidasi, panduan teknis, publikasi internasional, dan peningkatan kapasitas teknologi PUNA di Indonesia. Dengan pendekatan komprehensif berbasis data multisumber dan penerapan HILS, penelitian ini diyakini mampu menekan risiko, mengurangi biaya, serta menjadi referensi bagi peneliti dan pengembang PUNA.

Peneliti Ahli Pertama PRTP BRIN, Angga Septiyana, menyampaikan bahwa timnya telah berhasil melakukan simulasi aerodinamika untuk memperoleh koefisien dan karakteristik aerodinamika yang penting bagi model dinamis pesawat.

Gaya aerodinamika seperti samping, angkat, hambat, dorong, serta momen roll, pitch, dan yaw harus diperoleh secara akurat. Tim menggunakan metode CFD dengan perangkat lunak ANSYS Fluent, VLM, Air Surveillance NIMA, dan DATCOM untuk menghasilkan data aerodinamika yang lebih lengkap dan valid.

Menurut Angga, simulasi mencakup gerakan translasi dan rotasi pesawat, termasuk pitch, yaw, dan roll, untuk memperoleh grafik dan data koefisien aerodinamika yang diolah secara matematis, salah satunya melalui pendekatan Direct Fourier.

Simulasi juga menilai pengaruh defleksi bidang kendali aileron, elevator, dan rudder terhadap kestabilan terbang. Selain itu, dilakukan uji statis electric engine dengan testband berisi sensor gaya dorong, momen torsi, suhu, arus, dan tegangan untuk memvalidasi model propulsi pesawat.

Angga menyampaikan, PRTP BRIN mengembangkan Flight Test Instrumentation untuk PUNA, yang merekam data penerbangan secara paralel dengan flight control menggunakan PSOC, Piccolo, atau Ardupilot. Instrumen ini melengkapi data penerbangan untuk mendukung pengujian berbasis HILS. (dv/ed:jh, tnt)

  🛩
BRIN  

Minggu, 03 Agustus 2025

Drone Elang Hitam Sukses Terbang 24 Jam di 20 Ribu Kaki

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan teknologi pertahanan. Pesawat tanpa awak Elang Hitam (Black Eagle) buatan anak bangsa sukses menjalani uji terbang di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, pada Senin (28/7/2025).

Elang Hitam merupakan drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dirancang oleh konsorsium nasional, dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai integrator utama. Dalam uji terbang tersebut, drone berhasil mengudara selama 24 jam nonstop dan mampu terbang di ketinggian maksimal 20 ribu kaki, menunjukkan performa yang sesuai dengan standar internasional.

"Uji terbang ini adalah bukti bahwa Indonesia menguasai teknologi kunci dalam pengembangan drone MALE. Termasuk dalam hal desain sistem, kendali terbang otomatis, hingga komunikasi jarak jauh," ujar Mohammad Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi, dan Pengembangan PTDI, dikutip dari detikJabar.

 Spesifikasi Elang Hitam 
Dilansir dari berbagai sumber, drone Elang Hitam memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni untuk mendukung misi pengawasan dan pertahanan. Drone jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance) ini memiliki dimensi panjang 8,3 meter, tinggi 1,02 meter, dan bentang sayap 16 meter.

Berat kosongnya mencapai 575 kg, dengan kapasitas muatan hingga 300 kg, berat bahan bakar 420 kg, dan berat maksimum saat lepas landas 1.115 kg. Ditenagai mesin Rotax 915 iS berkekuatan 110-150 horsepower dengan konfigurasi empat silinder, turbocharged, dan baling-baling tipe pusher, Elang Hitam mampu mencapai ketinggian jelajah 3.000-5.000 meter (maksimum 7.200 meter), kecepatan maksimum 235 km/jam, dan kecepatan jelajah sekitar 225 km/jam.

Drone ini memiliki daya tahan terbang hingga 24-30 jam nonstop dengan radius operasi 250 km, membutuhkan landasan pacu 700 meter untuk lepas landas dan 500 meter untuk mendarat. Dilengkapi sistem kendali terbang otomatis, ground control station (GCS), dan teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) berbasis satelit, Elang Hitam juga mendukung arsitektur modular dengan muatan seperti kamera, radar, dan potensi misil udara-ke-permukaan untuk misi militer.

 Siap Jalankan Misi Militer dan Kemanusiaan 
Elang Hitam dikembangkan guna mendukung berbagai misi strategis, mulai dari pengawasan wilayah perbatasan hingga pengintaian medan musuh. Selain fungsi militer, drone ini juga dirancang untuk misi kemanusiaan seperti pemantauan bencana alam dan pencarian korban di area sulit dijangkau.

Dalam sesi uji coba, Elang Hitam didampingi oleh pesawat Kodiak milik PTDI untuk mengevaluasi daya jelajah dan stabilitas kendali otomatis yang dimilikinya. Uji coba ini dinilai berhasil dan membuka jalan bagi produksi massal serta operasional penuh dalam waktu dekat.

 Dari Gagal Terbang ke Sukses Mengudara 
Proyek pengembangan Elang Hitam telah dimulai sejak 2015. Drone ini dikembangkan melalui kerja sama konsorsium yang mencakup berbagai institusi strategis, antara lain; PTDI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini tergabung dalam BRIN, Kementerian Pertahanan RI, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), PT Len Industri (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, proyek ini sempat menghadapi tantangan serius. Pada 2021, uji terbang Elang Hitam mengalami kegagalan. Imbasnya, pada 2020–2023 fokus pengembangan sempat dialihkan oleh BRIN dari sektor militer ke sipil karena kendala teknis dan prioritas anggaran.

Kebangkitan proyek ini dimulai lagi pasca Rapat Pleno KKIP pada Oktober 2024, yang memutuskan kelanjutan pengembangan drone untuk kebutuhan militer, dengan PTDI mengambil peran sentral sebagai pemimpin integrasi.

 Indonesia Makin Mandiri dalam Teknologi Pertahanan 
Keberhasilan Elang Hitam menandai kemajuan signifikan Indonesia dalam industri pertahanan nasional. Drone ini memperkuat posisi Indonesia di jajaran negara yang mampu mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak secara mandiri.

"Ke depan, kami berharap Elang Hitam bisa memenuhi kebutuhan pengintaian dan intelijen TNI, sekaligus menjadi produk ekspor unggulan Indonesia," tutup Arif.

Dengan suksesnya uji terbang ini, Elang Hitam membuka babak baru dalam sejarah kemandirian pertahanan Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan anak bangsa tak kalah dari negara maju lainnya. (afr/afr)

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩
detik  

Kamis, 19 Juni 2025

Pussenarmed Kembangkan Inovasi Prototipe Alutsista Berbasis PPTA

Pesawat Terbang Tanpa Awak Inovasi Pussenarmed TNI AD (Penpussenarmed)

Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Pussenarmed) TNI Angkatan Darat mengembangkan inovasi prototipe alutsista berbasis Pesawat Terbang Tanpa Awak (PPTA).

Prototipe Alutsista ini juga dipamerkan dalam Indo Defence Expo & Forum 2025 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta dari tanggal 11 – 14 Juni 2025.

Prototipe Sistem Peninjauan Berbasis PTTA (Pesawat Terbang Tanpa Awak) tahap II yang merupakan hasil Program Penelitian dan Pengembangan Materiil Pussenarmed TNI AD tahun 2023 yang bekerja sama dengan PT. Nexin Inovasi Sejahtera.

Produk ini merupakan bentuk inovasi dari Staf Dirbinlitbang Pussenarmed dalam rangka mendukung program modernisasi Alutsista di jajaran satuan Armed, dimana sistem peninjauan / observasi yang selama ini dilakukan oleh manusia secara manual diubah menjadi menggunakan alat yang berupa PTTA / drone guna meningkatkan efektifitas, efisiensi dan keamanan personel dalam pelaksanaan sebuah misi.

Seperti diketahui, perkembangan peperangan pada era teknologi digital menuntut penelitian pengembangan serta inovasi yang berkelanjutan (sustainable).

Dengan inovasi yang dikembangkan oleh Pussenarmed, untuk peninjauan posisi musuh maupun sasaran akan lebih detil secara keakurasian data dalam mendukung tembakan bantuan pasukan di garis depan serta meminimalisasi penggunaan personel dalam suatu pertempuran.

  ⍉
Penpussenarmed  

Sabtu, 14 Juni 2025

Infoglobal Pamerkan Drone Jumbo WANI-23

✈ Dikembangkan secara mandiri termasuk mesinnya Drone Wani-23 InfoGlobal (Airspace Review)

Bila pada Indo Defence 2022 Infoglobal memamerkan mock-up skala penuh jet tempur i-22 Sikatan, maka pada Indo Defence 2024, 11-14 Juni 2025, perusahaan yang berbasis di Surabaya tini memamerkan drone intai WANI-23.

Memiliki badan yang cukup besar, drone ini termasuk dalam kategori drone Medium Altitude Long Endurance (MALE).

WANI-23 berdimensi panjang 8,2 m, rentang sayap 16 m, berat kosong 630 kg, dan berat tinggal landas maksimum (MTOW) 710 kg.

Sebagai tenaga penggeraknya, digunakan sebuah mesin model pusher 1.5L 4-cylinder turbocharged dengan tiga bilah baling-baling. Terestrial Telemetry Range-nya hingga 80 KM LOS.

Nama WANI diambil dari bahasa Jawa yang berarti ‘berani’, merefleksikan semangat tim untuk mandiri dan inovatif. Sementara 23 adalah tahun drone ini mulai dikembangkan.

CEO Infoglobal Adi Sasongko mengatakan, pengembangan WANI-23 dilakukan secara mandiri, baik dari segi pembiayaan maupun resources-nya.

Dengan tim beranggotakan lima engineer dan lima helper, Infoglobal berhasil menguasai teknologi pembuatan airframe dan pengembangan mesin dari komponen yang tersedia di dalam negeri dalam jangka waktu 2 tahun.

Pengembangan WANI-23 menjadi langkah strategis Infoglobal dalam memperkuat penguasaan teknologi di bidang kedirgantaraan di Tanah Air, sekaligus menjadi bukti kontribusi sektor swasta nasional dalam mendukung kemandirian pertahanan Indonesia.

Dirancang sebagai platform UAV (Unmanned Aerial Vehicle), WANI-23 mampu menjalankan misi strategis seperti pengawasan wilayah, misi intelijen pengintaian, serta dukungan operasional militer secara waktu nyata.

Kemampuan ini diperkuat dengan integrasi teknologi andal yang tertanam dalam sistem Ground Control Station (GCS) Console yang juga dipamerkan.

Infoglobal membuka peluang kerja sama dan menjalin kolaborasi lebih luas dengan mitra strategis, baik dari dalam maupun luar negeri guna mempercepat pengembangan WANI-23. (RBS)

  ✈
Airspace Review  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...