Selasa, 10 November 2015

Kajian sistem datalink nasional dirumuskan

Universitas Pertahanan menjalin kerja sama keilmuan dengan pabrikan sistem pertahanan Swedia, SaabSAAB Swedia menawarkan kepada TNI AL pendidikan beasiswa yang akan berfokus pada Triple Helix

Interoperabilitas datalink dari sistem antar matra TNI, sistem kesenjataan, dan bahkan pabrikan persenjataan dan penginderaan serta radar di tubuh TNI diakui masih menjadi hal yang belum paripurna dientaskan.

Sebagai institusi keilmuan, kami mencoba memberi masukan kepada TNI dan Kementerian Pertahanan dengan basis implementasi dari konsep Triple Helix sebagaimana yang kami saksikan dalam kunjungan kerja kami ke Swedia beberapa bulan lalu,” kata Wakil Rektor Universitas Pertahanan, Marsekal Muda TNI Suparman, di Sentul, Jawa Barat, Selasa.

Universitas Pertahanan menjalin kerja sama keilmuan dengan pabrikan sistem pertahanan Swedia, Saab, yang berkantor pusat di Stockholm.

Kerja sama itu meliputi pengembangan dan inovasi sistem, beasiswa, dan lain-lain, yang nota kesepahamannya telah ditandatangani di Stockholm, tahun lalu.

Tahun depan, Universitas Pertahanan akan mendirikan Program Studi Teknologi dan Industri Pertahanan. Kepaduan antara pemerintah, institusi pendidikan tinggi dan riset, serta industri dalam berbagai aspek masih jadi masalah di Indonesia.

Sementara di Swedia, hal ini telah lama selesai, dan kondang dikenal dengan nama konsep Triple Helix, yang menjadi DNA kemajuan industri, ekonomi, dan inovasi negara di Semenanjung Skandinavia itu.

Bukan cuma institusi dan perusahaan pemerintahan Kerajaan Swedia yang dilibatkan dalam penerapan Triple Helix itu, karena banyak swasta besar dan kecil bersama-sama bekerja sesuai keperluan nasional mereka.

Contoh interoperabilitas sistem datalink pada aspek militer itu diberi Suparman. Menurut Suparman yang bergelut di bidang radar dan penginderaan semasa dinas aktif di lingkungan TNI AU, pengintegrasian sistem radar TNI AU pernah menghadapi masalah.

Indonesia pada masa lalu mengoperasikan radar di satuan-satuan radar TNI AU buatan blok Timur, lalu membeli sistem dari Inggris (Plessey Company plc), dan belakangan Prancis (Thomson CSF).

Waktu kami mengadakan radar-radar baru, mengintegrasikan data dari sistem-sistem dan pabrikan berbeda ini masalah besar. Sampai kami harus memberi mereka peringatan kepada mereka (pabrikan) agar ini bisa dientaskan lebih dulu,” kata Suparman.

Bahkan, dalam latihan gabungan di tingkat TNI, pernah dilakukan latihan gabungan pendahuluan khusus dari sistem senjata dan data ketiga matra TNI untuk mengupas dan memuluskan interoperabilitas sistem-sistem ini.

Setelah latihan pendahuluan interoperabilitas ini selesai dan dievaluasi bersama barulah latihan gabungan TNI digelar.

Dari fakta ini, kata dia, interoperabilitas sistem data menjadi hal yang mendesak untuk diwujudkan sesuai keperluan pertahanan Indonesia.
 

  Antara  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...