Sabtu, 31 Januari 2026

Kedatangan Rafale, Babak Baru Pertahanan Udara Indonesia

T-0301 TNI AU (Swidersk Maciejka; fb)

Akhirnya, tiga jet tempur Rafale mendarat di Indonesia. Ketiganya bernomor ekor T-0301, T-0302, dan T-0303. Huruf T mewakili kategori pesawat tempur, sedangkan awalan angka 03 merupakan kode jenis pesawat untuk Rafale.

Ketiga jet tempur tersebut merupakan bagian dari total 42 jet tempur Rafale pesanan Indonesia yang ditandatangani pada 2022. Saat itu, selain Rafale, Indonesia sepakat untuk membeli dua kapal selam Scorpene dan amunisi dari Perancis dengan nilai kontrak 8,1 miliar dolar AS.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Rico Sirait, Selasa (27/1/2026), mengatakan, tiga unit Rafale tesebut ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. ”Secara administratif dan teknis, proses serah terima telah diselesaikan,” ujar Rico saat dihubungi, Selasa.

Hingga akhir tahun ini, total enam jet tempur Rafale yang akan diterima Indonesia. Sisanya akan dikirim secara bertahap hingga 2030. Di Asia, Indonesia menjadi pengguna Rafale keempat setelah India, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Rafale akan memperkuat jajaran jet tempur yang telah dioperasikan selama ini, yakni T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan, Hawk 100/200 buatan Inggris, F-16 buatan AS, serta Su-27 dan Su-30 besutan Rusia.

Pesawat-pesawat itu ada yang sudah beroperasi dalam waktu lama. TNI AU mengoperasikan T-50i sejak 2014, sedangkan Su-27 dan Su-30 sudah dioperasikan sejak 2003 meski untuk varian Su-30MKI2 baru tiba pada 2013. Adapun Hawk dioperasikan TNI AU sejak 1980 meski varian Hawk 100/200 datang pada 1994.

Sementara jet tempur F-16 dengan berbagai variannya telah menjaga langit Nusantara sejak 1989. Selain itu, ada pesawat antigerilya bermesin turboprop Super Tucano asal Brasil yang didatangkan pada 2012.

Dibandingkan saudara-saudaranya yang tiba lebih dulu, Rafale tergolong lebih canggih karena termasuk jet tempur generasi 4,5. Ada beberapa peningkatan signifikan, seperti penggunaan radar AESA, perangkat perang elektronik canggih, serta dilengkapi dengan berbagai sensor yang tidak ada di generasi sebelumnya. Sementara, jet tempur F-16, Su-27, dan Su-30 termasuk dalam generasi 4.

Kini, kedatangan jet tempur Rafale menegaskan bahwa arah alutsista Indonesia untuk jet tempur memasuki babak baru. Dalam beberapa dekade terakhir, langit Indonesia lebih banyak dijaga jet tempur buatan Barat, terutama AS dan Inggris.

Meski TNI AU kini mengoperasikan jet tempur buatan Rusia, itu baru terjadi setelah rezim Orde Baru runtuh. Sementara, meski juga buatan Barat, Rafale menjadi penanda pergeseran asal produsen alutsista yang akan menjadi tulang punggung pertahanan udara ke depan.

Patut diingat, pembelian jet tempur merupakan keputusan jangka panjang yang mesti menimbang banyak hal, mulai terkait operasi, pemeliharaan dan perawatan, pembinaan sumber daya manusia yang mengawaki serta para teknisi. Ketika sebuah negara membeli sebuah sistem senjata, maka yang diboyong adalah ekosistemnya.

  Peran Rafale  
Menurut pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, Kamis (29/1/2026), penempatan Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin dinilai strategis. Berada di sisi timur Selat Malaka, lokasi itu merupakan salah satu jalur perniagaan paling padat dan sensitif di dunia.

Dari titik ini, Rafale dapat menjalankan peran yang sangat vital dalam memperkuat forward defense posturing Indonesia, yakni memperpendek jarak antara ancaman potensial dan kemampuan respons,” tuturnya.

Sebagai pesawat tempur generasi 4,5 yang berkemampuan omnirole, Rafale dapat menjalankan tugas untuk superioritas udara, serangan presisi, pengintaian, dan operasi antikapal dalam satu penerbangan tunggal (sortie).

Dalam operasi gabungan, Rafale juga mampu menjadi pusat data taktis, yang mengumpulkan dan mendistribusikan informasi ke pesawat lain seperti F-16 dan Sukhoi, serta ke radar atau pusat kendali di darat. Hal ini akan memperbaiki kesadaran situasional seluruh jaringan pertahanan udara

Dalam konteks arsitektur pertahanan berlapis yang selama ini menjadi pendekatan TNI AU, terang Khairul, jet tempur F-16 dan Sukhoi Su-27/30 merupakan penempur utama yang mengemban tugas superioritas udara dan patroli ketinggian.

Di lapis menengah, T-50i berperan sebagai lead-in fighter trainer sekaligus penempur ringan yang menjaga kesiapan operasional harian. Di lapis bawah, Hawk 100/200 dan Super Tucano mengerjakan misi low-intensity, seperti patroli perbatasan atau penegakan hukum udara. Namun, Hawk 100/200 akan memasuki masa purna tugas dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dalam kerangka inilah, kehadiran Rafale menjadi relevan. Ia memperkuat kualitas lapis atas dan menutup celah kapabilitas yang selama ini belum terisi, terutama dalam hal pertempuran jarak jauh (BVR), peperangan elektronika, dan operasi berbasis jaringan,” kata Khairul.

Rico mengatakan, ketiga Rafale tersebut akan memperkuat Skuadron Udara 12 yang berbasis di Pekanbaru. Kehadiran Rafale diharapkan mendongkrak kemampuan tempur matra udara secara signifikan mengingat kemampuannya melakukan berbagai misi dalam satu penerbangan.

Adapun mengenai sisa pesawat dari total kontrak 42 unit, menurut Rico, akan didatangkan secara bertahap. Hal ini menyesuaikan dengan jadwal dalam kontrak serta kesiapan teknis, baik dari sisi produsen maupun infrastruktur pendukung di Tanah Air.

 
Kompas  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...