Tampilkan postingan dengan label Kapal Selam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Selam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2026

Menhan Sjafrie Bahas Pengadaan Rafale dan Scorpene

  👷  🤝 Dalam Pertemuan dengan Menteri Pertahanan Perancis Latihan bersama dengan Perancis dalam misi Pegase 2026 (Dispenau)

Menteri Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan kehormatan Menteri Angkatan Bersenjata dan Veteran Prancis HE Chaterine Vautrin di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Annual Defense Minister Dialogue pertama antara Indonesia dan Prancis.

Pertemuan digelar untuk memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara.

“Kita mengharapkan ini menjadi momentum yang paling penting dalam rangka penguatan, tidak hanya kerja sama pertahanan, tetapi juga kerja sama antarbangsa Indonesia dan Prancis,” kata Sjafrie dalam pernyataan bersama.

Menurut Sjafrie, hubungan pertahanan Indonesia dan Prancis terus berkembang, salah satunya melalui kerja sama pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Dia juga menyampaikan apresiasi atas pengadaan 42 jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation dan dua kapal selam Scorpene buatan Naval Group.

Dua kapal selam Scorpene tersebut rencananya dibangun bersama PT PAL Indonesia di Surabaya.

Sjafrie mengatakan penguatan kerja sama alutsista ditandai dengan kedatangan pesawat Rafale pertama di Indonesia serta dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene pertama oleh PT PAL.

“Pada hari ini kita mengapresiasi penguatan kerja sama di bidang alutsista yang ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene yang pertama oleh PT PAL,” tutur Sjafrie.

Selain pengadaan alutsista, Indonesia dan Prancis juga berkomitmen meningkatkan kerja sama melalui pertukaran perwira untuk pendidikan dan latihan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup hubungan antarinstitusi hingga interaksi antarpersonel.

“Ke depan, kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif, tidak hanya untuk pengadaan alutsista, tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antarangkatan bersenjata,” kata Sjafrie.

Kunjungan Vautrin ke Indonesia juga berkaitan dengan Misi Pégase 2026 Angkatan Bersenjata Prancis.

Dia dijadwalkan meninjau Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, yang menjadi salah satu lokasi kegiatan Angkatan Udara Prancis bersama TNI AU.

Dalam rangkaian Misi Pégase 2026, Vautrin meninjau pesawat-pesawat Prancis dan Indonesia yang berada di Indonesia pada 20–25 September 2026. (shf)

   👷  Sindonews   

Kamis, 24 September 2026

Penguatan Kerja Sama Alutsista Indonesia-Prancis Ditandai Rafale dan Scorpene

  👷  🤝  Latihan bersama dengan Perancis (Dispenau)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis ditandai dengan kedatangan jet tempur Rafale dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene.

Hal tersebut disampaikan Sjafrie saat menerima kunjungan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

“Dalam kunjungan Yang Mulia pada hari ini, kita akan mengapresiasi penguatan kerja sama di bidang alutsista yang ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene yang pertama oleh PT PAL,” kata Sjafrie.

Dalam pelaksanaannya, PT Penataran Angkatan Laut (PAL) akan bekerja sama dengan Naval Group, galangan kapal asal Prancis dengan lokasi pembuatan Scorpene di Surabaya, Jawa Timur.

Sementara itu, Sjafrie mengungkapkan kerja sama Indonesia dan Prancis jug diwujudkan dengan pertukaran perwira dalam rangka sekolah dan latihan.

Pada November 2026, Indonesia dan Prancis bakal menggelar latihan bersama (Latma) Garuda Guerrier di Prancis.

“Ke depan ini kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis,” ucap Sjafrie.

“Terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif. Tidak hanya untuk pengadaan alutsista, tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antar angkatan bersenjata,” tambahnya.

   👷  Kompas   

Rabu, 23 September 2026

PT PAL dan Naval Group Bersiap untuk Pesanan Lanjutan Kapal Selam Scorpène Evolved LiB

  👷  🤝 Berikut Frigat FDI Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)

Perusahaan galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL, dan perusahaan galangan kapal Prancis, Naval Group, akan menandatangani perjanjian kerja sama pembuatan kapal yang mencakup pembangunan kapal perang Frégate de Défense et d'Intervention (FDI) dan dua kapal selam Scorpène Evolved LiB tambahan.

Sumber-sumber yang mengetahui masalah ini telah menginformasikan kepada Janes bahwa upacara penandatanganan perjanjian tersebut akan diselenggarakan di kantor pusat PT PAL di Surabaya pada tanggal 24 September.

Perjanjian-perjanjian ini akan menetapkan kerangka kerja sama seandainya Indonesia melanjutkan rencana untuk mengakuisisi gelombang kedua kapal selam Scorpène Evolved LiB dan frIgat FDI, ujar sumber-sumber tersebut.

Informasi lebih lanjut yang disampaikan kepada Janes menunjukkan bahwa perjanjian tersebut akan berfokus pada pengaturan pembagian kerja, alih teknologi, peluang pembangunan di dalam negeri, serta mekanisme partisipasi industri yang dapat diterapkan jika program akuisisi tersebut terealisasi.

Program Scorpène Indonesia diresmikan melalui kontrak yang ditandatangani pada Maret 2024, yang mencakup akuisisi dua kapal selam serang diesel-elektrik Scorpène Evolved LiB untuk TNI Angkatan Laut.

Program ini mencapai tonggak sejarah penting pada 7 Agustus 2026 ketika pembangunan kapal selam pertama secara resmi dimulai melalui upacara pemotongan pelat baja di galangan kapal PT PAL Indonesia di Surabaya.

Dalam program ini, kedua kapal selam tersebut dibangun di Indonesia melalui pengaturan alih kemampuan antara Naval Group dan PT PAL Indonesia.

PT PAL Indonesia bertanggung jawab atas kegiatan pembangunan, integrasi, pengujian, perakitan akhir, dan penyerahan kapal, sementara Naval Group menyediakan keahlian desain kapal selam, dukungan rekayasa, alih teknologi, dan bantuan teknis.

Scorpène Evolved LiB merupakan varian terbaru dari desain kapal selam konvensional Naval Group yang ditujukan untuk pasar ekspor.

Kapal selam ini menggunakan baterai lithium-ion berkapasitas tinggi yang dirancang untuk memberikan daya tahan operasional bawah air yang lebih baik, fleksibilitas operasional yang lebih besar, serta kebutuhan perawatan yang lebih rendah.


   👷  Jane's   

Sabtu, 12 September 2026

KSAL Sebut RI Ditawari Kapal Selam Interim

 Diketahui mendapatkan penawaran kapal selam dari China, Italia, Jepang, Jerman, Prancis, Turki, dan Spanyol Type 212NFS kapal selam Italia yang akan diluncurkan pada pertengahan 2028 dan berteknologi Li Ion termasuk yang ditawarkan ke Indonesia (Fincantieri)

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan bahwa Indonesia telah ditawari kapal selam interim oleh sejumlah negara.

"Ada beberapa negara yang sudah menawarkan, dan bisa jadi kita akan membeli dari beberapa negara yang sudah menawarkan itu," kata Ali di Auditorium Yos Sudarso, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kapal selam interim adalah kapal selam sementara sembari menunggu pengerjaan kapal selam selesai.

Namun demikian, Ali tidak menjelaskan lebih lanjut negara mana saja yang dimaksud.

Selain kapal selam konvensional, Ali mengungkapkan TNI AL bekerja sama dengan PT PAL juga akan membangun kapal selam tanpa awak atau kapal selam otonom (KSOT).

Menurutnya hal tersebut dinilai lebih efektif dan efisien.

Selain itu, TNI AL juga berencana mengadakan kapal selam kecil atau midget submarine.

"Mungkin juga kita akan mengadakan kapal selam jenis itu," ucapnya.

Ia menambahkan, berbagai upaya tersebut bisa dilakukan TNI untuk mengisi kekuatan laut.

Kendati demikian, Ali menyerahkan keputusan tersebut kepada pemerintah.

"Jadi hal-hal itu sangat memungkinkan, tapi keputusannya semua berada di Kementerian Pertahanan," tuturnya.

 Menunggu kapal selam Scorpene selesai

Diketahui rencana TNI AL mengadakan kapal selam interim dilakukan sambil menunggu Scopene selesai dibangun.

Pembangunan Scopene sendiri membutuhkan waktu 7-8 tahun.

Di sisi lain Indonesia hanya memiliki 4 kapal selam. Berbeda dengan sejumlah negara di Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 4 kapal selam.

"Dan selama delapan tahun kekosongan ini, kita hanya memiliki empat kapal selam. Yaitu satu kelas Cakra, kemudian yang tiga kelas Nagapasa," kata Ali. .

   👷  Kompas  

Rabu, 09 September 2026

TNI AL Pertimbangkan Penggunaan Drone Bawah Air untuk Tingkatkan Pertahanan Maritim

  KSOT hasil rancangan & produk PT  PAL KSOT-001 dalam ujicoba di Laut (Sekpres)

Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana Muhammad Ali menguraikan rencana untuk berkolaborasi dengan industri pertahanan dalam negeri untuk mengembangkan drone bawah laut, yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan pengawasan maritim negara.

"Teknologi bawah laut berkembang pesat. Angkatan Laut Indonesia terus mempelajari cara untuk memanfaatkan drone bawah laut untuk mendukung operasi pengawasan dan pengintaian di wilayah maritim kita," kata Ali di sini pada Rabu (9 September).

Menurut Kepala Angkatan Laut, drone bawah laut sangat efektif untuk tujuan pemantauan karena dapat dengan mudah menavigasi selat sempit di perairan strategis Indonesia, termasuk Jalur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.

Ali mencatat bahwa jangkauan jelajahnya yang lebih luas akan memungkinkan drone untuk mendeteksi pergerakan kapal asing dan mengantisipasi masuknya kapal secara ilegal ke perairan Indonesia.

Teknologi ini juga dapat digunakan untuk memetakan kontur dasar laut kepulauan. Dengan memperoleh data kelautan yang akurat, Angkatan Laut bertujuan untuk membuat peta bawah laut terperinci yang menunjukkan arus laut, pola pasang surut, dan kondisi dasar laut, termasuk terumbu karang dan bangkai kapal.

Operasi-operasi ini, tambah Ali, dapat dilakukan tanpa biaya tinggi yang terkait dengan pengerahan kapal permukaan berawak sekaligus memastikan keselamatan personel.

Sementara itu, Alman Helvas Ali, seorang analis pertahanan dari Marapi Consulting, menekankan dalam siaran pers baru-baru ini bahwa pemerintah harus memahami secara menyeluruh karakteristik kompleks perairan Indonesia sebelum memperluas infrastruktur pertahanan maritimnya.

"Di wilayah barat, laut kita cenderung dangkal, sedangkan wilayah timur terdiri dari perairan dalam. Setiap wilayah memiliki kepadatan air, salinitas, dan suhu yang berbeda," jelasnya.

Ia mencatat bahwa data oseanografi ini harus terus diperbarui agar Angkatan Laut dapat memaksimalkan efektivitas sistem senjata utamanya, seperti kapal selam dan kapal permukaan. Namun, analis tersebut mengakui bahwa Angkatan Laut dan industri dalam negeri belum memiliki teknologi khusus yang dibutuhkan untuk mendukung operasi pemetaan bawah air tingkat lanjut secara optimal.

Ia menyarankan agar Angkatan Laut mempertimbangkan untuk berkolaborasi dengan pemain industri pertahanan global. Selain menyediakan opsi pengadaan yang lebih cepat, kemitraan internasional semacam itu juga dapat membantu meningkatkan kemampuan teknologi sektor pertahanan dalam negeri Indonesia.

   👷  antara  

Rabu, 26 Agustus 2026

Indonesia Ingin Perluas Kerjasama Pertahanan Dengan Türkiye

Melalui KAAN, Kizilelma, proyek 4 fregat, kapal selam & helikopter https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan keputusan baru mereka untuk membeli rudal Kaan dan Kızılelma dari Türkiye, dan menyatakan bahwa kerja sama ini tidak akan terbatas pada pembelian tersebut saja.

Indonesia, dengan menyatakan "Ini tidak akan berhasil hanya dengan Kaan dan Kızılelma," mengumumkan keputusan barunya terkait Türkiye.

Menurut laporan di GDH Haber, Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, juga menyatakan bahwa niat untuk pengadaan fregat, KAAN dan KIZILELMA tetap ada, dan bahwa dalam program empat fregat tersebut, dua kapal akan dibangun di Turki dan dua kapal akan dibangun di Indonesia sebagai bagian dari produksi dan pengembangan bersama.

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, memberikan wawancara kepada Mevlüt İşli, di mana beliau membahas kondisi terkini kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia serta memberikan penilaian mengenai proyek-proyek baru.

Purnama menyatakan bahwa kerja sama antara kedua negara tidak terbatas pada pasokan produk; transfer teknologi, pengembangan bersama, produksi bersama, dan usaha patungan juga menjadi target.

Purnama menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pertama yang menyatakan niatnya untuk membeli Pesawat Tempur Nasional KAAN dan KIZILELMA, yang belum beroperasi dan masih dalam tahap pengembangan.

Indonesia telah mengumumkan niatnya untuk membeli sistem KIZILELMA dan KAAN. Kami menyebut ini sebagai kesepakatan bersejarah antara kedua negara di industri pertahanan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbYDS-slQ6m5N134iPkFs9HuSE-JStKMomXBb3XyxCqQTrTTn9gTYqIAqL78oscLYfgSPw0P-OfvI8n3Sq-GKAci0K_F9_aonCw2JkFWTjn7f-Z4Q-O5wwJxws7bI4MK5NGWMQEMsKDZnoYuPXK1yacrv-NV4fS0MgNoKVGEZNiRzyRGhZcswFwzb7XzA2/s1667/IMG_0729.jpegProses produksi kapal fregat dan KCR pesanan Indonesia (sc Keri’s reborn)

Purnama menyatakan bahwa pendekatan ini menunjukkan kepercayaan Indonesia terhadap kemampuan Turki dalam teknologi dan industri pertahanan. Ia juga menekankan bahwa kerja sama antara Turki dan Indonesia dalam teknologi pertahanan canggih memiliki kepentingan strategis bagi kedua negara.

Purnama menyatakan bahwa KIZILELMA dan kendaraan udara tak berawak lainnya sangat penting bagi Indonesia, menekankan bahwa Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, perlu melindungi wilayah udaranya serta perbatasan darat dan lautnya yang luas.

Purnama mengumumkan penandatanganan perjanjian pengadaan dan pembangunan fregat dari Turki, dengan menguraikan model produksinya: Dua akan dibangun di Turki, dan dua lainnya akan dibangun di Indonesia melalui produksi dan pengembangan bersama.

Purnama menyatakan bahwa salah satu tujuan utama kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia adalah untuk menciptakan ekosistem industri pertahanan bersama di kedua negara.

Dalam konteks ini, ia mencatat bahwa TUSAŞ telah didirikan di Indonesia dengan nama "TUSAŞ Indonesia," dan bahwa HAVELSAN, ASELSAN, dan ROKETSAN juga telah membuka kantor di negara ini.

Purnama menyebutkan bahwa selama kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke Indonesia pada tahun 2025, perjanjian ditandatangani antara perusahaan Turki dan Indonesia untuk mendirikan usaha patungan di bidang drone, roket, dan rudal.

Ia menambahkan bahwa Indonesia membeli rudal ÇAKIR dan beberapa rudal lainnya dari Turki. Mengenai upaya untuk mentransfer produksi roket dan rudal ke Indonesia, Purnama mengatakan, "Kami memiliki usaha patungan antara ROKETSAN dan sebuah perusahaan Indonesia untuk mendirikan basis produksi roket dan rudal di Indonesia."

  ✈  Yeniakit  

Senin, 24 Agustus 2026

TNI AL Dinilai Harus Siapkan Kru Khusus

  👷  Untuk awaki kapal selam Scorpene Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)

Mantan Asisten Perencanaan dan Pertahanan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Asrenal KSAL) Laksamana Madya TNI (Purn) Iwan Isnurwanto menilai TNI AL harus menyiapkan calon awak khusus untuk kapal selam Scorpene yang saat ini sedang dibangun di PT. PAL Indonesia.

Hal tersebut harus dilakukan Scorpene merupakan kapal selam dengan karakteristik dan teknologi yang berbeda dengan empat kapal selam lain yang dimiliki Indonesia.

"Untuk personel pengawak Scorpene kemampuannya berbeda dengan kapal selam TNI AL lain yakni Nagapasa Class dan Cakra Class. Salah satunya karena ada teknologi Lithium-Ion Battery di kapal selam Scorpene sehingga kemampuannya harus disiapkan," kata Eks Asrena KSAL Iwan Isnurwanto saat ditemui di Jakarta Selatan, Minggu.

Pemanfaatan teknologi Lithium-Ion Battery akan membuat kapal selam Scorpene memiliki keunggulan dibanding kapal selam lain.

Salah satunya yakni daya tahan bawah air yang cukup lama yakni bisa 7-10 hari dengan kapasitas energi tiga kali lipat lebih besar dengan Nagapasa Class dan Cakra Class.

Selain itu, penggunaan baterai jenis ini membuat kapal selam mengisi daya dengan waktu lebih singkat yakni dua sampai tiga jam.

Tenaga yang dikeluarkan baterai ini pun bisa membuat kapal selam bergerak dengan kecepatan konstan walaupun kekuatan baterai tinggal 20 persen.

Iwan menjelaskan, keunggulan-keunggulan itu datang dari mesin dan baterai yang tidak pernah ada di kapal selam milik TNI AL.

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya pendidikan kru calon awak kapal Scorpene agar pengoperasian kapal bisa dilakukan secara maksimal.

"Berarti harus mengambil calon kru dari personel yang ada di (kapal selam) Nagapasa Class atau di Cakra Class, sehingga mereka disekolahkan agar mengoperasikan Scorpene Class," ujarnya.

Pria yang pernah menjadi komandan kapal selam KRI Cakra-401 dan kru inti kapal selam KRI Nanggala-402 ini menjelaskan bahwa para calon kru itu harus mempelajari berbagai macam teknis operasional kapal hingga langkah penanganan kedaruratan.

Tidak hanya latihan teknis saja, para kru juga harus menjalani latihan praktik agar lebih mendalami teknik pengoperasian kapal selam tersebut.

"Karena dibangunnya di PT PAL, latihannya di mana? On site training-nya di sini yakni PT PAL atau di Prancis selaku asal perusahaan yang memproduksi Scorpene)," ujar Iwan.

Dia berharap ragam kesiapan di bidang sumber daya manusia (SDM) itu dilakukan dengan matang oleh TNI AL demi memaksimalkan pengoperasian kapal selam Scorpene dalam menjaga laut Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyiapkan satgas khusus untuk dilatih agar dapat mengoperasikan kapal selam buatan Prancis, Scorpene.

"Untuk Scorpene ini kita sudah menyiapkan satgasnya, tapi memang belum kita terbitkan surat perintahnya, orang-orangnya sudah kita siapkan," kata Ali saat ditemui di Kesatriaan Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (24/7).

Tidak hanya mempersiapkan personel untuk mengawaki Scorpene, Ali mengatakan pihaknya juga mempersiapkan ragam kebutuhan yang diperlukan PT PAL selaku pihak yang akan ikut merakit Scorpene.

Salah satunya penunjukan kepala proyek dari TNI AL yang ditugaskan di PT PAL untuk membangun Scorpene.

"PT PAL juga sudah kita bangun, nanti itu fasilitas untuk mengangkat kapal selam dari darat ke laut maupun dari laut ke darat, itu sedang kita siapkan," kata Ali.

Ali menjelaskan kapal tersebut dirakit oleh PT PAL dan Naval Group (Perancis) di Surabaya. Proses pembuatannya juga memakan waktu cukup lama, yakni delapan tahun.

Karenanya, Ali berharap seluruh persiapan yang telah dilakukan PT PAL sudah maksimal demi memperlancar proses pembangunan Scorpene. (*)


   👷  antara   

Sabtu, 08 Agustus 2026

[Video] Barata Indonesia Produksi Komponen Kapal

  Teknologi lokal dengan kualitas global 
 Berikut video dari Youtube : 



  🎥  Youtube  

Jumat, 07 Agustus 2026

PT PAL Mulai Bangun Kapal Selam Scorpene

  👷 🤝 Target Rampung Delapan Tahun (Humas PAL)

PT PAL Indonesia resmi memulai pembangunan kapal selam Scorpene untuk TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui seremoni first steel cutting di Surabaya, Jawa Timur.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan pembangunan kapal selam tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 96 bulan atau sekitar delapan tahun.

"Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun," ujar Ali dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).

Menurut Ali, proses first steel cutting dilakukan sekitar 12 bulan setelah kontrak pembangunan berlaku efektif. Hingga saat ini, progres proyek telah mencapai sekitar 20,5 persen.

Ia berharap pembangunan kapal selam dapat berjalan sesuai jadwal sehingga proses penyerahan kepada TNI AL juga berlangsung tepat waktu.

"Kami berharap ini bisa terbangun dengan tepat waktu. Jadi, delivery time-nya bisa tepat waktu," katanya.

Ali menjelaskan kapal selam Scorpene yang dibangun PT PAL bersama Naval Group Prancis merupakan generasi terbaru dengan kemampuan lebih canggih dibandingkan versi sebelumnya.

Kapal selam tersebut memiliki panjang hampir 72 meter, sekitar 10 meter lebih panjang dibanding kapal selam TNI AL yang saat ini beroperasi.

Selain mampu menyelam lebih lama dan lebih dalam, Scorpene juga dibekali sistem persenjataan berupa torpedo dan peluru kendali yang dapat ditembakkan dari bawah laut.

"Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air," ujarnya.

Untuk mendukung pengoperasian kapal selam tersebut, TNI AL telah membentuk satuan tugas pengawak dan secara bertahap mengirim personel ke Prancis untuk mengikuti pelatihan bersama Angkatan Laut Prancis dan Naval Group.

Ali menilai pembangunan Scorpene di dalam negeri menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

"Ini pertama kali kita membangun kapal selam dari awal di Indonesia. Di negara-negara ASEAN mungkin kita yang pertama kali membangun kapal selam di dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan dimulainya proses first steel cutting menunjukkan kemitraan antara PT PAL dan Naval Group berjalan sesuai rencana.

Menurut dia, kerja sama tersebut tidak hanya mencakup pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer teknologi antara Indonesia dan Prancis guna memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional.


   👷  Kompas   

Rabu, 05 Agustus 2026

Indonesia Menunda Upacara Steel-Cutting Kapal Selam Scorpene Evolved

  👷 🤝 Hingga 7 Agustus 2026 Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)

Sebuah sumber dari Kementerian Pertahanan (Kementerian Pertahanan) Indonesia mengkonfirmasi tanggal tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan dari Janes tentang penundaan yang tampaknya terjadi pada tonggak sejarah tersebut.

Perusahaan pembuat kapal Indonesia, PT PAL, mengatakan pada 2 Juli bahwa tonggak sejarah pemotongan baja untuk program kapal selam Scorpene Indonesia telah dimajukan ke Juli 2026 dari target sebelumnya yaitu September 2026.

Sumber Kementerian Pertahanan tersebut menghubungkan penundaan tersebut dengan ketersediaan para pemimpin pertahanan senior termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana Muhammad Ali.

Tonggak sejarah ini akan menandai dimulainya secara resmi pembangunan kapal utama dan akan diadakan di fasilitas produksi kapal selam PT PAL di Surabaya.

Program Scorpene Indonesia diformalkan berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada Maret 2024 antara Kementerian Pertahanan, Naval Group, dan PT PAL.

Kontrak tersebut mencakup pengadaan dua kapal selam serang diesel-elektrik Scorpene Evolved (SSK) dan mencakup ketentuan transfer teknologi yang bertujuan untuk membangun kemampuan konstruksi kapal selam dalam negeri di Indonesia.

Kedua kapal tersebut dijadwalkan akan dibangun di Indonesia di fasilitas kapal selam khusus PT PAL, dengan bantuan teknis dari Naval Group.

Program ini secara luas dianggap sebagai salah satu inisiatif kerja sama industri pertahanan paling ambisius yang dilakukan oleh sektor angkatan laut Indonesia.

Kapal selam tersebut akan didasarkan pada desain Scorpene Evolved dari Naval Group, yang menggantikan pengaturan propulsi independen udara tradisional yang ditemukan pada beberapa varian Scorpene sebelumnya dengan baterai lithium-ion berkapasitas tinggi.

Desain ini memiliki bobot perpindahan saat terendam sekitar 2.000 ton, panjang keseluruhan sekitar 70 m, dan awak sekitar 40 orang.


   👷  Jane’s   

Minggu, 02 Agustus 2026

Green Shipyard Jadi Senjata Baru PT PAL

  Bersaing di Pasar Dunia
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL (PAL)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan kolaborasi dengan PT PAL Indonesia untuk mempercepat penguasaan teknologi dan meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Kepala BRIN, Laksdya TNI (Purn.) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., dalam kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia.

Amarulla mengapresiasi kapabilitas PT PAL sebagai salah satu industri strategis nasional yang memiliki peran penting dalam membangun dan memperkuat ekosistem maritim Indonesia.

Menurut dia, BRIN siap memperkuat kerja sama dengan PT PAL, terutama dalam bidang riset terapan, pengembangan teknologi, serta hilirisasi hasil penelitian untuk mendukung kemajuan industri perkapalan dalam negeri.

Kolaborasi tersebut, kata Amarulla, merupakan bagian dari tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri membangun sinergi untuk meningkatkan pertumbuhan serta kemandirian industri perkapalan nasional.

 Dorong Transformasi Menuju Green Shipyard

Selain pengembangan teknologi, kerja sama BRIN dan PT PAL diarahkan pada transformasi industri menuju konsep green shipyard.

Amarulla mengatakan transformasi tersebut menjadi salah satu agenda penting yang perlu didorong bersama agar produk-produk utama PT PAL dihasilkan melalui proses produksi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi.

“Salah satu target utama yang ingin kami dorong bersama adalah mewujudkan green shipyard, sehingga setiap produk utama yang dihasilkan PT PAL berasal dari proses produksi yang ramah lingkungan, efisien, dan berbasis inovasi,” ujarnya.

Menurut dia, penerapan prinsip keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat posisi industri perkapalan Indonesia di pasar internasional.

Pasalnya, tuntutan terhadap standar keberlanjutan dan efisiensi produksi semakin tinggi dalam industri global.

“Pasar global semakin menuntut standar keberlanjutan. Karena itu, transformasi ini akan memperkuat kapasitas komersial PT PAL,” kata Amarulla.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., menyambut positif komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional untuk mendukung transformasi industri perkapalan.

Menurut Kaharuddin, kerja sama dengan BRIN akan memberikan kontribusi penting terhadap penguatan kemampuan riset terapan, percepatan penguasaan teknologi, serta pengembangan industri perkapalan yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.

“Ini sejalan dengan arahan Presiden, sinergi antara industri, lembaga riset, dan perguruan tinggi akan menjadi kunci dalam memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional,” tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut, PT PAL dan BRIN turut membahas sejumlah rencana implementasi kolaborasi.

Di antaranya meliputi riset terapan, pengembangan teknologi maritim, hilirisasi hasil penelitian, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan teknologi rendah emisi dan efisiensi energi.

Seluruh agenda tersebut menjadi bagian dari transformasi PT PAL menuju green shipyard sekaligus mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan perusahaan.

Transformasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan industri galangan kapal yang lebih hijau, tetapi juga memperkuat kemampuan teknologi nasional, meningkatkan efisiensi produksi, dan membuka peluang yang lebih besar bagi produk-produk industri pertahanan serta kemaritiman Indonesia untuk bersaing di pasar global.

  👷  Indonesia Inside  

Jumat, 31 Juli 2026

Indonesia Berencana Tambah Fregat dan Kapal Selam Baru dari Italia

 🤝  Direncanakan kembali mengambil jatah AL ItaliaKapal PPA ketiga direncanakan akan mengambil jatah AL Italia.  (Seaforces)

Indonesia dilaporkan berencana untuk mengakuisisi satu kapal fregat serbaguna PPA dan satu kapal selam U212 NFS dari inventaris Angkatan Laut Italia (Marina Militare), keduanya dibangun oleh Fincantieri.

Jika diselesaikan, kedua platform tersebut diharapkan akan dikirimkan pada akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028.

PPA adalah kapal perang multiperan yang sangat mumpuni yang dirancang untuk pertahanan udara, peperangan anti-kapal selam, peperangan anti-kapal permukaan, dan misi keamanan maritim.

Kapal selam U212 NFS dikenal sebagai Wiro Sableng (occar)

Sementara U212 NFS adalah salah satu kapal selam konvensional tercanggih di dunia, dilengkapi dengan Sistem Propulsi Independen Udara (AIP) untuk daya tahan bawah air yang lebih lama dan peningkatan kemampuan siluman.

Akuisisi yang dilaporkan ini menyoroti upaya berkelanjutan Indonesia untuk memodernisasi angkatan lautnya dengan cepat di tengah meningkatnya tantangan keamanan di Indo-Pasifik.


   👷  antaraThe National Defence   

Kamis, 09 Juli 2026

Prabowo Memulai Era Baru Modernisasi Alutsista RI

 Dari Rafale - BrahMos Pesawat Rafale TNI AU (skuadron 12)

Indonesia resmi menambah daftar belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan menyetujui pembelian rudal BrahMos dan Astra dari India. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sekaligus memodernisasi kekuatan pertahanan nasional.

Kesepakatan tersebut dicapai saat Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi melakukan kunjungan resmi ke Jakarta pada Selasa dan bertemu Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, India menyepakati ekspor sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dan rudal udara-ke-udara Astra kepada Indonesia dengan nilai sekitar US$ 630 juta atau setara Rp 11,3 triliun (asumsi kurs Rp 17.980 per dolar AS).

BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik hasil pengembangan bersama India dan Rusia yang dikenal memiliki kemampuan diluncurkan dari berbagai platform, baik darat, laut, maupun udara. Sementara itu, Astra adalah rudal udara-ke-udara buatan India yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan tempur pesawat tempur.

Pembelian BrahMos dan Astra semakin memperpanjang daftar pengadaan alutsista strategis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2019, saat Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), pemerintah secara agresif melakukan modernisasi alutsista dengan menggandeng berbagai negara mitra, mulai dari Amerika Serikat (AS), Prancis, Italia, Turki, Korea Selatan (Korsel), hingga India.

Kebijakan tersebut sejalan dengan agenda modernisasi pertahanan yang terus didorong Prabowo, baik saat memimpin Kementerian Pertahanan (Kemhan) maupun setelah menjabat sebagai Presiden. Penguatan dilakukan di seluruh matra, mencakup pesawat angkut, jet tempur, drone, radar, kapal perang, kapal selam, hingga sistem rudal.

Sejumlah alutsista yang telah dipesan Indonesia antara lain pesawat angkut C-130J Super Hercules, Airbus A400M Atlas, jet tempur Rafale, dan drone TAI Anka-S. Ada pula radar pertahanan udara Thales Ground Master 403, fregat Merah Putih, serta kapal kepresidenan Bung Karno Class.

Di sektor pengadaan strategis, Indonesia juga memesan 42 unit jet tempur Dassault Rafale F4 dari Prancis senilai sekitar US$ 8,1 miliar. Ada juga dua kapal selam Scorpène Evolved dengan estimasi nilai US$ 2 miliar, serta dua kapal perang Brawijaya Class dari Fincantieri Italia senilai sekitar US$ 1,39 miliar.

Selain BrahMos dan Astra, Indonesia juga memperkuat kemampuan sistem persenjataannya melalui pengadaan rudal balistik jarak pendek Khan SRBM, rudal pertahanan udara Hisar-O MRSAM, serta rudal antikapal Roketsan Atmaca. Langkah ini menunjukkan strategi pemerintah untuk mendiversifikasi sumber pengadaan alutsista sekaligus meningkatkan kemampuan pertahanan nasional di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks.

 Lalu, Dari Mana Sumber Pembiayaannya?

Keinginan untuk membangun sistem pertahanan yang lebih modern tentu membutuhkan modal besar. Belanja alutsista seperti pesawat tempur, kapal perang, radar, drone, hingga rudal bukan pengeluaran kecil.

Sebagian besar kontraknya juga menggunakan mata uang asing. Sehingga kebutuhan anggarannya ikut dipengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS maupun euro.

Dalam anggaran Kemhan, terutama untuk program modernisasi alutsista, sumber pembiayaan belanja pertahanan berasal dari Rupiah Murni APBN, serta juga dapat berasal dari pinjaman luar negeri, pinjaman dalam negeri, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), hingga Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dan, pada 2026, anggaran Kemhan ditetapkan sebesar Rp 187,1 triliun.

Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025 yang diundangkan pada 28 November 2025. Anggaran tersebut dibagi ke dalam dua fungsi utama, yakni fungsi pertahanan dan fungsi pendidikan.

Fungsi pertahanan menjadi porsi terbesar dengan alokasi Rp 186,6 triliun. Sementara itu, fungsi pendidikan mendapat anggaran Rp 490 miliar.

Jika dilihat dari programnya, pos terbesar berada pada Program Modernisasi Alutsista, Non Alutsista, dan Sarana Prasarana Pertahanan. Nilainya mencapai Rp 84,48 triliun atau sekitar 45,1% dari total anggaran Kemhan 2026.

Menariknya, sumber dana terbesar untuk program modernisasi tersebut justru berasal dari pinjaman luar negeri. Dari total Rp 84,48 triliun, pinjaman luar negeri mencapai Rp 46,5 triliun, lalu Rupiah Murni sebesar Rp 33,44 triliun, pinjaman dalam negeri Rp 3,69 triliun, SBSN Rp 800 miliar, serta Pendapatan Negara Bukan Pajak sekitar Rp 60 miliar.
 
Komposisi ini menunjukkan bahwa modernisasi alutsista Indonesia tidak hanya bertumpu pada belanja langsung dari kas negara. Untuk pengadaan besar seperti pesawat tempur, kapal perang, radar, hingga sistem rudal, pemerintah juga menggunakan skema pembiayaan lain, terutama pinjaman luar negeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran Kemhan sendiri bergerak naik. Pada APBN 2024, Kemhan mendapatkan alokasi sekitar Rp 139,26 triliun. Pada APBN 2025, angkanya naik menjadi sekitar Rp 166,26 triliun.

Namun, angka 2025 itu kemudian mengalami penyesuaian besar menjadi Rp 364,1 triliun. Mengutip dari Kemhan, kenaikan tersebut diarahkan untuk modernisasi alutsista, peningkatan kesejahteraan prajurit, kemandirian industri pertahanan, serta validasi organisasi.

Rencana 2027 juga tidak kalah besar. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp 195 triliun untuk tahun anggaran 2027.

Usulan itu muncul karena kebutuhan anggaran pertahanan nasional disebut mencapai Rp 667 triliun, sementara pagu indikatif yang diberikan pemerintah hanya sekitar Rp 139 triliun. Jika tambahan Rp 195 triliun disetujui, anggaran Kemhan 2027 dapat naik ke kisaran Rp 334 triliun.

Besarnya kebutuhan anggaran itu memperlihatkan bahwa modernisasi pertahanan bukan hanya soal daftar belanja alutsista, tetapi juga soal ruang pembiayaan. Makin besar kebutuhan pengadaan, makin besar pula kebutuhan pemerintah untuk membiayainya.

  🚀 
CNBC  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...